Fiction » Action »

Bilik Batin
Author:
Tsaikai PM
“Biarin aja,” yang dipanggil Nal berkata cuek. “Gue muak. Dari atas sampe bawah, dosa semua. Udah waktunya dibersihin.”
Rated: Fiction T - Indonesian - Adventure/Angst - Words: 2,860 - Reviews: 10 - Favs: 6 - Published: 09-19-07 - Status: Complete - id: 2416652
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

Cerita tentang seseorang yang hatinya lurus.

Wah, spesies langka banget berarti ya? Hahaha...

Met baca!


Bilik Batin

Ruang sidang sunyi-senyap. Tampak jelas kalau di ruang itu ada dua kubu yang tengah berseteru. Kubu yang satu penuh orang biasa. Jumlah mereka lebih banyak dari kubu lawan, tapi jelas jumlah saja belum tentu menang. Kubu yang satu lagi penuh orang berpakaian necis dan rambut serta kumis yang klimis-klimis. Kedua kubu itu tengah menunggu putusan hakim atas sengketa tanah mereka. Kubu orang biasa dari kalangan menengah ke bawah versus kalangan elite, berebut tanah bak anak kecil rebutan permen. Satupun tidak ada yang mau mengalah, saling tuding gelar maling.

Agak aneh juga, memang, dan keterlaluan juga sebetulnya jika diperiksa ulang. Kubu elite yang kaya, masih saja hendak memeras orang yang dompetnya bisa dibilang gersang. Tapi salah juga kubu orang biasa, ditipu-tipu, mengaku punya tanah namun suratnya tak ada, hanya beberapa orang yang punya. Orang bodoh merasa pintar versus orang pintar yang gemar membodohi.

Juri sibuk berdiskusi, coba analisa bukti-bukti. Putusan berat sana-berat sini. Tidak sulit menebak siapa yang bakal pegang tanah itu. Namun, serentak hadirin di ruang sidang menoleh ke tengah-tengah ruangan. Seorang pemuda berdiri dengan lagak sengak.

"Hei, Hakim!!" serunya lantang, telunjuk kanannya diacungkan lurus ke hidung lebar si hakim. "Dibayar berapa kau oleh perusahaan itu supaya mereka menang?"

Lantang.

Kencang.

Batin si hakim, Bocah lancang!

Hadirin ribut, kasak-kusuk. Juri sibuk, sikat-sikut. Jaksa diam, melirik hakim. Hakim diam, sibuk pelototi si pemuda dengan wajah keki setengah mati.

Rambut gondrong, topi terbalik, kaus butut, jaket kebesaran, jeans belel, sepatu dekil. Kalau melihat pakaiannya, orang jelas akan meragukan kata-katanya. Tapi sinar mata pemuda itu, ya, matanya, mau tidak mau membuat hadirin bertanya-tanya. Sinar mata yang menunjukkan ketegasan, kemarahan, plus kebencian. Ditambah suara bernada muak yang dilontarkan seolah tanpa dosa dan kepuasan sadis di raut muka.

"Cewek..." desah beberapa lelaki dengan nada kagum dan kaget, membuat mereka yang membawa pasangan serta-merta dihujani tindakan KDRT ringan.

"Maaf, mohon Saudara agar tidak berbicara hal-hal yang dapat mengganggu jalannya sidang," tegur seorang opsir.

"Dia itu yang ganggu sidang, hey, Pak Polisi..." pemuda, bukan, pemudi tadi berkata dengan nada malas, namun sinar matanya tetap memancarkan intensitas yang sama. Bukan hanya hakim, seluruh hadirin pun merinding dibuatnya. "Udah gak bersih lagi ruang sidang ini... Pak Hakim di sana itu kemarin-marin udah dikasih sesaji. Gak percaya? Mau bukti?? Ini buktinya, Pak Polisi..."

Napas Pak Hakim serasa berhenti saat si pemudi mengeluarkan sebuah buku tabungan dari sakunya. Dengan santai pemudi itu mengibaskan buku tabungan di tangannya sampai ada halaman yang terbuka. Dari jauh tidak tampak, tapi dari dekat terlihatlah dengan jelas saldo simpanan yang jumlah nolnya tidak kurang dari tujuh, dan itu masih ditambah dua-tiga angka lagi di depannya. Hebat, indah, terutama bagi hati yang penuh nafsu serakah.

"Ini dari sumber terpercaya, lho, Opsir..." pemudi itu meloncat naik ke atas bangku dan menggoyang-goyangkan buku tabungan tadi. "Dari keponakan sang hakim sendiri. Tangkap!" dilemparnya buku tipis lebar itu ke opsir terdekat. Yang bersangkutan menangkapnya dengan gugup, lalu memandang rekan-rekannya dengan tak yakin.

"Pegang aja, Opsir, buat barang bukti. Kasus ini udah dilaporin, kok. Tapi gak tau juga, ya, kalo ada orang lain yang ikutan main," pemudi itu dengan santainya melompat dari bangku ke bangku, membuat beberapa orang terpaksa menyingkir agar tidak terinjak. Saat sampai di ujung barisan, dia menoleh ke belakang dengan penuh gaya. Dari sudut matanya, dia melirik sang hakim yang tengah diringkus polisi. Hakim itu marah-marah, wajahnya merah, caci-makinya nyaris bikin telinga mengucurkan darah.

"Lepaskan saya! Jangan kurang ajar kalian!! Yang perlu kalian tangkap adalah anak itu!!" sang hakim berontak. Sebelah tangannya terlepas, dia pun menunjuk sang pemudi dan lalu berteriak dengan penuh dendam. "Kembali ke sini, kau, kau... Kau bocah setan!!"

Si pemudi terbahak keras.

"Ya, aku setan," dia menyeringai lebar, seakan-akan malah senang dikatai sebagai makhluk rendah itu.

"Sampai ketemu di neraka."

xxxxxxxxxx

Tapi kurasa, neraka pun masih terlalu bagus untukmu.

xxxxxxxxxx

"Loe gila," Prisha menatap sobatannya dengan wajah tak percaya. "Lo gila, elo gila, loe bener-bener gila!! Nal, gue tau lo orangnya nekat, tapi gue sama sekali gak nyangka kalo lo bakal bener-bener ngacauin sidang itu."

"Biarin aja," yang dipanggil Nal berkata cuek. "Gue muak. Dari atas sampe bawah, dosa semua. Udah waktunya dibersihin."

"Ya, tapi kan dia om lo sendiri."

"Gak sudi gue ngakuin dia sebagai om gue," Nal meraih koran di meja. Bibirnya membentuk senyum sinis saat membaca judul berita utama; Hakim Dihakimi.

Prisha cuma bisa geleng-geleng kepala. Dia sama sekali tidak mengira ucapan Nal bahwa dia akan melawan keluarganya akan betul-betul diwujudkan temannya itu. Prisha ingat dengan jelas enam bulan yang lalu, saat Nal datang dengan wajah kusut ke depannya. Menyusruk, menangis. Menumpahkan kesedihan dan penyesalan, bercerita tentang sebuah pengkhianatan.

"Bokap gue, Sha... korup..."

Dan terbukanya lembaran hitam.

"Ternyata bukan cuma bokap, Sha. Tapi semua anggota keluarga gue yang kerja di instansi pemerintah juga sama..."

Tapi Prisha tak mengira kalau Nal betul-betul akan mewujudkan kata-katanya.

"Gue mau bales dendam."

Nal yang merasa dijebak dan dikhianati menyusun rencana. Minggat dari rumah dan memulai aksinya. Menyusun rencana, lalu melibas lawan-lawannya. Hakim yang kemarin adalah anggota keluarga ketiga yang diseretnya ke bayangan teralis penjara.

"Sampe kapan mau di sini terus?" Prisha menyapukan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Kamar sewaan di sebuah rusun kumuh yang letaknya tidak jauh dari sekolah mereka. Sejak dia mengetahui aksi-aksi kotor keluarganya, Nal bersumpah untuk angkat kaki dari rumah. Meninggalkan kemudahan dan kemewahan yang biasanya bergelimpangan, melepaskan hal yang diimpi-impikan banyak orang.

"Keliatannya aja gue hidup enak. Tapi sebenernya, gue dikasih makan dan tinggal di rumah yang dibangun dari uang haram. Hal kotor kayak gitu bukan gak mungkin gak ngaruh ke gue. Sementara kalo gue sampe ikutan jadi penjahat, yang jadi jagoannya siapa?"

"Sampe semua penjahat berhasil gue ringkus," Nal mendengus. "Lagian, gila. Bokap gue pejabat negara, tapi nyolong duit rakyat sampe milyaran. Om gue hakim, tapi kerjanya jual ketokan palu. Abang gue inspektur, kerjanya narikin pungli. Jangan-jangan dulu sebelum meninggal, kakek gue bos mafia?"

"Hush, gak baek ngomongin orang mati," tegur Prisha.

"Orang mati udah gak bisa ditolong. Yang masih idup mungkin marah sama perbuatan gue, tapi paling nggak mereka masih punya kesempatan buat tobat," tukas Nal berapi-api.

"Iya, deh... Ngomong-ngomong, kenapa juga lo gak numpang di rumah gue aja? Ato rumahnya anak-anak yang laen?"

"Rumah siapa? Dinan? Kemal? Echa?"

"Ya, jangan di rumah Kemal, lah! Dia kan cowok..."

"Terus, siapa?"

"Pilih aja, Dinan, Echa, ato gue?"

"Dan ngebahayain kalian, juga keluarga kalian? Yakin lo udah pada bosen idup? Abang gue inspektur, po-li-si, kerjaannya bawa pistol tiap hari. Kalo didor, tamat riwayat loe."

Prisha spontan mengelus lengannya yang merinding.

"Belum lagi duit yang bisa dipake buat bayar pembunuh bayaran. Kalo cuma sekoper-dua koper, itu masalah kecil buat bokap gue."

"Nal, gak mungkin bokap lo tega nge... ehm, ngilangin lo," Prisha berusaha mencari kata yang lebih halus sebagai pengganti 'bunuh'.

"Dia tega ngasih gue makan pake uang haram. Kalo cuma ngebunuh, kenapa enggak?" suara Nal terdengar getir, sangat getir. Matanya menatap hampa ke foto yang ada di dekat kasurnya. Foto keluarga.

Prisha merangkul Nal, dia tak kuasa berkata. Meski ini bukan dilemanya, lidah Prisha turut kelu dan hatinya ikut pilu.

xxxxxxxxxx

Sebetulnya ini siapa mengkhianati siapa?

xxxxxxxxxx

Prisha menatap bangku kosong di depannya. Bangkunya Nal. Bangku yang sudah hampir sebulan ini kosong. Nal lebih memilih hengkang dari sekolah daripada mendapat pendidikan dengan uang yang bukan haknya. Kabur dari rumah demi makan dan tidur di tempat yang halal. Bertahan cuma dengan kerja sambilan di warung makan pinggir jalan dan bantuan teman. Semua kartu ATM dan kartu kredit di dompet habis dia guntingi, buku tabungannya dia bakar. Yang dia pakai hanya simpanan uang dari orang keluarganya yang bersih. Sayang, uang dari golongan bersih ini jumlahnya tidak sebanyak yang dari golongan kotor.

Berbanding terbalik.

Golongan bersih orangnya banyak, ngasihnya dikit. Golongan kotor emang cuma dikit, tapi ngasihnya banyak. Tapi, begitulah, yang dikasihin itu yang bukan hak.

xxxxxxxxxx

Aku cuma mau kebenaran.

xxxxxxxxxx

"Sha, ini Dinan. Lo dateng ke base camp, cepet!!"

"Eh? Rumah Echa, maksud lo? Ngapain?" Prisha mengaktifkan loudspeaker di ponselnya supaya bisa menerima telepon sambil terus surfing internet.

"Udah, gak usah banyak tanya!! Bawa perban sama obat yang banyak!"

"Perban buat apaan?"

"Tuut! Tuut! Tuut!"

"Apaan sih..." Prisha mengerutkan dahinya. Pake nyuruh-nyuruh bawa perban sama obat segala, emangnya rumah Prisha puskesmas?

"Eh, jangan-jangan si Nal...?"

Secepat kilat Prisha menyambar kotak P3K di lemari obat, lalu berangkat pergi ke rumah Echa.

xxxxxxxxxx

Bahkan jika nyawa harus jadi taruhan.

xxxxxxxxxx

"Ini sinting. Sumpah, sinting banget! Nal, mendingan lo lapor polisi, minta jasa perlindungan saksi," wajah Prisha pucat pasi, tangannya gemetar sedemikian hebat sampai akhirnya Dinan menyuruhnya menyingkir karena bukannya membantu membebat luka Nal, Prisha malah membuat perbannya berantakan.

"Gue gak percaya sama polisi..." ucap Nal lemah. Wajahnya mengernyit saat Dinan membebat kakinya sedikit terlalu kencang, refleks dia meremas tangan Echa yang menggenggam tangannya. Dinan pun mengendurkan bebatan. Akhirnya luka di paha kiri Nal selesai diurus. Yang menghembus napas lega bukan cuma Nal, tapi juga ketiga kawannya.

Luka itu akibat terserempet peluru. Peluru dari pistol abang Nal sendiri. Lelaki berbadan tegap itu tampak tenang ketika Nal datang untuk bicara padanya. Masih tetap tenang saat Nal membujuknya untuk menghentikan penarikan dana gelap atas nama kepolisian dan menyerahkan diri. Meledak tanpa aba-aba saat Nal hendak pergi setelah sebelumnya mengaku bahwa dia telah melaporkan abangnya dan meninggalkan banyak barang bukti di kantor pusat kepolisian. Untung saja Nal cuma kena serempet di paha kiri. Dan meski darahnya mengucur cukup banyak, tapi itu bukan luka yang berbahaya. Kini, abang Nal pasti sudah dibui.

"Untung bo-nyok lo lagi gak di rumah, Cha," Dinan membereskan perlengkapan P3K.

"Emang rezekinya si Nal, kali," Echa berusaha bercanda. Tidak ada yang tertawa, cuma senyum terpaksa.

"Ketembak kok rezeki," Prisha mendengus.

"Bo-nyok lo kapan pulang, Cha?" Dinan menarik Prisha agar duduk di sebelahnya.

"Masih tiga hari lagi, kok."

"Berarti buat sementara, Nal bisa numpang dulu di sini sampe kakinya rada baikan," putus Dinan kalem.

"Gak, gak usah, besok pagi gue pergi," tolak Nal. Dia takut orang suruhan keluarganya datang ke sana, itu bisa membahayakan teman-temannya.

"Gak usah belagu, deh..." koor Dinan dan Prisha. Nal mau tidak mau tertawa juga melihat tingkah teman-temannya.

"Lagian kalo gak di sini, kamu mau ke mana? Kamu udah gak tinggal di rusun deket sekolah kita lagi, kan?" interogasi Prisha.

"Masa kamu mau tidur di jalan?"

"Mendingan tidur di jalan daripada pulang," Nal memalingkan wajah. Ketiga kawannya terdiam. Pelan-pelan, air mata mengalir menuruni sisi wajah Nal. Nal memejamkan mata dan menarik napas panjang, berusaha untuk menahan emosinya.

Echa mengelus-elus kepala Nal seraya bertukar pandang dengan kedua kawannya yang lain. Ekspresi mereka semua sama.

Pedih.

xxxxxxxxxx

Sebegitu sulitnyakah untuk menjadi orang jujur?

xxxxxxxxxx

Seorang pria duduk termangu di selnya, mengingat-ingat dosanya, mereka-reka salahnya, mengutuk orang-orang di sekitarnya. Betapa dia telah dipermalukan, ditangkap di tengah kejayaan. Nama besar dicoreng arang hitam, pejabat besar jadi penjahat besar. Jas necis diganti seragam lapas. Lagu sinis mengiring tiap-tiap tarikan napas.

"Pa..."

Pria itu mengangkat kepalanya. Seorang tamu yang paling tidak diharapkannya.

"Mau apa lagi kamu? Belum puas?"

Nada kasar ayahnya membuat dada Nal terasa sakit. Sangat sakit.

"Pa, Nal cuma—"

"Pergi."

"Pa, kenapa Papa gak mau ngerti? Mungkin, ini keliatan kelewatan. Tapi Nal cuma pengen nolong Papa, nolong keluarga kita. Kenapa semua malah marah sama Nal?"

"Nolong Papa? Setelah semua yang Papa lakukan demi kamu, Nal, DEMI KAMU!!! Sel ini balasanmu?!!" ayah Nal menghardik putrinya dengan keras. Rasa sakit di dada Nal mendadak padam, digantikan amarah yang mendalam.

"Jangan bilang kalo semua perbuatan kotor itu Papa lakukan demi Nal!!!"

"Tentu aja semua ini demi kamu!! Bikin rumah buat kamu, nyekolahin kamu, ngasih makan kamu, semua buat kamu! Demi kamu! Kalo bukan karena kamu, Papa gak akan ngelakuin ini semua!!!"

"Jangan pake Nal sebagai alesan!"

"Sayangnya, kamulah satu-satunya alesan!"

"..."

"Nal gak pernah minta semua itu, Pa."

Tawa sinis.

"Gak pernah minta?" ayah Nal memicingkan mata ke arah anaknya. "Rumah bagus, handphone, uang jajan, baju baru, mainan baru..."

"Jas baru, Rolex baru, BMW baru," sela Nal. "Sekalian aja istri baru dan anak baru!!"

"NAL!!!"

"Kalo Nal tau dari mana uang yang Papa pake itu, Nal gak akan pernah minta semuanya," sorot mata Nal menunjukkan kesedihan. "Papa gak kabulin juga Nal gak marah, kan? Iya, kan, Pa???"

"Udahlah, Nal," sang mantan pejabat mengibaskan tangan kanannya seakan mengusir anaknya. "Sekarang Papa udah di sini, harta kita semua disita negara, apalagi yang kamu mau? Apa kamu masih belum puas?"

"Belum," Nal menjawab jujur.

"Terus kamu mau apalagi?!!"

Nal sempat gemetar mendengar bentakan keras suara bass milik ayahnya. Tapi dia punya tujuan, dan Nal tak akan puas sebelum mencapai tujuannya.

"Pa," nada suara Nal berubah lembut. Ayahnya menoleh setengah hati. Dada Nal sakit lagi saat melihat emosi yang ada di wajah ayahnya. Seraut wajah yang menunjukkan kekecewaan, kelelahan, penyesalan, kemarahan, dan kebencian. Persis wajah Nal sendiri saat pertama kali mengetahui tentang perbuatan kotor ayahnya. "Papa bilang, Papa ngelakuin semua salah Papa demi Nal. Sekarang, Nal juga lakuin ini demi Papa."

"Tobat, Pa. Minta maaf, benerin salah Papa. Kalo cuma soal harta, itu masih bisa dicari. Kehormatan, harusnya Papa sadar dari pertama kali kalo ini tindakan yang sama sekali gak terhormat. Nal gak butuh harta. Nal butuh Papa sama keluarga yang bersih semua. Mumpung Papa masih punya waktu, mumpung Papa masih punya kesempatan."

"Semua ini Nal lakuin, karena Nal sayang Papa..."

"Apa kamu juga ngomong begini ke om-om dan abangmu?" ayah Nal bertanya tanpa mau menatap anaknya.

"Ya."

Hening.

"Kenapa, Nal, kamu tega ngelakuin ini semua?"

"Mungkin, alasannya sama dengan alasan yang Papa gunakan saat korupsi."

"Bah."

"Papa sendiri, kenapa tega korupsi?"

Ayah Nal terdiam. Kenapa? Menggunakan keluarganya sebagai alasan, tapi dalam hati sebetulnya demi memenuhi egonya sendiri. Ingin terlihat kaya, berkuasa. Dengan cara singkat, kalau bisa. Hasilnya? Badan penuh harta, batin bergelimang dosa.

"Nal lakuin semua ini karena Nal sayang semuanya," jawab Nal tegas. "Karena Nal pengen semua sadar, yang kemaren itu salah. Semuanya semu, gak nyata. Masih ada banyak hal lain yang lebih berharga daripada harta, Pa."

"Coba Papa pikir, seandainya Nal malah senang dengan perbuatan Papa, apa yang bakal terjadi? Di sini mungkin kita jadi keliatan hebat, tapi di akhirat? Nal cuma pengen semua selamat. Tapi, Nal cuma bisa bantu sampe di sini. Sekarang semua terserah masing-masing, apa mau selamat atau mau tetap jadi bejat? Pilih."

Nal membalik badan, memunggungi ayahnya dan bersiap pergi..

"Semoga suatu saat nanti Papa bersyukur bahwa ada orang yang masih peduli sama Papa."

Ayah Nal memandang pintu penjara dengan hampa.

xxxxxxxxxx

Demi kamu. Untuk kamu. Karena aku menyayangimu.

xxxxxxxxxx

"Apa lo sama sekali gak bisa ngasih tau kita-kita mau pindah ke mana?" tanya Prisha pada Nal dengan wajah yang agak muram. Nal mengeleng sambil tersenyum, sebelah tangan menarik kopernya lebih dekat.

"Sorry, sama sekali gak bisa. Lo semua cukup tau, gue pergi modal beasiswa, bukan hasil korup keluarga gue. Tenang aja, gue pasti bakal kirim-kirim email, kok."

Dinan dan Echa bertukar pandang dengan Prisha. Serentak mereka bertiga menyerbu maju dan memeluk Nal dengan erat.

"Yang tabah, ya, Nal."

"Gue yakin, suatu saat nanti keluarga lo bakal nerima lo lagi."

"Never give up, Nal."

"Thanks banget," Nal membalas pelukan kawan-kawannya sebelum melepaskan mereka. Meski agak sedih karena harus pergi, dia senang punya kawan yang baik hati.

"Tapi kenapa lo harus keluar negeri segala, sih, Nal? Bukannya lo pernah bilang kalo lo cinta mati sama negeri ini?" tanya Echa penasaran.

"Iya, bahkan saking cintanya, lo sampe tega nyerahin kelua—"

"Prisha!" tegur Echa dan Dinan serentak. Dinan bahkan sampai pakai acara menyikut Prisha segala. Lalu mereka berdua menatap Nal dengan cemas.

"Gak apa-apa," Nal angkat bahu. "Prisha bener, kok. Lagian, justru karena gue cinta banget sama negeri ini, makanya gue rela angkat kaki sebentar. Karena gue pengen ubah negeri ini, dan gue butuh modal buat itu. Doain aja, suatu saat nanti gue bener-bener berhasil ngerubah tempat ini."

"Ciee, bahasanya..." canda Dinan.

"Iya, tenang aja, pasti kita-kita doain," janji Echa.

"Hati-hati, ya, Nal. Jaga diri baik-baik," pesan Prisha.

"Iya."

"Pasti."

xxxxxxxxxx

Karena ada kawan, maka aku bertahan.

xxxxxxxxxx

Nal duduk dan memasang sabuk pengamannya. Dia menopang dagu dengan sebelah tangan, menonton kesibukan petugas bandara di luar dari jendela persegi kecil di kirinya. Saat rekan seperjalanannya sudah duduk, Nal menoleh.

"Mbak, apa Mbak sebetulnya tau tentang apa yang Abang sama Papa lakuin?" Nal menanyai kakak perempuannya. Satu-satunya keluarga dekatnya yang kini ada. Saat kakaknya itu mengangguk, Nal merasa ada desakan kekecewaan di dadanya.

"Tau, Nal. Udah dari lama," kakak Nal menyandarkan tubuhnya lalu menghela napas. "Mungkin kamu belum tau, tapi sebetulnya Mama meninggal juga gara-gara tau soal perbuatan Papa dan Abang."

Serta-merta Nal menghadapkan wajah ke jendela, berusaha menahan sakit di dadanya. Ibunya meninggal empat tahun lalu karena serangan jantung.

Liat, Pa Nal membatin kesal. Cinta butamu itu cuma bikin kita sengsara.

"Nal."

Nal menoleh saat dia merasakan tangan kanannya digenggam kakaknya.

"Makasih kamu udah nolong kita semua."

xxxxxxxxxx

Dan aku bersumpah, aku tidak akan pernah menyerah.


Kira-kira di negeri tercinta ini masih ada gak ya orang yang kayak gini?

Hahaha... Ngarep...

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .