
"Bertemu kau lagi! Malas amat deh!" - Kisah cinta *apa benar-benar ada rasa cinta?* konyol yang mewarnai hari-hari dua bocah yang berharap tidak saling bertemu
Rated: Fiction T - Indonesian - Romance/Humor - Chapters: 2 - Words: 2,704 - Updated: 09-23-12 - Published: 09-18-12 - id: 3059226
|
|
A+ A- |
We're never know what will happen to us later
We only can choose one of many choices
And wait for the future come to us.
.
.
.
.
Pagi yang sepi…
"Rei-chan! Kau harus menemaniku! Cepat!" … Berubah jadi ramai seketika.
Rei-chan alias Reiko bingung dirinya ditarik-tarik. "Doko e ikimasuka?"
"Ke taman Ate di depan kuil. Nanti kau juga akan tahu kenapa. Yang penting sekarang, kita pergi dulu," jelas Yui dengan semangat berhenti bercuap-cuap dan sebagai gantinya ia menarik-narik Reiko sambil setengah berlari menuju taman yang menurut penduduk setempat penuh dengan harapan itu.
"Ada apa sih? Kau sampai terlihat tidak waras seperti ini," cibir Reiko. Ia masih sedikit kesal karena harus meninggalkan kegiatan kegemarannya sebagai mangaka.
"Lihat tuh." Yui menunjuk ke arah kerumunan yang semakin banyak.
"Penuhnya… tidak biasanya taman menjadi seramai ini," decak Reiko yang masih setengah tidak percaya.
Tanpa memedulikan Reiko yang masih asik bengong, Yui langsung menarik Reiko mendekati kerumunan.
"Yui, sesak nih. Aku dipinggir saja ya?" bisik Reiko dengan wajah memelas. Barusan, hampir saja kakinya terinjak manusia-manusia yang terus melaut ini (ehem, maksudnya semakin lebar kayak laut, kalo numpuk kan menggunung).
"Ha? Serius? Kau mau melewatkan kesempatan emas ini?"
Bibir Reiko mengerucut ke depan. Ia sebal dengan temannya yang pelupa ini.
"Kau tidak memberitahuku apa yang tengah dikerumuni orang banyak ini, Yui!"
"Oh ya, maafkan aku. Terserah kau saja, mau ikut aku atau tidak. Jaa, Rei-chan!"
Reiko diam mematung. Mulutnya setengah menganga. Dengan mudahnya Yui meninggalkannya sendirian. Padahal, tidak sampai semenit yang lalu ia memaksanya untuk ikut ke taman yang penuh sesak ini.
Rasa jengkel yang dirasakan Reiko saat ini, membuat ia memutuskan untuk meninggalkan Yui sendirian.
"Huh, aku dicampakkan begitu saja!" gerutu Reiko sebelum ia meninggalkan tempat itu.
"Yaa! Ko-chan!" Reiko seketika melotot dan menoleh.
"SIAPA YANG BERANI MEMANGGILKU SEPERTI ITU, HA?!"
"Kau masih ingat aku kan?"
"Ha?! Apa yang kau lakukan di sini?!" Telunjuk Reiko langsung menuding tepat ke wajah sosok yang meledeknya itu. Mungkin saat ini Reiko sedang memikirkan kalau hari ini adalah hari terburuknya.
Semua orang kebanyakan, gadis-gadis seumuran Reiko yang ada di taman itu seketika menoleh ke arah Reiko dan…
.
.
Menganga
.
.
.
.
.
.
"Siapa yang tahu kalau bocah tengil ini akan datang kemari, Yui! Jangan terus-terusan menyalahkanku dong!"
Yui, dengan wajah masih cemberut, terus melanjutkan omelannya, "Pasti kau tahu! Maka dari itu kau lebih memilih duduk-duduk saja di pinggir daripada ikut aku terdesak-desak orang banyak! Ya kan?!"
"Rie, tolong kau jelaskan pada temanku 'yang-sekarang-sudah-tidak-mempercayaiku' ini!"
Rie alias Takazu Rio dengan cengiran di wajah berusaha membantu Reiko meredakan amarah Yui, "Yui-chan, aku memang tidak memberitahu Ko-chan soal kedatanganku. Maafkan dia yaa~?"
"Berhentilah memanggilku Ko-chan, Rie!" Reiko menjadi berang karena sebutan itu muncul lagi.
Rio menjulurkan lidahnya. "Kau juga masih memanggilku Rie! Itu namanya setimpal."
"Huh! Aku semakin sebal karena aku satu-satunya orang yang tidak mengerti dengan semua ini." Yui melipat kedua tangannya di depan dada.
"Yui, tak perlu kesal begitu, ah! Kau harusnya merasa beruntung karena tidak mengenal 'orang ini'."
Yui semakin manyun mendengar ocehan Reiko. "Bagaimana tidak kesal?! Kau kenal seseorang bernama Takazu Rio ini dari kecil! Kau mengenal seorang artis! Dan aku fans beratnya, tapi kau sama sekali tidak memberitahuku!"
Rio pindah dari sebelah Reiko dan duduk di sebelah Yui. "Sekarang kan kau sudah tahu, jangan cemberut begitu dong. Wanita tidak cantik dengan wajah seperti itu~"
Yui tertegun. Ia mendongak dan melihat senyuman ramah di wajah Rio. Yui tersipu. Ia langsung mengubah ekspresi marahnya menjadi senyuman.
"Nah, begitu dong!"
Kini, gantian Reiko yang manyun. "Dasar tukang rayu!"
Rio menoleh ke Reiko dan menyindirnya, "Kalau kau sih tersenyum atau tidak rasanya sama saja. Tidak ada manis-manisnya."
"RIE!"
Dan dengan kelihaian yang dimilikinya, Reiko berhasil menimpuk Rio dengan bantal duduk yang lumayan berat.
.
.
.
.
.
"NANI?! RIE MAU MENGINAP DI SINI?! OKAASAN TIDAK SALAH?!"
"Bersikaplah sopan sedikit, Rei," tegur wanita berumur 40-an itu. "Rio kan teman kecilmu. Lagipula, dia belum memutuskan akan menginap dimana. Lebih baik ia menginap dulu di sini, di tempat orang yang sudah dikenalnya sejak lama," jelasnya panjang lebar tanpa memberi kesempatan Reiko untuk membantah lagi.
"Doumo, obasan," sahut Rio sambil tersenyum lebar.
"Bibi, boleh aku menginap di sini juga?" pinta Yui.
"Tentu boleh. Semakin ramai semakin menyenangkan. Rasanya sudah lama sekali tidak seperti ini sejak ayahmu dan Tenma tidak ada."
Suasana yang tadinya menyenangkan berubah 180 derajat menjadi menyedihkan. Mereka semua mendadak menjadi canggung dengan suasana seperti ini.
"Okaasan, lebih baik hal itu tidak usah dibahas lagi. Mereka sudah hidup tenang 'di sana'."
"Sumimasen, Rei."
.
.
.
.
.
.
.
"Haahhh~ Akhirnya aku kembali lagi ke rumah ini~"
"Memangnya seorang artis tidak apa-apa ditinggalkan tanpa bodyguard seperti ini?"
"Tidak apa-apa, Yui-chan. Mereka sibuk berpura-pura menjagaku di penginapan di seberang kuil. Aku aman di sini selama aku tidak keluar rumah."
Reiko melotot. "Kau bohong dong kalau kau belum dapat tempat menginap?!"
"Kerjaanmu itu melotot terus ya? Tentu tidak. Pemilik penginapan tentu berpura-pura ada kamar kosong dan sekarang sedang kutempati. Penginapan itu kapasitasnya hanya sedikit."
"Oh… Begitu," gumam Yui.
Sementara Yui ber-oohh ria, Reiko menuju kamar tidurnya dan menyelinap ke bawah selimut yang hangat.
.
.
.
.
SREEEKKK….
Terdengar suara pintu terbuka.
"Yui, jangan mengigau ya, kalau tidur."
"Hm."
Reiko menoleh ke arah Yui yang sudah berselimut dan tidur membelakangi Reiko. Reiko merasa suara Yui agak aneh. Atau Cuma khayalannya?
"Oyasumi nasai, Yui."
Kali ini, tidak ada balasan apa pun. Ternyata Yui langsung tertidur.
.
.
.
.
.
Reiko membuka kelopak matanya yang berat. Ia melirik ke arah jam di meja di sebelah kiri tempat tidurnya. Masih jam 2 pagi.
"seingatku, tadi malam udara dingin sekali. Kenapa sekarang jadi hangat ya?" gumam Reiko dengan mata masih merem-melek-merem-melek. Ia mengubah posisinya menjadi ke arah kanan karena merasa gerah. Dan Reiko langsung shock berat.
.
.
.
"RIE! NGAPAIN KAU TIDUR DI SINI?!" Reiko memukul-mukul kepala Rio dengan kepalan tangannya secepat yang ia bisa.
"Au! Aduuuhh… jangan kasar dong, Ko-chan!" gumam Rio dengan mata masih terpejam.
"NGAPAIN KAU ADA DI KAMARKU HA?!"
"Yui memintaku bertukar kamar. Ia bilang kamarmu ini sangat dingin karena angin mengarah langsung ke sini dan masuk melalui lubang di dinding atas itu. Jangan salahkan aku!"
"MENJAUH DARIKU!" Suara Reiko naik satu oktaf.
"Tidak mau. Udaranya terlalu dingin, Ko-chan~" Rio malah semakin mempererat pelukannya.
"RIE, MING MMPH!"
.
.
.
.
.
.
.
Ini tidak seperti yang (mungkin) kalian bayangkan.
Bukan ciuman yang mendarat di bibir Reiko. Tapi, seonggok kaus kaki yang menyumpal mulut Reiko.
Reiko cepat-cepat memuntahkan kaus kaki itu.
"HIEEKK! TIDAK PERLU MENYUAPIKU DENGAN KAUS KAKI BULUK TAUK!" Ia siap meninju wajah Rio.
"Kecilkan suaramu, Ko-chan~ Kalau bibi datang, bukan aku saja yang dimarahi. Kau pasti juga akan dimarahi karena posisimu sekarang sangat bisa membuat orang lain salah paham."
"Ha?"
"Kau menaiki ku, bodoh. Itu malah terlihat seperti…" Rio menggantungkan ucapannya, seolah-olah ingin membiarkan Reiko menemukan jawabannya sendiri.
Wajah Reiko menjadi merah padam. Ia segera menyingkir dan menjauh dari Rio, bahkan menjauh sampai ke sudut kamar.
"Hei, hei , tidak perlu seperti itu juga kan?"
"Aku mau kau menyingkir dulu!"
"Oh, ya sudah. Aku tidur dulu kalau begitu. Selamat berdingin-dingin, Ko-chan." Rio mengedipkan sebelah matanya lalu meraih selimut dan tidur.
"IH! SEBEL!"
.
.
.
.
.
"Ke-kenapa udara ja-jadi memusuhiku sepe-perti ini sih?" gumam Reiko sambil menahan angin dingin yang menerpanya. Ia menggigit bibir bawahnya agar giginya tidak bergemeletukan. Reiko memeluk kakinya rapat-rapat dan menutupi telinganya dengan rambut. Kalau ada orang yang melihatnya, pasti pemandangan ini sangat mengenaskan.
PLUK…
Reiko mendongak dan mendapati Rio menyelimutinya.
"Kau pindah ke tempat tidur sana."
Reiko merasa gengsi karena tiba-tiba harus diselamatkan oleh Rio. "Ti, tidak mau!"
"Kalau kau tidak mau, akan kutemani kau tidur di sini," ancam Rio.
Tidak disuruh dua kali, Reiko langsung berlari dan pindah ke tempat tidur, membawa serta selimutnya.
.
.
.
.
"Hei, sampai kapan kau memandangiku terus, Rei?"
"A, aku tidak memandangimu, bodoh!" Reiko langsung memalingkan wajahnya.
"Begitu ya?" Rio tersenyum lemah. Bibirnya sudah memucat sampai hampir berwarna putih.
Udara memang sangat tidak bersahabat malam ini.
"Ng… Di sana dingin tidak?"
"Menurutmu bagaimana tadi?"
Reiko terdiam. Ia melihat jam. Sudah jam setengah tiga. Berarti sudah satu setengah jam Rio berada di sudut ruangan.
"Rie."
"Hm?"
"Kau membeku ya?"
"Hm."
"Aku tidak mengerti kalau kau bicara seperti itu!"
"Hm…"
"kau kenapa sih?!"
"…"
"Rie?"
"…"
"Rio!" Reiko mengguncang pelan bahu Rio. Bukannya mendapati Rio yang bangun dari (ke)tidur(an)nya, yang ia dapat malah kejutan yang luar biasa.
.
.
Rio sama sekali tidak bergerak.
.
.
Dan kulitnya sedingin es.
.
.
.
TBC~
.
.
.
Akhirnyaa.. bisa nge-upload ini cerita .
Review? ^^
|
||||||