
Hei, aku Disi. Cewe gaje yang ketemu freaky bad boy blasteran, Max Silvester. Dia ngotot jadi temanku, bahkan sampe menculikku! Huwaaa gimana nih? Diculik cowo cakep,pengalaman pertama nih, mamen!*buagh* RnR? Check fic aku yang lain ya :D
Rated: Fiction K+ - Indonesian - Friendship/Humor - Chapters: 3 - Words: 4,131 - Reviews: 6 - Favs: 3 - Follows: 3 - Published: 08-24-11 - id: 2946078
|
|
A+ A- |
Pure Friendship PART 1 (Cerpen untuk Disi)
By : Asha WhiteAngel
Genre : Persahabatan. Akhirnya, setelah sekian lama nulis cerita romantis, komedi :) Tragedi juga neh… olalala…
Hey, kalo sempat, cek profilku dan review cerita lainnya ya :)
.
^3^
.
"Selamat pagi anak-anak. Mulai hari ini teman sekelas kalian akan bertambah," ujar Pak Firman dengan senyum hangat. Bapak wali kelas 10.A IPA sekaligus guru MTK ini memang ramah, santai, tapi tegas. Semua murid memperhatikan Pak Firman, kecuali seorang gadis berkulit sawo matang yang duduk di pojok kelas. Oops, gadis itu aku, Disi Widya Kencana, sedang sibuk mencontek PR MTK milik Dian. Ahayyy…
Seorang cowok blasteran masuk ke kelas. Seisi kelas terperangah melihat penampilannya. Rambut berantakan, setengah bajunya keluar, telinga dan hidungnya ditindik, dan sebagainya. Tapi wajahnya tampan, tinggi, putih, cocok kalo jadi pemain basket. Sorot matanya dingin, datar dan tajam, seperti ingin menantang berkelahi.
"Perkenalkan anak-anak. Namanya Max William Silverster. Dia pindahan dari Australia. Max, apa kamu mau memperkenalkan dirimu lebih lanjut?" tanya Pak Firman.
"Gak tuh," jawab Max santai.
Pak Firman mengernyit. "Gak?" tanyanya, bingung.
"Bapak tuli ya? Tadi saya bilang 'kan gak. Apa perlu saya ulangi lagi?" jawab Max dengan ketus. Seisi kelas bengong melihatnya. Gosh, status masih anak baru, udah berani nantangin wali kelas? Ckckck…
"Baiklah," Pak Firman kembali tersenyum, "Kalo begitu, kamu duduk di…"
Max langsung berjalan tanpa memperdulikan Pak Firman. Seseorang menarik pandangan matanya dari tadi. Dan seseorang itu adalah… aku?
Dian, teman sebangkuku, langsung buru-buru angkat kaki (baca : kabur), duduk di kursi lain. Sedangkan aku yang keasyikan nyontek langsung bingung saat melihat seorang cowok ganteng tiba-tiba muncul di sebelahku. Sejak kapan dia duduk di sini? Kok aku gak nyadar ya?
"Hei! Kamu siapa? Kok kamu duduk di sini? Aku 'kan belum selesai nyontek PR MTK dengan Dian…" Suaraku makin memelan saat Pak Firman menatap tajam ke arahku. Teman-teman yang lain hanya cekikikan melihatku. Alamak… telor ceplok…
"Menyontek PR? Ckck… Disi Widya Kencana! Bersihkan seluruh toilet di lantai satu, sekarang!"
Aku berdecak kesal sambil beranjak berdiri. Tapi tiba-tiba…
SRET!
"Dia tetap di sini," ucap Max sambil mengenggam tanganku. Aku kaget. What the hell?
"Apaan sih lo? Lepasin!" Aku melepaskan genggamannya dengan kasar, berjalan keluar kelas tanpa menoleh lagi.
Max hanya menyeringai. "Disi Widya Kencana? Hm… cewek menarik," batinnya.
.
^3^
.
"Oh geez… is that necessary?" keluhku sambil memijit tanganku yang pegal. Emangnya gak pegel bersihin 5 toilet busuk… SENDIRIAN? Hoeks…
Aku melirik arlojiku. Pukul lima. Aku dijemput lima belas menit lagi. Seketika langkahku terhenti saat berada di depan sebuah ruangan. Ruang musik.
Aku memutuskan untuk main piano sebentar. Entah sudah berapa lama aku gak main piano, karena sibuk dengan kegiatan ini itu sejak masuk SMA. Aku kembali mengingat saat pertama kali main piano. Aku bermain dengan kacau dan asal-asalan, karena tidak mau belajar membaca not. Akhirnya orangtuaku memberikanku les privat, dengan ibu guru yang baiiik banget. Namanya Bu Diana. Dia mengajariku dengan sabar sampai akhirnya aku jadi pandai.
Sebagai ucapan terima kasihku, aku memutuskan untuk membuat lagu untuk Bu Diana. Siang malam aku begadang untuk menulis lagu itu. Tapi sehari setelah aku menyelesaikannya, Bu Diana telah tiada. Sebuah kecelakaan telah merenggut nyawanya…
Aku membuka penutup piano, mulai menyanyikan dan memainkan lagu Miley Cyrus – The Last Song. Tanpa kusadari air mataku menetes, karena rindu dengan Bu Diana yang sudah kuanggap seperti ibu sendiri. Ibu…
"You… me… just like a dream to me…" Aku menekan tuts terakhir. Menyeka air mataku yang makin lama makin banyak. Aku kangen Bu Diana.
"Ngapain lo di sini?" tanya sebuah suara.
JEJRENG!
Aku bengong saat melihat seseorang tiba-tiba muncul di hadapanku. Cowok baru tadi! Siapa sih namanya? Aku kok pikun banget ya? =,="
"Suka-suka gue dong," jawabku ketus. Cowok baru itu hanya diam dan duduk di sampingku. Aku bergeser sedikit.
"Nama kamu Disi Widya Kencana 'kan? Kenalin, gue Max William Silverster," ucap tuh cowok, menatapku.
"Gue udah tau," ujarku dingin. Padahal tadi ingat nama depannya aja kagak. Hedeh, meleset…
"Kamu udah lama gak main piano ya?" tanya Max, mencoba untuk ramah.
"Ng… emangnya kenapa?" aku balik nanya. Eh, ngapain dia pake aku-kamu?
"Permainanmu tadi agak kacau," jawabnya sambil nyengir kuda. Aku merengut. "Emangnya kamu bisa main piano gitu?" tantangku.
Max hanya tersenyum. Dia mulai menekan tuts demi tuts dengan indah. Aku terperangah mendengarnya. Winter Sonata!
Seusai permainan Max, aku bertepuk tangan. "Gak nyangka cowok kayak lo bisa main piano. Winter Sonata! Ajarin gue dooong!" pintaku sambil memasang puppy eyes. Max mengernyit.
"Apa maksudmu? 'Cowok kayak kamu' ? Emang aku cowok kayak mana?" tanyanya, bingung.
"Mmm… kayak bad boy gitu. Eh, kamu habis merokok ya?" tanyaku saat mencium bau asap di dekatnya.
"Ya, kenapa?" Max balik nanya.
"Ckck… kamu ini gimana sih? Ini 'kan ruang musik! Di sini banyak instrumen musik! Kalo kebakaran nanti gimana?" Mukaku merah padam karena menahan marah.
"Ga bakalan lah, gue kan-"
"Lo tau gak? Kami semua di sini serius dengan musik. Mungkin kami gak sepandai kamu, tapi kami mencintai musik! Lo tau gak sih, betapa pentingnya instrumen musik bagi pemainnya? Udah kayak nyawa kedua, tau gak! Gue bukannya hiperbola, gue cuma ngomong kenyataan!" Aku menyeka air mataku yang hampir jatuh. Max hanya setengah terkejut menatapku.
"Percuma lo punya bakat main piano kalo lama sekali gak tahu apa makna piano bagi lo," Aku mengakhiri pembicaraanku, meraih tas-ku dan… BLAM!
Membanting pintu.
Max hanya diam. Bengong. Sebaris kalimat mengiang di benaknya.
Percuma lo punya bakat main piano kalo lama sekali gak tahu apa makna piano bagi lo…
.
^3^
.
Pagi yang cerah ceria itu…
Aku cemberut. Max nyengir kuda. Di tengah-tengah kami berdua terdapat sebuah kue kecil tiramissu.
"Apaan nih?" tanyaku dingin, berusaha mati-matian menahan rasa ngiler yang tak berkesudahan *duileh bahasanya dalem amet*
"Lho, kamu gatau ini apa? Ini namanya kue tiramissu. Kamu suka 'kan?" Max, tersenyum manis. Aduh, ada apaan lagi nih?
"Nenek-nenek makan tempe dalam karung goni juga tau ini kue tiramissu. Maksud gue, apa maksud dari semua ini?" tanyaku yang mulai jengkel.
"Aku minta maaf,"
DWENG!
Aku melongo. Cowok preman minta maap sama cewek sholeha *sholeha dari sebelah mana buk?*? What the hell?
"Kok…?"
"Soalnya kamu benar tentang kemarin. Percuma punya bakat main piano, kalo aku gak tahu apa makna piano bagi aku. Sebagai permintaan maaf, aku kasih ini," Max menjulurkan kue itu. Aku menatap mupeng kue itu, dan mulai membayangkan betapa lezatnya kalo aku bisa melahap kue ini…
"Udah gih, dimakan aja. Gak usah malu-malu. Iler kamu udah ngegantung tuh, mau jatuh," kata Max sambil cekikikan.
"Gue mau makan sih, tapi…"
"Tapi apa?"
"Gua puasa, blo'on,"
Max memasang tampang cengo. "Hah? Ngapain puasa?"
"Yaelah, udah jelas-jelas ini bulan puasa! Gimana sih?" Aku mulai jengkel. Max bengong sebentar, kemudian tertawa kecil. Orang-orang di sekitar memperhatikan, sekaligus mengagumi senyuman Max yang terlihat menawan.
"Apa?" tanyaku ketus.
"Iya, iya. Kamu makan waktu berbuka ya. Awas kalo gak," kata Max setengah mengancam.
"Iya dah. Apa kata lo aja," Aku meraih kotak kue itu dan memasukkannya dengan hati-hati ke dalam tas. Aduh, nih iler udah mau jatuh! Dx
"Selamat berpuasa," ucapnya sambil tersenyum manis. Dan…
TIIING… TOOONG…
Lonceng tanda pelajaran dimulai berbunyi. Guru masuk dan kami memulai pelajaran.
.
^3^
.
So many girls in here, where do I begin (whoah)
I see this in, I'm bout to go in… (whoah)
Then she said, I'm here with my friends (whoah)
She got me thinking, and that's when I said…
Where them girls at? Girls at?
Hapeku berdering, menandakan ada telepon masuk. Aku sontak menekan tombol dan menempelkannya di telingaku,
"Halo?"
"Disi! Kuenya udah dimakan belum?"
DEGH!
Suara ini… omaigat…
"Kok lo tau nomor hape gue sih?" tanyaku datar.
"Hehehe… Max gitu lho! Minta ke teman lo juga bakalan dikasih," Terdengar suara tawa di seberang sana.
Aku mendengus bete. "Ngapain lo nelpon?" tanyaku seketus mungkin.
"Emangnya gak boleh ya? Tadi ada yang lupa gue sampaikan," jawabnya serius.
"Apa?"
"Gue mau jadi temen lo,"
DWENG!
"Eh, ralat. Gue mau jadi sahabat lo,"
DWENG LAGI!
"Kalo lo mau lebih jadi sahabat juga gapapa sih. Lo tipe gua," Max tertawa.
Gubrags. Kagak ada "dweng" lagi.
"GAK MAUUU… TITIK!" teriakku dan…
TUT… TUT… TUT…
"Lu kentut ya?" tanya Max.
"Heh, apaan sih? Elu kali yang kentut! Natasha juga aneh nih, ngapain dia nulis tut… tut… tut?" Nah lho, Disi, lu kan tokoh di sini, ga boleh protes sama yang nulis :p
"Kenapa lo gak mau jadi temen, sahabat atau pa-"
"Heh, lu jangan sebutin kata terakhir deh. Horror tau gak. Gue belum minat sama cinta-cintaan," Aku memotong kalimatnya.
"Trus? Alasan kamu gak mau jadi temen atau sahabat apa?" tanya Max dengan nada polos banget. Aku menghela napas.
"Hem, aku 'kan belum kenal kamu banget. Lagian emang kita ada kesamaan? Biasanya 'kan seseorang berteman dengan yang lain karena ada persamaan, minimal nyambung deh," ujarku.
Max diam untuk mikir. "Kita ada kesamaan kok! Sama-sama paling blo'on di kelas,"
Gubrags. Gosh, bukan kesamaan itu yang aku maksud.
"Trus, sama-sama suka nyontek PR, dengan alasan lupa kerjain di rumah,"
Another gubrags.
"Sama-sama suka disuruh bersihin toilet. Ingat gak waktu kita bersihin toilet bareng, trus ada kecoak, imuuut banget kayak Merisa Gomez. Eh kamu malah lari dan gak sengaja numpahin ember bekas ngepel ke baju pak kepsek. Keren banget deh, apalagi kalo di-slow motion," Max makin antusias.
Aku mulai jedotin kepala ke dinding dengan frustasi mendengar ucapan Max.
"Kita juga sama-sama…"
"Okay, okay, cut it out. I got it," tegurku. "Intinya kita punya kesamaan. Trus apa?"
"Kita bisa temenan kan?"
"Gak."
"Aku nganggep kamu teman,"
"Aku gak tuh,"
Terdengar suara helaan napas.
"Okay, aku ngerti kamu pasti gak mau temenan sama bad boy kayak aku," Suara Max terdengar berat, seperti menyimpan kekecewaan. "Aku kesepian, Disi, dan hidupku gak berlangsung lama. Aku cuma pingin ngerasain aja punya teman. Tapi kayaknya gak mungkin deh," Tanpa sepengetahuanku Max sedang tersenyum pahit. Kecut. Hambar.
Aku tertegun. Max barusan bilang apa? Kok jadi curcol gini?
"Sorry aku gangguin kamu. Aku cuma mau numpahin dikit unek-unek aku," Max mengambil napas. "Aku tetap nganggap kamu teman. Terserah kamu nganggap aku atau gak. Night,"
TUUT… TUUT… TUUT…
Kali ini beneran suara telpon mati, bukan kentut. Aku diam terpaku, memikirkan kalimat Max.
Sebenarnya Max itu kenapa sih? Aku ga ngerti. Kenapa dia minta aku jadi temannya?
PART 1 END
TBC
.
.
.
Hayo, dramatis 'kan? Gyahahaha :D
Ripiu yaaa, oceh? Oceh? Oceh? Maap kalo plot-nya terkesan pasaran ato udah biasa, soalnya aku mungkin kurang bisa di cerpen persahabatan. Bisanya di romantic komedi :D Dan berhubung aku masih baru, dibutuhkan lhooo… kritik, saran, komentar, pujian, hinaan, terserah dah, gyahaha :D Arigatou gozaimasu… No flame~
Btw, maap ya fic2 lain belum sempat apdet,-
|
||||||