Home Just In Communities Forums Beta Readers Dictionary Search Login Register Extras
Fiction » General » Bersama font: B s : A A A . width: full 3/4 1/2
Author: If You Seek Amy
Fiction Rated: T - Indonesian - Tragedy/Family - Reviews: 10 - Published: 04-12-09 - Updated: 04-12-09 - Complete - id:2659181

Satu

Cerita original milik raichan as Rhodes

Satu © raichan as rhodes

Aku duduk meringkuk diatas ranjangku yang berantakan. Kudekap tubuhku, mencari kehangatan yang telah absen memanjakanku. Kucari-cari kehangatan itu, namun jelas, aku tidak akan pernah menemukannya lagi.

Aku tidak akan menangis lagi. Terutama untuknya.

Sudah beribu-ribu kali aku mengucapkan janji itu. Secara verbal maupun non-verbal. Aku berusaha tersenyum, untuk menunjukan pada dunia bahwa aku baik-baik saja. Namun, yang tampak pada wajahku hanyalah senyum getir.

Sampah. Omong kosong. Janji bodoh yang telah kuucapkan itu hanyalah sampah belaka.

Disinilah aku, meringkuk sambil bersedekap, dan kembali meneteskan air mata. Tapi air mata itu tidak pernah mengalir seara definitif. Air mataku sudah sepenuhnya habis dipergunakan oleh hatiku. Jasadku bungkam namun hatiku yang melakukannya untukku. Hatiku yang rela menangis untukku.

Aku tarik napasku dalam-dalam. Mencoba menguatkan hati dan pikiranku. Berusaha untuk kembali berpijak pada realita meskipun terkadang mimpi itu jauh lebih indah. Aku sudah terlalu jauh dari pijakanku. Sehingga kini sulit bagiku untuk kembali. Sulit bagiku untuk melepaskan imaji nya dari dalam angan-anganku.

Dalam mimpiku, kaulah tempat aku menyandarkan jiwa ringkihku. Dalam realita, kaulah tempat aku memijakkan jasadku. Tapi kini, tempat bersandar dan tempat berpijakku telah hilang. Kemana aku harus pergi?

Seketika saja rasa benci dan muak merayapi diriku. Tanpa kendaliku, tanganku terkepal kencang. Dan sebuah pertanyaan klise muncul dalam benakku:

Kenapa harus aku?

Tiba-tiba kebencianku merambah pada sosok Tuhan yang selama ini aku agung-agungkan. Tuhan, hamba-Mu bukanlah hanya aku seorang. Kenapa harus aku? Apa yang telah aku—kami perbuat sehingga kau menimpakan sengsara ini pada kami? Hambamu bukanlah hanya kami. Jika ini yang kau sebut dengan rahmat dan keadilan, aku lebih memilih tidak mendapat rahmatmu. Aku lebih memilih menjadi hamba-mu yang nista. Atau sama sekali tidak menjadi hamba-Mu.

Akhirnya air mata ini mengalir secara definitif dipipiku. Aliran air mata itu begitu dingin menusuk, dingin yang menyakitkan. Aku tak berusaha menghapusnya. Untuk apa? Tidak akan ada yang melihatku menangis. Aku lelah berpura-pura tegar. Aku lelah menjadi kuat. Aku lelah… menjadi diriku.

Aku lelah.

Kutengadahkan kepalaku menatap langit-langit kamar yang penuh dengan tempelan gambar-gambar penghuni angkasa yang glow-in-the-dark. Kupandangi satu persatu benda menyala itu. Ada berbagai planet penghuni deretan tata surya. Merkurius, Venus, Bumi, Bulan, Matahari, Bintang, dan… deretan huruf yang membentuk nama kami: Gasha dan Sesha.

Otomatis, pikiranku melayang ke saat kami masih remaja berumur 14 tahun. Masa yang sangat indah, bahkan kini menjadi terlalu indah untuk dikenang kembali. Aku memejamkan mataku. Mencoba kembali merasakan atmosfer pegunungan ditengah dinginnya dini hari. Aku fokus.

-

Aku dapat menghirup harum rerumputan dan tanah yang basah oleh embun. Aku dapat merasakan kembali empuknya tanah dibawahku. Angin yang menggoda namun dingin hingga ke tulang. Para serangga menjadi pengiring musik untuk acara sakral kami kali ini. Beberapa kunang-kunang terlihat berterbangan disekitar kolam renang. Pandanganku terpatrikan pada langit yang terbentang dasyat di atasku. Lengan kami saling bersentuhan dalam keadaan berbaring. Kami sama-sama sedang mengagumi permadani hebat Tuhan diatas sana.

“Sesha…” panggilnya dengan berbisik.

Aku tetap diam pura-pura tak mendengar. Aku terlalu sibuk konsentrasi memandangi bintang-bintang yang bertebaran layaknya permadani hitam pekat ditaburi sekotak gula pasir. Bintangnya juta-an. Mana bisa aku memalingkan pandanganku dari keindahan macam ini yang tidak dapat kusaksikan di kota?

“Echa…” Ulangnya dengan volume suara lebih keras sembari menoel lenganku.

Merasa terganggu, akupun menoleh dengan malas. “Apa, Acha? Kamu ganggu aja deh.”

“Lihat deh!” Katanya sembari menunjuk benda-benda langit itu. “Disana pasti ada miliyaran benda langit.”

Aku memutar bola mataku. Merasa terganggu lebih dari pada sebelumnya. “Semut juga tau!” Ketusku.

Tanpa memperdulikan jawaban ketus dariku, dia melanjutkan perkataannya. “Kalau nanti aku meninggal, aku mau jadi yang…” Alisnya menyatu ketika ia berpikir, lalu ia menunjuk sebuah deratan tiga bintang yang tepat berada diatas kami.

Bintang pertama nyalanya sangat terang berwarna biru dan terlihat paling besar diantara yang lainnya. Bintang kedua, yang ditengah, ukurannya terlihat paling kecil diantara yang lain tapi nyalanya yang paling terang. Dan bintang yang ketiga, dengan ukuran sedikit lebih kecil dengan nyala yang sama.

“Aku mau jadi yang itu!” Dia menunjuk bintang yang pertama. “Ukurannya yang paling besar dan terletak di paling depan barisan. Kalau kamu? Kamu mau jadi yang mana?”

“Ih, kamu curang, ah! Maunya yang paling gede!” Kataku pura-pura marah sambil memukul pelan lengannya. “Kalau gitu aku mau yang paling belakang. Ukurannya hampir sama kayak bintang yang pertama.” Kami berdua pun tertawa terkekeh. Kami makin mendekatkan tubuh masing-masing dikarenakan tuntutan udara yang sangat dingin.

“Aku milih yang paling besar, soalnya kan aku cowok. Aku yang jadi pemimpinnya, ya kan?” Katanya sambil tetap memandangi bintang pilihannya itu.

“Hmm… Iya juga.” Tambahku menyetujui. Lalu aku menunjuk bintang dengan nyala paling terang yang berada di tengah. “Lalu, yang itu siapa, dong?”

“Hmm…” dia berpikir sejenak sambil pura-pura menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. “Oh! Aku tau!” Aku diam menunggu kelanjutannya. Tiba-tiba Gasha menggenggam tanganku. “Bintang yang paling terang itu… adalah simbol persaudaraan kita. Sekali saudara, sampai matipun kita tetap saudara. Iya kan, kembaran?”

Lalu dia menoleh menatapku dan kami berdua pun tersenyum sambil tetap berpegangan tangan.

-

Atmosfer keindahan itu perlahan-lahan lenyap. Wangi rerumputan sudah tidak terasa lagi. Tanah lunak yang tadi sempat kurasakan kini digantikan dengan empuknya tempat tidur.

“GASHAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!” Aku meneriakan semua kegundahan yang telah kupendam. Kukeluarkan semuanya. Teriakanku terdengar histeris seperti lolongan yang panjang memecah kesunyian.

Dan akhirnya aku tertidur untuk yang pertama kalinya sejak kematian Gasha sepuluh hari yang lalu.

---

CATATAN PENGARANG

Halo, semua! Perkenalkan, saya raichan as Rhodes. Cukup dipanggil dengan Rai. Ini adalah cerita kedua yang saya masukan di website ini. Biasanya saya aktif di kembaran website ini: FanFictionDOTnet. Dengan penname yang sama. Salam kenal :D

Cerita ini terinspirasi dari buku berjudul Incest yang baru saja selesai saya baca. Kredit dulu deh

Incest © I Wayan Artika

Review, please?



Return to Top