Fiction » Fantasy »

Astral World I : Beginning of The Crest
Author:
Vin-SP PM
Suwabara Akira menyimpan dendam atas kematian penduduk desanya akibat serangan Black Site. Dengan alasan itulah, ia menjadi ninja. Namun, petualangannya bersama Kururugi Kanade sedikit demi sedikit mampu mengubah dirinya. My first novel, coming soon!
Rated: Fiction T - Indonesian - Drama/Adventure - Chapters: 7 - Words: 11,244 - Reviews: 6 - Favs: 1 - Follows: 1 - Updated: 05-01-11 - Published: 11-30-07 - id: 2444798
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

Kururugi Clan

Malam semakin larut. Sementara itu, Cougar yang duduk lesehan berselimutkan kotatsu di ruang tengah sedang menikmati semangkok ramen ditemani segelas teh hijau hangat. Sambil menyeruput mi dan kuah ramennya, ia sesekali melihat ke arah jam dinding yang sudah hampir menunjukkan pukul sepuluh malam.

"Kemana saja sih, anak itu? Sudah jam segini masih belum pulang juga. Slurp!"

Sambil menikmati makan malam bagiannya itu, pandangannya juga sesekali mengarah ke semangkok ramen panas lengkap dengan sayur dan lauk udang goreng tepung besar yang rencananya akan jadi jatah makan malam adik perempuannya itu.

"Bagiannya nanti jadi dingin tuh. Nyam, nyam..."

Selesai mengunyah kemudian menelan gulungan mi terakhir, Cougar mengangkat dan menelan kuah yang masih tersisa di mangkok miliknya.

Gluk...gluk...gluk...

Padahal kuah itu begitu pedas, lebih pedas dari pada kuah yang dicampur potongan cabe rawit lima batang. Namun, ia bisa menghabiskan nya seperti minum air mineral biasa!

"Ah, enaknya makan malam pakai ramen!" komentarnya sambil meletakkan mangkoknya dan menyeka keringat di dahinya.

Baru beberapa detik berlalu, Cougar sudah mengarahkan matanya pada semangkok ramen kesepian yang masih mengebul-ngebul. Orang bilang, selalu ada tempat untuk makanan penutup di perut anda. Tapi baginya, nampaknya ungkapan yang tepat adalah selalu ada tempat di perut untuk berbagai jenis ramen di perut Cougar!

Perlahan-lahan ia mendekatinya. Tangan kiri nya menyentuh salah satu sisi mangkok dan tangan kanannya memegang sumpit kayu yang sudah sejak awal terbelah jadi dua. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada orang yang melihat.

"Daripada nganggur begini, mendingan aku makan saja ini ramen. Biar nggak mubazir..."

Baru saja ia memasukkan suapan mi ramen pertamanya yang panjang ke dalam mulutnya, tiba-tiba dari balik salah satu hiasan dinding yang ada tepat di belakang Cougar, muncul suara kencang yang bisa membuat jantungmu mogok kerja mendadak.

"Kakak, aku pulang...!!" muncullah sosok Kanade yang masuk ke dalam ruangan sambil mengangkat tangan kanannya ke depan atas.

"U-uph!"

Saking kagetnya Cougar sampai tersedak dan karena itu juga...

Ceprot!

...mangkok ramen yang ditopangnya lepas dan isinya yang panas tumpah semua mengotori hakama berwarna coklat muda yang dipakainya.

"Argh...!! Panas...!!"

"Argh...!! Ramenku...!!"

Sementara itu, Akira yang tidak sempat melihat kejadian itu karena agak tertinggal di belakangnya baru muncul sesaat kemudian.

"Permisi... Maaf mengganggu—"

Dan dihadapannya kini, terlihat sebuah adegan dimana Cougar sedang menjadi sandbag Kanade. Untuk sesaat ia merasa sedang melihat sebuah deja vu.

"Dasar kakak rakus! Kembalikan makan malamku yang berharga...!!"

"A-ampun...! Kakak memang salah! T-tobat! Give up, give up...!!"

Maksud hati ingin menghentikan kegilaan itu. Tapi berhubung yang dihajarnya adalah seseorang yang membuat dia pingsan dan menyebabkan ia harus mengalami setengah dari kesialannya di hari itu, ia mengurungkan niatnya.

"Biarin dulu deh. Biar kapok dulu dia," gumamnya dengan muka datar nggak mau tahu.

***

Setelah beberapa menit berlalu, barulah semuanya kembali normal dan Kanade tersadar lagi dari kondisi berserk-nya. Dan saat ini, mereka berdua sedang 'disidang' oleh Cougar yang penuh dengan balutan bekas luka memar dan cakar di kepala, muka, tangan dan kakinya. Cougar berdiri dengan berkacak pinggang, sedangkan Akira dan Kanade duduk sesopan mungkin di atas lantai tatami.

"Jadi...? Kenapa orang ini bisa ikut dengan-mu sampai sini?!" Cougar menunjuk ke arah Akira dengan jari telunjuknya yang mengacung tajam.

"Aku punya nama, dan namaku A-ki-ra!" Akira menanggapinya dengan agak kesal. Ia masih belum bisa melupakan kesialan yang dialaminya hari itu.

"Sudahlah, Kak... Sabar, sabar...!" balas Kanade sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke atas dan ke bawah dengan ringannya.

"Bagaimana kakak bisa sabar?! Padahal sudah berkali-kali kuperingatkan, membantu calon pendaftar bahkan sampai membawanya langsung ke sini tanpa melewati serangkaian proses yang seharusnya sama dengan melanggar adat dan harus dihukum! Kau tahu itu, kan?!"

"Aku tahu kok," jawabnya lagi dengan polos dan tanpa dosa, "Tapi Kakak tahu sendiri kan, kalau aku punya mata yang bagus dalam menilai orang?"

Cougar berhenti mengeluarkan ekspresi kemarahan dan kesebalannya, berganti dengan ekspresi seseorang yang sedang mengingat masa lalu.

Memang benar bahwa sudah beberapa kali Kanade melakukan hal-hal yang melanggar aturan prosesi penerimaan pendaftar seperti yang kali ini dia lakukan. Hal itu juga sering membuat kakaknya kalang kabut dalam menjamin keputusannya yang terkesan slebor dan spontan. Namun, terbukti di kemudian hari bahwa semua yang pernah dibantunya untuk lulus ujian menunjukkan hasil yang memuaskan dalam setiap misi yang diberikan, baik oleh klan itu maupun oleh negara yang bersangkutan.

Ia memejamkan matanya dan mengelus dagunya pelan-pelan, "Kau bilang begitu pun..."

"Berarti dia bisa diterima, kan?!" pekiknya penuh percaya diri dan mata yang berbinar-binar.

"W-woi! Jangan seenaknya—"

Sebagai seorang kakak, rasanya sangat menyakitkan untuk mengucapkan sesuatu yang bernada mengkhianati ekspektasi seorang adik, apalagi kalau adiknya itu adalah seorang perempuan.

"Kakak nggak mau mengabulkan perminta-an adik kakak satu-satunya ini, ya...?"

Serangan pamungkas muncul juga! Dengan mata memelas mirip anak anjing yang minta dipungut dan air mata yang sudah menggantung di pelupuk mata, Kanade sukses memenangkan debat keluarga untuk kesekian kalinya!

"O-oke, oke! Cukup, hentikan tatapan matamu itu!" Dengan perasaan yang agak jengah, ia terpaksa mengabulkan permintaan adiknya tersebut.

"Yes, aku berhasil!" teriak Kanade dalam hati sambil mengacungkan jempol ke arah Akira.

Sementara Cougar menutup mukanya dengan satu tangan dan terlihat lesu karena kekalahannya, "Uh... Kenapa aku selalu lemah dengan segala permintaannya, sih...?"

Akira yang melihat tingkah laku mereka berdua sejak tadi, tidak bisa berkata apa-apa selain melongo dan bergumam, "Keluarga yang aneh..."

Tiba-tiba, Cougar mulai beranjak dari sana dan berjalan keluar ruangan tersebut. Sesaat sebelum sosoknya menghilang dari pandangan, ia berkata, "Tunggu di sini. Ada yang ingin kubicarakan dengan kalian nanti."

"B-baiklah..."

Mereka berdua menurut saja. Sepertinya hal yang akan mereka bicarakan sangat penting, karena suaranya tadi terdengar berat dan serius.

Sementara itu, Cougar membuka pintu geser kamarnya lalu berjalan ke mejanya dan membuka salah satu laci mejanya yang terkunci. Ia mengambil sebuah gulungan surat dari dalam laci tersebut, kemudian membawanya kembali ke ruang tengah dimana Akira dan Kanade masih duduk dengan tenang.

"Ini."

Cougar duduk sambil meletakkan gulungan yang ia bawa di tengah-tengah mereka bertiga. Wajahnya menjadi serius.

"Apa itu?"

"Surat gencatan senjata dengan klan Ougi..."

Begitu kata 'klan Ougi' diucapkan, tiba-tiba aura di ruangan itu berubah. Sisa-sisa keceriaan dan adegan komedi yang tadi terjadi tak lama sebelumnya, mendadak hilang berganti dengan suasana yang serius dan mencekam. Akira bisa merasakannya namun tidak mengerti apa yang terjadi.

"Apakah keputusan itu sudah final?"

Kanade merespon dengan ekspresi yang sama dengan kakaknya. Bisa sedikit terlihat ada keringat pertanda ketegangan yang turun perlahan dari sisi kanan wajahnya yang dekat dengan telinga.

"Apa boleh buat. Para sesepuh desa juga sudah menyetujui dan menerima usulan ini."

"Tapi, aku tidak berpikir bahwa mereka akan menerima ajakan damai dari kita."

"Bagaimana pun, kita tidak boleh seperti ini terus. Kalau kita tidak melakukannya, maka kestabilan diplomasi politik bagi kedua negara ini, tidak akan pernah tercapai."

Kakak beradik tersebut terus berbicara tentang sesuatu yang tidak bisa diikuti oleh Akira. Merasa bahwa ia tidak ingin didiamkan saja, ia memotong pembicaraan mereka.

"Maaf, saya kurang mengerti masalah apa yang kalian bicarakan ini. Jadi, apakah kalian tidak keberatan kalau saya bertanya apa yang sebenarnya terjadi."

Mereka berdua memandang Akira yang tiba-tiba berkata-kata dengan sopan dan serius, sama dengan yang mereka lakukan. Cougar dan Kanade saling berpandangan sejenak. Kanade menganggukkan kepalanya pelan dan Cougar pun sedikit memindahkan posisi duduknya menjadi menghadap Akira.

"Ini semua dimulai sekitar 63 tahun yang lalu, pada tahun 162 Kalender Astral, tepatnya pada saat Twilight Zone War berakhir. Kau tahu tentang sejarah perang itu, kan?"

"Kalau tidak salah, itu adalah perang satu tahun yang melibatkan negara-negara kecil di tiga benua besar. Dan perang itu berakhir dengan kehancuran total salah satu benua terbesar, Sacred Continent atau disebut juga Benua Keramat, akibat sebuah ledakan misterius yang belum diketahui penyebabnya. Sementara itu, Benua Lama ini dan Benua Baru tidak menderita kehancuran yang berarti. Kemudian, pada masa perdamaian, beberapa negara kecil di Benua Lama bergabung menjadi Republik Federal Agna. Dan di Benua Baru terbentuk lah Kerajaan Persemakmuran Ganard."

Akira menjelaskan gambaran sejarah perang itu, sesuai dengan apa yang pernah dia pelajari pada saat menghadiri kelas sejarah dunia di kampusnya dulu. Cougar menyimak sambil sesekali mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Yah... Tahukah kau, bahwa penyebabnya bukan 'belum diketahui' namun 'tidak bisa dipublikasikan'?"

Akira cukup terkejut mendengarnya, namun juga langsung memahami. Semuanya adalah atas nama 'demi kebaikan masyarakat' atau semacam itu. Politik mempunyai kekuatan untuk itu, dan akan selalu begitu, selama pemerintahan masih di pegang oleh pihak yang mementingkan kekuasaan dan kepopuleran semata.

Akira sangat tahu hal itu, karena peristiwa yang terjadi padanya tiga belas tahun yang lalu juga mengalami hal yang sama alias sensorship. Untuk sesaat ia menggigit bibir bawahnya karena kesal setiap dia mengingat hal itu. Namun demikian, Akira berusaha fokus kembali pada konteks pembicaraan yang sedang mereka lakukan.

"Apa yang tidak bisa dipublikasikan? Sejarah apa yang disembunyikan pemerintah pada kami?"

Cougar bermaksud memberitahunya, namun berusaha menahan diri. Belum waktunya dia mengetahui rahasia dunia ini, batinnya dengan penuh perhitungan.

"Akan keberitahukan detailnya lain kali, dengarkan kelanjutannya dulu. Meskipun pada akhirnya perdamaian tercipta pun, masih ada sisa-sisa kecurigaan dari kedua negara baru yang tercipta ini. Dengan segala cara, mereka berusaha untuk mempertahankan pengaruhnya satu sama lain dan saling bersaing dalam kekuatan militer, senjata, teknologi, maupun informasi yang mereka punya. Termasuk juga, spionase."

"Dan itulah kami, klan ninja Kururugi dari Republik Federal Agna," timpal Kanade tiba-tiba, "Sedangkan klan ninja Ougi dari Kerajaan Persemakmuran Ganard."

"Jadi yang dimaksud dengan gencatan senjata itu...?"

"Kami selalu berperang di balik kegelapan, tanpa seorang pun yang tahu. Kami dijadikan alat kekuasaan sejak zaman dulu sampai sekarang ini. Sudah banyak darah tertumpah dari klan kami dan klan mereka."

"Dan salah satunya adalah ayah dan ibu kami..."

Kanade menutup pembicaraan mereka dengan suara yang lirih. Ia menundukkan kepalanya, matanya tertuju ke bawah. Kedua tangannya dikepalkan erat dengan penuh kegeraman. Ia berusaha menahan emosi yang timbul dari sakitnya mengingat tragedi yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Begitu juga dengan Cougar yang tidak langsung melanjutkan pembicaraan mereka.

Akira menyadarinya namun tetap diam karena tidak tahu harus berkata apa. Ia tahu betul bagaimana rasanya mengingat cerita masa lalu yang melibatkanmu dalam situasi yang tragis. Ia memang tidak tahu masa lalu Kanade maupun Cougar, namun reaksi mereka berdua sudah cukup untuk membuktikan dugaannya benar.

"Mengapa hal semacam ini tidak hilang juga dari dunia ini...?" geramnya kecil dalam hati sambil menundukkan kepala dengan mata sayu.

"Oleh karena itu, semua ini harus dihentikan!" Cougar memotong keheningan itu dengan suara yang tegas dan mantap, "Untuk itulah, aku sudah mengubungi wakil dari klan Ougi untuk mengajukan pertemuan dengan ketua mereka, Ougi Yamigami."

Akira kembali mengangkat kepalanya, "Apa itu artinya, Anda yang akan menemuinya sendirian?"

Cougar menarik nafas sambil melipatkan kedua tangannya di depan dadanya. Sejenak ia berpikir dan tiba-tiba ia tersenyum simpul. Sebuah ide nakal tiba-tiba terlintas di benaknya.

"Tidak, justru kalian berdua lah yang akan menemuinya!"

Akira dan Kanade membelalakkan matanya saking terkejutnya. Dengan serempak mereka berdua berteriak, "Eeehh...?!"

"Kalian berisik sekali, sih? Kenapa kagetnya sampai segitunya?" keluhnya cuek sambil mengorek-ngorek kupingnya.

"Kok jadinya begitu sih, Kak...?" protes Kanade lemas.

"Yah, anggap saja ini kompensasi dari permintaanmu tadi yang kelewatan. Bagaimana? Menurutku cukup adil dan pastinya berguna bagimu untuk belajar hal-hal semacam ini."

"Tapi..." Kanade merengek dengan harapan permintaan itu bisa dibatalkan.

"Ingatlah Kanade, kaulah yang sebenarnya adalah pewaris sah klan ini. Jangan buat pengorbanan yang sudah orang tua kita dan orang-orang di sekitar kita lakukan menjadi sia-sia."

Kanade sudah tak bisa berkata apa-apa lagi, ketika mendiang orang tuanya dibawa-bawa di dalam pembicaraan itu. Kanade tahu bahwa memang hal yang harus dipahami setiap anggota keluarga inti yang ada adalah politik, dan salah satunya adalah diplomasi. Namun, Kanade tetap berusaha mencari alasan yang bisa membuatnya menolak permintaan tersebut. Karena baginya politik sama dengan sakit kepala. Benar-benar merepotkan!

"Tolong, ya...?"

Cougar membujuknya dengan tatapan mata yang sok gentleman dan bersinar-sinar. Kanade yang melihat langsung ke dalam mata kakaknya menjadi tahu akan satu hal. Sambil tersenyum kesal, ia menuding ke arah kakaknya dengan jari telunjuknya yang berada di depan hidung Cougar, tepat di antara kedua matanya.

"Sebenarnya, Kakak yang malas ke sana, kan?!"

Glek...!

Terdengar suara ludah yang ditelan. Meskipun seharusnya kecil, namun suaranya bisa didengar oleh Akira dan Kanade. Bahkan setelah itu ada bunyi detak jantung berdetak dengan kencang.

"A-apaan sih...? Kakak n-nggak tahu tuh, apa yang k-kamu maksud..."

Cougar terbata-bata menjawabnya. Dengan gerakan pelan mekanik ala robot, ia membuang mukanya sambil menggerakkan bola matanya ke belakang kanan dan kiri bergantian. Sepertinya Cougar adalah tipe pembohong yang buruk.

"Benar, kan?! Ayo jawab yang jujur...!!"

"Argh...!!"

Dan untuk kedua kalinya, Akira bisa melihat pemandangan dimana si adik menekan dan menghajar kakak kesayangannya tanpa ampun. Suasana yang sebelumnya berat, tegang, dan serius, kembali berubah menjadi lebih ceria dan lebih hidup.

Dalam hatinya, Akira tertawa kecil dan merasa sedikit tenang. Sebelumnya dia berpikir bahwa pekerjaan sebagai ninja mungkin adalah pekerjaan yang paling serius dan misterius dari semua pekerjaan yang ada. Tapi setelah melihat mereka berdua dengan segala tingkahnya, ia membuang semua dugaannya sebelumnya dan tersenyum simpul.

"Jadi ini klan Kururugi yang akan menjadi rumah baruku, ya...?"

"Hm? Kau ngomong sesuatu?"

Gumaman Akira terdengar oleh Kanade. Untuk sesaat ia menghentikan 'pembantaiannya' dan balik bertanya padanya. Namun, Akira terlalu gengsi untuk mengulangi komentarnya yang terkesan softy.

"T-tidak. Mungkin hanya perasaanmu?"

Kanade memiringkan kepalanya dengan penuh tanda tanya. Ia yakin kalau tadi ia bisa mendengar sesuatu, tapi mungkin juga apa yang dikatakan Akira ada benarnya. Mereka berdua sama-sama lelah dan hari itu akan berakhir beberapa jam lagi.

"Hah? Sudah jam 10 lebih?!" pekiknya saat mengecek ke jam dinding, "Aku harus cepat-cepat mandi dulu!"

Kanade melepaskan cengkramannya pada leher kimono Cougar dan menjatuhkannya begitu saja. Ia buru-buru keluar sambil berteriak beberapa saat setelah dirinya menghilang dari ruangan itu.

"Kak, buatin dua porsi ramen dong...! Akira pasti juga lapar tuh...!"

Kruyuuk...

Tepat sekali. Perut Akira yang sejak dari tadi belum diisi bahan baku pembentuk energi berbunyi ala musik stereo.

"Begitu dia bilang," ujarnya sambil mengalihkan pandangannya ke arah Cougar yang terbaring kejang-kejang dengan tambahan luka yang juga sama parahnya dengan saat mereka berdua muncul secara tiba-tiba.

"Anda tidak apa-apa...? Eh, mana mungkin tidak apa-apa kali, ya...?"

"M-maaf... Tunggu sebentar ya... Badanku tidak bisa...digerakkan...nih...!"

***

Yang ada di dalam ruangan itu, hanyalah mereka berdua. Cougar terlihat sedang sibuk di dapur, menyiapkan makan malam untuk adiknya dan juga untuk 'calon' anggota klan ninja yang baru, karena belum resmi disahkan. Namun sudah agak lama mereka berdua diam satu sama lain. Agak aneh rasanya berada di ruangan itu.

Untuk menyikapi kekakuan itu, Akira mencoba bertanya sesuatu tentang Kanade dan juga tentangnya, "Apakah sikapnya tidak terlalu kasar sebagai adik? Apalagi dia kan seorang perempuan juga."

Cougar menanggapinya dengan tertawa kecil, "Gimana, yah...? Aku sih sudah terbiasa sejak dulu. Ngomong-ngomong kenapa kau selalu pakai kalimat formal kepadaku, sih? Bicaralah seperti seorang teman biasa."

"Eh? Tapi bukannya Anda—"

"Ingat, jangan formal!"

"B-baiklah," Akira agak canggung ketika ia disuruh memanggil calon atasannya dengan sebutan biasa, "Tapi bukannya kau adalah ketua klan ini? Apa tidak apa-apa kalau aku bersikap dan memanggilmu seperti ini?"

Cougar menghela nafas panjang, "Hh... Sudah kubilang tak apa-apa. Aku juga sudah mencoba memberitahu semua anggota klan untuk tidak selalu bersikap resmi padaku. Bikin pegal kan, hal-hal yang kaku seperti itu?"

"O-oh..."

"Lagipula sebenarnya aku bukan seseorang yang pantas untuk menerima jabatan ini, melainkan Kanade."

"Hah? Apa maksudmu?"

Akira teringat akan apa yang dikatakannya beberapa saat yang lalu. Saat itu Cougar juga mengatakan pada Kanade bahwa ialah yang merupakan pewaris sah dari klan tersebut. Ia mendapat firasat yang tidak enak akan dibawa kemana arah pembicaraan ini.

"Banyak hal yang terjadi di masa lalu. Gampangnya, aku adalah anak angkat di keluarga ini. Cuma Kanade yang merupakan keturunan langsung ayah dan ibu angkatku."

Firasatnya benar. Pertanyaan yang ia ajukan sebelumnya pada akhirnya menguak sedikit hal yang tidak sepantasnya didengar oleh orang yang baru berstatus calon anggota sepertinya. Meskipun begitu, Cougar tetap melanjutkan ceritanya dengan tenang sambil mengambil dua buah mangkok dari lemari kaca dapur.

"Seharusnya dialah yang akan memegang posisi sebagai ketua klan ini yang baru, berdasarkan garis keturunannya. Tapi untuk saat ini, aku yang menjadi ketuanya karena waktu itu dia masih belum cukup umur. Namun, jangankan sebagai pemimpin, sekarang ini dia juga masih belum matang sebagai seorang ninja. Setiap hari aku selalu saja mengkhawatirkan masa depannya. Dia selalu bertindak kekanak-kanakan dan mudah terbawa-bawa perasaan. Bagaimana kalau dia kena tipu setiap saat?! Ah, jangankan dalam hal politik, dalam pacaran juga! Siapa pun laki-laki biadab yang mendekatinya akan kubunuh! Lalu—!"

Pembicaraan yang tadinya berlangsung pelan dan santai menjadi sebuah monolog, dimana Cougar ngedumel dan ribut sendiri tentang adik perempuannya yang sangat ia sayangi itu.

"A-anu... Jangan-jangan kau ini mengidap sister complex, ya...?"

"Yap! Aku bukan kakak kandungnya, tapi aku menyayanginya seperti adikku sendiri!"

"Woah..."

Mulutnya menganga lebar saat mendengar jawaban Cougar yang gamblang dan tegas. Baru kali ini ia menyaksikan seseorang yang terang-terangan mengakui kalau dia termasuk sister complex, sementara orang lain yang normal pasti akan menutup-nutupinya untuk jaga imej..

"Karena itu, Akira, jagalah dia baik-baik sampai misi penyampaian surat ini selesai. Eksistensinya sangat berharga bagi masa depan klan ini, dan juga bagiku." pintanya sambil meletakkan kedua mangkok berisi ramen di hadapannya.

"B-baiklah..."

Dari permintaan yang baru saja Cougar katakan, Akira bisa memahami perasaannya. Hal seperti bukanlah hal yang harus ditutup-tutupi. Karena bagaimana pun juga, perasaan yang dinamakan kasih tidak bisa ditolak dan justru harusnya ditunjukkan dengan penuh kebanggan.

"Tapi," Akira melanjutkan responnya, "Tadi kau bilang bahwa kau tidak akan membiarkan cowok manapun mendekati adikmu..."

"Ya, lalu?"

Ia sedikit was-was, apakah pertanyaan yang akan dia sampaikan akan mencelakakan dirinya sendiri atau tidak. Tapi dia tetap berniat menanyakannya, supaya segalanya menjadi jelas.

"Kenapa kau memintaku untuk pergi bersama dia? Kau tahu sendiri kalau aku bahkan belum menjadi bagian dari kalian, kan?"

Cougar terdiam untuk sementara, agak terkejut dengan pertanyaan Akira. Kemudian ia menjawab, "Itu karena, sepertinya kau berbeda dengan yang lain."

"Hah??" Kali ini ia semakin tidak mengerti. Apa yang dikatakannya barusan dengan yang sebelumnya menjadi sebuah kontradiksi.

"Apa kau tahu, kalau baru kali ini ia sendiri yang membawa seorang pemuda sepertimu ke sini? Biasanya dia selalu merekomendasikan orang-orang yang lebih tua daripada dia, dan kebanyakan memang perempuan."

"Jadi...?"

"Sepertinya ia memang tertarik padamu, Akira."

Blush...

Seketika itu juga, Akira bisa merasakan mukanya menjadi sedikit panas. Hatinya sedikit dag-dig-dug ketika Cougar berkata bahwa ada kemungkinan Kanade memang tertarik pada dirinya. Memang benar bahwa obrolan barusan terasa sangat tidak masuk akal dan spekulatif, probabilitasnya nyaris nol persen. Namun, pembicaraan tersebut tetap menjadi hal yang sensitif baginya yang tidak pernah berpikir romantis.

"T-t-t-tertarik...?!"

"Tapi, hanya karena ada kemungkinan ini kau jangan lantas belagu, ya... Kalau kau berbuat macam-macam atau membuat dia menangis, akan kubunuh kau!"

Tiba-tiba, Cougar mengeluarkan pisau dapur dari balik lengan hakama nya dan menodongkan nya ke lehernya. Matanya menatap tajam bak ribuan pedang yang siap menghujamnya. Perasaannya bercampur aduk karena tidak bisa menyesuaikan dengan perubahan sifat Cougar yang terlalu cepat.

"A-aku mengerti, ketua..."

Akira benar-benar merasa bingung dengan kakak beradik Kururugi ini. Sifat mereka benar-benar membingungkan dan membuat Akira capek secara fisik dan mental.

"Ah, ramennya sudah jadi, ya?" tiba-tiba Kanade muncul dari balik pintu geser dengan sudah mengenakan yukata berwarna putih dan bermotif bunga-bunga matahari. Rambutnya masih sedikit basah dan terurai panjang tanpa ikat rambutnya lagi. Uap panas juga bisa sedikit terasa dari tubuhnya. Sepertinya ia tidak hanya sekedar mandi, namun juga berendam dengan air panas.

"Oh, kau sudah selesai? Nih, Kakak bikinin ramen udang tepung kesukaanmu lagi!"

"Wai...! Kakak emang tau aja kesukaanku!"

Dengan langkah kaki kecil nan riang, Kanade berjalan menghampiri mereka berdua. Akira terperanjat melihat sosoknya yang sangat berbeda dari sebelumnya. Hanya dengan mengganti busana dan model rambutnya, seorang perempuan bisa terlihat begitu berbeda. Apalagi ketika tubuhnya semakin dekat dengannya, Akira merasakan panas dingin lagi melanda sekujur tubuhnya.

"Hm? Akira, kamu kenapa?" tanya Kanade setelah melihat ekspresi Akira yang lucu seperti gurita rebus sambil membelah sumpit kayunya jadi dua dengan jari-jari tangannya.

"A-ah! Nggak ada apa-apa..." tampiknya berusaha menenangkan diri. Ia memalingkan mukanya karena berusaha menghindari kontak mata dengan Kanade. Sekali mata kami bertemu pasti dia akan menggodaku lagi, pikirnya setengah kesal.

"Kau ini aneh deh," celetuknya sambil mengangkat mangkok berisi ramen favoritnya, "Kalau begitu, mari makan!"

Akira juga mulai melakukan persiapan menyantap makan malamnya. Ia sudah terlalu lapar untuk berbicara lebih jauh ataupun berpikir apapun, baik itu mengenai tugas yang diberikan padanya dan Kanade maupun pembicaraan mengenai kemungkinan romansa yang ngelantur terlalu jauh.

"Aku makan..."

***

Jarum jam dinding sudah melewati pukul sebelas malam. Selesai menghabiskan makan malam mereka, Akira diantar Kanade menuju kamar khusus tamu. Dalam beberapa hal, Akira memang bisa disebut sebagai tamu yang 'diundang tapi tak diundang'.

"Malam ini, untuk sementara, kau tidur di kamar ini."

Kanade membuka pintu geser, lalu masuk dan diikuti oleh Akira. Kamar itu cukup luas untuk sebuah ruangan yang diperuntukkan untuk ukuran seseorang yang akan menginap semalam saja. Setelah menyalakan saklar lampu, Kanade mengambil kasur lipat yang disimpan di dalam sebuah lemari geser ruangan itu.

"A-aku bisa sendiri kok," Akira berusaha mencegahnya karena sedikit merasa tidak enak dengan perlakuan atas dirinya di rumah itu yang sedikit eksklusif.

"Sudahlah, terima saja. Ini juga salah satu bentuk budaya pelayanan kami terhadap setiap orang yang berkunjung ke sini."

"Tapi, sejak awal aku kan bukan tamu yang sebenarnya—"

"Yak, sudah selesai!"

Ia terlambat untuk beralasan, karena Kanade sudah selesai menggelar kasur dan menatanya serapi mungkin Rupanya Kanade juga cekatan dalam hal semacam ini.

"Jangan-jangan sebenarnya dia ini serba bisa, ya...?" gumam Akira.

"Apa kau butuh piyama? Atau mungkin ingin mencoba pakai hakama?"

"Ah, aku bawa baju tidurku sendiri kok. Jangan khawatir."

Kanade tersenyum puas, "Okelah kalau begitu."

Selesai melakukan tugasnya sebagai tuan rumah yang baik, Kanade berjalan keluar dari ruangan tersebut agar tidak mengganggu Akira lebih lama lagi. Semua orang tentunya butuh istirahat, terutama karena malam sudah mulai mendekati kepekatannya.

"Oh ya, Akira," sesaat sebelum melewati daun pintu geser Kanade kembali berbalik, "Jangan lupa kita akan mulai pergi jam tujuh pagi. Jadi jangan terlambat bangun, yah?"

"Oh, oke."

Kanade kembali melempar senyumnya yang cerah, "Selamat tidur, Akira."

Dan ia menutup pintunya kali ini dengan pasti, meninggalkan Akira yang langsung terduduk lemas. Meskipun matanya sudah terasa berat, Akira menggunakan sisa tenaganya untuk berganti baju. Ia mulai membuka baju dan celana panjang kampusnya, lalu mengambil baju tidur putih polosnya dari dalam tas tentengnya dan memakainya. Setelah itu, ia mematikan saklar lampu kamar itu agar tercipta suasana yang kalem dan sempurna untuk tidur.

"Huff... Akhirnya aku bisa istirahat!" ujarnya pelan sambil merebahkan diri ke kasur lipat yang sudah digelar sebelumnya.

Ia meletakkan tangan kanannya di atas keningnya, hampir menutupi sebagian matanya yang sedang memandangi langit-langit kamar tersebut. Lalu ia mengangkat tangan kanannya itu seolah-olah akan menangkap sesuatu yang jauh. Matanya menyorotkan sedikit kemarahan dan kesedihan sekaligus.

"Ini adalah langkah pertamaku...! Aku pasti bisa menghancurkan mereka semua!"

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .