Fiction » Kids »

Kue Afian
Author:
modernmindsandpastimes PM
OLD-ARCHIVE/fic yg ngebuat saya ngakak inget ini dibuat pas SD/Masak itu nggak hanya kerjaan anak perempuan aja kok! Coba lihat di TV atau di hotel berbintang! Kebanyakan koki itu cowok, kan? Jadi, apa salahnya kalau seorang lelaki punya hobi dan pandai masak? Afian aja seorang lelaki yang suka masak tapi nggak pernah minder! Yuk, kita buat kue sama-sama bareng Afian! ;D RnR!
Rated: Fiction K - Indonesian - Drama/Friendship - Words: 2,826 - Reviews: 1 - Published: 09-01-12 - Status: Complete - id: 3055120
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

Kue Afian

© Shizuharakuro89/Michelle L.P.W

I am not plagiarize any fiction on FPc.

A/N : oke. Sebenarnya ini old-archive saya yang berdebu di flash disk. Dan ini merupakan cerpen yang saya buat pas masih SD. Jadi, karena ini saya buat waktu SD, jadi, kesannya isinya norak norak gituu... khas anak bocah polos-polos imut gituu... nwn dan mungkin (mungkin lho yah. Soalnya, pas SD, saya juga udah mati-matian memahami tata cara penulisan dan menulis cerpen yang benar beserta kerangkanya) EYD dan diksi juga masih jelek Resep-resep kue yang di sini juga NGARANG SEMUA. Kalau ada yang niat coba resep di sini... err... coba aja? Tapi, kalau hasilnya tidak sesuai harapan, jangan salahkan saya =.="v /dor Yaudahlah, silakan dibaca~


Afian memecahkan dua telur ayam dan menuangkan isinya ke dalam adonan kue yang akan dibuatnya. Ia pun mengocok adonan kuenya itu. Lalu, ia menuangkan adonan itu ke loyang kue berbentuk lingkaran dan memasuk-kannya ke dalam oven yang bersuhu 175 derajat celcius. Ia mengelap keringat yang jatuh di pipinya.

"Fyuuhh… selesai juga kue yang kubuat ini! Semoga hasilnya bagus dan enak!" gumam Afian sambil membayangkan kue yang ia buat. Kue yang dibuatnya adalah mocca cheese cake.

Walau Afian anak laki-laki yang masih duduk di kelas 1 SMP, ia pandai memasak. Terutama memasak kue. Itu adalah hobinya. Kepandaian dan hobinya itu diturunkan oleh ayah dan ibunya.

40 menit kemudian, kue yang dibuat Afian sudah matang. Aromanya sangat lezat. Afian tidak sabar mencoba kue buatannya itu. Ia memotong satu potong kue itu. Diambilnya garpu dan langsung memakan sesuap kue. Dan... mmm... lezat! Matanya sampai membulat! Ayahnya yang juga men-cium aroma lezat kue itu, menghampiri Afian yang ada di dapur.

"Ternyata, aroma lezat itu dari sini!" seru ayah.

"Iyalah. Masa dari kamar mandi," canda Afian. Ia mengajak ayahnya untuk memakan kue yang dibuatnya. Tentu ayahnya tidak menolaknya. Ka-rena setiap hari, Afian selalu saja membuat kue kreasinya sendiri yang ha-silnya lezat. Afian selalu mencantumkan resep-resep barunya itu di buku khusus resep-resep makanan yang merupakan idenya dan kreasinya sendiri.

"Mmm ... enak! Benar-benar, deh. Kue yang dibuat Afian benar-benar yang paling enak! Mocca-nya benar-benar terasa di mulut. Aroma mocca-nya menggoda orang untuk mencicipinya. Kejunya benar-benar meleleh di mulut. Empuk pula kuenya. Benar-benar perfect," puji ayah. Ayah memakan tiga potong, lho! Padahal yang membuatnya saja hanya memakan satu potong.

Afian yang mendengar pujian ayahnya itu sangat senang. "Benarkah?! Ah, Ayah bohong!" balas Afian tak percaya. Ayah mengangguk sambil mengacungkan dua ibu jarinya. Terlihat wajah ayah yang menunjukkan ia bangga pada anak tunggalnya itu. Benar-benar terpancar.

"Makasih, Yah, pujiannya! Aku juga berpikir begitu, kok. Tapi, kue buatan Ayah dan ibu jauh lebih enak!" kata Afian senang.

"Ah, kamu bisa saja, Fian!" balas ayah. Ayah berterimakasih atas kuenya itu. Ia membuat secangkir kopi dan langsung masuk ke kamarnya.

Afian pun memasukkan sisa kue yang masih ada enam potong ke tu-dung saji. Ia berpikir sejenak. Ia berniat untuk membagikan tiga potong kue yang tadi kepada sahabatnya, Daffy, Rina, dan Lulu. Ia pun menarik lagi piring yang terdapat kue buatannya itu dari tudung saji. Ia memasukkan tiga potong kue itu ke kantung plastik yang berbeda. Lalu, ia pamit kepada ayah untuk pergi ke rumah Daffy. Ia pun diizinkan. Sebelumnya, ia sudah menelepon sahabatnya agar berkumpul di rumah Daffy.

~000~

Afian pun sampai di rumah Daffy. Baru Lulu yang datang. Sedangkan Rina belum datang.

Sepuluh menit kemudian, Rina datang. Mereka berempat berkumpul di kamar Daffy.

"Afian, emangnya ada apaan, sih? Kenapa kamu manggil aku dan Lulu dateng ke rumah Daffy?" tanya Rina penasaran.

"Iya, nih! Malah di rumahku, lagi. Kenapa enggak di rumahmu?" Daffy mengajukan pertanyaan. Lulu hanya diam tidak ikut bertanya.

"Hehe ... itu karena aku membuat kue baru, nih! Coba lihat dan rasa-kan rasanya!" jawab Afian bersemangat. Ia membagikan kue yang ia buat kepada sahabatnya itu. "Kita kumpul di rumah Daffy biar bisa main bareng!"

"Wah, rajin banget ya, kamu kasih kita kue buatan kamu sendiri. Fian, Fian...," kutik Lulu. Daffy dan Rina mengangguk setuju. Afian sendiri hanya nyengir.

Daffy, Rina, dan Lulu pun memakan kue itu. Afian menunggu kesan-kesan mereka terhadap kue yang dibuatnya. Dirinya sudah siap akan menerima pujian dari sahabatnya itu. Dilihatnya ketiga sahabatnya. Mata mereka membelalak! Sama seperti ayah tadi. Afian sudah ge-er duluan karena itu.

"Bleh! Kue apaan, nih?! Rasanya kok, aneh gini?!" keluh Daffy. Aduh... dalem banget sih, ngomongnya...

"Iya, nih! Ueekk ... kayak apa ya? Kayak rambut campur susu, mocca, sama kuku kaki! Ya ampun...!" ucap Rina. Yang ini, apa lagi... dalem sekali! Sahabat yang jahat dengan sahabatnya sendiri!

Lulu tidak berkutik. Menurutnya rasa kuenya enak, kok...

"Apa?! Aneh rasanya?! Ya ampun! Lidah kalian aja yang aneh! Kue enak gini kok, kayak rambut campur susu, mocca, sama kuku kaki, sih?! Dasar aneh!" ucap Afian sebal. Reaksi Afian jadi aneh dan tampak seperti orang bodoh. Daffy dan Rina tertawa terbahak-bahak. Afian yang melihatnya merasa jengkel. Lulu mencoba menenangkan Afian.

"Ya udah! Aku pulang aja! Kalian berdua emang nggak bisa ngertiin aku! Cuma Lulu aja yang ngertiin aku! Huh!" ucap Afian sebal.

"Ciiyeeee... Afian suka Lulu, nih, jadinya? Asek dah! 'cuma Lulu aja yang ngertiin aku!'. Aduh... so sweet banget... kikikikkikikik..." goda Daffy dan Rina. Tawanya semakin menjadi-jadi. Secara refleks, wajah Afian dan Lulu pun jadi memerah.

"Ngaco, ah! Nyebelin banget, sih, kalian! Minta kupukul apa ya?! Hah?!" ucap Afian kesal.

"Yah... Afian, mah, marah! Bercanda doang juga! Jangan dimasukkin ke dalem hati dong... sebenarnya enak kok, kuenya. Kita cuman bercanda, hehe," kata Daffy sambil nyengir.

"Iya, bener banget! Kuenya enak. Mocca dan kejunya, mantap!" puji Rina sambil mengacungkan ibu jarinya. Daffy dan Lulu mengangguk-ang-guk.

"Oke. Makasih, ya, udah mau coba kueku. Ayah bilang kueku benar-benar enak. Eh, ternyata benar! Aku jadi bersemangat nih, buat kue lagi!" ujar Afian. Ia benar-benar bersemangat untuk membuat kue lagi.

"Mau buat kue? Ya udah, buat aja. Bahan-bahannya tersedia banyak kok, buat bikin kue," tawar Daffy. Afian menjadi sangat senang. Mereka berempat pun menuju dapur rumah Daffy untuk membuat kue. Pastinya hasil pemikiran Afian.

Sampai di dapur, Afian sudah memikirkan kue apa yang akan dibuat-nya. Dan ia akan membuat choco chip dan coco crunch cake. Itulah hasil pemikirannya. Sahabatnya pun setuju dengan kue yang akan dibuat.

Pertama, mereka mencampur terigu dengan telur. Lalu, menuangkan susu, bubuk cokelat, butter, choco chip, coco crunch, dan baking powder. Diaduk lagi. Adonan kuenya pun dituang ke loyang kue berbentuk persegi. Mereka melakukan itu dua kali. Jadi, kue itu ada dua lapis. Setelah dimasukkan ke dalam oven bersuhu 200 derajat celcius, lapisan pertama di-beri olesan cokelat leleh dan remah coco crunch. Ditumpuk dengan lapisan yang kedua. Lapisan yang kedua digarnish dengan krim dan choco chip juga dipercantik dengan hiasan buah ceri di atas krimnya. Mereka berempat sangat senang dengan hasil kuenya. Apalagi Afian.

"Nah, saatnya kita mencoba kuenya...!" seru Daffy senang. Ia mem-bagikan piring kecil dan garpu kepada sahabatnya. Ia memotong kue itu sebanyak delapan potong.

"Waw...! Kuenya enak banget! Kamu benar-benar hebat, Afian!" puji Lulu terkesan. Ia mengambil satu potong kue lagi.

"Benar banget! Walau kamu cowok, kemampuan masakmu lebih dari kemampuanku! Enaaaakk...," ucap Rina terkagum-kagum.

"Yup! Coco crunch-nya renyah sekali. Choco chip-nya mencair di mulut. Kuenya empuk," puji Daffy.

"Haha... makasih. Lagian, kalian kan, juga bikin! Kue ini buatan kita semua, berempat. Walau hasil pemikiran kuenya itu dari aku. Kalau kalian mau buat, buat aja!" kata Afian senang. Yang lain hanya mengangguk sam-bil mengulum senyum.

Hahh... indahnya hidupku! Sekarang aku jadi semakiiinn... semangat membuat kue yang baru! Hasil pemikiranku. Mungkin, di buku resep kue-kue yang lain, udah ada resep kuenya. Tapi, itu tidak masalah bagiku! Apa salahnya kita mencoba? Suatu saat nanti, pasti aku bisa membuat toko kue yang sangat enak!

~000~

Sekarang adalah jam istirahat sekolah. Afian yang biasanya berkumpul bersama teman-teman laki yang lain untuk bermain bersama, malah duduk sendiri di bangkunya sambil asyik dengan buku khusus untuk resep-resep hasil pemikirannya. Ia sedang membuat gambar kue yang ia pikirkan. Bahan-bahan dan langkah membuatnya sudah ia buat. Selain memasak, Afian juga jago gambar, lho. Resep kue yang ia tulis adalah brownies almond ice cake. Itu adalah kue es krim yang dicampur brownies dan almond. Afian sudah tidak sabar untuk membuat kue itu di rumahnya.

Tiba-tiba, Fadhil dan sahabatnya, Adin menghampiri meja Afian. Mereka berdua adalah duo sahabat yang terkenal akan kejahilannya. Mereka berdua kadang suka mengejek atau mencemooh teman-temannya. Afian juga sering lho, dicemooh sama mereka. Entah salah apa Afian kepada mereka. Tapi, Afian santai saja walau dicemooh dengan mereka berdua itu. Apalagi Fadhil. Mereka berdua sudah siap-siap mencemooh Afian.

"Hoi. Ngapain?" tanya Fadhil dengan ketus. Ia melihat Afian sedang menggambar sebuah kue dan di sampingnya adalah bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat kue itu. Langsung saja Fadhil tertawa terbahak-bahak.

"Butakah aku? K… kau membuat kue? Memasak? Ya ampun! Itu kan, kerjaannya anak perempuan! Kau mau jadi perempuan apa?! Dasar aneh! Wahahahaha ...," Fadhil mencemooh Afian dengan tawaan yang keras. Adin dan anak laki-laki di kelasnya juga ikut tertawa. Sayang, tidak ada Daffy di kelasnya. Karena kelas Afian dan Daffy berbeda. Jadi Daffy tidak tahu. Apalagi Rina dan Lulu. Di sekolah mereka, kelas laki-laki dan perempuan dipisah. Sebab, sekolah mereka itu Islam terpadu.

Afian dengan santainya menjawab, "ya. Memang apa salahnya kalau aku buat kue? Buat apa aku menjadi perempuan? Itu namanya aku nggak bersyukur. Aku ini hobi kok, membuat kue." Fadhil dan Adin jadi heran.

"Jangan salah, ya, memasak itu bukan hanya kerjaan perempuan! Laki-laki juga! Coba lihat di hotel-hotel berbintang, di restoran, TV, atau mana saja, pasti kebanyakan koki-koki itu laki-laki! Nggak aneh, kan? Yang ada, kamu yang aneh," jelas Afian dengan santai. Ia memasukkan bukunya ke dalam saku celananya dan keluar dari kelas.

"Huh! Awas saja, ya, kau, Afiaaann...!" seru Fadhil geram.

~000~

Pulang sekolah, Afian keluar dari kelas. Di tangga menuju lantai satu, Daffy, Rina, dan Lulu sudah menunggunya. Mereka memang sering pulang bersama dengan berjalan kaki atau bersepeda. Kali ini mereka pulang dengan bersepeda.

"Afian, aku denger dari Wildan, kamu dicemooh ya, sama Fadhil?" tanya Daffy. Mereka berdua sudah ada di seperempat perjalanan pulang. Afian hanya mengangguk santai.

"Ih! Kurang ajar banget, sih, si Fadhil! Emangnya, kamu dicemooh apa?" tanya Lulu kesal.

"Yaahh... bilang aku ini aneh. Kayak anak cewek. Suka masak gitu. Soalnya pas istirahat, dia liat aku lagi nulis resep di buku resepku. Ya udah, dicemooh dan diketawain deh, akunya. Terus aku jelasin walau masak itu kerjaannya cewek, tapi, kebanyakan cowok kan, yang ahli masak?" jawab Afian.

"Dih, bisa banget si Fadhil. Payah banget. Bisanya ngatain orang aja! Tapi, otaknya mah, kecil!" dengus Rina kesal.

"Huss...! Nggak boleh ngomong gitu, ah, Rina," nasihat Lulu. "Ya udah, Afian. Sabar aja ya. Jangan patah semangat," ujarnya lagi. Afian mengangguk sambil tersenyum.

"Huh! Dasar Fadhil! Aku balas dia!" ucap Daffy sebal.

"Udah, Daffy ... nggak usah dibalas. Lagian ini kan, masalahku," kata Afian. "Kalau begitu, besok aku buktiin deh, ke Fadhil!"

Ketiga sahabatnya itu setuju. Mereka bertiga sangat sebal apa yang di-perbuat Fadhil kepada sahabat tersayangnya itu, Afian.

~000~

"Oke. Aku akan buktikan kepada Fadhil! Walau aku cowok, emang apa salahnya sih, aku hobi masak? Yang ada dia juga, yang aneh," gumam Afian sambil memakai celemek. Ia akan membuat kue yang sudah ia tulis di buku resepnya. Ia akan membuat mocca cheese cake. Kue yang saat ia buat, ayahnya juga ikut mencobanya.

Satu jam pun lewat. Kue yang dibuatnya sudah jadi. Ia membawa sembilan potong kue. Dimasukkannya kue itu ke dalam tempat bekal.

"Hoahhmm... aku masih ngantuk! Apa?! Sudah jam enam pagi?! Aku harus mandi...!" ucap Afian kalang kabut. Ia segera mengambil handuk dan mandi.

Selesai mandi dan memakai seragam sekolah, ia keluar kamar dan se-gera sarapan. Setelah itu ia memakai sepatu dan segera berangkat ke sekolah. Tak lupa juga kue yang ia buat tadi.

Kriiingngng ...

Bel istirahat berbunyi. Afian berniat untuk memberikan kue itu ke-pada Fadhil dan Adin. Kebetulan sekali Fadhil dan Adin melewati tempat duduk Afian.

"Hei. Nih, aku bawa kueku. Mau coba?" tawar Afian sambil membuka tempat bekal yang isinya mocca cheese cake. Lalu, menyodorakannya ke Fadhil dan Adin. Mmm... aromanya masih tercium!

"Ha? Yang bener aja? Wahahahaha...," ucap Fadhil sambil tertawa. Adin juga. Itu pasti Fadhil menolak. Apa boleh buat. Afian meletakkan sepotong kuenya ke tangan Fadhil. Ia mendorong tangan Fadhil agar kuenya itu masuk ke dalam mulutnya. Dan berhasil!

Tahu-tahu matanya Fadhil membulat. Dan...

"Wahh... gilaa... kuenya enak banget! Hei, semua! Coba deh, kue-nya! Enaakk...!" teriak Fadhil bersemangat. Adin dan teman-teman kelas Afian pun berkumpul ke tempat Afian sambil mencomot kue Afian. Karena hanya delapan potong, jadinya satu potongnya dibagi dua.

Teman-temannya sangat terkagum-kagum dengan kue yang dibuat Afian.

"Afian! Ini beneran, kamu yang buat?!" tanya Rizqi. Tentu saja Afian mengangguk. Ia senang teman-teman suka dengan kuenya itu.

"Mmm ... Afian! Maafin aku, ya, kemarin kamu udah aku cemooh. Sori banget. Tapi, apa yang kamu bilang kemarin, bener banget! Thank's buat kuenya!" ucap Fadhil bersalah sekaligus senang.

"Ya. Aku memaafkanmu, kok," jawab Afian.

"Boleh enggak, besok kamu bawa kue lagi? Apa aja, deh! Tapi buatan kamu!" pinta Fadhil dan beberapa temannya. Tentu saja Afian mau.

"Tapi, untuk Fadhil, juga Adin, aku mau kalian nggak akan mencemooh teman atau mengejeknya. Terserah sih, mau apa nggak. Ntar nggak aku kasih kue, lho," kata Afian.

"Oke, deh! Kami kemarin juga udah berpikir bakal berubah. Nggak akan mencemooh dan mengejek teman," ucap Fadhil dan Adin. Mereka berdua menjabat tangan Afian. Mereka berdua sudah berjanji.

Hari itu, Afian dan teman-teman sekelasnya sangat senang.

~000~

Sorenya, Afian mengajak Daffy, Rina, dan Lulu agar berkumpul di rumahnya. Tahu untuk apa? Untuk menceritakan hal yang terjadi ketika istirahat juga membuat kue buat teman-temannya.

"Jadi, ngapain?" tanya Daffy. "Oh, iya! Soal si Fadhil itu gimana?"

"Sudah teratasi, Teman. Aku buat kue untuk Fadhil. Nah, pas dia coba, dia suka kuenya. Enak katanya. Eh, temen-temen yang lain juga jadi makan. Terus minta aku besok bikin dan bawa ke sekolah lagi," jawab Afian senang.

"Wah, bagus, dong! Kita buat aja sekarang!" usul Rina senang.

Akhirnya mereka pun pergi ke dapur Afian untuk membuat kue. Me-reka akan membuat dua kue. Satu untuk mereka berempat dan satunya untuk teman-teman sekelas Afian.

"Untuk kita berempat, kita akan membuat brownies almond ice cake. Kalau buat teman-teman di kelas, sih, choco chip dan coco crunch cake. Nah, yuk, kita buat!" ucap Afian bersemangat.

"Hei. Tapi, kalo yang brownies almond ice cake gimana, tuh?" tanya Lulu bingung.

"Jadi itu ya, nanti terigu, telur, susu, perisa stroberi, dan yang lainnya dicampur. Terus campur sama brownies cokelat sama kacang almond. Kalau udah dioven, kuenya dilapis sama es krim stroberi, terus digarnish, deh," je-las Afian. Hmmm... bakal enak, nih!

55 menit kemudian, kuenya sudah jadi. Tinggal dilapis es krim strobe-ri dan digarnish. Namun, itu baru kue yang untuk mereka berempat. Dioles es krim stroberi ke seluruh permukaan kue atas bawah dan kiri kanan. Dua scoop besar es krim blueberry diletakkan di atas kue. Ditabur kacang almond dan ceri juga daun mint. Aku lupa beri tahu! Daffy, Rina, dan Lulu juga pandai masak, lho!

"Keliatannya enak! Fian, kita boleh coba sekarang?" tanya Rina ke-pada Afian yang sedang mencuci piring dan alat-alat yang dipakai untuk buat kue tadi.

"Ya udah. Bagi dua belas potong, ya," jawab Afian.

Daffy, Rina, dan Lulu pun menikmati brownies almond ice cake. Mmm... enak! Mantap!

"Aduh... aku gak tau harus berapa kali puji kamu dan komentar. Kue-nya enak! Brownies-nya kerasa dan mmm... almond-nya renyah. Ditambah es krim, enak tenan!" ujar Rina terpukau.

Sekarang, giliran Daffy yang ngomong, "Setuju banget! Afian, you're truly baker! If you grow up, someday, you must make house of DELICIOUS bakery! What a perfect cake! Yum!"

"Kamu harus buat kue yang baru lagi, ya, Fian! Yang enak…!" seru Lulu senang. Afian jadi tersipu malu karena kuenya itu selalu dipuji.

"Hahaha… Amiinn… do'akan aja, biar aku bisa buat tuko kue," balas Afian malu. Sahabatnya itu hanya menyorakinya. Hahaha...

Setelah seru-seruan, mereka membuat kue lagi. Kue buat teman-teman Afian di kelas. Truly good day today!

Afian membagikan kue buatannya itu kepada teman-teman sekelasnya. Tentu saja mereka tidak menolaknya.

Afian tersenyum melihat ekpresi teman-temannya yang begitu menikmati kue buatannya. Dan sekarang, Afian jadi semakin bertekad akan menjadi pembuat kue yang sangat enak dan membuat toko kue yang benar-benar enak kuenya! Tentu saja dengan hasil pemikirannya sendiri.

"Aku pasti bisa ...!" tekad Afian kuat. []


Pesan moral : jika Anda-terutama-seorang lelaki yang pandai memasak dan merasa minder dengan bakat yang dipunya ataupun takut dicemooh teman-temin, jangan takut untuk maju. Gak ada orang di dunia ini yang bisa meghentikanmu. Apapun bakat dan hobi yang kalian punya, terus ditingkatkan dan yakin suatu hari nanti, pasti jerih payah selama kalian terus meningkatkan bakat kalian akan terbayar dengan hasil yang memuaskan! Never give up! xD *ceilah bahasanyaaa...


Mind to review? OwO

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .