Fiction » Romance »

The Lonely Vixen
Author:
Ligeia Hardy PM
Nicholas memang hanya laki-laki sederhana yang belum punya apa-apa, kecuali kecerdasan dan kekasihnya. Namun, ketika kekasihnya direbut orang lain secara paksa, ia takkan bisa berdiam diri. Ia harus membalas laki-laki itu... siapapun dia.
Rated: Fiction T - Indonesian - Drama/Crime - Chapters: 11 - Words: 10,561 - Reviews: 6 - Updated: 01-06-13 - Published: 07-17-12 - id: 3042601
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

Jakeson Lake

Pagi itu begitu kelabu dan dingin. Hari yang cocok untuk melayat seseorang. Nicholas sengaja datang sepagi itu agar ia tidak diganggu orang pada hari liburnya. Pemakaman tempat Ny. Jensen dikuburkan amat rapi. Ratusan batu nisan berbaris dengan teratur. Abu-abu dan dingin. Lalu terasa perasaan kesepian, kehilangan dan takut pada kematian.

Rumput yang ada di hadapan makam Ny. Jensen begitu hijau dan lembut. Mungkin karena rumputnya masih baru.

Atau karena Ny. Jensen telah menjadi seseorang yang baik di masa hidupnya.

Nicholas membungkuk ke arah batu nisan itu dan menaruh sebuket bunga putih di atas rerumputan hijau tadi.

"Aku akan membalas semua perbuatan laki-laki itu." bisiknya pelan.

Saat ia sedang tenang dalam lamunannya, langkah-langkah lembut dan kecil dari belakang menarik perhatian pemuda itu. Ia segera menengok dan mendapati bahwa ternyata bukan siapa-siapa. Tapi bagaimanapun juga sosok itu harusnya cukup penting. Ia Kenny, anak berumur 9 tahun. Anak Ny. Jensen.

"Kenny, kau sudah selesai sarapan." ujar Nicholas sambil tersenyum. Ia memerhatikan anak itu dengan iba. Di balik wajah polos, sweater garis-garis dan celana coklat panjangnya, anak itu menyimpan rasa sedih, tapi juga ketegaran dalam jiwanya. Baru kemudian Nicholas menyadari bahwa anak itu membawa sebuket bunga yang besar, lebih besar dari buket yang Nicholas bawa. Anak itu hanya diam saja memutar-mutar kakinya.

"Kau anak yang pemberani," kata Nicholas, "Nah, beritahu padaku. Bunga apa itu?".

Kenny menunjukan buket itu, "Untuk Ibu.".

"Kau juga anak yang baik," Nicholas mengusap kepala Kenny. "Tapi kau tak mungkin membelinya sendiri, bukan? Siapa yang memberikannya padamu?".

Kenny agak bersemangat untuk sesaat, "Seorang wanita yang anggun."

Nicholas mengangguk pelan, "Oh. Seorang wanita yang anggun."

"Ya," kata Kenny lagi, "Ia cantik sekali. Tangannya lembut dan wangi. Ia menghampiriku dan membawaku untuk pergi membeli bunga di sana," tunjuknya ke arah luar gerbang, "Ia sangat baik hati."

Nicholas menatap ke arah kakinya. Ia tersenyum sekilas, kemudian ia segera mengajak bicara Kenny lagi, "Apakah wanita ini rambutnya hitam?".

Kenny mengangguk, "Sayangnya ia sudah pergi," anak itu merogoh-rogoh sakunya, kemudian ia memberi Nicholas secarik kertas "tapi ia meninggalkan pesan untukmu, dokter."

Nicholas membiarkan Kenny menaruh bunganya di makam ibunya sementara ia membuka lipatan kertas itu perlahan.

Jakeson Lake

Satu jam lagi.

M.G.

Ia segera memasukan kertas itu ke sakunya dalam-dalam. Kenny telah selesai dengan bunganya. Ia menghampiri Nicholas yang segera mengajaknya pergi.

"Sekolahmu dekat sini, 'kan?" tanya Nicholas.

"Ya." Jawab Kenny.

"Dengar," kata Nicholas pelan, "Kalau kau tidak ingin sekolah hari ini, aku bisa mengerti. Aku bisa minta Nn. Lyle untuk memberimu izin sehari-dua hari."

"Kenapa aku harus melakukannya?" tanya Kenny, "Ibu akan marah jika tahu aku tidak sekolah karena tidak ada alasan yang jelas."

Nicholas tersenyum dengan bangga, "Anak pintar. Bagus, aku akan mengantarmu ke sekolah."

Baguslah sekolah anak ini juga dekat Jakeson Lake.

Nicholaspun mengantar anak itu ke depan gerbang sekolahnya. Kenny turun dari mobil setelah mengucapkan terima kasih. Ia segera berlari ke sekolahnya dengan langkah gembira. Nicholas menunggu Kenny sampai anak itu hilang dari pandangan, lalu iapun pergi menuju Jakeson Lake.

Sudah seminggu ia tidak bertemu dengan Marcia. Mendengar suaranyapun tidak. Ia benar-benar merindukan perempuan itu. Setiap malam ia memikirkannya, dalam kamarnya yang kecil dan dingin. Berharap saat itu ia bisa menghangatkan diri di depan perapian kamar Wise yang hangat dengan Marcia.

Tidak butuh waktu yang lama untuk pergi ke danau itu. Jakeson Lake adalah tempat yang sepi dan membuat pengunjungnya mengantuk. Begitu tenang, bahkan terlalu tenang. Pepohonan besar yang telah berusia puluhan tahun di tepi danau dan rumput berwarna hijau tua serta terkadang turun kabut di sekitarnya membuat Jakeson Lake bukan tempat yang digemari orang. Seakan-akan itu bukan danau biasa, melainkan tempat misterius yang tak boleh diganggu.

Dari dalam mobilnya, Nicholas segera melihat sosok perempuan berbaju hitam di bawah salah satu pohon yang besar itu. Ia segera keluar dari mobilnya dan menghampiri sosok tersebut. Perempuan itu berbalik. Dan ia memang Marcia.

Mereka segera berpelukan ketika melihat satu sama lain. Mereka bahkan tak perlu mengatakan bahwa mereka saling merindukan. Mereka sama-sama mengerti.

"Nick," ujar Marcia setelah melepas pelukannya, "Aku benar-benar tak bisa berpikir dengan benar tanpamu."

"Aku juga," sahut Nicholas. "Tapi, ia tidak melukaimu 'kan karena foto itu?".

Marcia menggeleng. Kemudian ia menambahkan, "Ngomong-ngomong, anak itu mengingatkanku padamu."

"Kenapa? Karena ia yatim piatu sekarang?" kata Nicholas ketus.

Marcia menggenggam lengan Nicholas, "Tidak. Bukan itu. Janganlah bersikap dingin seperti ini. Ia... ia anak yang baik dan cerdas. Seperti saat aku bertemu, itulah kesan yang aku tangkap darimu."

Nicholas memalingkan wajah dari Marcia. Ia laki-laki yang mudah tersinggung jika masalah tentang ia anak yatim piatu disebut-sebut.

"Maafkan aku, sayang," Marcia mengecup pipi laki-laki itu dengan lembut, "Aku mohon."

Nicholas menggumam-gumam. Tidak jelas apa yang ia ucapkan, tapi ia telah memaafkan Marcia. "Lalu," lanjutnya, "Kau memintaku datang tentu bukan karena kau ingin mencium pipiku saja 'kan?".

"Memang bukan," kata Marcia, "Aku ingin kita bertemu lagi. Kita harus bisa mengatur kapan kita bisa bertemu lagi."

"Terlalu berbahaya," tolak Nicholas segera, "Sebaiknya kita akhiri saja hubungan ini."

"Tidak!" kata Marcia agak membentak, "Kau tidak boleh melakukannya! Tidak setelah apa yang kita lakukan selama ini."

"Itu sebuah kesalahan." kata Nicholas pelan.

Marcia menutupi wajahnya, "Semua laki-laki sama saja! Aku hanya diperalatkah selama ini? Kau memang hanya ingin membuangku setelah melakukannya? Kau jahat! Kau tak ada bedanya dengan Wise!". Tangannya segera basah kuyup terkena air mata.

"Tidak seperti itu Marcia," kata Nicholas sambil memegang kedua pundak perempuan itu, "Aku takut kau yang akan kena akibatnya jika kita ketahuan. Sudah nyaris. Aku tak mau ambil resiko."

"Laki-laki kurang ajar! Kau berbohong padaku! Kau bilang kau akan membunuhnya." jerit Marcia sambil memukul Nicholas.

Nicholas segera menutup mulut Marcia, "Jangan sampai ada yang mendengarmu."

Marcia memberontak dan menampar Nicholas, "Aku tidak peduli!"

"Baiklah kalau begitu." kata Nicholas dengan tenang, "Aku akan ikut kata-katamu saja."

Kau masih tidak bisa diatur seperti dulu, Marcia.

Marcia terdiam dan menatap Nicholas, matanya berair, tapi riasannya tidak rusak. Perempuan itu memang diberi benda-benda mahal oleh suaminya. Matanya menunjukan bahwa ia sudah tenang, tapi ia masih merasa harus melakukan sesuatu. Menurutnya ada yang kurang.

Nicholas menyudahi itu semua dengan mencium wanita itu dan memeluknya lagi, "Aku tadi keterlaluan. Maaf."

Perempuan itu tidak menunjukan perlawanan, "Jangan katakan hal-hal seperti itu lagi." bisiknya.

Mereka tidak melepas pelukan mereka selama beberapa saat. Ketika Marcia melepasnya duluan ia segera menghapus air matanya dan berkata, "Kau ingat sekarang bulan apa?".

"April," jawab Nicholas, "Awal April kau berulang tahun. Aku tak pernah lupa."

Marcia tersenyum, "Wise akan mengadakan pesta untukku. Kau harus datang dan membawa hadiah untukku," ia mendekat dan berbisik di telinga Nicholas, "Lalu aku akan memberimu sesuatu juga."

Nicholas tertegun, dan wajahnya memerah. Ia berdehem, "Aku tidak yakin Wise mengundangku atau tidak. Ia akan menertawaiku jika aku datang membawa hadiah untukmu."

"Kenapa ia harus menertawaimu? Aku tidak melihat sesuatu yang lucu darimu." kata Marcia.

"Menurutnya aku tak pantas menyimpan fotomu di sakuku. Menurutnya aku bermimpi terlalu jauh. Menurutnya aku kalah telak dibanding teman-temannya yang kaya itu."

Marcia tertawa kecil, "Para laki-laki tua kurang ajar itu? Aku tidak tertarik pada mereka sekalipun mereka punya seluruh uang di dunia ini."

Ia berkata lagi, "Uang bisa hilang. Tapi hati takkan bisa hilang semudah itu. Aku mencintaimu bukan karena uang, kita sama-sama tahu itu. Aku mencintaimu karena kau laki-laki yang paling baik yang pernah kutemui."

Marcia memegang pipi Nicholas, "Jika ia menertawaimu, ialah yang harus melihat keadaannya sendiri."

Nicholas tersenyum dan mengusap rambut Marcia yang lembut. Ketika ia menyibakan rambutnya, tiba-tiba ia sadar ada seberkas tanda kebiruan di dekat telinga Marcia.

"Apa ini? Kau bilang ia tidak memukulmu." tegur Nicholas.

Marcia menutupi memarnya itu, "Aku bilang ia tidak memukulku karena foto itu."

"Kenapa ia masih memukulmu?" tanya Nicholas cemas.

"Ia ingin punya anak. Aku menolaknya. Lalu dia memukulku." kata Marcia.

"Apa dia setolol itu? Ia tidak boleh memukul seseorang di telinga. Bagaimana jika kau kehilangan pendengaran?" kata Nicholas.

"Dia memang tolol." ujar Marcia.

Nicholas menghela napas, "Baiklah. Aku akan pergi ke pesta itu. Diundang maupun tidak." Kemudian ia mencium perempuan itu lagi, kali ini agak lama. Namun tiba-tiba Marcia membuka matanya dan mendorong Nicholas pelan. Ia berbisik, "Enrique."

Nicholas berbalik dan mendapati dirinya tengah diawasi oleh Enrique yang masih diam di tempatnya, tidak jauh dari pohon tempat Nicholas dan Marcia berdiri. Ia terlalu terkejut untuk menghampiri Nicholas dan memukulnya hingga payah. Ia tidak bisa memercayai matanya, sekalipun kejadian tadi betul-betul jelas. Betul-betul tertangkap basah.

"Enrique," kata Nicholas sambil mendekatinya, "Sejak kapan kau berdiri di sana?". Marcia tetap di tempatnya, hanya menunduk dengan takut.

"Aku tak bisa memercayai hal ini, " kata Enrique, "Kau sinting! Kau mencium istri Wise!".

Kemudian ia segera meralat kata-katanya, "Tidak, tidak. Wanita itu membiarkan kau melakukannya. Ia tidak menamparmu atau memarahimu. Kau dan dia sama-sama..." Enrique menatap Nicholas, "...lalu foto itu. Kau tidak mengambilnya diam-diam. Ia memberikannya padamu," tatapannya segera berubah menjadi kebencian. "Teganya kau. Ia istri sahabatmu sendiri! Tanpa Wise, kau sudah membusuk di jalanan! Inikah balasanmu terhadap segala kebaikannya?".

Nicholas berkata dengan suara pelan, "Ya. Itu yang kulakukan. Sudah tiga bulan kami melakukannya."

"Aku selalu berpikir kau adalah satu-satunya laki-laki yang bisa Wise percayai untuk mengurus istrinya. Rupanya aku salah." kata Enrique perlahan. Ia segera berbalik untuk meninggalkan Nicholas.

Nicholas berteriak dari belakang, "Kuharap kau tak mengadukannya pada Wise."

Enrique berhenti sejenak untuk berbalik menatap Nicholas, "Jangan harap aku mau berbohong untukmu ketika ia bertanya tentang hubungan kalian yang mulai membuatnya curiga."

Ketika Enrique sudah hilang dari pandangan, Marcia segera menghampiri Nicholas, "Menurutmu ia akan memberitahu Wise?"

Nicholas menggeleng, "Ia lebih memihakku dibanding dengan Wise."

Siapa yang mau memihak laki-laki brengsek itu?

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .