
Amnesia? Check. Dihantui mimpi buruk? Check. Harus konsultasi kejiwaan ke psikolog? Check. Punya warna rambut natural yang aneh? Check. Punya dua luka di punggung yang mirip bekas amputasi sayap? ...Check. Sekelompok orang yang mengaku sebagai "para-pengendali-elemen" dan memanggilnya "pangeran"? Goddamnit NONSENSE!
Rated: Fiction T - Indonesian - Friendship/Fantasy - Chapters: 9 - Words: 29,191 - Reviews: 2 - Favs: 2 - Follows: 1 - Updated: 12-24-12 - Published: 10-10-12 - id: 3064628
|
|
A+ A- |
Amnesia? Check. Dihantui mimpi buruk? Check. Harus konsultasi kejiwaan ke psikolog? Check. Punya warna rambut natural yang aneh? Check. Punya dua luka di punggung yang mirip bekas amputasi sayap? ...Check. Sekelompok orang yang mengaku sebagai "para-pengendali-elemen" dan memanggilnya "pangeran"? Goddamnit NONSENSE!
.
.
Elementbender; First: Lost Discovery
Laki-laki muda itu sudah beberapa jam di atas tempat tidur.
Tim dokter sudah membius dan menjahit dua luka besar di punggungnya, kini tinggal menunggu sang pemuda agar terbangun. Mantel hitamnya telah digunting dan dibuang agar tidak menimbulkan infeksi. Sekarang ia telanjang dada.
Mereka menemukan orang ini pingsan di hutan pinggiran kota, tepatnya di sebuah cekungan dangkal di lantai hutan, yang sebelumnya tertutup salju kotor. Punggung pemuda itu berdarah-darah, di mantelnya terdapat dua sayatan besar—memperlihatkan kulit punggung si pemuda yang terdapat dua luka tersebut. Aneh sekali mengetahui dua sayatan di mantel tersebut sepertinya memang sengaja dibuat; dijahit rapi, dua luka itu juga kelihatannya bekas tempat melekat sesuatu. Seperti... amputasi. Namun hal itu bukan masalah. Mereka tinggal menjahitnya, membawanya ke ruang perawatan, menunggu seseorang mengklaim laki-laki ini sebagai anggota keluarga mereka, sudah.
Di samping tubuh pemuda itu, saat mereka menemukannya, juga terdapat sebilah pisau bebercak darah. Pisau itu kini diamankan polisi. Cairan merah yang membanjiri permukannya tidak bisa menutupi ukiran-ukiran cantik yang terdapat di bilah logamnya.
Ada yang berkomentar; ukiran di pisau itu bukan berasal dari budaya negara ini.
Lalu dari mana? Apa laki-laki tersebut bukan berasal dari negara ini? Sulit memastikan. Polisi tidak menemukan identitas apapun di sekitar tempat kejadian perkara. Kemungkinan dia adalah percobaan pembunuhan yang gagal, kemudian dibuang di tengah hutan untuk menghapus jejak.
Aya Matsuzaki, seorang mahasiswi tingkat akhir begitu antusias akan laki-laki ini. Aya tidak mengenalnya, tetapi berencana membantunya. Salah seorang anggota keluarga temannya menghilang seminggu yang lalu. Mungkin saja dugaannya benar.
"Bagaimana kalau dugaan Anda salah, Matsuzaki-san?" pertanyaan dokter yang sedari tadi mendampingi Aya mengagetkannya. "Lagipula warna rambut anak ini... biru kehijauan. Bukan rambut palsu. Bukan pula karena dicat."
Hening sesaat sementara gadis itu mencerna perkataan sang dokter kepadanya.
"Aneh sekali," Aya menghela napas. "Kalau dia bukan anak laki-laki yang hilang itu, aku tetap akan membantunya."
Sang dokter tersenyum bijak. "Anda benar-benar berhati mulia."
Aya membalas senyum.
Langkah mereka terhenti di depan ruang perawatan intensif yang biasa digunakan pasien pasca operasi. Gadis itu menempelkan keningnya di permukaan kaca jendela ruangan tersebut, mencoba melihat laki-laki itu tanpa masuk ke dalam ruangan. Tidak, kacanya terlalu buram dan tempat tidurnya sendiri ditutupi tirai hijau khas rumah sakit.
Dokter itu, yang juga memimpin operasi penjahitan luka di punggung si laki-laki misterius, membuka pintu ruangan dan mempersilahkan Aya masuk.
Dan gadis itu pun masuk. Pertama-tama ia memerhatikan seisi ruangan tersebut beserta peralatan-peralatan rumah sakitnya—warna serba putih yang membuatnya tegang, bau kapas steril, dan lampu bercahaya menyilaukan di langit-langit, bahkan—
suara napas.
Ya, ada suara napas seseorang yang tengah tidur. Mungkinkah anak itu sudah bangun? Aya menoleh pada sang dokter, mengangkat bahu. Mereka menyibak tirai yang menutupi ranjang pasien dan Aya terhenyak.
Seorang anak laki-laki, kurang lebih 16 tahun, terbaring di sana dan setengah tubuhnya ditutupi selimut hijau muda, meskipun Aya bisa melihat bahwa laki-laki itu tidak memakai kaus apapun. Kulitnya pucat keabuan, tanpa tanda-tanda demam. Matanya terpejam.
Ya Tuhan, pria ini benar. Warna rambutnya aneh.
Laki-laki itu memiliki rambut berwarna biru kehijauan di kepalanya. Kelihatannya sangat alami. Ada bintik-bintik mungil berwarna emas di bawah matanya. Aya mengalihkan perhatiannya ke tubuh si pemuda. Dadanya bergerak naik turun menghela napas, seolah-olah pernapasan burung yang sering terbang.
"Yah, dia bukan orang yang kucari," kata Aya akhirnya. "Siapa namanya? Apa dia sempat sadar?"
Sang dokter berdeham. "Dia sempat sadar beberapa menit, sesudah itu kami memintanya istirahat," katanya. "Anak ini tidak berkata apa-apa soal namanya. Kami bahkan ragu dia mengingat namanya."
"Hilang ingatan?" Aya mengangkat sebelah alis. Kasihan sekali dia.
"Tidak diragukan lagi. Kami menemukan bekas pukulan benda tumpul di belakang kepalanya," ia berjalan mendekati si pemuda misterius, menyibak helaian rambut teal-nya. "Sungguh suatu keajaiban ia masih hidup... dengan sejumlah luka dan pukulan di tubuhnya, bahkan tidak menunjukkan gejala kurang darah."
Mahasiswi fakultas akunting tersebut menaruh tangannya di atas ranjang pasien. "Anak ini pasti bisa bela diri... keturunan biksu atau semacamnya."
Dokter itu akan tertawa, tetapi diurungkannya dan meninggalkan Aya bersama si pemuda misterius tersebut sebagai gantinya. "Setidaknya sekarang ia berada di tangan yang aman."
Dan pintu ruangan pun ditutup.
x.x.x
Rambut emasnya bergerak-gerak mengikuti angin, dan salah satu helaiannya melingkar-lingkar di jemari pemiliknya. Seorang gadis berambut emas dan bermata multicolor duduk di kursinya sambil mengayunkan kakinya gelisah, sebelah tangan menopang pipi tirusnya. Bibirnya yang tipis, berlekuk-lekuk tajam, dan berwarna merah muda mengerut. Mata yang nyaris memiliki semua warna pelangi tersebut berputar-putar. Gadis itu sedang memikirkan sesuatu.
"Kita tidak bisa diam saja," katanya, setelah beberapa saat keheningan mendominasi meja pertemuan Sanctuary Tree. Gadis pemilik rambut emas berliku-liku tersebut adalah pemimpin para elves beserta daerah Sanctuary Town, meskipun ia bukan salah satu dari mereka. Tubuhnya yang ramping, tipis, dan dibalut terusan sewarna emas dan rok ala balerina nyaris tenggelam di atas kursi tingginya. Gadis itu bergumam kepada dirinya sendiri. "Jangan khawatir, Sakura... Jangan khawatir..."
"Raja dan Ratu tidak mengizinkan kita mencarinya," sanggah Tabitha, sang pengendali air berambut silver, bermata silver, dan berkulit pucat kemerahan dengan nada tanpa dosa seperti biasa.. Gadis kekanak-kanakkan yang sebenarnya sangat sarkatis. "Checkmate." Ia mengangkat alis, seolah-olah yang dilakukannya tadi sangat wajar. Gadis itu mengangkat cangkir berisi teh setinggi dagunya, ragu-ragu akan minum atau tidak.
Genma, sang pengendali api, bermata hijau paling menawan di seluruh penjuru dunia elemen, tersenyum dengan arti 'aku-suka-caramu-mematikan-percakapan'. Senyumnya sendiri memiliki banyak arti. "Memang. Dan sampai kapan? Langit sudah berubah. Lihat, tidak ada yang sama semenjak hilangnya sang pangeran."
Seisi meja sunyi seketika. Lahan berumput di samping kantor pusat Sanctuary Tree seolah melayu, berubah menjadi setandus gurun, meskipun semak-semak dan bunga-bunga liar masih tumbuh subur di sana-sini. Kesedihan seseorang dapat dengan mudah mengubah tempat ini. Meja-meja bertaplak indah masih digelar, kursi-kursi berlengan masih tertata rapi. Asap hangat mengepul dari teko-teko teh yang panas. Cangkir-cangkir dan piring-piring tersusun rapi di atas meja, menunggu tangan-tangan hangat menyentuhnya. Namun, para pengendali elemen sudah terlanjur kehilangan selera makan.
Acara minum teh ini berubah menjadi serius dan agak suram. Tidak ada yang benar-benar menikmati teh mereka. Bahkan Ayumi hanya memutar-mutar sendok di dalam cangkirnya. Sanctuary Tree dan seluruh dunia ini berubah semenjak Ratu menjadi murung. Dan itu bukan berarti Raja tidak gelisah akan lenyapnya sang pewaris takhta kelak.
"Kita bisa cari dia di bumi," usul Sakura, sang pengendali angin berambut emas berliku-liku. Kali ini seluruh temannya menoleh dengan mata bulat. "Ayolah, kalian tidak bisa merasakan, ya? Tidak ada aura sang pangeran sama sekali di sini. Di mana lagi kalau bukan di bumi?"
Tidak ada yang benar-benar menjawab usulannya, hanya seluruh pengendali elemen kecuali Sakura yang berdesis kompak. "Sinting."
Yang masih terlihat tenang di sana adalah Higina, sang pengendali kehidupan. Wajahnya yang dibingkai helaian rambut sewarna indigo yang lepas dari sanggulnya terlihat lebih "manusia" dengan kulit lebih berwarna dan bibir yang seolah selalu tersenyum. Namun, ia sangat perfeksionis. Gadis itu menaruh cangkir teh dengan hati-hati kembali ke atas meja—benci melihat setetes pun menodai kimono sutra hitamnya. "Bagaimana kau yakin Pangeran Takumi masih hidup?" tanyanya, dalam suara rendah.
Sakura mengangkat sebelah alis. "Harapan."
Sebuah kata singkat tersebut seolah mengunci mulut semua yang hadir. Bahkan Tabitha tidak membantah lagi. Siapa sekarang yang skakmat?
"Kita... tidak bisa meninggalkan masyarakat di bawah kekosongan, Sakura," kata Ayumi lamat-lamat. Setengah kepada Sakura, setengah kepada dirinya sendiri. "Apa kau juga tidak bisa membayangkan... peperangan?" cegahnya.
Mereka tahu maksudnya. Apabila mereka meninggalkan dunia ini, tidak ada lagi pemimpin bagi kelima teritori, dan keenam elemen di dunia elemen akan dibiarkan begitu saja—entah merusak atau menghilang. Terutama dalam situasi seperti ini.
Tidak ada yang bahagia mendengarnya. Bahkan sang pengendali listrik, Rira—seorang pemuda bermata kelam dengan pupil memanjang, kulit pucat susu, dengan lingkaran gelap di seputar matanya—hanya mendorong jatah tehnya menjauh.
"Para pengendali elemen sebelum kita," celetuk Tabitha. "Maksudku, seperti Nozomu-senpai dan lainnya. Kita bisa pergi beberapa bulan dan meminta mereka menjaga teritori untuk kita."
Seorang pelayan yang membawa seteko teh datang mengisi teko-teko teh kosong di tengah meja, kemudian pamit pergi. Mereka masih diam. Namun, Genma yang teringat hal terkait perkataan Tabitha barusan membantah. Alis merahnya mengerut.
"Aku jarang melihat Ryuuhi-san akhir-akhir ini."
Hening sesaat, sebelum sang gadis air menambahkan.
"Ya, Nozomu-senpai juga."
"Atsuka-nee juga tidak kelihatan semenjak seminggu lalu," gumam Higina.
Mereka menatap satu sama lain. Satu misteri lagi untuk dipecahkan.
x.x.x
2 bulan kemudian
"Jadi," wanita berkacamata merah marun itu memulai. "Siapa namamu... lagi?"
"Ame Matsuzaki," jawabnya tenang.
"Itu namamu yang sebenarnya? Apa kau merasa bahwa itu namamu yang asli?"
"Tentu saja iya," pemuda yang kurang lebih berumur 16 tahun tersebut menjawab lugas. "Karena Aya-nee yang memberikannya padaku, jadi itu... nama resmiku sejak sekarang."
"Hmm," wanita itu, yang rambut cokelatnya diikat dan digulung ke atas, berpikir sebentar. "Apa kau merasa memiliki nama lain sebelum itu?"
"Mungkin sebelumnya aku tidak dipanggil apa-apa."
Helen, psikiater berusia 30 tahun ini harus memutar otak sebelum menanyakan Ame hal selanjutnya. Menurut diagnosanya, anak muda ini mengalami semacam hilang ingatan yang membuatnya seolah-olah tidak pernah dilahirkan di Bumi. Misalnya, tidak mengetahui tangga eskalator, mobil, bahkan bahasa slang sehari-hari. Dalam kata lain; hilang ingatan total.
Aneh. Segala hal tentang anak ini benar-benar aneh.
Helen sudah membaca berita tentang dia di koran—terutama tentang luka-luka yang diterima anak itu. Pukulan benda tumpul di kepala, bekas luka di sejumlah tempat di dada, leher, dan dua luka "sobek" di punggung. Orang macam apa yang (meskipun gagal) membunuh seorang anak laki-laki dengan hanya melukai punggungnya? Dan orang macam apa seperti Ame Matsuzaki ini yang tidak mati setelah mengalami pendarahan cukup lama?
"Dokter? Dokter?"
"Ah, iya," Helen kembali ke dunia nyata. Dihempaskannya bahunya yang tegang ke sandaran kursi. Bahkan dengan segala dekorasi ruangan bergaya Inggris tahun 80-an, ia masih... merinding setiap menangani laki-laki misterius ini.
Helen adalah pendiri sekaligus pengelola rumah terapi di pinggiran Fukui ini. Therapy and Personal Treatment: by Helen Fagworth. Berawal dari karirnya sebagai psikiater dan ahli terapi, wanita itu merantau ke Jepang demi penghidupan yang lebih baik. Oxford memang menjanjikan, ya—sejumlah rumah sakit dan universitas memanggilnya untuk bekerja atau memberikan pengarahan. Hal-hal membosankan seperti itu. Di Fukui, setidaknya ia mendapat atmosfer baru, orang-orang baru, pengalaman baru, dan nuansa Asia yang awalnya tidak pernah terbersit di otaknya. Meskipun di sini ia bekerja juga.
Ame adalah salah satu pasiennya yang paling keras kepala. Seminggu lalu, anak itu menjalani terapi dan hasilnya malah mimpi buruk. Kasihan sekali.
"Bagaimana soal mimpinya?" tanya Ame, buru-buru menegakkan punggung dari sandaran kursi panjang. Rambut teal anehnya bergerak-gerak mengikuti perpindahan tubuhnya. "Jadi begini. Aku mendengar suara wanita menangis setiap malam dan—"
"Ame, dengar," potong Helen tegas. Ia tidak ingin dipusingkan oleh hal lain untuk sekarang. "Kita sudah membicarakan hal ini sebelumnya, dan dua minggu sebelumnya. Aku di sini untuk membantumu mengingat keluargamu. Lupakan mimpi burukmu dan belajarlah berdoa sebelum tidur."
Ame mengerutkan kening. Selama beberapa saat wajahnya berubah cemberut, seperti tirai yang menutup. Ketika tirai tersebut terbuka, Ame kembali memandangnya. Kali ini dengan senyum mengejek... sangat dewasa. "Kau seorang psikiater. Seharusnya kau bisa menangani yang itu juga."
"E-eh..."
Cara bicaranya... sangat berwibawa. Seperti seorang... pangeran.
"Haruna-san," Aya, perempuan yang membawa Ame ke sini, muncul dari balik pintu ruangan. Wanita itu selalu salah menyebut "Helen" menjadi "Haruna". Atau "Heruna", kadang-kadang. "Aku pikir sesi hari ini sudah selesai. Boleh Ame pulang?"
Ame memandangnya dengan tatapan seolah ia baru saja menang lotere.
"Ya, ya, silahkan saja. Silahkan pergi."
Aya masuk ke dalam ruangan dan menepuk bahu Ame pelan. Keduanya berjalan meninggalkan ruang praktek.
Helen tidak akan main-main terhadap anak satu ini.
x.x.x
Sesaat setelah Aya menyalakan mobil sedan peninggalan orang tuanya dan mengemudikan mobil menuju rumah, Ame menghenyakkan diri di kursi mobil sembari memandang pemandangan di depannya. Apa yang dilihatnya terasa... jauh. Sangat asing. Jalan raya beraspal, gedung-gedung pencakar langit, segerombolan anak muda berbaju hangat, asap buang kendaraan, semuanya. Ame bukan bagian dari mereka semua. Satu-satunya hal yang dia ingat hanya salju mungil yang jatuh mengotori kaca mobil.
"Bagaimana soal wanita British itu?" tanya Aya, menyadarkan Ame dari lamunan.
"Dia baik," jawab anak laki-laki itu, teringat sosok Helen dengan rambut auburn digulung ke atas, kacamata persegi berbingkai merah marun, garis wajah khas keluarga royal London. Ditambah poin "berasal dari Oxford", seperti yang dijelaskan Aya beberapa minggu lalu, membuat Ame berpikir apa alasan wanita itu datang ke Fukui.
Ame juga berpikir soal Aya. Kakak angkat yang memberikannya rumah untuk tinggal, makanan untuk bertahan hidup, baju-baju untuk dipakai, sekolah untuk... yah, terlihat normal sebagaimana anak seusianya, dan nama sebagai identitas barunya. Aya masih kuliah, tetapi sebentar lagi selesai. Sudah ada rencana menikah dengan kekasihnya, beberapa tahun lagi... karena hal sebesar pernikahan memang harus direncanakan jauh-jauh hari. Penampilan Aya jauh berbeda dari Ame—matanya hitam bercahaya, kulitnya cokelat terang, rambutnya hitam sebahu, dan senyumnya ramah. Ia kira semua manusia memiliki rambut teal seperti dirinya.
"Bagus. Oh ya, aku membelikanmu sweater dan tudung buat rambutmu. Kau hanya sedikit lebih besar dari adik bungsuku, jadi sweater itu pasti muat. Saljunya akan turun lebat nanti."
"Dan tudungnya?" tanya Ame.
Mobil pun berbelok ke arah tikungan permukiman. Atap rumah Aya sudah kelihatan. "Untuk menutupi warna rambutmu, setidaknya perhatian orang akan lebih teralih pada telinga kucing palsu di atasnya."
"Telinga apa—NEE-SAN!" teriak Ame kesal, karena sekarang gadis yang sudah ia anggap kakaknya itu tertawa lepas. "Itu sih terlalu perempuan!"
"Otouto!" gelak Aya. "Dasar bishie!"
x.x.x
Andai saja ada liburan tiga bulan penuh selama musim dingin.
Setelah menurunkan barang-barang belanjaan dari garasi ke dalam rumah, Ame langsung memakai sweater dan tudung barunya, dan berjalan-jalan di luar. Aya kembali menyalakan mesin mobil karena ada kuliah yang harus diambil. Kasihan. Padahal kan, sekarang hari Minggu.
Prediksi Aya benar. Di luar cuaca mendung dan salju turun lebih lebat dari sebelumnya, di mana orang-orang biasanya lebih memilih berdiam di rumah. Kelihatannya dia tidak akan berlama-lama di luar.
Sebelum menjejakkan kaki di lapisan salju tipis di depan gerbang, Ame mengingat sedikit mimpinya.
Suara seorang wanita menangis dan memanggil-manggilku... anakku, pangeranku.
Di mimpi itu, ia tidak melihat sosok si wanita dengan jelas, agak buram. Namun bukan hanya itu mimpinya.
Seorang pria... Dia tidak menyukaiku! Ketika aku sedang tidur, dia membekapku dari belakang, mengacungkan pisau antiknya yang berkilau tertimpa cahaya bulan. Aku memberontak, tetapi cengkeramannya lebih kuat, dan ketika aku tidak bisa bergerak lagi, dia memotong sesuatu yang aneh, yang melekat di punggung...
Dia harus mencari tahu siapa pria itu. Ya. Pasti ada di suatu tempat (Aya bilang, manusia tidak pernah memimpikan wajah yang tidak pernah dilihatnya, maka wanita dan pria dalam mimpinya itu pasti juga nyata). Lagipula, Ame masih ingin mengetahui lebih banyak tentang kasusnya. Apakah sebelumnya dia adalah seseorang yang sama sekali berbeda?
Ame berlari menerobos salju di trotoar jalan, melihat sekeliling, sambil memastikan tudungnya bekerja dengan baik. Ia akan mampir ke kafe di ujung jalan itu sebentar.
x.x.x
"Senpai mau yang mana?"
Genma tersenyum tipis menghadapi anak kecil berumur sekitar 50 tahunan yang tiba-tiba menawarinya dua nampan kue kering berkismis. Ia kenal anak ini. Dia putri pembuat kue terkenal di Fieriland.
Ia mengambil satu kue. Anak itu tersenyum lebih lebar, berkata "terima kasih!" dan terbang menemui teman-temannya lagi.
Banyak yang salah menduga bahwa Fieriland adalah neraka—hanya karena di sana ada banyak api, dan penduduknya menyerupai falcon—yang benar saja. Fieriland adalah tempat yang sama indahnya dengan Coral Park, Sanctuary Town, Village of Myths, bahkan Underground. Dan masih damai sampai sekarang.
Tempat ia (mereka, lebih tepatnya—karena di sampingnya terdapat lima pengendali elemen lainnya) berada adalah salah satu sudut Fieritraff, kota pusat Fieriland. Tempat di mana terdapat air mancur setinggi tiga meter dikelilingi pertigaan jalan yang ramai, dipenuhi falcon dari segala penjuru. Bahkan terdapat beberapa elf dan fayre—penghuni Underground—berlalu-lalang.
Ada sesuatu yang berubah.
Ya, kejernihan api di setiap obor yang dipasang di pemukiman Fieriland. Biasanya warnanya emas terang, tetapi sekarang... merah darah. Perubahan yang cukup mengkhawatirkan para penduduk. Mereka banyak memanfaatkan api untuk kebutuhan sehari-hari, dan perubahan kualitas api sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup mereka. Sudah dua bulan semenjak hilangnya sang pangeran. Ratu kelihatan makin sedih saja.
"Lima tahun lagi, Genma?" tanya Higina di belakangnya, dengan nada setengah menuntut. "Oke. Kita pergi lima tahun lagi. Kita berenam. Siapkan diri. Hilangkan sayap, pakai baju manusia, pikirkan tempat tinggal, buat lamaran pekerjaan, pelajari bahasa-bahasa slang manusia, cari alat tukar manusia, dan—oh my! Sakura, ubah gaya rambut anehmu. Ayumi, jangan bersikap gugup! Rira, pelajari sedikit senyuman. Kau bisa belajar dari... Tabitha, tolong ubah warna rambut dan mata—"
"Belle Natura," potong Genma. "Aku tahu, aku tahu. Masalahnya; aku tidak yakin nasib Pale Palace akan baik-baik saja setelah—"
"Dan Genma," kata Higina lagi. Dia selalu mempersiapkan apapun sesempurna mungkin. "Jangan sembarangan memotong pembicaraan orang."
"Itu tidak ada hubungannya," sambar Sakura. Mereka berenam sedang berjalan-jalan di salah satu sudut Fieritraff. Seharusnya Sakura yang banyak bicara di sini. Namun, berhubung ia sedang malas, maka ia biarkan saja Higina mengambil alih.
Beberapa menit kemudian, tidak ada percakapan di antara enam orang tersebut. Sebaliknya, mereka memandang sekitarnya tanpa tahu harus berkata apa. Falcon muda beterbangan ke sana ke mari, bermain-main di udara, sementara yang dewasa sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Ada pandai besi, tukang roti, pedagang bunga, bahkan pemusik jalanan.
Sementara itu, Tabitha adalah satu-satunya yang tidak memerhatikan sekeliling dan ikut terkesan seperti yang lainnya. Dia terlalu sibuk bermain dengan kucing mungil di bahunya. Sayangnya, ia tidak bisa membawa kucing itu ke dalam tempat tinggalnya. Para duyung bisa ketakutan.
"Hei, Hazelnut," gumam Tabitha. Sangat pelan hingga hanya ia dan pemuda yang ia panggil yang bisa mendengarnya. "Dari banyak sisi, kucing ini mirip sekali denganmu, ya?"
Rira meliriknya dengan malas. "Sayangnya begitu," jawabnya singkat. Ia melirik ke arah teman-temannya yang lain, ingin menghindari gadis sinting pengendali air ini. Namun malangnya Rira—teman-temannya yang lain itu telah pergi entah ke mana. Sialan. Pokoknya sialan. Meskipun di sekelilingnya masih penuh para falcon yang berseliweran ke sana ke mari.
Tabitha menghela napas. Ia memutar mata, melihat ke arah kucing yang kini mencakar-cakar ujung rok gaunnya sekali lagi. Tidak heran ia harus menjahit sendiri robek-robek di gaunnya akhir-akhir ini. Ia ingin bicara dengan si pemuda berambut sewarna hazelnut terbakar di sebelahnya dan bertanya-tanya dalam hati apa Rira pernah bicara lebih dari sepuluh kata dalam sehari. Dan ya, ia pernah makan hazelnut bakar karena iseng dan rasanya aneh.
"Dan namaku bukan Hazelnut, Tabitha-san," kata Rira lagi. Giliran Tabitha yang melirik ke arahnya dengan terkejut. Dengan instan, gadis itu langsung menyesali pertanyaannya tadi. Bersikap kekanak-kanakkan, pula.
"Maaf," gumamnya. "Aku hanya... kau... Tidak. Setiap kita bertemu selalu begini. Selalu ada yang salah," Tabitha mengangkat kucing kelabu tersebut kembali ke pelukannya dan memandang tepat ke dalam mata Rira. Menyadari bahwa sedari tadi Rira sudah menatapnya tajam, dengan tatapan tidak suka. "Selalu... canggung. Bisakah kita menjadi teman? Sebagai sesama pengendali?"
Pertanyaan itu bodoh, ia tahu. Setiap pengendali air dan pengendali listrik ditakdirkan tidak terlalu akrab, bahkan cenderung bertolak belakang. Tidak terkecuali pengendali air dan pengendali listrik sebelumnya: Nozomu dan Yuki. Jangankan berteman, bersentuhan kulit saja tidak bisa.
Namun Rira berbeda, ia tahu. Pemuda itu meremas-remas tangannya yang berselimut sarung tangan hitam sebelum akhirnya menjawab.
"Tidak," katanya setelah beberapa saat. "Kita hanya bisa menjadi selain teman." Bukan jawaban yang diharapkan gadis di sebelahnya ini.
Terlalu hemat bicara, rutuk Tabitha dalam hati. "Memangnya apa lagi? Musuh?" tanyanya polos.
"Mendekati," Rira menyeringai tipis. Seringaian yang, andai ada yang melihatnya, membuat jantung gadis mana pun seolah berdetak. Dan Tabitha tidak melihatnya.
Kau bisa menjadi teman bagi semua orang, Angel of Innocence.
Rira memerhatikan bagaimana si pengendali air kembali sibuk bermain dengan—yah, kucing peliharaan Rira—dan seolah tidak memedulikan keberadaan dirinya lagi.
Tetapi kau tidak bisa hanya menjadi teman bagiku, Tabitha.
x.x.x
(No, no, no!
Gue nggak bakal ngasih pairing segampang itu. Nggak bakal! *teriak sama laptop*
S-so, a-apa ini udah menjelaskan sedikit ceritanya? Semoga udah. Saya nggak terlalu suka romance dalam fantasy-sedikit-sedikit boleh lah, romance yang tipis, cuma bersifat suggestive, dan nggak ngawur dari plot utama. Tapi ini bukan Fantasy-Romance, bukan sekarang...
Maaf, omongan(eh?) saya ngelantur. Err... RnR? Kritik? Hujatan? Cacian? *dibekep*
|
||||||