
Saat yang ditunggu-tunggunya akhirnya datang. Namun, Sherin menyadari bahwa kisahnya dan laki-laki yang dicintainya itu belumlah usai. Ini adalah awal dari perjuangan untuk mendapatkan kebahagiaannya dan kebahagiaan Luca. Chapter 12 is up! Mind to RnR?
Rated: Fiction T - Indonesian - Romance/Hurt/Comfort - Chapters: 13 - Words: 24,945 - Reviews: 14 - Favs: 6 - Follows: 7 - Updated: 03-23-13 - Published: 05-18-12 - id: 3023789
|
|
A+ A- |
Tell Me About Happiness and Of Course About Love
Chapter 7
WARNING :
Masochism, kesadisan. Sejenisnya lah pokoknya.
Nama tempat hanya fiksi belaka, bila ada kesamaan itu hanya unsur tidak kesengajaan.
Sudut Pandang ganti-ganti.
.
.
.
Cukup!
Otak dan tubuhnya berontak ketika slide-slide masa lalunya kembali berputar dalam poros otaknya.
Ia lelah...
Ia hanya ingin diam.
Ia hanya ingin tidak ada seorang pun atau sesuatu yang merusak suasana.
Sekali lagi ia hanya ingin diam.
Ya, diam.
Tidak melakukan apa-apa sepertinya lebih baik untuknya.
Bersembunyi dan tidak berbunyi.
Sama sekali sunyi.
Angin pagi ini berhembus kencang. Menggugurkan dedaunan kering yang telah menguning dari ranting pepohonan besar di sepanjang jalan. Sherin gadis beriris indah itu tergesa-gesa memasukkan buku-buku sekolahnya kedalam tas selempangnya, ia periksa kembali isi tasnya memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Kaki jenjangnya berlarian di tangga rumahnya, menimbulkan bunyi bising. Tanpa aba-aba ia menyambar segelas susu dan sepotong roti tawar yang ada di meja makan, ia habiskan susu itu dalam hitungan detik dan menggigit rotinya sembarangan, "aku pergi ya bu, pap, kak!" ujarnya seraya pergi meninggalkan rumah, ketiga anggota keluarga itu saling bertukar pandang, mengangkat bahu, dan menghela nafas berat.
"Hah, anak itu..."
Pagi ini Sherin mengutuk alarm weker-nya yang tidak berfungsi, ditambah tak ada satu orang pun anggota keluarganya yang membangunkannya. Oh ayolah, kenapa tidak ada yang peduli padanya?
.
.
.
Sherin menatap kosong kaleng susu yang beberapa menit lalu telah ia habiskan, kali ini binar matanya meredup, ia ketukan jari telunjuknya pada kaleng di genggamannya, kemudian membuangnya kedalam bak sampah disamping tempat duduk yang ia tempati saat ini, kini dirinya dan Alf tengah menikmati waktu istirahat di gedung atas sekolah ―atap.
"Berapa lama?" suaranya terdengar lirih. Ia angkat kepalanya yang semula menunduk untuk melihat lawan bicaranya. Alf tampak tidak mengerti apa yang gadis itu ucapkan, "maksudmu?" tanyanya.
"Luca, maksudku berapa lama lagi aku harus mati-matian mendapatkan hatinya?"
"Ah, entahlah. Aku juga tidak tahu." Alf tersenyum miris, ia tampak sedikit berhati-hati dengan ucapannya.
"Apa memang tidak ada kesempatan untukku? Padahal aku yakin, dia juga menyukaiku. Walaupun sikapnya terkadang membuatku bingung. Dia itu, apa ada sesuatu yang dia sembunyikan Alf?" Sherin menatap Alf penuh tanya.
Sherin's POV
Hari ini aku masih bertahan, bertahan untuk mencintainya, bertahan untuk memperjuangkan perasaanku kepadanya meskipun dia tidak. Entah apa yang membuatku sesibuk ini memperhatikannya di setiap hari. Padahal satu sapaan pesan panjang yang kukirim padanya tiap pagi, hanya mendapat balasan singkat. Terkadang tak pernah ada satupun balasan darinya. Saat bertemu pun tak pernah dia menegurku terlebih dahulu, dia juga jarang menatapku seperti halnya yang aku lakukan kepadanya. Ah, tapi aku pikir akhir-akhir ini dia berubah. Dia bertindak seolah-olah dia memberikanku harapan, aku yakin dari sorot matanya yang dulu tak pernah bisa aku baca, tapi sekarang sinar onyx itu tampak menunjukkan ekspresi yang beragam. Ya Tuhan, apa artinya ini? Bertahan sampai gunung es itu mencair ataukah berhenti dan melupakan keberadaannya? Aku benar-benar tak tahan lagi menahannya. Rasa sakit yang mendalam ketika melihatnya, melihatnya mengabaikanku begitu saja, apakah kejadian kemarin malam pun saat dia mengantarkan aku pulang sudah dilupakan begitu saja? Mengapa Kau menciptakan makhluk seperti dia Tuhan? Mengapa kau harus memberikan aku perasaan menyesakkan ini untuknya? Andai saja... Andai saja yang kucintai adalah laki-laki dihadapanku saat ini, andai saja Alf yang aku cintai... Apakah perasaan menyesakkan itu akan hilang?
Bodoh, bodoh, aku bodoh! Luca bodoh!
Sherin's POV End
"Tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan, aku yakin hasil akhirnya akan bahagia. Percayalah Sherin, tak ada sesuatu hal pun yang ia sembunyikan. Kalau pun ada, suatu hari nanti dia akan membicarakannya denganmu." Alf menatap sekumpulan awan yang berarak di atas langit, ia tersenyum, kemudian melanjutkan perkataannya, "aku akan memberikan satu rahasia padamu, Luca mencintaimu jauh sebelum kau mencintainya."
.
.
.
Langit menjadi tidak pasti bagi Bulan.
Walaupun Langit mau bersamanya.
Bulan berusaha sekuat tenaga dan menyayangi Langit dengan sepenuh hati.
Tapi...
Tetap saja belum pasti mereka bisa berbahagia dengan saling memiliki.
Dan akankah akhirnya Langit menjadi kelabu?
Ketika Bulan memilih untuk berlalu.
Bangunan megah berlatar pohon mahogany tua di pelataran menjulang tinggi. Rasa hangat mulai menjalar melalui nadi ke jantung laki-laki yang seharusnya saat ini berada di sekolahnya yang tak kalah megah dengan bangunan didepannya. Irama deguban jantungnya mulai tak beraturan. Terlihat pintu depan bangunan yang lebih cocok disebut kastil itu terbuka. Seorang wanita dengan blezzer merah berdiri di ambang pintu, dengan sebuah ponsel yang tergenggam di tangan kanannya. Kemudian ia memasukkan ponselnya kedalam saku blezzer-nya, tersenyum ke arah dua orang pria berbeda umur dihadapannya dan mempersilahkan keduanya masuk.
Tirai beludru kecil yang menghiasi jendela bergerak melambai-lambai oleh sentuhan lembut angin, membuat tengkuk Luca bergidik pelan. Dinding batu bata tertata rapi, rak-rak buku yang terisi beragam macam jenis buku dan foto-foto yang di desain semacam scrapbook di dekat kaca besar disamping pintu membuat Luca takjub, meskipun ini bukan pertama kalinya ia mengunjungi tempat itu. Sungguh desain interior yang mampu membuat siapa saja terperangah berkali-kali. Ah, seketika Luca teringat alasan ia dan pamannya datang ke tempat itu. Psikiater. Ya bangunan itu tempat sang psikiater tinggal.
"Duduklah," ujar wanita bernama Kyran itu ramah. Luca dan George pun duduk di atas sofa empuk berbahan beludru ungu di ruang tamu rumahnya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Kyran kemudian kepada Luca. Luca membenarkan posisi duduknya, menatap psikiater muda itu dengan tatapan jengah, "tak ada perubahan." Katanya.
George menggeleng dan memberi tatapan meminta maaf untuk perlakuan keponakannya itu kepada teman lamanya ―Kyran. Kyran membalasnya dengan anggukan dan senyum maklum, ia menghela napasnya halus, "benarkah begitu? Buruk sekali, apa aku berhenti saja jadi seorang psikiater ya?" candanya, Luca mencibir. George menatap tajam keponakannya, "berlakulah sopan Luca!" perintahnya.
"Hahaha, sudahlah George tak apa. Aku mengerti bagaimana perilaku remaja yang masih labil. Ehem.. jika tidak ada perubahan, aku rasa terapimu harus lebih ekstra ketat mulai sekarang. Apa perlu aku mengawasimu eh?" Kyran tersenyum lebar.
"Mengawasiku? Jangan bodoh!" Luca mendelik, "aku sudah berusaha menahannya, tapi perasaan itu selalu muncul." Sambungnya.
Kyran mengangguk-anggukan kepalanya sebanyak 3 kali, senyuman lebar tak lepas dari bibirnya.
"Cobalah mengalihkannya dengan hal-hal lain, kau bisa memperbanyak kegiatanmu di luar sana. Yah, berkumpul dengan teman-temanmu juga bisa. Jangan mengurung dirimu sendiri, atau... Kau bisa mencari pacar?" katanya. Luca hampir saja tersedak dengan salivanya sendiri, ia telan salivanya dengan cepat kemudian mengontrol dirinya kembali.
"Tch, omong kosong!"
.
.
.
"Ka―kau... bohong, kan?" Seketika Sherin tersentak dengan apa yang baru saja terlontar dari mulut Alf.
Alf menggelengkan kepalanya pelan. "Untuk apa aku berbohong?" kembali Alf meyakinkan gadis itu.
"Benarkah?"
"Ya." Alf menganggukan kepalanya dan tersenyum.
"Ta−tapi―ini mustahil kau tahu? Sejak 7 tahun yang lalu? Bahkan aku belum mengenalnya, maksudku aku tahu dia, tapi aku..."
"Tak ada yang mustahil jika Tuhan sudah berkehendak Sherin, kau boleh saja terus menyangkalnya. Tapi yang aku katakan itu memang kenyataannya, ummh dan aku harap kau tidak memberitahu Luca kalau aku membocorkan rahasianya," Alf terkekeh geli, Sherin menggembungkan pipinya.
"Kalau dia mencintaiku, kenapa sifatnya seperti itu?"
Alf merenggangkan kedua tangannya, "yah~ pasti ada alasannya. Tunggulah sampai dia siap menceritakan semuanya padamu." Katanya.
Rasa penasaran semakin menjera Sherin, Luca benar-benar penuh misteri menurutnya. Entah sampai kapan misteri itu terkuak. Hanya Tuhan yang tahu, dan ia berharap Tuhan dengan cepat memberinya izin untuk menguak misteri itu dengan segera. Semoga saja.
Kemudian Sherin menatap layar ponselnya. Satu pesan baru. Jarinya meng-scroll trackpad ponsel barunya itu, berhati-hati membuka pesan itu dan membacanya. Jantungnya berpacu, deretan alfabet yang sudah ia hapal diluar kepalanya itu menghiasi layar ponselnya. Luca membalas pesan singkatnya beberapa menit yang lalu. Sherin memberi tatapan berbinar kepada Alf, Alf terkikik geli dan melihat layar ponsel yang disodorkan ke arahnya. Alf menyeringai melihat rona semu di wajah milik sahabatnya itu.
Pesan yang berisikan alasan mengapa Luca absen hari ini benar-benar membuat Sherin mabuk kepayang, tentu saja karena bumbu manis di akhir pesan itu.
"Kau rindu padaku eh? Cherry?" Alf membaca pesan itu dengan suara lantang. Sherin mendelik ke arahnya dan memukul bahu Alf pelan, "Alf~ memalukan. Jangan membacanya dengan suaramu itu, baca saja didalam hati. Bodoh!"
"Hahahaha, bisa juga dia meng-gombal seperti itu. Aku pikir dia akan beku selamanya." Ujar Alf masih dengan kikikannya.
Sherin meletakkan ponselnya kembali kedalam saku seragamnya dan mulai membaca novel yang belum selesai ia baca, sambil berharap hubungannya dengan Luca akan membaik dan tentu saja berlanjut ketahap yang jauh lebih baik.
Tawa Alf mereda, "kau tidak membalas pesannya?" tanyanya kemudian. Sherin menggelengkan kepalanya tanpa sepatah kata pun.
"Kenapa?"
"Jawaban apa yang akan aku berikan? Memberitahunya bahwa aku merindukannya begitu? Benar-benar memalukan Alf, nanti dia malah ilfeel padaku." Sherin membuka bab selanjutnya dari novel yang ia baca, kemudian berhenti sejenak. Pandangannya beralih, ia tatap penuh arti laki-laki dengan kacamata yang membingkai manis di wajahnya itu.
"Alf," katanya, ia memberikan jeda. Alf menatapnya bingung.
"Apa?"
"Terimakasih sudah memberiku semangat."
Alf tersenyum, "Ah, tak usah sungkan."
"Kau sahabat yang baik." Sherin memeluk Alf dengan cepat, hal ini membuat tubuh Alf sedikit mundur, namun ia berhasil menjaga keseimbangannya sehingga tidak terjatuh.
"Aku menyayangimu," ucap Sherin kemudian.
Alf terdiam. Tak tahu apa yang harus ia katakan.
"Aku juga menyayangimu." Balasnya membalas pelukan Sherin dengan tangan yang sedikit bergetar.
.
.
.
Aku juga menyayangimu Sherin―aku mencintaimu.
Aku pengecut.
Aku tahu.
.
.
.
to be continued
|
||||||