Fiction » Fantasy »

Elementbender
Author:
parthenia meir PM
Amnesia? Check. Dihantui mimpi buruk? Check. Harus konsultasi kejiwaan ke psikolog? Check. Punya warna rambut natural yang aneh? Check. Punya dua luka di punggung yang mirip bekas amputasi sayap? ...Check. Sekelompok orang yang mengaku sebagai "para-pengendali-elemen" dan memanggilnya "pangeran"? Goddamnit NONSENSE!
Rated: Fiction T - Indonesian - Friendship/Fantasy - Chapters: 9 - Words: 29,191 - Reviews: 2 - Favs: 2 - Follows: 1 - Updated: 12-24-12 - Published: 10-10-12 - id: 3064628
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

Amnesia? Check. Dihantui mimpi buruk? Check. Harus konsultasi kejiwaan ke psikolog? Check. Punya warna rambut natural yang aneh? Check. Punya dua luka di punggung yang mirip bekas amputasi sayap? ...Check. Sekelompok orang yang mengaku sebagai "para-pengendali-elemen" dan memanggilnya "pangeran"? Goddamnit NONSENSE!


.

.

Elementbender; Prologue


Seorang gadis bersayap naga merebahkan dirinya di atas tempat tidur beludru, memain-mainkan miniatur biola putih yang melingkar di pinggangnya. Kepalanya pusing. Bayangan-bayangan di desanya berubah; terkadang ada aurora, sosok hitam melayang di udara, dan di atas tempat tidur itu sendiri, bayangannya berganti-ganti antara naga, monster, hingga gadis kecil.

Hal itu selalu terjadi setiap kali kepalanya pusing.

Rakyatnya akan dengan mudah mengetahui setiap kali putrinya merasa sedih, tetapi akan lebih susah apabila sedang marah. Gadis ini tidak pernah marah. Hampir tidak pernah.

Nama gadis itu Ayumi, dan dia adalah pengendali elemen ilusi sekaligus pemimpin para shoreal.

Shoreal berbeda dari binatang kuda laut. Mereka adalah manusia yang berekor seperti kuda laut, begitu pula sirip punggung dan caranya berenang. Warna kulit mereka kuning dengan aksen cokelat. Nyanyian seorang shoreal perempuan bisa membuat seorang nelayan menenggelamkan perahunya, dan sekali sang pengendali ilusi menyanyi, setiap pelaut pun bisa tersihir.

Ngomong-ngomong, Ayumi tidak mempunyai ekor kuda laut. Dia adalah keturunan manusia yang diserahkan kepada pengendali ilusi sebelumnya, 116 tahun lalu. Kedua orang tua kandung serta orang-orang yang hidup di masanya sudah lama meninggal. Para makhluk di dunia elemental sendiri memiliki jangka waktu berbeda dalam urusan penuaan, tidak terkecuali gadis itu.

Bagi manusia—andaikan ada manusia yang bisa melihatnya sekarang—Ayumi terlihat seperti berumur 16 tahun. Kulitnya yang putih langsat dan selalu memerah, matanya yang beriris merah pucat, lekuk tubuh tanpa cela dari ujung rambut ke ujung kaki, serta rambut hitam bergelombang yang menjuntai sampai ke pinggang membuat banyak pria tertarik padanya. Ayumi masih muda—banyak yang menganggapnya tercantik di antara para pengendali elemen. Beberapa laki-laki muda bahkan dengan polos memintanya sebagai pacar. Dan Ayumi selalu menggeleng. Tidak, terima kasih. Lebih baik mengurus desaku dulu.

Terdengar dengusan kuda di kejauhan. Gadis itu buru-buru menghampiri jendela.

Tempatnya tinggal adalah sebuah menara tinggi di dasar laut. Puncaknya ada di daratan, dan di situlah tempat Ayumi tinggal. Kamar megah bernuansa cahaya. Dinding-dindingnya dilapisi kertas mengilap berwarna lavender, atapnya berupa kubah kaca bening yang ditutupi kerai ketika malam. Di lantai berselimut karpet, terdapat belasan cermin rias yang menjulanng dari kaki sampai kepala. Cermin-cermin itu hasil penemuannya—beberapa membuat bayanganmu terlihat seperti monster. Hari ini, Ayumi tidak memedulikan tentang cermin-cermin. Gadis itu lebih suka berdiam di kamarnya, mengurusi kepalanya yang sakit.

Pintu gerbang menara ini berada di dasar laut. Ayumi memiliki pernapasan seperti amfibi—dia bisa bernapas di dua alam. Suara kuda meringkik terdengar semakin jelas.

"Yang Terhormat Ayumi-hime! Kami utusan dari kerajaan."

Panggilan –hime di belakang namanya adalah bagian dari budaya manusia dalam darahnya sebelum ia dibawa ke dunia elemen. Sekarang, ia hampir melupakan kebudayaan itu.

Ayumi segera menuruni menaranya secepat yang ia bisa, berpapasan dengan para pengawalnya dan mengangguk. Dua orang pengawal segera mengekornya menyeberangi pedesaan shoreal hingga mencapai permukaan.

"Kalian tetap di sana, bersiaplah apabila terjadi sesuatu yang tidak diharapkan," intruksi Ayumi kepada para pengawal.

Suara berat seorang pria menyela perkataannya. "Oh, tidak perlu sesiaga itu, Ayumi-hime. Kami hanya menyampaikan berita penting dari kerajaan," langkah sepasang sepatu bot berderap mendekati bibir pantai nyaris menulikan telinganya. Ayumi bisa mengenali suara si pemilik sepatu bot. Itu perdana menteri.

Sang pengendali ilusi mengeluarkan kepalanya dari air dan segera berhadapan dengan—sesuai dugaannya—perdana menteri. Gadis itu tersenyum skeptis.

"Kami, utusan kerajaan diperintahkan menyampaikan berita dan perintah kepada setiap pengendali elemen di kerajaan bahwa..." perdana menteri membalas senyum dengan hormat. Ayumi tidak terlalu menyukai pria dewasa ini. Dia terlihat sangat bijaksana—terlalu bijaksana, malah, dan orang-orang seperti itu selalu membosankan.

"Teruskan," kata Ayumi cepat-cepat. Sang perdana menteri mengernyitkan dahi. Beberapa detik kemudian, senyum ramah kembali muncul di wajahnya.

"... bahwa sang pangeran, Takumi, telah... menghilang."


x.x.x


Kabar hilangnya sang pangeran telah menyebar ke setiap penjuru kerajaan hari itu juga. Kata maid muda yang mengantar sarapan ke kamarnya, dan memegang kunci darurat kamar sang pangeran pada saat itu, Pangeran Takumi tidak ada—digantikan oleh genangan darah di tempat tidurnya. Dan hal pertama yang dilakukannya adalah... berteriak.

"Jendelanya t-t-tertutup! Dan p-pintunya terkunci! D-dan ada genangan d-d-darah!" jeritnya di depan Raja dan Ratu, beberapa saat lalu.

Raja dan Ratu secara khusus memanggil keenam pengendali elemen untuk membicarakan tindakan selanjutnya. Ayumi yang paling terlambat datang dengan setitik air mata di sudut wajahnya.

"Menghadap diri, Yang Mulia."

"Ayumi...-hime. Ada apa di wajahmu?" tanya Ratu lembut.

Gadis itu terkejut, kemudian buru-buru menyeka wajahnya.

Ruang singgasana sehening gurun. Mereka berenam berdiri di hadapan kursi takhta yang jangkung dan dilapisi beludru merah, menghadap sang raja dan permaisurinya yang duduk di atasnya. Wajah Raja yang bergaris-garis kini terlihat letih, disibukkan dengan segala urusan pemerintahan.

Dan kini anak semata wayangnya pun menghilang.

Keenam pengendali elemen tersebut tidak melihat Raja dan Ratu menangis. Mereka adalah yang paling tegar di kerajaan ini, meskipun tanpa anak laki-laki mereka, semua hal tidak sama lagi.

"Kalian sudah mendengar beritanya," kata sang raja. "Bahwa anak kami menghilang, dan ada rahasia lain untuk diungkapkan." Ia beralih pada istrinya. Sang ratu berubah sendu.

"Darah, Yang Mulia," tanya sang pengendali api—Genma—hati-hati.

"Ya." Dengan hati-hati pula, sang raja menambahkan. "Aku harap itu bukan pertanda buruk."

Sang pengendali tanah, Higina, menyela. "Maaf, Yang Mulia. Bukankah setiap darah adalah pertanda buruk?" tanyanya sopan.

"Setidaknya kita harus berharap putraku masih hidup," kata sang raja. Air mukanya berubah gelisah.

Keenam pengendali elemen membungkuk hormat.

Mereka harus berharap.


x.x.x


(Yup, a very short prologue, indeed.

Cuma seberkas dokumen yang dtulis hampir setahun lalu DAN MASIH BELUM SELESAI SAMPAI SEKARAAAANG. DAN BANYAK REVISI.

Saya kira cerita ini nggak bakal absurd-absurd amat, taunya... ah, entahlah. Bahkan dengan prolog pun nggak keliatan pengen nyasar genre apa [fantasy, pasti, tapi ada genre-genre lain selain itu]. Dan jangan mengharapkan penyihir-penyihir dengan tongkat sihir di sini. Sumpah. Saya nggak bisa bikin yang begituan.

Ngomong-ngomong, kritik dan saran sangat (sangat, sangat, sangat) diperlukan ^^ karena di dunia ini nggak ada yang perfek terutama buat orang perfeksionis kayak saya, di mana satu typo kecil aja bikin mereka nggelinjang-nggelinjang depresi di lantai.

Enough talk. Masih... ada yang mau lanjut?)

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .