
AU series from Verano A Dinamarca. Carl Sørensen adalah pria Denmark pemurung dan penyendiri yang sedang mengenyam pendidikan di Barcelona. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh kedatangan Spaniard cantik yang senang menggodanya yaitu Isabel Alvarez dan tahu segalanya tentang Carl. Siapa sebenarnya Isabel ini dan apa tujuannya ia mendatangi tempat Carl? NO HAPPY ENDING, you've been warned
Rated: Fiction T - Indonesian - Hurt/Comfort/Tragedy - Words: 2,058 - Reviews: 2 - Published: 08-21-12 - id: 3052195
|
|
A+ A- |
Stockholm, 2008
"Oh, ini buatan om jelek ya?" tanya Adrianne Linnea, menggengam satu buah foto yang bergambar sebuah patung wanita cantik dari Spanyol. Patung itu berupa wanita cantik berambut panjang bergelombang dengan gaun ala penari flamenco. Wajah patung itu tidak tersenyum, tetapi juga tidak memancarkan kesedihan—datar dan tanpa ekspresi, tatapan matanya seolah-olah kosong.
Carl Sørensen tertawa mendengar pertanyaan Adrianne. Bisa diduga, Adrianne tidak percaya bahwa ia juga adalah seorang pemahat sampingan selain ia bekerja menjadi arsitek panggilan untuk negara di luar Denmark. "Yup," ia menjawab tanpa memandang Adrianne. "Itu dibuat olehku pada tahun pertama ketika di Barcelona."
"Di Barcelona? Ngapain? Cari wanita cantik untuk dipacari setiap malam?" Adrianne balas bertanya dengan sengit, kedua bola matanya menatap mata Carl dengan seksama—lebih tepatnya ingin menyembunyikan rasa tahunya yang semakin tidak terkendali ketika ia menemukan foto itu di ruang kerja Carl yang berantakan dengan gambar sketsa bangunan.
Carl buru-buru menutup mulut Adrianne sebelum gadis tomboy itu mengumpat dengan kata-kata kasar yang tidak ingin ia dengar. "Sudahlah, jangan berisik! Nanti akan kuceritakan soal ini."
Inilah cerita mengapa patung wanita itu dibuat di Spanyol, bukan di negara asal sang pembuat.
Semua memiliki ceritanya sendiri.
Walau sang pembuat sebenarnya tidak mengerti kisahnya sendiri.
—Oo00oo—
Española Fantasía
Carl A. R / N. 潘 (Phan)
AU series from Verano A Dinamarca
Note: Isabel Alvarez adalah versi female dari Carl Alvarez. Iseng saya buat beginian karena nggak ada kerjaan dan imajinasi liar saya di dalam tidur~Fufufu, jika Adrianne tidak ada (baca Verano A Dinamarca chapter 1,2,5 dan 8 untuk tahu siapa dia) maka saya akan senang hati menjodohkan Carl Sørensen dengan Isabel LOL.
WARNING: NO HAPPY ENDING
—Oo00oo—
Barcelona, 1993
"Hei, lihat tidak ada pria Denmark tampan yang tinggal di sebelah rumah kita?" salah satu ibu-ibu tukang gosip berkata dengan nada genit pada ibu-ibu lainnya. "Cocok untuk dijodohkan pada anakku mengingat Giselle menyukainya."
Yang lain menyela perkataannya. "Anakmu itu masih SMA, sedangkan pria Denmark itu sudah berusia nyaris tiga puluh tahun. Apalagi pria itu pemuram dan mantan panglima perang."
"Serius? Tapi panglima perang apa? Jangan-jangan ia terlibat dalam kejahatan kemanusiaan!"
Seorang pria tinggi besar dengan kacamata yang cukup tebal sudah terbiasa menjadi omongan orang-orang sekitarnya yang mengatakan hal-hal mengerikan tentang dirinya. Mulai tentang cerita yang mengatakan ia membunuh banyak anak kecil, wajahnya pernah rusak karena terkena bom molotov dan sebagainya.
Beberapa cukup gila untuk menceritakan bahwa ia psikopat dan mengoleksi banyak senjata dan mempraktekkannya di malam hari.
Toh pria itu sebenarnya tidak terlalu peduli karena ia hanya memikirkan bagaimana cara untuk membuat bangunan baru yang ikonik tanpa meniru bangunan yang sudah dibuat arsitek lainnya.
Carl Sørensen atau ia pernah disebut dengan Carolus Severin ketika ia menjadi tentara di usia sangat muda—beberapa orang di Catalonia, tempat dimana Carl sedang bersekolah untuk mengambil gelar S2 dalam bidang arsitektur, lebih senang mengeja nama Carl menjadi Carl Severin dibanding dengan nama Denmarknya dengan alasan sulit dieja.
Ia tidak begitu suka dengan nama Severin, terkesan seperti perempuan. Nama itu terlalu berat untuknya dan ia hanya menggunakan nama itu di luar Skandinavia—lebih tepatnya kebanyakan dari mereka sulit mengeja nama Sørensen dan ia terpaksa harus pasrah akan hal ini.
Usianya sekarang dua puluh tujuh tahun dan ini pertama kalinya ia berada di Spanyol—atau orang lebih senang menyebutnya sebagai negara bagian Catalonia karena kebanyakan dari mereka (dalam konteks ini adalah orang Catalan) tidak senang menyebut Catalonia adalah bagian dari Spanyol—untuk mengenyam pendidikan ke jenjang selanjutnya, mengingat pendidikannya pernah terputus karena ia diutus oleh negara untuk menjadi panglima perang bersama-sama dengan beberapa orang dari negara yang berbeda-beda.
Ia tampan, khas Skandinavia, tetapi cukup buruk dalam memperlakukan orang lain. Bagi orang kebanyakan, Denmark—negara asal Carl—merupakan negara yang paling bahagia di dunia, disusul dengan negara Skandinavia lainnya seperti Norwegia, Swedia, Finlandia dan Islandia tetapi khusus Carl, negara manapun tidak bisa membuatnya bahagia sama sekali. Semua berawal karena ia dikirimkan untuk membantu korban perang di negara yang baru saja terpecah menjadi enam negara.
Suatu kejadian menghancurkan hidupnya berkeping-keping.
Saat bersamaan ketika ia terbangun, ia berubah menjadi monster mengerikan. Ia bukan manusia, wajahnya hancur dan ia mendapat cacian banyak pihak begitu kembali ke Denmark. Semua orang memandanginya dengan jijik, termasuk adik terkecilnya yang masih berusia dua tahun.
Ia bisa kembali ke wajah semula berkat campur tangan pemerintah yang mau membiayai operasi plastiknya. Carl bukan dari keluarga yang mampu, ayahnya sudah meninggal dua bulan lalu karena serangan jantung, adik perempuannya yang bernama Greta sedang mengenyam pendidikan di Belgia dan lagi-lagi itu karena beasiswa. Keluarga Sørensen memang dituntut untuk menjadi yang terbaik sehingga sang ibu sering memarahi Carl dan Greta jika kedapatan mereka mendapatkan nilai jelek.
"Barcelona, huh? Terrade Gaudí, obramestra," gumamnya dengan bahasa Catalan yang ia pelajari sedikit demi sedikit selama di Barcelona. Maksud ucapan itu adalah bahwa Barcelona adalah rumah mahakarya Gaudi, dan itu memang benar adanya. Dalam hati Carl merasa senang sekaligus kesal karena bahasa Spanyol yang sudah ia pelajari selama ini sama sekali tidak berguna, di sisi lain ia bisa melihat banyak mahakarya Gaudi di Barcelona.
Barcelona berbeda dengan Kopenhagen. Berbeda sangat jauh. Kopenhagen tidak didominasi bangunan tinggi seperti Barcelona dan bangunan tua yang ada jauh lebih sederhana—selain itu tidak ramai dan macet seperti di sini. Barcelona selalu panas di setiap saat sedangkan Kopenhagen cukup sejuk. Apalagi Barcelona saat ini semakin banyak turis yang datang sejak menjadi tuan rumah Olimpiade tahun lalu, tidak sulit untuk Carl menemukan sesama orang Denmark di kala musim panas.
Ia tidak ada waktu untuk berpikir macam-macam dan sebaiknya ia menyelesaikan maket yang baru setengah jadi tersebut karena ia butuh berkonsultasi dengan dosen yang bersangkutan dalam minggu ini. Ia ingin cepat lulus dan bisa langsung bekerja sebagai arsitek yang telah diakui oleh negaranya maupun negara lain.
Bisa dibilang, ia termasuk murid terbaik ketika di Denmark maupun di Spanyol. Beberapa kali ia menerima penghargaan dari ajang bergengsi berskala nasional maupun internasional dalam lomba rancangan suatu gedung, tempat. Pujian itu tidak membuatnya menjadi besar kepala, yang ia pikirkan bagaimana cara ia bisa menyalurkan idenya dan membahagiakan sang ibu serta adik-adiknya. Ketika teman-temannya sering berpesta hingga subuh, Carl memilih untuk menyendiri sambil memikirkan desain bangunan apa yang akan ia buat.
"Apa yang kamu buat, pria murung dan kesepian? Tampaknya kamu tidak pernah bersenang-senang sama sekali?"
Carl terlonjak mendengar suara wanita yang memanggilnya, sejenak ia berbalik ke arah televisi tetapi benda itu tidak menyala.
Tidak ada yang menyala di sana.
Tidak ada bayangan orang di sekeliling kamarnya.
Jadi siapa yang memanggilnya barusan?
Ah, ada baiknya ia mengabaikan panggilan itu. Siapa tahu itu hanya setan lewat saja atau ilusi. Belakangan ia terlalu capek untuk berpikir hal kecil. Hidupnya sudah terlalu suram untuk ia urusi.
"Por favor responder a mi pregunta [1], Carl Severin!" serunya kesal. "Lihat ke belakangmu, itu pilihan hidupmu."
Ia melihat ke belakang dan ternganga. Gadis cantik dengan kulit sedikit gelap tetapi khas wanita Spanyol dan ia juga mendengarnya berbicara dengan bahasa Spanyol, bukan Catalan. Gadis itu tampaknya masih sangat muda, mungkin belum ada usia dua puluh tahun dengan rambut hitam panjang berkilau dan bola mata hijau emerald yang mempesona. Carl memperhatikan wanita itu dengan seksama, bulu matanya lentik, bibirnya ranum dan penuh, tubuh ideal layaknya gitar Spanyol. Memakai gaun penari flamenco dengan motif polkadot. Oh , jangan lupa dengan topi yang ia gunakan sekarang. Topi yang bagus dengan motif bunga mawar yang tersemat di sana.
"Apa lihat-lihat, Carl Severin," gadis itu berbicara dan melepaskan kacamata Carl. "Kau terlihat kuno dan seperti tidak ada semangat hidup. Kau lebih senang mengurung diri dan hidup seratus tahun dalam kesendirian."
Apa-apaan gadis ini, Carl membatin kesal dan menahan amarahnya sebelum meledak. Seenaknya saja masuk ke rumah orang dan menceramahinya seperti ini. Masalahnya bisa saja gadis ini adalah pencuri yang iseng menyusup ke rumah. Tapi mengapa gadis ini tahu namanya. Apa mungkin dia adalah anak dosen pembimbingnya? Atau anak tetangga yang mengidolakannya—walau itu tidak mungkin sama sekali bagi Carl dan terdengar janggal—atau bisa jadi adalah penguntit. Atau tetangga baru di apartemennya.
Gadis muda ini sangat sok dewasa, mulutnya tidak lebih dari tukang sindir dan cerewet untuk Carl. Lebih baik ia mengusir gadis itu sebelum kelakuannya semakin menjadi-jadi.
"Aku yang harusnya bertanya kepadamu, bodoh!" bentak Carl jengkel dengan bahasa Spanyol dan memukul meja. "Aku tidak tahu kau ini siapa dan kenapa tiba-tiba kau datang untuk menceramahiku semua omong kosong tidak jelas ini? Dan darimana kau bisa masuk ke sini?"
Gadis itu tidak terkejut ataupun marah, ia hanya tertawa kecil dan mencium bibir Carl dalam-dalam. "¡Perdóneme [2], Carl Severin. Mi nombre es Isabel Álvarez. Tengo 17 años de edad [3]," ia menjawab dengan nada genit dan terkikik melihat wajah Carl yang merah padam seperti kepiting rebús yang baru keluar dari airnya. "Aku tidak menyangka kamu manis juga, jangan-jangan kau belum pernah ciuman ya?"
TUJUH BELAS TAHUN! Yang benar saja, kalau aku tidak salah dengar tadi. Bahasa Spanyolku memang tidak terlalu bagus tetapi Demi Tuhan aku mengerti apa yang ia katakan sedikit demi sedikit. Gadis ini baru berusia tujuh belas tahun dan ia sangat agresif. Keterlaluan, dia mencuri ciuman pertamaku. BRENGSEK! Aku dipermainkan oleh anak kecil. Aku nggak heran akan jadi seperti apa dia nanti ketika sudah dua puluh tahun ke atas.
"Carl Severin kenapa?" Isabel bertanya dan menggoyang-goyangkan kepala Carl. "Aku terlalu kasar ya tadi kepadamu?"
Dan ia memanggilku dengan nama seperti itu. Dasar Spaniard brengsek, selalu saja salah mengeja nama orang. Aku menulisnya dengan Sorensen, tetap aja orang-orang lebih senang memanggilku dengan Severin. Kalian kira aku Severus Snape yang jubahnya seperti kelelawar itu? Kulempar dengan botol bir Carlsberg baru tahu rasa kalian. Anak ini benar-benar kurang ajar, memanggil hanya nama saja. Tidak bisakah ia memanggilku dengan sebutan Senor? Bego dan menyebalkan.
Carl berusaha mengatur nafasnya, gara-gara ciumannya direbut oleh anak perempuan yang belum berusia delapan belas tahun. Ia belum pernah berurusan dengan perempuan segila Isabel. Isabel Alvarez, anak SMA yang agresif sekaligus bermulut menyebalkan dan sok manis.
Itulah pandangan Carl mengenai Isabel pertama kalinya.
"Senorita Isabel. Kumohon kembali ke tempatmu dan jangan ganggu aku," ucapnya berusaha untuk sabar dan tidak terlihat marah. "Aku ingin tanya mengapa kamu datang ke tempat ini dan darimana asalmu?"
"Aku? Aku tetangga sebelahmu dan aku berasal dari Madrid. Oh, aku kesini karena iseng dan kudengar ada pria Denmark yang ganteng di sini. Aku tinggal di sini karena aku sedang bersekolah di Barcelona, orangtuaku di Madrid. Ngomong-ngomong aku suka pria Skandinavia, mau jadi pacar—"
Oke ini benar-benar sudah keterlaluan, sudah melenceng dari apa yang seharusnya.
"Cukup!" Carl memotong pembicaraannya. "Simpan saja ucapan itu untuk dirimu sendiri. Jangan diumbar-umbar."
Ucapan Isabel yang terang-terangan membuat Carl terheran-teran. Dalam bayangannya, anak yang belum berusia delapan belas tahun cara bicaranya masih sedikit malu-malu dan berhati-hati. Anehnya khusus untuk Isabel seorang, ceplas ceplos dan volume suaranya besar, belum lagi setiap ia berbicara tubuhnya selalu nyaris menempel tubuh Carl yang besar dari ukuran orang Iberia lainnya. Belum lagi kalimat terakhir Isabel yang membuatnya ingin muntah seketika.
"Memangnya omonganku terlalu aneh untukmu?" Isabel bertanya dan menarik lengan Carl. "Kalau begitu maaf, aku memang terlalu antusias dalam menanggapi sesuatu. Sepertinya kau marah padaku."
Pria itu menatap Isabel dengan tatapan garang. Ya, belum apa-apa Isabel sudah memberikan kesan yang buruk untuknya. Gadis yang terlalu agresif dan terang-terangan, ucapan dan tindakan tidak dipikir terlebih dahulu.
"Mungkin saja," jawabnya dingin. "Yang kuinginkan adalah kau keluar dari tempatku. Aku butuh waktu untuk berkonsentrasi dengan maketku."
Buat Isabel, ucapan Carl hanya gurauan semata dan ia ingin menganggu pria itu sebentar sebelum ia harus benar-benar pergi.
Pergi dalam arti yang sesungguhnya.
"Daripada muram tidak jelas, bagaimana kalau kita berkeliling kota Barcelona dan bersenang-senang?" Isabel bertanya lagi pada Carl, tidak mau menyerah terhadap pria kepala batu tersebut. "Aku akan memandumu, bagaimana?"
Carl menaikkan alisnya, berpura-pura tidak mendengarkan dan memilih mengabaikan Isabel. Siapa tahu seseorang yang bernama Isabel Alvarez adalah ilusinya semata, muncul karena ia terlalu lelah memikirkan sesuatu yang tidak penting.
TBC
Catatan tambahan:
1) Aku bertanya kepadamu, Carl Severin! 2) Maaf! 3) Namaku Isabel Alvarez. Aku berusia tujuh belas tahun.
Fic ini hanya terdiri dari tiga chapter saja, nggak banyak banget~Sebenarnya saya juga udah siapin ending cerita ini dan seperti yang kukatakan, no happy ending dan ini mengacu pada hint cerita Verano A Dinamarca yang berjudul Vivere. Cari aja hint-nya apaan #kick LOL.
Review please and no flame~
|
||||||