Fiction » Action »

The Red Eyes: Resurrection of Bijuu
Author:
AsteriskKazuhoshi PM
3 anak remaja yang akan dipertemukan dan akan berusaha memperjuangkan hidupnya satu sama lain. Dan beberapa kenyataan yang pahit bagi diri mereka masing2...
Rated: Fiction K+ - Indonesian - Fantasy - Chapters: 3 - Words: 5,777 - Published: 12-09-12 - id: 3081397
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

3: My Name is Yukari Hatsu

-YUKA-

Penerbangan cukup sulit kalau Grif tidak memiliki dudukan di punggungnya.

Awalnya Yuka tidak ingin ikut. Tapi apa dayanya ketika dikendalikan sesuatu. Hingga dia tidak mendapatkan kesadaran. Biasanya yang mengendalikannya adalah suara yang ada di dalam dirinya. Paling ekstrimnya adalah kalau sudah mengendalikannya—seperti tadi.

Suara aneh itu selalu membayangi dirinya, menghipnotisnya, membuatnya tak berdaya dan harus mengikuti kata-kata itu tanpa bantahan sedikit pun. Tapi apa jadinya? Dia tidak pernah cerita pada siapa pun, karena dia yakin tidak akan ada yang percaya dengannya, dan dia tidak punya keluarga untuk bercerita. Hidupnya dibiayai seseorang yang tidak dia ketahui, yang jelas dia selalu dijelaskan bahwa biaya apartemennya sudah dibayar, makanan pesan antar yang menyehatkan pun selalu datang ke rumahnya. Tapi tidak seorang pun yang memberi tahu siapa yang melakukannya. Kemudian suara itu berkata: turuti saja kemauan orang itu, dia ingin memberimu kehidupan. Yuka tidak membantah. Jadi dia bertahan hidup selama ini karena orang itu. Yang anehnya dia tidak ingat bagaimana masa kecilnya dulu. Dia hanya ingat bahwa setahun yang lalu dia tinggal di Jepang, lulus, dan dikendalikan oleh suara itu untuk pindah ke New York. Bahkan orang yang selama ini membiayai hidupnya dikabarkan ada di New York juga. Menjaga Yuka dari jauh. Tapi setidaknya Yuka tidak pernah mengalami kesialan.

Nick memegang kendali Grif, bahkan kadang-kadang dia tidak perlu memegang tali kendali. Tujuan mereka adalah ke Racetrack Playa di Death Valley National Park. Membuat Yuka tidak bisa yakin apakah Grif bisa bertahan selama itu. Tapi mungkin saja bisa, dia kan monster? Yuka hanya diam. Tapi yang lebih diam di sini adalah Nick, yang memunggungi Ferus dan Yuka, bahunya merosot, melihat pemandangan di bawah tapi tidak seperti benar-benar melihatnya. Membuat Yuka agak sedih dan merasa itu salahnya.

"Nick" katanya lirih sambil mendekatkan diri pada Nick.

Nick menoleh dengan tatapan … sedih? "Kau tidak apa-apa?"

"Ya."

Yuka merasa tak yakin, sekali lagi dia membujuk Nick. "Katakan padaku apa yang sedang membuatmu sedih." Yuka juga melihat ke bawah dengan tatapan kosong.

"Tidak ada." Tapi Nick terlihat frustasi, dia mengusap wajahnya dengan kesal. "Tapi baiklah aku akan bercerita tentang—"

Tiba-tiba Grif berkaok kesakitan. Mereka oleng. Refleks Nick mengendalikan kendali, kemudian Grif berusaha kembali bangkit.

"Ada apa!?" Ferus kepanikan sampai nafasnya tak teratur. Dia juga mengusap-usap dadanya. "Kukira aku akan mati."

"Maaf semuanya. Sesuatu telah menembak badanku, bisa kalian lihat?"

Baru saja Yuka melihat ke bawah, dia melihat apa yang menembak Grif. Dan itu pasti sangat sakit rasanya. Bahkan Grif mengalami pendarahan.

"Ada tiga kristal menancap di badan Grif. Dan mengalami pendarahan."

"Apa?" Nick kepanikan.

"Sudah tidak apa-apa. Lebih baik kalian lihat sekitar, siapa tahu—awas!" Grif tiba-tiba kepanikan sendiri.

Yuka menoleh ke segala arah. Dan dia melihat ...

Sesuatu berbunyi seperti menabrak kaca. Tapi kaca itu tidak pecah. Ketika Yuka membuka matanya, dia melihat punggung seseorang melindunginya, dan di depan mereka terdapat angin yang membentuk perisai berwarna hijau. punggung itu adalah punggung Nick. Bahunya naik turun seolah dia juga sama kagetnya.

Ferus melihat ke segala arah juga, kemudian dia menemukan sesuatu dan berteriak: "di sana!"

Yuka dan Nick menoleh ke arah tunjukan Ferus. Mereka melihat seseorang yang terbang juga sama menggunakan angin hijau aneh itu. Tapi penampilannya sangat misterius. Dia memakai jubah bertudung berwarna hitam, menutupi seluruh tubuhnya. Bahkan tudungnya terlihat kebesaran sampai menutupi setengah mukanya.

Tapi terlihat dia seperti menatap benci pada Yuka. Yuka pun bergidik ketakutan. Kenapa harus dia yang ditatap seperti itu? Apakah dia mengganggu?

Kemudian orang itu mulai berkata: "serahkan anak itu." Dia menunjuk Yuka.

Nick menoleh ke belakang. Dia antara tidak mengerti apa maksud orang itu. Tapi dia seperti melihat bahwa Yuka tidak salah apa-apa, jadi dia bergerak mundur menutupi Yuka. "Apa yang kau mau?"

"Serahkan saja, karena—"

"Hi-ey!" Sesuatu melesat seperti akan menyeruduk pria misterius itu. Dengan gerakan cepat, dia mengendalikan angin agar menghindar dari sesuatu itu. Dengan decakan kesal, orang itu pun pergi.

Sesuatu itu ternyata kuda terbang yang besarnya hanya seperempatnya Grif. Kuda terbang—ya, terbang. Kuda putih dan sayapnya yang kebiruan tadi sudah mengusir pria misterius.

"Kalian tidak apa-apa?" Tanya kuda itu. Lagi-lagi makhluk misterius yang bisa berbicara bahasa Inggris.

"Y-ya, Fred itu kau kan?" Tanya Nick dengan ragu.

"Jangan bilang kau lupa aku siapa."

Dia hanya diam.

"Serius, dia juga tidak ingat aku. Aku lebih terlihat berciri-ciri dari pada kau."

"Oh, jadi yang kau maksud aku ini Pegasus pasaran?"

"Aku tidak berkata seperti itu."

"Woy semuanya!" Bentak Nick langsung membuatnya bungkam. Yuka sendiri kaget yang masih ada di belakangnya.

"Ngg ... Nick bisa kau lepas tanganku sekarang?" Degup jantung Yuka membuatnya seperti sesak nafas. Berulang kali dia menarik nafas dalam-dalam tapi jantungnya tetap menolak untuk tenang. Sebenarnya Nick tidak hanya memunggunginya, tapi dia juga memegang tangan Yuka erat-erat. Khawatir anak itu akan hilang atau apalah.

"Eh? Oh, maaf." Nick melepasnya dengan paksa. Merasa tak percaya dengan apa yang dia lakukan. "Apa tadi?"

"Sudahlah, kita urusi saja nanti pria itu. Sekarang lebih baik kita segera ke Tenmile Range." Sela Fred dengan buru-buru.

"Kenapa di sana?" Tanya Nick.

"Para Harpy mengamuk di sana. Menyerang Pegasus yang sedang merumput. Sudahlah ayo!" Fred pun melesat.

Grif juga mengikuti Fred. Walau pun sebenarnya dia bisa melesat lebih kencang dari pada Fred.

Dengan kecepatan penuh mereka sampai di Tenmile Range. Dan sudah terlihat dari Pegasus yang meneriakan "serang!" dan Harpy yang tidak jelas berbicara apa, menyerang mereka juga. Ada yang duel, ada yang melawan mereka satu per satu, tapi yang bertahan adalah dari pihak Harpy.

Mereka turun di tempat yang jauh dari lokasi kejadian. Grif berkata akan membantu mereka, dan Fred harus membawa mereka ke suatu tempat yang kurang dimengerti oleh Yuka, Ferus, mau pun Nick.

Udara dingin membuat Yuka menggigil mengerikan, apa lagi Ferus yang sengaja dibuat bercanda hingga gemeletuk giginya terdengar. Tapi Nick bersusah payah untuk menjadi yang terkuat. Dia ini sok pemimpin atau memang harus menjadi pemimpin pikir Yuka.

Mereka sampai di sebuah pohon yang anehnya bisa bertahan hidup di situ. Padahal sedang dingin seperti ini.

Dua orang sedang berdiri di sana. Terlihat dari jauh bahwa salah satu dari orang itu terlihat tinggi dan besar—atau tepatnya kekar. Dia memakai jaket bisbol yang berwarna utama merah dan bercampur dengan putih, celananya sebetis berwarna cokelat ke krem, kemudian kaosnya berwarna hitam polos. Jaket itu terdapat gambar kristal merah pada bagian belakangnya. Nick seperti bukan apa-apa dari cowok itu.

Lalu yang satunya adalah cewek yang berambut merah memakai sweater merah, sweater itu juga memiliki gambar yang sama pada bagian punggungnya. Di dalam sweater itu terdapat baju berwarna pink. Kemudian dia memakai rok rimpel berwarna biru, stoking hitam, dan Faux-Fur Ankle Boots yang haknya tidak terlihat. Tinggi cewek itu mungkin hanya se bahu cowok yang sedang bersamanya. Cewek itu juga membawa jaket berwarna merah dengan gambar yang sama lagi di punggungnya.

Dan ternyata mereka menatap lekat-lekat pada kedatangan Yuka dan yang lain. Tapi yang cewek lebih menatap pada Nick.

Ada satu yang membuat Yuka dan Ferus terkaget-kaget ketika melihat kedua orang ini.

"Cih, penampilan ini lagi." Katanya dengan suara seperti menghina.

"Kenapa?" Nick mengangkat alisnya seolah berbalik menghina.

"Lepas softlens itu. Aku juga sudah membawa ini untukmu." Dia mengulurkan jaket yang dia kalungkan pada tangan kanannya.

Jaket itu dia lempar pada Nick. Awalnya cowok itu hanya menangkap dan menatap jajet itu dengan datar, tapi tiba-tiba berubah menjadi panik ketika dia menyadari sesuatu: "bagaimana bisa kau mengam—"

"Nih," cewek itu mengeluarkan sesuatu dari saku rok rimpelnya, "terkejut ya? Ayahku memberi kunci duplikat apartemenmu."

"S-si ..." Nick menghentikan perkataannya dengan tarikan nafas yang dalam. Setelah membuangnya dengan penuh kesal, dia melepas jaketnya. Kemudian dia mengambil jaket merah itu, dan memakainya.

Sesuatu terlihat seperti ada sebuah kebanggaan untuk memakai jaket itu. Bahkan Yuka pun merasa kagum begitu melihat Nick menggunakan jaket itu. Dia terlihat ... lebih gagah.

Nah, dugaan Yuka selanjutnya sudah benar. Di balik softlens itu, tersimpan sebuah rahasia warna asli mata Nick.

Hari ini dia melihat tiga orang aneh sekaligus. Mereka bermata merah.

"Kau kan masih anggota The Red Eyes. Harusnya kau masih menyimpan sedikit kebanggaan." Komentar cewek itu.

"Ya, ya. Terserah Karen." Nick mengibaskan tangannya berkali-kali sambil berjalan pergi. Sedangkan softlens biru itu dia buang begitu saja di jalan.

Yuka dan Ferus tadinya akan mengikuti Nick pergi, tapi cowok kekar dengan muka babyface itu menahan mereka.

"Kalian di sini saja. Berbahaya." Cowok itu menahan bahu Yuka.

"Erich, jaga mereka, aku juga akan menyusul Nick." Karen pun pergi menyusul Nick. Erich hanya membalasnya dengan anggukan.

"Rencana kami adalah … " Erich menceritakan rencananya, "ratu Harpy di sana itu telah dihipnotis. Dan Nick harus menyadarkannya. Kalian tidak mungkin menerobos pertahanan Harpy di sana." Erich menunjuk ke sebuah arah.

Segerombol Harpy menghajar Pegasus dengan kasarnya. Banyak sekali korban Pegasus yang berjatuhan. Tapi beberapa Harpy juga terkalahkan. Walau pun saat ini dominan yang menghiasi peperangan adalah Harpy. Jika Pegasus mati, mereka terbuyarkan menjadi angin yang berhembus ke suatu arah, meninggalkan bulu sayapnya. Tetapi kalau Harpy yang mati, mereka juga terbuyarkan menjadi angin yang searah dengan Pegasus, hanya saja meninggalkan bulu burungnya.

Harpy adalah makhluk wanita setengah burung. Dan terlihat lebih besar dari pada makhluk biasa. Kalau Pegasus adalah kuda bersayap seperti merpati. Tergantung jenis mereka, mereka memiliki variasi warna pada bulunya.

Ferus mengangguk, "aku memang tahu aku tidak bisa apa-apa." Kemudian dia menyilangkan tangannya di depan dada.

Terbesit sebuah pertanyaan yang ingin ditanyakan pada Erich oleh Yuka. Pertanyaan ini memang tidak sopan, tapi ...

"E-Erich ...? Cewek itu siapa? Maksudku ... kenapa dia bisa masuk ke apartemen Nick?"

Erich menoleh ke arah Yuka. Dia menatap Yuka agak pahit—herannya dengan senyum—senyum paksaan memang. Mata merah hangatnya itu menatap Yuka dalam-dalam, "dia adalah tunangan Nick."

Tak ada yang bisa berpikir jernih. Kecuali Erich, dia seperti menerima keadaan. Entahlah tidak mengerti. Yuka adalah cewek, dia lebih peka ketika melihat tatapan mata Erich seperti itu.

Lalu Erich seperti mengubah topik, langsung menatap Ferus. "Kau Ferus Jones?"

"I-iya kenapa?"

"Nah kan benar, auranya sudah terasa. Bahkan ramalan pun benar, kau harus ikut aku. Seseorang menunggumu." Erich langsung berjalan pergi.

Lalu Erich melihat Yuka yang terlihat seperti akan merasa kesepian.

"Kau juga boleh ikut kok."

"Eh, ya?" Yuka langsung berbinar-binar. Erich hanya membalasnya dengan anggukan cepat, dan langsung berjalan pergi. Yuka dan Ferus pun mengikutinya.

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .