
Akhir-akhir ini hubunganku dengan Arif makin merenggang. Ingin rasanya kuhajar anak lelaki bertubuh dan berumur lebih tua denganku, itu. Teman macam apa itu?
Rated: Fiction T - Indonesian - Drama/Angst - Words: 799 - Reviews: 1 - Favs: 1 - Published: 05-05-12 - Status: Complete - id: 3019658
|
|
A+ A- |
Setengah Tiang oleh saya
Meranggas daun dari dahannya yang tampak rapuh dicengkram burung merpati. Satu kali kulempar burung itu dengan batu kerikil, ringkihnya ranting langsung menjadi korban kerikil yang baru kulempar. Kasihan sekali. Rambut cepakku kubiarkan dijatuhi daun-daun yang menguning karena musim kemarau yang semakin hari semakin nyelekit di kulit. Persawahan kami kering, buruh tani tak lagi bekerja. Bermodalkan jagung dan nasi kering, mereka bertahan hidup. Anak-anak masih bermain di sawah yang tanahnya tak lagi ada belutnya. Hanya retakan-retakan tanah tak gembur, dikencinginya oleh mereka dengan bebasnya. Sebelum kalian berfikiran yang tidak-tidak, aku tegaskan bahwa aku bukanlah salah satu dari mereka.
Jengah matahari menyinari dari ruang hampa udara di atas sana, aku berjalan kembali tanpa menghiraukan burung merpati yang telah hinggap di dahan lain. Masih di pohon yang sama. Kutegapkan badan ini walau panas membuat punggungku basah kuyup karena keringat.
Mataku menyipit menerjang silaunya cahaya matahari. Saat ini, waktu masih menunjukkan pukul satu siang. Tiba-tiba perutku berbunyi, kruk. Aku lapar; perutku minta makan. Tapi telinga dan pikiranku tak menghiraukannya.
Arif, empat tahun lebih tua dari aku dan teman-temanku, mengajakku berdiam setelah kedua orang tuanya terlibat masalah dengan rentenir. Ia teman sebangkuku sejak aku mulai bersekolah di kelas satu. Saat ini aku duduk di kelas enam sekolah dasar dan ia termasuk anak lelaki yang sudah tumbuh jakun dan kumisnya. Lucu rasanya melihat tubuh tinggi besarnya masih memakai baju merah putih dengan dasi yang tidak sampai menyentuh pusarnya.
Aku bisa paham, ekonomi membuat bajunya mengimpit badannya yang seharusnya sudah memakai baju seragam putih-biru. Tapi menurutku dia lebih kekanakan dibanding aku. Terkadang ia malah merengek minta diajarkan bagaimana caranya menjadi seorang lelaki. Kukatakan dengan nada bercanda, "Berkelahi. Itu satu-satunya cara menunjukkan kau adalah laki-laki sejati." Lalu ia memukulku di lengan dan kami tertawa bersama di tengah-tengah sawah kering kerontang, kemarau tahun lalu.
Setengah perjalanan kutempuh tanpa kuperdulikan perutku yang semakin manja. Pikiranku masih bertanya-tanya, mengapa setega itu Arif mendiamkan aku? Aku tak pernah punya salah sama dia, kataku pada Heru. "Mungkin kau terlalu sombong akhir-akhir ini. Kau baru dibelikan PlayStation oleh orang tuamu, kan?" Begitu jawaban Heru.
Benar, aku terus memainkan PS-ku yang baru sampai lupa dengan pelajaranku. Nilaiku semakin merosot dan kedua orang tuaku dengan senang hati menyita kembali PS baruku.
Pernah sekali kudengar mereka bercanda di ruang keluarga. Dengan terbahak, ayahku berkata bahwa PS baruku bisa saja mereka jual kembali. Tentunya dengan harga yang cukup mahal pastinya. Lalu ibu terbahak.
Aku tak mengerti mengapa mereka terbahak.
Tapi aku juga tak mengerti, mengapa Arif masih saja mendiamiku. Sepatah katapun tak pernah keluar dari mulutnya yang biasanya cerewet. Kutunggu ia memulai pembicaraan, tapi pembicaraan itu tak terjadi hingga sekarang.
Selalu saja kuputar otak, mencari pembahasan yang cukup enak untuk dijadikan bahan pembicaraan.
Sempat kutanya kepada wali kelasku, Bu Amirah. "Ibu, mengapa Arif selalu mendiami saya? Saya merasa tak pernah berbuat salah kepadanya."
Bu Amirah tersenyum. Sembari memegang pundakku, beliau mengucapkan satu kalimat yang membuatku sedikit tenang. "Sabar. Semua butuh proses dan waktu."
Kuanggukkan kepalaku.
Tapi, hingga kini, Arif masih saja mendiamiku. Tidak hanya aku tapi juga dengan teman yang lain. Banyak yang segan mengajaknya berbicara bahkan mendiaminya. Aku sebagai teman duduknya sudah jengah dengan perbuatannya. Ingin aku mendorong mejanya lalu berkata kepadanya, "Apa yang salah dari kami semua? Mengapa kamu mendiamkan kami?"
Tetap saja, tak pernah kulaksanakan rencana itu. Aku merasa tertekan dengan diamnya Arif seperti ini. Aku merasa duduk sendiri tanpa teman sebangku.
Sampai di mana kesabaranku sudah sampai ubun-ubun. Sore hari, dengan berbaju rumah aku berjalan menuju sekolah. Pak Dadang membiarkanku masuk ke dalam kelas.
Hari ini, aku sudah berani mengajak Arif berbicara dan mengajaknya bertemu di sekolah pada sore hari. Ia mengangguk setuju dan berkata ia akan menunggu di kursinya. Kubuka paksa pintu kelas lalu aku menuju ke arahnya.
Kutendang kaki mejanya, tapi dia tetap diam di tempat. Tak bergerak.
"Kau kenapa? Selama ini kau selalu diam, diam, dan diam saja!"
Ia tetap diam. Aku mendengus kesal.
"Aku tidak pernah takut dengan badan besarmu! Apa? Kau mau melawan? Ayo! Jangan jadi pengecut kamu! Kamu tak pernah mengatakan apa salahku hingga kamu mendiamiku selama beberapa bulan! Apa? Kau tak mau jawab?"
Arif masih diam di tempatnya. Berdiamnya membuat kemarahanku memuncak.
"Maumu apa!" tanyaku dengan sengit. Kursi kosong itu bisu.
Arif benar-benar tak lagi duduk sebangku denganku. Ia dengan diamnya, pergi tanpa pamit dengan teman-teman. Tubuh jangkungnya terkubur tanah. Bendera diturunkan setengah tiang untuknya karena melindungi orang tuanya dari kejamnya rentenir. Dan ia memelukku; bersimbah. Bajuku beserta tugas kelompok kami lusuh oleh darahnya.
sebuah nota: Saya mengunggah cerita ini setelah sempat saya masukkan untuk sementara waktu di tumblr saya. Hanya saja, saat kalian membaca cerita ini ada beberapa amandemen yang saya lakukan (untuk membaca aslinya sila ke tumblr saya thenamedis). Silahkan pendapatnya jika berkenan.
|
||||||