
Sebuah kejadian yang tidak terduga yang berawal dari sebuah mimpi. sebuah kejadian yang tidak pernah diharapkannya. dimana hanya karena dirinya orang mati. tapi hanya karena dirinyalah orang-orang bisa terjerat dari kegelapan yang sedang melanda. Hilaire Esmeraude, seorang penyihir yang harus berjuang melawan dirinya yang lain yang hendak menghancurkan dunia. /Newbie/ Mind to RnR?
Rated: Fiction T - Indonesian - Supernatural/Mystery - Chapters: 11 - Words: 34,933 - Reviews: 6 - Favs: 1 - Follows: 3 - Updated: 06-01-13 - Published: 08-04-12 - id: 3047624
|
|
A+ A- |
Chapter 1:
The beginning
Gadis itu berlari melewati koridor sekolah Snowkel dengan cepat. Ia sudah tidak peduli lagi jika ia akan mendapatkan hukuman karena sudah melanggar aturan sekolah yaitu dilarang berlari di koridor sekolah.
Rambut hitamnya yang panjang dan bergelombang sudah tidak disisirnya dengan baik. Baju yang dipakainya juga tidak terpakai dengan rapi. Masih berantakan. Mata yang berwarna hijau zamrud itu memancarkan aura kekhawatiran.
Yang dipikirkannya sekarang yaitu tiba di ruang kelasnya dengan selamat sentosa, sampai di ruang kelasnya tanpa mendapatkan detensi dari Albertus Ginggel, guru sejarahnya, guru killer di sekolahnya dan sialnya lagi dia mengajar pada jam pertama pada kelasnya sekarang. Semoga saja nasib sial tidak terlalu menyukainya kali ini, pikirnya. Ia sudah terlalu banyak mendapatkan kesialan dalam hidupnya dan kali ini saja dia berharap Dewi Fortuna berada di pihaknya.
"Ginggel pasti akan membunuhku," ucap Hilaire sambil berlari.
Akhirnya dengan perjuangan keras berlari dari asrama miliknya dia sampai juga di depan kelas miliknya. Dengan tangan gemetaran dan menelan ludah dia perlahan mulai membuka pintu dan menengok ke arah meja guru. Dan lihatlah meja guru itu kosong! Betapa senangnya ketika dia mengetahui Ginggel belum mengajar.
Hilaire, nama gadis itu dengan hati legah dan gembira masuk ke dalam kelas dan duduk dibangkunya paling ujung dengan jendela. Dirinya sangat senang ketika Dewi Fortuna sedang berbaik hati dan berpihak padanya. Baru kali ini dalam hidupnya nasib sial tidak datang padanya. Rasanya sebuah kegembiraan tidak terbendungkan.
"Jarang sekali kau terlambat, Hilaire," ucap teman sebangkunya dan merupakan sahabatnya yang bernama Azurine Longtail.
Azurine memiliki rambut berwarna kuning keemasan yang diikat dua pada batasan bagian leher dan di tempatkan melewati lehernya. Dia mengikatnya dengan menggunakan biru tua yang sangat konraks dengan warna rambut miliknya dan juga warna mata yang berwarna biru. Poni rambut miliknya di arahkan ke samping kiri dan dipotong agar ujungnya tidak akan mengenai matanya dan merusaknya.
Hilaire tersenyum. "Hmm, jarang sekali Ginggel terlambat masuk. Aku berpikir apa yang membuat seorang guru yang sangat tepat waktu bisa terlambat seperti sekarang."
"Kau belum menjawab perta-" ucapan Azurine terhenti ketika guru sejarah yang bernama Albertus Ginggel itu masuk ke dalam kelas dengan muka garang yang sengaja dibuatnya untuk membuat para murid takut dan patuh pada semua yang dikatakannya. Dan sepertinya itu berhasil karena tidak ada seorangpun yang pernah membantah perkataannya, selalu mengumpulkan tugas tepat waktu serta mendapatkan nilai yang bisa dibilang cukup memuaskan.
"Saya tidak akan mengajar selama dua jam ini karena akan ada rapat guru yang mendadak dilakukan," ucapan itu membuat hampir beberapa murid terpekik senang tapi diurungkannya jika mereka tidak ingin mendapatkan detensi berat dari guru itu. Walaupun hanya dua jam bebas dari pelajarannya. Tetapi bagi para murid itu sama saja dengan bebas dari kurungan neraka selama 100 tahun.
Ginggel melanjutkan ucapannya. "Tetapi sebagai gantinya kalian akan mengerjalakan latihan yang ada di halaman 261, dikerjakan pada buku tugas kalian dan dikumpul saat lonceng tanda istirahat dibunyikan. Dan lalu." Ginggel kembali menggantungkan pertanyaannya membuat semua murid berkeringat dingin. Pasti masih ada tugas lain yang gila kedepannya.
"Minggu depan kalian akan mempersentasikan sejarah apa yang terjadi pada abad ke-8. Semuanya harus lengkap dan tidak ada yang terlupakan serta tugas kalian hari ini adalah kalian akan mencari sejarah mengenai negara Italia. Kalian akan membuatnya dalam bentuk makalah yang akan dikumpulkan besok pagi. Kalian boleh mencarinya dimana saja." Ginggel mengakhiri ucapan panjangnya.
Semuanya menatap horor Ginggel saat dia selesai berbicara. Tidak. Dalam waktu lima menit saja mereka sudah kembali ke dalam nerakah tingkat 7 dan bahkan lebih parah karena kalau Ginggel berkata bahwa mereka boleh mencarinya dimana saja itu artinya materi itu tidak ada di buku mereka dan mereka harus berkeliling mencarinya mulai dari internet dan tempat yang selalu menjadi langganan mereka karena tugas Ginggel yaitu perpustakaan.
"Dan yang terakhir. Ms. Hilaire, kuharap kau akan siap pada detensi yang akan kuberikan karena kau berani sekali datang terlambat di kelasku. Aku akan memberikan detensi berat. Kau akan merapikan semua buku yang akan selalu berantakan karena banyak murid yang ke sana menggunakannya," ucap Ginggel sambil tersenyum sadis.
Hilaire memucat dan menelan ludahnya sendiri. Kenapa guru ini bisa mengetahuinya padahal tadi dia tidak berada di sini, bukan? Oh, jangan katakan jika orang in mempunyai kekuatan indra keenam yang abnormal sama dengan sifatnya juga, pikir Hilaire.
Ini dia Albertus Ginggel yang sangat ditakuti oleh Hilaire daripada guru yang lainnya. Dia adalah guru sejarah yang tidak tanggung-tanggung dalam memberikan hukuman. Apalagi dia akan semakin memberikan hukuman yang tambah hari menjadi berat jika itu adalah langganannya dan sialnya Hilaire adalah salah satunya.
Albertus Ginggel memiliki ciri-ciri rambut yang sudah mulai rontok. Bagian depannya saja sudah hampir tidak ditumbuhi rambut. Hanya bagian belakangnya yang bisa dibilang masih banyak ditumbuhi oleh rambut yang berwarna coklat. Mata tajam berwarna coklat yang seakan bisa membunuh dengan sekali tatap.
"Ya, sekarang kalian semua boleh mengerjakan tugas kalian hal 261 dan jangan lupakan kumpulkan saat lonceng istirahat berbunyi." Ginggel pergi meninggalkan ruang kelas itu dengan cepat saat dia sudah mengatakan semua apa yang ingin dikatakannya.
Tanpa aba-aba semua murid itu serentak mengerjakannya, termasuk Hilaire yang sangat malas mengerjakan tugas. Sudah cukup ia mendapatkan detensi. Ia tidak menginginkan yang lain lagi dari guru itu.
"Heh, kau itu memang tidak bisa bebas dari hukuman,ya? Gara-gara kau kelas ini jadi tercemar karena barang tidak sempurna seperti kau ada di dalamnya," ucap seorang gadis. Dia membalikan posisi kepalanya menatap Hilaire dengan pandangan meremehkan.
Gadis itu bernama Melody Amor. Dia memiliki wajah yang bisa dibilang cantik. Rambut bergelombang miliknya yang berwarna pirang keemasan dan juga matanya yang berwarna biru membuatnya semakin menawan.
Dia adalah seorang anak dari salah seorang yang terpandang. Orang tuanya adalah seorang yang bergerak dibidang pertambangan. Seorang pengelola dan penjual berlian paling besar di dunia. Bisa dibilang dia adalah orang kaya dengan profesi milik orang tuanya tersebut. Dia cantik, pintar dan kaya. Oh, dan sialnya semua kesempurnaan itu membuatnya menjadi sombong dan suka sekali meledek seseorang sama seperti yang baru saja yang dikatakannya pada Hialire.
Hilaire menatapnya dengan pandangan jekel. Gadis ini selalu saja mengatainya. Apa dia tidak pernah bosan?
"Kau tidak punya sesuatu yang dikerjakan sampai sempat-sempatnya mengataiku?" ucap Hialire dengan sinis.
Melody kembali memandangnya dengan tatapan merendahkan. "Aku? Sayangnya aku memang tidak punya kerjaan sampai-sampai mengataimu. Aku sudah menyelesaikan semuanya. Lagipula kau memang pantas mendapat semua kata-kata itu," ucapnya dengan nada sombong.
Hilaire mati-matian menahan dirinya untuk tidak meluapkan amarahnya. Dia tidak mau lagi mendapat hukuman karena mengacau di pelajaran guru killer seperti Ginggel. Dia sudah cukup mendepat yang tadi dan tidak untuk yang lainnya.
Hilaire kembali memfokuskan matanya untuk membaca soal-soal yang ada di depannya. Melody juga sudah tidak berulah dengan mulut pedas yang sangat menganggu itu.
Baru saja dia bisa bernapas lega, tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang meledak-meledak di kedua sisi kakinya. Hilaire segera melirik ke bawah. Dia menemukan petasan kecil yang berjumlah cukup banyak berserakan dengan tidak teratur di bawah meja belajar miliknya.
"Lucky!" seru Hilaire orang yang duduk tak jauh dari Melody.
Baiklah. Yang kali ini dia sama sekali tidak bisa menahan emosinya lagi. Siapa yang tidak akan marah coba ketika kau akan merasakan rasa sakit yang tidak bisa diterjemahkan. Yang pasti rasanya sangat perih. Dan entah kenapa dia teringat pada hal yang sama dengan apa yang dialaminya pada mimpi anehnya tadi malam.
Mimpi aneh dimana dia terjatuh di dalam sebuah sumur basah. Kakinya terendam oleh air sumur itu. ketika dia ingin keluar dari sini, tiba-tiba saja air yang menyentuh sepatunya perlahan membeku dengan sendirinya. Mimpi yang aneh dan dia tidak berharap itu akan menjadi kenyataan. Dia berharap itu hanya sebuah bunga tidur yang tidak akan pernah dilihatnya lagi.
Orang yang diserukan namanya oleh Hilaire itu hanya bisa tertawa senang akan hasil kerjaannya yang berhasil membuat Hilaire marah. Lucky Measten namanya. Dia adalah seorang yang kaya. Ayahnya seorang kepala pengekspor makanan di Eropa. Ibunya memiliki toko butik paling laris di Inggris. Ya, dia juga anak orang kaya sama seperti Melody.
Lucky memiliki warna rambut pirang dan juga mata yang berwarna coklat agak kehitaman. Wajah tampan membuat hampir semua wanita bertekuk lutut dihadapannya apalagi dengan kekayaan yang berlimpah milik orang tuanya. Seorang kaya yang sangat dibenci oleh Hilaire.
Tiba-tiba saja murid-murid yang sedari tadi berbicara dan berdiri kini menjadi hening semua. Semuanya diam dan kembali ke tempat duduk mereka masing-masing tanpa melakukan kekacauan lagi. Semuanya menjadi seperti itu ketika mereka mendengar suara decitan pintu kelas mereka terbuka.
Kini seorang wanita dengan rambut pirang yang disanggul masuk ke dalam kelas itu. Dengan gaya anggun wanita itu menutup pintu kelas dan berjalan menuju meja guru dan duduk di sana.
"Kalian sebaiknya mengerjakan tugas kalian dengan benar jika tidak ingin mendapat tambahan hukuman dari Mr. Ginggel," ucap Ms. Irene, seorang guru yang tiba-tiba masuk ke dalam kelas khusus tersebut.
Mereka lalu kembali larut dalam pekerjaan mereka. Mereka tahu bahwa itu adalah sebuah peringatan halus yang diberikan guru itu terhadap kelas mereka yang sedari tadi ribut. Dan kini Ms. Irene menjadi guru dadakan yang masuk karena mendengar ketributan mereka dan mengawasi mereka sampai jam pelajaran Albertus Ginggel selesai. Sepertinya wanita itu mempunyai waktu senggang untuk mengawasi kelas yang berada di luar dari jadwal mengajarnya.
Lonceng istirahat akhirnya berbunyi. Semua murid bersorak ria. Mereka berbondong-bondong keluar. Tujuan mereka semua sama yaitu ruang makan. Ruang makan bisa menjadi penawar racun bagi mereka yang sudah menghabiskan di kelas yang dibumbui rasa neraka.
Hilaire dan Azurine memilih untuk memakan dipojok ruang makan. Mereka memang sengaja menghindari meja makan yang berada di tengah ruangan karena keadaan di situ pasti akan sangat bising. Mereka kedua membenci hal itu dan lebih baik menyendiri di pojok yang tidak ada orang yang mau pergi ke sana.
Seorang laki-laki berambut merah tiba-tiba datang mendekat mereka. Hal itu membuat mereka heran apalagi kelihatannya laki-laki ini berasal dari golong orang kaya yang tidak mungkin mau datang ke pojokan ruangan seperti ini.
"Ada perlu apa dengan kami?" tanya Hilaire.
"Aku ke sini untuk-" laki-laki itu memotong perkataannya. Dia lalu mengambil sesuatu dari saku celana miliknya yang ternyata adalah sebuah pisau. "untuk mengambil jantung milikmu," laki-laki itu menyelesaikan perkataannya dan langsung hendak menyerang Hilaire.
Hilaire berteriak histeris dan membuat pertahanan yang setidaknya bisa mengurangi rasa sakit miliknya tapi setelah beberapa menunggu rasa sakit itu tidak kunjung datang juga. Dia memberanikan diri untuk membuka matanya, melihat situasi apa yang ada di depannya.
Seorang laki-laki berambut coklat menahan serangan itu. Laki-laki itu adalah wakil ketua osis miliknya yang bernama Charlos Lizering. "Kalian harus segera keluar dari sini. biar aku yang menahan anak ini," ucapnya.
Hilaire dan Azurine segera keluar dari ruang makan.
"Itu tadi gila," ucap Hilaire dan disambut dengan anggukan oleh Azurine. Mereka berjalan bosan di koridor sekolah sampai Azurine menemukan sebuah ide yang muncul di dalam kepala miliknya. Ide brillian bagianya tapi Hilaire merasakan sesuatu yang buruk tentang ide itu.
"Kenapa kita tidak pergi ke perpustakaan, saja?" ajak Azurine.
Hilaire semakin mengerutkan keningnya mendengarkan tempat yang paling dibencinya disebut-sebut apalagi setelah kejadian menegangkan yang tadi baru saja dia alami. "Kenapa aku harus ke sana? Bukannya aku akan pergi merapikannya ketika pulang sekolah?" ia berpura-pura tidak tahu padahal sebetulnya ia sudah sangat mengetahuinya.
Azurine menggelengkan kepalanya. "Itu memang benar. Tapi apakah kau tidak ingin mengerjakan tugas yang baru dikasihnya? Kau tahu bukan kalau tugas yang diberikan selalu tidak pernah ada di buku dan terpaksa kita harus mengarungi setiap buku yang ada di perpustakaan bukan?"
"Oh, tidak. Aku lupa akan hal itu! Kita harus cepat pergi sekarang. Aku tidak mau mendapatkan detensi lagi karena tidak selesai mengerjakan tugas gilanya!" Masih dengan raut dibuat-buat Hilaire berkata hal itu. Hilaire menarik tangan Azurine.
Ia menariknya karena takut Azurine akan berceramah bukan takut pada peringatan Azurine bahwa mungkin saja ia akan mendapatkan detensi yang lainnya lagi.
Kalau ia berceramah bahkan akan lebih para daripada detensi milik Ginggel. Percayalah kau tidak akan pernah menginginkannya jika kau memilih untuk mati dengan cara konyol. Dia berlari sambil membawa Azurine menuju tempat terkutuk yang bernama perpustakaan, tempat yang paling dibencinya dan tidak ingin dikunjunginya.
"Aku heran kenapa orang ceroboh sepertimu bisa masuk ke kelas pintar yang sama sekali tidak sesuai dengan kepribadianmu," ucap Azurine.
Hilaire tersenyum. "Itu bukan sebuah keberuntungan, kupikir. Itu adalah sebuah rencana dimana aku harus masuk di kelas yang diajar satu-satunya oleh Ginggel sialan itu," ucap Hilaire.
"Tapi kuanggap itu tetap sebuah keberuntungan," ucap Azurine.
"Sebetulnya keberuntungan yang mengerikan," ucap Hilaire sangat pelan dan kecil sampai-sampai hanya dirinya yang hanya bisa mendengarnya.
Hilaire dan Azurine sampai di perpustakaan dengan napas yang terengah-engah serta wajah pucat yang berkeringatan. "Semua ini salahmu Ms. Esmerude," sindir Azurine.
Hilaire mengatur napasnya dan lalu membalas perkataan perkataan Azurine. "Bukan salahku. Tanyakan pada kesialan yang lebih banyak menimpaku kali ini daripada keberuntungan kali ini."
"Ya, benar. Hampr saja aku mati untuk kedua kalinya. Pertama, tiba-tiba saja bola menghantam kaca jendela koridor dan hampir mengenai kita dan kedua kau hampir jatuh terpeleset di tangga gara-gara kulit pisang sialan dan kau juga ikut menarik tanganku," gerutu Azurine.
Napas Hilaire masih terengah-engah. "Masih baik kau hanya mendapat seperti itu daripada aku yang hampir jatuh oleh laki-laki sialan itu yang entah apa alasannya ingin membunuhku," ucapnya. Kini bulu kuduknya kembali merinding mengingat kejadian itu.
"Oke, kita akan melupakan semua itu untuk sejenak dan fokus pada tugas yang diberikan oleh Ginggel," ucap Azurine dan dibalas dengan anggukan setuju dari Hilaire.
"Kau pasti bercanda," ucap Hilaire saat melihat pemandanganyang ada di depannya.
"Katakan kalau semua ini hanyalah sebuah mimpi di mana sebentar lagi aku akan terbangun darinya," ucap Azurine. Mereka kedua dibuat sangat terkaget oleh pemandangan yang ada di depannya. Siapa juga yang tidak kaget melihat perpustakaan yang seharusnya ramai pada jam-jam seperti ini sepi tanpa penghuni sama sekali kecuali mereka berdua tentunya.
Satu lagi yang aneh dari perpustakaan itu. Sejak kapan perpustakaan itu terlihat lebih tua dari sepertinya? Banyak sekali kayu yang tampak sudah berwarna pucat dan akan lapuk dan terutama sulu-sulur tumbuhan yang merambat ke mana-mana. Perpustakaan modern itu seketika juga berubah menjadi perpustakaan menyeramkan di dalam tengah hutan.
Mereka mengalihkan pemandangan mereka menatap satu sama lain. Mata Hilaire menatap mata Azurine lekat-lekat dan juga sebaliknya.
"Mungkin kita harus melakukannya untuk mengetahui apakah ini mimpi atau sebuah kenyataan aneh yang sedang menimpa kita," ucap Hilaire. Azurine mengangguk setuju dengan ide Hilaire. Hilaire lalu mencubit Azurine dengan keras pada lengan tangannya. Azurine juga melakukan hal yang sama.
Mereka berharap setelah merasakan rasa sakit ini mereka akan kembali ke alam sadar mereka. Tapi sayangnya semua itu tidak berhasil. Tidak ada yang berubah pada pandangan mata mereka terhadapnya.
"Kupikir lebih baik kita kembali ke kelas dan berdiam diri di sana daripada harus memasuki perpustakaan yang semakin tidak jelas arwahnya. Bagaimana semua ini bisa terjadi dalam waktu selama? Jangan katakan kalau ini perbuatan si anak pembuat onar bernama Lucky Measten," gerutu Hilaire.
Azurine menghelah napas. "Tidak mungkin dia yang melakukannya dan jika memang dia melakukannya pasti pihak sekolah sudah mengetahui apa yang diperbuatnya sebelum dia selesai karena perpustakaan ini selalu dijaga 24 jam. Dan juga mustahil dia melakukannya sendiri."
"Dan kalau perpustakaan ini dijaga selama 24 jam maka mustahil ada murid jahil yang akan mengerjainya karena sangat membenci dan juga mustahil pihak sekolah merubahnya menjadi seperti ini." Memikirkannya saja sudah membuatnya merinding apalagi jika sudah mengetahui kebenarannya.
Hilaire hampir saja membawa kakinya pergi dari tempat terkutuk yang menurutnya semakin terkutuk jika saja Azurine tidak menahannya lebih dahulu.
"Kau mau kemana? Kita tidak akan mendapatkan refensi lengkap mengeani persentasi kita kecuali di tempat ini. Persentasinya besok dan aku tidak mau mendapatkan nilai yang tidak kuincrar hanya gar-gara hal ini," ucap Azurine.
Hilaire membalas perkataan Azurine. "Jika kau bilang hanya gara-gara hali iin berarti kenapa bukan kau saja yang pergi sendiri? Aku lebih memilih mendapat nilai nol daripada memasuki tempat ini. lagipula kau lihat tidak ada seorangpun di sini. Jadi, setidaknya akan banyak yang menemani kita untuk mendapatkan nilai jelek setidaknya."
Azurine mulai memilih-milih kata-kata Azurine yang bisa disetujuinya. Apa yang dikatakannya benar juga. Lebih baik dia mendapatkan nilai jelek sekali-kali daripada tidak pernah keluar dari sana. Lagipula akan banyak yang akan menemani mereka nanti mendapatkan banyak detensi.
"Kupikir kau benar juga. Kalau begitu kita harus lekas kembali ke dalam kelas," ucap Azurine. Hilaire seketika itu juga bermuka cerah. Baru kali ini Azurine mengalaha dan membiarkan nilainya mendapatkan nilai jelek padahal jika dalam kondisi lain dia pasti akan tetap ngotot.
Ada yang aneh dari perpustakaan itu. Bukan hanya Hilaire yang merasakan aura aneh dari perpustakaan itu ruanya. Azurine yang merasakannya juga. Satu kata, keluar. Ia ingin sekali keluar dari sana dan tidak mendekatinya lagi dalam beberapa waktu.
Baru saja mereka akan betul-betul pergi dari sana tiba-tiba sulur-sulur tanaman yang seharusnya melekat pada rak buku dan dinding-dinding menarik kaki mereka dan menyeret mereka masuk ke dalam perutakaan yang kian menjadi mengerikan.
Mereka berusaha sekuat tenaga untuk bebas dari sana tapi apa daya mreka, sulur tanaman itu lebih kuat dari mreke. Beberapa kali Hilaire berusaha untuk memotongnya dengan pisau lipat yang dibawanya tapi tanaman itu sama sekali tidak terpotong. Terlalu beras sampai pisau itu yang patah.
Tenaga mereka sudah mulai kehabisan karena memberontak terus menerus. Mereka mulai diam dan pasrah menghadapi nasib mereka yang terus ditarik semakin dalam ke dalam perpustakaan. Sulur-sulur tanaman itu membawa mereka menuju ke pusat perpustakaan, bagian dari tengah perpustakaan. Mereka akan semakin sulit keluar dkarena sudah berada jauh dari pintu keliar.
Pemandangan di sini lebih mengerikan dari pada sebelumnya. Banyak makhluk-makhluk aneh yang menjijikan sedang melakukan sebuah aktifitas dan saling berbicara menggunakan bahasa yang menurut Hilaire itu adalah bahasa alien dan menurut Azurine adalah bahasa Yunani.
Bentuk mereka seperti elf. Tidak. Mereka bahkan lebih jelek dari elf yang pernah Hilaire dan azurine lihat dalam buku legenda, hanya bentuk mereka yang mirip, tetapi yang lainnya tidak. Mereka berwajah dan berpenampilan dan berbau hampir mirip dengan para troll dan juga dengan goblin. Tetapi warna kulit mereka tetap putih dan tidak hijau seperti kedua makhluk itu. Dan juga mereka menumbuhkan tanaman aneh dan juga menakutkan bukannya tanaman cantik seperti yang ada pada legenda pada umumnya.
Sulur-sulur tanaman itu mulai melepaskan jeratan mereka dari tubuh Hilaire dan juga Azurine. Para elf jelek itu datang mendekati Hilaire dan Azurine yang masih tergeletak lemah. Tetapi mata mereka masih tebuka lebar untuk merekam baik-baik dan menyimpan semuanya dalam memori milik mereka.
Elf itu mulai menyentuh mereka dengan tangan yang mengeluarkan bau tak sedap dan juga cairan lengket nan menjijikan. Hilaire bergidik. Sedangkan Azurine menanggapinya biasa-biasa saja. Sentuhan itu berubah menjadi cengkraman di sekujur tubuh mereka. Hilaire dan Azurine meringis. Baru saja mereka terlepas dari rasa sakit sekarang mereka merasakannya kembali.
"Kita mendapatkan santapan istimewa hari ini." entah dari mana pisau-pisau itu muncul. Para elf itu mengeluarkan ekspresi bagai seorang psikopat dimana pisau-pisau dan juga garpu makanan yang sudah diasah sangat mengkilap berada di tangan mereka entah bagaimana caranya membuat mereka semakin mirip.
Elf tersebut menatap Hilaire dengan tatapan lapar. Mereka pasti akan mengincarku terlebih dahulu, pikir Hilaire. Dan pikirannya menjadi kenyataan. Bau sial yanng dimiliknya sepertinya menarik para elf untuk menyantapnya terlebih dahulu sesuai dengan perkiraannya.
Kenapa Dewi Fortuna tidak pernah berpihak padanya saja satu kalipun? Dia sangat menginginkan pertolongan Dewi keberuntungan itu untuk menjauhkannya sekarang dari situasi menjengkelkan ini.
Dia tidak ingin mati konyol seperti ini, menurutnya. Setidaknya diai ingin mati terhormat dikunjungi artis-artis terkenal di dunia dan juga petinggi-petinggi negara yang sangat tidak mungkin untuk terjadi.
Dia hanyalah seorang perempuan yang mempunyai kehidupan terasingkan di dunia yang luas ini. para orang-orang terkenal di dunia tidak mungkin mengenal dirinya yang bahkan lebih di bawah orang biasa.
Hilaire ingin sekali memberontakdan menghantam para elf itu dengan keras membuat mereka tidak bisa bergerak lagi dan langsung mati di tempat agar dia bisa membalas kekesalannya yang sudah membuatnya dan sahabatnya, Azurine menjadi seperti ini. Tapi sayangnya itu hanyalah sebuah angan-angan belaka. Tubuhnya sangat lemah sekarang tidak bertenanga sama sekali. Sulur-sulur tanaman itu seperti menyerap semua tenaganya yang membuatnya tidak berdaya seperti ini.
"Baiknya kita apakan dia?" tanya salah satu elf dengan senyuman mengerikan.
Seorang dari mereka menjawab,"Bagaimana kalau kita mencingcangnya dan lalu membakarnya. Hmm... dagingnya pasti akan sangat lezat, berbau harum dan juga lembut."
Yang lainnya berkata lagi, "Jangan! Kalau kita melakukannya kita tidak akan bisa memakan jantungnya! Itu adalah benda berharga yang membuat kita bisa lepas dari keadaan terkutuk ini!"
"Aku setuju! Dan juga rambutnya bisa membuat kita menjadi lebih kuat dari makhluk apapun!" ucapan elf yang lainnnya lagi.
Pembicaraan itu sontak membuat Hiliare ketakutan, keget, bingung dan juga penasaran pada saat yang bersamaan. Dia takut karena nyawanya kemungkinan tidak akan berumur panjang. Dia keget karena lagi-lagi elf itu berkata sesuatu tentang jantung miliknya dan juga mengincarnya sama dengan laki-laki berambut merah yang hampir membunuhnya di ruang makan dengan alasan menginginkan jantungnya.
Dia bingung karena kenapa tiba-tiba rambutnya lagi yang menjadi incaran mereka. Kenapa rambutnya lagi yang perebutkan. Dia menjadi penasaran dengan semua yang dikatakan para elf itu. Sangat sampai bisa membuatnya mati penasaran, mungkin.
Dan mungkin sebentar lagi dia akan mendapat jawabannya.
TBC
A/N: Mind to give review, an advise, a critic or even a flame?
|
||||||