
| Truth Beyond The Dream
Author: Rouvrir Fleuraison Ia sudah bebas dari penjara kecilnya. Apa ia memang benear-benar bebas? Kenyataan yang ia lihat adalah dirinya yang hidup dalam mimpi. Chapter 1: Free. Kebebasan sudah cukup bagiku.. R&R?
Rated: Fiction K+ - Indonesian - Adventure - Chapters: 2 - Words: 3,073 - Reviews: 5 - Favs: 1 - Updated: 01-20-12 - Published: 08-04-11 - id: 2939755
|
|
A+ A- |
Ahah, bisa update jga akhirnya ;u;
uh yeah, karena insiden(?) laptop saya kena blue screen of death, ini harus ngulang— /brbkepojokan
Dan saya ga bisa menghilangkan kebiasaan curcol ini ;u; /shot/
~0o0o0o0o0~
Truth Beyond The Dream
Chapter 1: Free
"Yang ku inginkan hanya kebebasan—Itu saja cukup"
-Flashback-
Di lorong panjang yang terbuat dari besi itu, suara langkah kedua laki-laki itu terdengar menggema seirama. Penerangan yang agak redup menemani mereka. Tak heran, lorong itu memang jarang sekali dilewati. Lorong penghubung antara Grand Hall, menuju sebuah tempat pengasingan, atau lebih tepatnya, penjara.
Tak ada suara lain selain irama sepatu mereka yang selaras, keduanya terus diam. Akhirnya, orang yang didepan berbicara, "Akhirnya kau bisa bekerja dengan partnermu lagi, ya~" ia menoleh sedikit kebelakang, dan menampilkan sebuah senyum tipis.
"Yah, begitulah" lelaki berambut silver di belakang hanya menjawab singkat, tanpa menatap orang di depannya. Merasa bukan situasi yang tepat, laki-laki yang di depan kembali diam.
Tanpa diduga laki-laki yang dibelakang, Ian, membuka percakapan, "Mana Alto? Bukannya seharusnya dia yang mengurus soal hal ini?"
"Ah, orang itu… Mungkin 'King' sadar kalau dia terlalu lembek, jadi dia mengirimku untuk melakukan pekerjaan ini" ia mendengus pelan, tanpa menoleh ke lawan bicaranya.
"Lagipula aku juga jauh lebih kuat daripada dia~ Yah, siapa tahu nanti tawanannya akan mengamuk lag—" Langkahnya terhenti. Senyumnya tidak menghilang, walaupun ia merasakan sebuah moncong pistol dibelakang kepalanya.
CKLEK
"Sekali lagi menjelekkan dia, aku akan meledakkan kepalamu" Ian berkata dengan dingin, tatapannya begitu tajam.
"Silahkan saja, kalau kau mau masuk ke pengasingan karena membunuh—ah, tidak, melukai petinggi" laki-laki itu masih tersenyum. Mata Hijaunya menatap lurus ke pintu yang agak jauh dari mereka.
"Lalu? Aku tidak peduli" Ian kembali menyimpan senjatanya, "Lain kali, jagalah mulutmu itu, Walter" tambahnya, masih dengan nada dingin
"Dan saat itu ku pastikan kau tidak ada disini lagi" Walter membalas, seraya kembali melangkah menuju ujung lorong. Ian hanya diam, memandang Walter dengan tajam untuk beberapa saat dan lebih memilih untuk berjalan sambil melihat lantai besi yang ia injak.
Tak lama, mereka sampai di ujung lorong, sebuah pintu dengan password pengaman. Hanya mereka yang memiliki kode yang bisa masuk. Walter menekan tombol-tombol nomor itu dengan cepat, dan beberapa saat kemudian terdengar suara 'ting!' menandakan bahwa kode yang dimasukan benar. Dan bersamaan dengan itu, pintu besi di depan mereka terbuka.
Ruangan itu agak sederhana. Ada sebuah tempat tidur kecil di pojok ruangan, ada juga sebuah meja kecil tepat disamping tempat tidur. Di sisi ruangan yang lain, ada sebuah rak buku yang penuh dengan berbgai macam jenis buku.
Saat pintu itu terbuka penuh, kedua mata abu-abu tua milik Ian langsung menangkap sosok yang ia kenal, seorang gadis bersurai merah muda pucat pendek, dengan orb mata ungu, dan tubuh yang ramping. Sebuah lengkungan senyum terukir di wajah gadis itu saat melihat orang yang mengunjunginya.
"Ian!" perempuan itu memanggil nama temannya, seraya langsung berdiri dari tempat tidurnya, "Dan—Oh, Walter.. Ku kira Alto" nadanya langsung terdengar kesal.
"Ah, itu tidak penting… Tapi hari ini aku bebas, kan?" perempuan itu, Chiyo, mendekap kedua tangannya di depan dada dengan penuh harap.
"Iya, begitulah katanya" Walter hanya bersandar pada dinding sambil memasukan kedua tangannya ke saku celananya.
"Huaha~ Akhirnya aku bebas!" Chiyo meninju udara diatasnya dengan semangat. Rasa senangnya juga diekspresikan nyanyian dengan sedikit gerakan. Ia berputar-putar, menyebabkan baju terusan putihnya bergerak dengan luwesnya diterpa angin. Ian hanya tertawa kecil, dan Walter tidak peduli sama sekali.
"Oke, Mari bergegas. Aku tidak mau berlama-lama disini" ujar Walter, berdiri tegak, dan membalikkan badannya kearah pintu.
"Ah, rupanya Walter bisa merasakan arwah-arwah orang yang mati disini, ya?" Chiyo tersenyum jahil sambil memandang Walter dari ujung matanya
"Bodoh sekali… Aku tidak percaya hantu" laki-laki berambut hijau toska itu melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan kecil itu.
"Ah, biarkan saja dia.." ujar Ian pelan, "Yang penting msalah ini sudah beres, kan?" Ian melanjutkan
"Iya!"
Chiyo's POV
Akhirnya, 5 tahun masa hukuman telah berlalu… Dan aku sekali lagi bisa keluar dari ruangan sempit yang memuakkan itu. Sekali lagi aku bisa merasakan kebebasan—
Lorong panjang dengan cahaya minim itu di penuhi oleh obrolanku dan Ian. Dia memang sering mengunjungiku, tapi entah mengapa rasanya berbeda.. Mungkin karena aku tidak lagi di ruangan kecil itu.
Tak lama, kami pun sampai di Grand Hall, tempat yang menghubungkan ke segala ruangan di daerah ini. Tempat yang juga sangat ramai, setiap harinya lebih dari ratusan orang yang berlalu lalang. Entah mencari pekerjaan, ataupun karena sibuk dengan pekerjaan.
Pintu menuju tempat 'pengasingan' berada paling pojok, lantai kedua. Dari lantai dua ini, orang-orang bisa melihat manusia-manusia yang berlalu lalang di lantai satu. Ian tidak lagi berbincang denganku, yah, percuma saja. Suara kami akan dikalahkan oleh keramaian.
Kami melangkah menuruni tangga. Seraya kami turun, banyak pasang mata menatapku dengan lekat. Ah, bagai putri saja, menuruni Grand staircase dan diperhatikan banyak orang. Bedanya, aku bukan putri, sama sekali bukan. Aku tidak memperdulikan mereka, dan mengikuti Walter, menuju bagian barat Grand Hall, asrama. Tempat para pekerja beristirahat
"Chiyo, kamar mu masih sama. Bagian A, nomor 5. Barang-barangmu tidak ada yang berkurang. Segera bersih-bersih, kami tunggu disini" Walter memberi perintah dan memberikan sebuah kunci kepadaku.
Tanpa memberi sekedar "Iya" sebagai balasan, aku hanya diam, dan menaiki tangga. Ada 4 lantai, dan lantai A adalah lantai paling atas. Pandangan orang-orang masih saja melekat padaku, tak jarang ada yang membisikkan satu-dua kata satu sama lain.
Sesampainya di lantai paling atas, keadaannya kosong. Yah, sayang sekali, padahal aku berharap bertemu dengan teman-temanku.. Uh, walaupun memang ada beberapa orang yang tidak ingin kutemui, tipe orang yang tidak bisa menjaga lidahnya. Seenaknya membicarakan orang lain dengan volume suara yang tidak pelan.
Setelah menemukan kamarku—yang sangat mudah ditemukan karena tepat disamping tangga—aku segera masuk. Tak ada yang berubah. Kamar itu lebih besar dari pada tempat pengasingan—tentu saja. Dan sunggh mengejutkan, tempat ini bersih. Mungkin ada yang bertugas membersihkannya…
Lantainya dilapisi karpet warna merah maroon. Tempat tidur masih ada di pojok ruangan, dan beberapa barang ada di atasnya. Di depan tempat tidur ada lemari baju berwarna coklat tua, menempel pada sebuah rak buku. Buku disana cukup banyak, tapi lebih sedikit dibandingkan ruangan kecil itu.
"Haah~" menghela nafas sedikit, aku menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur. Mataku lurus memandang langit-langit, berangan-angan, memikirkan keadaan teman-temanku yang mungkin sekarang sedang pergi bertugas.
Aku segera bangun, tak lagi ingin membuang waktu. Nanti si cerewet Walter bakal marah-marah. Ku ambil benda paling atas, sebuah kalung berbandul ungu bulat, dan mengalunginya. Kemudian aku segera memakai semua pakaian yang sudah disiapkan. Baju putih panjang dan legging hitam, serta sepatu boots. Hebatnya, ukurannya pas—darimana mereka tahu ukuranku?
—Abaikan itu, sungguh.
Selesai memakai bajuku, aku meninggalkan kamarku, dan tak lupa menguncinya. Aku bergegas kebawah, dan hanya menemukan Ian, masih menunggu.
"Oh, sudah selesai, ternyata…" Ian langsung berdiri tegak, "Walter sudah pergi. Katanya dia bosan.." Ian menghela nafas
"Yah, dia memang begitu. Cepat tertarik, tapi cepat bosan" balasku dengan tawa kecil di akhir kalimat
"Katanya setelah ini sebenarnya tidak ada hal khusus lainnya. Terserah padamu, mau istirahat, atau elakukan kegiatan lain"
Aku mengangguk pelan, sambil memikirkan apa yang akan ku lakukan selanjutnya.
"Oh, kita mengerjakan tugas saja!" usulku dengan penuh semangat
"Tapi sesi pertama sudah berjalan hampir 2 jam yang lalu… Waktunya tidak akan sempat" jelas Ian, membuatku kecewa—untuk sesaat.
"Ah, kita kan hunter. Kerjanya hanya memburu nightmare. Gampang, lah~" ujarku, mencoba membujuk partner ku.
"Yah, sebenarnya terserah sih" Ian menaikan bahunya, sebuah helaan nafas bisa kudengar darinya
Kami pun berjalan menuju ruang administrasi, bersebrangan dengan asrama. Ruang administrasi ada di sebelah timur Grand Hall. Sesampainya disana, memang agak sepi. Mungkin hanya ada beberapa orang yang melapor telah menyelesaikan tugas, bukan yang nekat mencari tugas seperti kami.
"Oh, Tatsu!" aku langsung menyapanya. Laki-laki paruh baya dengan rambut coklat tua dan bola mata kuning. Petugas administrasi paling rajin, walaupun paling menyebalkan.
"Oh, si narapidana sudah bebas rupanya~" ia menyambut dengan kata-kata yang SANGAT baik, cukup membuatku mengepalkan tangan ingin memukulnya.
"Jadi ini sambutan untukku setelah 5 tahun?" aku menampakkan senyum memaksa padanya, sedangkan orang itu hanya tertawa
"Yah, hanya bercanda"
"Jadi apa? Kalian ingin mengambil misi? Sudah lebih dari 2 jam lewat. Kalian yakin?" dahinya berkerut, walaupun dia tahu, seberapa nekatnya kedua anak itu.
"Aku hanya ingin melakukan misi pertama setelah bebas" Chiyo menatap lantai, dengan pendangan sedih.
"Berikan saja kami tugas yang tidak terlalu sulit" ujar Ian
"Baiklah, ini ada yang lumayan mudah. Terjadi kasus aneh lainnya. Si pemimpi belum bangun selama 3 hari, ditakutkan ia akan meinggal karena kekurangan nutrisi. Seperti biasa, ada nightmare yang menghalanginya untuk bangun. data tentang si pemimpi tidak ada" Tatsu menjelaskan panjang lebar, "Ini kuncinya. Lantai 4, tepat di sebelah lift, nomor 3" Tatsu melanjutkan sambil memberikan sebuah kunci berwarna emas
"Terima kasih Tatsu!" aku dan Ian langsung bergegas menuju lift, tepat di depan Grand staircase. Dan laki-laki itu tersenyum sebagai balasan.
Ah, tempat ini adalah Realm of Dream. Percaya atau tidak,tempat ini ada di antara mimpi dan kenyataan. Aku juga masih tidak tahu bagaimana tempat ini terbentuk… Kami, orang-orang yang bekerja disini tidak bisa kembali ke dunia nyata sampai waktu yang memang telah kita tulis di kontrak kerja sebelumnya. Terdengar seperti sangkar, kan?
Ada beberapa pekerjaan disini, salah satunya adalah hunter, Orang-orang yang membasmi nightmare. Nightmare itu sendiri adalah makhluk yang tinggal didalam mimpi. Dan mereka membuat si pemilik mimpi mengalami mimpi buruk, atau bahkan tidak bisa bangun. Pekerjaan lainnya ada Administrator, Detective, dan Guardian.
Kami sekarang berada di lift, dan kesunyian mengelilingi kami. Aku tidak berniat memulai percakapan, dan tampaknya Ian juga begitu.
"Ah, Chiyo…" tak terduga, ternyata ia berbicara.
"Tolong jangan pakai lagi kekuatan terlarang itu.. Seperti 5 tahun yang lalu" ia melanjutkan. Kepalaku terasa panas, kenapa dia harus mengunkit tentang hal itu?
Aku hanya diam, tak ingin menjawab, tak ingin ingat. 5 tahun yang lalu, saat aku bersama beberapa temanku mencoba menyerang petinggi dan—
"Chiyo—"
"A-ah, I-iya?" Ian menyentuh pundakku, membangunkanku dari lamunanku.
"Ini sudah lantai 4" ia melanjutkan, wajahnya masih terlihat cemas
"Maaf tadi aku melamun" aku segera keluar dari lift
"Ah, ya… Soal itu jangan dibahas dulu" tanpa melihatnya aku melangkah menuju pintu dengan tulisan "003" dan membuka pintunya dengan kunci emas dari Tatsu.
karena mereka masih mengawasiku
~To be contiued~
uh yeah sebenarnya rencananya masih panjang ;u;
Tapi kakak saya udah inta gantian /curcollagi
Mind to review?
Administrator
Tugasnya adalah menyusun segala informasi yang mereka kumpulkan. Dan setelah itu memberikannya pada hunter, atau detective, atau guardian.
Guardian
Tugasnya adalah menjaga mimpi indah agar tidak dimasuki oleh nightmare
Hunter
Tugasnya adalah memburu nigthmare di dalam mimpi orang-orang
Detective
Tugasnya adalah memecahkan masalah orang yang terjebak dalam mimpinya.
iya, namanya ga modal… /brbsulking
|
||||||