Fiction » General »

Dear You
Author:
Carl A. R PM
Apa jadinya jika seorang playboy memutuskan untuk mengangkat seorang anak untuk melindunginya dari ancaman kekerasan? Arsip lama 2010.
Rated: Fiction T - Indonesian - Family/Hurt/Comfort - Words: 2,146 - Reviews: 2 - Published: 07-14-12 - Status: Complete - id: 3041739
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

Dear You

Carl A. R / N. 潘 (Phan)

Orific jaman 2010 yang nyisa di laptop. TT_TT Maaf kalau ceritanya gajelas gini.


"Selamat atas dibukanya cabang baru restoran Smag Af Himlen!"

Para tamu yang hadir bertepuk tangan dan salah satu rekan bisnisnya, Amleth Sorensen mengulurkan satu gelas bir kepada sang pemilik yang bernama Mathias Andersen.

"Silahkan diminum, Mr. Andersen," kata Amleth dengan nada menggoda. Amleth memiliki rambut pirang panjang yang tebal dan memiliki warna mata kehijau-hijauan. Amleth juga sangat cantik dan usianya mungkin hanya berbeda beberapa tahun saja dengan Mathias. Gadis itu tampaknya tidak mau melewatkan kesempatan untuk bisa berdekatan dengan Mathias.

Mathias mengerti apa yang sebenarnya Amleth inginkan dan melempar senyum ke arahnya sambil mengambil gelas tersebut. "Terima kasih, sød pige [1]?

"Sama-sama, min kjærlighet [2]."

Mathias meneguk birnya dengan wajah penuh kebanggan serta kepuasan di hadapan rekan-rekan bisnisnya karena Mathias baru saja membuka beberapa cabang restoran miliknya untuk beberapa kota besar di wilayah Skandinavia [3]. Restoran miliknya tersebut dinamakan Smag Af Himlen yang berarti surga kenikmatan.

Sesuai dengan nama restoran tersebut, Mathias mempunyai surga kenikmatannya sendiri. Wanita cantik, uang, kekuasaan dan apapun bisa dimiliki olehnya asalkan ada kepuasan batin di hatinya. Mathias sendiri memiliki rambut pirang pendek dan memiliki bola mata berwarna abu-abu. Mathias juga sangat tampan dibandingkan rekan-rekan bisnisnya yang hadir ke pestanya. Banyak wanita yang ingin berdekatan dengan Mathias, menjadikan Mathias sebagai kekasih bahkan beberapa dari mereka ingin menjadi istri dari Mathias. Walaupun begitu, pria berusia dua puluh lima tahun lebih sedikit itu belum ingin terikat dengan yang namanya pernikahan karena baginya itu akan membatasi kebebasannya dan Mathias sama sekali tidak siap untuk itu.

"Hej [4]," Amleth memanggilnya. "Maukah kamu berkencan denganku?"

"Boleh saja," Mathias mengangguk. "Aku harus memeriksa jadwal kencanku karena banyak gadis yang mengajakku pergi berkencan. Kamu tidak keberatan?"

Gadis itu mengernyit setelah mendengar perkataan Mathias lalu meninggalkan Mathias. Dasar semua pria sama saja, keluh Amleth di dalam hati.

Mathias tidak peduli karena yang dilakukan Mathias hanyalah melakukan hubungan tanpa status pada semua wanita dan hal tersebut sukses membuat banyak wanita patah hati karenanya. Mathias tidak mau terlibat terlalu jauh dengan wanita karena ibunya sering menyakiti ayahnya dan Mathias selama ayahnya masih hidup. Orangtuanya bercerai ketika Mathias baru masuk SMA karena ibunya berselingkuh dengan pria lain dan tak lama kemudian ayah Mathias meninggal karena serangan jantung koroner ketika Mathias sedang mengikuti ujian masuk universitas dan mewariskan beberapa restoran Smag Af Himlen kepadanya. Ketika sang ayah meninggal, ibunya meminta beberapa cabang restoran milik ayahnya tetapi Mathias menolak dengan alasan Mathias tidak bisa memberikan hasil usaha ayahnya kepada mantan istri ayahnya yang berselingkuh. Mathias selalu membenci ibunya sampai kapanpun.

"Kau tampak muram," Pam Tennfjord, sahabat Mathias, menepuknya dengan pelan sambil menunjuk gadis-gadis yang berkumpul di salah satu sudut ruangan. "Tumben kau tidak ikut berkumpul mereka."

"Malas," jawab Mathias datar. "Saat ini aku sedang bosan."

"Wah! Sungguh kejutan bagiku. Rupanya kau sudah bosan dengan wanita. Apakah kau ingin menjadi homoseksual?" tanya Pam dengan nada bercanda.

Mathias mengernyit. "Diamlah kau! Aku sedang tidak bercanda."

"Baiklah kalau itu maumu," gumam Pam dan wajahnya mendadak menjadi lebih serius. "Sebenarnya ada sesuatu yang ingin kubicarakan dan ini sangat penting."

"Hei, ada apa memangnya?" tanya Mathias. "Wajahmu serius sekali!"

"Sebenarnya-," Pam berkata dengan gugup. "Aku ingin minta tolong padamu."

"Selama aku bisa membantumu, aku akan membantumu," Mathias berkata dengan mantap.

Tetapi Pam menggangukkan kepalanya dengan lemah. "Ini bukan masalah uang tetapi masalah perlindungan seorang anak."

"Apa maksudmu?"

"Er, sebenarnya ini tidak boleh di lakukan mengingat ini melanggar hukum," Pam berkata dengan nada ragu. "Tetapi demi keselamatan tetangga saya yang sudah merupakan anak sendiri."

Mathias berusaha mencerna perkataan Pam dan dengan cepat Mathias menyadari bahwa ini menyangkut seorang anak dan mungkin sesuatu terjadi padanya.

"Apa yang terjadi dengan anak itu?" tanya Mathias, raut wajahnya berubah serius. "Ada masalah?"

"Ya, ibunya dan ayah tirinya. Mereka pemabuk dan sering menyiksa anaknya sendiri. Anak mereka baru berusia empat belas tahun dan seorang gadis muda. Aku menyayanginya seperti anakku sendiri dan dia sering main ke rumahku untuk melindungi dirinya sendiri. Tetapi sepulangnya dari rumahku, anak itu selalu dianiaya. Saya tahu itu karena rumahku bersebelahan dengan rumah anak itu. Setiap hari sungguh mengerikan," Pam menjelaskan dengan nada tercekat ngeri.

"Apa tidak ada cara lain untuk melindunginya?" tanya Mathias cemas. Bayangan mengenai anak yang belum dikenalnya menyakiti hatinya, mengingatkan akan masa lalu Mathias yang kelam. Tetapi jika Mathias harus mengambil hak asuh anak tersebut, maka kebebasannya sebagai pria lajang akan terganggu.

"Yang bisa kau lakukan hanyalah mengambil hak asuh anak itu," kata Pam. "Aku akan mengantarmu ke Bergen untuk bertemu anak itu dan mengenalkanmu padanya."

Mathias belum siap berkeluarga, apalagi untuk mengasuh anak-anak. Mulanya Mathias ingin menolak tetapi hati nurani tidak bisa dibohongi. Mau tak mau, suka tak suka, Mathias merasa kasihan pada anak itu dan ingin melindungi anak itu.

"Ya," jawab Mathias. "Antarkan aku ke sana. Besok pagi.

—00—

Keesokan harinya, Mathias dan Pam pergi ke bandara Kopenhagen untuk penerbangan menuju Bergen, Norwegia. Mathias nyaris terlambat jika Pam tidak memaksanya untuk bangun.

"Kau itu," gerutu Pam kesal sambil berlari-lari ke lorong menuju tempat pemeriksaan barang. "Gara-gara kau, kita nyaris terlambat. Untung saja masih ada waktu setengah jam sebelum penerbangan. Kalau tidak kubunuh kau."

Mathias hanya nyengir melihat sahabatnya," Maafkan aku. Aku kelelahan karena pesta semalam. Maklum aku kan orang penting."

Mereka akhirnya tiba pada tempat pemeriksaan barang dan setelah pemeriksaan selesai, Mathias dan Pam lari terbirit-birit bagaikan penjahat yang habis merampok bank besar.

"Gara-gara kau," nafas Pam mulai terengah-engah. "Kalau bukan demi anak itu, aku tidak akan berbuat seperti ini."

"Sama," gumam Mathias. "Aku ingin mengenal anak itu. Lucu memang, kita sudah lama bersahabat tetapi aku baru tahu mengenai anak itu sampai kau cerita padaku."

"Itu karena aku berpikir kau benci anak-anak," kata Pam.

"Enak saja. Memangnya aku pembenci anak-anak. Justru aku menyukai anak-anak."

"Maaf, aku salah paham," Pam berkata dengan nada geli.

Mathias menghela nafas, Pam memang tipe humoris dan banyak orang yang nyaman berdekatan dengan Pam. Jika saatnya Pam untuk serius, dia akan bersikap serius tetapi tidak lupa menyelipkan humor untuk mencairkan suasana. Berbeda dengan Mathias, Mathias merupakan tipe serius dalam pekerjaannya tetapi dalam hubungannya terhadap wanita, Mathias tidak benar-benar serius dan cenderung mempermainkan perasaan wanita.

"Wajar kalau kau salah paham padaku," Mathias berkata sambil terkekeh. "Terkadang aku tidak berperasaan."

"Ubahlah," Pam menyarankan. "Lucu mendengar pengakuan itu darimu."

Sesampainya di Bergen, Pam dan Mathias langsung naik taksi dari bandara menuju ke perumahan yang terdapat di pinggir kota. Dan tempat itu merupakan tempat tinggal asal Pam di Norwegia.

"Aku hanya beberapa kali ke sini dalam setahun, sejak beberapa tahun yang lalu," Pam menjelaskan dalam perjalanannya. "Setiap kali aku ke sini, aku selalu menjenguk keadaan anak itu. "

"Kau sangat dekat dengan anak itu," Mathias berkata. "Apa tidak apa-apa?"

"Aku yang mengajaknya bermain ke rumah dan sejak itu dia sering bermain ke rumahku tetapi setahun tahun belakangan ini, anak itu jarang bermain ke rumahku. Aku bisa menduga ibuku melarang anak itu untuk ke rumahku. Mungkin ibunya mengira bahwa gadis itu akan berbicara macam-macam padanya," Pam berkata dengan nada sinis, nada yang tidak pernah di dengar Mathias sebelumnya. "Lucu memang. Anak-anak akan senang mendengarnya."

"Kuharap dia sedang ada di rumah dan tidak ada ibunya," Mathias bergumam.

"Kau ingin mengambil hak asuh atau menculiknya?" tanya Pam ngeri.

"Hak asuh mungkin," Mathias berkata. "Aku ingin bertemu anak itu dulu dan berbicara banyak dengan anak itu. Apa dia kaku terhadap orang asing?"

"Ya, bahkan anak itu sangat pendiam. Mungkin kau harus melakukan pendekatan yang tepat terhadap anak itu karena jika tidak, anak itu akan takut padamu. Kelakuannya juga sangat buruk terhadap teman-temannya. Aku tidak tahu mengapa. Yang jelas dia lebih nyaman berdekatan dengan orang dewasa."

"Mathias, kenalkan. Ini Freya Dahlberg yang kuceritakan padamu," Pam berkata dan memperkenalkan seorang gadis kecil yang berusia sekitar empat belas tahun. Freya cukup cantik dengan rambut pirang panjang dengan warna mata biru keunguan. Freya juga cukup tinggi untuk gadis seusianya. Kira-kira 176 cm.

"Halo, Freya. Aku Mathias Andersen," sapa Mathias ceria sambil mengulurkan tangannya. "Panggil saja aku Mathias."

Freya tidak membalas uluran tangan Mathias dan malah membuang mukanya ke arah lain.

"Frey!" tegur Pam. "Jangan begitu pada orang lain."

"Peduli amat," jawab Freya ketus tanpa memandang Mathias ataupun Pam.

Pam benar, Freya memang ketus terhadap orang lain selain Pam. Mungkin cerita Pam terhadap gadis ini benar adanya dan hal itulah yang mempengaruhi sikap Freya terhadap orang lain, begitu pikir Mathias.

"Sudahlah," ujar Mathias lembut pada Freya. "Mungkin kamu gugup padaku, tapi aku orang baik."

"Pembohong," gerutu Freya. "Sama saja."

"Sudahlah, Freya," kata Pam. "Bagaimana kalau kita masuk ke dalam rumahku. Aku akan membuatkan kalian makan siang."

Mathias dan Freya hanya diam saja sepanjang makan siang. Lebih tepatnya, Freya menolak bicara pada Mathias.

"Freya," Pam berkata. "Jangan begitu pada Mathias."

"Jeg hater ham [5]," Freya berkata.

"Giv mig hvorfor du hader mig. Jeg hader ikke på dig {6}," balas Mathias.

"Jeg forstår ikke hva du mener forat {7}," Freya membalas tidak kalah sengit.

Pam menatap Freya ngeri, ingin mengatakan sesuatu untuk mencegah perdebatan sengit mereka tetapi tidak dilakukan. "Er, Freya. Mathias sama sekali tidak jahat."

"Benar itu," Mathias menyetujui. "Aku sama sekali tidak jahat, mungkin hanya ceplas ceplos saja."

Freya sama sekali tidak peduli. Tanpa Mathias sadari, Freya menganggap Mathias adalah pria berbahaya. Mathias mengingatkan Freya pada ayah tirinya yang kejam. Ramah di permukaan, kejam di dalam. Begitu gambaran Freya terhadap Mathias.

Akhirnya Freya tertidur di salah satu kamar yang ada di rumah Pam. Pam mengawasi rumah sebelah yang merupakan rumah Freya sembari berharap agar ibunya dan ayah tirinya tidak pulang ke rumah.

"Kau sedang apa?" tanya Mathias heran melihat Pam yang bertingkah aneh, seperti memata-matai sesuatu.

"Mengawasi rumah sebelah," jawab Pam tanpa memandang Mathias. "Aku harus memastikan agar mereka tidak pulang."

"Siapa?"

"Orangtua Freya, aku yakin anak itu akan dianiaya lagi jika mereka mengetahui Freya berada di sini."

Mathias menghela nafas panjang,"Aku bisa mengerti sikap Freya yang seperti itu, dia merasa trauma terhadap orang yang baru dikenalnya. Untung saja aku tidak mengejeknya."

"Jadi, apakah kau mau menjadi wali bagi Freya?" Pam bertanya. "Jika kamu tidak mau, aku tidak akan memaksa. Karena aku tidak mungkin menjaganya untuk seterusnya."

Mathias mengangguk. "Ya, akan kulakukan. Rasanya menyenangkan mempunyai anak asuh sekaligus seorang adik. Usiaku dengan gadis itu tidak terlalu jauh kan?"

"Aku akan membicarakan hal ini pada Freya dan orangtuanya. Tapi apa kamu yakin bisa bertahan dari sikapnya?"

"Aku yakin bisa," Mathias menjawab dengan mantap. "Selama aku bersabar, tidak ada yang tidak mungkin."

Dalam hati, Mathias terkejut dengan perkataannya sendiri. Freya, gadis kecil yang sinis, menarik hatinya perlahan-lahan. Dia sendiri bukan tipe pria yang sabar terhadap orang lain. Apalagi terhadap gadis seperti Freya yang orang lain akan marah dibuatnya.

Tetapi anehnya Mathias sama sekali tidak marah, malah tertantang untuk meluluhkan batu besar yang ada di dalam diri gadis itu. Mungkin ini kesempatannya untuk mengenal Freya lebih dalam.

"NEJ! NEJ! NEJ [8]!" bentak Freya. "Aku tidak mau diasuh oleh pria itu. Aku benci dia. "

Pam menghela nafas, baru saja dia menjelaskan mengenai hak asuhnya yang akan diambil oleh Mathias. Sikap Freya sudah begini. Mathias hanya memandang mereka dari dapur rumah dengan wajah kecewa.

"Mathias bukan orang jahat," Pam mencoba menjelaskan. "Coba tinggal bersamanya selama satu bulan dulu. Orang tuamu sudah memberi izin. Bukankan seharusnya kamu senang?"

"Dia sama saja," Freya menggerutu. "Lalu aku akan dibawa kemana?"

"Kopenhagen," Pam menjawab. "Kau akan tinggal bersama Mathias, dia kaya dan baik hati."

"Oh, aku akan dijadikan pembantu di sana," Freya berkata dengan nada sinis. "Dimanapun tidak ada tempat yang aman untukku. Cih, menyebalkan."

"Tidak akan ada yang menjadikanmu pembantu di sana," tandas Mathias dari arah dapur. "Aku tidak sejahat itu."

Wajah Freya memucat dan mendadak terdiam. Berharap Mathias tidak mendengar seluruh pembicaraannya.

"Katakan sesuatu yang menganjal hatimu, kasihan Mathias nantinya."

"Bodo amat," ujar Freya sengit sambil menjulurkan lidah pada Mathias. "Biar saja dia."

Mathias tertawa dan mengelus kepala Freya perlahan. "Kau ini memang lucu sekali. Kau akan lebih cantik jika bersikap lebih lembut pada orang lain."

"Gombal," gerutu Freya, sikapnya terhadap Mathias mulai melunak. "Kau itu playboy ya?"

"Hej!" seru Mathias. "Aku tidak seperti itu. Siapa yang memberitahumu hal semacam itu?"

"Ada kok, kau tidak perlu tahu," gumam Freya kesal tetapi ada sedikit senyuman di wajahnya.

Mathias menatap Freya tersenyum kecil kepadanya walau tersamar. Sepertinya Mathias memang tidak akan pernah bosan mengasuh anak gadis seperti Freya.

TAMAT


1 Sød pige (bahasa Denmark)= gadis manis

2 Min kjærlighet (bahasa Norwegia)= Cintaku

3 Skandinavia= wilayah Eropa Utara

4 Hej (bahasa Denmark, Norwegia atau Swedia)=Hei (sapaan sehari-hari)

5 Jeg hater ham (bahasa Norwegia)=Aku benci dia (laki-laki)

6 Giv mig hvorfor du hader mig. Jeg hader ikke på dig(bahasa Denmark)= Beri aku alasan mengapa kamu membenciku. Aku tidak membencimu.

7 Jeg forstår ikke hva du mener for at (bahasa Norwegia)= Aku tidak mengerti apa maksudmu.

8 Nej (bahasa Denmark, Norwegia atau Swedia)= Tidak/ tidak mau

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .