Fiction » Romance »

Black Moonlight
Author:
Matoki Latte PM
MC - "Kau tak boleh selamanya menjadi angsa yang berenang di rawa di tengah hutan. Kau harus bangkit, Yukiko-chan! Dan menjelma menjadi putri cantik di atas panggung megah! Aku berjanji akan membuatmu tampil dalam pertunjukan musim panas, di atas panggung yang megah. Ini, janjiku seumur hidup, Yukiko-chan!"
Rated: Fiction M - Indonesian - Romance/Drama - Words: 9,918 - Published: 07-01-12 - id: 3037969
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

"Kau tak boleh selamanya menjadi angsa yang berenang di rawa di tengah hutan. Kau harus bangkit, Yukiko-chan! Dan menjelma menjadi putri cantik di atas panggung megah!"

.

.

"Aku berjanji akan membuatmu tampil dalam pertunjukan musim panas, di atas panggung yang megah. Ini, janjiku seumur hidup, Yukiko-chan!"

.

.

.

"BLACK MOONLIGHT"

Original Fiction Written by Nero © 2012


Disclaimer :

All of story contents belong to me. This is just a work of pure fiction. I don't take any material profit from this work. Don't copy, don't re-link, and don't re-share without permission. Plagiarisms aren't allowed here!

Balerina © Himmah Tirmkoara

Genre – Rate :

Romance – Drama – Angst

Mature – PG 20+

Warnings :

Soft Lemon/NC

Don't copy, don't re-link, and don't re-share without permission. Plagiarisms aren't allowed here!


~CHAPTER I~


Namaku Yukiko Harada, penari terkenal dari grub balet Liberty Inggris. Kedua orang tuaku tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas sewaktu aku berumur empat tahun dan selanjutnya besar di sebuah panti asuhan. Dua tahun kemudian aku diadopsi keluarga Tsuzuki dan Jiraiya, keluarga Jepang yang menetap di Inggris dan tinggal bersama mereka.

Sejak itu pula mereka memasukkanku ke grup balet dan terus mendukungku hingga aku jadi Balerina terkenal di Inggris sampai usiaku ke 22 tahun ini. Empat tahun yang lalu, aku pernah mendapat medali emas dalam kontes balet internasional di Jepang, negara kelahiranku.

Setahun yang lalu, aku bertunangan dengan Okita Tomoya, seorang Dancer Noble dari Jepang, yang berada di grup Royal Academy.

Kami sudah sepakat akan menikah setelah pertunjukkan istimewa dalam tarian "Cemara Salju".

Untuk mendapatkan peran utama Syibil dalam tarian itu, aku harur bersaing dengan Hinagiku Sakura, penari muda yunior yang juga berasal dari Jepang, pada babak ke empat, tarian itu dibawakan secara Grand Pas De Deux, di mana Syibil akan bertemu dengan Pangeran Ciba yang diperankan oleh Okita Tomoya, tunanganku!

"Yuki-chan! Attitude-mu kurang sempurna. Perbaiki lagi!"

Huff! Aku melamun sebentar tadi.

"Gisel yang kau tarikan adalah Gisel sebagai roh! Bukan lagi sebagai gadis desa. Ayo, lenturkan tubuh bagian atas dan seluruh otot bagian bawah dikencangkan!"

Kotaro-sensei, instruktur dari Jepang itu memegang bahuku dari belakang dan menekuk-nekuk lenganku. Begitu pula dengan pinggang dan pahaku. Setelah itu ia membawaku mengikuti gerakan yang diinstruksikannya. Baju senamku basah oleh keringat.

"Tadi, Hinagiku kulihat latihan di studio C. Penampilannya bagus dan... berbakat!" kata Okita sewaktu berada di mobil dalam perjalanan pulang.

"Kalau begitu, dia berpeluang untuk jadi pasanganmu, kan?" ekor jade-ku meliriknya.

"Tentu. Kalau tim penilai memberikan nilai tertinggi untuknya."

Hatiku meradang.

Sejak tadi, dia tidak pernah menyinggung pernikahan kami.

Malah, dia yang jarang memuji, justru dengan ooc-nya selalu membicarakan Hinagiku, sainganku merebut peran Syibil!

Setiba di rumah, mulut tajam Tsuzuki langsung menerkamku, "Kotaro-san meneleponku barusan. Kau tidak konsentrasi, Yukiko. Peran Syibil itu harus kau dapatkan. Ingat, ini untuk pertunjukkan istimewa balet Inggris yang dinantikan pencinta dan kritikus balet dari dalam dan luar negeri. Karcisnya mahal. Bayangkan, berapa uang yang kau dapatkan dari pertunjukkan itu. Lupakan sejenak tentang pernikahanmu!"

Huh! Mengapa tidak ada yang mengerti perasaanku menghadapi pernikahan yang kuanggap sangat sakral ini?

Wuahh!

Kusapu muka dan leherku dengan handuk kecil. Aku sudah menarikan Gisel-ku dengan sebaik mungkin di hadapan tim penilai. Aku mengintip ke dalam ruangan.

Glek!

Hinagiku, penari yunior itu tampil begitu memukau. Sosoknya bagai boneka cantik berbaju putih dengan rambut indigo bercahaya.

Ia seolah-olah mampu mengitari Ballroom dengan jate-nya yang indah di ujung jari kakinya.

Yang menari itu bukan seperti Hinagiku, tapi seperti roh! Roh Gisel yang bangkit dari kubur dan mengajak para pemuda menari.

Jantungku berdegub kencang.

Inikah calon Balerina masa depan Inggris yang akan menjadi primadona dunia yang mengalahkan aku?

Dan, aku harus kecewa ketika Pak Direktur mengumumkan bahwa peran Syibil jatuh pada Hinagiku! Sedikit air bening jatuh dari jade-ku.

Aku kecewa.

Tetapi, rasa kecewaku agak terobati bila mengingat pernikahanku dengan Okita yang tidak lama lagi, tetapi tidak begitu dengan Tsuzuki dan Jiraiya. Mereka benar-benar kecewa.

Mulut Tsuzuki yang pedas dan yang tidak pernah hangat kepadaku itu memaki ketus, "Dasar baka! Kau dikalahkan penari muda yang masih yunior!"

"Penampilannya memang sangat bagus," selaku sabar. Aku memang selalu diketusi Tsuzuki bila ada yang tidak berkenan di hatinya.

"Kenapa kau tidak lebih bagus lagi dari dia?"

"A-aku... aku kurang konsentrasi. Pernikahanku..."

"Persetan dengan pernikahan!" Tsuzuki meledak. "Itu hanya merusak karirmu!"

"Tapi, aku tetap seorang Balerina. Aku masih bisa tampil dalam pertunjukkan dan kontes dunia."

"Nyatanya, kau gagal mendapat peran Syibil! Seharusnya beberapa ribu Poundsterling sudah kau dapatkan dari pertunjukan itu. Kau makin terkenal dan bayaranmu makin mahal! Tidak ada suatu hal pun tanpa bayaran, tahu?"

Aku tercekat.

Jadi, selama ini Tsuzuki dan Jiraiya mendukungku dalam balet hanya untuk meraup uang semata? Sebagai pekerjaan?

Memang sudah banyak yang mereka dapatkan. Kutatap nanar toe shoes-ku yang tergantung di dinding kamar.

Gedung pertunjukan Rix Oriental penuh sesak dipadati penonton yang berpakaian resmi dan terhormat. Semakin bertambah pulalah nilai Balerina yang tampil malam ini.

Dan Balerina itu bukan aku!

Aku mendesah seraya menjatuhkan tubuh ke kursi VIP paling depan.

'Cemara Salju' adalah balet klasik yang diadaptasikan dari sejak Hrymlus dalam 'Syibil'. Mengisahkan tentang Syibil, wanita cantik yang dilambangkan penduduk sebagai dewi kesuburan yang diculik dan disandera seorang penyihir di bawah pohon cemara dalam hutan salju. Berkat ikatan cinta seorang pemuda yang jatuh cinta padanya, akhirnya Syibil berhasil diselamatkan dan mereka menjadi sepasang kekasih.

Hinagiku tampil dengan baik. Ia mengenakan baju tipis pendek dan bersurai-surai dipadu rambutnya yang diikat sehingga ia tampak begitu dewasa.

Ia seolah tak menyentuh bumi oleh pointe-nya yang sempurna lewat toe shoes yang dikenakannya.

Aku jadi gelisah sendiri ketika memasuki babak ke empat.

Grand Pas De Deux, saat Syibil dan Pangeran Ciba berkasih-kasihan.

Dalam iringan lagu klasik dan lampu sorot, keduanya menjadi pusat perhatian penonton. Mereka berpegangan, berpelukan, meliuk, berdekapan, ber-

"Waw... perfect couple! Lihat mime-nya, mereka seolah-olah benar Syibil dan Pangeran Ciba yang saling mencintai!"

"Amazing! Si Dancer Noble itu Okita, bukan? Dia tahu betul bagaimana membuat Balerina menjadi cantik. Dia pantas mendapatkan Dancer Noble!"

"Was, wes, bla, bla, bla..."

Hatiku panas.

Aku cemburu!

Seharusnya akulah yang menari bersama Okita di atas panggung itu.

Okita milikku!

"Waaa..!"

'Plok! Plok! Plok!'

Seketika suasana menjadi riuh dan berdengung. Penonton berdiri ketika layar telah ditutup.

"Encore! Encore!" teriak mereka sambil bertepuk tangan tiada hentinya. Aku ikut berdiri bersama mereka.

Dari balik layar, muncul Okita-ku dan Hinagiku. Peluh berjatuhan dari kening dan leher mereka. Keduanya membungkuk memberi hormat atas sambutan penonton. Keduanya terlihat begitu serasi dan bahagia.

"Hebat! Balerina yang masih muda ini sudah punya keanggunan dan keindahan dalam setiap perak tubuhnya. Balerina impian Inggris!"

"..., ini adalah kelahiran Balerina klasik terbesar di masa yang akan datang!"

Suara tepukan dan berbagai komentar terus berkumandang dari kanan-kiriku.

Beberapa penonton kehormatan maju ke panggung dan menyerahkan karangan bunga pada Hinagiku dan menyalaminya.

Sebelah tangan Okita-ku memeluk pundaknya. Keduanya tersenyum bahagia kala puluhan lampu blitz mengarah pada mereka.

Aku termangu di antara ribuan penonton yang benar-benar puas akan penampilan mereka.

"Apa! Okita menunda pembuatan cincin berlian kami?"

"Benar, Nona," jawab suara telepon dari seberang sana. "Beberapa waktu yang lalu beliau datang ke toko kami."

"Dia tidak memberi tahu saya."

"Maaf, Nona," suara itu terdengar prihatin, "Tuan Tomoya sendiri yang mengatakan begitu."

Kekagetanku makin menjadi-jadi ketika kuminta penjelasan Okita.

"Kau sudah dengar sendiri, Yukiko. Bahwa Direktur Bolshoi dari Rusia yang menonton 'Cemara Salju' sangat terkesan dengan penampilan kami. Mereka menawarkan kami untuk belajar selama dua bulan di Moscow dan mengikutsertakan kami dalam pertunjukkan istimewa mereka dalam musim ini."

"Kupikir kau menolaknya, Okita. Bukankah kita akan menikah? Semua orang juga tahu dari koran-koran gosip itu."

Mata onyx itu menatapku agak lama.

"Hal itu tentu bisa ditunda dulu bukan?" katanya pelan. "Kesempatan ini sangat luar biasa, Yukiko. Aku dan Hinagiku ditawarkan belajar langsung di Rusia, negeri balet terbesar di dunia, dimana sejarah baletnya telah hampir delapan ratus tahu lamanya. Kerajaan balet dunia!"

Mata onyx yang biasanya redup itu bersinar tajam, aku seperti tidak mengenalnya.

"Tapi, Oki–"

"Stop, Yukiko. Kau harus berpikir realistis!"

Habislah aku. Tapi, aku tidak menyerah begitu saja.

Lain waktu kubujuk dia untuk membatalkan tawaran itu, tetapi sampai sejauh ini dia tetap bersikeras dan terus berlatih dengan Hinagiku.

Nama mereka kian gencar diekspos dalam surat kabar sebagai pasangan terbaru dan duta Inggris yang sangat diharapkan. Foto mereka terpampang di mana-mana.

Padahal beberapa waktu lalu, gosip pernikahanku dengan Okita jadi berita utama.

Beberapa hari sebelum kepastian keberangkatannya ke Moskow, Okita menemuiku. Kukira ia membawa suatu perubahan.

"Kupikir kau sama denganku, Yukiko. Kita bisa bersama dalam balet. Tapi, ternyata kita berbeda. Kau tidak memahami aku yang menjadikan balet sebagai bagian hidupku dan hidupku kuabadikan untuk balet. Kukira, aku bukan orang yang tepat untuk mendampingimu, Yukiko. Menikahlah dengan pria lain. Maaf..."

Sebuah pemutusan hubungan yang praktis tapi menyakitkan.

Hancurlah harapan dan impianku tentang pernikahan. Sedih, malu dan kecewa huhamburkan dengan tangisan dalam kamar.

Koran-koran dan televisi -dengan suksesnya- telah memberitakan perihal kami.

Tentunya dihubung-hubungkan dengan kehadiran Hinagiku di antara kami.

Inilah saat yang terberat bagiku.

Aku merasa seorang diri.

Media massa yang dulu rajin memberitakan keberhasilanku, direktur dan pelatih di grup Liberty yang membanggakanku serta pecinta balet yang mengagung-agungkanku, kini semua memihak Okita dan Hinagiku. Begitu juga Tsuzuki dan Jiraiya yang tidak bisa kuharap meski mereka telah mengasuhku sejak lama.

Mulut pedas Tsuzuki telah melukaiku.

"Jangan hanya menangis, Yukiko. Ingatlah segala kebutuhanmu dalam menjalankan kehidupanmu yang terus berlangsung. Pikirkanlah berapa sudah biaya yang kami keluarkan sejak mulai mengasuhmu di rumah ini. Semua itu tidak sedikit. Pertimbangkanlah!"

Aku benar-benar telah terdepak.

Pada hari keberangkatan Okita dan Hinagiku ke Moskow, dalam keadaan terpukul berat kuambil buku koleksiku.

Gerakan tanganku terhenti pada halaman yang sudah buram. Fotokopi kliping koran Marchbolt Weekly Times terbitan 22 tahun yang lalu.

Di situ terpampang foto seorang gadis cantik dalam pakaian balet berpose pointe.

Di atasnya tertulis besar-besar:

"AKHIR CINTA DAN POPULARITAS BALERINA ASAL JEPANG, YUMEKO ARASHI: SEBUAH TRAGEDI"

Panti Asuhan 'Momiji'. Nama yang terasa asing bagiku sejak enam belas tahun yang lalu.

Ya, di sinilah aku sekarang, Tokyo, Jepang. Dengan pesawat paling pagi, membawa masalahku ke negara kelahiranku.

Kabur.

Di tangga halaman, dua gadis muda keluar sambil bercakap-cakap. Salah seorang dari mereka, seorang gadis tomboi tertarik melihatku.

"Hei!" serunya. "Bukankah kau Yukiko Harada, sang Balerina asal Inggris itu? Aku pernah gambarmu di koran dan pamflet-pamflet."

Aku menunduk sambil tersenyum kaku, menyembunyikan jade-ku yang bengkak akibat kebanyakan menangis-aktivitasku sejak ditinggal Okita. Tentunya, mereka juga tahu kisah cintaku sudah berakhir.

"Gomenasai, engg... siapa yang bisa saya temui di sini? Tolonglah saya," pintaku memelas.

Sejenak keduanya berpandangan. Tapi, salah seorang yang agresif tadi segera mengerti.

"Arashi-sama! Ya, Arashi-sama. Tapi sayang, dia memutuskan kembali ke kastilnya, sebuah desa kecil di Kanto. Cukup jauh dari sini. Tapi, kami masih tetap berhubungan."

"Berikan alamatnya, minna-san. Saya sangat membutuhkannya. Onegai..."

"Kau yakin akan menemuinya?" tanya gadis itu dengan mimik serius.

Apalah arti jarak yang sebegitu jauh dibandingkan gejolak pilu hati ini? Hati yang telah tercabik-cabik oleh kenyataan yang mengecewakan, dan tidak bisa kudapatkan kedamaian meski telah berkali-kali kupasrahkan dalam bilik pengampunan di gereja-gereja terbaik Inggris.

Hatiku telah bertekat, juga dalam perjalanan yang cukup melelahkan.

.

Permulaan musim dingin menyambutku setiba di stasiun Kanto, kota yang masih bernuansa pedesaan.

Kurapatkan sarung tangan, kaos kaki, dan syalku sebelum menaiki kendaraan yang menunggu di pelataran parkir stasiun. Dataran cemara dan gerombolan daun momiji yang sudah gugur di sepanjang jalan yang sepi dan berkelok-kelok membuat suasana menjadi lembab dan murung. Rumah-rumah letaknya berjauhan.

Kastil Arashi, sebuah tempat yang amat mudah didapati karena penduduk Konoha ini amat ramah, mudah dimintai keterangan dan tahu banyak tentang kastil itu beserta penghuninya.

Jalan kecil berkerikil yang tertutup salju tipis kulalui dengan langkah pelan.

Setelah menekan bel beberapa saat, pintu antik itu terbuka dan aku terpana mendapatkan sosok berambut sewarna dengan rambutku duduk di kursi roda, yang sedang didorong oleh seorang pemuda pirang tampan bermata safir.

Kami saling bertatapan.

Lama.

Aku masih terpaku, sampai akhirnya wajah yang masih menyisakan kecantikan itu mengulas senyum buatku.

Dan... tiba-tiba saja tangisku meledak.

Aku menangis sejadi-jadinya dalam posisiku berdiri.

Travel bag-ku jatuh begitu saja di dekat kakiku.

"Yukiko Harada?" kudengar suara lembut menyebut namaku.

Aku mengangguk sambil terus terisak-isak. Entah kenapa aku menjadi sedih mengenang kehidupanku dan juga sedih melihat wanita yang duduk di atas kursi roda di hadapanku.

Dialah Yumeko Arashi. Balerina yang malang itu.

"Aku tahu dari koran-koran dan televisi tentangmu, Yuki-chan. Bocah Tomoya itu sudah terbang ke Rusia, kan?"

"Sejak umur tiga tahun aku sudah belajar balet. Saat pertama memakai toe shoes aku sering menangis karena sakit di ujung jari kakiku yang terluka. Tetapi, aku tetap berlatih..."

Aku menyimak penuh perhatian sambil menatapi perapian yang menyala besar. Udara dingin terasa sampai ke balik baju hangatku. Kuusap telingaku yang dingin. Ku lihat wanita itu, yang memintaku memanggilnya 'Kaachan', begitu nyaman dengan pakaian tebalnya. Angin pagi berdesir-desir di keheningan Kastil Arashi.

Wanita itu berhenti sejenak sambil mengingat-ingat. Suara kayu kering dimakan api berkeletekan memercikkan bunga api.

"Pada suatu ketika aku bertemu dengan Yahiko-sama, pemuda Jepang yang kaya raya pencinta seni balet. Dia sengaja datang ke Moskow untuk menyaksikan penampilanku. Lalu, kami saling jatuh cinta."

Sampi di sini tubuhku mengkerut, dapat menebak kelanjutan kisahnya lewat buku yang kubaca.

"Saat itu usiaku sembilan belas tahun dan dialah cinta pertamaku. Aku tergila-gila padanya sampai hilang akal sehatku. Kami dimabuk cinta. Uh!" wanita itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Saat itu juga Yahiko-sama mengajakku menikah dan menetap di Inggris. Aku menerima dengan senang hati. Dapatlah kau bayangkan, bagaimana marahnya kedua orang tuaku dan betapa kecewanya Teater Fuji dan juga negaraku. Tapi, aku telah memilih. Akhirnya kami menikah. Aku tahu bahwa sejak itu aku terbuang dari keluarga dan negaraku..."

Hening sejenak. Dalam diam kutelan air ludah yang menyangkut di tenggorokanku.

"Hari-hari bahagia kemudian menyelimuti kehidupanku di Inggris bersama suamiku. Aku masih tetap menari sampai waktu yang cukup lama. Predikat primadona melekat padaku. Yahiko-sama sangat bangga padaku."

Wanita itu berhenti lagi. Dijangkaunya kayu bakar dan memasukkan ke perapian yang mulai mengecil.

"Tetapi, kebahagiaanku itu tidak seberapa dibandingkan dengan bencana besar yang kualami kemudian, Yuki-chan," lanjutnya setelah menarik napas panjang

"Aku mengalami kecelakaan fatal dalam pertunjukan di Jerman. Sewaktu melakukan Grand Jate pada babak akhir, aku kehilangan keseimbangan hingga mendarat dengan tidak sempurna pada ujung kakiku. Aku terhempas. Akibatnya urat Achilles kakiku putus dan tulang belakangku retak dan aku... aku lumpuh..."

"Kaachan..." kugenggam erat sebelah lengannya yang tersandar di pegangan kursi rodanya.

"Yang paling menyakitkan lagi adalah ternyata waktu itu aku sudah memasukì tahap awal kehamilanku yang tidak kuketahui sama sekali. Kehamilan yang sangat kunantikan. Tapi... aku juga harus kehilangan segala-galanya, termasuk suami yang sangat kucintai. Ternyata dia hanya mencintai tubuhku, balet-ku dan ketenaran nama besarku."

Peganganku di lengannya kian mengencang. Dadaku terasa sesak sementara wanita itu tetap tenang pada posisinya.

"Selanjutnya, suamiku mengembalikanku ke Jepang, sementara dia menikah lagi dengan wanita lain. Aku tidak mampu berbuat apa-apa selain menangisi penderitaanku. Aku mencapai puncak putus asa, ketika suamiku tewas bersama istri barunya dalam sebuah kecelakaan pesawat terbang. Aku ikut pada upacara pemakamannya dan setelah itu aku minta dibawa ke sebuah tempat indah, dimana dulu aku dan suamiku menghabiskan waktu akhir pekan dan meninggalkan aku sendiri di sana untuk mengenang kenangan indah dengan suamiku. Tidak ada yang menduga bahwa itulah saatnya aku ingin mengakhiri hidup yang tidak sanggup kutanggung lagi. Aku menjatuhkan diri bersama kursi rodaku ke jurang. Tapi, aku diselamatkan oleh seorang pria pecinta alam, Haru Arashi. Dia membawaku ke sini dan merawatku dengan tulus. Dia juga dengan sabar mengembalikan semangat hidupku. Di sinilah aku mengenal sebuah kehidupan dengan dimensi lain. Aku menikah dengan malaikat penolongku, Haru. Tapi, cobaan belum berakhir untukku. Saat aku hamil dua bulan, lagi-lagi aku kehilangan orang yang kucintai. Haru meninggal dalam perjalanan pulang setelah menyelesaikan pekerjaan di Italia. Tapi, aku tak boleh jatuh lagi. Apalagi, beberapa bulan kemudian Yosuke lahir. Aku berusaha membesarkannya sendirian. Walau, tanpa Haru. Aku hidup untuk anakku, Yosuke. Buah cintaku dengan Haru. Aku bangkit kembali dengan jiwa yang baru."

Hatiku terketuk.

Kaachan telah mendapatkan penyelesaian yang terbaik dalam liku-liku hidupnya yang ternyata tidak seberapa dibandingkan dengan kehidupanku. T

iba-tiba, aku merasa malu padanya dan dengan diriku sendiri.

Wanita itu seperti tersadar dalam lamunannya. Ditolehnya aku dan tertawa.

"Kau pasti bingung, Yuki-chan. Maaf, aku bicara terlalu jauh. Tapi begitulah. Aku sungguh beruntung mendapatkan kehidupanku yang sekarang. Tapi, aku tidak menyesali itu semua. Baletlah yang mengantarku pada puncak kegemilangan seorang Balerina dan balet pula yang menghempaskanku dalam penderitaan yang tak terkirakan. Tapi, balet juga yang mempertemukanku dengan Haru. Yukiko-chan, kau masih punya waktu untuk memikirkan baik-baik apa yang akan kau lakukan untuk kehidupanmu yang akan datang. Masih panjang jalan yang harus kau lalui, karena itu pikirkanlah baik-baik sebelum memutuskan sesuatu. Satu yang kutekankan padamu, Yuki-chan, janganlah kau sampai menyesal dikemudian hari. Masih banyak jalan."

Aku terhenyak tanpa tahu harus berkata apa.

"Yosu-kun!" Kaachan memanggil anak laki-lakinya yang tadi dibicarakannya. Tak lama, pemuda pirang itu muncul.

"Ya, Kaasan?"

"Ajak Yuki-chan, ke tempat itu!"

"Oke!"

Yosuke tertawa lebar dan menarikku menuju tempat yang ditunjuk Kaachan.

Aku mengikuti langkah Yosuke, melewati jalan setapak tertutup salju dan berkelok-kelok di belakang kastil.

Tak lama, terlihat bangunan megah di depanku.


'TEATER ARASHI: DRAMA DAN SENDITARI'


Gedung yang terlihat cerah di tengah suasana bersalju ini, dari dalam, aku mendengar suara riuh.

"Di sini Kaasan mengajar teater. Dan teater kami sudah sering melakukan pertunjukan lokal."

Bukan balet, pikirku. Aku... masih trauma pada panggung megah, pada riuh tepuk tangan penonton, pada...

Tapi, seolah bisa membaca pikiranku, Yosuke berkata, "Kau tak boleh selamanya menjadi angsa yang berenang di rawa di tengah hutan. Kau harus bangkit, Yukiko-chan! Dan menjelma menjadi putri cantik di atas panggung megah!"

Aku menatapnya.

Dan dia melanjutkan kata-katanya,

"Aku berjanji akan membuatmu tampil dalam pertunjukan musim panas, di atas panggung yang megah. Ini, janjiku seumur hidup, Yukiko-chan!" Safir itu membalas tatapanku, dan jadeku menemukan kesungguhan dalam kata-kata janji itu.

Namun, di tengah keterkejutan dan air mata yang mulai mengalir di pipiku, aku hanya mampu menjawab, "Yo-Yosuke-kun... Te-terima kasih..."

Salju yang menutupi pepohonan di tepi malam memantulkan cahaya keperakan.

Malam berkilau di antara putihnya salju dan taburan bintang-bintang laksana mutiara kegelapan.

Dewi malam menebarkan cahayanya yang lembut di atas langit Konoha.

Sunyi.

Hanya terdengar suara desiran angin bergesekan laksana seruling membelai selaput telinga, mengoyak kesunyian.

Cahaya dari duo penguasa malam itu menyalakan lentera kenangan yang telah lama padam.

Ada nyala dan sisa puing-puing berserakan di dalam hati.

Satu persatu kenangan bangkit dan menjelma di sela-sela kesunyian.

Aku mengeja langkah angin yang tak berdusta dari balkon di lantai atas Kastil Arashi.

Menapak dalam belaian lembut sang bintang.

Berdenting nada-nada dari kepak sayap hatiku, mencoba bangkit dari lumpur hitam masa lalu dan limbah-limbah luka.

Masih di balik balkon, aku terpekur.

Bertahan di bawah bintang dan di atas putihnya salju, dengan malam yang semakin sunyi.

Jade-ku memandang jauh ke bintang-bintang.

Bintang yang damai, bertaburan tanpa pengait saling mengitari langit.

Kepada mutiara malam yang tenang, aku melabuhkan kegundahan.

Bulan bulat penuh, keperakan menyilaukan mata.

Purnama.

Di tengah salju.

Tak ada mendung, salju pun tak turun, membiarkan bulan dan bintang saling meraba malam.

"Yukiko-chan..." sebuah suara merdu diterima indra pendengaranku, mengalir, dan memecah kesunyian di hatiku.

Aku menoleh dan menemukan permata safir bersinar, bersaing dengan warna keperakan dan kegelapan di sekitarku.

Safir yang menjebak dengan keindahannya.

"Yosuke-kun..." lebih seperti bisikan aku mengeja nama pemilik safir yang baru saja memanggilku.

Sosok tampan dengan helaian blonde lembutnya itu mendekat.

Dan berdiri di sampingku.

Sapphire-nya ikut memandang bintang yang setia pada posisinya.

Terdiam.

Keheningan yang menjadi hal yang luar biasa menyelimuti kami.

Lama.

"Apa yang kau lakukan di sini, Yosuke-kun?" dan aku mencoba memecahnya, "Bukankah–"

"Seharusnya aku latihan di gedung Teater?" Aku tersenyum, itulah rangkaian frasa yang ingin kutanyakan...

"Ya, bukankah kau seharusnya di sana?" Aku melepas bintang dan menatap gedung di depanku masih menampakkan cahaya...

"Aku hanya memastikan kau sudah tidur atau belum, Yukiko-chan. Atau jangan-jangan kau membutuhkan sesuatu, jadi aku ke sini."

"Sampai bolos latihan?" tanyaku lebih terdengar menggoda.

Hm, bagaimanapun aku pernah mengalami fase di mana latihan menjadi hal yang pokok dan tabu untuk ditinggalkan.

"Hehehe, tadi aku sempat ke gedung sih, tapi Kaasan menyuruhku ke sini," masih tanpa menatapku dia menjawab.

Sebentuk rasa kecewa menggoyangkan tirai hatiku, mendengar alasannya ke sini.

"Hoi, Yukiko-chan!"

"Oh, eh. Apa?" aku terkejut melihat wajahnya yang kini menghadapku.

"Kau melamun," ucapnya disertai cengiran yang untuk seterusnya tampaknya akan menjadi ekspresi Yosuke favoritku.

"Ahaha, maaf, Yosuke-kun," aku merasa terkejut mendengar kekakuan suaraku, seperti mencoba menyembunyikan sesuatu dalam hatiku.

Apa?

"Tak apa. Tapi, kau harus segera tidur Yukiko-chan. Ini sudah malam dan sepertinya kau kelelahan."

Sok tahu atau memang wajahku menunjukkan hal itu.

Entahlah...

Yang pasti, hanya anggukan yang kuberikan sebagai jawaban.

Aku menatapnya, dan lagi-lagi aku terjebak dalam lautan biru di matanya.

Berpendar.

Menyilaukan.

Angin berdesir di sekelilingku bak gelombang yang mencoba menghantamku, mengalihkanku dari pesona laut itu.

Perlahan, tangan berwarna eksotik itu terangkat.

Ragu-ragu, menyentuh pipiku.

Kehangatan yang ditularkan menjalar menembus pipiku.

Bagai terhipnotis kelopak menutup sepasang iris jade-ku.

Senada dengan mataku, hatiku merasa tak ingin dan tak bisa melepas sentuhan itu.

Menunggu...

Tangan itu masih mengalirkan kehangatan di pipiku. Menyelipkan anak rambutku yang lancang turun di pipiku.

Masih menunggu.

Di bawah bulan yang keperakan semua terlihat sempurna.

Sempurna, ketika kehangatan yang lebih dari hembusan napas sang laut mendekat.

Menggelitik setiap pori-poriku.

Detak jantung berpacu, bersaing dengan rasa panas yang menjalar di atas porselenku.

Aku merasakan waktu terhenti...

"..."

"..."

"Oyasumi, Yukiko-chan..." lirih sekali suara itu menyentuh gendang telingku.

Lama.

Ketika jade-ku membuka, aku tersadar.

Laut itu telah menghilang, meninggalkan aku dan kesunyian.

Kosong.

Sial!

Aku malu pada diriku sendiri.

Apa yang kupikirkan?

Kenapa aku memikirkan hal-hal berlebihan tadi.

Apa yang sebenarnya ku harapkan?

Yosuke yang menciumku, kah?

Yukiko bodoh, bodoh, bodoh.

Aku kembali menatap langit yang kini tampak menertawakanku.

Menertawakan kebodohanku yang dengan seenaknya berspekulasi.

Dan, argh! Yosuke juga bodoh.

Kenapa dia membuatku berpikir seperti itu.

Sepertinya, masalahku membuatku harus menanyakan lagi tentang kewarasanku.

Apa hanya karena janji itu aku jadi berharap lebih.

Ah, entahlah.

Aku hanya berharap sang mimpi tidak ikut-ikutan menertawakanku.

...

Salju turun keesokan harinya.

Butiran-butiran putih terjatuh dengan slow motion dari payung dunia yang menggelap, karena pemilik siang lebih memilih bersembunyi di balik jubah sang awan yang berwarna kelabu.

Salju itu menari-nari bak mutiara putih tanpa massa. Melayang-layang. Jika salju bersuara, bisa terdengar alunan nada merdu menjadi irama berasal yang gerakannya yang meliuk-liuk di udara.

Berdansa dengan angin sebelum jatuh ke tanah dan melebur ke bumi. Langit dan bumi.

Bumi membutuhkan langit untuk mencipta salju.

Langit membutuhkan bumi untuk meleburkan salju.

Langit, bumi dan salju...

Mencoba mengabaikan nuansa putih yang melatari sekelilingku, aku merapatkan jaketku dan melangkah tergesa di atas setapak, menuju gedung teater.

Tak lama, gedung itu telah berdiri dengan kokoh di depanku.

Jade-ku menyusur sekeliling di luar bangunan ini, sepi.

Namun berbanding terbalik dengan semua ini, indra pendengaranku menangkap suara samar-samar dari dalam bangunan ini.

Jam baru menunjukkan pukul sembilan pagi.

Tapi, sepertinya orang-orang yang tidak terjebak dalam rutinitas yang disebut sekolah mulai latihan.

Ragu-ragu, aku mulai memasuki gedung ini.

Sebelumnya, di depan aku melepas boot-ku dan menggantinya dengan sandal rumah yang tersedia.

Hm, cukup pas untuk kakiku.

Perlahan, aku membuka pintu yang tepat berada di samping rak.

Pintu itu terbuka, tak ada orang.

Aku menutup pintu di belakangku.

Sepi.

Hanya ada sebuah ruangan berukuran sedang di depanku.

Ruangan ini berisi lemari kaca dengan katana-katana di dalamnya, dan beberapa ikebana di atas bufet-bufet di sampingnya.

Barang itu tertata rapi di sisi kanan dari depan pintu masuk tempatku berdiri.

Sementara di sebelah kiri terdapat banyak kimono, ikebana plastik, wig, sepertinya perlengkapan untuk pentas, bahkan-hei, ada shummisen juga.

Tapi, di mana mereka?

Mengabaikan sebentuk rasa untuk melihat barang-barang itu, aku mengayunkan langkah menuju pintu geser di ujung ruangan tempat suara-suara itu berasal.

Langahku yang semakin mendekat menaikkan resonansi yang kudengar.

Lagi-lagi, keraguan menyergapku saat tanganku mulai menyentuh pintu berukir plum.

Aku menggesernya.

Perlahan.

Tanpa suara, pintu itu terbuka sebagian.

Kehangatan dari pemanas ruangan dan aroma shiozuke membelai indra-indraku, disusul dengan pemandangan para anak bina kaachan yang tertangkap jade-ku.

Aku mencari dan menemukan Kaachan duduk di kursi rodanya di samping meja yang kuduga aroma shiozuke berasal.

Sesekali tangannya bergerak-gerak memberi contoh gerakan.

Tapi, sepertinya mereka baru istirahat-atau belum mulai?

Kulihat tidak ada gerakan berarti dalam ruangan ini.

Hanya suara para pemain yang sedang menghafalkan naskah yang menjadi sumber suara-suara ini.

"Yuki-chan," terdengar suara merdu memanggilku.

Huft, aku terpaku.

Aku segera mendekat ke arah kaachan yang kini tersenyum menatapku.

Aku membalas senyumnya dan berdiri di sampingnya.

Mataku melirik meja di sampingnya dan benar saja, shiozuke itu berada di mangkuk kecil terbuat dari porselen berukir sakura putih.

"Shiozuke memberiku ketenangan dan mengingatkanku pada musim semi yang selalu penuh keceriaan," seolah mengerti jalan pikiranku, kaachan mengatakan hal itu.

Aku terdiam, tanpa mampu membuat frasa itu menjawabnya.

"Aku tadi hampir saja menyuruh Yosuke untuk menjemputmu. Kau sudah makan pagi, Sayang?" kaachan melanjutkan kata-katanya. Ia mendongak dan tersenyum menatapku.

Kali ini aku mengangguk sebagai jawaban.

"Kau menyukainya, Yuki-chan? Itu sakuramochi buatan Ino, salah satu anak di sini. Selain karena kupikir kau pasti menyukainya, aku juga tak ingin membuatmu seperti Yosuke yang tak bisa lepas dari ramen," ucap kaachan panjang.

Makan pagi dengan sakuramochi memang tidak biasa bagiku yang telah terbiasa sarapan dengan sereal atau sandwich selama di Inggris.

Tapi, sakuramochi yang kumakan tadi rasanya benar-benar luar biasa.

Membuatku penasaran dengan pemilik tangan pembuat sakuramochi itu.

"Anak-anak!"

Suara kaachan mampu menarik perhatian penuh dari mereka.

Tatapan ingin tahu mereka tercipta disusul keheningan yang mengalun pelan.

Sekali lagi kaachan memperlihatkan sebentuk senyum lembutnya.

"Anak-anak, aku telah menemukan pemain untuk drama 'Dua Putri'. Perkenalkan, Yukiko Harada yang akan berperan sebagai Putri Aoi..."

Deg.

Hening yang tercipta semakin nyata.

Aku memandang kaachan tak percaya.

A-apa maksudnya ini?

"Kaachan, a-apa maksudnya?"

Kaachan hanya tersenyum dan memegang tanganku.

"Eh, dia kan balerina yang terkenal itu?" seorang anak dengan rambut maroon berkacamata berbisik keras pada teman di sebelahnya.

Aku mengabaikannya dan sibuk dengan gelombang keterkejutan yang melandaku...

Bagaimana ini...?

...

Drama "Dua Putri" bercerita tentang Putri Aoi dan Putri Aiko dari kerajaan Amegakure.

Karena tipu daya ibu dari Putri Aiko, Putri Aoi diasingkan dan ibunya meninggal dalam pengasingan.

Hingga suatu hari kerajaan Ame diserang oleh kerajaan Otogakure.

Saat Ame hampir kalah, mereka mengajukan perjanjian damai bersyarat.

Oto bersedia berdamai dengan syarat putri dari kerajaan Ame menikah dengan pangeran Oto.

Hal ini disetujui raja Ame, akan tetapi karena Putri Aiko masih kecil, maka raja memilih Putri Aoi sebagai gantinya.

Tapi, Oto berkhianat, mengetahui putri Aoi yang diajukan hanyalah putri terbuang.

Dan Oto pun berniat menyerang Ame kembali.

Hal ini dimanfaatkan oleh putri Aoi untuk membalas dendam pada kerajaan yang telah membuangnya.

Pada penyerangan pertama tersebut, Aoi hilang dan dinyatakan meninggal.

Namun, ternyata ia diselamatkan oleh prajurit Ame.

Dari prajurit inilah putri Aoi tahu bahwa ayahnya, yaitu raja Ame tidak berniat membuangnya.

Tapi, saat Oto sedang senang dan lengah karena mendapat putri Ame, saat itulah ayahnya berniat menyerang Oto dan merebut sang putri kembali.

Dan dari prajurit itu jugalah Aoi tahu bahwa ayahnya sangat menyayanginya.

Akhirnya, pada peperangan ke dua, Putri Aoi muncul dan membantu ayahnya dan kerajaannya.

Kemenangan pun diraih Kerajaan Amegakure...

"Ta-tapi, Kaachan... bagaimana bisa, a-aku..." untaian kata tak beraturan mengalir keluar begitu saja.

Rona keterkejutan pasti terpatri nyata di wajahku.

Bagaimana ini?

'Plok-plok-plok!'

Suara riuh tepuk tangan memangkas keheningan yang sempat menyusup.

Aku menatap mereka.

Dan kilasan memori mengancam di balik suara saat telapak tangan beradu.

'Encore, encore!'

'Mereka pasangan yang serasi'

'Balerina masa depan depan Inggris!'

Hentikan!

Semua ini membuatku muak. Sungguh!

"Yuki-chan? Sayang?" suara keibuan itu memaksaku lepas dari rantai memori.

Jade-ku terbuka, mengerjap.

Aku...

Orang-orang ini...

Tatapan ini...

Tatapan kecewa?

Tatapan tidak bersahabat?

"Go-gomen, Kaachan. A-aku keluar dulu!" ucapku tersendat.

"Kau baik-baik saja, Yuki-chan?" terdapat rasa khawatir yang kentara dalam suara kaachan.

Belum sempat bibirku mengucap jawaban, kakiku telah berhasil menyeret tubuh ringkihku keluar dari ruangan dengan atmosfer panas dan pengap.

Pemanas ruangan kalah saing dengan semua ini.

Suhu yang seolah melonjak naik.

Menyesakkan, dengan oksigen yang mendadak lenyap.

Sunga bening mengalir di atas porselenku yang memanas.

Mengukir sungai, melukis luncuran mata air kecil.

Kenapa begini?

Ada apa denganku?

.

.

.

Tak terasa, tubuhku telah melewati pintu berukir plum dan ruangan penuh katana itu.

Kakiku pun telah beralaskan boot-ku.

Aku kembali bertahan di bawah salju yang kini menari satu-satu. Menemani air mata yang menganak semakin nyata.

Paru-paruku mencari oksigen di tengah beku.

Memastikan bahwa respirasiku masih berjalan normal.

"Yukiko-chan..."

Deg.

Lagi-lagi suara itu mengusikku.

Aku mengusap sungai di pipiku dan tanpa memalingkan wajahku untuk memastikannya, otakku bekerja sesuai fungsinya.

Yosuke.

Mau apa dia?

"Yukiko-chan, ayo!" tanpa menunggu jawabanku, dia menarikku.

Aku tertarik ke arah kanan di atas jalan setapak di depan gedung teater.

Langkahku tanpa suara mengekor langkahnya menapak di atas salju yang menutupi jalan itu, menimbulkan jejak-jejak tak beraturan di atasnya.

Akhir Oktober, salju semakin mengganas, menutup pohon cemara di sepanjang kanan-kiri setapak.

Semakin dingin.

Dan pikiranku pun semakin tak menentu.

Aku bergerak selaras pemuda tan itu membawaku.

Salju semakin tebal.

Pepohonan semakin beragam. Terutama pohon yang mampu melawan musim gugur.

Indah.

Bagai jalan setapak menuju istana dalam dongeng.

Salju adalah karpet merahnya dan juga confetinya yang bertaburan.

Berjatuhan.

Jalan ini memutar ke arah kastil Arashi dan berhenti di belakangnya.

"Sudah sampai, Yukiko-chan..."

Deg.

"Yosuke-kun, i-ini...?" aku menatapnya.

Bingung, terkejut, dan terpesona.

"Bagaimana? Indah, kan?"

Yosuke mengalihkan pandangannya dari mataku.

Menatap pemandangan di depan kami.

"Ini adalah Ume Lake atau Danau Ume," tangannya terentang lebar, seolah ingin memeluk keindahan di depan kami.

Danau.

Ya, danau yang membuatku kehilangan kata untuk membalas kalimat Yosuke. Keindahan yang mempesona tersaji secara close up di depanku.

Bagai lukisan.

Hening.

Danau di belakang kastil.

Bagaimana bisa kastil ini menyimpan surga di belakangnya?

"Danau ini adalah danau yang terkenal di sekitar sini, karena sering dijadikan sebagai tempat perayaan Ume Matsuri," terang Yosuke.

Langkahnya mendekat ke tepi danau. Dia berjongkok, menyentuh permukaannya yang membeku, tertutup es tebal.

Ume Lake.

Sesuai namanya, danau ini dikelilingi pohon-pohon plum yang berjejer teratur mengelilingi danau dengan jarak sekitar dua meter antar pohon.

Berjejeran seperti lingkaran elektron dalam atom.

Di bawah pohon-pohon terhampar rerumputan yang kini memutih bermantel salju.

Bangku-bangku beton terdapat di sela-sela jajaran pohon ume, menghadap ke danau.

Dengan lampu taman di sisinya.

Kulit terluar lingkaran atom plum terdapat lingkaran sakura.

Setelah ume berakhir dan berbuah di akhir bulan Februari, maka keindahan ume akan tergantikan mekarnya lingkaran sakura di awal Maret.

Benar-benar eksotik.

Aku berjalan dan menjatuhkan tubuhku di atas bangku tertutup salju tipis yang paling dekat denganku, tepat berada di belakang Yosuke.

Aku memandangnya yang masih bertahan di tepi danau.

"Ume Matsuri..."

"Ya, Ume Matsuri. Jangan bilang kau tidak tahu apa itu Ume Matsuri, Yukiko-chan," Yosuke menoleh dan memperlihatkan cengiran menggodanya ke arahku.

"Tentu saja aku tahu, Yosuke-kun," ucapku tak mau kalah.

Mataku terpekur menikmati pesona di depanku, dengan angin yang membelai pelan pipiku.

Lembut.

Ume Matsuri, upacara penyambutan berseminya bunga plum.

Ume Matsuri, menghirup sekaligus mengabadikan keharuman dan keindahan bunga plum yang memberi sejuta pesona.

Kilasan memori kembali merebak.

Kapan terakhir kali aku menikmati bunga yang memiliki ciri tanpa tangkai dengan satu kuntum satu bunga dan ujung kelopak bunga berbentuk bundar yang memesona ini...?

"Kau tahu apa keistimewaan plum di sini yang membuatnya berbeda dengan tempat lain?" safir yang hangat itu menatapku.

Memaksa jade-ku untuk membalasnya, "Apa?"

Yosuke berdiri, satu kakinya maju dan menapak di permukaan danau, "Plum di sini akan gugur saat di bawa keluar dari area danau dan kastil..."

"Eh?" nada tak percaya meluncur begitu saja dariku.

"Hehehe, kau tak percaya, Yukiko-chan? Kita buktikan saja saat musim plum nanti."

Aku terdiam.

Lama.

"Lalu, apa maksudmu-"

"Membawamu ke sini?" lagi-lagi pemuda 22 tahun itu memotong kalimatku. Kini kedua kakinya telah menapak semua di permukaan danau.

"Ya..." jawabku kaku, mataku tak lepas memandang tingkahnya.

"Kaasan memberitahuku tentang drama itu. Tentang Putri Aoi yang akan kau perankan," Yosuke berjalan satu langkah ke depan, ke tengah danau membelakangiku.

"Lalu?" aku tak mengerti.

"Kau menerimanya, Yukiko-chan?"

"Entahlah, Yosuke-kun," jawabku ragu.

"Kaasan bukan tanpa alasan memilihmu untuk bermain dalam drama itu, Yukiko-chan," kini langit musim panas itu berbalik dan menatapku.

Menularkan kehangatan yang sekejap merubah musim di depanku.

"Apa... maksudmu?" dan hamparan zamrudku menantang warna summer sky itu.

"Kaasan tidak ingin kau terus-terusan terpuruk, Yukiko-chan. Kaasan ingin kau segera bangkit," tegas sekali rangkaian frasa itu.

"Tapi... aku belum pernah bermain drama!" aku menunduk, melepas langit dan memandang bumi di bawahku.

Putih...

"Kau punya waktu untuk berlatih. Pertunjukkan itu akan dilaksanakan akhir Januari nanti. Saat acara Ume Matsuri, di tempat ini. Kurasa itu waktu yang cukup untuk berlatih, Yukiko-chan," ucap Yosuke panjang.

Pemuda pirang itu melompat kembali ke tepi danau, mengikuti kakinya ke arahku, dan menghenyakkan diri duduk di sampingku.

"Di tempat ini?" jade-ku meliriknya.

"Ya."

"Tapi, aku tidak ingin mengecewakan Kaachan. A-aku tidak bisa," keraguan-atau ketakutan- masih bersemayam dalam rapuhnya diriku. Diri seorang Harada Yukiko.

"Pertunjukkan ini akan dihadiri oleh para pengamat drama dan direktur-direktur pemilik hak pementasan drama terkenal," jawaban Yosuke tak seolah sinkron, "itu berarti kesempatan besar untuk memperkenalkan teater kami."

Aku menunduk tak menjawab.

"Kau tahu kenapa Kaasan mempercayakan peran utama padamu? Itu karena Kaasan percaya padamu. Seperti halnya aku percaya padamu, Yukiko-chan," dia menatapku tegas, tak tersirat noda kebohongan dalam kata-kata itu.

Merdu dan menguatkan.

Aku menatap pemilik kejujuran itu.

Lama.

Dan sepasang permata safir itu menjebakku, lagi.

"Tapi..." aku menunduk.

Puzzle-puzzle kenangan berserakan di dalam otakku.

Ketenaran...

Tepuk tangan...

Kebanggaan...

Kehancuran...

Semua itu masih terasa begitu dekat...

"Aku yakin kau bisa, Yukiko-chan," Yosuke kembali mengucapkan kata-kata itu dengan jempol terangkat dan senyum lebar.

Aku mengangkat wajahku, menatapnya.

Ragu-ragu membalas senyumnya.

"Aku akan mencoba, Yosuke-kun," bisikku terbawa angin tak terdengar, bergesekan.

Dan keheningan kembali memayungi kami, bersamaan dengan salju turun dari petala langit.

Hening.

Indah.

Tapi hangat.

Hangat dari kenyamanan yang kucipta.

...

'Aku di mana?'

'Kegelapan ini menyiksa.'

'Aku takut.'

'Pada apa?'

Ruangan ini gelap, hanya temaram siluet bulan menerobos kisi jendela.

Dan aku melihatnya.,

Ugh...

Mahakarya itu terekpos sempurna dalam detail lekuk porselen indahnya satu warna.

Saling menutup dalam kegelapan.

Bersatu.

Berpacu.

Dalam desah, gelinjang.

Terjebak badai kenikmatan...

Terikat erat rantai surga dunia.

Bergerak meliuk, mendesah...

Mengerang...

Menari-nari dalam kegelapan...

Meraba, berbagi hasrat dalam sentuhan...

Saling memanja...

'Siapa mereka?'

'Aku tidak suka melihat ini!'

'Ini menyakitkan!'

'Tolong hentikan!'

Desah berpacu, bagai melodi surga menguatkan, menyatukan, semakin dalam.

Pearl dan obsidian, berbagi napas menentang gelombang kenikmatan...

Berpacu semakin intens... semakin dalam, cepat dan memabukkan...

Desahan, erangan... teriakan keras, saling menyebut nama... serasa terdampar di puncak surga...

Pearl dan obsidian bersinar dalam kegelapan...

'Okita hentikan!'

'Okita, kumohon hentikan!'

'Apa yang kalian lakukan!'

Aku terjatuh, terperosok melihat semua itu...

Teriakanku... suaraku... sia-sia...

Tarian, desahan... itu semakin menggila...

'Apa yang kalian lakukan?'

'Hentikan Okita!'

.

.

.

"Argghh!"

'Deg, deg, deg'

Ah, aku membuka mataku.

Di mana ini?

Aku menatap cahaya bulan yang masuk di ventilasi jendela. Jade-ku menyusur sekelilingku.

Kamarku.

Mimpi?

Aku tadi bermimpi?

Kenapa mimpi itu?

Hinagiku...

Okita...

Apa yang-

"ARGGHH!"

Kepalaku sakit.

Sangat sakit.

Tolong!

To-tolong siapa pun tolong!

Sakit...

Sa-kittt...

Yosuke-kun to-tolong...

.

.

.

Hot News| Pasangan penari balet Inggris Okita Tomoya dan Hinagiku Sakura kini membuat berita besar.

Kepulangan mereka setelah menorehkan keberhasilan pelatihan selama di Rusia, kini mereka telah resmi bertunangan.

Dunia pun turut berbahagia untuk pasangan baru ini. ...

.

.

.

Jade-ku sayu dengan helaian rambut ebony-ku yang kusut.

Benar-benar penampilan sempurna untuk menyambut pagi bersuhu di bawah nol.

Ingatan tentang mimpi semalam berputar-putar bagai kaset rusak dalam kepalaku.

Membuat isinya berdenyut menyakitkan.

Memperlebar luka yang menganga dalam lembaran hatiku.

Memuakkan!

Aku melangkah pelan menyusur satu persatu tangga menuju lantai bawah, ruang makan.

Mengeja langkahku bersaing melawan denyutan yang menyakitkan dalam kepalaku.

Ruang makan itu didominasi warna almond pada langit-langit, dinding, dan lantainya.

Hanya peralatan makan yang berwarna perak dan kursi makan yang terbuat dari ebony kualitas terbaik. Pekat dan mengkilat.

Jam tua di sudut menunjuk angka delapan tepat.

Pandanganku kembali beralih pada Kaachan dan Yosuke yang telah lebih dulu berada di ruangan.

"Ohayou, Yukiko-chan!" Yosuke yang menyadari kedatanganku segera berdiri dan menggeser kursi untukku.

Hm, gentleman sekali.

"Ohayou mo, Yosuke-kun. Arigatou," ucapku lirih dan segera duduk setelah menyempatkan tersenyum pada Kaachan.

"Kau baik-baik saja, Yuki-chan?"

Kaachan seolah menyadari betapa kusutnya wajahku saat ini.

Kaachan pasti juga telah mendengar berita itu.

"Aku baik-baik saja, Kaachan," jawabku pelan.

"Sungguh?"

Aku tahu kebohonganku sia-sia.

"Memangnya ada apa, Kaasan?" tanya Yosuke tak paham.

Kaasan mendelik sebal pada putra blonde-nya dan melemparkan pandangan 'dasar-tidak-peka' pada pemuda di sampingku.

Lalu kembali menatapku.

Aku meletakkan sumpitku dan menunduk, menghindari tatapan Kaachan.

"Kita tidak punya waktu untuk memikirkan berita itu, Sayang. Kita harus segera latihan dan menyiapkan pertunjukkan hebat untukmu!"

.

.

.

.

"Kau pikir aku sebodoh itu? Aku tahu apa alasan orang-orang brengsek itu membuangku. Ck, aku sudah tidak sabar melihat mereka hancur!"

.

.

.

"Yuki-chan, bukan seperti itu!" ucapan seseorang menyadarkanku di mana aku berada sekarang.

"Kaachan?"

"Yang kau perankan tadi adalah Aoi yang putus asa. Sementara yang seharusnya kau perankan adalah Aoi yang diselimuti dendam. Dia terluka, kecewa, dan terbuang. Tapi, semua itu memberinya kekuatan, dia adalah gadis yang penuh keyakinan, cerdas, dan licik!"

Aku menunduk, menghindari tatapan Kaachan di sampingku.

"Memang seharusnya bukan aku..." ucapku lirih.

"Tidak! Pemeran Aoi harus tetap kau!" ucap Kaachan tegas, "Baiklah, Anak-Anak, latihan hari ini cukup sampai di sini saja!"

Aku berjalan ke tepi sambil menghindari tatapan anak-anak lain.

Mengambil sebotol air mineral dan mengamati mereka.

Sesosok gadis kecil pirang terlihat tengah mendekati Kaachan dengan membawa kertas naskahnya.

Gadis itu adalah Sayu, yang akan memerankan Putri Aiko.

Panglima dari kerajaan Ame diperankan oleh Akito, kakak Sayu yang kebetulan hari ini tidak datang.

Sedangkan sang ksatria sendiri diperankan oleh Yosuke.

"Kau baik-baik saja, Yukiko-chan? Tenang, aku dulu juga sering gagal saat latihan pertamaku..."

Aku menoleh dan menatap gadis yang kini duduk di sampingku.

Rambut pirang panjang, mata abu-abu, cantik bak boneka barbie. Ino, gadis yang seharusnya berperan sebagai Putri Aoi.

Aku tersenyum menatap gadis yang paling cepat akrab denganku ini, "Aku baik-baik saja, Ino-chan."

Kekaguman menyeruak begitu saja pada gadis ini, dia yang dengan begitu mudah menerima keputusan mendadak Kaachan agar aku menggantikannya dalam memerankan Putri Aoi. Padahal dia tahu, pertunjukkan ini adalah salah satu pertunjukkan besar. Tapi, di saat semua anak didik Kaachan silang pendapat dan meragukanku, Ino adalah salah satu yang mendukung keputusan Kaachan.

Oya, dan kekasih Ino juga termasuk anak didik Kaachan yang akan berperan dalam drama. Selain pemuda itu dan gadis barbie di sampingku, juga ada gadis lembut bernama Sayu, gadis berkacamata penuh semangat, Rena.

Pemuda murah senyum nan pandai melukis bernama Kaito, serta anak-anak lain yang hari ini tidak datang.

Sebenarnya, mereka adalah anak-anak yang menyenangkan. Hanya saja, perlu waktu untuk meyakinkan mereka bahwa aku pantas memerankan Putri Aoi.

"Ino-chan, aku keluar dulu," ucapku sambil berdiri.

Ino hanya mengangguk tanpa menatapku, aku melirik sosok yang tengah menjadi fokus matannya, dan aku menemukannya...

Sosok berambut eboni, tampan, yang tengah sibuk dengan kuas dan kanvas di depannya, Kaito.

Sebuah asumsi tak berdasar, mendadak muncul di kepalaku; ada sesuatu di antara mereka.

Setelah menyusuri jalan setapak yang sudah kuhapal, kini aku menyamankan diri di atas bangku beton dingin di tepi danau.

Jade-ku menyusur danau luas yang tetap bertahan dengan bekunya permukaan yang memantulkan seberkas sinar keperakan.

Aku menggigit bibirku, mencoba melawan resah dan kesunyian yang bersekongkol untuk menyerangku. Angin mengusik, seolah menertawakanku yang tak bergeming menatap padatan es yang menutup genangan hidrogen dioksida di dalamnya.

Jujur sebagian hatiku ragu dengan drama ini, tapi sebagian lain, mengatakan aku tak boleh mengecewakan semuanya, termasuk Kaachan.

Mereka benar, sudah seharusnya aku bangkit dan memulai sesuatu yang baru.

Tapi, benarkah drama ini takkan menjatuhkanku seperti halnya balet?

"Kaasan memang kadang terlalu keras, Yukiko-chan," suara itu datang bersamaan dengan sosoknya yang segera mengambil tempat di sebelahku.

"Kenapa kau tahu aku ada di sini?"

"Hehehe... aku pasti akan selalu bisa menemukanmu, Yukiko-chan."

Cengiran yang tak pernah lepas dari wajah Yosuke mau tak mau membuatku tersenyum kecil.

"Kaasan bukan tanpa alasan memilihmu," ucapnya dengan frasa yang entah sudah ke berapa kali kudengar.

Aku terdiam.

Bergulat dengan pikiran kami masing-masing.

Lama...

Membiarkan sejenak keheningan meraja, sebelum akhirnya Yosuke memecahnya.

"...Yukiko-chan," pelan sekali pemuda blonde itu menyebut namaku.

"Apa?" aku menoleh dan menemukan sepasang safir di sebentuk wajah yang menampilkan ekpresi lucu.

Perlahan kurasakan sesuatu menyentuhku.

Aku berjengit.

Yosuke meraih tanganku yang terbungkus sarung tangan tebal.

Mendadak otakku berputar aneh.

Sementara sensasi hangat yang menyenangkan membanjiri diriku.

Aku tidak pernah segugup ini, sungguh.

Bahkan jika aku adalah tokoh di salah satu komik, kalian pasti akan menyebutku tipe tsundere.

"Ng... Yosuke-kun..?"

"Ya, Yukiko-chan?" sahutnya dengan suara yang mendadak berubah santai.

Aku merasa otakku mulai berkhianat padaku.

Bagaimana aku tidak bisa menolak hal ini!

Dan kenapa juga si Bodoh ini terlihat begitu santai?

"Yukiko-chan," ucap Yosuke menatap lurus-lurus ke mataku.

Dia benar-benar membuatku merasa aneh hanya dengan sebuah pandangan.

Rasanya waktu berputar lambat, tapi jantungku berdetak cepat.

Perlahan, Yosuke meletakkan tangannya yang lain di leherku dan dengan lembut menyusupkan jemarinya ke rambutku.

"Aku menyukaimu, Yukiko-chan..."

Yosuke menarikku dan menciumku.

Ciuman lembut menakjubkan yang langsung menjalar di sekujur tubuh, sebelum otakku mampu mencernanya...

Aku berjalan ke atas ketika melihat Yosuke yang tengah menikmati secangkir cokelat hangat di ruang makan.

Aku melempar senyum ala kadarnya dan segera berjalan cepat menuju kamarku.

Kubuka pintu berwarna eboni di depanku dan aku segera duduk di atas bed tertutup bed cover bermotif sakura.

Aku tercenung.

Berbagai macam pikiran berkecamuk dan kepalaku.

Pengakuan Yosuke, kecupannya–yang kupikir akan sangat romantic–, dan drama.

"Kau belum tidur, Yukiko-chan?" sebuah suara menyadarkanku.

Aku mencari dan menemukan si pemilik suara sedang bersedekap sambil bersandar di pintu, Yosuke.

"Belum, kau sendiri?"

"Entahlah, aku tidak bisa tidur..."

Yosuke melepas tangannya dan berjalan ke arahku.

Dia berdiri di depanku, kedua tangannya masuk di saku celananya.

Wajahnya setengah menunduk ke arahku.

"Kau masih memikirkannya? Kaasan memang kadang terlalu tegas..."

Huft, sebenarnya drama hanya memenuhi sebagian kecil pikiranku.

Yang menggangguku adalah si Bodoh ini dengan sikapnya tadi siang.

"Aku tahu..."

Aku memalingkan wajahku, menghindari tatapan matanya.

"Nanti kau akan terbiasa..." ucapnya lagi.

Aku tak menjawab, dan segera berdiri ingin berjalan ke arah balkon.

'Greb'

Aku terkejut.

Aku menoleh dan menemukan jemari Yosuke melingkar di pergelangan tanganku.

Jade-ku menantang safirnya, bertanya.

Namun, Yosuke memilih diam, dan dengan gerakan cepat menarikku ke dalam dekapnya.

Tubuhku berkhianat begitu saja, tanpa mampu menolak perlakuannya.

Semua berjalan begitu cepat...

Aku menatap summer sky itu dalam-dalam.

Akal sehatku seperti tak berfungsi semestinya, untuk sekedar menyadari apa yang terjadi.

Tapi... Aku telah menemukan sebentuk pecahan kepingan puzzle terakhir hidupku.

Dan perlahan, tangan kokoh itu memelukku, merengkuh tubuh mungilku dalam perlindungannya.

Sebuah rasa menjalar dengan begitu cepat dari pelukan Yosuke.

Hangat, ketika merasakan tubuhku mulai berkhianat dengan otakku.

Merebak, ketika tangan itu menyusup dalam tiap helai rambut ebony-ku.

Aku bersumpah tak ingin lepas. Sungguh.

"Aku menyukai, Yukiko-chan," ucap Yosuke dengan tenang, lugas.

Dua kali aku mendengar kalimat itu.

Dua kali hatiku mengeras tak bisa menyangkalnya.

Kepingan terakhir itu telah menutup.

Sempurna, ketika kata itu berakhir dengan kecupan yang menyapu bibirku lembut.

Sejenak aku ragu-ragu melupakan pikiran untuk melawan dan menyerah pada sensasi yang Yosuke tawarkan.

Mengalir, dan aku tak bisa menolak.

Seperti mimpi yang telah lama kunantikan, bukan hanya untuk sebentuk kilasan.

Tapi ini nyata.

Ada tangan kuat yang melingkari leherku, sosok yang sebenarnya mengecupku, beradu napas denganku.

Menggairahkan.

Ciuman itu lambat, lembut, dan hati-hati.

Yosuke begitu menyadari setiap detailnya.

Jemarinya yang bergerak-gerak di sela rambutku, bibirnya yang mempermainkan bibirku, menjelajah, mendesak, hingga akhirnya aku pun menyerah.

Aku mulai menikmati sensasi ini.

Yang perlahan mengaktifkan sensor tubuhku.

Namun, sesaat kemudian, wajah itu menjauh, meninggalkan napas yang terengah-engah terbalut gairah.

Aku menunduk, menghindari tatapan sepasang sky color yang kini terlihat begitu kokoh dan memesona.

Perlahan pemilik sepasang permata safir itu menunduk, dan mendaratkan kecupannya pada leher jenjangku.

Mengecupnya, memberi sensasi yang membuatku tanpa sadar mengangkat wajah, memberi jalan untuk lidah itu menjelajah.

Seperti terhipnotis, Yosuke mengecup setiap senti kulit porselenku, menghirup aroma ceri dari setiap lubang porinya, mendorong desahan keluar tanpa sadar dari bibirku.

"Sshhh... Yosu... shh... Yosu-khhunn..."

Suara itu seolah menjadi penyemangat bagi pemuda blonde itu yang segera merubah kecupannya menjadi gigitan kecil dengan tangan yang mulai menjelajah dan berhenti di atas dadaku.

"Yosuke... sshhh..." tanpa sadar, tanganku menekan kepala pirang itu semakin dalam.

Mendadak berpakaian menjadi tidak tertahankan lagi.

Saraf-saraf sensitif tubuhku menghentak, ingin kebebasan.

Seolah mengerti sinyal tubuhku, tangan Yosuke membuka satu persatu kancing bajuku.

Tanpa menghentikan jilatannya pada leher mulusku yang kini telah berhias bercak-bercak hasil karya Yosuke.

Dan dengan satu gerakan, lembut namun cepat, Yosuke mendorong tubuh mungilku pada ranjang empuk di belakangku.

.

.

.

Yosuke menindih tubuhku yang terus mengerang atas perlakuannya.

Kecupan Yosuke menjelajah ke bawah dan berhenti pada tempat yang membuatnya benar-benar bergairah.

Tangannya kanannya mengelus pucuk kepalaku.

Sementara tubuhnya, terus bergerak kasar, memanja bagian tersensitif di tubuhku.

Gerakannya begitu intens dan memabukkan, mampu memporakporandakan pertahanan yang kubuat habis-habisan.

Peluh membanjir di atas tubuh polos kami, bersaing dengan desahan yang menggema.

"Sshhh... ahh... Yosu... Yosu-khunsshh," aku ingin terus menyebut nama yang telah membuatku menikmati surga.

"Tatap aku, Yukiko-chan," ucap Yosuke tegas.

Aku membuka mata dan melawan gelombang kenikmatan yang Yosuke tawarkan mati-matian. Jade-ku menemukan safir yang menatapku penuh pemujaan.

Perlahan, tanpa aba-aba, Yosuke mempercepat temponya, membuatku mengerang dan menutup mata lagi.

"Uhh... ahhh."

Aku mengulurkan tangan, dan memeluk Yosuke.

Tangan itu mengcengkram erat bahu tan yang tengah memanjakanku, meninggalkan goresan yang mengalirkan darah.

"Sshh... le...ahh.. lebihh...ahh... cepatthh," perintahku di sela desah.

Aku menikmati sensasi yang Yosuke timbulkan.

Perasaan menyenangkan akan kedekatan akibat adanya pria yang begitu intim denganku.

Ini adalah sensasi terbaik di dunia.

Tanpa sadar Yosuke mengerang pelan.

Sesaat kemudian, aku membuka lagi kedua jade-ku, menatap Yosuke.

Aku ingin menyampaikan tanya, yang jauh di dasar hatiku, penjaga akal sehat menjeratku, entah sejak kapan...

Tapi...

"Ahhku... kenapa...ahh, Yosu-khunhh," desahku pelan.

Yosuke terdiam, namun ekspresi di matanya mengatakan bahwa dia menjawab tanyaku tanpa kata.

Aku memejamkan mata dan merasakan tekanan yang semakin besar dari tubuh di atasku.

Mendadak, bayangan dan perasaan sesuatu yang ingin keluar dari tubuhku begitu tak tertahankan.

Seluruh tubuhku bergetar, dan tanpa sadar, aku menjerit, "Yosu... khunnhh."

Puncak kami raih bersama, terambing dalam badai kenikmatan yang melanda.

.

.

.

Aku menatap sepasang summer sky pemuda yang tengah memeluk tubuh polosku di bawah selimut.

Pemuda itu tersenyum lembut, perlahan mendekatkan wajahnya hingga dahi kami bersentuhan.

Jade dan sapphire bertemu, dalam kepingan puzzle yang disatukan.

"Tidurlah, Yukiko-hime."

Aku berpikir, ini kejadian yang aneh, sebelum akhirnya sang mimpi menyeretku untuk berenang di dalamnya... tanpa kusadari, bahwa langit musim panas itu perlahan pergi.,

...

sekuat apa pun, orang tidak bisa hidup sendiri

karena itu kita kesepian dan tidak berdaya

dan saat tiba-tiba aku merasa resah, aku selalu teringat padamu

di sampingku

entah sejak kapan

senja datang dan menghilang

tapi sentuhanmu tetap terasa

aku ingin selalu menyapamu, walau hanya lewat angin dan langit musim panas

dan berharap pertemuan ini bukan sekedar mimpi

terlalu cepat

namun, akal sehatku pun tak mampu mencegahnya

menyokongku

berharap hari ini dan seterusnya, hatiku lebih berwarna, tak hanya hitam mendominasinya

hanya kita, bersama

Yosuke dan Yukiko...

...

Salju masih bertahan hingga hari ini.

Menutupi lingkungan sekitar kastil dengan warna putihnya.

Namun pemanas ruangan yang bekerja baik di ruang makan, membuatku bertahan tanpa mengenakan jaketku.

Jam menunjukkan pukul delapan tepat.

Dan aku menikmati sandwich di depanku tanpa berani mengangkat wajahku.

Entah kenapa, rasanya begitu berat menatap pemuda yang bersikap seolah tak terjadi apa-apa semalam.

Melihat sikapnya yang seperti itu, sebentuk keraguan dan pertanyaan menghantuiku.

'Apakah dia sadar saat kami melakukan 'itu' semalam?'

Oh, ayolah, Yukiko! Jangan memikirkan hal itu. Jangan buat wajahmu terlihat aneh di depan Yosuke.

Bersikaplah biasa-biasa saja.

Tapi, tidak! Ini sangat aneh.

Kelewat aneh.

Yosuke terlihat bersikap terlalu biasa.

Sangat biasa.

"Yukiko-chan... wajahmu memerah! Kau sakit?"

Deg. Suara Yosuke.

Aku mengangkat wajahku -yang pastinya akan semakin memperlihatkan semburat merahnya- ragu dan mengatur senyum 'termanis' untuknya.

"Aku baik-baik saja, Yosuke-kun! Ngg... kau terlalu berlebihan."

"Tidak, Yukiko-chan. Wajahmu benar-benar merah." Nada suaranya terdengar begitu... err... khawatir?

"A-aku baik-baik saja. Ngg, a-aku ke atas dulu!"

Aku segera berdiri dan menggeser kursiku.

Aku ingin segera ke atas dan menyudahi penampakan virus blushing di wajahku.

"Yuki-chan! Tunggu!"

Mati aku!

Aku lupa, kalau Kaachan ada di sini.

Ragu-ragu, aku menoleh ke arahnya.

"Y-ya, Kaachan?"

Oh, Tuhan!

Kenapa wajah cantik itu terlihat begitu aneh?

Kumohon, jangan sampai Kaachan tahu apa yang kami lakukan semalam.

"Aku ingin tahu sesuatu..."

Sungguh, ini adalah pertanyaan yang sangat ingin kuhindari.

Aku tidak tahu, kenapa kami semalam bisa melakukan 'itu'.

Kaachan, jangan buat aku seolah-olah tersangka dalam pengraepan putramu.

'Pengraep laki-laki', oh sungguh gelar yang ironis nan dramatis.

"Apa yang kau lakukan..?"

Tidak!

Oh, eh , oke! Aku sudah tahu lanjutan pertanyaan itu.

Jangan teruskan.

Semua memang terlihat aneh, karena Yosuke bersikap seolah tak terjadi apa-apa.

Ta-tapi, haruskan aku saja yang menjawab pertanyaan ini?

Tuhan, saat seperti inilah aku begitu merindukan keberadaan Doraemon di sisiku.

Berikan aku alat apa saja, agar aku segera lenyap dari situasi ini dan menghindari pertanyaan Kaachan.

" Yuki-chan?"

"Oh, eh, y-ya, Kaachan?" jawabku gugup.

"Kau baik-baik saja, Sayang? Aku hanya ingin tahu..."

Oh, ayolah!

Segera sudahi drama ini.

Oke, aku akan menjawab sejujur-jujurnya.

Semua ini memang terlihat aneh.

Tapi, aku tidak melakukan 'itu' sendiri, kan?

Oke, aku siap menjawabnya, Kaachan. Aku memejamkan mata, aku siap menjawabnya...

"Yuki-chan, kau tidak sakit 'kan, Sayang? Aku hanya ingin tahu, apakah kau ada acara hari ini? Kalau tidak, aku ingin kau pergi ke kota bersama Yosuke..."

APAA?

Silahkan siapakan kamera terbaik untuk mengabadikan wajah cengoku!

Bermacam pikiran memenuhi kepalaku.

Dan Kaachan hanya ingin menanyakan hal ini?

Oh, oke! Lupakan pikiranku yang berlebihan tadi.

Batalkan pemesanan Doraemon untukku.

Berbagai jawaban yang kusiapkan berujung dengan pertanyaan 'apakah kau ada acara hari ini?'.

Tuhan, terima kasih tidak ada satu pun yang punya keahlian membaca pikiran di sini.

Karena jika ada, aku tak tak tahu betapa malunya diriku nanti.

"Yuki-chan, kau benar-benar aneh, Sayang..."

"A-aku baik-baik saja, Kaachan! Dan... ng baiklah, nanti aku akan ikut Yosuke. Se-sekarang aku ke atas dulu!" ucapku mencoba terdengar biasa.

"Baiklah, Sayang. Tapi, tidak perlu kau paksakan, jika kau merasa tidak enak badan," ucap Kaachan lembut.

"Ng... iya," jawabku singkat.

Terima kasih, Tuhan.

Terima kasih.

Kaachan tidak menanyakan hal itu.

Aku segera mengambil kesempatan untuk melarikan diri ini, sebelum kaachan menanyakan hal 'itu'.

Aku sudah membawa kakiku menapak anak tangga pertama ketika terdengar suara Kaachan.

"Dan jangan terlalu memikirkan kejadian 'itu', Sayang!"

Deg.

Oh, Tuhan!

TIDAKKKK!

Yosuke membawa mobilnya dengan kecepatan sedang, menembus jalanan yang tertutup salju.

Kaachan menyuruh kami ke kota, membeli barang-barang untuk keperluan sebulan.

Dan aku tak habis pikir, bagaimana kami membawa barang-barang itu nanti.

Bayangkan, keperluan sebulan, dengan mobil sport.

Di mana barang-barang itu akan diletakkan nanti?

Aku menatap pemuda pirang di sampingku.

Dan sepertinya, Yosuke menyadari tatapanku.

"Hahaha, jangan berpikir saat ini kita akan benar-benar berbelanja untuk keperluan sebulan, Yukiko-chan."

"Lalu?" aku menaikkan alisku. Entah kenapa, kadang pemuda ini bisa membuatku merasa bodoh.

"Kaasan biasanya menyewa orang dan kereta untuk membeli keperluan-keperluan itu. Dan kali ini, sebenarnya Kaasan hanya menyuruhku untuk membawamu jalan-jalan. Dan... mungkin kita akan membeli satu atau beberapa barang saja," jelas Yosuke.

"Untuk apa? Aku sudah merasa nyaman di vila. Tidak perlu membawaku ke tempat-tempat seperti itu."

"Aku tahu, kau sudah terbiasa dengan tempat-tempat seperti itu," ucap Yosuke aneh.

Aku segera menoleh ke arah pemuda itu.

"Bu-bukan begitu, Baka. Maksudku..." entah bagaimana aku harus menjelaskannya.

"Hahaha, tenang saja, Yukiko-chan. Tempat itu pasti akan membuatmu menyukainya."

Nada suara Yosuke terdengar biasa. Tapi, aku tetap merasa menyesal atas ucapanku tadi. Dan hal ini membuat setengah perjalanan kami terlewati dengan lantunan suara sang maestro dari dasbor sport putih Yosuke. Dan pemuda blonde di sampingku, lebih memilih menggerakkan kepalanya mengikuti irama.

Akhirnya, setelah melewati stasiun, kota mulai terlihat di depan mata.

Keramaian mulai nyata. Walau sesekali cemara yang tertanam di sela trotoar tertutup salju lebih mendominasi. Benar-benar kota kecil yang ramai.

Yosuke menghentikan mobilnya di samping pohon cemara besar dengan tangkup dahan tertutup salju.

Aku merapatkan mantel, dan keluar, lebih cepat dari Yosuke yang hentak membukakan pintu mobil untukku.

Aku berdiri di samping mobil, merapikan topi yang menutupi rambut ebony sepunggungku.

Sang bagaskara sedang merayapi dinding-dinding tebing hari. Masih dua jam lagi sebelum lagi sebelum ia sampai di puncak tertinggi. Namun, aku berani bertaruh, singgasana tertinggi sang bagaskara pun takkan mampu merubah atmosfer di bawahnya. Sinar matahari harus bersaing dengan awan dan kabut untuk sampai ke bumi.

Ayolah, adakah yang mau berada di luar rumah saat termometer menunjukkan angka di bawah lima belas pada skala celcius?

Dingin udara langsung menyerangku tanpa ampun ketika aku menginjakkan kaki di atas tanah bersalju.

Kugosok-gosokkan tanganku yang terbalut sarung tangan, mencoba melawan dingin yang nakal menyusup di sela pakaian tebal yang kukenakan. Di sisi lain mobil sport putihnya, Yosuke tengah berdiri dengan kedua tangan menyusup di saku jaket orange-black yang dikenakannya. Kedua safirnya lurus menatap ke depan, menembus keramaian manusia yang tak takut melawan salju.

Aku mengerling Yosuke.

Dan kurasakan kehangatan mengalir di pipiku saat menatap sosok tampan itu.

Yosuke...

"Yukiko-chan!"

Deg.

"Ng?" responku mendengarnya memanggilku. Sontak aku memberi perhatian penuh pada sosoknya yang kini menatapku.

"Ayo!"

Yosuke mengajakku dan mulai berjalan.

Sejenak langkahnya terhenti di depan mobil, menungguku.

Aku segera mengayunkan langkah dan menjajarinya sebagai jawaban.

Sosok-sosok bermantel menemani perjalananku bersama Yosuke menuju tempat yang dijanjikannya.

Bermacam pernik tahun baru mulai terpajang di etalase toko yang didominasi warna cerah itu. Bermacam kembang api mulai terlihat mencuat dan menjadi komoditi utama. Beberapa anak kecil dalam gandengan ibunya menggenggam erat batangan kembang api. Wajah-wajah polos itu memerah karena dingin yang membelai pipi mereka. Seulas senyum terpahat di wajahku melihat anak-anak itu.

Kemudian, jade-ku beralih pada sekelompok remaja yang tengah bergerombol di depan toko yang memajang manekin ber-yukata motif Yukiko. Sesekali tawa kecil mengiringi obrolan mereka yang sempat kutangkap. Melihat para gadis itu, mendadak badai berkecamuk dalam benakku. Berbagai hal mendadak menghentak tiap dinding pertahanan pikiranku. Sejumlah pertanyaan muncul silih berganti selama perjalanku mengikuti lelaki pirang yang berjalan dengan wajah berseri di sampingku. Paksaan untuk berpikir tentang diriku dan kehidupanku beberapa bulan di kota kecil ini mendadak muncul.

Ya, aku memendam rasa sepi yang tak pernah kuceritakan pada siapa pun.

Sejak Tsuzuki dan Jiraiya memasukkanku ke klub balet, saat itulah penjara kesepian mulai mengurungku. Mendadak sifat riangku hilang karena saat-saat bahagia berkumpul dengan teman sekolah mendadak tercabut begitu saja.

Hidupku didoktrin untuk balet, balet, dan balet.

Aku tidak mempunyai banyak teman, karena aku memang tidak punya waktu untuk berteman. Aku selalu menyendiri bila berada di sekolah. Padahal, tempatku menuntut ilmu, Santa Maria International Senior High School adalah sekolah terfavorit dengan balet sebagai ekskul utama. Namun, betapa pun aku mencoba, aku seperti berada dalam dunia yang terpisah dengan mereka.

Aku memegang eksistensi tertinggi dalam balet. Namun, aku adalah tahanan dalam kehidupan normal.

Padahal, aku ingin seperti mereka. Aku ingin bergabung dengan mereka. Menjadi pribadi dengan eksistensi yang diakui dalam lingkup yang mereka anggap normal.

Aku ingin.

Sungguh.

Bahkan untuk sekedar menggosipkan vokalis band-band rock terkenal atau bintang film yang film barunya kalah tenar daripada sensasi yang dibuatnya -yang menurut Tsuzuki- pembicaraan yang tidak menghasilkan uang itu sia-sia.

Oh, Tuhan.

Siapa yang tahan berteman berjam-jam dengan toe shoes dan pelatih yang tak hentinya memaksamu meliukkan tubuh, menekuk, dan berkeringat mengitari ballroom?

Namun, nyatanya balet benar-benar meracuniku.

Suntikan yang diberikan Tsuzuki begitu cepat menginvasi seluruh hidup dan pemikiranku dengan balet. Aku menganggap balet sebagai hidupku.

Bukankah karena balet juga eksistensiku diakui? Dan karena dengan balet jugalah aku merasa dibutuhkan.

Akan tetapi, perasaan itu tidak berlaku untuk teman-temanku. Bagi mereka, aku tetap Yukiko yang tak tersentuh. Yukiko yang hidup sendiri di kerajaannya.

Kerajaan balet.

Jauh di lubuk hatiku, perasaan ingin berbagi resah itu selalu ada, menghentak.

Aku ingin bersandar pada bahu seseorang saat tubuhku rapuh atas semua kata dan tindakan Tsuzuki. Namun, pandangan mereka mengatakan aku tak butuh itu. Aku gadis yang ceria, ramah, tak tersentuh, dan sempurna dengan baletku. Dan persepsi itu terus mereka pegang hingga jurang tak kasat mata yang terbentang pun semakin lebar.

Aku semakin melayang dengan duniaku; balet dengan nama besarku dan Yukiko yang rapuh atas hidupnya.

Perasaan dan kehidupan ini terus menemaniku.

Hingga hari itu tiba.

Satu-satunya hari yang membuatku mengucapkan terima kasih untuk pertama kalinya kepada Tsuzuki secara non verbal.

Pertunjukkan hebat dalam awal karirku di dunia balet.

Yaitu saat aku diundang dalam acara yang diadakan pihak Kerajaan Inggris.

Di tengah berpasang mata sosok-sosok yang teraliri darah biru Inggris itulah aku menari, meliuk, dan berhenti pada sepasang blackhole yang dalam sekejap membuatku terseret di dalamnya.

Terseret dalam lubang bahagia dalam sosok tampan nan elegan Okita Tomoya.

Sejak saat itulah kami semakin dekat. Pertunjukkanku tidak pernah berlangsung tanpa pemuda onyx itu di salah satu kursi VVIP-nya.

Pemberitaan tentang kami semakin gencar dari hari ke hari, dan puncaknya adalah hari itu.

Atas sponsor beberapa grup balet ternama, aku melakukan pertunjukkan solo di London.

Tiket yang disediakan ludes dalam waktu sehari sejak promosi dilakukan.

Berjuta poundsterling masuk dalam rekening Tsuzuki, alih-alih rekeningku.

Pengamat seni Inggris dan aku sendiri menyatakan itu adalah puncak dalam perjalanan baletku.

Dan itu belum seberapa dibanding adegan sesudahnya.

Di tengah berpasang mata itulah, lagi-lagi bungsu Tomoya menjeratku dalam blackhole-nya.

Di tengah histeria akhir pertunjukkan, Okita Tomoya, sang dancer noble melamarku!

Yang sontak menaikkan histeria menjadi berkali lipat dari sebelumnya.

Okita Tomoya, sosok yang memberi warna baru di tengah abu-abunya warna hidupku.

Okita-lah yang mampu membuatku mencintai balet dan mencintainya.

Aku mulai masa bodoh dengan pandangan orang dan sepinya hidupku sebelumnya.

Pertunanganku dengan Okita membutakan segalanya.

Dan itu tak berlangsung lama.

Sekejap sekali aku melayang.

Dancer noble itu dengan begitu mudahnya mengangkatku, namun begitu mudah juga menghancurkanku.

Aku merasa begitu tenggelam dalam lumpur pekat.

Semakin aku berusaha berenang ke permukaan, semakin pula aku terhisap di dalamnya.

Sungguh ironis.

"Hei-hei, Yukiko-chan!"

Deg.

Lagi-lagi suara bass Yosuke memecah khayalanku. Aku tersadar dan menyadari bahwa aku telah tertinggal terlalu jauh darinya.

"Yukiko-chan. Ayo!"

Yosuke menatapku.

Yang kini justru berhenti dan terdiam membalas tatapannya.

Lagi-lagi, cengiran terbentuk di wajah tan-nya.

Dan tiba-tiba, tangan berkulit eksotik itu terulur ke arahku.

Ragu-ragu, pandanganku beralih pada tangan itu.

Namun, melihat cengiran polos di wajahnya, keraguan itu perlahan lenyap.

Aku tersenyum dan menangkap uluran tangan itu.

Setengah menarik, Yosuke membawaku melangkah cepat menembus kepadatan yang semakin meningkat.

Aku telah menemukannya.

Menemukan sesuatu yang baru atas jawaban masalahku.

Aku telah bertemu dengan orang yang baik dan pengertian.

Yang mampu menarikku dari lubang lumpur yang menenggelamkanku.

Sosok itu... Yosuke.

'Brugh'

"Ah, ma-maaf!"

Aku mendengar suara di depanku.

Disusul dengan suara permintaan maaf Yosuke.

Sontak mataku menangkap objek permintaan maaf Yosuke, disusul dengan suara cerianya menyapa sosok-sosok di depannya...

"Wah, kalian..."

.

.

.

.

.

_To be Continued_

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .