
Dunia, baginya, hanya ilusi. Tak perlu dijadikan pusat konsentrasi.
Rated: Fiction K - Indonesian - Words: 285 - Reviews: 4 - Favs: 4 - Published: 10-11-12 - id: 3064955
|
|
A+ A- |
Dia Menulis
ditulis oleh V. Vichi L.
Ada sebuah kisah,
dimana rajutan katalah pemeran utamanya
Ketika dua pandangan terarah
pada selembar kertas terbuka
Dia menulis;
menorehkan tinta;
kata-kata;
seluruhnya, dalam sebuah pena
Dia menulis
di sebelah daun jendela
Tertegun;
bergeming;
terbuai nada bernamakan kata
x
Kelabu, tulisnya,
kelabu untuk awanku
Mengapa, kutanya,
mengapa tak memilih biru
Lalu dia tersenyum;
bergeming;
tak menggubrisku yang beride kering
Karena biru, jawabnya,
biru terlalu syahdu;
pura-pura;
imbangan kata palsu
x
Dia menulis
Seakan dunia tak lagi berputar
pada porosnya;
ditempatinya
Bagai dirinya tak butuhkan apa-apa—
selain penanya
Idenya mengalir,
serupa semilir
angin dingin yang membekukan;
tajam, tak pandang keadaan
Sekitar bagai selintingan
debu tak berharga yang hanya ingin diperhatikan,
ungkapnya
x
Dia menghidupi
apa yang dinamakan dunia fiksi
Dunia, baginya, hanya ilusi
Tak perlu dijadikan pusat konsentrasi
x
Ketika kemudian aku berani
mempertanyakan kepenasaran diri,
dia menulis—
menggeluti buku dan alat tulis
Tergugu aku mengungkapkan tanya,
di kala dia membubuhkan tanda baca
Sudah selesai, ungkapnya,
sudah selesai aku bercerita
Maka kutanya—akhirnya kubertanya,
mengapa?
Mengapa kau gemar
melibatkan diri dalam dunia tak nyata?
x
Karena, jawabnya,
karena aku ingin bahagia
Walau harus mengunci diri
dari dunia,
setidaknya aku mengerti,
bahwa ada seorang yang ingini
aku untuk mensyukuri
bagaimana cara duniaku berputar;
cara orang-orang di sekitarku mengedar
Dan aku ingin meyakini
bahwa aku tak lagi sendiri
tak lagi harus mengarungi
nyatanya dunia yang bagaikan delusi
x
Aku menulis, katanya,
untuk mengetahui
bahwa aku dapat bahagia
walau karena kata yang kutulis seorang diri
Dan bahwa aku dapat bahagia
walau dunia tak bekerja sesuai yang kuhendaki
x
Maka, dia menulis
Walau hatinya teriris
Walau harap kelabunya mulai menipis
Walau peluh membercak di pelipis
Namun tangannya—
tangannya terus menulis
|
||||||