Fiction » Thriller »

M I C H I
Author:
Matoki Latte PM
BL/OS - Kyusung berkali-kali memandang berkas-berkas di mejanya, berharap pada pandangan selanjutnya, tulisan-tulisan itu akan berubah. Nihil. Tulisan itu tetap terbaca... Jung Yehyun...
Rated: Fiction T - Indonesian - Crime/Mystery - Words: 3,142 - Published: 06-28-12 - Status: Complete - id: 3036913
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

"M.I.C.H.I"

Original Fiction Written by Nero © 2012


Disclaimer :

All of story contents belong to me. This is just a work of pure fiction. I don't take any material profit from this work. Don't copy, don't re-link, and don't re-share without permission. Plagiarisms aren't allowed here!

Genre – Rate :

Drama – Crime – Mystery

Teen – PG 15+

Warnings :

Korean Universe

Male Pregnancy

Boys Love – Male x Male

Don't copy, don't re-link, and don't re-share without permission. Plagiarisms aren't allowed here!


Suara bising Kantor Kepolisian Seoul menyambut Kyusung.

Dibalasnya dengan datar sapaan 'selamat pagi' beberapa orang yang menyadari kehadirannya, sementara yang lain, sibuk dengan telepon darurat yang tak pernah berhenti berdering.

Pria tampan itu membawa langkahnya berbelok ke sebuah lorong dengan penerangan berupa lampu neon di atasnya. Lorong itu tidak terlalu panjang.

Karena, sesaat kemudian dia sudah memasuki pintu bertuliskan 'Crime-scene Investigation Room' berwarna hazel.

Beberapa anggota CSI lainnya sudah berada di ruangan tersebut. Si dingin, putra dari Kepala Kepolisian Seoul, Kim Jongjin hanya melirik kedatangan pria itu, dan kembali sibuk dengan laptop di depannya. Berbeda dengan sosok berambut blonde yang mengucapkan 'selamat pagi'nya dengan semangat yang berapi-api.

Setelah merespon dengan alakadarnya, Kyusung berjalan menuju satu ruangan lagi yang berada di ruangan itu, ruangan yang memisahkan dirinya dari anggota CSI lainnya.

"Kyusung, tunggu!" Suara seseorang menghentikan gerakan Kyusung yang tengah bersiap untuk membuka pintu. Kyusung menoleh dan menemukan pemuda manis memanggilnya.

"Waeyo, Hyung?"

"Ada yang mau kutunjukkan padamu mengenai perkembangan kasus kemarin. Aku akan ke ruanganmu sepuluh menit lagi," ucap pria bernama Lee Haemin itu setelah melirik Panerai yang melingkar di pergelangan tangannya.

Kyusung mengernyitkan dahinya, agak heran dengan nada serius dari pemuda baik namun childish ini.

"Eoh? Baiklah," jawab Kyusung akhirnya.

"MWO?"

Lee Haemin menutup telinganya mendengar teriakan supervisor-nya yang begitu keras.

Kyusung –mengabaikan tingkah Haemin– meluncurkan pertanyaan yang terdengar tak ada nada kepercayaan sama sekali di dalamnya.

"Ini! Ada yang salah dengan penyelidikan ini! Aku yakin, kau, Jongjin, Eunhae, atau bahkan Yuwon-hyung ada yang melakukan kesalahan! Ini tidak mungkin!" teriak Kyusung keras.

Haemin menghela napas, sebelum menjawab komentar makhluk di depannya, "Pertama, Kyu, Yuwon tidak ikut dalam penyelidikan kali ini. Dan kedua, kau meragukan kami?"

"Tapi, Hyung—,"

"Oke, aku tahu apa masalahmu. Tapi, sejak awal kita sudah sepakat, bukan? Apa pun hasil penyelidikan itu kau terima. Dan ini hasilnya!" ucap Haemin tegas, onyx-nya menatap pria penggila game yang tertunduk menatap berkas-berkas yang baru saja disodorkannya.

"Aku tahu ini berat. Tapi, bukti-bukti otentik mengarah padanya. Termasuk visum korban dan barang bukti utama, yaitu senjata yang digunakan pelaku. Jadi, persiapkan mentalmu. Kasus ini akan segera disidangkan..."

"Aku tak bisa percaya... kalau pelakunya..."

"Aku juga. Tapi, bukti mengatakan begitu. Dan, ngomong-ngomong kau harus menengoknya, menurut beberapa petugas, dia... err agak stres," lanjut Haemin dengan nada prihatin.

"Ne..."

Kyusung menyusuri ruang-ruang bertembok batangan baja itu dengan pikiran tak menentu.

Pemandangan yang Kyusung tangkap dari kanan-kiriku menampilkan raut wajah yang sama, orang-orang berwajah garang namun suram dengan pakaian senada berwarna abu-abu.

Di sinilah Kyusung sekarang, melangkah di sepanjang ruang tahanan. Tempat di mana manusia yang terlalu tinggi untuk bermimpi sehingga terjebak dalam mimpi itu sendiri. Menurutnya, para penghuni ruang berukuran sempit ini, bukan orang yang tak punya mimpi. Mereka sebelumnya bermimpi, namun 'putus asa' menyerang dan menyeret mereka ke dalam ruangan sempit ini. Berbaur dengan orang-orang yang salah mengartikan mimpi. Dan, mimpinya sendiri terlalu tinggi. Apa Kyusung nanti juga akan berakhir di sini? Apalagi, ia juga termasuk salah satu yang membuat mereka berada di sini. Tentu saja tidak, keadilan harus ditegakkan.

Sebenarnya, orang-orang ini juga punya pilihan untuk mengubah takdir mereka. Namun menurut kelompok tertentu mereka salah. Hei, memangnya ada ukuran salah untuk sebuah pilihan?

Memangnya apa yang menjadi patokan untuk sebuah kesalahan? Norma, akibat, hukum? Hidup itu penuh pilihan. Saat melangkah, itu artinya Kyusung telah memilih, antara melangkah itu sendiri atau tetap duduk. Dan, ini sudah awal merubah takdir bukan?

Satu yang terus Kyusung pikirkan.

Hidup ini punya pilihan, kadang kita harus melepaskan sesuatu yang lain, hanya untuk mendapatkan sesuatu yang lain pula. Tak bisa memiliki keduanya.

Apakah Kyusung juga begitu?

Tak terasa, langkah CSI handal itu tiba di sebuah ruangan bercat putih bersih.

Ruangan ini juga termasuk ruang tahanan. Tapi, berbeda dan terpisah dengan ruang tahanan lain. Di atas sebuah pintu almond itu tertulis 'Isolation Room'.

Kyusung menekan alat identifikasi yang berada di samping pintu. Setelah menekan tombol merah, muncul tulisan yang berupa perintah untuk memasukkan password serta pendeteksi identitas memakai sidik jari.

Setelah selesai, pintu itu terbuka dengan pelan.

Kesan pertama yang tertangkap adalah, tatanan dan fasilitas kamar itu terlalu bagus untuk seorang narapidana.

Namun, hal itu langsung sirna melihat kondisinya.

Bantal yang tercabik sehingga memperlihatkan isinya sudah terlempar.

Vas bunga, yang Kyusung yakin tadinya berada di atas bufet, sudah pecah.

Pecahan vas itu bercampur dengan pecahan piring dan gelas. Sementara makanannya sendiri sudah berhamburan di lantai.

Dan semua itu semakin diperburuk dengan ranjang yang awut-awutan, bed cover menjuntai ke samping.

Kyusung menghela napas, karamelnya menyusur sekeliling, mencari penghuni kamar yang mirip kapal pecah ini.

"Yehyun-hyung..." panggil Kyusung pelan.

Hening, tak ada jawaban.

Kyusung mulai melangkah sambil berjinjit menghindari pecahan kaca yang mungkin bisa menusuk kakinya. Pandangannya menelisik sudut-sudut kamar ini. Hingga akhirnya, karamel itu melihat gundukan selimut di pojok kamar. Sebelumnya, –Kyusung berpikir begitu– sampai dia mendengar isakan lirih dari gundukan itu.

Kyusung mendekat dan berjongkok di depan gundukan -sosok- itu.

"Yehyun-hyung..." panggil Kyusung pelan.

Disingkapnya selimut tebal yang membungkus tubuh sososk bernama Yehyun itu.

Kyusung terkejut melihat tampang namja itu setelah selimutnya tersingkap.

Rambut hitamnya kusut masai, dan yang lebih miris, tubuh porselen namja itu terdapat beberapa luka sayatan.

Kyusung mengangkat wajah namja itu, dan melihat bahwa ada lebam di dahinya serta sepasang mata beriris onyx-nya yang sembab.

Tanpa bicara, Kyusung menarik tubuh itu ke dalam pelukannya.

Mata Kyusung lagi-lagi menyisir, mencari benda apa yang digunakan Yehyun itu untuk melukai dirinya. Dan, karamelnya menemukan cutter kecil di samping Yehyun. Cutter itu bernoda darah yang telah mengering.

It's so hard to stand in the cool of the rain

Can I change?

Cause I'm not capable again

Will it be 'yes' or 'nothing'?

Beberapa waktu sebelumnya….

"Bagaimana kau bisa ada di sana?"

"Aku lupa!"

Kyusung saling melempar pandang dengan Kim Jongjin, rekan sesama CSI-nya yang kini bersama-sama tengah melakukan investigasi terhadap pemuda manis yang menjadi tersangka utama pembunuhan yang mengancam Seoul akhir-akhir ini.

Menghela napas berat Kyusung beranjak keluar dari ruang interogasi, dan menutup pintu metal itu kasar. Walau tanpa suara tapi dua orang yang tengah berada di rauangan dengan kaca lebar itu berjengit.

Kyusung menghempaskan diri duduk di atas kursi yang menghadap kaca tembus pandang di ruangan interogasi di depannya. Menatap tajam dua orang yang masih di dalam. Namun, tak butuh waktu lama ketika Jongjin akhirnya keluar dari ruangan dan berdiri di samping Kyusung. Meninggalkan sosok manis yang memasang wajah kebingungan di dalam raungan.

"Kau puas sekarang?" Kyusung melirik Jongjin tajam.

Namja pendiam nan stoic itu bergeming.

"Kalian puas telah menuduhnya melakukan semua pembunuhan ini, hah?" Kali ini Kyusung membentak sosok yang tetap terdiam itu. "Dia korban," lanjutnya kemudian.

"Tapi dia bisa saja pura-pura, Kyu," balas Jongjin kalem.

"Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu, Hyung? Yehyun-hyung bukan pembunuh. Demi Tuhan, istriku bukan pembunuh!" suara Kyusung naik beberapa oktaf.

"Tapi, dia ada di tempat kejadian, menurut salah satu saksi mata."

Jongjin dan Kyusung menoleh ke arah pemilik suara yang baru datang. Lee Haemin.

"Tapi bukan berarti dia adalah pelakunya." Kyusung bersikeras membela pemuda yang telah menjadi 'istri'nya itu.

"Tapi bukti dan saksi—!"

"—berhentilah membicarakan dua hal itu! Aku akan membuktikannya!" Kyusung bangkit dari kursinya, menatap dua pemuda tampan itu bergantian sebelum akhirnya pergi dari menuju pintu ke arah Haemin masuk tadi. "Yehyun-hyung bukan pelakunya."

"Satu lagi." Langkah Kyusung tertahan di pintu. "Tolong perlakukan Yehyun-hyung dengan baik."

It love prison me in the speechless

Cause

I never know are there in my half hearth in his deep hearth

And it love who make me love him

Saat ini….

Kyusung berkali-kali memandang berkas-berkas di mejanya, berharap pada pandangan selanjutnya, tulisan-tulisan itu akan berubah.

Nihil.

Tulisan itu tetap terbaca...

Jung Yehyun...

Digeleng-gelengkannya kepala mencoba menghilangkan efek-efek mengganggu berasal dari berkas-berkas di depannya, yang akhir-akhir ini menyita waktunya.

Dengan malas, dikumpulkannya berkas hasil penyelidikan anak buahnya yang berserakan itu.

Mencoba menghindari tulisan 'Jung Yehyun' yang tak sengaja terbaca oleh mata karamelnya.

Setelah tertumpuk rapi –menurutnya– dimasukkannya berkas-berkas itu ke dalam sebuah map dan dimasukkannya ke dalam laci yang kemudian dikunci dengn kode kombinasi.

Tangannya beralih pada laptop silver miliknya, yang sempat terabaikan.

Benda elektronik hasil karya manusia itu menyala, menampilkan foto-foto mulai dari pisau lipat, palu berlumur darah yang telah mengering, tumpukan kain yang penuh klorofom, dan lantai-lantai dengan darah menggenang di atasnya.

Kyusung menggeser kursor itu ke bawah, yang semakin menampilkan foto-foto mengenaskan.

Mayat dengan anggota tubuh rapi, namun semuanya telah terpotong, mayat tanpa kepala, mayat dengan isi perut keluar, hingga kepala terbelah.

Semua sadis, kejam dan tak berpola.

Kursor itu bergerak naik lagi di satu foto.

Pisau besar, semacam pisau daging.

Tunggu!

Kenapa dia melupakan penyelidikan pada benda ini?

Ck, Kyusung ingat bahwa dia hanya memeriksa TKP dan belum memeriksa benda itu sendiri.

Jika dilihat, memang tak ada yang aneh dari logam itu.

Tapi, Kyusung menyadari sesuatu.

Sesuatu yang harus diperiksanya sendiri.

'Brakk'

Kyusung menggebrak mejanya keras.

Wajah itu muram dengan caramel yang menyorot tajam.

Semua data-data itu sudah diserahkan pada Divisi Pelacakan.

"Kyusung-oppa!" sebuah suara terdengar memanggilnya.

Kyusung melihat Khaura Kim, salah satu petugas dari Divisi Investigasi. Yeoja yang akrab dengannya.

"Waeyo, Khaura-ya?"

"Kau tidak ke ruang sidang hari ini? Bukankah sekarang Yehyun-oppa sidang? Jangan bilang kau lupa!"

"Oh, shit! Aku memang lupa!"

Kyusung menepuk dahinya kaget.

Dengan tergesa dia men-turn off laptop-nya, sebelum akhirnya berjalan setengah berlari melewati Khaura yang hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah supervisornya.

'Bagaimana bisa, Kyusung melupakan hal sepenting ini?'

Tanpa mengurangi tempo setengah berlarinya, Kyusung melewati koridor panjang dan tangga.

Mengabaikan tatapan heran dari beberapa petugas yang berpapasan dengannya, Kyusung terus melangkah.

Agenda sidang hari ini adalah mendengarkan saksi.

Walaupun kondisi Yehyun seperti itu, Yehyun tetap harus disidangkan.

Yehyun tidak gila, dia tidak lepas dari tuduhan.

Kyusung tahu itu.

Setelah membalas dengan senyum sekilas sapaan dari resepsionis di depan, Kyusung memasuki tangga menuju lantai dua, ruang sidang.

Dan berhenti di depan sebuah pintu.

Tertutup.

Sepertinya sidang sedang berlangsung.

Tanpa keraguan, Kyusung mulai membuka pintu.

"...saya ingat Yehyun-sshi membeli pisau daging di toko saya. Pada tanggal 11 Desember 2012. Dan pisau itu sama persis dengan barang bukti yang ditemukan..."

Kyusung melongok melewati kepala para pemburu berita yang ada di depannya.

Karamelnya mencari siapa yang berbicara dan dia menemukan, sosok pria pucat, tengah berada di tempat saksi, memberi kesaksian yang memberatkan Yehyun.

Kyusung tahu orang itu.

Lee Sung Hae, pemilik toko daging terbesar di Seoul.

Kilatan emosi melintas di mata Kyusung.

Mendengus keras, Kyusung berbalik dan meninggalkan ruang sidang.

h lelah memacu mobilnya di sepanjang jalanan Seoul, Kyusung berhenti dan duduk di bangku panjang di depan sebuah toko boneka.

Dirapatkannya mantel, menahan hawa dingin yang semakin menjadi-jadi di akhir Desember.

Dihembuskannya napasnya berkali-kali, menjadi uap putih di udara.

Hatinya merasa dingin, sedingin tumpukan putih di depannya.

Samar-samar, Kyusung mendengar suara berita, matanya mencari dan menemukan screen raksasa di seberang jalan tempatnya duduk.

"Pembunuh berantai yang selama dua tahun ini meneror Seoul akhirnya terungkap bersama tertangkapnya pelaku. Pelaku yang berinisial YJ sekarang di tahan di Kantor Kepolisian sejak lima hari yang lalu. Dan hari ini, baru saja menjalani sidang pertamanya. Motif—"

"Huh"

Kyusung berdiri dan memilih untuk tidak melanjutkan mendengarkan berita yang membuat perasaannya semakin memburuk itu.

Dilangkahkan kakinya menuju kotak minuman kaleng otomatis, yang ada di dekatnya.

Kyusung merogoh sakunya mencari koin, namun tak sengaja koin itu jatuh menggelinding.

Kyusung membungkuk untuk mengambilnya, namun sebelum tangan tan-nya meraihnya, sebuah tangan lain yang terbungkus sarung tangat kulit lebih sigap mengambil koin itu.

Kyusung tegak kembali dan menatap pemilik tangan itu.

Wajah pucat.

Rambut hitam cepak.

Lee Sunghae, si pengusaha daging, yang baru saja bersaksi dalam kasus istrinya.

Sunghae tersenyum, yang lebih terlihat seperti meremehkan.

Tanpa berkata apa-apa, Sunghae memasukkan koin itu ke dalam mesin, dan keluarlah sekaleng minuman dingin.

Sunghae membukanya dan menyerahkannya pada Kyusung, Kyusung memasang wajah datar.

Dari tadi hanya mengamati tingkah Sunghae.

Dalam diam, Kyusung menerima kaleng itu.

"Kyusung-sshi..." Sunghae mengangguk dan langsung berbalik pergi di telan keramaian, meninggalkan Kyusung yang terkejut mengetahui bahwa Sunghae mengenalnya.

"Ahaha..." Kyusung tertawa garing.

Mungkin hanya kebetulan saja, pikir Kyusung yang semakin bingung dengan semuanya.

Kyusung memandang minuman kaleng itu dan menghabiskannya sekali teguk.

Namun, ketika Kyusung bermaksud melempar kaleng kosong itu ke tempat sampah, tempat sampah itu penuh.

Dengan gusar, Kyusung melemparkan kaleng itu dengan sembarangan ke mobilnya.

Dan kembali memacu sport hitam itu di atas jalanan Seoul.

Kyusung memasuki ruangan yang didominasi warna putih itu dengan hati-hati.

Takut mengganggu sosok yang ada di dalamnya.

Dan benar saja, sang pangeran sedang tertidur tenang di atas peraduannya.

Kyusung mendekat, dan menatap wajah 'istri'nya.

Yehyun terlihat begitu tenang, napasnya teratur turun naik.

Kedua kelopak matanya, menutup sepasang onyx yang selalu dikagumi Kyusung.

Perlahan, tangan pucat itu menyusur tiap lekuk wajah porselen Yehyun, menyingkirkan anak rambut di dahinya yang masih lebam, menyentuh hidungnya, pipinya yang terusak oleh beberapa sayatan kecil dan berakhir di bibir ranumnya.

Kyusung menyentuh bagian itu, agak lama dengan jemarinya.

Perlahan Kyusung menunduk, menggantikan sentuhan jemarinya dengan bibirnya.

"Saranghae, Hyung."

Kyusung terus mengucapkan kata itu berulang-ulang seiring dengan lidahnya yang menyusur di wajah Yehyun. Dahinya. Kedua kelopak matanya yang tertutup, pipinya. Dan turun ke sepanjang garis lehernya. Kyusung melakukan hal itu dengan lembut, agar sosok yang dicintainya itu tidak terbangun karena terusik.

.

.

.

.

.

Rumah mewah itu terlihat lengang.

Hanya terlihat beberapa mobil mahal yang terparkir di depannya, tertutup oleh salju tipis.

Salju juga menutupi jalan setapak menuju rumah mewah itu.

Kyusung dan Haemin berjalan cepat menuju rumah sang pengusaha daging terbesar di Seoul itu.

Bel yang berada di kanan pintu, berbunyi nyaring saat tangan Kyusung menekannya dengan tidak sabar.

Tak lama, pintu ebony itu terbuka, menperlihatkan sosok pucat dengan wajah heran.

"Ada apa ini?"

"Anda diperiksa atas dugaan pembunuhan terhadap dua puluh orang selama dua tahun ini," jawab Haemin tegas.

"Eh, apa maksud, Anda? Bukankah pelakunya sudah tertangkap?"

'Buagh'

"Kyusung! Apa yang kau lakukan?" teriak Haemin keras. Kyusung tak menjawab, dia menatap Sunghae tajam.

"Jaga sikap anda, Kyusung-sshi!" ucap Sunghae dingin, tubuhnya kembali tegak setelah sempat oleng karena pukulan Kyusung barusan.

"Kau! Kau yang membunuh! Kau tersangkanya Sunghae! Dan kau timpakan kesalahan pada Yehyun!" teriak Kyusung keras.

"Tenanglah, Kyusung!" Haemin sedikit kesulitan menahan tubuh berontak Kyusung.

"Darimana Anda bisa mengatakan saya adalah pelakunya?" pandangan mata itu menatap Kyusung tajam. "Apakah ada sidik jari saya dibarang bukti?"

"Di pisau itu memang tidak ada sidik jarimu, tapi terdapat sidik jari sarung tangan kulit. Dan kau tahu, sarung tangan yang terbuat dari kulit juga bisa meninggalkan sidik jari," ucap Haemin datar. "Dan kami ingin memeriksa sarung tangan kulitmu."

"Hahaha, sayang sekali Tuan-Tuan. Sarung tangan tersebut sudah saya bakar," seringai mengejek tercetak di bibir Sunghae. "Jadi kalian tidak bisa memeriksanya."

Sejenak rona keterkejutan menghias wajah Haemin. Namun, sesaat kemudian senyum kecil terukir di wajah pemuda bermata onyx itu.

"Mungkin kita memang harus memakai 'itu', Kyusung." Haemin menatap Kyusung yang tengah memasang wajah terlipat di sampingnya.

"Terserah," jawab Kyusung singkat.

"Itu?" Sunghae menatap sosok petugas di depannya bergantian.

"Ya 'itu', Sunghae -sshi. Anda pernah membuka kaleng minuman untuk Kyusung memakai sarung tangan. Dan karena tempat sampah penuh, Kyusung membawa kaleng itu pulang." Haemin menatap Sunghae. "Anda tahu bukan, apa yang akan terjadi jika sidik jari pada kaleng tersebut sama dengan sidik jari yang terdapat pada barang bukti?"

Senyum mendadak terhapus dari wajah licik Sunghae.

"Ayo kita bawa orang ini, Kyusung," ajak Haemin enteng.

"Ya! Gara-gara orang ini Yehyun-hyung jadi menderita. Aku akan menangkapmu dan membuatmu membusuk di penjara apa pun yang terjadi!"

'Drtttt!'

Getaran handphone, membuat Kyusung tersadar.

"Yoboseoyo?"

"…."

"Yehyun-hyung di rumah sakit?"

.

.

.

.

.

"Kami membawanya ke rumah sakit, karena keadaannya mendadak aneh."

Kyusung bergegas mengikuti langkah lebar sosok berpakaian petugas kesehatan di sisinya. Saat ini mereka tengah menuju ruangan tempat Yehyun dirawat.

"Sudah berapa lama ia berada di sini?" tanya Kyusung. Mereka melepati banyak lorong –yang membuat Kyusung mendengus kesal. Lelaki itu sangat khawatir dengan keadaan sang 'istri' yang terus-terusan memburuk sejak ia ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan, yang nyatanya dilakukan oleh pengusaha daging terkaya di Seoul.

"Satu jam yang lalu," jawab petugas itu singkat. Disempatkannya menagangguk pada dua suster yang tengah berjalan berlawanan arah dengan mereka.

"Bagaimana keadaannya sekarang?"

Petugas itu mengajak Kyusung berhenti di depan pintu berwarna biru. Membukanya dan memberi jalan agar Kyusung masuk duluan. "Lebih baik Anda lihat sendiri."

Mata Kyusung menemukan sosok manis berwajah pucat yang tengah terbaring di satu-satunya bangsal yang ada di ruangan. Beberapa kasa terlihat di dahi dan wajahnya. Kyusung mendekat, menarik sebuah kursi di duduk di sisi pemuda itu.

"Gwaenchanayo?" Kyusung mengusap surai hitam kusut itu pelan.

"Gwaenchana, Kyunie," jawab Yehyun lirih. Lelaki manis itu mencoba tersenyum. Jemari mungilnya meraih tangan Kyusung yang bebas dan meremasnya lembut.

"Anda tidak perlu khawatir, Kyusung-sshi. Penyakit yang di derita Yehyun-sshi tidak berbahaya." Seorang dokter ber-tag name 'Lee Jonghyun' berdiri di belakang mereka. Tersenyum ramah.

"Waeyo?" Kyusung menoleh tanpa melepas tangan Yehyun.

"Karena sebentar lagi—"

Yehyun meremas tangan Kyusung semakin erat.

"—kalian akan punya bayi. Chukkae."

"Ji-jinjja?" Kyusung kembali menatap Yehyun yang kini tersenyum samar. "K–kau hamil, Chagiya?"

Yehyun mengangguk singkat. Dan ia seolah berhenti bernapas saat Kyusung memajukan wajahnya dan melumat bibirnya lembut. Lumatan itu terus berlanjut. Yehyun bereaksi dan memiringkan kepalanya, membuka bibirnya dan memberi akses lidah Kyusung untuk menjelajah ke dalam rongga mulutnya.

"Ehm, Tuan dan Nyo—maksudku Tuan-Tuan, maaf menginterupsi, tapi bisakah ciumannya ditunda sebentar?"

KyuSung tersadar. Keduanya menoleh dan menemukan wajah dokter Jonghyun yang telah memerah sempurna.


OMAKE:

"Jadi, Yehyun-hyung menemukan Sunghae yang sedang membunuh orang saat ia membeli daging? Lalu ia terkejut dan pingsan."

"Ne. Karena kalap, Sunghae membuat Yehyun-lah yang seolah-olah membunuh."

"Beruntung FTIR* bisa mendeteksi sidik jari sarung tangan kulit."

"Benar. Karena kalau tanpa bukti sarung tangan kulit di kaleng itu, Yehyun-hyung tidak akan bebas dari segala tuduhan."

"Ngomong-ngomong di mana Kyusung sekarang, Yuwon? Dia tidak libur hari ini. Walau supervisor, bukan jatahnya untuk libur."

"Kau tidak tahu, Hyung? Yehyun-hyung hamil dan kurasa Kyusung akan melakukan apa pun untuk menjaga 'istri'nya."

"Termasuk mengambil libur sembarangan, eoh?"

"Jangan bilang kau cemburu, Haemin-hyung."

"Cemburu? Aku yang seharusnya mengatakan hal itu padamu, Yuwonie."

"Baiklah, kita sama-sama cemburu. Adil, 'kan?"

"Terserah kau sajalah. Lagipula Yehyun-hyung sudah tidak mungkin diraih."

"Hahahaha kau benar, Hyung."

_OMAKE END_


Dictionary:

*FTIR: Fourier Transform Infra Red

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .