
Amnesia? Check. Dihantui mimpi buruk? Check. Harus konsultasi kejiwaan ke psikolog? Check. Punya warna rambut natural yang aneh? Check. Punya dua luka di punggung yang mirip bekas amputasi sayap? ...Check. Sekelompok orang yang mengaku sebagai "para-pengendali-elemen" dan memanggilnya "pangeran"? Goddamnit NONSENSE!
Rated: Fiction T - Indonesian - Friendship/Fantasy - Chapters: 9 - Words: 29,191 - Reviews: 2 - Favs: 2 - Follows: 1 - Updated: 12-24-12 - Published: 10-10-12 - id: 3064628
|
|
A+ A- |
Amnesia? Check. Dihantui mimpi buruk? Check. Harus konsultasi kejiwaan ke psikolog? Check. Punya warna rambut natural yang aneh? Check. Punya dua luka di punggung yang mirip bekas amputasi sayap? ...Check. Sekelompok orang yang mengaku sebagai "para-pengendali-elemen" dan memanggilnya "pangeran"? Goddamnit NONSENSE!
.
.
Elementbender; Eighth: Wedding Rush
"Hari baru, harapan baru," gumam Tabitha saat memakai sepatu, keesokan harinya.
Hari ini, gadis itu akan menemani Nona Matsuzaki memilih gaun pernikahan. Ia sudah membayangkan warnanya: putih dengan sentuhan kuning lembut. Temanya pesta kebun, kan? Dengan bunga-bunga lili kuning? Higina harus menghadiri pesta ini.
"Bagaimana dengan kita?" tanya Genma cemberut. "Laki-laki? Memilah-milah baju perempuan? Lebih baik tidak."
Tabitha mengangkat alis. "Kalian hanya belum terbiasa," jawabnya santai. Yang ia tidak tahu adalah seberapa bencinya Genma akan hal-hal berbau fashion perempuan. Three-piece? Ruffles? Bell skirt? Pashmina? Yang benar saja. Pink? Magenta? Fuchsia? Apalagi.
"Kita bisa ke restoran yang kemarin," bisik Rira. "Sementara aku mengurus daftar barang-barang."
Genma tersenyum lebar. "Aye aye, Princey."
x.x
Ame mengerutkan kening. Jules benar-benar melaksanakan "janjinya", sebuah paket berbungkus kertas kado norak dan berselotip diletakkan begitu saja di depan rumahnya. Diletakkan begitu saja! pikir Ame ngeri. Untunglah Aya tidak melihatnya masuk kembali ke kamar dengan sebuah bungkusan sebesar tongkat golf. Dia sudah berangkat kerja sekarang. Atau ke Miraculous Wedding, tempat pengurus pernikahan kakaknya.
Ia tidak yakin akan membuka paketnya. Bukankah ini melanggar peraturan?
Kau juga pasti mau melihat katana itu, kan? perkataan Jules semalam terngiang-ngiang. Oh well, sebenarnya itu perkataan hatinya. Sejujurnya, Ame benar-benar penasaran. Merobek bungkusnya sedikiiit saja. Masa' tidak boleh?
Dengan hati-hati, dirobeknya kertas kado bermotif anjing dan segala pita warna-warni dari kotak "hadiah" tersebut dan membuka tutup kotak sedikit demi sedikit. Dilihat dari kotaknya, tempat ini sebelumnya digunakan untuk menaruh alat pancing. Dia tidak pernah tahu kalau Jules suka memancing. Bukan urusannya.
Di dalam kotak tersebut, terlihat sebuah... Jules benar-benar tidak bercanda—sebuah katana! Bilahnya masih terlihat sangat tajam, tangkainya lumayan antik dan benda itu sangat... masih sangat berkilau. Bukan imitasi atau apapun. Ame terkesiap. Dia bukan hanya bisa memotong tomat atau pepaya dengan pedang setajam itu, dia bisa memotong... sebuah kepala.
Astaga. Kebanyakan nonton film horor musim panas.
Puas melihat-lihat senjata samurai tersebut, Ame akan mengembalikannya ke kotak sebelum teringat sesuatu: kata Jules, ada dua barang koleksi yang dicuri. Mana satunya lagi?
Ame menundukkan kepala dan melihat pedang satunya lagi. Sebuah pisau antik. Ujungnya berlekuk, terlihat sangat berbahaya. Pisau teraneh yang pernah ia lihat. Gagangnya dirambati sejenis mawar mungil, menjalar hingga ke badan pisau. Mawar-mawar itu terlihat.. hidup. Dan ukiran-ukirannya...
"Sayang sekali sayap indahmu harus..."
Tidak. Tidak. Perasaan familiar aneh itu muncul lagi. Dengan terburu-buru, dimasukkanya kembali pisau tersebut ke dalam kotak dan menutupnya rapat-rapat, kemudian mencari-cari tempat penyimpanan yang aman—yang sangat aman, seharusnya. Ada satu peti berdebu di dekat tempat tidur Ame yang lama dilupakan, tempat menaruh tas-tas rusak milik kakaknya.. Aya mengeluhkan betapa beratnya tutup peti tersebut setelah pertama kali dibuka, setelah itu tidak pernah dibukanya lagi. Secara singkat; tempat bagus untuk menyimpan satu katana dan satu pisau curian.
Sebuah pemahaman merayap ke dalam otaknya.
"Jam berap—TELAAAAT!"
x.x
"Ca-pu-cci—" Genma terdiam sesaat. Pelayan di sebelahnya mengerutkan dahi. "Terserah. Pesan apa saja."
"Kami tidak melayani pesanan seperti itu, Tuan," jelas si pelayan bingung.
"Aku bisa saja memesan dragonccino dan kau akan menjawab persis seperti tadi," elak Genma sambil menyeringai sinis. Si pelayan menganga. "Dua capuccino. Terima kasih."
Gadis pelayan tersebut mencatat pesanan Genma dengan gemetaran, kemudian berbalik ke ruangan di belakang kasir sambil berteriak berulang-ulang, "aku baru saja bertemu malaikat!"
"Dasar manusia," komentar Genma kepada dirinya sendiri. "Jadi, Rira. Bagaimana rencanamu?"
Pemuda di hadapannya mengangkat bahu ringan. Rira memain-mainkan kancing lengan bajunya dan berkata singkat. Agak panjang, sih. "Sama seperti sebelumnya; ikuti alur pekerjaan sampai takdir mempertemukanmu dengan Takumi."
"Tapi kita harus melakukan lebih dari menunggu," sanggah Genma. Suaranya memelan. "Menjadi pengurus pernikahan dengan gadis yang lebih suka menghadiri pernikahan kucing? Boleh saja. Untuk selamanya? Kau gila." Yang berarti, 'harga-diriku-bisa-jatuh-di-hadapan-perempuan'. Ia melihat ke sekeliling ruangan dengan malas. Hanya sedikit orang yang makan di restoran ini pada hari kerja, dan sepagi ini.
Rira terkesiap—tidak terlalu kelihatan, tertutup sikap datarnya—seolah teringat sesuatu. "Kita tidak boleh menelantarkan dunia elemen selamanya."
Genma mengangguk. "Memang." Kemudian, seolah juga teringat sesuatu, ia bertanya lebih pelan lagi. "Seberapa dekat kau dengan Pangeran? Hm?"
"Tidak terlalu," jawab Rira, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. "Kesamaan kami hanya darah kerajaan. Sayang sekali."
Pesanan mereka pun datang—dua cappuccino. Pelayan yang mengantarkannya sama dengan pelayan yang mencatat pesanan tersebut. Gadis itu masih terlihat gugup, masih berteriak "aku baru saja bertemu malaikat!" sambil melempar nampannya saat berbalik kembali ke pantry.
"Hah. Mantan pangeran. Princey," gumam Genma ketika gadis itu pergi. "Tidak. Begini: Sakura pernah mengantarkan pizza ke rumahnya. Dia pasti tahu alamat sang pangeran. Kita hanya perlu... mendobraknya dari luar atau... apa?"
Mendengar kata "dobrak", beberapa orang menoleh ke arah mereka.
"Kalau ingin memancing keributan," komentar Rira sinis. "Lakukan saja."
x.x
"Wow. Keren-keren."
"Silahkan lihat-lihat," kata seorang penjaga butik begitu mereka datang. "Nyonya sedang ada di atas. Biar saya panggilkan."
Sepeninggal si penjaga butik tersebut, Aya melangkah masuk sambil melihat-lihat berbagai gaun yang dipajang di lemari kaca. Beberapa ditaruh di ruangan terbuka, tanpa lemari kaca, memang untuk disentuh—asal tidak rusak. Gaun mewah di segala arah mata memandang. Merah, kuning, putih. Gaun pesta pagi, pesta malam, pesta kebun. Aya tidak bisa memilih.
Menentukan mana yang tercantik adalah masalah bagi wanita ini. Semua gaun terlihat cantik di matanya. Ia akan menikah, tentu saja—jadi Aya bisa mempersempit pencariannya dengan memilih gaun-gaun pernikahan. Namun hal itu masih sulit. Di setiap penjuru butik yang luas ini, ada banyak gaun pengantin. Oh, well.
Bukankah itu alasan Tabitha mengajaknya ke sini?
"Gaun pesta kebun pasti berbeda dengan pesta di dalam ruangan, bukan?" celetuk sang pengatur pernikahan, mengagetkannya. "Kalau di lihat saja, Anda tidak akan tahu mana yang terbaik. Oh ya—kita bisa memesan custom!"
"Tidak, terima kasih," tolak Aya halus. "Yang ada saja sudah cukup."
Pandangannya tertuju pada salah satu gaun di sebelah kirinya. Gaun putih tanpa lengan, puffy skirt, dan kelihatannya memiliki sarung tangan putih sebagai pelengkap. Ada detail-detail kecil yang menarik perhatiannya. Sederhana, tetapi terasa... megah. Dia ingin tahu bagaimana pendapat Tabitha soal yang satu ini.
"Tabitha-san? Bagaimana kalau yang—Tabitha-san?"
Pertanyaannya tidak didengar. Aya mendapati wanita itu sedang tercenung di hadapan sebuah gaun mungil berpola vertikal yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Mungkin perhatian Aya terlalu terpusat pada gaun puffy skirt tadi. Tabitha masih terdiam; sebelah tangannya menyentuh rok gaun yang mengembang, kemudian ditariknya lagi.
Wanita itu menghela napas dalam.
"Kau... suka gaun-gaun seperti itu, Tabitha-san?"
Tabitha terkejut. Ia menoleh ke belakang, melihat Aya menatapnya dengan aneh, kemudian tersenyum kecil. Senyumannya terlihat ragu-ragu.
"Ya. Mengingatkan saya pada... kampung halaman. Dan pelatih—maksudku kakak lelakiku, Nozomu-senpai—eh, maksudku Nozomu-nii."
"Kakak lelaki?" Aya mengangkat alis, setengah menahan tawa. "Itu hanya gaun anak-anak biasa. Apa hubungannya dengan kakak lelaki?" tanyanya penasaran.
Tabitha akan mengangkat alis mendengar nada suara lawan bicaranya, tetapi diurungkannya.
"Tentu saja ada. Dia pernah memberiku gaun seperti ini saat umurku 6 tahun," Wanita itu tersenyum lagi. Kali ini dengan lebih tulus. "Nozomu-nii tidak biasanya memberi perempuan hadiah. Dia paling canggung di hadapan wanita," gumamnya sambil tertawa. Kemudian, tawanya memudar. "Saya tidak melihatnya lagi beberapa tahun ini. Dia... menghilang begitu saja."
"Aku turut bersedih," kata Aya pelan, setelah beberapa saat tidak tahu harus berkata apa. "Semoga dia cepat ditemukan."
Tidak ada percakapan lagi. Aya memilih diam, sementara Tabitha kembali mengagumi gaun anak-anak tersebut; mungkin lebih tepatnya merenung. Ia tidak ingin menanyai wanita itu macam-macam; kelihatannya Tabitha masih sedih ditinggal kakaknya. Ia hanya teringat kemisteriusan asal-usul Ame. Bagaimana keadaan keluarga aslinya sekarang, di belahan dunia mana mereka. Seberapa sedihnya keluarga itu ditinggal anak laki-laki mereka. Bagi Aya, seseorang yang menghilang sama seperti seseorang yang meninggal tanpa batu nisan. Menyedihkan, tentu saja. Dan lebih menyakitkan.
"Tidak usah terlalu dipikirkan, Tabitha-san," Wanita itu memecah keheningan, sebelah tangannya menepuk punggung Tabitha dalam gerakan menghibur. Sama seperti yang ia lakukan pada Ame ketika anak itu mendapat nilai jelek di ulangan Fisika. "Oh, tadi kau bilang kakakmu canggung di hadapan perempuan. Pantas saja kau juga canggung di hadapan laki-laki," sambungnya.
Tabitha cepat-cepat menoleh ke arah Aya.
"Canggung? Tidak!" elaknya. Wanita di sampingnya tertawa pelan. "Aku tidak ingat pernah canggung ke siapapun. Sama sekali tidak."
"Oh ya? Dua partner-mu? Kau terjepit di antara dua cowok, Tabitha-san. Pasti susah bernapas," gelaknya, sambil menutup mulut dengan tangan. Peraturan Klan Matsuzaki nomor 73 adalah tertawalah dengan sopan. Namun, Peraturan Klan Matsuzaki nomor 74 adalah jangan menertawai masalah cinta pengatur pernikahanmu.
Tabitha terdiam sesaat—seolah tidak mengerti perkataan Aya barusan. "Genma pasti tertarik dengan wanita lain. Sepertinya. Dan yang satunya lagi; kata Nyonya Tsubeki, dia... hot—tidak, tidak, tidak! Bicara yang lain saja. Kumohon."
Wanita ini seumuran dengan Ame. Pantas saja Aya bisa menggoda Tabitha layaknya ia menggoda adiknya sendiri.
"Maaf, Tabitha-san. Mengganggu memang sudah tabiat asliku. Nah, aku sudah menemukan gaun yang pas... Menurutmu bagaimana?"
x.x
Suara-suara di sekeliling mereka bertambah riuh. Orang-orang semakin banyak berdatangan: para pengangguran, pekerja kantoran, pendatang dari luar negeri—meskipun masih terasa lengang. Keduanya mencoba meminum capuccino mereka. Tidak terlalu buruk; tetapi sangat asing.
Tiba-tiba, Genma menelungkupkan wajahnya ke meja.
"Fieriland. Aku bisa merasakannya dari sini. Rakyatku butuh bantuan," pemuda bermata hijau tersebut berkata samar-samar. "Penyiksaan. Kekejaman. Ketidakadilan... Harus pergi," gumamnya, dengan nada tercekat. Keringat dingin mengalir di sepanjang lehernya. "Harus pergi. Sekarang."
Tidak ada yang memerhatikan perubahan sikap Genma, syukurlah. "Aku melihatnya juga," komentar Rira pelan. "Apa yang bisa kita lakukan?"
"Aku bisa kembali ke dunia elemen sendiri. Minta bantuan Higina untuk mengubahku kembali. Kalian tetap di sini, dan cari Takumi," jelas Genma cepat.
"Dunia elemen tidak akan stabil tanpa keenam pengendalinya," bantah Rira. Pemuda di depannya menghempaskan lengannya ke atas meja. "Dan kalau kita berenam kembali tanpa Takumi, kita tidak akan mengubah apa-apa."
Genma putus asa. Mereka memang bisa mengendalikan elemen, tetapi dalam kondisi Raja dan Ratu yang parah, kesuraman akan terus menyelimuti dunianya. Pangeran Takumi tinggal satu-satunya elemen yang mereka butuhkan.
"Percuma saja," gumam Genma akhirnya. "Kita terjebak di sini."
x.x
Sebuah kamar rahasia, jauh di bawah kemegahan istana yang sekarang seperti neraka. Tempat seseorang ditahan tanpa sepengetahuan keluarga kerajaan atau para pengendali. Meskipun seseorang itu tidak benar-benar ditahan di situ.
"Lepaskan pelayan itu, Tou-sama! Lepaskan orang-orang itu juga! Mereka tidak bersalah—"
"Jangan mengelak, Sayang. Kau sangat lemah. Tidak tahu apa-apa selain Tou-sama sebagai pelindungmu. Dan pengendali elemen terdahulu itu? Hah. Kau bahkan tidak mengerti seberapa piciknya mereka."
"... Paling tidak lepaskan Raja dan Ratu! Mau sampai kapan kau menahan mereka? Lepaskan orang-orang itu juga. Mereka tidak berguna buatmu! Paling tidak biarkan aku—"
"Berbicara dengan mereka. Bagaimana, hah? Kau memerlukanku, pria kecil. Raja baru ini, ayahmu, tidak akan melukaimu, tidak akan membunuhmu. Bahkan meskipun tanpa ibu. Anggaplah kita adalah satu kesatuan, satu hati. Aku adalah kau, kau adalah aku! Sekarang, siapa yang menjadi raja?"
"Otou-sama—atau aku. Entah."
"Bagus. Ini semua adalah keinginanmu, Nak. Akhirnya kau terlihat, pria kecilku. Akhirnya semua orang melihatmu. Kau mendapatkan apa yang kudapatkan. Sama seperti yang didapatkan para raja dan penguasa. Dan menyingkirkan orang yang ingin menyakitimu—Takumi! Sekarang, apa yang kau inginkan lagi, Yang Mulia?"
"Aku bukan "Yang Mulia". Tidak, selama berada di bawah kungkunganmu."
x.x
26 hari kemudian
Hari pernikahan pun tiba. Taman apik di belakang restoran Italia ini disulap menjadi tempat resepsi pernikahan Takashi Naharu dengan pengantinnya, Aya Matsuzaki. Perabotan serba putih dipersiapkan sejak jauh-jauh hari—dengan segala kerepotan di sana-sini, ketika tiga pegawai Miraculous Wedding nyaris meninggalkan checklist barang-barang yang dibutuhkan di apartemen mereka. Yang lainnya sangat mudah. Segalanya berjalan sempurna.
"Segalanya berjalan terlalu sempurna," komentar Higina sambil menata bunga-bunga ke setiap vas di atas meja panjang. Meja ini nantinya untuk menaruh makanan-makanan dan cocktail. "Dan kau tahu 'kan, betapa aku sukaaa sekali dengan hal yang sempurna. Iya kan, Ayumi?" tanyanya pada gadis yang hanya duduk di salah satu kursi berbalut beludru putih. Gadis itu hanya menghela napas.
Ayumi dan Higina bisa menghadiri acara resepsi meskipun bukan salah satu dari daftar tamu atau apapun. Hanya keberuntungan saja. Higina disuruh mengantarkan sejumlah bunga ke tempat pesta pernikahan, dan ia meminta bantuan salah satu pelayan Nichiyoubi—dengan sepengetahuan teman-temannya yang lain tentunya, dan mereka berdua bertemu Nona Matsuzaki... kemudian mereka diminta ikut menjadi tamu resepsi pernikahannya. Entahlah. Mungkin Nona Matsuzaki hanya ingin memiliki petugas kebersihan yang bisa menyelinap di antara kerumunan, membersihkan minuman tumpah tanpa harus membuat risih hadirin yang lain karena seragam cleaning service mereka... dan, ya, salah seorang wanita yang mengklaim sebagai bibi Nona Matsuzaki memberikan mereka masing-masing dua gaun pesta yang lumayan. Tidak terlalu mencolok, tetapi bagus. Asal nanti dikembalikan ke pemiliknya.
"Pada akhirnya kita harus membersihkan tempat ini, Higina," jawab Ayumi kalem, sambil memainkan rambut hitamnya. "Meskipun berpakaian... seperti mereka dan lainnya," katanya.
"Hmm," Higina berhenti menata bunga-bunga, kemudian menatap ke sekelilingnya sambil berpikir. "Kalau aku yang mengatur pernikahan ini, warna temanya pasti ungu dan merah."
"L-lebih bagus putih," komentar Ayumi sambil lalu, ikut memandang sekeliling. Ia agak gugup soal pesta pernikahan nanti. Apakah semuanya akan berjalan baik atau...?
"Di mana Tabitha dan dua pengawalnya?" tanya Higina tiba-tiba. "Kupikir dia sudah datang."
x.x
Ame terpaku di depan cermin.
Hari ini Minggu, tepat pada saat pernikahan kakaknya. Haruskah ia datang? Harus; ia bukan adik durhaka, tentu saja. Tapi—benarkah itu Ame? Pemuda berambut teal dan bertuksedo di bayangan cermin itu seperti bukan Ame.
Ya, ia bukan cowok lagi. Bukan lagi anak laki-laki yang selalu bergantung pada kakak perempuannya. Ia sekarang... pemuda. Aneh sekali memikirkannya. Paling tidak tuksedo hitam yang dibelikan Aya beberapa hari lalu cukup buatnya.
Dan—oh, tidak. Soal barang-barang curian itu...
Beritanya tidak ada di televisi, hanya para polisi yang melakukan penyisiran ke sana-ke mari, dan—seperti yang ia duga—menggeledah kediaman Jules. Gadis itulah yang terakhir kali berkunjung ke apartemen Kenta-sensei (hanya untuk meminjam beberapa buku teori dan memberikan tugas makalah) sebelum satu katana dan satu pisau koleksi tersebut lenyap. Namun, polisi tidak membawa Jules lebih jauh karena mereka tidak menemukan barang bukti.
Dan barang bukti yang dicari-cari, ada padanya.
Jules belum menelepon. Aduh, bagaimana ini? Segalanya kacau. Katanya, ia akan mengambil kembali senjata-senjata itu hari ini. Kapan? Sebilah katana itu panjang sekali—apa kata Aya nanti kalau Ame muncul di pernikahannya sambil membawa kotak alat pancing?
Namun, pisau penuh ornamen itu lumayan mudah dibawa-bawa. Bilahnya berwarna abu-abu pekat—bisa berkamuflase pada apa saja. Ame bisa menyembunyikannya di saku dalam jas dan tidak ada yang mencurigainya saat resepsi nanti.
Dengan hati-hati, dibukanya peti penyimpanan tersebut dan mengeluarkan sebilah pisau dari dalamnya. Ia menyimpan barang bukti tersebut di saku dalam jasnya—sambil berharap agar hari ini berjalan sempurna.
x.x
"Coba kita lihat."
Tabitha merebut checklist dari tangan Rira—meringis sedikit ketika kulit mereka bersinggungan—dan mulai menambahkan barang-barang baru ke dalam daftar.
"Kerudung, check. Make-up, check. Dasi, check. Buket... check. Sepatu, check!" gumamnya bersemangat. Nona Matsuzaki—atau yang lebih suka dipanggil Aya—ada di sana juga, duduk di pinggir sofa dengan tangan menggenggam lima lembar tisu penuh keringat.
"Kau tidak benar-benar perlu mengecek sepatu, Tabitha," komentar Genma yang duduk di atas meja. Dia tidak tahu bahwa meja di dunia manusia bukan untuk diduduki. "Gaunnya 'kan panjang."
Tabitha melotot.
"Aku—aku ingin berterima kasih banyak atas bantuan kalian selama ini," kata Aya terburu-buru. Wanita itu mengenakan gaun pengantin menjuntai dan kalung mungil di lehernya. Secarik kerudung transparan membingkai rambut hitamnya dengan manis. "Tanpa kalian, aku benar-benar—sangat—kerepotan. Aku... tidak mengerti masalah mengatur acara atau semacamnya," ia tertawa kecil. "Sekali lagi, terima kasih."
"Kami juga... berterima kasih," kata Tabitha sambil mengulas senyum, meskipun ia lupa untuk apa ia berterima kasih. "Banyak juga yang membantu, kok. Aya-san jangan menangis—nanti riasannya luntur!" celetuk gadis itu panik.
Aya terbatuk-batuk, tertawa lagi, dan menggeleng.
"Ini berkeringat, Tabitha-san. A-aku gugup sekali!" katanya sambil mendekap tubuh erat-erat. "Pernikahanku... Rasanya akan pingsan."
"Aya-san jangan pingsan—nanti acaranya bubar!" gadis itu panik lagi. Tatapannya beralih pada Genma dan Rira. "Cari Tuan Naharu. Semuanya harus sudah sempurna," perintahnya.
"Oh, sekarang kami benar-benar seperti pengawalmu, hah?" gerutu Genma sambil menggaruk puncak kepala Tabitha keras-keras. Gadis itu meringis. "Ayo, Rira. Turuti permintaan sang putri." Diliriknya Rira yang masih berkutat pada segala surat-surat bertanda tangan.
Yah, setidaknya Tabitha masih mengingat asas kesempurnaan Higina.
x.x
"Lihat! Katanya dia adik sang pengantin perempuan."
"Wajahnya kusut sekali."
"Wajahnya cute sekali!"
"Sst. Dia sudah 22 tahun. Single!"
"A-apa?"
"Anak yang ditemukan lima tahun lalu, ya?"
Setiap mata tertuju padanya ketika Ame melangkah masuk ke taman belakang restoran—atau tempat resepsi Aya. Kusut. Cute. 22 tahun. Single. Ame membuang muka. Dia merasa sangat tidak cocok berada di tempat ini. Di dunia ini. Di mana ia seharusnya berada?
"Heeei, Ame!" teriak sebuah suara yang sudah sangat dikenalnya. Jules. Gadis itu berlari menghampirinya, kemudian menepuk punggung pemuda itu keras-keras. Ame meringis—teringat dua luka sayatan yang pernah ada di sana.
Jules benar-benar berbeda. Selama ini ia hanya melihat gadis itu dengan t-shirt longgar, jins yang juga longgar, dan gelang norak yang membuatnya terlihat seperti hippie. Sekarang dia makin terlihat sebagai perempuan—gaun hitam selutut dan ikat pinggang besar yang pas dengan warna rambutnya, yang kini tertata rapi ke belakang. Mengesankan, memang—tetapi tidak memukaunya. Tidak ada ketertarikan.
"Tumben jadi perempuan. Namamu bukan Julian, iya kan?" tanya Ame sarkatis. Jules tertawa. Mengingat sarkatis, ia jadi ingat seseorang yang juga—
"Hei, aku lebih suka datang ke mari dengan tuksedo dan pantofel, tahu. Mengerti 'kan, crossdressing," katanya ringan. Melihat beberapa perempuan yang menoleh ke arahnya, ia mengganti topik. "Kau keren juga dengan pakaian resmi, Say."
Ame tersenyum sinis. Setelan tuksedo sewarna malam dengan kemeja putih dan celana pantalon hitam , ditambah dasi kupu-kupu konyol berwarna merah amat sangat tidak sesuai dengan wajahnya yang kusut, 22 tahun, dan single. Terserah, lah. "Mereka masih menganggapku anak punk yang mengecat rambutnya." Ditatapnya karpet putih yang tergelar di sepanjang jalur pengantin. "Itu kakakku."
Setiap hadirin menepi agar bisa melihat kedua pengantin dengan jelas. Suasana berubah hening; tergantikan dengan musik lembut yang mengalir. Dan itulah mereka, Aya dan Takashi. Kakaknya terlihat anggun dengan gaun pengantin, dan Takashi terlihat berwibawa dengan setelan megahnya. Ada sesuatu yang menakjubkan dalam pernikahan, baginya—seperti sebuah generasi baru, cabang keluarga yang baru.
Dibanding dengan orang biasa lainnya, kakaknya memang sedikit telat dalam urusan menikah. Perjodohan usia remaja adalah hal lumrah di Fukui. Aya tidak termasuk salah satu di antara mereka; bibinya tidak punya kewenangan untuk mengatur siapa suami Aya dan seterusnya. Paling tidak itu membuatnya bahagia, sebab sekarang Aya menikah karena cinta.
"Tidak berniat jadi groomsman?" celetuk Jules tiba-tiba. Matanya masih terpaku pada kedua pengantin yang sekarang sedang bersalam-salaman dengan para hadirin.
Ame menjawab pendek. "Tidak."
"Tidak berniat menyusul kakakmu?" goda Jules.
"Tidak!"
"Tidak ada yang mau denganmu kalau kau cemberut terus," komentar Jules sambil lalu. Gadis itu tersentak, menoleh ke arah Ame lagi. Kali ini pertanyaannya hanya berupa bisikan. "Kau masih menyimpan barang-barang itu?"
"Ya. Sekarang kau harus mengembalikannya."
Jules menggeleng. "Tidak! Justru karena itulah aku memberikannya padamu." Ditariknya bahu Ame menjauh dari kerumunan. "Pisau itu... kau tahu pisaunya? Saat aku melihat benda itu, di meja Kenta-sama... Ada detail yang sangat, sangat, sangaaat mungil..." gadis itu mengatur napasnya sesaat. "Di situ tertulis: maafkan aku, Pangeran Takumi. Aneh sekali! Kau tidak berpikir Kenta-sama yang mengukirnya, hah? Mustahil. Tulisan itu sangat... kuno, seperti sudah dibuat berpuluh-puluh tahun lalu. Aku tahu benda itu ada hubungannya denganmu, jadi aku... mengambilnya."
Ame terhenyak. Ia tidak heran Jules mengetahui soal Takumi, dia pernah menceritakannya sedikit. Namun, pisau itu... detail yang sangat mungil itu terlewat oleh matanya. Maafkan aku, Pangeran Takumi. Menyeramkan sekali.
Ia memperkirakan ingatan-ingatan menyakitkan datang lagi setelah mendengar nama itu, tetapi tidak. Tidak ada ingatan apa-apa soal ukiran itu.
"Wow. Terlalu berat buat otakmu, ya?" pertanyaan Jules menyadarkannya. "Aku mengambil katana juga agar tidak ada kecurigaan," tambahnya. "Oh, nikmati acaranya, ya, Say. Lihat-lihat sekeliling; barangkali kau menemukan putri impianmu!"
Jules berjalan mendekati kerumunan, mulai berbicara dengan orang-orang yang tidak ia kenal. Sementara Ame merasakan pisau yang tersimpan di saku dalam jasnya mulai memberat. Apa masa lalunya semengerikan itu?
x.x
Ketiga pegawai Miraculous Wedding itu tersenyum—paling tidak membuat kesan seolah tersenyum. Mereka berhasil. Ya, semua berjalan sesuai yang mereka harapkan. Dan yang paling membanggakan, merekalah pengatur pernikahan ini.
"Aya-san dan Takashi-san kelihatan bahagia sekali," gumam Tabitha sambil tersenyum-senyum sendiri. Ditatapnya kedua pengantin, menghela napas lembut. "Mereka saling mencintai, iya kan?"
Genma mengangkat bahu. "Segala hal tentang pernikahan ini terlalu manis buatku," ia tertawa pelan. "Hei, aku harus pegi. Kalian; jaga diri baik-baik." Dan ia memang pergi.
Kalian?
Rira menoleh. Di sebelahnya sekarang hanya ada Tabitha, masih memandangi hiruk pikuk resepsi dengan mata berbinar. Yap, lagi-lagi ditinggal berdua dengan seorang gadis yang lebih suka kucingnya daripada dirinya sendiri. Dan seperti biasa, Rira tidak tahu harus berbicara atau tidak. Percuma saja.
Bagaimana pun, ia bisa mencoba berbicara dengan satu-satunya orang yang tidak menyinggung-nyinggung masalah pangeran. Bukan Takumi, tentu saja. Rira bahkan ragu gadis itu mengetahuinya. Keempat temannya yang lain merasa harus bersikap sedikit berbeda di hadapannya, menjadi agak segan—semua karena "mantan pangeran" menyebalkan itu.
Semua pengendali listrik memiliki garis keturunan kerajaan di darah mereka. Keluarga ningrat. Yuki sebenarnya adalah seorang putri raja, dan seterusnya, dan seterusnya. Rira bisa saja dipanggil Pangeran Rira andai wanita berambut pirang itu tidak menjemputnya dari kehidupan manusia dan membawa anak—sekarang pemuda—itu ke Moonshire Edge. Membebaskannya dari segala tuntutan menjadi sosok anak laki-laki sempurna yang menikahi putri cantik setelah menyelamatkannya dari seekor naga.
Ya. Di kerajaan lamanya, seorang pangeran harus merangkap menjadi ksatria.
x.x
Loh! Kok akhirannya nggantung gitu, sih?
Pernikahan Aya nggak bakal lama, mungkin cuma 2 chapter. Entahlah.
Entah kenapa 26 hari kemudiannya itu ada di tengah-tengah chapter, padahal bagusnya di awal cerita. Udahlah. Ceritanya makin terpotong-potong, ya?
Paling nggak, updated.
|
||||||