Fiction » Romance »

Taman Kupu Kupu
Author:
Shiroi Ojou-chan PM
Enam rangkaian ingatan yang telah tertutup perlahan-lahan terbuka kembali, dimana ia mengikat janji dan dimana semua bermula.—SHOUJO-AI
Rated: Fiction T - Indonesian - Mystery/Hurt/Comfort - Chapters: 3 - Words: 3,638 - Reviews: 3 - Favs: 1 - Updated: 09-03-11 - Published: 08-04-11 - id: 2939779
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

A/N: Makasih review dan hits-nya ^^ semoga saja endingnya menyenangkan...saya buat ceritanya gampang ditebak lho, semoga pembaca menikmatinya.


/Bagian III – Dunia Dinamika

Malam itu, Mai setelah mandi untuk menjernihkan pikirannya, ia menelpon Shiranui Maya-san, saudara jauhnya yang mendampinginya setelah kecelakaan yang merenggut keluarganya itu, setelah ia menderita sesuatu yang disebutkan di buku harian tuanya itu.

Anterrogade Amnesia adalah jenis penyakit hilang ingatan yang rumit. Penderita bisa kehilangan ingatan di saat-saat yang berbeda. Begitulah yang dituliskan Mai di buku harian tua itu—entah, dia sendiri saja tidak bisa mengingatnya. Lumayan lama jeda sebelum dan setelah telepon diangkat. Di buku tersebut juga dilampirkan nomor telepon Shiranui Maya-san, dengan catatan kecil 'teleponlah aku bila perlu apa-apa, Mai-chan'.

"Halo? Ada apa Mai? Kau kehilangan ingatanmu lagi?"

"...Ah selamat malam, Shiranui-san..." Mai mengucap salam. "Tidak, aku tidak kehilangan ingatanku lagi, cuma...aku ingin bertanya."

"Apa itu? Apa perlu aku ke rumahmu sekarang, Mai?"

"Ti-Tidak usah Shiranui-san, malah merepotkan—"

"Tidak apa-apa, kebetulan aku habis mengajar muridku di sekitar losmenmu, aku kesana, ya?"


TOK TOK

"Mikuru, ini aku, Felicia."

Mikuru membuka pintu apartemennya, mendapati gadis yang lebih tinggi dirinya tengah diluar sana. Rambut pirang yang tak beraturan, iris yang tak serasi antara emas dan merah—heterochomia, begitulah yang biasa dibilang orang. Felicia Ray Noise, wakil ketua OSIS yang juga tinggal di apartemen sama, siswi blasteran Inggris yang kebetulan bersekolah disana.

Beda kamar, tentunya.

"Ada apa, Noise-senpai? Silahkan masuk."

Mereka berdua memasuki apartemen Mikuru, merekapun duduk di sofa yang sama, bersisian.

"Ckckck, sudah kubilang jangan panggil aku seperti itu," Felicia meletakkan satu jari di hadapan Mikuru. "Panggil aku Felicia saja."

"Senpai tetaplah Senpai." Itulah jawaban tetap Mikuru. "Baiklah, Felicia-senpai, kalau begitu?"

"Aww, kau imut sekali sih, Mi~ku~run" Felicia memainkan rambut Mikuru, senyum simpul tampak di wajahnya. "Kalau saja kau bukan ketua OSIS, mungkin kau sudah kujadikan pacar~"

"Felicia-senpai, aku bukan laki-laki," dengus Mikuru kesal. "Lagipula, kenapa malam-malam kemari? Tidak mungkin kau menggodaku saja, kan?"

"Mikuru-chan, kau terlalu bersikap sensitif bila bersamaku, eh? Kau mirip laki-laki lho, kalau tanpa ikat rambutmu itu." Felicia terkekeh.

Ketua OSIS itu hanya bisa mendesah pelan karena godaan wakil ketua OSIS, sudah terbiasa, tepatnya. Mikuru pun minggir menuju dapur, "Mau minum apa?"

"Teh hijau, tentu saja~" senyum Felicia. "Ah, ya, aku kesini mengenai Morimoto Mai yang kau bawa bersamamu ke ruang UKS tadi sore."

"...Kenapa soal Morimoto Mai?" Mikuru sedikit memiringkan kepalanya, ia mulai membuka kabinet dapur untuk mencari serbuk teh hijaunya.

"Ia adalah gadis yang pernah kita temui saat masa orientasi, kau ingat?" Gadis berambut pirang itu menyibakkan rambutnya sejenak. "Gadis yang mencari kelasnya itu, aku baru ingat sekarang."

"...Eh?" Mikuru hampir menjatuhkan cangkirnya. "—Apa yang terjadi..."

"Kau tidak ingat? Aneh sekali." Felicia terbengong-bengong. "Coba ingat-ingat! Kau kebanyakan di meja OSIS sih, jadinya stress."


Tahun ajaran baru, di pelataran kantor OSIS.

Kala itu hadir Felicia dan Mikuru, tengah menunggu anggota OSIS lain yang katanya akan berkumpul pada jam tersebut. Saat itu, bertepatan dengan orientasi siswa kelas satu di aula tengah, wajar saja selain aula,kelas dan kantin, sisi lorong sekolah bersih dengan murid.

"Apa ada murid kelas satu yang tertarik masuk OSIS, Mikurun?" sahut Felicia setelah membuka pintu dan mengizinkan Mikuru masuk.

"Pasti ada," Mikuru berkomentar pendek.

"Permisi, senpai..."

Tidak dirasa, anak perempuan dengan rambut panjang hitam dan iris biru gelap memasuki ruangan OSIS, tentu Felicia dan Mikuru tidak tahu siapa anak tersebut—mendengar embel 'senpai', rasanya ia adalah adik kelas mereka.

"Ada apa, kouhai-chan?" Felicia mendekatinya duluan, Mikuru masih pasif di dekat mejanya. "Kau tersesat?"

"I-Iya, dimana ruang orientasi?"

Mikuru mendekati anak itu, "Mau kuantarkan?"


"...Oh, dia? Dia...Mai?" Mikuru tampak mengingat sesuatu lain seraya ia melarutkan teh bubuk. "Ada salah satu ingatannya yang hilang saat semester pertama ia disini. Apa salah satunya tentang itu?"

"Mungkin saja," Felicia menaruh jemarinya di dagu, tanda berpikir. "Itu saja yang ingin kuberitahukan."

"Ini tehmu, maaf lama," mengulum senyum, Mikuru menyodorkan cangkir teh tanah liat ke atas meja. Felicia entah kenapa merasa tidak tergunggah dengan senyum Mikuru. Wakil ketua OSIS itu menyilangkan kaki, tidak mengambil teh yang disuguhkan. Ia hanya memperhatikan pelan Mikuru yang tengah menikmati teh miliknya. Seurat rasa penasaran mulai muncul ke permukaan. Hanya karena iseng.

"Hei, hei, Mikurun."

"...Ya?" cangkir teh diturunkan.

"Kau tidak punya...emm, seseorang yang pernah kau cintai?"

Nyaris tersendak, "—Hah? Kenapa kau bertanya hal itu, Felicia-senpai?"

"Penasaran? Sudah jawab saja!" senyum terkembang.

"Ehh, err..."

Sepertinya tepat sasaran, "Apaaaa~? Kau suka padaku ya~?"

"Bu, bukan itu!" wajah memerah.

Bertopang dagu menunggu, "Terus apa dong?"

"...Ada,"

"Oho~ siapa, siapa?"

"..." sunyi.

Alis naik, "Mikurun...?"

"...Ia...sudah...meninggal."

Felicia menyesal sudah bertanya hal tersebut. Ia menyesal karena rasa ingin tahu dan isengnya terlalu besar. Ia menyesal mendengar akhir ucapan Mikuru. Ia sangat menyesal.


Shiranui Maya adalah wanita muda yang sudah menikah. Tante dari Mai ini berprofesi sebagai guru magang dan juga guru les privat. Ia tinggal di pusat kota dan paling dekat dengan keluarga Mai. Maya-san memiliki rambut pendek kecoklatan dengan iris biru gelap yang dibalut kacamata bening kotak.

Mai hanya bisa menyediakan teh seadanya untuk tamu itu. Suasana ketegangan entah kenapa memenuhi rumah kecil itu.

"Ah, kau ingin tahu soal Minato-kun?" Shiranui-san mendesah pelan, ia menyeruput tehnya. Kacamatanya sedikit berembun. "Sudah saatnya kau kuberitahu...ya?"

"...Apa yang terjadi, Shiranui-san...?"

"Sebenarnya aku sudah pernah memberitahumu hal ini, lalu kau kabur dari rumah nenek karena hal ini saat berumur tiga belas tahun dan ditemukan terjatuh penuh luka dekat jurang sebuah taman bunga, tampaknya kau jatuh saat itu."

Mai meneguk ludah, apa yang sudah ia lakukan dulu?

"Saat kau berumur dua belas—"


Mai dua belas tahun kala itu tengah menjalani perawatan intensif karena sakit yang ia derita makin parah. Karena kecelakaan yang menewaskan orangtuanya itu, beberapa bagian otaknya ikut rusak selain menderita Anterrogade Amnesia. Mai bisa saja sehat atau drop sekarat, karena itu ia terus berada di rumah sakit.

Hari itu, Minato-kun meminta Shiranui-san untuk mengajak Mai keluar. Tidak jauh-jauh, tepatnya ke atap rumah sakit.

Sayangnya, kala itu Mai pingsan dan keadaannya semakin memburuk. Minato-kun menangis saat itu, ia meraung—

"Mai...jangan pergi..."

Shiranui-san hanya bisa terdiam, melihat sosok kecil itu mengetuk-ngetuk pintu ICU sementara tangisnya masih mengalir.

"Aku tunggu kamu di taman bunga itu lagi, ya? Janji kau datang kalau kau sehat..." isaknya. "Kalau kau sudah tiada...aku tetap akan menunggumu!"

Shiranui-san terpana, tetap ia tidak bisa berkata apa-apa. Minato langsung saja berlari pergi, dan semenjak saat itu ia tidak pernah kembali—

Ya, tak pernah, sekalipun.


"...Minato-kun...masih...menunggu...ku?"

Air mata mulai menggenangi mata Mai. Shiranui-san melihatnya dengan tatapan iba.

"Kau berbeda dengan kau yang berumur tiga belas tahun, saat itu kau lari keluar, tetapi tidak ada orang di taman bunga itu..." Shiranui-san menurunkan kacamatanya. "Mungkin dia sudah...pergi."

Diam menyelimuti ruangan, Mai mengusap air mata yang hendak keluar, ia bersikeras menahannya walau tahu apa yang terjadi. Shiranui-san memang seperti itu, ia banyak tahu tentang Mai karena mereka dekat, sekalipun lamat-lamat Mai lupa karena Anterrogade Amnesia yang ia idap.

"...Padang bunga itu...dimana sekarang?"

"Kebetulan aku bisa meminta nenek untuk mengizinkanmu tinggal di kota ini. Taman bunga itu tepat di sebelah rumah sakit. Kapan-kapan kau bisa kesana..." ada jeda. "Siapa tahu, suatu hari nanti, Minato-kun dan kamu bisa bertemu."

Mai mengangguk pelan. Gadis itu berusaha tersenyum.

(Taman bunga, ya?)


.

Bersambung

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .