| Home Just In Communities Forums Beta Readers Dictionary Search | Login Register Extras |
Saya baru aja ngubek-ngubek harddisk laptop buat nyari contoh bikin LPJ yang deadline ngumpulinnya besok dan malah nemu dokumen ini. Hihihi. Ini sebenernya hukuman sewaktu ospek fakultas dulu, gara-gara satu angkatan telat—disuruh bikin cerpen bertema disiplin. Baru nyadar, deskripsi saya hampir nggak ada, cuma obrolan doang. Beh. Saya ngedit dikit EYD-nya (ternyata dulu EYD saya ancur-ancuran). Plotnya sendiri nggak saya apa-apain—cuma ganti nama tokoh :P
Silakan dibantai ;D
DISIPLIN
Disiplin. Disiplin. Disiplin.
Sejak lulus SMA, Sicha dicekokin satu kata itu oleh Mamanya. “Cha, jadi mahasiswa tuh yang disiplin. Jangan serampangan gitu. Tanggung jawab dikit ama apa yang kamu perbuat, sayang.”
‘Apa sih artinya ‘disiplin’ itu?’ pikir Sicha sebal.
“Discipline is mental self-control used in directing or changing behavior, learning something, or training for something,” ucap Arga menjelaskan—seolah tahu pikiran saudaranya itu.
“HAH?” Sicha ternganga.
“Arti kata disiplin,” Arga menjawab santai. Tangannya menutup kamus oxford yang tebalnya lima sentimeter dengan puas.
Sicha merengut kesal. Bukan itu yang ia pertanyakan. Dia tidak membutuhkan arti literally yang dikutip sama persis dari kamus. Dia hanya butuh penjelasan, apa sih pentingnya disiplin itu. Kenapa begitu banyak orang yang menyuruhnya untuk berperilaku disiplin?
‘Perasaan, dulu sewaktu SD, SMP, SMA, Sicha kayak gini dan Mama diem aja deh.’
“Soalnya kan tingkatannya emang udah beda,” kata Arga lagi. “Udah ada kata ‘maha’ di depan kata ‘siswa’. Jadi kita harus lebih dari murid SMA. Hehehe.”
Mata Sicha menatap Arga jengkel tanpa kata. Rasa-rasanya sedari tadi saudara kembarnya ini tidak membantu apa-apa dan hanya membuatnya semakin bingung saja.
Seakan tahu pikiran Sicha—seperti biasa—Arga menghela nafas dan meminta maaf. “Bukannya aku mau bikin kamu marah, Cha. Tapi... mending kamu pikirin sendiri makna ‘disiplin’ deh. It’s more deep than it seems.”
Pandangan mata Sicha berubah kosong. Beberapa menit ia hanya menatap Arga, seolah-olah sedang sibuk berpikir—meski Arga tahu, bukan ‘disiplin’ yang ada di benak Sicha sekarang.
“Nonton bioskop aja yuk!” ajak Sicha, tiba-tiba riang.
Gantian Arga yang ternganga, kaget.
Yeah, Sicha kembali lari dari ‘disiplin’. ‘Ntar-ntar aja deh dipikirin,’ pikirnya malas. ‘Hepi hepi dulu sebelom UAS nih.’
Sicha baru mendapatkan getahnya sewaktu minggu UAS telah tiba. Biasalah, seperti saat ia masih SD-SMP-SMA, dia memakai SKS (Sistem Kebut Semalem) untuk belajar. Dan tentu aja, Sicha keteteran.
“Aaaaar! Ajarin dong! Aku masih nggak ngerti yang ini,” Sicha mengulurkan kertas bertuliskan soal-soal. Kening gadis ini berkerut bingung dan raut wajahnya jelas terlihat panik.
“Siniin,” Arga melihat sekilas soal yang ditanyain Sicha dan keheranan menyambutnya. “Lhah itu kan gampang. Di catetan ada.”
Takut-takut, Sicha berkata, “Aku kan nggak punya catetan.”
Arga ternganga. “Serius?”
“Sumpah.”
Dengan wajah polos dan lugu seperti itu, Arga bahkan tidak tega memarahinya.
Itu satu contoh.
Contoh lain, sebelum UAS TTKI. Deadline pengumpulan makalah TTKI adalah 5 menit sebelum UAS. Sebagai deadliner sejati, duo Sicha-Mira yentu saja membuat makalah tersebut sehari sebelum UAS TTKI mulai dari BAB 1.
“Aduuuh, selesai nggak ya??” Sicha agak-agak panik. Sementara tangannya masih tetap menempel di keyboard dan matanya tak lepas dari monitor.
“Selesai lah,” kata Arga, mencoba menenangkan saudaranya. “UAS-nya kan sore. Udah nyampe bab berapa, emang?”
“Aku bab satu, Sicha bab dua,” jawab Mira santai. Sahabat Sicha ini memang ratunya ‘tenang’. Bahkan di saat seharusnya panik, ia masih tetap bisa menjaga ketenangannya itu.
“Eh, becanda?” Arga terkaget-kaget. Matanya melotot tak percaya.
Sicha dan Mira melempar pandangan datar. Nggak, mereka nggak bercanda.
“Wuih! Dasyat! Berani banget kalian!” kata Arga, heboh berlebihan. “Sengaja ya?”
“Kesengajaan yang gak disengaja,” ucap Sicha sebal. Ingin rasanya ia menimpuk kepala kembarannya itu dengan kamus yang dulu dipakai menjawab pertanyaan Sicha secara literally.
“Maksud?”
“Lupa, Ar,” Mira yang menjawab. “Hehe. Kamu sendiri? Dah selesai?”
“Oh, udah sih, baru aja,” Arga memperhatikan mereka berdua sambil nyengir. Ia merasa bersalah berkata seperti ini. Seakan ia memamerkan hasil kerjanya. “Aku sama Ana kan udah nyicil dari dulu. Jadi tadi itu cuma bikin prakata, abstrak, daftar isi, dan kawan kawan.”
“Iya deh, yang rajin,” sindir Sicha. Tangannya masih sibuk bergerak dengan kecepatan luar biasa di atas keyboard laptop. “Bikinin prakata dong, Ar.”
Alis Arga berkerut. “Bukannya rajin,” kata Arga tak suka. Dia benci dikatai rajin. Orang dia mengerjakannya juga malas-malasan kok. Ini cuma brekat Ana saja yang selalu mengingatkannya. “Awal-awal kita udah bikin perjanjian, tiap minggu satu bab. Dan kita berusaha disiplin sama apa yang kita janjiin itu. Bukan masalah rajin apa nggak. Tanggung jawab nih.”
Bibir Sicha maju, cemberut. Disiplin lagi, disiplin lagi. Buset dah tuh kata. Apa sih asyiknya disiplin?
“Ar,” panggil Sicha lagi. Rada lama juga dia mikirin tentang ‘disiplin’ sehingga ketikannya terhenti. “Kalo misalnya. Ini misalnya doang lho ya.”
“Iya, iya,” sahut Arga cepat. “Apa?”
“Kalo aku, mmm... disiplin juga? Apa manfaat yang aku dapetin?” tanya Sicha.
Arga nyengir lagi. “Liat aja aku.”
Bantal-bantal sofa langsung melayang.
“Idih, pede abis!!” seru Sicha dan Mira.
Dan sewaktu UAS akhirnya berakhir....
“Aku nggak bakal mau semester depan kayak gini lagi,” keluh Sicha kecapekan. “Tepar parah nih.”
“Ya udah, jangan kayak kemaren-kemaren lagi,” kata Arga geli. “Ilangin tuh kebiasaan SMA.”
“SKS?” tanya Sicha, memastikan.
“Tepat.”
Sicha berpikir lagi. “Ar, aku mau nyoba disiplin deh,” katanya serius.
“Bagus,” sahut Arga, tidak begitu memperhatikan Sicha.
“Ar, kamu denger kan??” tanya Sicha, rada jengkel. “Woi! Dengerin aku!”
“Denger, denger,” kata Arga cepat. “Trus?”
Sicha kembali serius. “Yah, aku pengen kayak kamu, nggak stress-stress amat kalo mau ujian soalnya udah belajar dari seminggu sebelomnya. Juga nggak ngerjain tugas mepet deadline....”
“Baguslah, akhirnya kau sadar juga, sist,” ucap Arga lebay. “Duh, aku terharu deh.”
“Tapi... bantuin ya,” pinta Sicha dengan tampang memelas.
“Siip!” Arga menunjukkan jempolnya. “Tenang aja, aku bantuin.”
Sicha tersenyum senang.
“Kalo kamu disiplin, itu bakal ngebantu banget pas osjur tuh,” celetuk Arga tanpa berpikir.
Otomatis, Sicha ternganga. “Osjur???”
“Bulan depan, say,” kata Arga lagi. Keningnya berkerut. Sebuah perasaan buruk melanda. “Jangan bilang ‘lupa’. Udah ngerjain tugas-tugas pra-osjur kan?”
“LUPAAA!!!!!”
Arga menghela nafas depresi. Kepalanya mulai pening. “Nonton bioskop aja yuk.”
END