| Home Just In Communities Forums Beta Readers Dictionary Search | Login Register Extras |
Pilihan
Pertengahan September, 2006
Hari ini hari Sabtu. Jam menunjukkan pukul 12 malam Aku sedang membaca Alkitab bersama Putra di kamarnya. Kami berdua sudah lelah sehabis ibadah kaum muda di gereja, dan sekarang aku sedang menginap di rumahnya. Kami merenungkan isi bacaan kami sambil berbagi tentang hal-hal yang sudah Tuhan berikan dan ajarkan kepada kami beberapa waktu sebelumnya. Waktu berjalan begitu saja dan tanpa terasa kami selesai berdoa pukul 2 pagi. Kami lalu pergi untuk makan sebentar karena kami merasa lapar, di tempat makan seafood dekat rumahnya. Pada saat kami kembali dan hendak tidur, sebuah pikiran memasuki kepalaku. Dan aku benar-benar merasa bersyukur dengan perubahan-perubahan besar yang telah Tuhan lakukan dalam hidup Putra. Pikiranku kembali ke masa-masa yang sudah berlalu, banyak hal-hal yang terjadi dalam hidup Putra, dan bagaimana Putra bisa menjadi seperti ini..
Jumat, 7 Juli 2006
Kami sedang berada di rumah teman kami di bagian selatan Jakarta bersama anak-anak kaum muda di gereja kami. Hari Jumat adalah hari yang kami gunakan untuk persekutuan ibadah yang diadakan di rumah-rumah atau biasa kami sebut dengan HomeGroup. Kami baru saja pulang dari retret pemuda beberapa hari yang lalu, dan kesempatan ini kami gunakan untuk berbagi cerita mengenai pengalaman kami saat retret kemarin. Sebagai informasi, retret adalah sebuah kegiatan dimana pesertanya bersama-sama mengadakan kegiatan di luar kota untuk menjauh dari kesibukan-kesibukan sehari-hari kami untuk memfokuskan dan memusatkan seluruh perhatian kami pada Tuhan. Aku, seperti juga para kaum muda yang lain, bercerita tentang bagaimana Tuhan menjamah kami semua di retret itu, bagaimana perubahan dalam hidup kami, dan tentang hal-hal yang Tuhan ajarkan kepada kami selama 3 hari retret tersebut. Pada saat tiba giliran Putra untuk bercerita, Putra justru meminta agar gilirannya dilewatkan, ia meminta kesempatan untuk menjadi yang terakhir bercerita kali ini. Setelah semuanya selesai berbagi pengalaman mereka masing-masing, tibalah giliran Putra. Putra bercerita bahwa sebenarnya pada retret kemarin, ia tidak merasakan apapun. Ia bercerita bahwa saat orang-orang mengalami jamahan Tuhan di sana, sebenarnya ia tidak merasakan apa-apa. Ia melihat orang-orang yang menangis, orang-orang yang yang memuji Tuhan dengan segenap hati, orang-orang yang bernubuat kepada orang lain, orang-orang yang memuji Tuhan dengan bahasa roh, namun tetap saja ia tidak merasakan apapun. Pada saat orang-orang maju ke depan untuk didoakan, ia memilih untuk pergi ke belakang dan keluar dari ruangan untuk menyendiri. Putra saat itu berkata bahwa ia suka dengan keadaan gelap, karena justru ia merasa tenang dalam kegelapan itu. Ia bercerita bahwa dahulu saat ia kecil ia benar-benar mengasihi Tuhan. Dahulu apapun yang ia lakukan ia pasti ingat kepada Tuhan. Namun sekarang keadaannya tidak seperti itu. Sekarang ia benar-benar tidak lagi merasakan penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Ia berkata bahwa ia sudah jatuh ke dalam banyak hal yang ia tahu salah, namun ia tidak melihat alasan untuk melepaskan hal-hal tersebut dari hidupnya. Aku teringat beberapa bulan yang lalu ia pernah berkata padaku bahwa ia sekarang merokok. Ia berkata bahwa walaupun ia terlibat pelayanan di gereja dengan menjadi penyanyi saat ibadah, itu hanya semata-mata karena menyanyi adalah sesuatu yang ia senangi, bukan seperti orang lain yang mengasihi Tuhan dan mau menggunakan bakat yang ia miliki untuk Tuhan. Lalu ia juga bercerita tentang pengalamannya beberapa waktu sebelumnya saat ia berlibur di Bali, ia sedang menyendiri di pantai dan berpikir tentang Tuhan. Ia kecewa karena ia benar-benar tidak merasakan Tuhan dalam hidupnya. Ia bahkan tidak yakin bahwa sebenarnya Tuhan itu ada. Ia merasa bahwa orang-orang yang ia lihat di gereja itu hanyalah membohongi diri mereka sendiri. Mereka berpura-pura untuk meyakini bahwa mereka merasakan hal-hal yang sebenarnya tidak mereka rasakan. Putra menghadap langit dan berkata “God, are You There?” yang artinya “Tuhan, apa Engkau ada?” Putra benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, dan ia berkata tiba-tiba ia seperti melihat tulisan di awan yang bunyinya “I WAS”. kata-kata itu seperti menunjukkan bahwa Tuhan berkata ”Aku pernah ada, namun tidak lagi”. Putra bercerita bahwa ia bingung apa maksud dari kata-kata itu. Apa ia cuma melihat halusinasi, atau itu benar-benar ada. Kalau ada, lalu apa artinya?
Saat Putra bercerita, aku merasa benar-benar sedih. Putra adalah sahabatku. Kenapa aku bisa begitu buta dan tidak menyadari ia sudah terjerumus begitu jauh? Harusnya akulah yang paling sadar akan arah perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidup Putra. Seharusnya akulah yang mengingatkannya akan kesalahan yang ia lakukan dan membantunya untuk jauh dari hal-hal yang justru akan menjerumuskannya. Karena sesungguhya sejak bertahun-tahun yang lalu, aku merasa bahwa Tuhan punya rencana besar dalam hidup Putra. Aku tahu Tuhan akan memakai Putra dalam ruang lingkup yang amat besar. Aku tidak tahu apa yang membuatku merasa begitu, namun itu sesuatu hal yang tidak kurasakan pada orang lain. Namun apa yang ia ceritakan barusan dan juga apa yang kulihat akhir-akhir ini sama sekali tidak mengarah kepada hal itu. Sehari sebelumnya Pendeta kami di gereja berkata bahwa ia mendapat penglihatan, dimana Tuhan berkata padanya bahwa Tuhan akan memakai Putra secara luar biasa. Namun aku khawatir akan cara hidup Putra yang sekarang. Saat aku mendapat kesempatan untuk menanggapi cerita Putra barusan,aku berkata bahwa aku sejak dahulu merasa bahwa Putra mempunyai panggilan yang besar dalam hidupnya untuk melayani Tuhan secara luar biasa. Namun justru karena hal itulah Putra ditarik jauh oleh Iblis untuk menjauhkan Putra dari panggilannya, karena Iblis tidak mau Putra berada di jalan yang Tuhan inginkan dalam hidup Putra. Namun aku juga berkata bahwa apapun yang iblis rencanakan, hanya Tuhan yang punya kuasa dalam hidup Putra. Pada malam itu kami semua berdoa secara khusus untuk Putra, dan aku benar-benar ingin hidup Putra diubahkan. Aku berjanji mulai saat itu aku akan terus berdoa secara khusus untuk Putra, untuk perubahan dalam hidupnya.
Kamis, 6 Juli 2006
Hari ini aku sedang berada di gereja. Pada hari Kamis ada persekutuan doa di gereja kami. Karena para kaum muda baru saja pulang dari retret, Pendeta kami meminta agar semua orang yang hadir di persekutuan doa itu berdoa untuk para kaum muda, agar hal-hal yang sudah kami terjadi di retret, semua pelajaran yang kami dapatkan, tidak hilang begitu saja seiring berlalunya waktu. Agar api semangat dalam diri kami terus menyala dan juga agar kami terus mempunyai komitmen yaitu seluruh hidup kami hanya kami gunakan untuk kemuliaan nama Tuhan. Setelah berdoa, tiba-tiba Pendeta kami berkata bahwa Tuhan ingin ia untuk menyampaikan sebuah pesan untuk Putra. Ia sempat merasa enggan dan menahan diri, namun ia tahu bahwa ia harus menyampaikan hal ini. Ia berkata bahwa ia telah mendapat sebuah penglihatan dari Tuhan. Dalam penglihatan itu Tuhan berkata bahwa Tuhan akan memakai Putra untuk mengguncang dunia ini.”Putra is going to rock this world” kata Pendeta kami. Namun Tuhan juga berkata bahwa itu adalah sesuatu yang mungkin untuk tidak terjadi, jika Putra tetap berada pada jalan hidupnya sekarang, yang Jauh dari jalan yang Tuhan inginkan. Tuhan ingin Putra berbalik dan kembali kepadanya, kembali ke jalan yang ia mau terjadi dalam hidup Putra. Pendeta itu meminta seseorang yang tidak kenal Putra untuk berdoa bagi Putra, agar Putra percaya bahwa doa itu tidak dibuat-buat. Ada satu orang yang tidak kami kenal berkata ia ingin berdoa untuk Putra. Namun pada saat ia berdoa ia justru memanggil Putra dengan panggilan “Patrick” sehingga justru membuat Putra dan kami juga tertawa ( secara perlahan ) dan justru tidak fokus terhadap doanya. Malam itu,aku benar-benar merasa bingung mengenai kata-kata Pendeta kami tentang Putra.
Minggu, 2 Juli 2006
Saat ini malam pertama di Retret kami. Kami sudah menjalani hari yang menyenangkan, setelah ibadah yang penuh dengan jamahan Tuhan, dan beberapa anggota kaum muda kami sedang berkumpul di samping kolam renang untuk bersantai. Sebenarnya kami semua telah disuruh untuk tidur oleh kakak pembina, namun tentu saja saat-saat seperti ini terlalu berharga untuk dilewatkan dengan tidur! Namun ada alasan lain kenapa kami belim bisa tidur dahulu. Pada saat ini sedang ada sesuatu hal menarik yang terjadi. Putra berencana untuk menyatakan perasaanya kepada Anna, yang juga teman kami anggota kaum muda gereja kami, dan selagi kami berkumpul di samping kolam, Putra dan Anna sedang berduaan di tempat lain. Kami membahas tentang bagaimana Anna sudah sejak lama memiliki perasaan terhadap Putra, dan kami tidak menduga bahwa Putra juga memiliki perasaan yang sama terhadap Anna. Sekitar setengah tahun yang lalu aku sempat mengatakan pada Anna untuk jangan memiliki hubungan khusus dengan Putra. Sebab sifat Putra sangat kekanak-kanakan, sehingga wanita yang menjadi kekasihnya seakan dipermainkan, dan tidak merasa dibutuhkan. Namun aku melihat sedikit banyak hal itu sudah berubah sekarang, sehingga aku hanya bisa berdoa agar hubungan mereka diberkati Tuhan dan mereka dapat bahagia. Namun sekaligus aku juga merasa bingung karena Anna adalah seorang yang benar-benar mengasihi Tuhan. Melihat Anna sedang ibadah, dimana Anna benar-benar memusatkan perhatian pada Tuhan dan tidak mempedulikan orang orang di sekitarnya. Anna dinubuatkan akan menjadi pelayan Tuhan yang luar biasa, dengan hati yang peduli terhadap orang-orang di sekelilingnya. Banyak orang yang akan percaya pada Tuhan karena melihat hidup Anna. Akhir-akhir ini dapat dilihat jelas sekali betapa Anna begitu menikmati hubungan pribadinya dengan Tuhan, yang membuat orang-orang di sekitar Anna ingin menjadi seperti Anna. Hal ini sangat bertolak belakang dengan sikap Putra saat ibadah yang justru seakan merendahkan orang-orang yang menyembah Tuhan dengan segenap hatinya. Aku dan mungkin banyak orang yang lain juga kurasa justru tidak bisa fokus saat menyembah Tuhan karena masih memikirkan pandangannya kepada kami. Sebenarnya jika kami tidak bisa fokus saat ibadah itu adalah kesalahan kami sendiri, namun kenapa orang yang menjatuhkan kami justru adalah Putra, sahabatku sejak kecil? Kenapa Putra begitu jauh dari Tuhan? Mengapa Putra menjadi Putra yang seperti ini? Jadi sering pergi ke klub-klub malam, merokok, minum-minuman keras.. Ada apa dengan Putra? Hatiku dipenuhi pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Pada akhirnya malam itu Anna dan Putra resmi menjadi sepasang kekasih. Namun aku mencemaskan Anna.
Awal Agustus, 2006
Anna sedang bimbang. Banyak orang yang mengatakan padanya bahwa ia sebaiknya putus saja dengan Putra. Aku sudah dengan terus terang berkata padanya bahwa aku mendukung hubungannya dengan Putra. Namun itu hanya sebatas pendapat pribadiku saja, karena kedua orang itu adalah sahabatku. Namun aku juga merasa bahwa Anna sebaiknya mempertimbangkan juga pendapat negatif orang-orang mengenai Putra. Banyak orang yang mengatakan bahwa hubungan Anna dengan Putra justru akan membuat Anna jauh dari Tuhan. Namun Anna juga merasa sayang untuk memutuskan Putra, sebab hubungannya dengan Putra adalah sesuatu yang sudah lama ia nanti-nantikan. Sejak ia bertemu Putra sekitar setahun sebelumnya, ia benar-benar mengalami kesulitan untuk menjauhkan Putra dari hatinya. Entah apa yang membuatnya tertarik pada Putra. Jika orang mengatakan itu karena wajah tampan Putra, Anna merasa hal tersebut bukanlah alasannya. Ia hanya merasa ada sesuatu dalam diri Putra yang berbeda dari orang lain, dan ia benar-benar menyukai Putra karena hal itu. Sekarang ia akhirnya bisa menjalin hubungan dengan Putra, namum tiba-tiba seakan semua orang ingin ia putus? Tentu tidak semudah itu! Tapi... Jika memang benar yang dikatakan orang-orang... Bahwa hubungannya dengan Putra justru membuatnya jauh dari Tuhan... Anna benar-benar bingung. Bukankah Tuhan selalu ada untuk anak-anakNya? Beberapa waktu berlalu tanpa Anna dapat mengambil keputusan. Pada akhirnya Anna memilih untuk meneruskan dahulu hubungannya dengan Putra. Aku terus mendoakan mereka agar Tuhan melindungi mereka dan hubungan mereka. Aku tahu masalah seperti apapun akan selesai jika diserahkan kepada Tuhan.
Pada masa-masa itu juga, aku dan teman-teman kami terus berdoa untuk Putra. Ternyata tanpa sepengetahuan kami Tuhan sedang bekerja secara luar biasa dalam hati Putra. Putra sedang mengalami masa-masa dimana ia merasa harus mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia sudah meninggalkan rokok beberapa minggu yang lalu, dan ia pun mulai berpikir untuk meninggalkan hal-hal yang selama ini begitu menguasai keinginannya. Ia ingin lepas dari kehidupannya yang gelap, yang ia lihat berisi begitu banyak kebohongan. Ia merasa mempunyai begitu banyak wajah. Ia merasa menjadi orang yang berbeda saat ia berada di sekolah, saat ia di rumah, saat ia berada bersama teman-teman malamnya, dan saat ia berada di gereja, semuanya adalah sosok Putra yang berbeda. Bahkan sebenarnya ia sendiri tidak tahu yang mana dirinya yang sebenarnya. Tapi semakin lama ia semakin sadar bahwa hidupnya saat ini hanya akan membuatnya jatuh semakin dalam dan semakin dalam ke dalam kegelapan, semakin jauh dari terang. Ia merasa hidupnya tidak akan mempunyai arti jika ia terus seperti ini. Namun tentu saja iblis tidak akan mengizinkannya pergi begitu saja. Putra terus mengalami sebuah pergumulan yang besar hingga akhirnya ia mengambil sebuah keputusan.
Minggu, 20 Agustus 2006
Saat ini pukul setengah empat siang. Anak-anak kaum muda sedang ibadah di gereja. Setelah Pendeta kami berbicara menyampaikan Firman Tuhan, tiba-tiba ia berkata bahwa Putra memiliki sesuatu untuk disampaikan kepada kami semua. Putra maju ke depan semua orang dengan senyum di wajahnya. Ia berkata bahwa hidupnya selama ini salah. Ia berkata bahwa ia sedang berada pada suatu tahap dalam hidupnya dimana ia harus mengambil keputusan tentang jalan mana yang akan ia tempuh. Secara mengejutkan, tiba-tiba Putra berkata bahwa ia telah memutuskan, bahwa ia memutuskan untuk meninggalkan hal-hal yang selama ini membuatnya jauh dari Tuhan. Semua hal yang membuatnya jatuh semakin jauh ke dalam kegelapan akan menjadi tinggal sejarah dalam hidupnya. Orang-orang belum tahu bahwa Tuhan telah menjamah hati Putra selama ini, membuat Putra sadar bahwa yang ia lakukan selama ini salah. Ia berkata bahwa sebelum ulang tahunnya yang kemarin, ia telah memutuskan untuk menjalankan hidupnya sesuai dengan kehendak Tuhan. Ia tidak ingin lari lagi. Ia tidak ingin melakukan lagi hal yang jahat di mata Tuhan. Ia ingin hidupnya diubahkan.
Saat ia menceritakan hal itu, aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Hatiku dipenuhi sukacita karena doaku selama ini telah terjawab. Aku bahkan tidak menyangka hal itu dapat terjadi secepat ini! Memang tidak ada hal yang mustahil bagi Tuhan, aku kini benar-benar mengerti apa arti kata-kata itu. Yang berdiri di hadapanku saat ini adalah Putra yang kukenal, yang mengasihi Tuhan dengan segenap hatinya. Aku tidak dapat berhenti mengucap syukur kepada Tuhan malam itu. Aku yankin telah terjadi perayaan kemenangan yang besar di Sorga. Satu anak Tuhan yang hilang telah ditemukan kembali.
Awal September,2006
“Lucu ya, kalau diingat kamu sudah berteman dengan Putra sejak kecil? Mungkin sejak kalian berumur 3 tahun?” kata Ibunya Putra. Aku dan Putra hanya bisa tertawa. Memang lucu kalau diingat banyaknya hal yang sudah kualami bersama Putra. Orangtua kami sudah berteman sebelum kami lahir. Jadi, bisa dibilang jika aku berteman dengan Putra sejak aku tahu apa artinya “teman”. Hari ini kami baru pulang dari gereja. Kemarin saat latihan ibadah untuk para penyanyi, Putra memarahi beberapa orang yang menyanyi sambil bercanda. Ia berkata bahwa kita menyanyi untuk Tuhan, bukan untuk main-main. Aku terpana saat itu tanpa bisa berkata apa-apa Apa ini Putra yang sama? Yang berkata ia menyanyi di gereja hanya karena suka menyanyi? Putra berkata padaku bahwa sudah sebulan ini ia tidak merokok sekalipun. Itu artinya, bahkan sebelum ia menyatakan bahwa ia ingin berubah, sudah terjadi perubahan dalam hidupnya. Ia juga berkata ia sekarang menolak semua ajakan teman-temannya untuk pergi ke klub malam. Aku benar-benar masih belum percaya ia bisa berubah sedemikian jauhnya. Tuhan memang ajaib. Siapa yang menyangka hal seperti ini dapat terjadi?
Awal Oktober 2006
Sudah cukup banyak waktu berlalu sejak Putra memutuskan untuk berubah. Semakin banyak hal-hal yang terjadi dalam hidupnya, semakin banyak pelajaran-pelajaran yang Tuhan berikan dalam hidup Putra. Putra semakin lama semakin dapat dilihat bahwa ia ingin menyerahkan seluruh hidupnya untuk Tuhan. Putra terus dan terus bertumbuh dalam kasihnya kepada Tuhan. Sekarang yang kulihat adalah seorang Putra yang menguatkan orang-orang yang mulai menjauh dari Tuhan. Ia memutuskan untuk tidak mengambil jurusan kuliah yang ia inginkan sejak lama, tetapi ia memutuskan untuk mengambil jurusan yang dapat ia pakai untuk melayani Tuhan. Keinginan-keinginannya berubah. Hal-hal yang dahulu penting baginya, sekarang tidak lagi begitu penting. Ia semakin dapat mengendalikan kata-kata yang keluar dari mulutnya, sekarang sudah tidak lagi terdengar kata-kata kotor atau makian-makian yang keluar. Sekarang ia mulai terlibat aktif dalam pelayanan-pelayanan seperti melayani dalam ibadah di jalanan yang diadakan gereja kami. Putra sangat rajin untuk mengikuti acara-acara ibadah di gereja. Semakin hari semakin banyak orang yang melihat perubahan dalam hidup Putra, dan sekarang aku sudah tidak melihat lagi ada orang yang menentang hubungannya dengan Anna. Bahkan Putralah yang mengingatkan Anna saat Anna merasa malas untuk datang kepada Tuhan. Suatu hal yang beberapa bulan yang lalu kulihat tidak mungkin untuk terjadi kini terjadi terus-menerus dalam hidup Putra.
Aku tahu hal-hal ini hanya dapat terjadi karena campur tangan Tuhan. Tidak mungkin begitu saja muncul keinginan begitu kuat dalam diri Putra untuk berubah. Aku tahu tentu saja Putra pernah jatuh, dan sepanjang hidupnya pasti akan ada lagi hal yang membuat ia jatuh. Namun aku tahu ia akan bangkit kembali. Aku tahu bahwa Tuhan punya rencana besar dalam hidupnya, dan aku tahu tidak ada yang dapat menggagalkan hal itu.
Cerita ini ditulis berdasarkan kisah nyata.