Fiction » Spiritual »

Langit Hijau
Author:
Renaisan Esaeliem PM
langit yang indah...
Rated: Fiction K - Indonesian - Sci-Fi/Spiritual - Words: 692 - Reviews: 1 - Favs: 1 - Published: 07-27-12 - Status: Complete - id: 3045328
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

Suatu ketika, aku bertemu dengan sebuah bintang jatuh. Aku bertanya kepadanya, "Hei, apakah kau mau menemui langit hijau?"

Dia menjawab, "Langit hijau? Apa itu?"

"Langit di mana kau bisa terbang bebas. Aku ingin kau kesana jika aku sudah menemukannya."

Dia heran dan mengacuhkanku. Diakembali berenang menjauh dariku. Berenang di langit biru. Aku ingin dia suatu saat berenang di langit hijau.

"Waktu itu aku meminta kepada bintang jatuh

Agar ia berenang di langit hijau

Agar tidak ada yang mengotorinya

Seperti apa yang terjadi di langit biru"

Di sebuah pagi yang sejuk, aku menemui burung-burung bermain di sekitar awan. Gumpalan awan yang terlihat manis. Kemudian mereka memakan awan itu, menikmati kelezatannya.

"Hei, ikutlah dengan kami," ajak burung kepadaku.

"Maaf, aku tidak bisa," jawabku. "Aku lebih ingin memakan awan di langit hijau."

"Langit hijau? Apa itu?" Tanya burung tadi.

"Ya, langit hijau, akan kuajak kau ke sana saat aku menemukannya, untuk menikmati awan kapas yang nikmat," Jawabku.

Burung itu tampak keheranan kemudian mengacuhkanku. Aku ingin sekali ikut dengannya, tapi aku tak bisa.

"Awan kapas itu terasa begitu manis

Saat terbang di langit hijau

Saat burung-bururng masih bisa memakannya

Seperti saat belum terjadi di langit biru"

Saat berjalan di tepian sungai, aku melihat bayanganku yang terpantul dari kejernihan air yang begitu cerah. Terpancar begitu memukau saat di belakangnya terlihat langit biru. Aku ingin menemuinya.

"Mau bermain bersamaku?"Ajaknya.

"Maaf, aku tak bisa. Aku tak bias masuk ke sana," Tolakku.

"Kenapa?" Balasnya.

"Aku ingin kau berada di langit hijau," Jawabku.

"Langit hijau? Apa itu?" Balasnya.

"Aku akan mengajakmu ke sana jika aku sudah menemukannya," Jawabku.

Setelah itu aku membiarkannya. Aku ingin bermain dengannya, tapi aku tak bisa. Aku ingin melihatnya lagi ketika aku sudah menemukan langit hijau.

"Aku melihat wajahku di sungai yang mengalir

Begitu indah saat terlihat langit hijau dibelakangku

Begitu cerah pantulannya

Seperti dulu di langit biru"

Aku mencari, terus mencari. Bertanya ke sana kemari. Kepada seseorang dan beberapa orang. Bertanya, "Apakah pernah mendengar langit hijau?" Atau, "Apakah pernah melihat langit hijau?" Tak ada yang menjawab iya. Aku terus berusaha.

Aku mencoba mencarinya. Tak tahu kapan akan bertemu dengannya. Mereka kemudian menertawakannya. Betapa bodohnya aku. Betapa aku mencari yang tak pernah terdengar dan terlihat oleh mereka. Walau begitu aku tak ingin menyesal. Walau tak pernah, tapi aku tetap akan mencarinya.

Walau mereka menyesal, aku tak ingin menyesal. Sekali saja, aku ingin menemukannya kemudian mengajak bintang jatuh berenang di sana. Mengajakburung memakan awan kapas yang sangat lezat dan mengajak bayanganku bermain di dalam pantulan air sungai. Di langit hijau.

"Entah kapan aku dapat melihatmu

Mungkin tidak akan pernah

Tapi aku ingin berusaha untuk dapat melihatmu"

"Anak muda, kita sudah pernah bertemu," kata seseorang.

"Benarkah? Kenapa tidak ada yang mengatakan pernah mendengar atau melihatmu?" tanyaku.

"Aku tak ada di manapun," jawabnya. "Cukuplah aku di dalam pikiranmu dan hanya sekali saja kita bertemu. Begitu bukan, yang kau inginkan?"

"Benar. Tapi aku tak ingin menyesal. Aku ingin mereka melihatmu pula. Walaupun hanya sekali," jawabku.

"Aku sudah cukup tua untuk bertemu begitu banyak orang. Maaf, aku tak bisa berlama-lama bertemu denganmu," balasnya.

"Sebelum pulang, bisakah aku meminta sesuatu darimu?" Pintaku.

"Apa itu?" Balasnya ingin tahu.

"Aku ingin kau menyampaikan salamku, kepada bintang jatuh yang kuajak berenang di langit hijau, kepada burung yang kuajak memakanawan kapas yang sangat lezat di langit hijau, dan kepada bayanganku yang terpantul di air sungai yang ingin bermain bersamaku di langit hijau. Aku ingin kau menyampaikan salamku, bahwa aku telah menemukan langit hijau," pintaku.

"Tentu saja, kenapa tidak?" Jawabnya.

"Terima kasih telah menemuiku, walau hanya sekali," pamitku.

Apa yang kudapatkan? Apa yang kuhilangkan? Sudahlah, aku sudah tak perlu menyesal. Aku sudah menemukannya. Dia sudah tua dan tak ada lagi yang memerhatikannya. Walaupun begitu, dia cukup baik. Dia tak ingin ada yang menemukannya, tetapi dia akan mendatangi orang yang mencarinya. Walau tak pernah didengar ataupun dilihat, dia cukup baik, dan dia tak ingin menyesal. Dia menitipkan sesuatu padaku. Dia ingin aku terus mencarinya, walau tak ada yang kedua kali, walau aku sudah menemukannya, dia tak ingin mereka menyesal karena belum pernah bertemu dengannya, langit hijau. Aku ingin kembali seperti dulu, ketika langit hijau waktu itu.

"Aku tak ingin mereka menyesali diri sendiri

Karena tak dapat melihatmu, langit hijau"

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .