Fiction » Young Adult »

Catch You if I Can
Author:
Matoki Latte PM
BL/MC - Pernikahan Nathan dengan Andrew akan berjalan sebentar lagi. Dan semua baik-baik saja sebelum ia tahu tentang sebuah kenyataan yang membuat pernikahannya menjadi drama yang menggelikan. Saat ia tahu bahwa Andrew telah melakukan pernikahan sedarah dengan Jeremy. Pria yang tak lain adalah kekasih dari Arthur dan juga saudara kandung dari Andrew sendiri!
Rated: Fiction M - Indonesian - Romance/Angst - Words: 1,437 - Reviews: 1 - Follows: 1 - Published: 06-28-12 - id: 3036906
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

Pernikahan seharusnya menjadi hal yang sakral untuk siapa pun, termasuk Nathan Lau.

Pernikahannya dengan Andrew akan berjalan sebentar lagi.

Dan semua baik-baik saja sebelum ia tahu tentang sebuah kenyataan yang membuat pernikahannya menjadi drama yang menggelikan.

Membuatnya menjadi manusia paling egois, saat ia tahu bahwa Andrew–pria yang dicintainya–telah melakukan pernikahan sedarah dengan Jeremy.

Pria yang tak lain adalah kekasih dari Arthur dan juga saudara kandung dari Andrew sendiri.

.

.

.

.

"CATCH YOU IF I CAN"

Original Fiction Written by Nero © 2012


Disclaimer :

All of story contents belong to me. This is just a work of pure fiction. I don't take any material profit from this work. Don't copy, don't re-link, and don't re-share without permission. Plagiarisms aren't allowed here!

Genre – Rate :

Romance – Drama – Angst

Mature – PG 21+

Warnings :

Boys Love – Male x Male

Incest Relationship

Don't copy, don't re-link, and don't re-share without permission. Plagiarisms aren't allowed here!


~CHAPTER I~


Jengah.

Itu perasaan yang dirasakan seorang pemuda bersurai ikal yang tengah memainkan PSP-nya, seraya sesekali menggerakkan sudut matanya ke arah sosok mungil yang sejak lebih dari tiga puluh menit yang lalu berada di depan kaca. Pemuda itu menghela napas berat dan meletakkan PSP dengan layar yang menampilkan kata 'game over' di atas tempat tidur yang tengah didudukinya. Sekarang, ia memberi fokus penuh pada sosok mungil di depan kaca. Menatapnya lama, seperti tengah mempertimbangkan untuk sesuatu. Sosok berambut ikal itu membuka mulutnya, ingin mengatakan sesuatu.

Akan tetapi, sosok mungil di depan kaca mendahuluinya, "Kau ingin mengatakan sesuatu, Love?" Sosok itu menatap sosok tampan di belakangnya melalui refleksi kaca di depannya.

Arthur–sosok ikal– yang dipanggil 'love' itu menggeleng, "Tidak. Bukan sesuatu yang penting."

"Hm, itu akan menjadi penting, saat kau membuat seorang Nathan penasaran," balas sosok mungil–Nathan dengan senyum yang masih terbentuk di sudut bibirnya.

Arthur membalas senyum itu. Ia berdiri dan berjalan mendekat, tangannya terlipat dan ia bersandar pada sisi lemari di samping Nathan. Bola mata sehitam permata obsidian menatap Nathan lurus. "Kau…."

Nathan mendongak. Sebelah alisnya terangkat. "Ya?"

Arthur melepas tangannya dan berdiri tegak di depan Nathan yang kini juga memilih untuk berdiri. Keduanya berhadapan. Arthur bisa mencium aroma gabungan maple dan vanilla dari tubuh pemuda mungil di depannya. Begitu juga sebailknya, indra penciuman Nathan menangkap aroma pinus dan mint dari tubuh Arthur. Mereka begitu dekat. Mereka bisa melihat bahwa bola mata keduanya tengah merefleksikan bayangan masing-masing.

"… benar-benar menginginkan pernikahan ini?"

Permata milik Nathan membulat, sebelum ia memilih menyembunyikan wajah imutnya dalam tunduk. Matanya menangkap kakinya yang tengah berpijak pada karpet berwarna gelap di bawahnya.

"Love…" Tangan pucat Arthur bergerak, menyentuh pipi Nathan. Memberi sentuhan lembut pada kulit yang menampilkan kelembutan yang sama.

"Kau tahu, aku sangat mencintai Andrew, 'kan?" Nathan bereaksi terhadap sentuhan Arthur. Jemarinya bergerak, menyentuh jemari Arthur yang masih bertahan di pipinya.

"Tapi," suara Arthur tercekat.

Nathan mengangkat wajahnya. Memaksa matanya kembali menemukan permata Arthur yang kini meredup. "Aku tak akan menyesali apa pun. Tidak sekarang, tidak nanti," kata-kata pemuda itu bergema penuh keyakinan.

"Tapi, masalah itu…."

"Love, 'masalah' itu tak akan mengubah perasaanku pada Andrew," Nathan bersikeras.

Arthur menunduk. Ada rasa panas yang mendesak di ujung matanya, dan ia memilih menyembunyikannya dengan menjatuhkan bibirnya pada dahi Nathan, mengecupnya lama.

"Aku tidak ingin kau merasakan luka yang sama seperti yang kurasakan, Love."

Nathan memejamkan matanya, menikmati sentuhan Arthur di dahinya. "Apa pernikahan ini membuatku menjadi manusia paling egois? Atau sebenarnya aku telah," Nathan memberi jeda pada kalimatnya, "menyakitimu?"

Arthur menarik wajahnya cepat. "Tidak, Love. Sama sekali tidak." Pemuda itu menggelengkan kepalanya.

"Kalau begitu," Nathan menarik wajah Arthur mendekat kembali, menyentuhkan hidung mereka, "restui aku." Sebelum akhirnya ia menutup jarak dengan bibirnya yang kini menyapu bibir Arthur lembut.

"Kalian–!"

Suara baritone seseorang memaksa Arthur dan Nathan menjauhkan wajahnya. Keduanya menoleh ke arah pintu dan menemukan Jeremy—kekasih Arthur sekaligus istri Andrew yang tengah memandang mereka dengan raut wajah tak percaya.

"Ada apa, Baby?" Arthur menatap Jeremy dingin.

"Kalian berciuman!"

"Lalu?" Alis Arthur terangkat, pura-pura tak paham dengan kata-kata Jeremy yang sebenarnya sangat jelas. "Apa kau keberatan dengan itu, hm?"

"Kalian bersaudara! Dan kalian berciuman," desis Jeremy.

"Aneh sekali kau terkejut melihat hal ini." Arthur berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan Jeremy. Hanya kurang dari satu detik Arthur meraih lengan Jeremy. Dan tanpa terduga menarik Jeremy ke dalam pelukannya. Kuat dan tegas. "Apa kabar lelaki yang mengkhianati kekasihnya, karena ternyata ia telah menikah dengan saudaranya sendiri? Saudara kandung. Saudara sedarah!"

Jeremy terbelalak. Arthur mengabaikannya, ia menunduk dan berbisik santai tepat di telinga Jeremy. "Aku tidak peduli segila apa dirimu atas sebuah pengkhianatan yang telah kau lakukan dengan menikahi saudara kandungmu itu. Tapi," Arthur menjilat telinga Jeremy pelan. "Kau menyakitiku, Baby. Dan aku bisa melakukan hal yang lebih menyakitkan untuk membalasmu."

Arthur menegakkan kembali tubuhnya. Tangannya menarik jemari Nathan, membuat pemuda mungil itu kini berdiri di sebelahnya. "Aku memaafkanmu saat kau menyakitiku. Tapi, aku tak akan memaafkanmu, kalau kau menyakiti Nathan, Jeremy. Karena setelah ini, dia punya hak yang sama atas Andrew. Bahkan mungkin lebih."

Arthur bisa merasakan wajah yang tengah ia bimbing ke altar itu memanas. Ia juga tahu bahwa Nathan berusaha mati-matian untuk memasang wajah bahagia–hal yang diharapkan semua orang yang tengah berada di dalam gereja. Memasang wajah yang bahagia di tengah wajah yang memanas, jujur Arthur tak yakin jika itu dirinya, ia akan mampu melakukannya. Tapi, pada nyatanya Nathan bisa. Senyum berusaha ditampilkan Nathan dengan sempurna. Sebuah senyum untuk mempertaruhkan segalanya. Merebut kembali Andrew dan mengembalikan Jeremy padanya–pada Arthur.

Ya, untuk ini Nathan melakukannya.

Dan Arthur tak bisa mencegah adiknya melakukan itu. Ia tak bisa, karena bagaimana pun, ada cinta di pernikahan ini, walau cinta sepihak. Cinta dari Nathan.

Dan cinta dari Andrew–mungkin.

Mungkin. Hanya mungkin jika pernikahan ini terjadi setahun lebih cepat. Sebelum sosok yang kini menunggunya di altar itu lebih dulu menyematkan cincin di jemari lelaki lain. Arthur tak percaya, bagaimana mungkin semua bisa menjadi serumit ini. Nathan mencintai Andrew. Andrew 'mencintai' Nathan. Seharusnya itu berjalan mudah. Ya, sangat mudah sebelum lelaki itu datang. Apakah lelaki itu datang memang untuk mempermalukan dan menyakiti dua bersaudara Nathan dan Arthur secara bersamaan?

Jeremy.

Sosok lain yang mungkin juga sedang tidak tersenyum di dalam gereja ini. Sosok lain yang Arthur yakin mampu membuat pemuda seperti Nathan akan meneteskan air mata saat menatap Andrew. Air mata duka dan kesakitan. Ck! Seandainya Arthur bisa menghentikan semua ini. Membatalkan pernikahan yang menjadi awal eksekusi Nathan, saudara tiri yang sangat berharga. Karena Nathan-lah satu-satunya yang dimilikinya saat ini. Ah, tidak! Sebelumnya ia memiliki Jeremy. Memiliki lelaki itu, sebelum ia –lagi-lagi–menghancurkannya.

Nathan tidak seharusnya melakukan ini. Tidak seharusnya ia berkorban untuknya. Dan tidak seharusnya Nathan mengalah pada Jeremy dengan menikahi pria gila yang sudah menikah dengan saudara kandungnya! Ya Tuhan! Betapa terkutuknya kau Arthur William yang telah membiarkan adikmu sendiri berjalan menuju tiang gantungannya!

Dan ternyata mereka telah sampai. Arthur melepaskan tangan Nathan yang kini berdiri berhadapan dengan Andrew.

"Aku tahu kau gila. Tapi, aku tak akan membiarkan kegilaanmu menyakiti Nathan, Andrew!" desis Arthur mengancam.

Lengkung senyum terpahat dengan apik di wajah Andrew. Sebuah senyum yang meyakinkan sebelum ia meraih tangan Nathan dengan gentle.

Apakah yang ada di kepalamu saat kau menikahi dua lelaki yang berbeda, dengan alasan yang berbeda pula, Andrew?

Mata Arthur menyusur ke arah audience, dan menemukan wajah Jeremy yang memerah. Arthur tahu, ia tengah marah, kesal, dan jutaan perasaan mengerikan lainnya. Ada perasaan kasihan menyeruak dari dalam diri Arthur saat dua mata itu bertemu. Seandainya, lelaki itu tidak melakukan hal itu, mungkin ia akan bertaruh apa pun untuk menjaga dan mencintainya. seperti Andrew pada Nathan dulu. Dulu, sebelum ia datang. Tapi, perasaanya kini memudar. Arthur merasakan perasaan benci tiba-tiba menguasainya. Wajahnya mengeras dan ia memilih memalingkan wajahnya dari Jeremy.

Arthur berkali-kali mengganti channel TV dengan tidak sabar.

Malam ini adalah pertama kalinya Nathan tidur dan serumah dengan Andrew. Dan ia tak bisa berhenti memikirkan semua itu. Acara TV yang ditontonnya tak juga bisa mengalihkan perhatiannya untuk tidak mengkhawatirkan Nathan. Tubuh yang tengah berguling-guling di sofa itu bangun da meraih segelas cokelat hangat yang tadi dibuatnya untuk menenangkan pikirannya. Dan ia baru saja meneguk cokelatnya saat mendengar bel apartment-nya yang dibunyikan dengan tidak sabar. Tanpa meletakkan gelas cokelat hangat di tangannya Arthur berjalan ke arah pintu. Suara bel di depan terus berbunyi tidak sabar. Dan Arthur menyumpah-nyumpah dalam hati saat berusaha membuka pintu dengan tangannya yang sedang tidak memegang cangkir.

"Bisakah kau sa–

Arthur terpaku. Matanya terbelalak menatap sosok yang kini berdiri di depan pintu apartment-nya.

"Boleh aku tidur di sini malam ini?"

_To be Continued_

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .