Fiction » Romance »

Tell Me About Happiness and of Course About Love
Author:
Viryn PM
Saat yang ditunggu-tunggunya akhirnya datang. Namun, Sherin menyadari bahwa kisahnya dan laki-laki yang dicintainya itu belumlah usai. Ini adalah awal dari perjuangan untuk mendapatkan kebahagiaannya dan kebahagiaan Luca. Chapter 12 is up! Mind to RnR?
Rated: Fiction T - Indonesian - Romance/Hurt/Comfort - Chapters: 13 - Words: 24,945 - Reviews: 14 - Favs: 6 - Follows: 7 - Updated: 03-23-13 - Published: 05-18-12 - id: 3023789
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

Tell Me About Happiness and of Course About Love

Chapter 2


WARNING Masochism, kesadisan. Sejenisnya lah pokoknya. Nama tempat hanya fiksi belaka, bila ada kesamaan nama itu hanya unsur tidak kesengajaan.

Flashback

Sherin's POV

Aku rasa seluruh anak di kelasku tahu kalau aku sangat menyukai Luca, atau mungkin semua orang di muka bumi ini sudah tahu. Ah, aku memang tipe yang tak bisa menyembunyikan perasaanku. Apakah itu marah, sedih, atau senang, semua akan tampak jelas, termasuk perasaanku terhadap Luca. Namun, satu hal dibalik semua itu aku juga sangat pandai menyembunyikan apa yang sedang aku rasakan jika aku mau tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Tapi, tetap saja akhirnya perasaanku dapat diketahui dengan mudah oleh orang-orang. Khususnya kedua sahabatku dan tentu saja ibu dan kakak-kakakku. Mungkin karena aku ini sangat bodoh... Ya, bodoh...

Setiap hari aku sepertinya tak tahu malu mengejar-ngejar Luca. Aku mengajaknya pulang bersama, meskipun arah kami berbeda sih, aku mengajaknya makan siang, duduk bersebelahan, mengerjakan PR bersama... Dan yang aku dapatkan selalu penolakan. Sekali saja... Dia bahkan tidak pernah mengindahkan kata-kataku.

Aku selalu mepertanyakan apakah Luca menyadari perasaanku? Kadang aku berpikir ia menyadarinya. Bagaimana pun juga sudah sangat jelas tertulis di keningku, "AKU SUKA LUCA... SANGAT SANGAT SANGAT SUKA." Tapi... ketika aku melihat ekspresinya, ia selalu menunjukkan wajah yang datar dan sikap yang menyebalkan seolah tak peduli itu membuat aku jadi tak yakin kalau dia menyadari perasaanku padanya. Tidak peka atau bagaimana sih dia? Aku tidak tahu, tapi anehnya lagi aku malah semakin menyukainya.

Luca itu orang yang susah ditebak, meskipun kau menatapnya lekat-lekat, garis wajahnya nyaris tak dapat terbaca. Seperti manusia yang tak memiliki emosi. Luca selalu membuatku penasaran, apapun yang menyangkut dirinya membuat hatiku bergemuruh. Aku ingin menjangkaunya, apa yang ia pikirkan, apa yang ia rasakan, apa yang ia sukai, aku ingin mengetahuinya. Aku ingin bisa mengahancurkan dinding yang menghalangi kami. Aku ingin melihat ekspresi di wajahnya, entah saat dia marah ataupun tersenyum...

End of Sherin's POV

Flashback Off

Malam yang dingin, seperti malam-malam sebelumnya. Angin berhembus dan seolah-olah berbisik, dedaunan kering yang berjatuhan terbawa arusnya entah kemana. Tanpa mempedulikan suasana malam yang begitu mencekam, gadis yang masih terkejut dengan apa yang ia lihat dari balik jendela kamarnya itu memutuskan untuk melihat lebih dekat dan memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Matanya membulat lebar, seakan ia tengah melihat sesuatu yang sangat menakutkan. Dengan langkah ragu, ia keluar kamar tak lupa memakai jaket wolnya yang ia pakai asal.

"Luca..." gumamnya.

At Jaques street, taman kota.

"Sial! Aku kehilangan jejaknya, kenapa preman-preman itu menyerang kami?" ucap laki-laki berambut pirang itu entah kepada siapa, "aku harus menemukannya. Oh, Tuhan... Ini benar-benar menjengkelkan. Si bodoh itu bisa saja mati 'keenakan', arghh."

Maaf nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi, atau sedang berada di luar a-

Tuuutt tuuutt tuuutt

"Bagus, ponselnya tidak bisa dihubungi. Haaah Luca, aku harap kau baik-baik saja teman."lanjutnya frustasi.

Jarak antara Sherin dan laki-laki yang tengah terluka itu semakin mendekat, ia mendengar laki-laki itu mendesah dan dimatanya laki-laki itu tampak kesakitan. Jarak diantara keduanya sedikit demi sedikit tereliminasi, sampai akhirnya Sherin menegur laki-laki yang terduduk di dekat rel kereta api itu.

"Luca?" ucapnya ragu. Laki-laki yang dikenali Sherin bernama Luca itu mendongakkan kepalanya, ia tak kalah terkejutnya dengan Sherin.

"Kau... Kau kenapa? Hey, kau terluka. Ya ampun, ada apa?" ujar Sherin panik. Luca tampak sedikit ketakutan dan menahan sesuatu. Dan ia memutuskan untuk diam saja.

"Kau harus diobati," Sherin semakin panik, ia lirik kanan dan kiri. "disana ada apotik 24 jam, kau tunggulah di ah ayo berdirilah. Kau tunggu di bangku itu. Aku segera kembali," sambung Sherin tanpa menunggu persetujuan Luca. Ia dudukkan Luca diatas bangku kayu yang ada di dekat rel tersebut. Dan ia melesat pergi kearah apotik.

"Sherin, kenapa dia harus melihatku seperti ini? Aku harus bisa menahan diriku... Ukhh..." Luca menggigit bibir bawahnya dan mencengkram tangan kanannya yang terluka.

Tidak lama kemudian, Sherin kembali ke tempat dimana Luca tengah menahan gejolak dirinya untuk 'menikmati' luka yang menggiurkan itu.

"Maaf, aku lancang ya? Tapi lukamu harus segera diobati, kalau tidak bisa infeksi. Dan maaf juga aku hanya bisa mengobati seadanya saja, rumah sakit terlalu jauh dari sini. Boleh aku lihat tanganmu?" pinta Sherin, ia tatap lekat-lekat pria yang ia sukai itu. Luca mengangguk kecil, "ah, terimakasih. Mungkin akan sedikit perih, tapi tenang lah." lanjut Sherin. Ia mulai membersihkan luka sayatan yang melintang panjang itu dengan alkohol. Luca mengerang tertahan, keringat dingin mulai mengalir dari pelipisnya.

"Tuhan, beri aku kekuatan. Aku harus bisa menahan diriku."

"Sakit ya?" Sherin yang melihat ekspresi Luca meringis kecul, "goresannya panjang begini~ apa ku jahit saja pakai benang baju eh?" sambungnya. Luca sedikit tersentak, "Ja-jahit? Kau... Jangan bercanda, yang benar saja."

"Ehehe, maaf. Habis lukanya seperti ini," setelah itu tak ada tanggapan dari seorang Luca, ia mati-matian menahan sesuatu yang sedari tadi berdesir didarahnya.

Sherin mulai mengolesi luka Luca dengan obat antiseptik, lalu ia menempelkan perban. Jujur saja, Luca merasakan suatu kesenangan. Bukan sakit yang ia rasakan, namun rasa nyaman yang menjalar diseluruh tubuhnya. Saat luka tertekan Sherin, saat tangan Sherin tanpa sengaja menyentuh luka itu atau saat Sherin meniup-niupkan nafasnya agar luka itu kering. Kesabarannya sudah tak bisa dibendung lagi, ia sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Tubuhnya menginginkan suatu kenikmatan yang sedari tadi berusaha ia tahan... Ia ingin sekali menyentuh luka itu, menikmati luka itu... Yang lebih parah lagi, ia ingin Sherin yang melakukan semua itu untuknya...

"Nah, selesai. Mungkin butuh waktu beberapa hari sampai lukanya mengering dan sembuh. Um... Kau mau menceritakan apa yang terjadi padaku tidak? Kalau kau tidak keberatan sih, aku... EH?" suara Sherin tercekat, Luca menggenggam lengannya terlalu kuat, yah dia mencengkram lengan Sherin dengan kuat.

"Lu-luca..."

"Diamlah! Kau terlalu berisik," desisnya mengeratkan cengkramannya.

"Ma-maaf, aku... Aww, sakit... Kau kenapa? Luca?"

"Diamlah, ku mohon..." lanjut Luca, tubuhnya gemetaran. Ia lepaskan cengkramannya dari Sherin dan memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Ia tampak frustasi.

"Luca, kau kenapa? Kau membuatku cemas,"

"Khhh... Sial, uwghhh!" hanya desisan tak jelas yang keluar dari mulut Luca, hal ini membuat Sherin semakin cemas dan ketakutan dengan perubahan Luca.

Baru kali ini ia melihat Luca tampak kesakitan seperti itu, ada apa sebenarnya. Kenapa Luca tampak seperti orang yang memaksakan diri. Luca tampak kacau dihadapannya, begitu rapuh dan menakutkan. Rasanya ingin menangis, dan tepat saja airmatanya tanpa diperintah meluncur dari pelupuk matanya. Tanpa segan ia dekap tubuh menggigigil didepannya, ia dekap dengan tubuhnya yang tak kalah bergetar dengan tubuh laki-laki itu.

"Ughh... Sherin..."

"Iya, tenanglah. Ada aku, kau tidak apa-apa."

'Brengsek, kenapa tubuhku seperti ini? Sherin... Pergilah, aku tampak bodoh dihadapanmu sekarang. Benar-benar memalukan!'

"Pu-pulanglah, jangan pedulikan aku!" Sherin menggelengkan kepalanya, ia masih memeluk Luca.

"Tidak akan, sampai kau kembali seperti biasanya. Aku mohon, biarkan aku menemanimu sampai kau tenang. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu. Makanya, begini saja sudah cukup."

"Keras kepala, gadis bodoh." balas Luca, masih dengan rasa candu yang menguasainya.

"Yah, aku memang gadis bodoh. Makanya, karena aku bodoh. Aku tidak akan menyerah untukmu, aku tidak akan menyerah terhadap Luca Clayton, orang yang sebenarnya lebih bodoh dari aku."

"Tch, terserah kau! Hhh"

"Memang terserah aku... Luca bodoh."

Selang beberapa menit, secara ajaib 'penyakit' menyebalkan Luca menghilang perlahan-perlahan. Kini ia mulai merasa tenang dan 'normal' kembali. Senang, Sherin memeluknya seperti itu. Rasanya ia tidak ingin melepaskan tubuhnya dari wanita yang diam-diam ia sukai sejak bertahun-tahun yang lalu. Namun, egonya dan prinsip dirinya yang tinggi mampu menghancurkan keinginan terdalamnya itu.

"Hey, sampai kapan kau mau memelukku?"

"Ah! Ma-maaf, kau sudah merasa lebih baik?" dengan cepat Sherin melepaskan pelukannya dari Luca.

"Hn, sudah."

"Baguslah kalau begitu, err..."

"Pulanglah, gadis sepertimu tidak pantas berduaan dengan seorang laki-laki malam hari seperti ini." Sherin mengembungkan pipinya.

"Ya, aku mengerti."

"Hn." Luca pun bangkit dari bangku yang ia duduki, ia berdiri bersisian dengan Sherin, "tunggu apalagi? Kenapa masih diam disitu?" lanjutnya.

"Iya, iya. Tuan menyebalkan... Aku pulang, kau juga! Pulanglah, jangan berkelahi lagi seperti itu. Huh!" balas Sherin, ia balikkan tubuhnya, ia hentakan kakinya dan berjalan menuju rumahnya. Belum ada 10 langkah ia meninggalkan tempat itu, Luca berbicara kepadanya.

"Terimakasih Cherry!" Sherin cepat-cepat membalikkan kembali tubuhnya, berharap Luca mengucapkan kata-kata sihirnya itu dengan senyuman. Namun, harapan Sherin pun harus kembali pupus. Bukan senyuman yang ia dapatkan, melainkan punggung tegap Luca yang semakin menjauh dari pandangannya.

"Hm, yasudahlah. Begini saja sudah cukup."

Di Roxhas ada satu cafe kecil tidak terkenal yang menjadi tempat favorite Alf. Heran padahal tempat itu begitu nyaman dan masakan yang tersaji menyuguhkan cita rasa yang tinggi menurut Alf. Mungkin salah satu faktor terkuat cafe itu tidak terkenal adalah letaknya yang ada di sebuah jalan kecil yang agak sepi dan lumayan jauh dari pusat kota, sehingga tak banyak orang yang menginjakkan kakiknya ditempat itu. Tidak ada yang mengetahui bahwa diujung jalan dekat stasiun itu ada sebuah cafe, kecuali beberapa orang yang menjadi langganan tetapnya, seperti Alf.

"Jadi, Alf... Ceritanya bagaimana? Sampai kau dan Luca diserang preman-preman itu?" kata seorang pria yang berumur kisaran 34 tahun itu kepada Alf, "Lalu dimana pangeran es itu berada sekarang?" lanjutnya sambil meminum vanilla late hangat dari cangkirnya. Alf tidak langsung menjawab pertanyaan chef sekaligus pemilik cafe yang diberi nama Blossom's Cafe itu, ia memijit pelipisnya yang berdenyut.

"Sepertinya ini suruhan kakekku, paman tahu kan? Dia itu orang yang paling menyebalkan dan paling keras kepala di dunia, yah Luca sih kalah dibandingkan dia. Dan aku tidak tahu dimana Luca sekarang, aku harap dia bisa menahan dirinya." pria yang dipanggil paman itu terkekeh geli, "Yayaya, kau melakukan apa? Sampai beliau mengutus preman-preman itu untuk menyerangmu dan Luca?" tanyanya kembali.

"Dia saja yang berlebihan, padahal hanya karena aku menolak perjodohan itu dia bertindak gila. Kakek macam apa yang membuat cucunya dalam bahaya hah? Sampai-sampai sahabatku ikut-ikutan terluka. Memang dia itu mantan ketua mafia, oh ayolah ayah seorang kepala negara adalah mantan seorang mafia! Dunia benar-benar sudah gila kau tahu?" cerocos Alf.

"Yaaah, memang. Untung ini sudah malam dan tak ada pengunjung di cafe ini, kalau ada yang mendengarmu mungkin akan menjadi hot news dalam beberapa detik."

"Tidak lucu bukan George? Arghh, Luca kau dimana?"

"Aku disini." ucap Luca yang tiba-tiba saja muncul disamping Alf, ia hampir saja terjengkang dari kursinya kalau saja George tidak menahan punggung kursi itu.

"BODOH! Kau mengagetkanku!"

"Sorry..."

"Cih, menyebalkan."

"Hahaha... Sudah-sudah, Luca kau baik-baik saja kan?" tanya George mencoba meyakinkan keadaan satu-satunya anak dari mendiang kakaknya itu.

"Hn, aku baik-baik saja paman. Kau bisa melihatnya sendiri." jawab Luca diikuti anggukan dari George.

"Mati saja kau! Kau tidak kumat dijalanan kan?" sambung Alf.

"Hampir, tapi gara-gara dia aku tidak melakukan hal menjijikkan itu lagi." Alf dan George saling menukar pandang.

"Baiklah ku beritahu, saat aku berhasil lepas dari preman-preman keparat kiriman kakekmu itu, aku bertemu dengan Sherin dia memaksa mengobati lukaku. Padahal aku sangat ingin sekali melakukan hal 'itu', aku bersyukur dia datang."

"Waaaw, kemajuan pesat teman. Kau berhasil menahan dirimu! Menurutku keberadaan dia akan menjadi keuntungan untukmu, mungkin Sherin bisa membuat penyakitmu itu sembuh." seru Alf ceria.

"Entahlah, aku masih sangat takut. Disentuh olehnya seperti tadi malah membuatku ingin merasakan bagaimana jika dia yang melakukan hal 'itu' kepadaku. Kalian tahu ini sangat memuakkan." Alf memandang sahabatnya itu penuh rasa kasihan, bagaimana pun juga pasti sulit menerima sesuatu yang janggal dan lain dari yang lain. Ia hanya bisa menepuk bahu sahabatnya itu, dan berkata "Kita bisa mengatasinya, aku akan selalu membantumu dan mendukungmu Luca." Luca pun hanya tersenyum, senyuman yang hanya ia berikan kepada Alf sahabatnya.

George tersenyum simpul melihat keakraban remaja itu, ia tampak menerawang. Matanya sedikit berkaca-kaca dibuatnya, kembali ia teringat mendiang kakak laki-lakinya beserta mendiang kakak iparnya yang meninggal beberapa tahun yang lalu. Kejadian tragis itu pun berkelebatan lagi diingatannya.

to be continued

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .