
Ini hanyalah sebuah kisah tentang remaja-remaja yang beranjak dewasa. Tentang cinta, persahabatan, hal-hal lucu, bahkan hal-hal mesum. /"Apa, hentai!"/ Bagaimanapun juga, ini hanyalah cerita tentang remaja polos yang beranjak dewasa. Rated T semi M for dirty talks. Warning inside. Author tidak pandai membuat summary.
Rated: Fiction T - Indonesian - Friendship - Words: 1,496 - Published: 11-14-12 - id: 3074272
|
|
A+ A- |
Ini adalah collaboration yang dibuat oleh dua orang author hentai, sselamat membaca!
Rated: T semi M, untuk pembicaraan kotor.
Warns: Lot of typos, alur gak jelas, plot gak jelas, dll.
HENTAI OR LOVE?
.
.
"Dasar bishounen-ai!" Teriak Novia pada Andre teman sesama otakunya. "Terserah katamu sajalah bishoujo-ai!" Balas andre pada novia. Mereka sama-sama saling tersenyum puas dengan pertengkaran mulut mereka. "Setelah ini pelajaran siapa?" Tanya seorang gadis berkacamata tebal disamping Novia. "Entahlah, tidak peduli." Ucap Novia enteng. Entah siapa sebenarnya mereka berdua ini. Yang jelas mereka adalah pemeran utama dalam fic ini. "Sekarang kemana? Ke kelas saja ya?" ucap gadis berkacamata tadi. "Hn." Balas Novia tak acuh. Mereka yang sepertinya sahabat dekat ini berjalan beriringan dalam diam menuju kelas mereka.
"Dena menurutmu episode 600 sudah terbit belum?" ucap Novia pada sahabatnya yang ternyata bernama 'Dena' itu. "Sudah, keren sekali, loh!" Ucap Dena antusias. Tiba-tiba Andre yang tadi sempat saling bertengkar dengan Novia muncul lagi didekat mereka berdua. "Kenapa aku harus sering bertemu denganmu sih? Bisa-bisa aku terkena alergi karena terlalu sering bertemu denganmu." Gerutu Novia. "Apa salahku, aku kan hanya ingin lewat untuk menuju ke kelas sebelah, tapi tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan kalian yang mengundang untuk ikutan berbicara." Ucapnya panjang lebar tanpa jeda. "Berarti kau penggosip" ucap Novia. "Terserah! Dasar otaku musiman!" ucap andre.
Dan entah kenapa salah satu pemeran di fic ini hanya diam memandangi pertengkaran kecil mereka. "Setidaknya aku bukan otaku hentai sepertimu!" ucap Novia bers tegang. "Apa! Hentai?!" Terdengar suara menyahut yang entah kenapa tiba-tiba ikut bergabung dalam pertengkaran kecil ini. Dan serentak orang-orang yang ada di TKP pun menoleh kearah wujud yang entah wujudnya seperti apa author pun tak tahu.
Wujud tadi pun mendekati perkumpulan setan-setan itu. "Siapa tadi yang mengucapkan kata hentai? Parah sekali!" Ucap wujud tadi. "Aku! Apa ada masalah dengan kata HENTAI?!" Ucap Novia menantang. "Kau berotak mesum, ya?" Ucap wujud itu menggoda. "Tidak! Aku meneriaki Andre berarti Andre yang mesum!" Elak Novia.
TTTTTEEEEEEETTTTTT! Bel masuk pun terdengar, satu persatu pun mereka kembali ke kelas tanpa merasa ada sesuatu yang telah terjadi. Yah, memang begitulah kehidupan novia penuh pertengkaran, candaan namun penuh juga dengan tentang errr.. hal kau tahulah mesum. Novia menoleh pada teman sebangkunya yang bernama errr siapa tadi? Oh ya, Dena "Mahkluk tadi siapa ya? Aku tidak kenal kenapa bisa-bisanya muncul tiba-tiba saat aku berteriak HENTAI?" ucap Novia panjang. "Rifni." Ucap Dena singkat, padat, jelas dan satu lagi MENYAKITKAN sangking singkatnya. Hanya mendapat satu jawaban Novia pun terdiam dan kembali mendengarkan pelajaran. Atau lebih tepatnya melamun sambil menatap kedepan tanpa ada satu pelajaran pun yang masuk ketelinganya.
Lamunannya pun buyar akibat ada ketukan pintu yang menyelamatkannya dari penjelasan pelejaran fisika yang sangat membosankan. "Permisi, maaf mengganggu sebentar." Ucapan sopan dan pelan dari seorang makhluk bernama guru yang tiba-tiba masuk kekelas elite mereka.
"Jadi, anak-anak mohon didengarkan sebentar. Sekolah kita akan mengadakan renovasi. Agar ditingkat dibagian gedung yang kalian tempati ini. Jadi selama masa renovasi kalian akan belajar di ruangan aula karena ruangan yang tersisa hanya itu dan karena aula kita terhitung cukup luas, maka kalian akan digabung dengan kelas sebelah, kelas 8.7 " Ucap guru itu. Terdengar gemuruh suara anak kelas 8.6 tidak setuju dengan keputusan tiba-tiba itu.
Mereka tidak setuju dengan apa keputusannya dikarenakan kedua kelas ini sedang bersitegang. Terkecuali seorang mahluk yang mungkin bertanduk setan ini hanya diam saja dengan wajah enteng. Sepertinya tokoh kita yang satu ini mulai tertarik dengan wujud yang saat istirahat tadi muncul dan ikut-ikutan nimbrung bersama mereka. Oh ya, siapa nama wujud tadi? Oh.. suatu nama yang tidak umum, RIFNI!
Entah sejak kapan pelajaran berlanjut dan entah kemana guru tadi yang mengumumkan perpindahan kelas itu. "Apa-apaan sih, kenapa harus digabung dengan anak kelas 8.7?" Tanya Dena. Entah sejak kapan gadis berkacamata itu lupa kalau temannya yang bernama Novia itu super-duper-gak-pernah peduli dengan masalah kelas. "Terserah." Ucap Novia.
Esok paginya, terlihat 'wujud' tinggi, putih, berambut emo, dan berbehel sedang berjalan ke arah aula. "Siapa sih itu? Aneh sekali." Tanya gadis berambut cokelat itu. "Shhhhh, kemarin 'kan aku sudah memberitahumu, bahwa nama dia itu Rifni, dan kabarnya dia cowok ter-hentai di sekolah ini." Ujar Dena. "Oh." Tanggapan singkat Novia.
"Omong-omong kelas kalian digabung dengan klas 8.7 dan dipindah ke aula, ya?" Tanya Andre dengan tiba-tiba tanpa diketahui kapan kedatangannya. "Ya." Jawab Dena singkat. "Kalian ada masalah dengan kelas 8.7, ya?" Tanya Andre lagi. "Aku tidak tahu, aku tidak peduli, dan aku tidak mau tahu." Jawab Novia.
.
.
'TEEEEEEEEEEEEETTTT' Bel istirahat terdengar dengan nyaring. "Istirahat ditunda dulu. Kalian harus mencatat ini terlebih dahulu." Ucap seorang guru dengan tegas dan nada yang menunjukkan bahwa dia tidak ingin ucapannya dibantah. Terdengar keluhan dari semua murid yang ada disana. Dengan ogah-ogahan, mereka pun mencatat tulisan yang ada di papan tulis sambil menghiraukan ocehan tidak jelas guru tersebut tentang pelajaran biologi.
Tanpa peduli apa ocehan guru itu, Novia dan Dena pun membuka bekal mereka dan mulai memakan bekal mereka bersama secara terang-terangan di meja mereka yang terletak di paling belakang. "Dasar guru tukang korupsi!" Terdegar suara anak lelaki yang bernama Rangga meneriaki guru itu saat guru itu sudah keluar kelas. Untung saja guru tersebut tidak mendengarkan ucapan anak tersebut. Novia dan Dena hanya diam saja walaupun dalam hati mereka setuju dengan teriakan anak tersebut.
"Oh ya, aku jadi ingat dengan fiksi yang waktu itu kita baca tentang hal-hal mesum." Kata Dena di tengah-tengah kegiatan mengunyahnya. "Iya, karakternya hentai semua, ya!" Jawab Novia dengan antusias, tidak sadar bahwa suaranya cukup keras untuk didengar murid lain. Tiba-tiba sesosok 'wujud' datang dengan tiba-tiba dan langsung ikut dalam pembicaraan mereka. "Apa, hentai?! Kau ini parah sekali!" Teriak 'wujud' tersebut. "Memangnya itu masalah bagimu kalau aku hentai?!" Balas Novia sambil berteriak. "Hah, kau hentai, ya?!" Tanya 'wujud' tersebut agak terkejut. "Kalau iya, memangnya masalah bagimu, hah?!" Balas Novia lagi. 'Wujud' tersebut hanya terdiam dan beranjak pergi sambil tersenyum-senyum tidak jelas.
"Hei, mereka itu walaupun cewek juga, hentai loh!" Adu wujud bernama Rifni tersebut ke teman laki-lakinya yang bernama Bani. Bani 'pun tertawa dan tersenyum tidak jelas seperti Rifni tadi, entah memikirkan apa. Novia dan Dena pun melanjutkan kegiatan makannya tanpa peduli dengan kegiatan anak-anak tersebut.
Selang beberapa waktu kemudian, Rifni 'pun datang kembali ke arah mereka sambil membawa-bawa gagang sapu yang sapunya sudah hilang. Dia lalu memegang sapu tersebut di depan 'itu' nya dan bertanya, "Bagaimana kalau sepanjang ini?" Tentu saja Novia dan Dena yang merupakan anak hentai mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Rifni, maaf, penis. Dena 'pun lansung menyahut, "Tentu tidak akan masuk, Ni." Kata Dena santai dengan muka mesumnya.
Mimik Rifni 'pun langsung cengok, lalu dia berkata dengan antusias, "Iya, iya, benar sekali!" Katanya dengan senyum mesum terpampang di wajahnya. Rifni 'pun langsung mengadu kepada temannya yang duduk di dekat Novia dan Dena. "Hei, Tresna, Afi, 'kan tadi aku bilang 'bagaimana kalau ada yang sepanjang ini?'. Lalu dia bilang 'kalau sepanjang itu tidak akan masuk'. Parah, ya?" Adu Rifni. "Aih, parah. Cewek 'kok kata-katanya seperti itu." Ucap Tresna. "Astaga.." Kata Afi yang duduk disebelah Tresna dengan muka geli.
"Memangnya kenapa?" Kata Novia dengan polosnya. Dena disebelahnya hanya tertawa-tawa. "Aih, parah sekali kau ini. Kalian kan perempuan." Gerutu Tresna. Tanpa merasa terganggu Novia malah bertanya, "Kalian tahu tidak, doggy-style itu apa?" Tanya Novia dengan wajah polos yang lansung berubah menjadi wajah mesum. Diam sejenak, lalu terdengarlah suara tertawa Rifni dan Tresna. Afi 'pun secara tiba-tiba berlari ke arah depan dengan muka yang memerah dan mengadu ketemannya, Liandy.
Liandy 'pun kaget dan segera mengadu ke Rangga. Dan begitu 'pun seterusnya, Rangga 'pun mengadu kembali ketemannya, Aldi. Dan mereka 'pun beramai-ramai menghampiri Novia dan Dena. Rangga mengambil gagang sapu dan berlagak memegang mic, lalu bernyanyi, "Doggy-style, doggy-style~" Mereka pun mendekati Novia dan Dena lalu bertanya-tanya tentang pengalaman hentai mereka. Seorang anak bernama Taufik 'pun ikut bertanya-tanya walau tidak diundang. Sedangkan tokoh utama yang tadi menyebabkan kekacauan ini malah diusir. Bisa ditebak siapa orang tersebut.
"Hei, bagaimana kalau kita buat club hentai saja?" Ujar Rangga, seorang cowok berambut jigrak yang tadi bernyanyi tidak jelas dengan suara fals. "Oke, siapa aja anggotanya?" Tanya Novia sangat antusias. "Kita semua yang ada disini saja, kecuali anak itu." Jawab Liandy sambil menunjuk sosok Rifni yang sedang memainkan handphone-nya. Rifni yang merasa tersinggung 'pun menoleh sesaat, lalu mengerucutkan bibirnya.
"Gimana kalau nama club ini, club bkp? Maksudnya bokep." Usul Novia. "Oke, deal?" Seru Aldi. "DEAL!" Teriak semua anak yang ada disana yang menyebabkan suara yang sangat berisik di kelas tersebut. Ketua kelas 8.7 'pun berteriak, "HEI, DIAM!" Sontak semua anak yang tadi berteriak 'deal' pun terdiam dan pura-pura membaca buku.
Dan itulah awal dari kekacauan hidup seorang NOVIA PITALOKA.
.
.
TBC
a/n: Bishounen-ai = Pecinta lelaki.
Bishoujo-ai = Pecinta perempuan.
Hentai = Mesum.
Chap 1 mungkin masih tidak jelas, kalau ingin lebih jelasnya, tunggu saja chap 2! Terima kasih sudah membaca! Silahkan reviewnya.
.
.
|
||||||