
"Don't go..." / "Yang mau pergi siapa sih, Ris?" / "You own me, Ris." / Cerita tentang sebuah cinta yang terajut dalam sebuah pertemuan singkat. / "Would you promise me something?" "Yes?" "That we will wait each other to meet again someday?" / "Tidakkah kau berpikir bahwa... perasaanmu itu hanya karena momen?" / "Maafkan aku..." / Chapter 9 released! /completed
Rated: Fiction T - Indonesian - Romance/Drama - Chapters: 9 - Words: 12,085 - Reviews: 6 - Follows: 1 - Updated: 05-04-13 - Published: 05-13-12 - Status: Complete - id: 3022026
|
|
A+ A- |
Ilusi
Chapter 5: Confession
Malam mulai menjelang. Bintang-bintang mulai menaburkan dirinya di langit, menghiasi hati tiap-tiap insan yang sedang merenung dan murung. Seperti Kenzie.
Kini ia duduk di bangku kayu panjang yang terdapat di salah satu bagian atap rumahnya yang datar. Membiarkan angin malam menghantarkan kenangan masa lalunya, saat ia bersama keluarganya menatap bintang di tempat yang sama, di bangku yang sama.
Kini semua hanya menatapku dari langit, pikir Kenzie.
Dari belakang, seseorang dengan rambut terurai, perlahan mengangkat jari telunjuknya, lalu menggoreskan sesuatu di punggung Kenzie.
Kenzie terkejut, menoleh ke belakangnya, lalu tersentak melompat. Risma kini di hadapannya, dengan rambut hitamnya yang dibiarkan tergerai, lalu berkibar ditiup angin. Gemetar mulai merasuk ke dalam jiwanya.
"Jangan kaget begitu, ah," kata Risma. "Tak baik untuk jantung."
Kenzie, dengan nada kesal—namun tersenyum—kembali duduk di bangku. "Bagaimana aku tak kaget kalau tiba-tiba kamu memegang punggungku?"
Risma tertawa pelan, lalu berdiri di sampingnya. "Ikut duduk ya," katanya, sambil duduk di samping Kenzie.
Kenzie kembali menatap bintang, diikuti Risma yang ikut melihat ke atas, meski tak tahu pasti apa yang Kenzie lihat sebenarnya di langit itu.
"Aku kangen mereka," kata Kenzie sambil menunjuk ke langit. "Aku kangen keluargaku."
Risma tidak menjawab, tapi ia memalingkan wajahnya ke arah Kenzie, dan mendekatkan tubuhnya. Ceritakan padaku, Kenzie, katanya dalam hati, berharap Kenzie mendengarnya, I'm all ears.
"Biasanya, ketika suatu hari kami menghadapi hari yang berat, maka malam sesudahnya kami akan duduk di sini, memandang bintang-bintang di langit dan rembulan yang sama dengan yang kau lihat sekarang. Di sinilah aku biasanya menggoda adikku, dan ia akan menangis, tapi tak lama kemudian tersenyum lagi..."
Kenzie memperbaiki posisi duduknya, dan merangkul Risma yang duduk di sampingnya. Ia sedikit terkejut, tapi berusaha menguasai diri. Tak disadari, nafasnya semakin memburu.
"Hmh, sudah lama aku tidak lagi merangkul seseorang seperti ini," kata Kenzie. "Kau benar-benar mengingatkan aku pada adikku, Ris," lanjutnya. Air mata mulai mengalir dari kedua matanya.
"Jangan menangis," kata Risma, mengulurkan tangannya dan mengusap air mata di pipi Kenzie. "Mereka di sana tidak mau kamu menangis begini. Mereka di sana mau kamu kuat menghadapi kepergian mereka. Mereka menunggu kamu bergabung di sana," lanjut Risma berusaha menghibur, sambil menunjukkan telunjuknya ke langit.
"Yah, aku tahu itu..."
"Kamu sering melihat langit di malam hari begini?"
"Hmm, lumayan. Ketika kamu sendiri, kamu bisa merasakan sekelilingmu, semua bagai mencoba menghiburmu. Dan semua bagai memainkan simfoninya sendiri."
Kenzie tersenyum, lalu menutup mata Risma. "Ssh. Diam sejenak. Coba dengarkan semuanya."
Risma mencoba menenangkan jiwanya—yang entah kenapa tak keruan begitu disentuh oleh Kenzie—dan mencoba mendengarkan. Suara angin yang bertiup pelan. Suara klakson mobil beradu pada kemacetan. Suara obrolan di gang. Suara motor yang melaju kencang di jalanan sepi. Ia tenangkan pikirannya, dan menemukan suara itu semua seakan memang dimainkan khusus untuk malam itu.
"Orang-orang di desa bisa lebih tenang dari ini, Ris," kata Kenzie. "Suara-suara yang mereka dengar jauh lebih jernih dan damai dari ini. Suara-suara yang memang dibunyikan malaikat..."
Ia tarik tangannya yang menutup mata Risma. Lalu kembali menatap langit.
"Dunia sudah kehilangan dirinya. Ia sudah tak lagi menyambut tangan kita ketika kita datang... hanya suara tawanya yang kita dengar parau, dan nafasnya yang gemuruh gemerlapan..."
"Ngomong-ngomong, kerudungmu... mana?"
Risma tertunduk. "Hmm, anggap saja aku tak sebaik dirimu," katanya. "Itu adalah bagian dari seragam sekolahku. Yang kamu lihat malam ini, inilah aku."
"Yah, memang, masih banyak yang hanya mengenakan kerudungnya saat diwajibkan sekolah," kata Kenzie sambil menerawang ke langit, kembali. Seolah-olah di langit sudah tersedia teks yang akan ia jawab pada Risma. "Adikku juga begitu, ibuku pun begitu. Tapi aku harap orang-orang seperti itu di masa depan benar-benar berkerudung," lanjutnya, "kamu cantik lho, kalau dikerudung."
Risma tak menjawab apa-apa, tapi ia bisa merasakan sendiri wajahnya menghangat. Keheningan menyergap beberapa saat, sebelum kemudian Risma mulai menyandarkan dirinya ke bahu Kenzie.
"Zie..."
"Hmm?"
"Salahkah aku... bila aku mulai menyukaimu?"
Kenzie terkejut. Hawa dingin itu kembali menyergap kaki dan tangannya. Detak jantungnya beradu tak teratur, nafasnya semakin diburu. Pikirannya tiba-tiba kacau, dan ia berusaha keras berpikir dalam ketegangannya. Apa ia tak salah dengar?
"Zie...?"
Ia berusaha meyakinkan bahwa ia tak salah dengar, lalu tersenyum. "Ssh," kata Kenzie sambil menempelkan telunjuknya di bibir Risma, namun tetap memandang langit. "Tidak ada yang salah dengan perasaanmu, Ris. Perasaan suka adalah perasaan yang alami. Tinggal bagaimana kamu menyikapinya saja."
Ia menghela nafas sejenak, lalu kemudian melanjutkan, "Aku pun—"
Srek—
Suara gesekan sesuatu. Kenzie berdiri seketika dan melihat Okta menutup mulutnya di belakang mereka, diikuti Risma yang terlihat kaget sekali.
"Ehm, aku mengganggu ya?" kata Okta, polos. "Maaf, bukannya mau mengganggu keromantisan kalian, tapi perutku sudah tak bisa lagi berkompromi."
"Keromantisan apa siiih," jawab Risma sambil tersipu malu.
"Hmm, pretend you've seen nothing, dan aku akan beri kalian makan," kata Kenzie sambil tersenyum, menuruni tangga ke lantai bawah.
Tunggu. Tadi dia mau bilang apa?
Okta masih senyum-senyum di depan meja makan, mengingat kejadian yang baru ia lihat. Ia agak kesal tadi sebetulnya ditinggal sendirian, menonton TV. Tapi setelah mengutak-atik semua channel, tak ada yang ia sukai. Akhirnya ia mencari-cari ke kamar, ke dapur, hampir ke seluruh ujung rumah hingga ia melihat ada tangga kecil menuju atap.
Penasaran, ia naiki tangga itu, dan...
Di balik rembulan, dua orang sedang saling berangkulan, memandang langit bersama.
Okta terkejut—tapi otak jahilnya langsung menguasai. Ia mengendap-endap di tangga, mencari posisi yang pas untuk bisa mendengar pembicaraan mereka. Ketika ia lihat kembali mereka berdua, persis saat Risma mulai menyandarkan dirinya ke bahu Kenzie.
"Kya—"
Ia nyaris menjerit girang, tapi ia berusaha mengendalikan diri. Bila ketahuan, selesailah semuanya. Ia tak akan tahu apa kelanjutan dari adegan ini. Risma yang biasanya murung di kelas, Risma yang biasanya pendiam itu kini...
"Zie..."
"Hmm?"
"Salahkah aku... bila aku mulai menyukaimu?"
Okta menjambak rambutnya sendiri, menahan jeritan yang hendak keluar dari pita suaranya. Ia berusaha keras menutup mulutnya, dan berusaha mendengar apa lanjutannya.
Kenzie diam. Ia seolah mematung. Okta semakin gemas melihatnya. Kenapa diam, sih?
"Zie...?"
Kenzie tersenyum, lalu memandang Risma dan menempelkan telunjuknya di bibir Risma, dan kembali memandang langit "Ssh, tidak ada yang salah dengan perasaanmu, Ris. Perasaan suka adalah perasaan yang alami. Tinggal bagaimana kamu menyikapinya saja."
Ia menghela nafas sejenak, lalu kemudian melanjutkan, "Aku pun—"
Srek—
Aaaarrggh! Tembok sialan!.
Okta yang kelewat girang, tak sengaja menyentuh tembok dan menimbulkan suara gesekan. Kenzie tiba-tiba bangkit dan berbalik badan, diikuti Risma yang kelihatan kaget sekali.
Kini, Kenzie meletakkan sup di atas meja, lalu mereka bertiga duduk di meja makan. Risma sudah siap mengambil sendok dan garpu di atas piringnya ketika dua alat sakral itu direbut oleh Okta.
"Apaan sih, Ta..." keluh Risma.
"Ehm, yang baru confession... Kenzie, kamu jahat sekali sih, tidak menjawab perasaan Risma. Sekarang jawab, kalau kamu punya perasaan suka juga ke dia, suapin dong dia! Kalau nggak ada perasaan balik, cukup ambilkan supnya saja," kata Okta, terburu-buru kegirangan.
"Okta!" Risma mengeluh, lalu memukul Okta. "Ah! Kenzie! Cepat, jawab! Kalau tidak, kamu akan menyesal seumur hidup, lho!"
"Sudah, jangan bertengkar di meja makan," kata Kenzie, tenang. Ia lalu mengambil pelan sup dari mangkok besar ke piring Risma.
Risma dan Okta yang melihatnya, hening seketika, menunggu apa yang akan dilakukan Kenzie. Kaki Risma kembali dingin, tangannya juga, dan telapak tangannya kini mulai basah. Degup jantungnya kembali menggelegar, sementara Okta mulai menutup mulutnya lagi dengan tangannya.
Gemetar, Kenzie mengambil sendok dari piringnya sendiri, lalu mengambil nasi dan sup di piring Risma, dan mengangkatnya. Tangan kirinya mengiringi sendok itu diangkat pelan ke dekat mulut Risma.
"Makan, ya?" katanya sambil tersenyum.
Bersambung...
Maaf, maaf, baru sempat dilanjutkan sekarang. Minggu kemarin itu benar-benar minggu yang padat sekali _ ditambah dengan writer's block yang benar-benar menghadang...
Oh, ya, selamat menjalankan Ujian Kenaikan Kelas, semuanya! May odds be ever in our favor. Selamat juga buat adik-adik kelas 9 yang baru menerima hasil kelulusannya!
Anyway, mind to comment, please? ^^
|
||||||