Fiction » Manga »

Shunkashuuto
Author:
Uruta PM
Takayama Akira, Shirakawa Haruya, Serizawa Natsuki, Ashihara Fuyuki. Ini adalah cerita tentang 4 orang siswa dan bagaimana perjalanan mereka dalam menemukan cinta*huhuy XD*. Nama mereka melambangkan musim di Jepang. 4-shots. Please Read and Review! Ch 2 up!
Rated: Fiction K+ - Indonesian - Romance/Friendship - Chapters: 2 - Words: 5,008 - Reviews: 7 - Updated: 12-10-12 - Published: 10-14-12 - id: 3065515
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

Halo halo :D kembali lagi dengan saya si penulis gatau waktu yang hobi ngepost cerita dan menuhin page awal kategori Bahasa Indonesia www ^.^

Ini adalah 4shot, tiap shotnya menceritakan satu anak laki-laki dengan pasangannya masing-masing :D

Enjoy! Chapter 1 ini cerita tentang Takayama Akira


Ada seorang gadis yang setiap hari kulihat saat naik kereta di pagi hari. Dia selalu duduk di samping pintu gerbong kereta. Awalnya, dia selalu duduk dengan kepala tertunduk. Tapi akhir-akhir ini, dia selalu menatap keluar jendela. Entah apa yang dilihatnya di luar sana. Saat kereta berhenti di salah satu stasiun dan orang-orang masuk ke dalam, dia menatap keluar jendela dengan wajah tanpa ekspresi. Saat kereta mulai berjalan, dia masih menatap jendela itu dengan wajah datar. Tapi ada satu hari, saat sebuah daun maple gugur dan tersangkut di jendela itu, dia tersenyum.

Saat melihat senyumannya, tanpa sadar aku memikirkan, 'siapa namanya…'


Chapter 1 : The Fallen Leaves

"Ah, tidak kuat lagi! Benar-benar mengantuk!" seorang siswa dengan rambut di cat pirang mendengus sambil menutup wajahnya dengan buku teks sejarah yang isinya sedang diterangkan guru mereka di depan kelas.

Anak lain yang duduk di belakangnya melempar karet penghapus dan berbisik, "Haru-san, kaubicara terlalu keras!"

Siswa pirang itu melihat ke belakang dengan kesal, "Apa?!"

"Dia bilang kaubicara terlalu keras" tanpa disadari, ternyata guru sejarah mereka sudah berdiri di samping bangku si pirang. Tapi untunglah sebelum terjadi perang di antara mereka, bel tanda akhir pelajaran keburu berbunyi dan guru sejarah mereka pun keluar kelas setelah menyentil jidat anak bernama Haru itu.

"Dasar nenek tua!" Haru menyentuh jidatnya yang mulai memerah.

Anak yang duduk di belakang Haru mengambil kembali karet penghapusnya yang terjatuh di bawah bangku Haru, "Untung kau tidak dipanggil ke ruang guru lagi"

"Yuki-chan, guru-guru juga sudah bosan melihat wajahnya" anak laki-laki lain yang duduk di samping Haru ikut bicara.

Yuki menatap anak itu dan mengangguk setuju, "Kurasa begitu" ujarnya sambil tertawa kecil.

Haru menatap mereka berdua dengan kesal, "Tapi ada satu yang tidak kumengerti," Haru melihat ke arah bangku yang ada di samping baku Yuki, "anak ini…" di bangku itu ada seorang anak laki-laki yang sedang tertidur lelap dan menjadikan buku teks sejarah sebagai bantalnya.

"Selama apa pun dia tidur, tidak pernah ada guru yang marah padanya!" Haru menendang kaki meja dan itu membuat anak itu terbangun.

"Hoahhemm? Hmm…ada apa?" anak laki-laki yang wajahnya sangat tampan itu menatap ketiga temannya dengan bingung dan mata mengantuk.

"Itu karena Aki-kun pintar"

"Yuki-chan, maksudmu aku bodoh?" Haru menatap Yuki dengan ekspresi terkejut.

"Bukan, bukan itu maksudku…" Yuki menyilangkan jarinya sambil tertawa gugup.

"Kurasa itu karena Aki-san tampan" anak laki-laki yang duduk di samping Haru kembali ikut bicara.

Haru menjitak anak itu dengan kesal, "Natsu, maksudmu wajahku jelek?"

Anak yang ternyata bernama Natsu itu memegangi kepalanya yang sakit, "Bukan itu maksudku! Haru-san, kau tampan…hanya saja Aki-san jauh lebih tampan"

"Sama saja!" Haru kembali menjitak Natsu.

Haru terus memarahi Natsu sementara Aki hanya menatap dengan ekspresi bodoh karena tidak mengerti apa yang ketiga temannya bicarakan.

"Permisi…Takayama-san?" tapi belum sempat Aki bertanya, seorang gadis masuk ke dalam kelas dan langsung mendekatinya.

"Ya?"

"Hari ini…apa kau bisa datang ke klub?" gadis itu melihat Aki dengan pipi merona tapi wajahnya berubah sedikit takut saat menyadari ada Haru di sana, "ehm…untuk…pe…perrsiapan festival budaya nanti…"

"Ah," Aki mengangguk mengerti, "aku akan pergi, kemarin Nara-senpai sudah bicara padaku"

Anak perempuan itu tersenyum senang, "Ka…kalau begitu kami akan menunggumu!" kemudian dia berlari keluar kelas dengan gembira seakan melupakan keberadaan semua orang yang ada di dalam kelas itu. Kecuali Aki, tentunya.

Aki membereskan mejanya dan mengambil tasnya, "Aku duluan" dan tanpa menunggu jawaban teman-temannya Aki meninggalkan kelas.

"Dan gayanya yang dingin itu sangat keren…" Yuki dan Natsu mengangguk-angguk sendiri sambil melihat pintu kelas yang entah kenapa malah ditutup oleh Aki.

"Maksudmu aku tidak keren?" Haru mengangkat kepalan tangannya dan itu langsung membuat kedua temannya bergegas keluar kelas sebelum kena jitak.

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxX

"The train will arrive soon at platform 1. For your safety, please stand behind the yellow line…"

"Ugh…mereka semua benar-benar keterlaluan…" Aki memijit pundaknya dan masuk gerbong kereta dengan tubuh lemas. Tanpa menunggu apapun lagi dia langsung menghempaskan tubuhnya ke kursi pertama yang dilihatnya.

"Dia bilang 'kalau tidak ada kepentingan jangan datang kemari!' uuh…Koizumi-chan, ketua klubmu itu menyebalkan sekali!"

Aki menghela napas saat mendengar obrolan gadis-gadis yang duduk di seberang bangkunya. Sepertinya perjalan pulang kali ini tidak akan jadi perjalanan yang tenang.

"Tapi dia tidak bermaksud jahat kok…dia memang seperti itu…"

Mereka melanjutkan acara gosip mereka dan pembicaraan pun mulai merambat ke subjek yang lain. Aki kembali menghela mapas karena mau tidak mau dia harus mendengar apa yang mereka bicarakan. Tapi tiba-tiba sesuatu mengganggu pikirannya, bukan…bukan pembicaraan mereka tentang bagaimana bagusnya Arai-senpai dalam bikini…uhh, baiklah yang satu itu cukup mengganggu, tapi masih ada yang lain. Sepasang sepatu yang dilihat Aki, salah satu dari mereka memakai sepatu yang sangat familiar.

Mungkinkah…?

Aki mengangkat kepalanya dan melihat ke arah tiga gadis yang duduk berseberangan dengannya. Seperti dugaannya, gadis yang duduk di tengah adalah si gadis jendela yang ditemuinya setiap pagi!

Aki memperhatikan mereka bertiga yang sedang bercanda sambil menjodoh-jodohkan teman sekelas mereka dengan anak-anak kelas lain.

"Lalu Miki-chan…"

"Eh? Itu tidak mungkin!"

Kedua gadis yang lain mulai berebut nama siapa yang akan dipasangkan berikutnya.

"Kalian berdua, sudahlah…" si gadis jendela tertawa sambil menghentikan perdebatan yang sebenarnya sama sekali tidak penting.

Aki tanpa sadar terus menatap gadis itu.

Saat bersama teman-temannya, dia banyak tersenyum…

Saat masuk kereta tadi, Aki ingin itu jadi perjalan yang cepat dan tenang. Tapi sekarang, entah kenapa dia ingin jalur kereta bisa jadi lebih panjang dari biasanya agar Aki bisa melihat senyum gadis itu lebih lama.

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxX

Natsu memperhatikan Aki sambil mengemut lollypop-nya, "Aki-san…dari wajahmu, sepertinya hari ini kau sedang senang…"

Aki melihat Natsu lalu menyentuh wajahnya, "Oh ya, masa?"

Haru yang sedang membenarkan sepatunya langsung menatap Aki dan berkata, "Sejak pagi kau senyum-senyum sendiri…Yuki-chan malah mengira kalau kau sudah gila…"

"E? Kapan aku bilang begitu? Aku hanya bilang hari ini Aki-kun sedikit berbeda" Yuki menggelengkan kepalanya sambil berusaha meyakinkan Aki kalau dia tidak mungkin mengatakan kalau temannya itu sudah gila.

Seakan tidak mendengar pembelaan Yuki, Haru langsung bertanya hal lain, "Jadi…ada apa?" tanyanya dengan mata penuh kecurigaan.

"Aaaah…" Aki seperti mengingat sesuatu tapi dengan cepat dia mengalihkan pembicaraan, "tidak ada apa-apa…sudah ya, aku harus membantu klub teater…" kemudian Aki langsung melesat pergi tanpa memberi penjelasan apapun.

Haru melongo melihat kelakuan temannya itu, "Ck, ck," lalu dia menepuk pundak Yuki, "Yuki-chan, kau benar…dia sudah gila"

"Kapan aku pernah bilang begitu?!"

Sementara ketiga temannya masih bingung memikirkan 'mahluk' apa yang sudah merasuki Aki, dia sendiri sedang mengecat properti di ruang klub teater sambil mengingat apa yang terjadi tadi pagi.

Seperti biasa, saat pemberitahuan bahwa pintu gerbong akan segera ditutup, Aki kita masih berlari berpacu dengan waktu agar tidak terlambat masuk kereta. Sudah kebiasaannya datang ke stasiun 1 menit sebelum jadwal keberangkatan kereta. Karena itulah dia tidak pernah dapat tempat duduk dan berakhir dengan terjepit di antara bapak-bapak kantoran yang terlihat menyebalkan atau anak SMP yang selalu menatapnya dengan tatapan 'lapar'.

Pagi itu pun tidak terkecuali. Hanya saja, ada satu hal yang membuatnya berbeda. Saat Aki turun dari kereta dan melihat ke arah jendela kereta untuk melihat gadis itu, gadis itu pun sedang melihatnya! Karena tidak tahu apa yang harus dilakukan, Aki akhirnya mengatakan 'hati-hati di jalan' lalu membungkukan badannya. Tapi dia sadar kalau apa pun yang dikatakannya tidak akan terdengar karena gadis itu ada di dalam kereta. Aki akhirnya memukul kepalanya karena merasa bodoh.

Tapi saat dia melihat ke arah gadis itu, gadis itu menuliskan sesuatu di kaca jendela dengan jarinya. Tulisannya terbalik, tapi itu hanya 5 huruf hiragana jadi Aki bisa dengan mudah membacanya;

'A-ri-ga-to-u'

"Haaaa~h" Aki menghela napas dan tanpa sadar tersenyum sendiri. Dia tidak menyadarinya, tapi ekspresinya itu membuat semua anggota perempuan klub teater jadi salah tingkah.

Aki melihat jam tangannya, "Kurasa sudah waktunya…" dia bergegas pulang saat menyadari kalau kereta akan berangkat kurang dari 10 menit.

Sebenarnya Aki tidak yakin dia akan ada di sana. Mereka tidak pernah satu kereta saat pulang sekolah, hanya kemarin, di jam yang sama dengan sekarang. Tapi Aki terus berlari sambil berharap.

Tinggal 1 menit lagi…

"The door will be closed soon, please be careful"

Pintu kereta tertutup. Seorang gadis menatap ke arah pintu gerbong kereta dengan pandangan terkejut.

Aki melihat ke arah gadis itu dan bernapas lega, "Hah, kukira tidak akan sempat!" bisiknya pada diri sendiri. Lalu dia duduk di samping gadis itu.

Aki dan gadis itu duduk dalam diam. Aki melirik gadis itu dan meyakinkan dirinya.

Yosh, Baiklah…

"Apa…" tapi ternyata mereka berdua bicara bersamaan.

Aki dan gadis itu berpandangan.

"Kau duluan…" ujar Aki.

Gadis itu tampak ragu tapi setelah beberapa detik akhirnya dia bertanya, "Apa…kau baik-baik saja?"

Aki menatap gadis itu dan merasa heran dengan pertanyaannya, "Aku?" Aki menunjuk wajahnya sendiri, "tentu, kenapa?" tanyanya balik.

Gadis itu menunjuk pipinya sendiri. Aki heran tapi dia mengikuti gerakan gadis itu dan menyentuh pipinya. Ada sesuatu yang basah dan lengket menempel di sana. Aki menurunkan tangannya dan melihat warna merah membanjiri jari-jarinya.

Eeeh?

Aki terlihat bingung sebentar, tapi kemudian dia mengingat sesuatu dan langsung mencium bau di jarinya.

"Ah… ini cat…tadi aku…sedikit buru-buru" ujarnya. Aki tidak habis pikir kenapa setiap kali bersama gadis ini dia selalu terlihat seperti orang bodoh. Benar-benar memalukan.

Gadis itu tersenyum lega, "Oh, syukurlah…kukira itu berdarah…"

Aki hanya bisa menahan napas saat melihat gadis manis di hadapannya. Entah kenapa dia senang karena gadis itu mengkhawatirkannya. Walaupun mungkin itu hanya sopan santun, tapi Aki tetap merasa senang.

"Lalu…?"

"Hmm?" Aki tersadar dari lamunannya saat mendengar suara gadis itu.

"Apa yang ingin kautanyakan padaku?"

"Aaah…" Aki menggaruk pipinya dengan gugup, "aku…hanya ingin tahu…"

Gadis itu menatap Aki. Aki menunjuk jendela di samping pintu gerbong dan melanjutkan kalimatnya, "Apa yang kaulihat diluar sana?"

"Eh?" bukannya menjawab gadis itu malah melontarkan 'Eh?' dengan wajah bingung.

"Euh…bagaimana aku menjelaskannya ya…" Aki kembali menggaruk pipinya, "awalnya…aku selalu melihatmu duduk dengan kepala tertunduk di sana, tapi akhir-akhir ini kau selalu menatap keluar jendela. Aku hanya ingin tahu…apa yang kaulihat…"

"….."

"Ugh…" Aki menunduk karena merasa pertanyaannya memalukan dan tidak masuk akal. Tapi sang gadis tidak kunjung menjawab dan Aki bingung dia harus bicara apalagi. Aki mengangkat kepalanya dan betapa terkejutnya dia saat gadis itu menatapnya kaget dengan wajah semerah kepiting rebus.

"E? Ke…kenapa?"

Gadis itu langsung menunduk dan menggeleng keras. Wajahnya masih merah, kalau wajahnya bisa lebih merah lagi, dia pasti sudah semerah saus tomat.

Aki heran, "Ada apa? Apa kausakit?"

Gadis itu menjentikan kuku-kukunya karena gugup. Masih dengan kepala tertunduk gadis itu berkata, "Ada…seorang anak laki-laki yang selalu datang berdempetan dengan jadwal keberangkatan kereta…dia selalu masuk kereta saat gerbong sudah hampir tertutup…karena itu dia tidak pernah dapat tempat duduk dan selalu berdiri berseberangan dengan tempat dudukku…kukira…dia selalu menatap ke arah jendela di belakangku…jadi aku…hanya ingin tahu apa yang dia lihat…"

Kali ini wajah Aki-lah yang memerah. Dan sama seperti gadis itu, dia tidak bisa mengatakan apa pun.

Gadis itu mengangkat wajahnya. Mereka berdua saling menatap wajah masing-masing. Melihat betapa merahnya wajah orang yang ada di hadapannya, Aki dan gadis itu tidak bisa melakukan hal lain selain tersenyum karena malu sekaligus geli dan senang.

"We're approaching T station…"

Pintu gerbong terbuka, Aki turun sambil menatap layar HP-nya.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Koizumi Momiji

090-xxxx-xxxx

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Aki berusaha menahan senyumnya tapi tidak bisa. Dia tidak pernah membayangkan, hanya karena sebuah kontak baru di HP-nya kebahagiannya bisa overload seperti itu. Aki mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan mulai bergerak tidak karuan.

"Yatta!"

Di tengah tarian tidak jelasnya, HP-nya tiba-tiba bordering. Aki melihat layar HP-nya dan ternyata sebuah e-mail mendarat di sana.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

From: Koizumi Momiji

Subject: Di luar Jendela...

Aku bisa melihatmu...

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Aki langsung berbalik ke belakang dan terkejut karena ternyata kereta belum berangkat lagi. Momiji melihat keluar lewat jendela dan melambaikan tangannya.

E…eeeeeeeeeeee?

Aki terdiam dengan perasaan campur aduk. Kalau ada satu permintaan yang bisa langsung dikabulkan, Aki akan berharap untuk menghilang ditelan bumi saat itu juga.

"Ugh…memalukan sekali…padahal aku sudah mencoba keluar dari kereta dengan gaya sekeren mungkin…" Aki berjongkok sambil bergumam pelan. Momiji tertawa kecil melihat itu.

"Attention, please stay away from the door as they close…"

Kemudian kereta pun mulai berjalan meninggalkan stasiun.

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxX

"The train will be arriving soon at platform 1…"

Suara cantik operator stasiun terdengar dan Aki langsung mempercepat larinya.

Ada seorang gadis yang selalu duduk di samping pintu sambil melihat keluar jendela. Awalnya aku tidak tahu apa yang dilihatnya diluar sana. Tapi hari ini aku bisa pastikan kalau yang dia lihat dari jendela itu adalah aku yang sedang berlari untuk mengucapkan selamat pagi.


~The Fallen Leaves~

-END-

Begitulah...jadi bagaimana perasaan kalian setelah baca fic ini?
kalo ada waktu kasih review yapz!

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .