
Di tengah ributnya suasana kelas, mereka seperti berkomunikasi tanpa suara dalam dunianya sendiri. / Chapter 3 : Cooking Class - Published!
Rated: Fiction T - Indonesian - Romance - Chapters: 3 - Words: 5,878 - Reviews: 10 - Favs: 2 - Follows: 3 - Updated: 04-28-13 - Published: 12-22-12 - id: 3085139
|
|
A+ A- |
Harukaze
.
Chapter 2
"Baiklah, akan aku pikirkan,"
"Kabari aku jika kau sudah memikirkannya. Sampai jumpa,"
"Sampai jumpa."
Pip! Misha menutup ponselnya yang kemudian ia lemparkan ke atas tempat tidur. Misha membuka jendelanya lebar-lebar. Langit Minggu sore dihiasi awan-awan selembut kapas dengan semburat warna merah dan kuning keemasan, terlihat begitu indah. Angin sore bertiup lembut, membelai rambut hitam sepunggung Misha yang dibiarkan terurai.
Misha melakukan sedikit peregangan, menarik nafas dalam, dan menghembuskannya kuat-kuat. Entah mengapa ia merasa begitu lelah, padahal tidak banyak kegiatan yang ia lakukan hari ini. Mungkin aku sedang banyak pikiran, itulah yang ada di benaknya.
Misha menoleh meja belajarnya yang sangat berantakan. Ia melihat tumpukan buku-buku referensi baru disana. Ya, sebagai pengurus perpustakaan sekolah, ia memang sedang mendata buku-buku itu untuk perpustakaan. Seharusnya pekerjaan ini ia selesaikan di sekolah. Namun, karena waktu tidak mencukupi, ia memutuskan untuk mengerjakannya di rumah.
Misha bergumam, "Sebaiknya aku bawa semua buku ini ke perpustakaan sekolah besok," dan ia pun segera melanjutkan pekerjaannya lagi.
Hari telah berganti. Sang surya telah bangkit dan menempati singgasananya di langit. Langit sangat cerah, secerah wajah Misha pagi itu. Ia berlari-lari kecil menuju ruang kelas, dengan beberapa buku referensi yang akan dibawa ke perpustakaan dalam dekapannya. Sebenarnya, bagi Misha, buku-buku ini cukup berat sehingga sedikit sulit untuk membawanya.
Sreeeekkk.. Pintu kelas terbuka.
"Ohayou, semuanya," kata Misha menyapa teman-temannya saat ia tiba di kelas.
"Hei, Misha," "Ohayou gozaimasu," "Hei, apa kabar?" "Ohayou, Misha," "Selamat pagi," "Hai," begitulah teman-teman sekelas membalas sapaan paginya.
"Mish aaa~ Ohayou," sapa Mary yang seketika berada di belakang bangku Misha.
"Ohayou," ucap Tara menyusul sapaan Mary.
"Ohayou, Mary. Ohayou, Tara," balas Misha sambil tersenyum.
"Mi-Misha, wajahmu pucat," Tara menatap wajah Misha dengan tatapan khawatir. "Apa kamu sedang sakit?"
"Eh?" Misha terkejut mendengar Tara menanyakan hal itu. "Aku baik-baik saja kok. Hanya sedikit pusing."
Mendengar perkataan Tara, Mary ikut memperhatikan wajah Misha, "Benarkah itu, Misha? Apa kau yakin?"
"Percayalah padaku, teman-teman. Aku sungguh tidak apa-apa," Misha lalu tersenyum menunjukkan deretan giginya yang berbaris dengan rapi.
"Hmm, ngomong-ngomong, buku-buku apa itu, Misha? Banyak sekali," tanya Mary karena penasaran melihat buku-buku referensi yang dibawa oleh Misha.
"Oh, ini?" Misha mengangkat buku-buku itu, "Ini buku-buku referensi yang harus aku data, untuk perpustakaan," jelas Misha singkat.
"Iya ya, kau kan pengurus perpustakaan. Entah mengapa aku selalu bertanya-tanya, apa itu menyenangkan?" ujar Tara.
"Cukup menyenangkan, karena aku menyukainya, yaa walaupun terkadang merepotkan, hehe,"
Mary tampak ragu-ragu, "Apa sih yang menyenangkan dari perpustakaan? Menurutku, tidak ada. Hanya ruangan sepi berisi buku-buku, begitu sepi, tampak menyeramkan, hiiii.." Mary menirukan gaya orang yang mengigil karena melihat 'sesuatu'.
"Mary ini, ada-ada saja, ahaha," Misha tertawa kecil, "Kamu terlalu banyak mendengar cerita Lady Grey, itu kan di Indiana, bukan di Osaka. Mary... Mary," Misha menggeleng kecil.
"Tapi bisa saja kan 'dia' berkelana lalu tersesat hingga kemari,"
"Sudahlah, Mary, daya khayalmu itu terlalu tinggi," ujar Tara sambil menepuk-nepuk pundak Mary, "Oh iya, bagaimana dengan laporan pengamatan kalian? Sudah beres?" tanya Tara mengalihkan pembicaraan.
Mary dengan cepat menjawab, "Masih in progress, baru 50% selesai. Huuhh padahal harus dikumpulkan dua hari lagi".
"Tidak jauh berbeda denganku, Mary," ujar Tara, "Bagaimana denganmu, Misha?"
"Eh? Aku? Sedikit lagi. Aku tinggal menambahkan beberapa penjelasan tentang Retrovirus pada bagian Orconaviruses," tutur Misha sedikit menerawang, "dan mungkin aku bisa menemukan beberapa artikel tentang itu di perpustakaan nanti," lanjut Misha.
Kriiingg.. Kriiingg.. Kriiingg..
Suara bel memotong pembicaraan Misha, Tara, dan Mary, tentang tugas laporan pengamatan. Mereka pun segera menempati bangku masing-masing, bersiap untuk menerima materi pelajaran pertama.
Murid-murid kelas 1-A telah siap dalam pakaian seragam olahraga mereka untuk pelajaran PE pada jam pelajaran ke 5 dan 6. Sekarang mereka sedang menunggu Yamada-sensei tiba di lapangan olahraga. Ya, materi hari ini berkaitan dengan atletik, yaitu lari berintang, dimana setiap siswa akan berlari dengan jarak kurang lebih 300 M dan diharuskan untuk melewati rintangan seperti penghalang.
Priiiiitt… Priitt.. Priiiiiiiiittttt...
Suara peluit yang khas berbunyi, tanda Yamada-sensei telah tiba dan meminta para siswa untuk berkumpul. Setelah semuanya berkumpul, beliau lalu memulai penjelasannya tentang materi hari ini, mulai dari teknik berlari, melompat, peraturan-peraturan, serta hal-hal yang sebaiknya dihindari dalam melakukan lari berintang. Setelah selesai, para siswa pun membentuk beberapa barisan dan segera melakukan pemanasan.
Priiiiitt..
"Perhatian, semuanya," kata Yamada-sensei, "Mari kita mulai. Buatlah sebuah barisan dibelakang lintasan ini," beliau menunjuk sebuah track berlari dengan beberapa penghalang, yang berada di sebelahnya, "Siswa laki-laki berbarislah terlebih dahulu, sedangkan siswa perempuan diperbolehkan untuk menunggu di pinggir lapangan," dengan sigap semua siswa melaksanakan perintah Yamada-sensei.
Satu demi satu nama siswa dipanggil untuk berlari dan dicatat waktunya. Tidak banyak siswa yang berhasil melewati semua penghalang itu, bahkan salah seorang siswa, Saburo Daichi—yang dikenal sebagai anak paling lugu dan canggung di kelas, hampir menjatuhkan semua penghalang yang ada.
"Saya benar-benar tidak mengerti, materi ini pasti sudah kalian dapatkan sewaktu masih di sekolah menengah pertama, benar? Bagaimana kalian akan menghadapi festival olahraga nanti?" suara Yamada-sensei terdengar sedikit kecewa ketika mengatakan hal-hal itu kepada siswa laki-laki, "Baiklah, selanjutnya! Hazama Yuuta, segera bersiap di lintasan!"
Mendengar nama itu dipanggil, tiba-tiba Misha menoleh kearah lintasan berlari. Memperhatikan salah satu teman sekelasnya itu dari pinggir lapangan.
Tak berapa lama kemudian, Yamada-sensei memberi a ba-aba, "Bersediaa.. Siap.. Mulai!" seketika, Yuuta pun berlari secepat-cepatnya.
Entah mengapa, sejak kejadian 'loker macet' beberapa hari lalu, yang membuat Misha bertemu dengan Yuuta, Misha menjadi sering memperhatikan Yuuta—baik itu di kelas, gedung olahraga, saat pelajaran musik—seperti saat ini, saat Yuuta sedang berlari dan melompati beberapa penghalang pada pelajaran PE.
Misha memperhatikannya seksama. Yuuta terlihat berbeda saat sedang berlari dalam seragam olahraganya. Rambut bagian depannya yang 'sedikit' terlalu panjang, tertiup ke belakang, menunjukkan seluruh bagian wajah berkacamatanya. Sudah kuduga, Hazama memang terlihat lebih tampan jika rambut bagian depannya itu sedikit dirapikan, batin Misha.
GUBRAK!
"Ack.." Misha tersentak, ia terbangun dari lamunannya. Yuuta tersandung penghalang terakhir hingga terjatuh. Namun, ia langsung berdiri dan segera melanjutkan berlari hingga akhir track. Itu pasti sakit dan kakinya pasti terluka, pikir Misha.
Priit.. Priiitt..
"Baiklah, siswa laki-laki telah selesai. Siswa perempuan harap berbaris," perintah Yamada-sensei.
Priitt.. Priitt..
"Kotone Misha, harap bersiap!" Yamada-sensei memanggil Misha untuk berlari terlebih dahulu.
"Ayo, Misha! Ganbatte ne~" ujar Tara dan Mary memberi semangat.
"Iya, arigatou, teman-teman," kata Misha sambil tersenyum.
Yamada-sensei pun memberi aba-aba, "Bersediaa.. Siap.. Mulai!"
Misha segera berlari sekuat tenaga. Ia berusaha sebaik mungkin, meskipun beberapa kali tersandung saat melompati penghalang, yang kemungkinan besar meninggalkan banyak luka di kakinya.
"Haahh.. haah.. haahh.." nafas Misha terengah-engah setelah melewati seluruh rintangan dan berlari hingga akhir track dengan sekuat tenaga. Peluh bercucuran di pelipisnya, wajahnya memerah karena terpapar sinar matahari.
"1 menit 43 detik. Bagus sekali, Misha. Kerja bagus," ucap Yamada-sensei ketika melihat catatan waktu berlari Misha pada stopwatch.
"Haahhh.. hahh.. hahh.. I.. iya, terima kasih, sensei—" perkataan Misha terpotong, dadanya sesak, oksigen seakan tidak mampu melalui bronkus-nya, ia tak bisa bernapas. Seketika seluruh tubuhnya lemas dan ia pun jatuh tersungkur, tidak sadarkan diri.
Waktu berlalu begitu cepat. Hari telah senja dan matahari mulai tergelincir dari singgasananya. Langit mulai dihiasi gradasi warna merah dan kuning keemasan di sebelah barat.
Misha masih terbaring tak sadarkan diri. Namun, lama-kelamaan tubuh Misha mulai bergerak, kedua kelopak matanya terbuka perlahan. Seluruh tubuhnya terasa lemas hingga hampir tak dapat digerakkan. Dengan kekuatan seadanya, Misha mencoba melihat sekitar, untuk memastikan dimana ia berada.
Ia tau bahwa dirinya sedang terbaring di atas sebuah tempat tidur dengan tirai tergantung disisinya, yang ada di sebuah ruangan. Ya, sebuah ruangan yang begitu sepi, sunyi, namun sangat familiar. Sangat familiar, tapi.. dimana?
"Di.. di mana a.. aku?" Misha bertanya pada dirinya sendiri dan berharap mendapat jawaban. Namun, tidak ada. Dengan hati-hati, ia mencoba untuk bangun dan mendudukkan tubuhnya di atas tempat tidur, "Aduuhh.." Misha mengaduh, tiba-tiba dadanya terasa sakit.
"Kau ada di ruang kesehatan," terdengar suara seseorang memecah kesunyian.
Misha terkejut dan segera ia menoleh ke arah datangnya suara, "Siapa i—eh? Hazama?" Misha tertegun, mengapa ia ada disini?
"Tadi kau tiba-tiba tak sadarkan diri setelah berlari pada pelajaran PE, Yamada-sensei menyuruhku untuk membawamu kemari," tutur Yuuta seakan mengetahui apa yang ada di pikiran Misha.
"Be-benarkah? A-arigatou gozaimasu," kata Misha berterimakasih.
"Lupakan. Itu tidak perlu," ujar Yuuta, dingin, seperti biasa.
"Lalu, apa yang kamu lakukan disini?" tanya Misha, "Dimana yang lainnya?"
"Kaki ku terluka saat berlari tadi," jelas Yuuta sambil memperlihatkan luka goresan dan memar di kakinya. "Aku kemari untuk mengobatinya. Teman-teman mu dan yang lainnya sudah pulang terlebih dahulu," lanjutnya.
"Dan kenapa kamu masih disini? Hari sudah hampir gelap, bukan?" ujar Misha.
"Karena hari hampir gelap, aku tidak mungkin meninggalkan seseorang yang tak sadarkan diri sendirian disini. Mengerti?" Yuuta menatap tajam tepat ke arah Misha.
Tatapan itu membuat Misha tersentak, "Ka-kalau begitu sebaiknya aku pulang sekarang. Terima kasih sudah menemaniku disini."
Sebenarnya keadaan Misha belum benar-benar pulih. Tubuhnya masih lemah dan dadanya terasa sedikit sakit, ia pun masih sedikit kesulitan untuk bernapas. Namun, siapa sih yang mau bertahan di sebuah ruangan hanya bersama seseorang yang tatapan mata dan intonasi bicaranya mengalahkan dinginnya es di kutub Utara? Akhirnya, Misha mengenakan kacamatanya, turun, dan berjalan keluar ruang kesehatan. Ia berniat untuk mengambil tasnya yang masih tertinggal di kelas.
"Tas milikmu sudah ada disini. Temanmu membawakannya," ujar Yuuta sambil menunjuk meja di dekatnya.
"Eh? I-iya," Misha lalu berjalan mendekati meja di dekat Yuuta untuk mengambil tasnya. "Ack—" tiba-tiba Misha terjatuh, dadanya sesak dan terasa sedikit sakit.
"Sini," kata Yuuta sambil mengulurkan tangannya, "Mungkin lebih baik jika aku mengantarmu pulang."
"Eh..? Ti.. tidak perlu.. hh.. hhh.." ujar Misha lalu mencoba berdiri.
"Jangan keras kepala. Aku yang harus bertanggung jawab jika sesuatu terjadi padamu karena aku adalah orang yang terakhir bersamamu di sini." Yuuta segera mengenakan jaket dan mengambil tasnya. "Ayo," dan ia pun berjalan keluar ruang kesehatan. Mendengar pernyataan Yuuta, Misha mau tidak mau akan pulang diantar oleh Yuuta.
Langit di luar sekolah mulai gelap, dihiasi cahaya keperakan pertanda akan hadirnya sang rembulan ditemani oleh ribuan bintang. Misha masih tetap dalam posisinya, dimana ia berjalan mengikuti Yuuta yang terus melangkah.
Tiba-tiba Yuuta bertanya, "Dimana rumahmu?"
"Di sana," ujar Misha sembari menunjuk ke seberang sebuah sungai, "Rumahku berada di seberang sungai itu. Nanti akan ada jembatan, tidak terlalu jauh dari sana," jelasnya.
Setelah itu, suasana menjadi sunyi senyap. Tidak ada percakapan di antara keduanya. Hanya ada suara gemericik air sungai yang mengalir dan sesekali terdengar suara angin yang berdesir. Terkadang Misha mencoba mengamati wajah Yuuta, siapa tahu mood lelaki itu sedang bagus untuk diajak berbicara. Namun, ekspresi yang ditunjukkan oleh wajah Yuuta begitu dingin dan datar, tak peduli sebanyak dan selama apa pun Misha menatapnya, ekspresinya tak kunjung berubah, sehingga membuat Misha mengurungkan niatnya untuk memulai percakapan.
Waktu terus berlalu, kini mereka telah berada di atas jembatan, yang berarti jarak mereka sudah dekat dengan tempat tinggal Misha.
Tiba-tiba langkah Misha terhenti. Ia merasa sulit bernapas, saluran pernapasannya seakan menyempit sehingga menyulitkan oksigen untuk melaluinya. Napasnya memburu, persis seperti yang ia rasakan seperti saat selesai berlari. Ia mencoba terus melangkah mengikuti Yuuta.
Suasana begitu sunyi senyap, sehingga Yuuta dapat mendengar napas Misha yang semakin memburu. Ada yang aneh, pikirnya. Ia pun segera berbalik dan menghampiri Misha.
"Ada apa?" tanyanya namun tetap dengan intonasi yang datar dan nada suara yang benar-benar dingin.
Misha segera berusaha mengatur napasnya, "Ti-tidak, tidak ada apa-apa," jawabnya.
"Pasti ada yang salah," Yuuta pun berbalik membelakangi Misha dan sedikit merendahkan posisinya, "Naiklah," ujarnya, "Aku tahu ada yang salah."
Langkah Misha terhenti tepat dibelakang Yuuta yang memintanya untuk naik ke punggungnya, "Aku, aku tidak apa-apa. Sungguh," kata Misha cepat.
"Sudah naik saja. Akan lebih merepotkan jika tiba-tiba kau tidak sadarkan diri," tutur Yuuta, "Aku benci direpotkan."
Akhirnya Misha menyerah, ia lalu naik ke atas punggung Yuuta. Setelah Misha sudah naik ke punggungnya, Yuuta lalu berdiri dan melanjutkan perjalanan menuju tempat tinggal Misha.
"A-apakah ini sungguh tidak apa-apa? Tubuhku berat," kata Misha.
"Tidak apa," jawab Yuuta, "dan, ya, kurasa kau memang berat," entah itu benar atau tidak, tapi Misha seperti mendengar bahwa ada sedikit nada bercanda dalam ucapan Yuuta itu.
Misha merasakan wajahnya menghangat, "Maaf."
"Sudahlah, lupakan," balas Yuuta, "Pegangan yang erat."
"Eh?"
"Kau tidak mau tiba-tiba jatuh, kan?"
"Hmm.." dan Misha pun memegang bahu Yuuta lebih erat lagi.
Setelah itu, percakapan selesai, dan kesunyian pun menyelimuti mereka, seperti tadi, tak ada satu pun yang berbicara. Hanya terdengar suara langkah kaki, angin yang berdesir, dan napas Misha yang memburu, yang temponya semakin cepat, cepat, dan bertambah cepat, Misha semakin sulit bernapas.
"Tenanglah, Kotone, hampir sampai," Yuuta mempercepat langkahnya.
Entah apa yang merasukinya, Misha merasa sedikit lebih tenang mendengar ucapan Yuuta, "I-iya."
Lama-kelamaan, Yuuta merasakan napas Misha memburu begitu cepat dan ia merasakan bahunya menjadi basah, "Ko-kotone, kau baik-baik saja?"
Misha terisak, "I-iya, a-aku baik-baik sa-saja." Pandangannya menjadi kabur, ia tidak kuat lagi, dan ia pun terkulai lemas dalam gendongan Yuuta.
Yuuta merasakan pegangan Misha merenggang dan kepala Misha terkulai di bahunya, "Oh tidak, Kotone.." Yuuta mempercepat langkahnya hingga akhirnya ia tiba di depan sebuah rumah bertuliskan 'Rumah Kediaman Keluarga Kotone', tanpa menunggu lebih lama lagi, ia segera mengetuk pintu rumah itu dengan terburu-buru.
Tok tok tok tok tok..
Terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah.
Tok tok tok tok tok..
"Tunggu sebentar," sahut seseorang.
Tok tok tok tok tok..
KREK! Pintu depan akhirnya terbuka, terlihat seorang wanita keluar dari dalam rumah, "Si—EH? Misha?!" wanita itu—yang diketahui sebagai ibu Misha, Kotone Chiisa—terkejut melihat anak semata wayangnya tak sadarkan diri. "Ba-bawa dia ke kamarnya. Ayo cepat!" Chiisa membuka pintu lebih lebar untuk memberi jalan pada Yuuta yang menggendong Misha, "Kamarnya ada di lantai dua, lewat sini."
Yuuta berjalan dan menaiki tangga secepat yang ia bisa. "Baringkan ia di sini," ujar Chiisa. "Oh tidak, Misha.." Chiisa tampak sangat khawatir, pandangannya menjadi buram karena ditutupi oleh lapisan air. Chiisa mengelus lembut kepala putrinya itu. "Cepatlah sadar, nak," dan dikecupnya dahi Misha.
Napas Misha berangsur-angsur normal kembali. Perlahan kelopak matanya terbuka, dan ia mengerjap-ngerjapkannya. Pandangannya masih sedikit kabur, tetapi ia mencoba untuk memandang wajah Chiisa yang sekarang duduk disampingnya.
Bibirnya bergerak seperti hendak mengucapkan sesuatu. "O-okaasan," ucapnya perlahan.
"Syukurlah, nak, akhirnya kau siuman," Chiisa memegang erat kedua tangan Misha. "Ini, minumlah," ujarnya sembari membantu Misha duduk dan memberinya segelas air putih hangat yang telah ia sediakan.
"Terima kasih, okaasan," ucap Misha pelan.
"Iya, nak. Sekarang berbaringlah dulu. Nanti okaasan bantu untuk mengganti pakaianmu. Sekarang okaasan mengantar temanmu ini kebawah dulu," jawab Chiisa. Chiisa dan Yuuta pun keluar dari kamar Misha dan menuju pintu depan.
"Terima kasih telah mengantar anak saya pulang," Chiisa pun membungkuk.
"I-itu tidak apa-apa," jawab Yuuta.
"Oh iya, kalau boleh tahu, namamu siapa, nak?" tanya Chiisa.
"Saya Hazama Yuuta, teman sekelas Kotone," Yuuta memperkenalkan diri.
"Baiklah, nak Hazama, terima kasih telah menolong putri saya," ujar Chiisa saat mereka sudah sampai di halaman depan rumah. "Hari sudah malam, berhati-hatilah di jalan."
"Iya. Kalau begitu, saya pamit dulu. Selamat malam," dan Yuuta pun segera melangkah keluar halaman rumah.
"Selamat malam," ucap Chiisa yang lalu masuk ke dalam rumah.
KLOP! Suara pintu ditutup terdengar begitu jelas, Yuuta menghentikan langkahnya. Sekarang ia berdiri seorang diri di depan tempat tinggal Misha. Ia menatap ke atas, tepatnya ke arah kamar Misha. Entah mengapa jantungnya berdengup kencang. Untuk sesaat, ia merasa khawatir, ia takut terjadi sesuatu pada Misha.
Sial. Apa yang sebenarnya terjadi padaku? batinnya. Yuuta kembali melangkah, semakin menjauhi rumah itu, dan ia pun menghilang di tengah kesunyian, ditelan gelapnya malam.
Tsuzuku
Note: Hai, minna, bertemu lagi dengan Micky~ Sumimasen, dalam chapter ini, pasti masih banyak kesalahan yang Micky buat. *bows* Terima kasih telah membaca. :D
|
||||||