
3 anak remaja yang akan dipertemukan dan akan berusaha memperjuangkan hidupnya satu sama lain. Dan beberapa kenyataan yang pahit bagi diri mereka masing2...
Rated: Fiction K+ - Indonesian - Fantasy - Chapters: 2 - Words: 100,397 - Updated: 12-09-12 - Published: 12-06-12 - id: 3080541
|
|
A+ A- |
NB: Ini pesenan temen, dia minta aye upload disini /headshot
NO REPOST-ane terima komentar tapi ga akan di edit, soalnya sebenernya ini udah di kasih ke penerbit, lagi dalam proses dibaca :3
The Red Eyes: Resurrection of Bijuu
PROLOG
-PART ONE-
Aku yakin kalian tidak perlu tahu siapa aku, siapa namaku, kapan aku ulang tahun, biodataku, bagaimana ciri-ciri diriku, dan yang paling penting kalian tidak perlu tahu seberapa buruknya diriku. Aku hanya siswa biasa, siswa yang tidak punya teman, kecuali satu orang yang mungkin sebaiknya kuanggap sebagai teman, karena dia selalu saja mendekatiku. Seperti berusaha mengurangi dirinya yang kurang punya teman, jadi dia mendekatiku.
Bukan maksudku sombong, tapi sepertinya dia mendekatiku awalnya karena dia tahu aku adalah anak populer yang-entah-dari mana bisa dianggap populer. Padahal aku selalu bersikap dingin pada orang-orang, aku merasakannya sebenarnya. Aku hanya tidak mau berteman karena sebuah alasan di masa lalu.
Tahunya sekarang ada orang yang selalu mendekatiku. Kalau kuperhatikan lagi dia memang agak dijauhi orang-orang di kelas. Aku juga tidak mengerti mengapa.
Lalu menurut kalian bagaimana kalau aku menyembunyikan sebuah rahasia dari orang-orang? Rahasia itu tidak bisa diterima semua orang ... semua orang. Kalau aku membuka rahasia ini, semuanya pasti akan menganggapku sebagai kutukan. Ah, kenapa aku malah bercerita hal ini?
Oh, percayakah kalian dengan mitologi? Monster? Makhluk-makhluk lainnya? Yang sampai sekarang dianggap sebagai misteri? Di sini maksudku kalian percaya atau tidak, bukan menyembah atau tidak. Kenapa aku bertanya seperti ini? Karena aku percaya bahwa mereka memang benar-benar ada. Bahkan mereka selalu ada dimana pun. Tapi tidak sembarang orang yang bisa melihat mereka. Ini bukan indera keenam, atau apalah, tapi ini memang karena pengaruh rahasiaku yang menimbulkan aku bisa melihat kehadiran mereka. Rahasiaku adalah ...
Saat ini sedang musim semi. Aku benar-benar mengharapkan musim panas segera tiba. Aku butuh menghindari orang-orang di sekitarku. Mereka menurutku sangat banyak. Walau pun sebenarnya di kelas hanya berjumlah dua puluh tujuh orang beserta satu guru, tapi mereka semua menyebalkan.
Yang satunya membicarakan "bagaimana? Mau ke bioskop sekarang atau tidak?" lalu yang lainnya berkata "hari ini apa yang akan kau lakukan? Menumpahkan sambal di sekeliling mulut kloset atau menaruh cicak di dalam baju ?" dan yang lainnya berkata "aku sebal dengan ayah ibuku, mereka selalu ada di rumah walau pun pulang sore, mereka selalu menyuruhku untuk belajar, makan bersama padahal aku ingin sendiri di kamar, membereskan kamarku, dan menemani adikku belajar!" lalu ada juga yang berkata "orang tuaku tidak mengizinkan aku berpacaran dengan Pat hanya karena dia pernah ugal-ugalan dijalanan! Orang tua memang menyebalkan!"
Kebanyakan menceritakan masalah orang tua.
Lalu temanku yang satu ini memang tidak membicarakan orang tua, karena ibunya sendiri sudah meninggal saat melahirkannya, ayahnya—katanya ayahnya yang brengsek meninggalkannya saat dia masih butuh kasih sayang orang tua, umurnya masih bulanan—dan tidak pernah berkunjung atau kembali sama sekali. Aku tidak mengerti perasaannya yang tidak pernah sekali pun bertemu orang tuanya, tapi aku mengerti di saat umur muda ini, tidak memiliki orang tua. Tapi aku sendiri tidak mengerti bagaimana merasakan dimarahi ini itu oleh orang tua, karena aku memang jarang bertemu dengan mereka, dan saat ini ... lima tahun yang lalu ... aku tidak mau menceritakannya.
Ke topik yang lain, sebaiknya aku menceritakan dimana tempat tinggalku. Aku tinggal di New York, Manhattan. Dan aku tinggal di sebuah apartemen sederhana, setidaknya pantas untuk ditinggali. Aku tidak bekerja, karena sebuah organisasi memberiku biaya hidup, karena aku tanggung jawab mereka. Tadinya aku lebih memilih kerja dari pada dibiayai mereka, karena aku sudah tidak mau lagi berurusan dengan mereka. Tapi tidak ada salahnya menerima tangan dari mereka.
Apartemenku hanya ada ruang tamu yang digabung dengan ruang keluarga, sebuah ruangan dapur kecil, bahkan kulkasnya tidak begitu besar, lalu satu ruangan kamarku yang menyambung ke kamar mandi. Ruang tamu hanya ada televisi, sebuah sofa panjang dan satu buah sofa untuk satu orang, meja kopi, lalu di bawahnya ada karpet. Kamarku hanya kamar anak cowok yang biasa—berantakan. Kalian bayangkan saja sendiri bagaimana berantakannya kamar anak cowok, hanya saja tidak ada remah-remah cemilan, karena itu bisa mengundang kecoa. Dan aku tidak mau ada makhluk itu di rumahku—bukan berarti aku takut pada serangga itu. Lalu di dapur seperti yang kubilang tadi hanya ada kulkas kecil yang ada di antara meja tempat memotong-motong makanan, lalu kompor, rak kecil berisi piring, gelas atau cangkir, dan beberapa pasang sendok garpu. Lemari kadang berisi camilan dan bubuk-bubuk minuman instan. Kulkas diisi makanan mentah, camilan yang sudah dibuka, dan beberapa botol minuman—dan aku benci alkohol, aku tidak menyimpan yang seperti itu.
Di rumah aku tidak melakukan apa-apa. Jadi aku hanya disibukan oleh pekerjaan rumah dan belajar. Atau kalau ada waktu aku sempat membaca komik dan nonton anime (walau hanya sebulan sekali atau dua bulan sekali.) Bahkan aku pernah membaca dua ratus halaman buku pelajaran tanpa dilewat dan nonstop. Sebenarnya aku bosan, aku ingin melakukan sesuatu. Kalau sudah merasa sangat bosan, aku melakukan sesuatu di atap apartemen, berbicara dengan-nya, pokoknya kegiatan mustahil di kehidupan orang-orang biasa.
Mungkin ada orang yang sepertiku juga, tapi mereka memilih: masuk ke dunia sebenarnya dimana mereka berada, atau masuk ke dunia manusia dengan kegiatan biasa dan cukup terhibur, atau memilih keduanya?
Aku adalah orang yang termasuk memilih masuk ke dunia biasa, tapi aku merasa bosan. Kadang aku juga menyesali apa yang aku pilih, karena tidak mengikuti orang tuaku. Tapi aku tidak mengikuti mereka karena aku lemah. Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku bisa melakukan hal yang sangat membekas di hati orang: merepotkan mereka. Makanya aku menjauh dari dunia yang sebenarnya di sanalah tempatku berada.
Seharusnya aku tidak ada di dunia yang penuh kegiatan biasa ini. Atau aku memilih kedua dunia itu. Semua orang yang memiliki rahasia sama sepertiku seharusnya ada di dunia yang sebenarnya di sanalah mereka berada. Tapi karena takut, atau tidak terima, atau tidak mau mati, itulah yang menyebabkan mereka tidak mau ada di dunia mereka berada. Dan aku termasuk orang yang tidak mau mati. Karena ada sebuah kesalahan di masa lalu, yang awalnya disebabkan oleh diriku yang lemah, hingga menghancurkan segalanya bagi diriku.
Bukannya ingin semakin kuat karena melihat masa lalu, aku malah semakin lemah karena masa lalu ... Itulah kenyataan.
PROLOG
-PART TWO-
Aku orang yang berbeda! Aku adalah orang yang diceritakan oleh orang yang baru saja bercerita. Aku adalah orang yang selalu berusaha mendekatinya. Aku akui, memang aku melakukan hal itu, karena aku tidak mau kejadian terus berulang-ulang—yaitu orang-orang yang tidak mau mendekatiku. Aku memang cowok berkulit cokelat kehitaman yang menyebalkan.
Oh, dari pada terasa aneh, lebih baik aku mengikuti orang sebelumnya, yaitu tidak usah memperkenalkan diri, karena nanti juga kalian akan tahu siapa namaku dan nama temanku.
Kata kunci namaku adalah kuda. Nenekku bilang, jangan benci namaku, karena namaku adalah kekuatan. Dia tidak menjelaskan apa maksudnya. Tapi tiap kali aku menanyakan siapa orang tuaku, kenapa namaku harus dihubungkan dengan kuda, dan masih banyak lagi, tapi nenekku malah menatapku iba, seolah tidak mau kehilanganku dan berkata: "nenek tidak mau membicarakannya."
Tadinya aku mau bertanya saja pada kakekku, tapi ternyata kakekku pernah ketahuan sekali melihat dari jarak jauh sambil tersirat wajah sedih di mukanya. Jadi aku hanya mendesah kesal lalu kembali melanjutkan nonton acara televisi, atau kembali ke kamarku, atau pada saat kita sedang makan bersama di meja makan, aku cepat-cepat menghabiskan makanku, lalu ke kamar.
Tapi bukan berarti aku benci mereka, mereka ini baik sekali. Keluarga dari ibuku, mereka merawatku dari awal aku lahir, sampai saat ini. Dan pada saat ini umurku benar-benar berada di masa anak remaja labil. Dan di saat ini aku sangat membutuhkan perhatian, khawatir aku malah menjerumus ke keburukan, atau malah baiknya aku malah semakin masuk ke kebenaran. Tapi dari dua pilihan itu aku merasa netral-netral saja. Aku memang anak nakal, cuma karena tidak mengerjakan pekerjaan rumah, atau membantah guru karena memang aku yang benar, atau menjauhi beberapa teman karena memang memiliki sikap buruk. Tapi di kebaikannya aku mendapat satu orang yang mau menerimaku (walau pun memaksa), lalu aku bisa menjuarai pacuan kuda (dan ini dugaan awalku dari kata nenekku "namaku memiliki kekuatan." Mungkin ayah dan ibuku dulu ingin aku menang pacuan kuda?), kadang aku bisa menghibur para cewek yang ditolak temanku yang populer ini. Tapi mungkin bukan itu yang dimaksud nenek dan kakekku. Mereka selalu berkata: "hati-hatilah, waspadai sekitarmu, kau terlalu kuat untuk dikejar yang baik atau pun yang buruk."
Aku tidak pernah menanggapi serius masalah itu, mungkin saja itu hanya masalah mereka sudah tua dan mulai sulit untuk berpikir sehingga mereka ambil singkat dan mudah bagi mereka sendiri. Tapi memang benar, aku merasa ada yang aneh dengan diriku sendiri.
Misalnya sewaktu aku pertama kali masuk sekolah dasar, ketika aku berkenalan dengan teman-temanku, ada yang sudah mengetahui makna namaku, dia langsung tertawa terbahak-bahak. Tapi pada saat esok harinya dia tidak masuk sekolah karena kasus ditendang kuda yang diperintahkan pengendaranya sampai badannya terpental ke tembok dan tulang rusuknya patah. Aku tidak mengerti apa maksudnya. Yang jelas saat aku di sekolah dasar bukan sebab namaku mereka tidak mau mendekatiku. Tapi karena alasan kulitku cokelat kehitaman, mereka yang berkulit putih tidak mau mendekatiku.
Anak-anak SD masih belum mengerti arti namaku, tapi begitu di SMP, pada saat pelajaran biologi hampir beberapa orang mentertawakan namaku, termasuk guruku. Pada saat esok harinya lagi, guruku juga sama kasusnya, ditendang kuda yang diperintahkan pengendaranya hingga kakinya patah, lalu tiga anak yang tertawa paling keras di kelas diseruduk pengendara kuda misterius.
Mulai dari sana, tidak ada yang berani mendekati diriku, apa lagi mengejek namaku, atau akan terkena kutukan kuda. Aku menjadi anak terpojok. Banyak gosip yang lain, selalu menyalahkanku, misalnya insiden ketika guru geografi terpeleset di kamar mandi, karena sebelumnya aku yang mengepel kamar mandi. Memang iya sebelumnya aku mengepel di kamar mandi karena aku datang terlalu telat, tapi ada petugas bersih-bersih di sekolahku berkata bahwa itu salahnya karena sempat menumpahkan ember pelnya, dan dia tidak membawa lap, lalu dia pergi mencari lap. Ketika dia kembali ke kamar mandi guru geografi terpeleset. Lalu akal-akalan anak-anak nakal menyalahkanku, dan menyuruh petugas bersih-bersih untuk bungkam. Aku hanya mendesah pasrah.
Memangnya aku seburuk itu? Oh, tak lupa aku sudah dikeluarkan dari tiga sekolah, dan kutukan kuda selalu berlaku.
Ketika SMA, aku bertemu dengan wajah-wajah baru, aku melihat ke sekeliling kelas, berusaha melihat wajah-wajah anak-anak di kelas, dan tak satu pun yang kukenal dari sekolah sebelumku, berarti mereka tidak mengenal kutukan kuda, dan benar saja, beberapa orang hanya memandang skeptis ke arahku begitu tahu namaku, tapi tidak ada tindak lanjut.
Dan yang paling cuek adalah anak ini, orang yang kudekati hanya karena kepopulerannya. Dia hanya berkata "oh, salam kenal" sambil membuang muka.
Awalnya aku tidak mendekatinya, aku hanya seperti biasanya—menerima kesepian. Tapi lama kelamaan anak itu menjadi populer, dari segi akademisnya, tampangnya, fisiknya, gayanya, dan lain-lain. Dia juga pandai dalam olahraga, bukan maksudnya dia mengerti peraturan-peraturan olahraga, tapi kelincahannya—seolah dia sudah dilatih untuk bertarung. Dan aku mau mencoba menjadi temannya.
Niat awalku memang buruk, kusadari itu—aku hanya ingin dekat dengannya karena dia populer. Mungkin saja aku bisa ikut populer kalau dekat dengannya, walau pun dia tidak menghiraukan kepopulerannya—atau tepatnya dia tidak tahu kalau dirinya populer. Dan anak ini merasa seperti terusik kalau memiliki teman. Heran pikirku. Tapi dia bersikap berbeda, tidak membicarakan namaku yang aneh.
Karena sikapnya yang tidak membahas namaku, aku tidak mau memanfaatkannya lagi, tapi benar-benar ingin menjadi temannya.
Dan aku pernah bertanya kepadanya kenapa dia memakai softlens. Tapi dia malah memandangku sebal, lalu menaikan suaranya "jangan bahas mataku."
Dalam hati aku bertanya-tanya: aku kan hanya menanyai kenapa dia memakai softlens, tapi dia menjawab pertanyaanku seolah aku sudah bertanya: kenapa kau menutupi mata aslimu?
Kuputuskan untuk tidak bertanya hal itu lagi padanya.
Lalu pernah nenek dan kakekku ketahuan bertengkar masalah sesuatu tentang diriku. Awalnya aku hanya mau ke kamar mandi di lantai bawah karena kamar mandi yang ada di kamarku sedang ada masalah. Tapi ketika aku keluar dari kamar suara ribut dari lantai bawah terdengar. Aku melihat ke bawah dimana ruang keluarga pada bagian atasnya tidak ada lantai dari lantai atas, jadi aku bisa mengintip. Hanya saja aku duduk sambil berusaha menangkap suara kakek dan nenek yang sedang ribut. Jangan salah, rumahku hanya bertingkat, tidak berarti rumah ini besar.
"Jangan dilindungi terus, umur kita sudah tidak cukup, kalau kita meninggal dan dia belum siap, nanti dia akan kaget." Suara kakek menggema sampai ke lantai atas, bukan karena menaikan suara tapi memang suara kakek besar dan berat.
"Tapi dia masih kecil, kurasa dia juga masih belum mengerti mana yang salah dan benar." Suara nenek terdengar kecil seperti memohon.
"Dia bisa diserahkan pada mereka, mereka bisa mengajarinya yang benar."
"Tidak, kau tidak ingat kalau mereka berhak berpihak pada siapa pun? Bisa saja yang mereka ajarkan padanya malah membuatnya menjadi melakukan hal buruk."
Sejenak mereka terdiam seolah sedang berpikir. Tapi seolah aku baru sadar, awalnya kan aku mau ke kamar mandi? Jadi aku mulai merasakan kebelet, lari ke bawah, berusaha tidak tahu kalau ada mereka di ruang keluarga, tapi dari ekor mataku, mereka sempat kaget ketika aku berlari menuruni tangga. Tatapan mereka seolah berkata: seberapa jauh aku mendengar percakapan mereka.
Paginya terasa normal, hanya saja tingkah kakek dan nenek terlihat gelisah. Apa lagi ketika mereka menatapku, seolah baru saja aku melakukan hal yang mempermalukan mereka. Dan anehnya nenek terasa seperti menyogok, pagi-pagi dia menyediakan Taco kesukaanku. Sambil makan dengan cepat aku segera berangkat ke sekolah.
Tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, tapi aku yakin, tanpa perlu diminta suatu saat nanti yang mereka sembunyikan akan terbongkar.
PROLOG
-PART THREE-
Di awal, atau tepatnya saat ini aku bukan siapa-siapanya dari dua orang tadi. Tapi aku akan menjadi siapa-siapanya mereka nanti, hanya saja aku tidak tahu akan ada di sisi mereka atau tidak. Saat ini aku hanya seorang cewek Jepang biasa, masih tinggal di Tokyo untuk perpisahan terakhir dengan teman-temanku di saat SMP.
Aku sempat diajak liburan ke air terjun Nachi, tak ada yang spesial di sana selain berfoto-foto dengan teman-teman biasa. Sebenarnya spesial di sana hanyalah air terjunnya yang sangat menyejukan pikiran dan turun deras dengan lurus.
Hanya saja yang terasa biasa-biasa adalah teman-temannya. Aku tidak merasa spesial dengan teman-temanku di sekolah, walau pun aku memang dekat dengan mereka, bukan untuk saling memanfaatkan. Tapi mereka adalah perempuan biasa yang lebih senang main ke mall, atau berfoto-foto, atau semacamnya. Aku dijuluki mereka dengan perempuan tomboy karena dari hobi-hobi mereka tidak ada yang membuatku tertarik, tapi setidaknya mereka mau dekat denganku.
Mereka menceritakan beberapa pengalaman memalukan mereka di masa kecil. Sayangnya aku tidak bisa ikut bercerita karena ... aku tidak ingat masa kecilku, seolah ketika aku baru masuk ke kelas tahun ini, dan tiba-tiba duduk di kelas tiga SMP dan sudah mengetahui segala macam pelajaran, tapi ketika aku berkata seperti itu, semuanya merasa biasa-biasa saja lalu berkata "oh kalau begitu kita tidak usah membahas masa lalu" tanpa memasang wajah curiga dengan kehadiranku yang secara tiba-tiba saja muncul.
Lalu mereka membicarakan sekolah mana yang mereka pilih, dan memilih tipe-tipe cowok yang akan mereka cari di sekolah baru mereka. Mereka sedang membicarakan ini itu aku malah melamun.
Dan suara-suara itu selalu merasuki diriku, tolonglah bersikap normal nak.
Bukan suaraku, tapi suara yang lain, terasa jahat, bisa menghipnotis, dan aku benar-benar terhipnotis oleh kata-katanya. Jadi aku kembali bersikap normal, di atas kesadaranku, tapi seolah dari perintah suara yang merasuki diriku itu. Otakku berfungsi atas kehendakku, tapi aku melakukan ini terasa seperti disuruh, dan anehnya lagi aku tidak merasa keberatan kalau disuruh apa pun oleh suara itu, mungkin karena memang suruhannya yang tepat, agar aku bersikap baik?
Tapi siapa dia?
Hal aneh keduanya adalah, saat aku sudah kembali pulang dan dibawa dulu untuk berkumpul di sekolah, seorang supir taksi hadir pada saat tengah malam, menepuk bahuku, dengan mata menatap kosong dia berakata: "aku ditugaskan untuk menjemputmu olehnya."
"Siapa?" Tapi supir taksi itu tidak berkata apa-apa lagi. Dia diam seperti patung. Sambil mengangkat bahu aku hanya terima-terima saja, karena aku tahu siapa orang yang memanggil supir taksi seperti ini—sering terjadi sebenarnya.
Sebenarnya aku tidak tahu siapa orang itu, tapi aku tahu tindakan orang itu. Dia selalu membiayai hidupku selama ini. Bekerja pun tidak perlu, bahkan aku tinggal di rumah mewah tapi sendirian, dan itu bukan hasil jerih payahku, melainkan dibiayai orang itu. Sadar-sadar aku tahu dimana rumahku, bagaimana keseharianku, padahal aku hanya tahu diriku selama setahun ini. Aku tidak pernah ingat nama orang tuaku, kakek dan nenekku, tempat aku tinggal dulunya, atau semacamnya, kesimpulannya aku tidak tahu siapa aku.
Nama margaku pun aneh, dan tidak masuk akal. Kata kuncinya adalah delapan. Aku tidak mengerti apa maksud dari angka delapan atau kedelapan. Aku hanya hidup dengan nama marga itu, dan tidak ada yang merasa curiga dengan nama marga ini.
Suatu hari, seorang supir taksi yang berbeda menjemputku dan berkata: "anda harus ke New York sekarang." Tatapan kosong yang sama, dia seperti di hipnotis. Aku masih bingung maksud kedatangannya ke sini apa.
Tapi suara itu mengendalikanku lagi—bahkan lebih: biar kukendalikan dirimu untuk saat ini saja. Suara yang terdengar kuno itu membuatku pingsan, atau mengendalikan kesadaran jiwaku tepatnya. Karena ketika aku terbangun aku ada di rumah mewah, dan menandakan bahwa rumah itu benar-benar milikku. Aku melihat tanggal sudah melewati sehari dari aku di Jepang, dan ternyata aku sedang berada di New York. Saat aku melirik ke secarik kertas di sebelah kalender, aku melihat tulisan tertera di sana: "Apartemen barumu, kau akan dijemput setiap pagi untuk datang ke sekolahmu."
Sambil geleng-geleng tak mengerti aku mendesah kesal, lalu memutuskan untuk membersihkan diriku.
Beberapa lama setelah liburan, aku sudah dijemput oleh supir yang tiba-tiba datang melayaniku. Kali ini wajahnya biasa-biasa saja, tidak terhipnotis. Kalau begini aku sudah merasakan hal yang normal, hal biasa. Hanya saja masih terasa janggal, dari mana datangnya supir ini. Akhirnya aku mulai bertanya.
"Tuan ..."
"Jack saja." Katanya sambil tersenyum mengenakan jas rapi dan rambut hitam terpangkas rapi. Mobil yang dinaiki adalah BMW 640i Gran Coupe warna Vermilion Red Metalic. Bahkan mobilnya masih mulus, joknya pun masih terasa nyaman.
"Jack, siapa yang menyewamu?" Tanyaku.
Jack malah tersenyum ramah sambil masih memandang jalanan, "siapa? Dia bilang dia tidak boleh memberitahumu, karena kalau kau tahu siapa dia, nanti kau malah akan mendatanginya."
Lalu aku merasa ada yang aneh dengan si orang yang selalu membiayai hidupku, siapa sebenarnya dia? "Kalau begitu apa aku punya hubungan dengannya?"
Jack berdehem sebentar "tidak, tidak ada. Tapi menurut komentarku sendiri, kau dan pria itu memiliki beberapa kemiripan."
Merasa percakapan berakhir, aku tidak mau melanjutkan obrolan kami. Hanya saja terasa janggal, bahwa pria itu menyembunyikan sesuatu. Seolah aku sedang dijaga seorang agen rahasia, dan aku mengalami amnesia, lalu harus dilindungi karena sebenarnya di memoriku aku memiliki kunci yang sebenarnya.
Kenapa aku harus dilindungi seperti ini? Bahkan siapa yang selalu mengendalikan diriku selama ini? Kenapa dalam kehidupanku banyak sekali pertanyaan kenapa dan siapa?
Sesaat jalanan terasa terlewat dengan cepat dan kosong seperti bayangan kabur, karena aku tidak konsentrasi melihat ke jalanan.
Kembali bertanya pada diri sendiri, aku tak perlu repot-repot memikirkan siapa pria yang terus melindungiku, aku kembali bertanya siapa diriku sebenarnya? Sepenting itukah diriku?
Seandainya tujuan hidup sebenarnya kuketahui, apa yang harus aku lakukan setelah itu? Kalau pun ada yang harus kulakukan, pilihan yang harus dituju apakah baik atau buruk? Kalau baik akankah aku bahagia atau sedih? Kalau buruk apakah aku akan menjadi buruk atau memang inilah pilihan tepatnya?
|
||||||