
Prologue, silakan baca. Chapter 9 menyusul. Don't flame me
Rated: Fiction T - Indonesian - Fantasy/Sci-Fi - Chapters: 9 - Words: 30,113 - Reviews: 20 - Favs: 2 - Updated: 05-24-12 - Published: 05-01-12 - id: 3018738
|
|
A+ A- |
Liputan secara LIVE (?) dari Dunia Permukaan!
Di jalanan yang sepi di Distrik Steuleria, terlihat tiga remaja yang berjalan seperti layaknya manusia di dunia cyber. Kali ini, mereka terlihat berbeda dengan 'mereka' yang sebelumnya. Dua diantaranya benar-benar menjadi perempuan, berbeda dengan diri mereka yang sebelumnya. Mereka bertiga jadi terlihat sebagai orang Indonesia tulen. Mata cokelatnya tersinari oleh cahaya matahari, sehingga menampakkan parasnya yang cantik. Banyak user yang tercengang dengan kemunculan tiga gadis yang unik tersebut.
"Masa dilihatin semua orang… Serem!" gumam gadis berambut pendek yang tingginya melebihi dua gadis yang berada di depannya.
"Soalnya hanya kita bertiga yang benar-benar orang Indonesia tulen! T-U-L-E-N tahu! Tetapi…"
Belum selesai gadis yang kira-kira setingkat SMU berambut hitam legam panjang terlihat syok menatap seseorang di antara lautan orang-orang yang tidak dikenalnya. Gadis berpostur tinggi dan sahabatnya juga memandang orang yang sama. Seorang gadis berambut panjang yang berwarna hitam legam ternyata sudah ada di pojok sebuah toko buku dengan pandangan mata yang mirip dengan seseorang. Dadanya yang seksi, wajahnya yang terasa tidak asing, plus buku yang dibacanya mengingatkan mereka bertiga pada sahabatnya yang menghilang sewaktu kasus penyerangan kafe Lovely beberapa hari yang lalu.
Tiba-tiba gadis berpostur tinggi yang bersama dua sahabatnya segera bertanya dengan sedikit panik, "Samperin dia gak?"
"Yok." ajak gadis satunya dengan wajah penasaran terhadap gadis yang sepintas misterius tersebut…
.
.
.
Cyber Wars ~ Moment of the Finnitte ~
Chapter 5 : The Tales of the Second, and the Strategy…
© UnKnown / Steins-Gate
A/N : Karakter Finnitte yang muncul adalah sebagai berikut : Lucié, Franklin, Siegfried, Fo, Arnold
.
.
.
Kelompok 2, kelompok Lucié…
"Di mana ini?"
Seorang gadis berkacamata yang berambut pendek berwarna hitam legam bertanya kepada seorang gadis berambut pirang bermata aquamarine yang sedari tadi terus menemaninya. Kedua tangan gadis berkacamata tersebut dari tadi terus mengeluarkan keringat, saking takutnya. Yap, mereka sudah ada di dalam gua lain yang benar-benar berbeda dengan apa yang dilihatnya di tubuh lainnya. Gua tersebut kali ini setengahnya terisi dengan air, sehingga mereka menggunakan perahu karet yang diam-diam disediakan di tempat yang tidak terduga.
"Jalan pintas menuju Laut Rytheria." jawab gadis pirang tanpa menolehnya.
"Lantas siapa kalian?" tanya gadis berkacamata tersebut penasaran.
Kontan saja keempat gadis yang menemaninya hanya bisa terdiam. Tidak sudi namaku dikenalkan di depan mereka berdua, batin gadis tersebut kesal. Alih-alih menjawabnya dengan lembut, gadis berambut keemasan tersebut malah mengeluarkan katana-nya ke hadapan dua gadis tersebut sambil berkata dengan sangat dingin, "Lucié Natalie Igníeel-Lula da Silva. Ada masalah? Kalau kalian memanggilku, cukup dengan Lucié saja."
Gadis berkacamata dan gadis lain yang berambut pendek seperti laki-laki tersebut hanya bisa terdiam mendengar perkenalan 'unik' gadis bule tersebut. Tubuhnya mungil, kurang lebih hanya 149 sentimeter, lalu mata yang jauh lebih cerah namun menunjukkan maksud terselubung yang sadis, dan ketangkasannya… Benar-benar deh, Finnitte itu isinya orang-orang kekar tetapi unik… Akhirnya gadis bernama Lucié ini segera melanjutkannya lagi, "Kau yang berkacamata, namamu Lily ya? Lalu yang tomboy, namanya… Anindya, bukan?"
"Ko-Kok tahu?" tanya gadis bernama Lily bingung.
"Tentu saja. Informan milik kami merupakan yang paling sempurna. Tidak kalah dari siapapun keluarga yang ada di dunia ini. Tidak peduli Lighthalzen kek apalah, aku tetap akan setia kepada pihak Finnitte. Oleh karenanya, aku akan hidup untuk memastikannya." jawab Lucié kesal sambil menyarungkan kembali katananya.
Benar-benar perempuan mungil yang sangat tegas… Gadis bernama Anindya hanya bisa menghela nafas dengan lemah sambil menuruni gua yang lebih mirip gua bawah tanah dari pada gua biasa. Kemudian ia segera bertanya dengan sedikit penasaran, "Lucié… Apa alasanmu memilih keluarga ini sebagai sandaran hidupmu? Bukannya ada banyak keluarga yang lebih baik dari pada keluarga ini?"
Belum satu sekon Anindya bertanya, keburu ada empat pedang segera menggorok lehernya. Lily hanya bisa panik, sedangkan mata milik keempat gadis Finnitte hanya bisa menatapnya dengan perasaan kesal dan kejam. Seolah tidak ada yang memperbolehkannya bertanya tentangnya. Tiba-tiba gadis yang berada di belakangnya segera menjawab dengan sinis dan dingin, "Selama mata kami masih terbangun dan Finnitte masih ada, kau sama sekali tidak diizinkan bertanya tentang ini."
"Baik, baiklah. Kalian memang anak-anak yang penutup." komentar Anindya sedikit takut.
"Apa lebih baik kamu menukar lagi IC-mu dengan UC bernama Himeka itu? Dia seratus kali lipat lebih baik darimu." tanya gadis yang ada di samping kanannya dengan wajah ketus dan sadistik.
Anindya tahu bahwa percuma saja membujuk keempat anggota Finnitte yang dikenal sangat tertutup dan tidak kenal ampun. Ia lalu mengeluarkan HP jadulnya dan segera mengkoneksikan HP-nya dengan Internet. Begitu saluran tersebut sudah terkoneksi, kontan saja tubuh Anindya segera menghilang dan tergantikan oleh sesosok gadis berambut panjang yang jauh lebih mirip Yamamoto Nadeshiko sebenarnya. Mata hitamnya segera menatap orang-orang yang berdiri di antaranya, sambil bertanya dengan dingin, "Apakah sudah cukup?"
Mereka berempat minus Lily hanya bisa mengangguk pelan, kemudian menyarungkan katananya dan kembali melanjutkan perjalanan. Gadis bernama Himeka ini segera menyusulnya dengan cepat. Baru beberapa meter mereka menuruni gua yang sangat luas dan menyeramkan tersebut, Lucié malah berkata dengan dingin, "Awal kami masuk Finnitte adalah sewaktu Kana menemukan naskah kuno berisikan cerita masa lalu keluarga Finnitte. Diketahui kepala keluarga keempat yang bernama Lorenzo Simonello de Finnitte."
"Lalu kepala keluarga ke tiga dan kedua?" tanya Lily penasaran.
"Kepala keluarga ke dua dan ketiga adalah Harris McCornick dan… Gwyn Arizerro de Finnitte. Gwyn adalah kepala keluarga paling muda, berusia sekitar sembilan tahun ketika baru saja diangkat. Gwyn 'hilang' karena dibunuh keluarga Lighthalzen, begitu pula dengan Lorenzo. Kasus Harris, itu karena… Kita tidak tahu alasan mengapa Harris bisa hilang tanpa jejak. Kelima ya si Kana atau Connie itu." jawab gadis berambut ungu yang diikat ke belakang sambil memanggul katananya.
Kemudian Lucié melanjutkannya lagi, "Franklin benar. Kita di sini hanya untuk Finnitte saja. Tidak ada hal lain lagi. Kecuali untuk si pengkhianat Adelaide itu."
Lily kaget. Himeka hanya bisa tertegun mendengar perkataan Lucié. Sedangkan anggota Finnitte yang lain, Lily dan Himeka malah melihat bahwa mereka terlihat tidak sudi dan sangat marah mendengar berita menghebohkan tersebut. Adelaide harus dibunuh… Sama seperti saat Katherina… Ini tidak bisa ditoleransi! Bagi anggota Finnitte, yang menjadi pengkhianat keluarga Finnitte akan menjadi targetnya, dan tidak boleh ditunda sampai kapanpun. Bagi mereka berempat, orang seperti Adelaide lebih pantas hidup di neraka daripada bersama mereka semua.
Tiba-tiba Lucié segera membalikkan tubuhnya menghadap ke anggota Finnitte ditambah Lily dan Himeka sambil berkata dengan tegas dan dingin, "Kita habisi Adelaide, pada hari pelantikan para pejabat Lighthalzen, tiga bulan lagi. Hanya Rosikrusie-dono yang bisa kita kenang dengan manis, sedangkan dua pengkhianat itu pantas kita gantungkan kepalanya di atas sebuah kapel di Jepang Selatan. Kita akan melakukannya. Paham, kalian?"
-xXx-
Kelompok 3, Unit RolePlayer…
Di perpustakaan maha raksasa yang terletak di lantai paling dalam dari lantai di bawah tanah, terlihat banyak orang yang segera membakar habis buku-buku keluaran keluarganya. Terlihat seorang pemuda berambut pirang kemerahan membakar buku-buku yang ditumpuk hingga melebihi tinggi dirinya dengan wajah muram. Ia lalu bergumam dengan lirih, "Mengapa Kak Adelaide harus menjadi seorang pengkhianat? Aku masih mengingat di mana aku bisa bercandaan dengannya… Mengapa…?"
"Aku tidak tahu, Siegfried. Yang pasti, aku akan membunuhnya, jika dia ditemui secara sengaja maupun tidak." jawab seorang anak kecil berparas khas Arab yang terlihat sibuk membersihkan arang-arang yang berserakan di lantai perpustakaan yang hampir kosong tersebut. Sebenarnya anak kecil ini juga tidak rela kalau Adelaide harus menjadi pengkhianat, apalagi pada saat itu.
"Fo. Apa keluarga Finnitte akan bertahan?" tanya anak berambut pirang kemerahan yang dipanggil Siegfried tersebut.
Pemuda berparas Arab yang dipanggil Fo oleh Siegfried ini hanya bisa menghela nafas. Diam-diam buku doanya dikeluarkan dari rompi merahnya, kemudian ditumpuk di antara buku yang akan dibakarnya. Ia lalu menyulut api dengan korek api, kemudian menaruhnya di antara buku-buku tersebut. Tak pelak, kurang dari lima detik, buku-buku tersebut mulai terbakar dengan ganasnya. Mata metallic-nya hanya bisa menatap kobaran api tersebut dengan pandangan hampa.
Tiba-tiba di antara mereka berdua muncul seorang pemuda lain yang bertubuh sangat jangkung, sehingga mengalahkan Rylan (yang diklaim keluarga Finnitte memiliki postur tubuh tertinggi). Ia lalu menatap Fo dan Siegfried dengan wajah heran. Ia lalu menjawabnya dengan tiba-tiba, "Pasti. Apapun, kapanpun, dimanapun, dan bagaimanapun… Keluarga Finnitte pasti akan bertahan, suatu kelak. Di balik kabut yang sangat tebal, tentunya. Memangnya kenapa, Fo dan Siegfried?"
"Tidak apa-apa, Kak Arnold. Aku tetap hidup karena penyiksaan itu… Aku tidak boleh melupakannya. Aku ada di sini untuk bisa membunuh Dafina Haroldgitzerld von Lighthalzen, gadis dewasa yang telah membunuh seluruh keluargaku! Aku tidak bisa memaafkannya, lebih-lebih ucapannya yang sangat kasar… Demi Tuhan… Aku tidak mau lagi disiksa sama anjing-anjing Lighthalzen yang otoriter itu!" gumam Fo sambil menghantam lantainya dengan tangan kanan yang sudah dikepalkannya. Walhasil, lantai yang dihantamnya terlihat jauh lebih rusak dari pada dugaannya, sehingga membuat pemuda jangkung bernama Arnold dan Siegfried syok setengah mati.
Arnold lalu buru-buru memeluknya dari belakang sebelum pemuda berusia 12 tahun ini mulai menghantam lantainya lagi. Ia lalu mencoba mengiburnya dengan lembut, "Jangan ngamuk, Dik. Sabar ya? Kita semua, Unit RolePlayer, pasti akan membereskannya bersama anggota Finnitte lainnya. Jadi, jangan mengamuk ya? Kau nanti diizinkan mengamuk kalau sudah banyak anggota Lighthalzen itu di depanmu."
Fo tidak menjawab hiburan Arnold. Ia hanya bisa mencucurkan air matanya sambil memeluk kedua lengan Arnold yang melingkari lehernya dengan lembut. Siegfried hanya bisa menatap Arnold dengan Fo dengan wajah hampa. Beberapa tahun yang lalu Kak Lorenzo juga dibunuh… Aku juga sangat tidak bisa memaafkannya… Tetapi… Bagaimana dengan Kak Sigurður sendiri? Siegfried hanya bisa berdiri dan mengambil banyak buku yang masih tersisa di rak-rak yang paling belakang.
"Apakah kamu baik-baik saja, Siegfried? Kalau mau, aku akan minta Christine untuk membantumu…" tanya Arnold penasaran sambil menatap sosok Siegfried dari belakang.
"Tidak apa-apa. Aku bisa mengurusi yang ini, Kak. Yang penting, kamu harus bisa menghanguskan semua buku-buku ini. Nanti aku akan minta Kjell dan Brynn untuk membantu menumpukkan banyak buku di satu tempat. Bagaimana, Arnold?" jawab Siegfried sambil melemparkan banyak buku ke belakangnya.
Arnold yang tahu bahwa mustahil bisa mengembalikan mood Siegfried yang sedang buruk di saat beginian. Ia lalu menghela nafas sambil berdiri sembari menepuk-nepuk punggung Fo dengan lembut. Pemuda jangkung itu kemudian berkata dengan lembut sambil menatap sosok Siegfried yang masih belum menatapnya juga, "Jangan memaksakan kehendak dirimu, Nak. Kalau kau butuh sesuatu, bilang saja kepada kami. Nanti kami urus selanjutnya. Fo, kamu juga harus membantu kami ya?"
Terdengar suara Fo mengiyakan saran Arnold sambil masih berjongkok. Arnold hanya bisa tersenyum manis ala pemuda cool, kemudian membantu Fo menumpukkan buku-bukunya di atas kobaran api yang diciptakan olehnya. Disusul oleh banyak orang seperti Christine, Brynn, Serietta, Rose, Cyril dan Kana sendiri ikut membantu membakar buku-buku yang ada di perpustakaan tersebut.
"Segini saja? Apa lebih baik kita membiarkannya terbakar? Itu lebih mudah, karena markas ini semuanya sudah kosong." tanya Kana.
Semua anggota Unit RolePlayer tersebut hanya bisa terdiam sambil menoleh ke kobaran api yang semakin membesar, sehingga mereka semua semakin merasakan panas yang sesungguhnya, walaupun bukan di dunia nyata. Arnold tiba-tiba berkomando kepada mereka semua dengan tatapan serius, "Kana benar. Ayo kita kabur dari perpustakaan ini. Maafkan aku Connie, aku terpaksa membakar seluruh bagian markas kita. Lain kali gue yang bertanggung jawab atas semua ini deh."
-xXx-
Di sel yang sangat terisolasi dari seluruh sel lain di dalam penjara khusus di Kepolisian Neo-Symphiere, terlihat sosok seorang gadis berambut pirang dan bermata aquamarine yang ngos-ngosan sambil memandang banyak polisi yang tumbang karena menyentuh tubuhnya. Mata aquamarine-nya sayu, memperlihatkan sebuah bukti bahwa ia sudah bekerja terlalu keras menahan 'itu'-nya. Ya, sebuah virus yang kini menjadi alasan dia tetap hidup hingga kini, bahkan di dalam sebuah sel khusus pun.
Tiba-tiba tubuh mungil gadis tersebut segera mengelepar-gelepar dengan dahsyatnya, menandakan suatu keadaan yang tidak beres sedang terjadi di dalam tubuhnya. Beruntung ia sudah bisa keluar dari selnya, walaupun hanya berjarak 12 meter dari lokasi dirinya yang berada di dinding yang dicat dengan warna putih yang sangat pucat. Mereka tidak boleh menyentuh itu! Gadis itu hanya bisa memikirkan satu hal, yang sepertinya sangat penting sehingga ia tidak mempedulikan tubuhnya yang mengelepar-gelepar dengan hebatnya.
"ARRRGGHHH!" jerit gadis tersebut sambil memeluk dirinya sendiri karena tidak tahan dengan efek samping berbahaya dari virus tersebut.
Mereka tidak boleh menyentuh 'dia'! Sialan! Coba gue ikut membunuhnya… Gigi gadis tersebut segera digertakkannya dengan keras, sehingga memperlihatkan image bahwa ia telah sangat menderita. Para polisinya sudah tewas hampir semuanya, kecuali polisi dari distrik lain, tentunya. Bahkan gara-gara virus itulah, dia berhasil menjadi target yang paling diburu oleh Kerajaan Lighthalzen tersebut. Gadis tersebut lalu menengadahkan kepalanya ke langit-langit koridor yang terhubung dengan selnya dengan pandangan lemah.
Aku harus menghubunginya… Gadis itu lalu beringsut dari tempatnya menuju sebuah telepon yang terpasang di dekatnya. Cepatlah, Janette! Gadis mungil ini lalu berusaha berdiri dengan menyandarkan kedua tangannya pada dinding yang kokoh tersebut, tidak mempedulikan efek sampingnya yang semakin menghebat di dalam dirinya. UGH! Ti-Tidak boleh… Kontan saja gadis itu merasakan bahwa virusnya sudah semakin mengancam kejiwaannya. Ia memutuskan untuk tidak menyerah, walaupun ini berarti ia harus mati sekali pun. Yue… Ia tahu bahwa tiga gadis yang dikenal Lynn dan Chappy, yang dikenalnya lewat pembicaraan rahasia antara dirinya dan Kana, akan menyentuh seseorang yang tidak boleh mereka bertiga dekati. Tuhanku…
Beruntung, gadis mungil itu ternyata memiliki ketahanan dan kesabaran spiritual yang sangat luar biasa. Ia mampu menahan efek samping yang sangat berbahaya itu sambil berusaha meraih gagang telepon yang tergantung di samping kanannya. Kedua kakinya bergetar dengan hebatnya, dan pandangan matanya mulai kabur. Namun walaupun demikian, ia tetap tidak mau menyerah. Baginya, lebih baik beginian daripada diam saja sambil menanti malaikat maut yang akan menyiksanya. GREP. Akhirnya, tangan kirinya berhasil meraih gagang telepon tersebut. Tak sia-sia dia abaikan momen itu, dan ia segera bergeser sehingga tubuhnya berhadap-hadapan dengan telepon tersebut. Tangan kanannya segera ia gerakkan ke tombol-tombol nomor yang akan ditujunya. Buru-buru ia lakukan hal tersebut, sehingga ia bisa meneleponnya dalam kurun waktu kurang dari satu menit.
DEGGGG. Kontan saja gadis tersebut sadar bahwa kini dia sudah benar-benar menyia-nyiakan tenaga terakhirnya. Jantungnya seolah menjerit-jerit tiada hentinya, bahkan kini meningkat hingga titik darah penghabisan. Mampuslah… Gadis itu kembali ngos-ngosan, kemudian buru-buru menggantungkan tangan kanannya pada telepon tersebut. Perlahan-lahan dia dekatkan teleponnya ke telinga kirinya. Matanya mulai tertutup secara perlahan, sehingga hanya mulutnya saja yang berkata dengan lirihnya, "Ry… Rylan… Jangan biarkan… Yue… Yu… Dia akan… Mendekati… Perem−."
Habislah sudah tenagaku ini… Tak ayal, gadis mungil itu lalu ambruk lagi. Gagang teleponnya dibiarkan menggantung ke bawah, terlepaskan dari genggaman tangan kiri gadis mungil ini. Tubuhnya kini sudah benar-benar menghadapi sakratul maut yang hebat. Ia kini tahu, bahwa tenaganya yang tadi adalah yang terakhir. Ia lalu menggumamkan sesuatu di tengah-tengah lautan kesendirian yang melandanya, "Jangan dekati… Yue… Aku mohon… Tidak apa-apa jika aku… Janette ini… Akan mati… Asalkan… Asalkan…"
Tubuhnya kini sudah perlahan-lahan menghilang, menyisakan pakaian yang dipakainya. Selamat tinggal, Finnitte-ku… Gadis itu bersikeras untuk bisa bertahan barang semenit saja, tetapi nasib berkata lain. Semakin ia berusaha untuk bertahan hidup, virus itu kemudian merenggut bagian kewanitaannya. Walhasil, ia sudah kehilangan kedua kakinya, dan kini virus itu mulai menghilangkan bagian perutnya. Inikah efek berbahaya dari Finnittellaous? Sungguh mengerikan… Luar biasa…
"Aku… Minta maaf… Padamu, Conn−."
Belum selesai gadis tersebut bergumam sesuatu, mendadak kesadarannya menjadi kosong. Ia tewas pada saat itu, juga. Dan, virus itu benar-benar kejam. Virus itu sampai membuat tubuh itu menjadi hilang berubah menjadi debu. Gadis bernama Janette ini tahu, bahwa ada stage di atas stage IV, yakni Final Stage, di mana orang itu akan benar-benar tewas dengan cara seperti itu. Dan, ia adalah korban ke dua puluh delapan dari virus mengerikan itu. Ya, Janette sudah melakukannya selama lebih dari dua puluh tujuh tahun terakhirnya.
Sayonara…
-xXx-
Kelompok 1, kelompok Sigurður…
Sebuah HP kontan saja diturunkan dari telinga kanannya oleh seorang pemuda yang berwajah sangat tenang. Rambut abu-abu terangnya kini benar-benar terpanggang oleh sebuah amarah yang muncul dari diri pemuda itu. Mata hijaunya benar-benar berubah menjadi semacam mata yang penuh dengan kesedihan dan amarah. Tangan kanannya bergetar dengan hebat, di mana HP itu akhirnya jatuh juga. Mulutnya bergemertak dengan kasarnya, sambil mengatakan sesuatu yang mengerikan, "Janette… Tewas…"
Kontan saja seisi kelompok tersebut berhenti melanjutkan perjalanannya. Mereka seolah tidak bisa berjalan hanya karena perkataan pemuda yang jangkung nomor dua setelah Arnold ini. Tiba-tiba, ada seorang pemuda lain yang segera berbalik sambil berlari dan menarik-narik kerah pemuda berambut abu-abu cerah itu dengan segudang amarah yang tertahan di dalam hatinya, "Berkata sekali lagi, kau akan kupukul, Rylan!"
"AKU TIDAK BERCANDA, CONRAD BODOH! Agh… Sudahlah…" bentak pemuda jangkung bernama Rylan sambil mengucurkan air matanya. Malahan, dia berani sekali menampar pipi pemuda cebol tersebut dengan segenap tenaganya, sehingga membuat pipi pemuda berambut keemasan sampai memar karenanya.
"Eh… Well… Rylan…" gumam pemuda berambut keemasan dengan mata berwarna merah darah yang bernama Conrad, kemudian melepaskan cengkeramannya pada kerah Rylan dengan lemah. Mata ala vampire-nya juga ikut meneteskan air matanya. Kepala mungilnya kontan saja tertunduk, kemudian ia bersimpuh di depan Rylan dengan wajah merasa berdosa dan bersalah. Akhirnya, pemuda ini segera menangis dengan dahsyatnya.
Elshea yang memandang wajah sedih Rylan, kemudian menghampirinya sambil bertanya dengan lirih, "A-Apa yang terjadi, Rylan…?"
Pemuda jangkung ini malah tidak menjawabnya, kemudian memungut HP-nya yang terjatuh di dekat dirinya. Ketika ia berjongkok mengambil HP-nya, tangan kirinya kontan saja mengelus-elus kepala Conrad yang tertunduk dan segera mendekatkannya di pundak kirinya. Perlahan-lahan kedua tangan pemuda cebol ini segera menyambar dan memeluknya dengan sangat erat, dan mulai menuangkan air matanya pada kemeja kesayangan Rylan. Janette…! Janette… Jangan mati…
"Janette sudah tewas." jawab Rylan kemudian.
Elshea kontan saja menutup mulutnya dengan kedua tangan mungilnya, sambil menampakkan wajah shock-nya. Nina dan Erica yang sedari tadi hanya bisa terdiam membelakangi Rylan, Conrad dan Elshea sambil membalikkan tubuhnya dengan wajah kaget dan tidak percaya. Sigurður hanya bisa memangkukan kedua tangannya dengan wajah marah dan kesal, sampai-sampai mata tenangnya menyipit dengan nggak kerennya. Keheningan segera menyelimuti gua tersebut dengan mudahnya.
Tiba-tiba Nina segera bertanya dengan lirih, "A-Apakah itu… Benar…?"
Rylan hanya bisa menggangguk pelan. Nina dan Erica hanya bisa kaget lagi, dan sejurus kemudian segera mengerubungi Rylan dan Conrad, ikut menangisi kepergian sahabat karib yang sangat dihormatinya. Elshea akhirnya luluh, dan ikut memeluk mereka yang berjongkok sambil saling memeluk dengan suasana penuh duka yang sangat mendalam. Gadis seksi ini kemudian mengucapkan doa untuknya, "Semoga diri Janette bisa tenang dengan damainya di dunia yang keras dan tidak tahu batasan yang adil atau merugikan ini… Amen…"
"A… Men…" gumam Conrad, Nina dan Erica lirih sambil mengangguk pelan. Rylan tidak menyahut doa Elshea tersebut.
"Daripada menangisi kepergian Janette, lebih baik kita menciptakan UC yang mampu menahan virus Finnittellaous ini. Bukannya masih ada Yori dan Hiraikki? Mereka bisa dipergunakan, selagi tubuh mereka masih mampu… Atau kita terpaksa menjalankan rencana C yang sama-sama tidak kita sukai untuk bisa menghabisi Kerajaan abal-abal tersebut? Aku yakin, kurasa salah satu dari tiga sahabat Lily dan Himeka telah tersandera." tukas Sigurður sambil memasang wajah sangat serius.
Elshea yang sadar sepenuhnya dengan perkataan Sigurður, segera berdiri dan menentangnya dengan wajah marah, "Tidakkah kau tahu mengapa kami bisa sangat sedih kehilangan Janette? Kau itu sadis, Sig! SADIS, kau tahu kan maksudku? Apa nggak ada cara lain selain rencana C? Misalkan, kita pancing mereka dengan balas menyandera salah satu petinggi Lighthalzen…"
"Tidak bisa, Elshea. Kuberitahu kalian satu hal. Pihak Lighthalzen sedang mencoba membuat virus baru dan besar kemungkinan… Mereka akan menyebarkan kepada seluruh rakyat dunia Cyberworld ini. Apa kalian bisa memahami maksud mereka? Mereka hendak memusnahkan seluruh transaksi yang dilangsungkan di dunia ini. Ini berarti, Kerajaan brengsek itu telah menyandera seluruh rakyat dunia ini agar kita menyerah." bantah Sigurður sambil menggeleng kepala dengan wajah dinginnya.
Tiba-tiba sebuah tubuh mungil segera menghampirinya dan menarik-narik kerah pakaian Sigurður dengan sangat keras. Tak ayal, pemuda berambut pirang ini segera menampar pipi Sigurður dan memakinya habis-habisan, "Sig! mengapa kau tidak beritahu kami dulu? Kamu itu terlalu individualis! JAHAT! Kamu sungguh bukan anggota Finnitte, sekarang! Andai saja kau beritahu kami lebih awal… BRENGSEK!"
"Kalau begitu… Sigurður, apa kau tahu rencana alternatif?" tanya Rylan dengan wajah pesimis sambil duduk dengan lemah.
"Ada. Keluarga Finnitte ketiga, waktu mereka diserang oleh Kerajaan Lighthalzen, membuat sebuah kericuhan besar yang tercatat sebagai Bloody Flower. Artinya, bunga yang berdarah. Ini dimaksudkan, para gadis keluarga Finnitte bertarung habis-habisan dengan para gadis Kerajaan Lighthalzen ditambah relasinya. Keduanya berakhir dengan draw. Seri. Tidak ada yang selamat dari peperangan tersebut. Berkat itu, kekuatan Kerajaan Lighthalzen sampai merosot 80% dari semula. Kalau kita pakai itu…" jawab Sigurður mantap.
Tiba-tiba Nina segera berdiri sambil berteriak menentangnya, "Kalau kita pakai itu, rakyat itu yang akan jadi korban! Apalagi yang tidak bersalah seperti Lily, Himeka, Yue, Ichi dan Ando! Apa kau mau boss kita Kana-chan menangis karena itu semua, HAH? Bahkan Ruchi-chan yang cukup akrab dengan Kana telah menjadi korban salah nyasar Finnittellaous tiga tahun yang lalu! Apa kau mau mempertanggungjawabkan ratusan juta user yang akan terkena dampak pandemi ini?"
"… Jika kita menggunakan cara gerilya sambil menyebarkan modifikasi dari virus Finnittellaous ke seluruh anggota Lighthalzen, besar kemungkinan mereka akan mati. Aku tahu bagaimana cara memodifikasi virus ini menjadi alat pembunuh yang sangat mengerikan. Satu kali kena, dia yang akan mati dalam kurun waktu sehari. Lalu…" usul Elshea sambil berpose seperti orang yang sedang berpikir dengan keras.
"AHA! Aku tahu, di Kerajaan Lighthalzen ada semacam barrier yang bisa melindungi orang Lighthalzen dari penyakit berbahaya sekalipun. Sebagai contoh, lima tahun lalu ada wabah penyakit yang berbahaya bernama Antisecurity Virus. Virus itu meminta korban berjumlah 45 juta, termasuk tiga dari anggota kita yang bernama Kliëce, Czalvar dan Ulf. Kita tentu ingat mereka bertiga kan? Berarti jika kita menyebarkan virus itu di dalam istana dan mengaktifkan barikade dan barrierinya, mereka akan…" sahut Erica berbinar-binar sambil menatap Elshea dengan wajah senang.
Tiba-tiba Sigurður segera menubrukkan tubuhnya pada Erica sambil berteriak dengan girang, "JENIUS! Waktu di generasi keempat, aku belum pernah melihat barrier itu. Tetapi jika itu benar… Kita bisa menghabisinya hanya dalam kurun waktu sehari! Kau hebat, Erica! Nah, bagaimana jika kita tinggal sementara di sini untuk membuat modifikasi dari virus Finnittellaous?"
Conrad tiba-tiba menghampiri Sigurður dan Erica dengan tatapan puas. Ia lalu berkata dengan percaya diri, "Baiklah jika rencana itu jadinya. Kebetulan, aku membawa tiga sampel virus Finnittellaous dari perpustakaan itu tiga hari lalu sebelum kejadian penyerangan itu. Oh ya, sekaligus juga, siapapun di sini, tolong cari informasi tentang virus yang akan diciptakan di Kerajaan Lighthalzen dan buatlah obat penawar dari virus yang akan dibuat oleh Lighthalzen itu! Aku akan menghubungi tim RolePlayer untuk menyerang bagian barrier dalam Kerajaan Lighthalzen itu, dan… Kira-kira siapa yang akan menyebarkan virus ini dari dalam Kerajaan itu?"
"Adelaide saja. Dia kan pengkhianat, dan dia pantas untuk dihajar dengan virus yang akan aku modifikasi ini. Kita bujuk dia dengan 'tawaran' kembali ke Finnitte, asalkan dia bersedia disusupi dengan virus tersebut. Virus itu dapat membunuhnya dalam kurun waktu sehari, bersamaan dengan orang yang kena bersamanya. Dia harus mati, saat itu juga! Dan satu kelebihan, virus ini dapat diaktifkan melalui sistem telepathy lho." usul Elshea dengan semangat '45.
"Dan aku punya informasi yang sangat berguna. Tiga bulan lagi, akan diadakan acara pelantikan si Guillaume brengsek itu menjadi raja Lighthalzen berikutnya, beserta dengan calon petinggi baru Lighthalzen. Salah satunya adalah Adelaide, tentu saja. Perlu kita ingat, kita sekarang berpacu dengan waktu. Besar kemungkinan salah satu dari tiga sahabat Lily dan Himeka akan menjadi korban dari virus baru yang akan mulai disebarkan oleh 'kurir' seperti halnya Janette. So, mari kita bekerja sama membasmi virus buatan Lighthalzen sekaligus mengadakan peristiwa Bloody Flower jilid 2…" tambah Sigurður dengan wajah sadistis.
Kelompok ini tampaknya tidak sabar untuk menantikan pembantaian yang akan digelar tiga bulan yang akan datang…
.
.
.
[ To be Continued ]
|
||||||