
BL/MC - 17 tahun yang lalu, Joshua dan Jeremy adalah bayi kembar yang dipisahkan. Dan kini , Andrew, seorang psikolog handal menyatukan keduanya. Andrew berhasil menemukan kedua kembar yang ternyata sama-mengidap schizophrenia.
Rated: Fiction M - Indonesian - Romance/Hurt/Comfort - Words: 3,764 - Reviews: 4 - Follows: 1 - Published: 05-25-12 - id: 3025889
|
|
A+ A- |
"PARCHMENT"
Original Fiction Written by Nero © 2012
Disclaimer :
All of story contents belong to me. This is just a work of pure fiction. I don't take any material profit from this work. Don't copy, don't re-link, and don't re-share without permission. Plagiarisms aren't allowed here!
Genre – Rate :
Romance – Drama – Angst
Mature – PG 18+
Warnings :
Boys Love – Male x Male
Don't copy, don't re-link, and don't re-share without permission. Plagiarisms aren't allowed here!
…
~CHAPTER I~
Pemuda itu tercenung.
Caramel-nya memandang kosong atas lautan rumput yang bergoyang di depannya. Bergoyang tertiup angin yang terlalu lancang mempermainkannya. Entah apa yang ada di pikirannya. Ia bergeming. Bahkan ketika warna jingga terbias sempurna di atas langit yang memayunginya. Mau pun suara pintu di belakangnya yang terbuka pelan. Sosok lain masuk ke ruangan dan berdiri di belakangnya.
"Hallo, Joshua."
Sosok itu menyapanya. Lembut.
Dan pemuda bernama Joshua itu seolah tak mendengar, pun ketika sosok di belakangnya itu melanjutkan kalimatnya.
"Aku ingin berteman denganmu… namaku Andrew. Salam kenal…"
Joshua menoleh dan menatap dengan pandangan datar.
"Aku tidak butuh teman. Menjauhlah dariku."
.
.
.
"Kau tahu, Jeremy? Kenapa hujan begitu dingin?"
"…"
"Karena dalam keheningan dan kesedihan, kita bisa saling memeluk dan berbagi kehangatan, kesedihan, dan penderitaan... Tanpa perlu nada, tanpa suara. Hingga saat nanti hujan berhenti, semua itu akan luruh bersamanya..."
"Hujan akan menyisakan mendung, Arthur."
"Tidak, Jeremy. Langit tetap biru dan akan kembali biru dengan lengkung pelangi di sisinya…"
"…."
"Aku ingin melewati hari bersamamu... Maukah kau selalu bersamaku, Jeremy?"
.
.
.
"Mama sangat mencintaimu, Jeremy. Mati untukmu pun aku rela. Cintaku sudah habis untukmu."
"Hentikan! Hentikan semua kata-kata cintamu. Aku tak ingin mendengar semua itu! Jangan sakiti aku dengan kata-kata itu… Kenapa kau selalu berkata seperti itu… padahal kau membenciku…"
"Aku sangat bangga sudah melahirkanmu…"
"Aku tidak ingin kata-kata itu! Jangan paksakan padaku. Kalau kau benci katakan saja, Mama!"
.
.
"Ya, Jake. Aku sangat membenci Jeremy! Dia yang membuat papamu menceraikanku dan pergi. Aku tidak ingin melihatnya. Dia adalah anak yang tidak kuinginkan! Aku membenci Jeremy, Jake! Sangat benci!"
.
.
"Jeremy-ku yang manis. Aku tidak ingin kau pergi keluar, karena aku ingin menyimpan wajah manismu itu untukku sendiri. Aku sangat mencintaimuJeremy. Mama mencintaimu…"
.
.
"Mama apa yang kau lakukan pada Jeremy! Kau menyakitinya!"
"Tidak, Jake. Aku tidak menyakitinya, karena aku mencintai Jeremy kecilku."
"Ikatanmu itu menyakitinya! Lepaskan tali-tali itu kumohon!"
"Kenapa kau membelanya, Jake? Kenapa kau membela setan kecil itu!"
"Dia kakakku. Bagaimanapun Jeremy, adalah kakak-ku. AKU MENYAYANGI JEREMY. Tidak sepertimu, Mama!"
…
kau tahu kenapa aku berani menjatuhkan pilihan padamu?
memasrahkan hidupku padamu?
karena aku tahu…
hanya kau yang mencintaiku dengan caramu
bukan sekedar dengan kata-katamu
dan
hanya kau juga yang bisa membawaku melewati semua ini
tanpa harus terluka untuk kedua kali…
…
"—Goleman pada tahun 1995 menyatakan bahwa; emosi merujuk pada suatu perasaan atau pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis serta serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Sementara Lewis dan Rosenblum mengutarkan proses terjadinya emosi melalui lima tahapan. Yaitu: elicitors, receptors, state, expression, dan terakhir—!"
Pemuda berambut sewarna kayu ebony bernama Joshua itu masih termenung di bangkunya, deretan tengah dalam ruangan lebar ini. Mata redupnya lurus ke depan, ke arah sang dosen yang tengah menerangkan mata kuliah Emotional Education dengan tangan yang sesekali bergerak untuk memperjelas keterangannya. Padahal pikiran pemuda berwajah alabaster itu mengembara bersama seluruh hati dan perasaanya seiring makin mengaburnya sosok sang dosen dan ruangan yang dicat warna broken white dengan Air Conditioner yang terpasang di sudut-sudut kelas.
"Kau bosan?" suara seorang pemuda mendadak membuat Joshua terkejut. Joshua menoleh dan menemukan sosok pemuda manis yang tengah tersenyum lebar ke arahnya.
"Adam…" jawab Joshua hampir berbisik.
Matanya menatap pandangan latar sekitarnya yang kini berubah.
Tak ada lagi bangku-bangku dengan mahasiawa yang duduk terkantuk-kantuk di atasnya maupun dosen tua yang suaranya berdengung mencoba mengalahkan suara salah satu AC yang rusak di sudut belakang kelas. Jendela-jendela tinggi dengan pinggiran besi yang mengurung kelasnya di lantai tiga juga telah menghilang.
Kini di hadapannya terbentang lautan bunga matahari yang menunjukkan warna cerahnya dengan angkuh. Mencoba bersaing dengan eksistensi matahari di atasnya yang meredup di bawah langit biru. Suara angin membisikkan bahasa halus dedaunan dan aroma sun flower. Riak gelombang lautan sun flower menyambut mesra keheningan dan keindahan itu.
"Kau seharusnya tidak membawaku ke sini," sentak Joshua seraya menjulurkan tangannya untuk menjitak sosok di sisinya, yang sayangnya berkelit dengan lincah membuat tangan Joshua menyentuh udara kosong.
"Why? Di sini indah," bela Adam yang mendudukkan diri di atas rerumputan di pinggir lautan matahari.
"Kau tahu 'kan aku tidak suka bunga."
"Tapi aku suka." Adam terkekeh.
Joshua mengerucutkan bibirnya. "Kau itu egois sekali."
"Walaupun begitu kau menyukaiku, 'kan?" Adam melemparkan lirikan menggoda yang membuat Joshua segera memalingkan muka ke arah riak kelopak bunga di depannya. Semburat merah yang nyaris tak terlihat terbentuk di tulang pipi pucatnya.
"Hah, sekali-sekali pilihlah tempat yang jauh dari bunga." Joshua mendesah. Tangannya bergerak memeluk kakinya dan menjatuhkan dagunya di belahan lutut. "Kemarin kau membawaku ke padang Red Carnation, sebelumnya lagi Red Cattleya. Dan sekarang sun flower. Benar-benar perbedaan yang dramatis."
Adam terkekeh semakin keras. Tangannya terjulur mengusap surai Joshua lembut.
"Kau seharusnya tahu arti dari bunga-bunga itu, Joshie," ucap Adam setelah tawanya reda.
"Memangnya kau tahu artinya?" Joshua mengangkat wajahnya dan menatap Adam penasaran.
"Tentu saja." Adam menepuk dadanya bangga. "Red Carnation flower itu artinya—!"
'Kringgg…'
Suara bel yang mendadak terdengar menyadarkan Joshua bahwa ia masih di kelas, sekaligus menghilangkan hamparan bunga matahari di depannya. Jeremy kembali berada dalam ruangan dengan bangku-bangku yang kini mulai kosong dan dengung AC yang rusak di sudut belakang.
Sosok sang dosen mulai melangkah keluar kelas, dan Joshua sempat menangkap mata itu menatapnya. Menatap dengan sorot mata yang sudah sering ia jumpai berbulan-bulan ini. Joshua sudah menebak, dosen tua itu menyadari bahwa dirinya tak memperhatikan apa yang diterangkannya di depan kelas tadi. Masa bodoh! Satu-satunya yang dipikirkannya adalah sosok manis Adam yang berdiri di pintu dan kini tersenyum ke arahnya seraya melambaikan tangannya.
Tanpa membuang waktu Joshua beranjak dari duduknya. Tangan pucatnya dengan terampil mengemasi buku-bukunya yang bertebaran. Lantas menyampirkan tas dan melangkah menuju pintu kelas.
"Ayo…" ucapnya pada Adam yang segera disambut dengan anggukan dan bergegas keduanya berjalan menuju tangga yang akan membawa mereka ke lantai bawah.
Joshua bukannya tak menyadari tatapan teman-temannya yang menghujam ke arahnya. Namun mereka tak berkata apa pun. Bahkan tak ada yang mencoba menahan Joshua dengan pertanyaan-pertanyaan penuh selidik.
"Bolos lagi?" tanya Adam yang tengah berjalan seraya melipat tangan di sampingnya. Joshua mengangguk singkat. Pemuda itu sudah terbiasa dengan kepulangannya sebelum jam kuliah berikutnya usai.
"Bolos bukan salah satu cara menghilangkan kebosanan," nasihat Adam saat mereka tengah duduk di salah satu bangku taman kampus. Joshua hanya meneleng-nelengkan kepalanya dan sesekali menjilat ice cream di tangannya. Seolah tak peduli dengan nasihat pemuda di sisinya maupun tatapan iba dan menusuk yang lagi-lagi di terimanya dari mahasiswa yang berlalu lalang di taman.
"Memang bukan. Tapi di kelas juga hanya menambah kebosananku," jawab Joshua acuh. "Yah! Kau ini kenapa mendadak sok begini?"
Joshua menatap Adam horor yang hanya di balas senyum di sudut bibir Adam.
"Entahlah. Hanya tidak ingin saja melihatmu seperti ini terus."
Joshua mendadak menunduk mendengar kalimat Adam barusan, manik caramel itu menatap sepatu putihnya, nanar...
…
Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi.
Andrew baru saja hendak pergi ke Medical Research Center saat terdengar bel apartment-nya berbunyi nyaring. Bergegas pemuda itu meletakkan dasi yang belum sempat dikenakannya dan berjalan untuk membuka pintu. Seseorang yang nekat bertamu pagi-pagi tentu orang penting. Andrew sejenak mengambil keycard dan tergesa untuk membuka pintu, karena bel yang tidak henti-hentinya berbunyi di luar.
"Hal— Joshua?" Andrew menatap pemuda berwajah pucat dengan tas yang terselempang asal di bahunya itu saat pintu berhasil ia buka. "Kau sudah pulang kuliah?"
"Matamu tidak melihat kalau aku sudah di sini, huh?" Kalimat yang terdengar dari mulut pemuda itu sangat tajam, membuat senyum ramah Andrew berganti dengan senyum getir.
"Aa…" Andrew menjawab singkat. "Aku sudah memberimu kunci apartment ini, 'kan? Besok-besok lagi kau bisa langsung masuk saja."
Joshua terdiam. Dengan wajah dingin dia berjalan melewati Andrew.
"Kau tidak bolos lagi, 'kan?" tanya Andrew sebelum pemuda itu lenyap di kamarnya. Tubuhnya sedikit terhuyung saat entah sengaja atau tidak Joshua menyerempetnya dengan kasar saat berjalan tadi.
Joshua tak menjawab.
'Brak.'
Hanya bantingan pintu kamar yang terdengar keras sebagai jawaban untuk pertanyaan Andrew. Mata onyx Andrew menatap pintu yang tertutup itu nanar. Ada belati tajam yang rasanya mengoyak ulu hatinya begitu kuat.
Andrew telah siap berangkat ke MRC. Pemuda itu mulai menenteng tasnya dengan jas yang masih tersampir di bahunya. Langkahnya pelan saat ia berjalan menuju kamar Joshua. Tangannya terjulur untuk mengetuk pintu dan memberitahu Joshua bahwa ia akan berangkat ke MRC. Namun gerakan tangan berwarna eksotis itu terhenti. Lagi-lagi ia mendengar suara-suara yang sudah dihafalnya sejak kedatangan 'Joshua di apartment-nya itu. Terdengar gelak tawa Joshua. Seolah ia tak tertawa sendirian.
Namun berkali-kali yang Andrew lihat dari CCTV yang memang terpasang di beberapa sudut apartment-nya itu tak menujukkan sosok lain di samping Joshua. Pemuda itu sendirian.
Bicara sendirian.
Tapi sikapnya seolah ada orang lain yang sedang berinteraksi dengannya.
Andrew berkali-kali mencoba agar Joshua mau mengenalkan 'teman khayalannya' itu. Tapi pemuda itu selalu menolak dan bersikap sangat kasar kepada Andrew. Sikap yang sangat berbeda dengan Jeremy-nya, bahkan yang membuat Andrew merasa gagal adalah, sosok tak terlihat itu seolah lebih bisa mengerti Joshua.
Dan Andrew pernah mendengar Joshua memanggil sosok itu dengan nama… 'Adam'.
"Joshua?"panggil Andrew dari luar kamar. Tawa Joshua masih terdengar.
"Joshua?" ulang Andrew sekali lagi.
"What?" terdengar sahutan kasar dari dalam.
"Aku berangkat dulu… makan sudah kusiapkan di meja. Ajak Jeremy makan jika ia susah pulang sekolah nanti…" petuah Andrew panjang.
Tak ada jawaban dari dalam. Andrew menunggu.
Dan tak lama kemudin terdengar lagi suara tawa Joshua.
Andrew menghela napas dan segera beranjak menjauh dari kamar itu untuk beragkat ke MRC.
…
Pemuda berlesung pipi saat tersenyum itu terisak di bahu seorang pemuda lain berwajah keibuan bernama Danny. Tak ada suara yang terdominansi warna putih khas ruang pengobatan di MRC itu. Hanya isakan lirih yang sesekali terdengar.
Di sisi mereka ada sosok Casey yang juga menatap nanar.
"Andrew..." panggil Leeteuk lirih. "Aku tahu ini berat bagimu."
Andrew terdiam, tak juga mengalihkan isakannya pada bahu Leeteuk. Ada kepedihan yang dalam yang membuat seorang Andrew menangis.
"Menangani dua orang dengan wajah sama... dan sama-sama mengalami masalah mental tentu bukan hal yang mudah."
"Aku tak tahu... Apa aku bisa..." ucap Andrew lirih di sela isaknya.
Danny mengangkat kepala bersurai hitam itu. Memaksanya untuk membalas tatapannya. Mata indah Danny beradu dengan manik berair seorang Andrew.
"Aku tahu kau bisa. Kita bisa melewati semua ini. Tak ada salah satu dari mereka yang harus kau prioritaskan. Yang ada hanyalah beri waktu yang sama untuk kau sembuhkan, okay?"
"Andrew?"
Tiga mata itu menoleh ke arah pintu dan menemukan sosok Jeremy. Di sisinya ada Arthur yang menunggu dengan raut tak sabar.
Tergeragap Andrew segera mengusap air matanya. Berusaha agar Jeremy tidak melihat butiran bening yang sempat membasahi jas dokter Leeteuk.
"Ya?" sahut Andrew lembut. Pemuda itu segera bangkit dan berjalan mendekat ke arah Jeremy.
"Bolehkah malam ini aku menginap di tempat Arthur?" pinta Jeremy seraya menatap mata Andrew memohon.
"Kenapa harus menginap?" tanya Andrew.
"Kau tahu aku tak tahan dengan pemuda berwajah sama denganku itu," ucap Jeremy jujur. "Dia lebih menakutkan daripada aku."
Andrew tersenyum getir. Di belakangnya Danny dan Casey saling melempar pandang.
"Baiklah. Tapi hanya malam ini, okay?" Andrew mengusap kepala Jeremy lembut. "Bagaimanapun kau harus mencoba membiasakan hidup dengan Joshua."
"Okay. Thanks." Jeremy mengangguk. Tubuhnya sedikit berjinjit untuk memberi kecupan singkat pada Andrew yang lebih tinggi darinya.
"Ayo, Arthur!" Pemuda itu segera berbalik dan meninggalkan Andrew yang cengok dengan keberaniannya ntuk menciumnya di depan orang barusan.
Andrew menunduk. Menatap dinginnya lantai yang baru saja menjadi tempat berpijak Jeremy.
"Andrew…" panggil Danny pelan, setelah cukup lama pemuda itu terpaku di depan pintu. Andrew melirik sejenak. Memberi tanda bahwa ia mendengarkan.
"Aku yakin. Dua orang itu akan saling mengerti."
"Aku harap juga begitu…" ucap Andrew lirih. Pemuda itu terjebak dalam pusaran pikiran apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dalam hidupnya…
Dengan dua orang pemuda yang 'sama' di sisinya…
Andrew tersenyum. Mencoba tersenyum. Berharap menemukan satu hal yang bisa membuatnya bertahan.
'Tuhan…'
'Saat ini aku bergantung pada-Mu…' Dengan dua orang pemuda yang 'sama' di sisinya…
Joshua, seorang pria yang mengalami trauma setelah membunuh kekasihnya sendiri. Sementara Jeremy…
Andrew tersenyum. Mencoba tersenyum. Berharap menemukan satu hal yang bisa membuatnya bertahan. Kenangannya saat pertama bertemu dengan Jeremy. Namun, tak ada yang lebih baik antara keduanya.
…
Entah sudah berapa lama Arthur membuat minuman di dapur saat ia kembali ke kamarnya. Arthur memutuskan untuk masuk sebelum telinganya lebih dulu menangkap sebuah isakan lirih.
"Maaf, Jake. Maafkan aku. Aku tahu aku salah. Sesuai permintaanmu aku akan mati. Aku akan menyusulmu, Jake."
Arthur tercekat. Dengan siapa Jeremy berbicara. Bukankah tak ada siapa pun di apartment-nya….
Dengan gerakan cepat didobraknya pintu rapuh itu. Tubuhnya segera melesat ke dalam. Dan matanya membulat sempurna menemukan sosok Jeremy tengah meringkuk, kedua lututnya terlipat ke dada, dan tubuhnya bergoyang ke belakang dan ke depan. Kamarnya yang baru saja ia tinggalkan terlihat begitu berantakan. Jangan-jangan Jeremy….
"Maaf, Jake. Maafkan aku." Kata-kata itu terus diulang-ulangnya. Dan wajah alabaster itu pun sudah tercetak jelas jejak-jejak airmata.
"Jeremy…" panggil Arthur pelan.
Jeremy tak menjawab. Ia justru membenamkan kepalanya di antara kedua lututnya. Ia terisak, tampak dari bahunya yang berguncang.
Dan akhirnya Arthur berjongkok di depan sosok yang tengah terisak itu.
"Jangan mendekat… menjauhlah dariku…" usir Jeremy tersendat.
Tak kuasa melihat apa yang ada di depannya, Arthur bergerak maju. Diangkatnya kepala bersurai ebony itu. Dipeluknya erat. Membiarkan tetesan air mata hangat itu mengalir membasahi kemejanya.
"Aku… aku takut. Tapi, ini semua bukan salahku."
"Sshh, aku tahu."
"Tidak kau tidak tahu. Jake akan membunuhku. Dia ingin aku mati…"
"Tidak ada yang akan membunuhmu atau menyakitimu," ucap Arthur lagi. Hatinya teriris melihat sosok yang tengah meringkuk tak berdaya dalam pelukannya.
Sejak pertama Jeremy menjadi murid baru di kelasnya, ia tahu. Ada luka yang ditanggung pemuda bersuara indah itu. Ada duka yang disembunyikannya melalui wajahnya yang selalu terlihat ceria. Dan ia tahu tanpa Jeremy mengatakannya. Arthur tahu, bahkan saat teman-temannya yang lain tidak tahu alasan Jeremy sering berteriak seperti ketakutan di kelas mereka. Menghancurkan kelas mereka. Arthur tahu. Dan ia satu-satunya orang yang akan mendekati Jeremy saat itu terjadi. Arthur menatap luka di tangannya. Luka karena goresan kayu dan kaca–yang di dapatnya saat ia mendekati Jeremy, dan itu tidak hanya satu. Tapi, Arthur tak ingin menyerah. "Aku tak akan membiarkan itu terjadi."
"Jake akan membunuhku. Dia tidak akan membiarkanku hidup… Aku… aku tahu kalau dia tidak membunuh mama. Semua itu tidak sengaja. Bukan Jake yang membunuh mama." Jeremy semakin terisak. "Aku tahu semua itu. Namun karena aku takut, aku tidak mengatakan apa-apa. Aku tidak membela Jake. Ketakutanku, keegoisanku, dan karena aku terlalu pengecutlah adikku harus mati dan menanggung semuanya. Dan sekarang… ia ingin membalasku."
…
"Nama lengkapnya Jeremy William, dia tinggal sendirian di sebuah kontrakan kecil di kawasan kumuh dan rawan pinggir kota. Tidak jauh dari sekolahan ini," terang Kepala Sekolah Altair pada Arthur yang mendengarkan dengan seksama di depannya.
"Dia tinggal dengan siapa?" tanya Arthur.
Kepala Sekolah yang terlihat berwibawa itu menghela napas panjang, "Itulah masalahnya. Dia tinggal sendirian. Ayahnya cerai dengan mama-nya, dan kemudian terdengar kabar kalau beliau meninggal di Amerika, itu saat Jeremy berusia empat tahun. Setelah itu dia tinggal dengan mama dan seorang adiknya. Dan kejadian itu…"
"Kejadian apa itu…?"
Raut kesedihan mulai terlihat di wajah sang kepala sekolah.
"Jake, saudara dari Jeremy ditemukan membunuh sang mama…"
"Me—membunuh?" Arthur tercekat.
Kepala Sekolah itu mengangguk kecil. "Sepertinya itu karena Jake merasa tertekan dengan sikap mama-nya kelewat keras dan bisa di katakan bukan wanita baik-baik. Dan itu belum selesai, karena setelah itu Jake di penjara, namun akhirnya entah bagaimana caranya, dia bisa bunuh diri di dalam penjara. Dan sejak saat itu Jeremy mulai hidup sendirian. Itu menjadi alasan dia masuk sekolah ini. Arthur, aku tahu kau bisa mengerti dia. Tolong bantu dia."
…
Arthur memaksa sosok Jeremy menatapnya. Onyx-nya menatap caramel yang kini telah memerah. Diremasnya surai hitam itu pelan.
"Tatap aku. Tak ada yang akan menyakitimu. Apalagi membunuhmu. Aku janji Jake sudah tidak ada. Hanya ada kita! Kau dan aku! Jake yang bunuh diri bukan salahmu. Itu karena pilihannya sendiri. Dia tidak akan membalas dendam padamu. Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi. Karena aku tak akan meninggalkanmu. Jake menyayangimu. Sangat menyayangimu. Karena itulah dia ingin kau tetap hidup."
"Kubilang menjauh dariku!" Jeremy tiba-tiba menyentakkan tangan Arthur dan berdiri. "Menjauhlah dariku!"
Mata yang sembab itu menatap Arthur yang berada di bawahnya dengan pandangan penuh kebencian. Namun yang Arthur tangkap bukanlah tatapan kebencian, namun takut, luka, dan kesakitan. Dan mata yang penuh air mata itu sudah mengatakan semuanya… semuanya tentang perasaannya dan beban yang ditanggungnya. Tanpa menunggu respon dari Arthur, Jeremy segera berlari. Menarik kakinya keluar dari ruangan itu. Menembus kegelapan malam yang telah turun sedari tadi.
"Jeremy!"
…
Arthur keluar menyusur dan mencari Jeremy mengitari jalanan yang sepi dan berujung di taman. Sekali lagi mata onyx Arthur menelusur taman yang suram dan akhirnya ia menemukannya. Menemukan namja yang tengah terduduk, meringkuk di sudut taman. Di atas sebuah bangku panjang.
"Kau butuh teman cerita?"
Seseorang menyapanya lembut. Jeremy mendongak. Dan wajah itu menemukan Arthur yang tersenyum ke arahnya. Lembut.
"Kau sudah melihat semuanya, 'kan?" Jeremy akhirnya bersuara.
"Melihat apa? Taman?" tanya Arthur dengan sedikit bergurau.
"Bukan. Kau sudah melihat semuanya dan aku tahu, kau tidak akan bisa melakukan apa-apa," lanjut Jeremy tak peduli dengan gurauan Arthur.
Mendengar vonis dari pemuda itu Arthur tersenyum. Berniat mencoba untuk serius Arthur menjawab, "Aku memang bukan seorang psikiater. Namun, sayang bagimu karena aku bukan orang yang mudah menyerah sebelum mencoba."
"Kau tidak tahu apa-apa tentangku." Angin yang berhembus pelan memaksa beberapa daun di sisi mereka beterbangan.
"Aku tahu."
"Kau tidak tahu apa-apa." Jeremy masih bersikeras.
"Aku tahu kau yang kesepian. Aku tahu bagaimana sakitmu atas semua beban yang kau tanggung selama ini. Aku tahu perasaan kehilanganmu…"
"Kau tidak tahu." Jeremy berbalik dan menatap mata Arthur dalam. "Kau hanya tahu apa yang kau lihat. Tapi kau tidak mengerti perasaanku sesungguhnya. Jake adalah anak yang baik. Dia mirip denganmu, kuat, pantang menyerah, dan pintar. Dan dia…" Jeremy merasa berat melanjutkan kalimatnya, "…dia bunuh diri."
Arthur menahan napas. Ditatapnya punggung pria itu dalam.
"Dan semua menyalahkan aku atas semua itu. Termasuk diriku sendiri…" Jeremy menunduk.
"Tak ada yang menyalahkanmu, Jeremy."
Jeremy menggeleng. Airmata kemabali mengalir di pipinya. "Seandainya saja aku lebih berani mengatakan semuanya… Jake tidak…"
"…tidak akan meninggal…" sambung Arthur pelan. Onyx-nya menerawang ke atas, menatap langit-langit yang suram. Arthur tersenyum. "Kakak-ku juga meninggal karena kecelakaan. Sebelum kejadian itu aku sempat bertengkar dengannya dan meninggalkan rumah. Setelah melihat jenazahnya yang terbaring. Aku berpikir… kenapa saat itu aku bertengkar dengannya? Kenapa saat itu aku meninggalkan rumah? Aku terus menyesali diri. Entah sudah berapa kali aku berdoa kembali ke waktu itu, waktu sebelum kecelakaan itu terjadi. Bahkan dadaku terasa sakit saat mengingat semua itu…" Arthur bangkit dan duduk, onyx-nya menatap caramel Jeremy dalam. "Tapi, betapa pun aku menyesali hal itu sampai sekarang… kakak tak akan kembali. Kita tak bisa melakukan apa pun untuk membuat mereka kembali."
Perlahan Arthur bergerak dan –ragu-ragu— merengkuh Jeremy dari belakang, lembut. Tangannya memeluk erat pinggang Jeremy dan menyandarkan dagunya pada bahu Jeremy.
Nyaman.
"Maaf," ucap Arthur lirih.
Jeremy kembali menunduk.
Arthur melanjutkan kata-katanya, nyaris menyerupai bisikan, "Kita memang tak bisa membuat mereka kembali. Namun bukan berarti kita tak bisa melakukan apa-apa. Kehilangan orang yang dicintai memang sakit. Sakit sekali. Namun kita masih bisa bangkit. Mereka, orang-orang yang telah meninggalkan kita pun pasti tak ingin kita bersedih. Kita tidak bisa mengembalikan waktu yang terlewati, namun kita masih punya waktu dengan orang yang kita sayangi yang masih ada di dekat kita. Masih ada banyak waktu untuk kita mengubah kesedihan…" Arthur mempererat simpul tangannya, "menjadi kebahagian untuk bangkit…"
Diraupnya tubuh itu kembali dalam pelukannya. Membiarkan ia menumpahkan duka, sakit, dan laranya padanya malam ini. Karena Arthur ingin saat pagi menjelang esok hari, tak ada lagi delusi.
Tak ada lagi halusinasi… cukup malam ini.
Esok Jeremy tak akan terluka lagi…
"Membiarkanmu hidup dengan hidupmu sendiri. Tanpa dihantui rasa bersalah padanya. Kumohon kembalilah. Kembalilah pada hidupmu…"
Sekarang Arthur mengerti, apa yang ia tak ketahui tentang seorang Jeremy.
…
Sesosok pemuda tampan dengan rambut ebony terlihat tengah berjalan menuju salah satu ruang guru yang terletak di ujung koridor. Wajahpemuda bernama Jeremy itu terlihat hangat, satu ekspresi yang sangat jarang nampak dari wajah yang memiliki kulit alabaster itu. Dan memang tak bisa dipungkiri kehadiran sang guru psikologi sejak sebulan lalu, yang bernama Andrew itu benar-benar mampu merubah aura wajahnya serta suasana hatinya. Tapi, ada juga sosok lain yang juga telah berhasil menyentuh dasar hatinya. sosok itu… Arthur. Arthur-lah seseorang yang mampu menyentuh ke dasar hati seorang Jeremy. Menemaninya dan selalu ada saat orang lain menjauh dan bersikap seolah dirinya adalah monster. Membuatnya merasa hidup kembali.
Tangan pucat itu sudah hampir mengetuk ketika tak sengaja telinganya menangkap percakapan dua orang pemuda, yang dua-duanya sangat ia kenal karena akhir-akhir ini selalu ia dengar, suara lembut itu. Hal itu membuat Jeremy mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangan.
"Jadi ada perkembangan yang bagus dari anak itu?"
"Tentu saja." Suara Arthur.
"Lalu, setelah ini apa yang akan kau lakukan? Kau tidak bisa terus-terusan mendekatinya, 'kan?"
Ada apa ini? Kenapa Andrew bertanya seperti itu. Lama, Arthur belum menjawab. Jeremy memejamkan matanya, berharap Arthur tidak menjawab dengan–
"Aku akan pergi dari sini. Aku akan menjauhi Jeremy. Bukankah itu perjanjiannya?"
Hati Jeremy mencelos. Sesuatu yang ia dengar serasa menohoknya tajam. Rasa sakit yang aneh mengalir dalam dirinya. Ternyata selama ini… Jeremy tercekat. Ia terluka dengan apa yang ia dengar. Dia tak ingin mendengar lebih dari ini. Tak ingin. Tanpa peduli pada keadaan sekitarnya pemuda itu pun berbalik dan berlari.
Ia ingin lari. Lari entah kemana. Yang ia tahu, ia harus menghindari Arthur.
Lari sejauh-jauhnya. Asalkan tidak bertemu dengan Arthur.
Jeremy merasa dikhianati.
Ternyata mereka sama saja. Dia akan membiarkan Arthur pergi. Dan membiarkannya sendiri.
Membiarkannya menanggung luka sendirian. Setelah sebuah kepercayaan ia pertaruhkan pada sosok Arthur…
"Jeremy menghilang lagi!" teriakan seorang pemuda yang Andrew tahu bernama Harry terdengar keras dari arah pintu kantornya. Hal itu mengejutkan Andrew dan Arthur yang tengah berbincang.
"Apa maksudmu menghilang?" tanya Arthur, ditatapnya Hyukjae tajam.
"Tadi, aku lihat dia lari dan hampir saja menabrakku, sepertinya dia tadi dari ruangan Anda, dan sekarang Jeremy lari ke luar sekolah."
.
.
.
.
To be Continued
|
||||||