Fiction » Romance »

L A T E L Y
Author:
Matoki Latte PM
OS - "Kalau kau tahu aku mempermainkanmu, kenapa kau tetap mau denganku? Jadi siapa yang bodoh di sini?"
Rated: Fiction T - Indonesian - Romance/Drama - Words: 1,938 - Reviews: 1 - Favs: 1 - Published: 05-11-12 - Status: Complete - id: 3021683
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

"L.A.T.E.L.Y"

Original Fiction Written by Nero © 2012


Disclaimer :

All of story contents belong to me. This is just a work of pure fiction. I don't take any material profit from this work. Don't copy, don't re-link, and don't re-share without permission. Plagiarisms aren't allowed here!

Genre – Rate :

Romance – Drama

Teen – PG 15+

Warnings :

High School Universe

Don't copy, don't re-link, and don't re-share without permission. Plagiarisms aren't allowed here!


Lumatan itu dalam dan menuntut.

Tubuh yang menahannya di dinding seolah tak membiarkannya untuk bernapas dan bergerak. Memaksanya dan memakunya pada kenikmatan yang ia alirkan dari sudut-sudut lidah mereka yang bertarung ke seluruh tubuh masing-masing.

Sesekali desah lirih keluar dari salah satu pemilik bibir.

Tak lama keterbatasan akan kebutuhan oksigen membuat pertempuran lidah itu berhenti.

Ciuman berubah menjadi pelukan erat. Tak menuntut, hanya pelukan erat dan rapat yang berakhir dengan bisikan lembut.

"I love you, Anna."

.

.

.

"Kau benar-benar jadian dengan Nathan, Anna?"

Anna yang sedang berjalan dengan membawa setumpuk buku di tangannya melirik singkat pada pemuda mungil yang tengah berjalan di sisinya.

"Ya. Kenapa, Archie?"

Pemuda dengan nama asli Arthur namun berjuluk Archie itu memasukkan kedua tangannya ke saku celana seragam musim panasnya dan menggeleng.

"Kau percaya dengan pemuda yang terkenal player itu?"

"Bagaimanapun hubungan kami telah berjalan, Archie." Anna sedikit menerawang. Ada keraguan dalam kalimatnya barusan.

Sebuah keraguan yang sebenarnya wajar, dengan tahu siapa Nathan dan apa reputasinya selama ini.

Nathan.

Pemuda idola sekolah. Tampan. Bersuara indah. Kaya. Cerdas. Dan sempurna. Jika mungkin ada satu kekurangan hanyalah karena ia suka bermain-main dengan hubungan asmaranya, seolah hubungan itu hanya sebuah permainan seperti game yang biasa ia mainkan selama ini sebagai seorang gamer. Ya, Nathan adalah gamer dan juga player dalam asmaranya.

"Tapi aku salut denganmu." Arthur berhenti dan menatap Anna takjub.

"Ngg why?" Anna mendadak ikut berhenti dan menatap heran junior sekaligus close friend-nya itu.

"Denganmu Nathan tahan lebih dari sebulan. Rekor terlama untuk hubungan seorang Eru 'player' Nathan."

.

.

.

Wajah manis itu terbalut amarah ketika mendekati dua sosok yang tengah menampilkan adegan romantis di depannya.

"Nath?"

Sosok tampan itu menoleh. Dan mata itu redup ketika menemukan mata Anna. Dengan menekan amarah yang berontak keluar Anna mencoba bersikap tenang.

"Aku ingin bicara, Nath."

"Kau tidak lihat aku sedang ada urusan?"

Anna melirik gadis yang barusan pipinya mendapat ciuman dari Nathan dan tertangkap matanya. Gadis itu menunduk.

"A-aku pergi dulu."

"Tunggu, Ran!"

Terlambat. Gadis itu tetap membawa langkahnya menjauh dari arena pertarungan.

"Apa yang kau lakukan?" Nathan beralih menatap Anna tajam.

"Aku yang seharusnya bertanya seperti itu! Apa yang kau lakukan?" Mata sipit itu menatap sengit. "Apa maksudmu bermesraan dengan orang lain di depanku? Sepertinya kau memang benar-benar player dan mempermainkanku!"

"Kalau kau tahu aku mempermainkanmu, kenapa kau tetap mau denganku? Jadi siapa yang bodoh di sini?" Nathan tersenyum meremehkan.

Anna tercenung dengan wajah yang kini benar-benar merah. Sakit sekali mendengar kalimat pemuda di depannya yang seolah tanpa dosa.

"Kau sakit, Nathan!" bisik Anna seraya berbalik dan menjauh dari sosok yang kini tersenyum penuh kemenangan.

Ya, sudah cukup ia yang sakit di masa lalu. Kini adalah saatnya bagi seorang Nathan membalas sakit hati dan dendamnya. Tak peduli kepada mereka yang tidak tahu apa-apa, yang pasti kini kemenangan ada di tangannya.

"Anna, I love you!"

"Akhirnya kau bisa mengucapkan kata itu dengan lancar, Archie!" Anna terkekeh seraya mengacak helaian caramel pemuda mungil di depannya. Arthur mengerucutkan bibirnya, pura-pura kesal dengan sindiran Anna untuknya.

"Anna?" Arthur maju dan memeluk sosok yang tengah memandang taman di bawah mereka dari belakang.

"Why?" Anna mempermainkan jemari yang kini tengah melingkar di perutnya.

"I love you," bisik Arthur pelan seraya mengecup pipi Anna singkat.

Kekeh Anna semakin lebar. Tak menyadari bahwa ada sepasag mata yang terus memerhatika mereka dengan dada bergolak dan wajah pucat memerah karena amarah.

"I love you too, Archie."

'Brak!'

Suara tinju yang mengenai tembok di belakang mereka, membuat Anna dan Arthur menoleh.

Terlihat di depan mereka wajah marah Nathan, dengan tangan yang baru saja memukul dinding tak berdosa di sisinya.

Arthur berniat melepaskan pelukannya, tapi Anna menahan lengan itu tetap di tempatnya. Dan ia menghadapi amarah Nathan dengan ketenangan yang luar biasa. Anna tak terpancing atas pemuda yang sudah mengeluarkan aura setan di depannya.

"Why?" tanya Anna pura-pura tak mengerti.

"Apa yang kau lakukan? Kau menipuku selama ini?" Nathan beralih menatap Arthur tajam. "Kau memiliki hubungan dengan pemuda ini?"

Arthur bergerak, namun Anna menahannya.

"Kenapa kau harus marah, Nath? Anggap saja ini hanya sebuah permainan seperti yang biasa kau lakukan kepadaku dan semua korbanmu selama ini. Kemarin, kau menang telak dan tertawa atas sosok-sosok yang mendongkol kecewa karena permainanmu," ucap Anna panjang. "Sekarang bagaimana kalau permainan ini kita putar sebentar. Aku yang menang, kau yang kalah dan kecewa. Okay, Nath? Bukankah dalam game selalu ada menang kalah?"

Nathan mendengus keras.

Rasanya ia ingin melampiaskan amarah di dadanya, tapi yang terjadi hanyalah ia yang harus menahan amarahnya karena tangannya seolah membatu dan tak kuasa untuk sekedar menyentuh sosok tenang di depannya.

Ada yang menohok jantungnya telak. Selama ini ia berpikir Anna sama bodohnya dengan sosok-sosok korbannya yang lainnya.

Tapi, Nathan salah.

Anna lebih pintar. Sebuah kepintaran yang membuatnya malu dan terhina, sekaligus mengalirkan pukulan tepat di hati dan jantungnya. Dendam yang selalu ia jadikan alasan untuk menyakiti korbannya, nyatanya tak membuat kemenangan selalu berpihak padanya.

Nathan berbalik dan melangkah pergi. Ada luka dan sakit di hatinya. Hanya saja ia tak tahu, itu kecewa atau—

cemburu…?

Anna menatap nanar dan iba ke arah pemuda yang pergi dengan membawa wajah kalahnya. Dilepaskannya pelukannya dari Arthur. Menyudahi skinship pura-pura mereka.

"Kau benar-benar menyukainya, 'kan?"

Anna menunduk. "Entahlah."

"Aku tahu kau menyukainya."

Anna tersenyum getir. Matanya masih terpancang pada satu punggung yang menjauh dan akhirnya menghilang di balik tembok sekolah.

"Seandainya Nathan tidak bersandiwara dengan cintanya—!"

