
BL/MC - Aku terjebak di antara dua makhluk-Nya. Dua makhluknya yang tidak mencintaiku. Satunya adalah iblis berhati beku. Dan yang lainnya adalah– —malaikat mautku.
Rated: Fiction M - Indonesian - Drama/Angst - Words: 4,296 - Reviews: 2 - Follows: 3 - Published: 06-30-12 - id: 3037527
|
|
A+ A- |
Sebuah suara–isakan?
Apa?
Sebuah isakan tertahan. Pelan. Sangat pelan.
Dan sangat jauh–atau dekat?
Andrew membuka matanya.
Ia menatap kegelapan yang menggantung di sekitarnya dan menunggu beberapa saat untuk membiasakan matanya pada keremangan yang menyesakkan.
'Aku di mana?'
Kegelapan ini menyiksa dan mengalirkan perasaan yang asing di sudut-sudut hatinya.
Sebuah perasaan menyesakkan yang perlahan mengalirkan ketakutan.
'Aku takut.'
Pada apa?
Ruangan ini gelap, hanya temaram siluet bulan menerobos kisi jendela.
Jendela-jendela tinggi terbangun di ujung kamar. Tepat di belakang sebuah meja berukir dengan kursi mewahnya yang bersandaran tinggi. Sebuah teko dan gelas perak mahal berada di atas meja yang tertutup kain berwarna gelap. Ruang itu sangat besar dan mewah. Andrew mengamati dirinya sendiri dan melihat bahwa ia baru saja tertidur di sebuah tempat tidur yang mewah di tengah ruangan. Sudut matanya kembali bergerak dan menemukan perapian yang besar bertengger di ujung ruangan dalam kondisi mati.
Sebuah ruangan yang asing. Dan sama sekali bukan ruangannya.
Dengan menekan rasa kesal, ia bangkit dan duduk di tempatnya. Andrew bergumam pelan. Kemudian perhatiannya beralih pada seseorang yang berada di atas tempat tidur yang sama dengannya. Ia tidak sendirian. Ada sosok kecil yang kini tengah tertidur menyamping di sisinya.
Sosok itu bergerak. Ia mengubah posisi tidurnya dan telentang.
Andrew menemukan rambut hitam lurus yang sepertinya lembut menutupi dahi anak berusia sekitar tujuh tahun tersebut. Tubuhnya terbalut piama putih yang terlalu besar untuk ukuran tubuhnya. Kulit pale-nya terlihat dari wajahnya dan bahunya yang piamanya tersingkap. Anak laki-laki yang manis.
Perlahan tangan Andrew bergerak menyentuh pundak sang anak di atas tempat tidur. Ia menatap wajahnya dan tersentak dengan tingkahnya tanpa diduganya, anak tersebut membuka matanya dan menatapnya tajam dengan sepasang onyx yang menyorot dari sepasang kelopak yang kini terbuka sempurna.
"Kau mau apa?"
Andrew merasakan jika obsidian-nya masih terjebak dalam kolam tajam yang bisa menelannya bulat-bulat milik sosok kecil di depannya. Ia bersiap membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan anak itu dan menyakinkannya bahwa ia tidak berbahaya. Namun, belum sempat rangkaian frasa itu keluar, seseorang muncul dari keremangan dan menarik si anak menjauh darinya.
Andrew merasakan telinganya nyaris pecah saat mendengar anak itu menjerit keras. Orang itu memukul tubuh si anak dengan sangat kejam tepat di depan wajah Andrew yang kini terbelalak tak percaya. Andrew melompat, berusaha meraih anak itu. Sia-sia.
Seolah dua orang itu berada dalam dimensi yang berbeda. Dimensi yang tak tertembus indera perabanya. Namun, jeritan yang mengerikan itu tetap tak berhenti mengoyak telinganya. Membuatnya nyaris gila seketika.
To–tolong….
†††††††††††††
"MONOTYPE CORSIVA"
Original Fiction Written by Nero © 2012
Disclaimer :
All of story contents belong to me. This is just a work of pure fiction. I don't take any material profit from this work. Don't copy, don't re-link, and don't re-share without permission. Plagiarisms aren't allowed here!
Genre – Rate :
Romance – Drama – Angst
Mature – PG 21+
Warnings :
Boys Love – Male x Male
Don't copy, don't re-link, and don't re-share without permission. Plagiarisms aren't allowed here!
…
~CHAPTER I~
Andrew Choi terbangun dan mendapati matahari telah benar-benar membiarkan sinarnya membelainya dari kisi-kisi jendela yang daunnya terbuka. Tangannya bergerak, meraba tempat di sisinya. Kosong. Tubuh yang tengah shirtless itu menegak dan memusatkan obsidian-nya lurus ke sofa yang ada di sisi depan dari tempat tidurnya. Kosong. Tak ada siapa pun di sofa berwarna turquoise itu. Hanya ada tumpukan selimut yag telah terlipat rapi. Andrew mendesah keras. Matanya kembali menemukan ruangan kamarnya. Dan sosok itu telah menghilang. Sosok itu. Sosok kecil dalam mimpinya.
Selalu saja begini. Tiap malam ia dihantui mimpi buruk yang sangat nyata dan terbangun dengan semangat yang menguap perlahan dari tiap pori-porinya. Ia seperti membeku di tempat tidurnya. Entah mengapa itu ia seolah-olah menyembunyikan sebuah emosi lain yang hendak menyeruak keluar dari kepalanya. Emosi yang sangat tidak diinginkannya. Ketakutan, mungkin?
Tapi, sebuah ketakutan untuk apa?
…
Mata itu tak lepas dari sosok yang tengah mondar-mandir di depannya sejak beberapa menit lalu, lebih tepatnya sejak ia menginjakkan kaki di dapur minimalis miliknya. Sosok yang berjenis kelamin sama dengannya itu terbungkus celemek dan tengah menyiapkan sesuatu yang terlihat seperti roti bakar dan waffle. Menahan diri untuk tidak bersuara sejak lima belas menit lebih mau tak mau Andrew mulai gerah sendiri. Walau ia sering mengabaikan sosok yang beberapa waktu ini ada di dapurnya, ada di rumahnya, bahkan ada di kamarnya, tapi ia merasa tak betah kalau tidak mengajak sosok yang terlihat manis untuk ukuran laki-laki tersebut. Walau-lagi-kalimat yang keluar dari mulutnya lebih berupa kalimat yang sebenarnya menyakitkan.
Sosok itu; Jeremy. Lelaki yang kini meletakkan waffle di depan Andrew dan roti bakar di depan dirinya sendiri. Tanpa menunggu Andrew menginterupsi, Jeremy memulai sarapannya. Membiarkan Andrew yang sesekali masih mencuri pandang akan Jeremy. Sebenarnya wajah itu mengingatkan pada sesuatu yang Andrew sukai. Sebuah rasa yang berada di dalam mulutnya, rasa yang tersentuh indera perasanya. Sebuah rasa yang berasal dari waffle yang melumer di mulutnya. Jeremy… begitu manis.
Andrew mengedip dan napasnya seakan tercekat di tenggorokannya. Dari dekat, Jeremy ternyata jauh lebih manis dari yang selama ini dia lihat. Sorot matanya, caranya berbicara, caranya menggerakkan sudut-sudut bibirnya ketika dia tersenyum. Semua itu membuatnya diliputi perasaan aneh. Perasaan yang membuatnya merasa bahwa memang di sanalah tempatnya yang seharusnya, di dekat Jeremy. Namun Andrew masih belum mengerti mengapa dalam waktu yang bersamaan perasaan itu juga menimbulkan kegelisahan dalam dirinya? Membuatnya ragu. Membuatnya tak mengerti apa alasan utamanya menikahi lelaki di depannya.
Andrew terhenyak. Ia masih menatap Jeremy. Merasakan berjuta-juta kepedihan jatuh bersama setiap helaian napasnya.
"Aku menolongmu, bukan berarti aku mencintaimu. Jangan harap ada kata seperti 'cinta' di antara kita. Aku hanya tidak ingin kau disiksa oleh pemuda itu."
"Aku tahu." Jeremy melanjutkan kegiatannya mengunyah roti bakarnya pelan. "Kau sudah sering mengatakannya."
"Selain itu kau harus segera mencari alasan yang tepat untuk memutuskan pertunanganmu dengan Arthur."
"Bagai–!"
"—jangan gunakan pernikahan kita sebagai alasan," potong Andrew cepat. Mata itu menatap Jeremy tajam. Bak sebuah lubang hitam yang bisa menelan Jeremy dan menghancurkan kehidupannya dalam sekejap saja. Dan Jeremy terlalu takut untuk itu. Jeremy tak ingin kehidupannya 23 tahun di dunia hilang dalam sekejap. Jeremy memilih menunduk.
"Tidakkah kau tahu? Dengan menikahiku karena alasan seperti ini, kau justru lebih menyakitiku. Kau tak ada bedanya dengan dia. Bahkan mungkin dia lebih baik, karena aku—
—mencintainya."
Andrew terdiam dan hanya memutar sepasang bola mata hitamnya mendengar kalimat terakhir pemuda itu. Membiarkan keterasingan menelan kata-kata Jeremy barusan. Sebuah kecanggungan yang aneh mulai bersiap untuk berpesta di sekitar mereka. Wajah sosok di depannya tak menunjukkan kesakitan sedikit pun, tapi ia tahu jika Jeremy hanya berusaha untuk tak terlihat lemah.
"Aku tahu."
Mata Jeremy menatap sosok dingin itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kau sudah sering mengatakannya, Joshua."
Dan Jeremy benar-benar menyerahkan hidupnya pada keheningan dan kecanggungan di sekitarnya. Andrew selalu saja memanggilnya dengan nama kecilnya. Semua itu, seharusnya tidak apa-apa dan bukan apa-apa. Tapi, selalu saja, setiap mendengar lelaki itu memanggilnya dengan nama kecilnya, mengalirkan friksi menyakitkan. Entah apa maksud Andrew memanggilnya dengan nama itu. Seharusnya ia tahu, bahwa, panggilan itu akan menyakitinya. Sangat. Dengan telak di hatinya.
"Berhentilah memanggilku 'Joshua, Andrew."
Andrew mendongak, menjatuhkan onyx-nya lagi tepat di dalam kolam caramel di depannya.
"Kenapa?"
"A–aku tidak menyukainya."
"Hal itu bukan urusanku. Kau suka tidak suka dengan caraku memanggilmu. Aku tidak peduli."
"Tapi, itu menyakitiku."
Andrew meletakkan garpunya keras. "Ck! Kau ini laki-laki atau bukan? Hanya nama panggilan dan kau merasa tersakiti? Menggelikan."
"Ya, aku memang menggelikan dan tolong hargai aku yang menggelikan ini!"
Bodoh. Sebuah seringai meremehkan terukir di bibir sempurna Andrew.
"Kau bahkan tidak bisa menghargai dirimu sendiri, Joshua. Seharusnya kau tahu…"
"Tahu apa?" teriak Jeremy keras.
Ia sadar, bertengkar dengan Andrew hanya karena bagaimana pria itu memanggilnya sungguh kekanakan. Tapi, seharusnya Andrew tahu, sesuatu yang belum tentu menyakiti bagi orang lain, ternyata bisa menyakiti sosok lainnya. Namun, Andrew memilih tak menjawab dan berdiri, menyudahi sarapannya yang tidak kondusif lagi karena pertengkaran mereka. Sosok tampan itu berjalan keluar dari dapur, meninggalkan Jeremy yang kini menatap roti di piringnya dengan penuh kebencian. Seolah roti tersebut telah berdosa padanya.
Di balik semua kebencian dan kemarahan yang ia rasakan. Satu hal. Ada satu hal yang membuatnya tak bisa meninggalkan Andrew. Semua lebih berarti daripada status mereka yang telah menikah. Tidak, semua lebih dari itu. Dan Jeremy harus menekan hatinya mati-matian untuk itu. Sama halnya dengan Andrew….
'… aku menghormatimu, lebih dari caramu menghormati dirimu sendiri.'
…
Dengan wajah tertekuk, Jeremy keluar dari apotik di dalam sebuah rumah sakit swasta besar di kotanya.
Harga obat naik dengan tidak bersahabat. Simpanannya bulan ini bahkan nyaris habis hanya untuk membeli obat untuk minggu ini. Sementara masih ada tiga minggu lagi. Jeremy mulai berpikir bahwa ia harus mendapatkan pelanggan kaya malam ini. Bagaimana pun ia tak bisa terus-terusan meminta –meminjam uang pada Andrew. Sudah banyak alasan yang dipakainya untuk menjawab perginya uang-uang itu. Dan ia nyaris kehabisan alasan. Sementara ia tak bisa mengatakan yang sejujurnya pada Andrew.
"Jeremy?"
Jeremy menoleh dan kembali ke dunia nyata untuk menghadapi sepasang caramel yang seolah bisa menembus pikirannya. Kilatan dari sepasang caramel milik lelaki berpakaian dokter yang tengah bersandar di salah satu tiang rumah sakit. Tajam, datar, dan kilatan meremehkan yang sangat dikenalnya.
"Arthur?"
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Lelaki asli devon yang terlihat angkuh itu berjalan mendekat ke arahnya. Mendadak atmosfer di sekitar Jeremy berubah drastis. Ada aura sedingin es yang seolah berkontradiksi dengan matahari yang tengah membakar hari. Jeremy tertegun selama sepersekian detik. Menyadari pertanyaan yang dilontarkan orang itu, ia menjawab gugup, "A–aku…"
Alis sebelah Arthur terangkat tinggi. "Membeli obat?"
Jeremy mengangguk kuat-kuat. "Y–ya, aku membeli obat."
"Obat apa?" Arthur menunduk menatap obat di tangan Jeremy yang segera disembunyikan sang pemilik dari tatapan Arthur. Bagaimana pun, Arthur adalah dokter, ia dengan mudah paham jenis-jenis obat. Termasuk obat yang sekarang ada di tangannya.
"Bukan apa-apa. Hanya persediaan untuk obat darurat."
Arthur mengangkat bahunya. Merasa tidak ingin tahu lebih jauh tentang sakit Jeremy atau apa pun tentang obat itu.
"Cepat sembuh kalau begitu."
Arthur berbalik dan bersiap meninggalkan pemuda yang berstatus sebagai tunangannya tersebut.
"A–Arthur tunggu!" terikan Jeremy menahan Arthur untuk berhenti di tempatnya.
Lama. Mereka terdiam.
"Apa?" Arthur merespon tanpa berniat untuk menoleh ke arah lelaki di belakangnya.
Sebuah ingatan masa lalu. Awal takdir yang mengikat mereka. Dan sebuah kenyataan berputar-putar di kepala Jeremy. Berniat untuk mengabaikan segalanya. Lelaki itu ingin mengatakan semuanya. Apa pun yang ada di kepalanya. Apa pun alasannya. Apakah ia telah menemukan alasan yang tepat? Mata itu bersinar menatap sosok yang telah menderanya selama ini, menatap punggung seseorang yang telah dicintai sekaligus menyakitinya dalam waktu bersamaan. Jeremy tidak melepaskan sebuah suara. Terlalu takut. Takut setiap helai kata yang ia hadirkan akan membuat Arthur meninggalkannya. Tapi, ia menemukan sebuah keputusan di antara jutaan kepedihan yang menghimpit dadanya.
"Aku ingin mengatakan sesuatu."
Pria bermata caramel itu tetap menolak untuk memperhatikan Jeremy sebelum memutuskan untuk berkata datar, "Cepat katakan. Aku tidak punya waktu. Ada pasien yang menungguku."
"Aku…."
.
.
Aku terjebak di antara dua makhluk-Nya.
Dua makhluknya yang tidak mencintaiku.
Satunya adalah iblis berhati beku.
Dan yang lainnya adalah–
—malaikat mautku.
.
.
Tempat itu sudah ramai ketika Arthur tiba. Dan di sinilah dokter muda itu sekarang tengah berada. Sebuah bar yang terletak di sudut London dan sedikit terpencil dari keramaian pusat kota. Ia masih belum bisa memercayai dirinya sendiri mengapa seorang dokter muda dan sukses seperti dia bisa sampai di sini. Di sebuah tempat dengan wanita yang cekikikan, pria-pria yang tengah melantai dan aroma alkohol serta musik yang memaksa masuk telinga dan memenuhi kepalanya. Semua itu membuatnya merasakan pusing yang tak tertahankan.
"—besok appa akan memperkenalkan calon tunanganmu."
—dan itu artinya adalah mutlak. Ya, benar. Ia tak pernah bisa membantah apa yang tuan besar itu katakan. Di depan ayahnya, Arthur tak ubahnya boneka yang hanya akan bergerak saat tangan besi ayahnya menggerakkannya. Ck, sebuah kehidupan yang memuakkan.
Arthur menghela napas. Tangannya sekali lagi memiringkan botol wine dan menuang isinya ke dalam gelas untuk dirinya sendiri. Sepertinya melarikan diri ke bar adalah pilihan yang buruk. Semua ini sama sekali tak membantunya. Tak membuat otaknya lebih jernih. Justru semakin mengaburkan dirinya. Berkali-kali beberapa wanita melemparkan gerakan seduktif ke arahnya yang selalu ditolaknya dengan kode bahwa ia sedang tidak ingin melantai atau apa pun. Toh, tujuannya ke sini memang bukan untuk melakukan hal itu. Ia bersiap mengangkat gelasnya ke bibir. Saat seseorang yang dikenalnya baru saja muncul membuat gerakannya terhenti. Awalnya, Arthur tidak mempercayai matanya. Tapi, wajah yag kelewat manis untuk ukuran lelaki itu, kulit pucat dan rambut ebony yang terlihat lembut.. Tak salah lagi. Di sela kegiatannya menyeruput wine-nya, mata Arthur mengawasi lelaki yang kini tengah berada dalam pelukan seorang pria yang terlihat lebih tu darinya itu.
"Aku tidak tahu kau suka datang kemari." Suara baritone itu membangunkan Arthur. Ia tak tahu sejak kapan, tapi ia menoleh dan mendapati lelaki manis bersuara lembut itu berdiri di samping tempatnya duduk dan menyeringai. "Selamat malam, Arthur."
"Jeremy…" Arthur menatapnya sejenak dengan ekspresi tak terbaca di wajahnya, dan membiarkan ketika lelaki itu duduk di tempat kosong di sampingnya.
"Tidak ingin turun?" suara baritone itu kembali terdengar. Matanya memandang kumpulan manusia di depan mereka dan sesekali melirik ke arah Arthur yang memilih kembali menuang wine ke dalam gelasnya.
"Aku tidak sedang mencari wanita." Arthur menyesap wine-nya, entah gelas yang ke berapa. "Dan juga tidak ingin melantai."
Alis sebelah Jeremy terangkat tinggi. "Kalau begitu untuk apa pergi ke tempat seperti ini?"
Arthur terdiam. Matanya mengawasi Jeremy..
Entah apa yang ada di kepala pemuda itu ketika kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Jeremy, membuat tubuh keduanya berhadapan. Nyaris tak ada jarak yang berarti di antara keduanya, pun ketika jemari panjang Arthur terangkat dan jatuh di dahi Jeremy, bergerak menyingkirkan anak rambut yang menutupi kulit pucatnya. Entah kegilaan macam apa yang tiba-tiba menguasainya. Ketika Arthur malah semakin merapatkan dirinya dan kemudian dia menutup jarak di antara mereka dengan bibirnya.
…
Tubuh itu bergetar saat merasakan sesuatu yang kokoh mencoba memasukinya. Sesekali hentakan yang membuat ia mencengkram keras bahu pemuda yang ada di hadapannya itu. Rasa ingin disentuh telah membutakan segalanya. Ia, sangat—dan begitu sangat menginginkan pemuda yang ada di hadapannya itu.
"Ahh…" desahan yang menggiurkan. Sementara tubuhnya, terus bergerak kasar, memanja bagian tersensitif di tubuh polos begitu intens dan memabukkan, mampu memporakporandakan pertahanan yang Jeremy buat habis-habisan.
Peluh membanjir di atas tubuh polos mereka, bersaing dengan desahan yang menggema. Ini adalah sensasi terbaik di dunia. Sensasi terlarang, yang mereka nikmati. Walau dunia mengutuknya. Tanpa sadar Jeremy mengerang pelan. Ia memejamkan mata dan merasakan tekanan yang semakin besar dari tubuh di atasnya. Mendadak, bayangan dan perasaan sesuatu yang ingin keluar dari tubuhnya begitu tak tertahankan. Dan seluruh tubuhnya bergetar hebat,
…
"Ah…" Arthur mengerang, memijat-mijat pelipisnya.
Sinar matahari yang lancang mengintip dari sela-sela jendela memberi cahaya dan pemandangan sempurna di mana Arthur sekarang berada. Bola matanya mengerjap dan menyadari bahwa tak ada satu pun pakaian yang melekat di tubuhnya, selain selimut tebal yang menutupinya sebatas perut. Dan jantungnya semakin melonjak saat ia juga menyadari bahwa ia tak sendirian. Ada sosok yang juga sama keadaannya dengan dirinya di sisinya. Tertidur dengan napas halus terdengar dari hidungnya.
Jeremy. seorang lelaki yang sering ditemuinya di Rumah Sakit tempatnya bekerja. Lelaki berwajah manis yang selalu tersenyum saat mereka kebetulan berpapasan di lorong-lorong Rumah Sakit. Lelaki sehat yang sering terlihat di Rumah Sakit. Dan juga lelaki teman kecilnya. Dan semua ini bukan mimpi.
Semalam, dia telah tidur Jeremy.
…
"Kau menahanku di sini, bukan hanya untuk menunggumu bicara, 'kan? Aku tak bisa menunggu."
Jeremy lagi-lagi tersadar. Mendadak semua yang telah ia susun dalam kepalanya menghilang. Tak berbekas. Seolah sepersekian detik yang dilewatinya bersama Arthur mampu menghapus semua memorinya begitu saja. Menghancurkan susunan frasanya. Dan menjadikannya pemuda yang tak berdaya. Dan memang ia selalu tak berdaya. Tidak sejak pertama bertemu dengan lelaki itu. Tidak hingga saat ini.
"Maaf… lebih baik aku katakan besok saja." Jeremy berucap pelan, "Maaf, telah membuang waktumu."
Dengusan keras terdengar dari lelaki berjas dokter itu sebagai jawaban. Tanpa membuang waktu dan kalimat, Arthur bergegas meninggalkan Jeremy, yang masih terpaku di tempatnya. Bagus. Dan sekarang Jeremy benar-benar seperti orang yang tak berdaya.
…
Suara riuh dan lampu bar yang berkelap-kelip membuat pusing di kepala Andrew semakin menjadi-jadi. Di depannya botol-botol wine mahal yang kosong mulai berjejer tak beraturan. Entah sudah berapa gelas cairan fermentasi itu yang masuk ke tubuhnya. Tak dihiraukannya beberapa pasang mata yang memandangnya ingin tahu, meremehkan, sampai pandangan aneh yang mampir ke arahnya. Toh ia tak peduli. Tak peduli dengan tatapan orang-orang yang tak pandai memanfaatkan uang itu, sama seperti dirinya.
Mata Andrew lagi-lagi melirik ke sudut bar, dan ia kembali menemukan pemandangan yang membuatnya menelan cairan alcohol itu secara gila-gilaan untuk ukuran seorang Andrew Choi. Di sana, tepat di sudut yang sedikit tertutup dari pandangan mata-mata yang tengah melantai, terlihat sosok Jeremy yang tengah berada di pelukan seorang laki-laki yang juga terlihat tengah mabuk berat. Andrew, memang tidak mencintai Jeremy. Tapi, ia tetap tak bisa melihat pemandangan di depannya. Dan Jeremy terlihat sama sekali tidak keberatan berada di pelukan lelaki mabuk itu. Toh itu sudah pekerjaannya.
Tapi, kesabaran Andrew Choi yang tengah berada dalam pengaruh alcohol seakan habis. Habis bersamaan dengan hilangnya kesadarannya. Tak lama, Andrew bangkit dan mendekat ke arah Jeremy.
Beberapa orang yang tertabrak tubuhnya mengomel. Tapi, Andrew tak peduli. Pemuda itu terus berjalan dan menjatuhkan tubuhnya di sisi Jeremy. Membuat dua orang yang tengah berpagutan itu sontak terkejut dan melepas pertautan bibir mereka.
"Tuan…"
Andrew tak menjawab.
"Temani aku, Joshua." Andrew terhuyung mendekat ke arah Jeremy dan menjatuhkan dirinya tepat di samping pemuda yang menatapnya datar. Tangan Andrew melingkar dan tersampir di pundak Jeremy, sementara tangannya yang lain mencoba menuang kembali wine ke dalam gelasnya. Cairan yang tak tertuang sempurna itu membanjiri meja di depan mereka. Gemetar Andrew mencoba mendekatkan wine merah itu ke mulutnya sebelum jemari mungil Jeremy merebut gelasnya dengan cepat.
"Maaf, Tuan. Aku sudah bersama orang lain." Jeremy berusaha menyadarkan pria yang tengah mabuk berat itu. Sementara pria di samping Jeremy sudah pingsan karena mabuk dan terkulai.
"Kau menolakku, Joshua?" tanya Andrew sembari melotot ke arah Jeremy.
"Kau mabuk berat, Tuan. Berhentilah minum!" protes Jeremy tajam.
Wajah Andrew melunak. Pria itu mencoba tersenyum. Namun gagal, sebab lengkung itu jauh dari kata sempurna.
"Ka-kalau begitu… biarkan aku menikmati sa-sah… sajian yang lain." Sebuah seringai aneh mendadak terpahat di wajah kusut Andrew.
Jeremy tak mengerti. Bahkan ketika Andrew semakin mendekatkan wajahnya dan mengeliminasi jarak di antara mereka dengan cepat. Gerakan yang tak sempat tertangkap nalarnya. Jeremy sontak membeku. Pemuda itu terdiam menerima serangan mendadak Andrew di bibirnya. Tercium olehnya aroma alkohol yang menguar dari mulut pemuda yang tengah melumat bibir ranumnya. Memaksa dan mencari akses untuk masuk lebih dalam ke sudut-sudut mulut Jeremy. Napas hangatnya membelai hidung mereka yang sesekali bersentuhan.
Jeremy tersadar dan berontak. Didorongnya tubuh kekar Andrew kasar.
"Hentikan, Andrew!"
Andrew berjengit. Mata onyx-nya menatap Jeremy tajam.
"Kau berani menolakku, Joshua? Kau pemuda rendah berani menolak Andrew yang telah berbaik hati menolongmu hahaha! Kau bodoh, Joshua! Hei! Kalian—
Plak!
Tamparan dari telapak tangan Jeremy menghentikan racauan Andrew. Dan kilatan cahaya menerpa wajah Jeremy yang kini mulai memerah dan rasa panas yang menyerang sudut-sudut matanya. Andrew benar-benar mempermalukannya. Mata pemuda itu basah. Tanpa suara, ia bergegas meninggalkan Andrew yang kini tubuhnya kembali terdiam kaku.
…
"Ada apa, Joshua?" sambut Andrew pada sosok yang tengah memasuki dapur dan duduk di kursi makan yang ada di depannya. "Wajahmu seperti orang yang baru saja gagal dalam pekerjaan. Pelangganmu tidak jadi menggunakanmu atau… tidak mau membayarmu, eh?"
"Berhentilah berkata dengan nada meremehkan seperti itu, Andrew." Wajah manis itu mengeras dan menantang Andrew dengan kedua mata sipitnya.
Andrew mengangkat bahu. Tak peduii. Tangannya memilih bergerak dan mendekatkan cangkir berisi cokelat hangat ke mulutnya.
"Aku ditunangkan dengan Arthur…."
Tek. Gerakan tangan Andrew tertahan di udara. Mata itu menatap Jeremy, memastikan bahwa tak ada yang salah dengan pendengarannya.
"Arthur–
—Arthur. Arthur William."
…
Apartment itu sunyi. Hanya ada sosok Jeremy yang tengah berkutat dengan boneka kura-kura di tangannya yang sobek. Sosok Jeremy yang tengah berkonsentrasi itu tak menyadari ketika sosok lain di apartment itu berdiri di belakangnya.
"Joshua…" Andrew nyaris tersedak ketika memanggil pemuda yang tengah membelakanginya itu. Jeremy bergeming. Tak menyahut. Tak juga menoleh.
"Joshua…" panggil Andrew lebih keras. "Aku ingin bicara."
"Bicara apa?" Suara Jeremy terdengar sinis di telinga Andrew.
"Maaf."
Jeremy menoleh dan bersandar pada meja. Dua bola mata sewarna kacang hazel itu tajam menantang onyx Andrew. Seolah tepat menusuk ulu hatinya dan menelanjanginya. Jeremy benar-benar marah dan terluka. Namun, Andrew tak ingin menyerah. Dia tak boleh kalah dari sosok dengan tatapan menusuk itu. Kaca dan kursi terdiam menunggu dengan sabar apa yang akan terjadi pada sosok-sosok yang tengah berhadapan. Hening. Tanpa saling melepas kontak mata. Dua pasang lensa itu tetap terpancang pada obyeknya. Bahkan angin malam yang berasal dari jendela yang terbuka pun tak berani mengusik dua orang itu. Hanya sesekali menggoyangkan gorden-gorden.
"Maaf? Untuk apa? Bukankah aku yang kotor dan rendah?" Sorot mata tajam itu tetap menantang Andrew. "Bukankah aku sudah begitu hina di matamu? Pemuda yang menjual diri. Apakah yang lebih rendah daripada itu, eh? Bukankah kau juga bilang bahwa aku bahkan tak bisa menghargai diriku sendiri!"
"Bukan begitu… Ma-maksudku…" Andrew tergagap.
"Lalu?" Jeremy berjalan mendekat ke arah Andrew dan berdiri tepat di depannya. Dekat sekali. Ada amarah, kekecewaan dan kesedihan tumpah di sepasang mata itu. "Kau sudah cukup menyakitiku dengan pernikahan kita ini. Sudah cukup. Kau tak perlu menambahi dengan mempermalukanku di tempat kerjaku. Bukankah kesepakatan kita adalah kau tak mencampuri urusanku. Belum cukupkah aku menahan diri menghadapimu? Aku menahan diri atas pertolonganmu yang nyatanya justru lebih menyakitiku."
"Ke–kejadian itu…."
"Kau mempermalukanku, Andrew! Seharusnya kau berterima kasih karena aku berpura-pura tidak mengenalmu. Tapi, aku sendiri yang memilih menghancurkan reputasimu dan juga mempermalukanku."
"Aku hanya tidak bisa melihatmu melakukan pekerjaan kotor itu!"
"Lucu sekali. Sejak kapan kau punya pemikiran seperti itu, eh? Tidak ingin melihatku melakukan itu? Kau bahkan tidak menyentuhku ingat? Dan aku tahu alasannya. Karena di matamu aku adalah sosok kotor."
Kata-kata Jeremy entah kenapa… menyakitinya. Begitukah Jeremy memandang dirinya sendiri… Atau—
"Kau tak perlu pura-pura ingin menolongku untuk mengatakan bahwa kau membenciku dan tidak menyukai keberadaanku di sini. Karena itu sangat menyakitiku. Seharusnya sejak awal pernikahan ini tidak terjadi."
—dirinyalah yang menanamkan pemikiran itu pada Jeremy. Andrew memandang sosok itu nanar. Tiba-tiba saja dia merasa bersalah, entah karena apa, rasa itu menjalar ke seluruh sudut hatinya.
"Kenapa kau tak pernah mencoba berpikir jika kau berada di posisiku?" Jeremy menarik satu kursi di dekatnya. Duduk dan memandang kaca yang terhampar di depannya. "Menjual diri. Merendahkan diri dengan sebuah hubungan yang seharusnya sakral. Dan tak bisa mencintai orang yang kucintai secara bebas. Kau tahu?"
Wajah itu mendongak. Mencari kembali mata Andrew yang kini meredup. Andrew terdiam.
"Aku muak dengan hidupku. Aku juga membenci diriku yang rendah ini. Aku benci. Dan kini kau menyempurnakan semua itu dengan kebencianmu dan cara pandangmu terhadapku. Apa lagi yang bisa kulakukan? Menyangkalnya? Aku tak bisa." Jeremy menunduk. Tersenyum getir memandang bonekannya yang terdiam di tangannya. "Karena itulah kenyataan yang ada."
Hening. Andrew tidak menanggapi, yang kemudian membuat Jeremy merasa Andrew juga berpendapat demikian. Tenggelam dalam pemikiran menyesakkan tentang dirinya yang tidak berguna.
"… Aku tidak membencimu, Joshua," kalimat Andrew tersendat. Mencoba menemukan rangkaian frasa yang tepat. Namun jutaan frasa yang terserak di kepalanya seolah menghilang begitu saja saat ia berhadapan dengan pemuda di depannya. "Aku hanya kesal. Aku kecewa. Aku marah. Kesal pada diriku sendiri dan putus asa pada semua kenyataan yang terjadi."
"Kesal?" Jeremy menoleh, tersenyum sinis memandang Andrew. "Kau kesal karena menolong dan terjebak dengan pemuda rendah sepertiku, eh? Kasihan sekali."
"Itu tidak benar," suara Andrew terdengar aneh—tidak seperti suara Andrew yang biasanya datar tanpa emosi berarti. "Kau…"
Untuk sesaat Jeremy melihat kebimbangan di wajah Andrew ketika lelaki tiba-tiba saja menggantung kata-katanya. Jeremy diam, menunggu Andrew menyelesaikan kalimatnya. Tetapi tampaknya Andrew tidak berniat melanjutkan. Jeremy bangkit dan berjalan untuk meletakkan boneka kura-kuranya itu di atas nakas. Sementara onyx Andrew bergerak mengekor gerak-geriknya.
Dan Jeremy seakan terlonjak ketika Andrew melakukan gerakan mendadak yang sama sekali tak terduga. Dengan cepat Jeremy mengangkat wajahnya, memaksa matanya tenggelam dalam lautan milik Andrew yang seolah menelanjanginya, menarik semua rahasia dari sudut-sudut hatinya, dan membiarkan hatinya berdentum tak nyaman ketika tangan Andrew menyentuhnya. Sebuah sentuhan lembut yang sangat jarang—bahkan mungkin tidak pernah—Jeremy rasakan dari Andrew. Mendadak bernapas menjadi sangat sulit, ketika jemari lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu menyusup ke dalam helaian surai ebony-nya yang sedikit kusut di sisi wajahnya, sementara ibu jarinya membelai pipinya dalam gerakan pelan dan berhati-hati.
"Maaf…" bibir sempurna Andrew mengeluarkan kata yang terdengar sangat aneh di telinga Jeremy.
"Seharusnya kau tahu…." Jeremy menyentakkan tangan itu, memaksanya menjauh dari wajahnya. Saat itu, Jeremy melihat gelombang emosi dan kilasan ekspresi tersiksa di wajah Andrew dan lautan mata sewarna batu onyx-nya.
"Maksudmu?" Andrew menatap tak mengerti pada sosok pemuda yang kini berjalan melewatinya dan menuju pintu yang ada di belakang Andrew.
Jeremy berhenti di tengah pintu. Pria itu melirik Andrew sejenak. Sebuah senyum ambigu tersungging di sudut bibir Jeremy.
"—orang akan melakukan apa pun untuk hidupnya yang sangat singkat."
Jeremy melanjutkan langkahnya, meninggalkan Andrew yang menatapnya tak mengerti.
"Joshua, tunggu!"
'Srak!'
Lengan Andrew tak sengaja menjatuhkan berkas di atas nakas. Pria itu yang semula ingin mengejar Jeremy, memilih menahan dirinya dan mengambil berkas yang bertebaran di kakinya. Andrew berjongkok, mengumpulkan kertas-kertas itu. Dan matanya yang tak sengaja membaca isi dari kertas itu, terbelalak tak percaya. Ini adalah….
.
.
.
To be Continued
|
||||||