"—mungkin tak akan seperti ini," sambung Arthur miris.

Ya, seandainya Nathan jujur dan berusaha melupakan luka masa lalunya. Tentu mereka tak akan sesakit ini. Karena sebenarnya Anna pun menyimpan cinta untuk pemuda itu. Cinta tulus yang harus bertopeng sandiwara karena Nathan yang memulainya.

Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, ketika Anna keluar dari ruang OSIS.

Wajahnya terlihat lelah.

Bagaimana tidak?

Sebagai Ketua Osis, dia harus mulai mempersiapkan Pekan Kebudayaan yang akan dirayakan bulan depan.

Anna menghela napas pelan, dia bertekad harus melakukan tugasnya dengan baik dalam kegiatan ini.

Langkah Anna terdengar nyaring, menggema di lorong-lorong yang dilewatinya, sepertinya hanya tinggal dia sendiri yang masih di sekolah.

Ketika langkahnya sampai di teras, sesuatu menghentikannya.

Celaka!

Di depannya sekarang hujan turun dengan derasnya. Dibarengi dengan gelegar petir yang mengimbangi saat cairan itu mengguyur bumi.

Padahal, Anna tidak membawa mobil apalagi payung.

Anna melipat tangannya, bersedekap dengan wajah kesal.

Menunggu hujan berhenti jelas terlalu lama.

Berlari menembusnya dan mencari taksi?

No, no, terlalu jauh, Anna bisa sakit jika hujan-hujanan sedikit saja.

Menunggu malaikat hujan menghampiri?

Ahaha lupakan, sekolah sudah sepi.

Anna hampir memilih option ke dua.

"Kau mau berlari di tengah hujan dan kilat begini?" Sebuah suara yang sangat dikenalnya terdengar jelas di sampingnya. Anna agak melonjak karena terkejut.

Ditolehnya sosok di sampingnya, "Na-Nathan?"

Pemuda tampan itu tersenyum menatapnya, "Hai..."

"Kenapa kau belum pulang?" tanya Anna heran, padahal ia berpikir hanya dirinya yang masih di sekolah.

"Mr. Andrew memberi tugas tambahan padaku. Kau sendiri kenapa belum pulang?" Nathan membuka payung yang dibawanya.

"Ah, eh, a-aku ada tugas OSIS." Wajah Anna memerah perlahan.

"Mau jalan ke tempat parkir bersama?" tawar Nathan.

"Aku tidak membawa mobil."

"Kita bisa memakai payung ini untuk berjalan ke tempat parkir, dan aku akan mengantarmu pulang," bujuk Nathan.

Perlahan Anna mengangguk.

Dan, mereka mulai melangkah. Sialnya, jarak antara teras dan parkiran lumayan jauh.

Mereka berpayung berdua tanpa bicara.

Setidaknya untuk beberapa saat.

Anna mencoba mengabaikan hatinya yang serasa ingin meloncat.

"Kau benar-benar jadian dengan Arthur?" Dan kata yang sangat ditakuti Anna akhirnya muncul juga dari bibir pemuda di sisinya.

"A-aku…" Anna gugup, tak mampu merangkai frasa dengan sempurna.

Ada dengus yang tak begitu kentara dari Nathan.

"Kupikir…" Keraguan terlihat jelas dari kalimat Nathan, yang kini juga mengalamai hal yang sama, tak mampu untuk bicara.

"Kau yang meminta semua ini, Nath." Akhirnya kata itu terucap juga.

"Apa maksudmu?"

Keduanya berhenti.

Anna menoleh dan menatap jauh ke dalam bola mata redup itu. Ada luka di sana. Luka nyaris tersamar yang selalu pemuda itu tutupi dengan sifat angkuhnya.

Sifat angkuh yang akhirnya membunuhnya.

Anna kembali menunduk.

Memandang mata itu lama-lama, membuat perasaan bersalah dan kasihan semakin menderanya.

"I love you," ucap Nathan tiba-tiba.

Dan nyaris tak terdengar kalau saja Anna tak menajamkan telinganya.

"Kau dulu juga mengatakan hal itu sebelum menyakitiku, Nath," balas Anna tak percaya.

"Sorru, Anna. Sorry." Nathan menatap Anna lembut. "Kau harus tersakiti dulu untuk membuatku menyadari bahwa rasa ini benar-benar ada."

"Aku takut, Nath."

"Beri aku kesempatan atau… aku akan begini selamanya."

"Apa maksudmu, Nath?"

Nathan belum menjawab, tapi, dia menyerahkan payung pada Anna, yang menerimanya dengan tatapan heran.

Tiba-tiba, Nathan berlari dan berdiri di tengah hujan, lalu berteriak lantang, melawan suara hujan di sekitar mereka.

"Anastasia Lau, I love you!"

Mendengar itu, Anna menutup mulutnya tak percaya. Dia terdiam untuk mencerna semuanya.

Dan sesaat kemudian, terbersit dalam pikiran jahilnya untuk menggoda Nathan. "Aku tidak dengar, bisakah kau ulangi sekali lagi kata-katamu?"

Nathan berteriak lebih keras, "Anastasia Lau, Aku. Cinta. Padamu! Maukah kau jadi kekasihku?"

"Kau gila," ucap Anna pelan. Namun ada senyum di wajah manis itu. Nathan kembali mendekat dan meraih tangan Anna yang memegang payung, sebelum akhirnya melemparkan benda itu sembarangan.

Keduanya bertatapan.

Tetes-tetes hujan membasahi kedua anak itu, ketika perlahan bibir mereka semakin mendekat dan menutup celah di antara mereka. Ciuman itu mendesak, memaksa tubuh mereka untuk lebih merapat.

Anna memeluk leher Nathan dan memiringkan wajahnya, membuat Nathan semakin mudah untuk memperdalam ciuman mereka.

Seolah tak peduli pada hujan, dan langit yang mulai gelap.

Namun, kebutuhan akan akan oksigen, memaksa ciuman itu untuk berhenti.

Mata Nathan menatap blackhole itu dalam, "Kau belum menjawabnya..."

"Hatchin."

"Hei, kau sakit?" Wajah Nathan berubah khawatir.

Anna hanya tersenyum kecil. Tubuhnya mulai menggigil.

"Ayo kita ke mobil, aku akan menghangatkanmu, dengan cara yang 'luar biasa'!" tanpa menunggu jawaban Anna, pemuda itu menariknya dan berlari ke arah mobilnya.

Meninggalkan hujan dan langit yang menggelap.

Kebahagiaan terpancar dari wajah dua anak itu.

Kebahagiaan yang seolah mampu menghangatkan hujan.

Dalam diam Anna tersenyum menatap wajah tampan yang tengah tertawa lebar dan menariknya di tengah hujan.

Mungkin… mungkin memang ini permainan.

Namun, permainan tak menutup cinta, bukan?

Nathan yang tengah duduk di belakang kemudi dan belum menyalakan mobilnya melirik kasihan pada sosok yang tengah menggigil di sisinya.

"Bagaimana kalau kau lepaskan saja bajumu?" saran Nathan. "Kau bisa masuk angin."

"What?" Mata Anna membulat tak sempurna menatap Nathan. "Kau gila."

"Kau lebih gila lagi kalau membiarkan tubuhmu sakit. Atau…" Nathan mendekatkan tubuhnya ke arah Anna yang kini memeluk tubuhnya sendiri. "Kau ingin aku yang membuka bajumu, Baby?"

"Me-mesum!" Anna memalingkan wajahnya.

"Kekekeke, aku tidak memintamu naked, Baby." Nathan membawa tubuhnya kembali menjauh dan meraih selimut yang ada di kursi belakang mobilnya. "Kau bisa pakai ini."

Anna ragu-ragu menatap selimut di tangan Nathan.

"Ayo. Aku tidak ingin kau sakit." Nathan menyodorkan selimut itu. Ragu-ragu Anna meraih selimut bercorak telur*?* itu.

"Apa yang kau lakukan, Nath?" teriak Anna ketika Nathan menekan tombol power window.

"Tentu saja menutup jendela. Kau mau saat membuka baju terlihat dari luar?"

Anna menggeleng, merasa bodoh dengan kalimatnya barusan.

"Kukira…"

"Aku tidak akan menyerangmu sekarang. Aku akan melakukan itu nan—!"

Anna yang tengah membuka kancing kemejanya sontak menghentikan kegiatannya.

"What? Dasar mesum!"

.

.

.

_THE END_

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .