
Shila sering tak bisa tidur karena mendengar langkah orang berjalan setiap malam. Suara itu selalu mengganggunya. Ketika ia pindah rumah, ternyata 'sesuatu' mengikutinya. Ia seperti 'dipaksa' untuk membongkar misteri di rumah lamanya. Dibantu Rian, Shila memulai perjuangannya mencari misteri sekaligus cerita di rumah lamanya (Finished)
Rated: Fiction K+ - Indonesian - Horror/Drama - Chapters: 8 - Words: 12,463 - Reviews: 18 - Follows: 1 - Updated: 02-24-13 - Published: 12-25-12 - Status: Complete - id: 3086105
|
|
A+ A- |
Rumah Lamaku, Rumah Penuh Cerita
Chapter 3
Begitu Shila membalikkan badannya….
"Rian! Yaampun, bikin kaget aja!" Protes Shila.
"Maaf, deh, gamaksud kok," Dengan santainya Rian masuk ke kamar Shila, tanpa merasa ia telah mengagetkan yang punya kamar.
"Ngapain sih lo di balkon sana?! Rumah gue juga punya pintu utama, kali," Shila berkacak pinggang.
"Yaah… maaf deh. Kan tadi gue udah minta maaf. Gue tadi liat muka lo seriuuuuus, banget. Jadi gue kagetin, deh hehe. Kenapa sih?"
Shila memerhatikan sesaat wajah sahabatnya ini yang kalo dilihat-lihat mirip sama artis Hafiz Fatur. Shila ragu, mau cerita apa enggak. Soalnya ini gabisa diterima sama akal sehat. Yakan?
"Shil? Cerita doong,"
Shila menghela napas sebentar, "Gue ga nyangka, Yan. Baru aja beberapa menit gue di rumah ini, keanehan udah menghampiri gue, gimana nanti malem? Besok? Bulan depan? Taun depan?"
Rian mengerutkan dahi, "Kenapa, sih?"
Dengan perlahan, Shila menceritakan apa yang tadi terjadi. Rian agak kaget juga mendengarnya. Rian sering mendengar cerita tentang Shila 'diganggu' Kalau sekarang, Shila bukan hanya 'diganggu', tapi dia juga diberi teka-teki dari entah siapapun itu.
"Gini, deh Shil. Kita cari tau dulu satu-satu teka-tekinya. Pertama, kita cari tau yang ditulis di belakang lukisan. Nah, kalo udah kelar kita cari tau yang di kertas. Gimana?" Rian memberi usul.
"Hmm…. Boleh deh. Tapi gimana caranya gue mecahin teka-teki ini, Yan?"
"Seperti yang ditulis di situ, lo tanya ke orang tua sama nenek lo,"
"Oke. Sekarang gue mau tidur dulu, deh. Nanti malem baru tanya ke mama sama papa,"
"Yaudah, have a nice dream ya," Rian mengacak-acak rambut Shila.
"Iiiih rusuh banget deeh,"
Rian langsung kabur. Dia loncat dari balkon Shila ke balkonnya. Shila hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya yang jago main gitar itu.
.
.
.
Pukul 4 sore, Shila terbangun. Ia baru menyadari kalau AC kamarnya menyala. Ternyata dia juga terbungkus selimut. Padahal tadi dia sama sekali tidak menyalakan AC. Ia juga sama sekali tidak menyentuh selimut yang bergambar daun itu. Pikiran negatif mulai memenuhi kepalanya.
"Enggak, enggak. Pasti yang nyelimutin gue mama," Shilapun segera menyibakkan selimutnya dan berjalan ke kamar mandi.
Di wastafel, Shila langsung mengguyur mukanya 3 kali, berharap semua pikiran aneh hilang dari kepalanya. Begitu keluar kamar mandi, Shila tertegun.
Di dinding atas kasurnya, lukisan anak kecil itu masih tergantung. Tapi….. anak kecil yang sedang tidur tidak ada! Yang ada hanya kasurnya saja! Shila langsung meringkuk di sudut kamarnya, menangis. Suaranya terasa hilang. Ia tak sanggup memanggil mamanya, atau siapapun itu.
Tangis Shila makin menjadi ketika ia melihat lukisan itu bergerak. Seperti ada anak kecil yang naik kembali ke kasurnya. Anak kecil itu menutup matanya. Sedetik kemudian mata itu terbelalak dan memuncratkan darah. Shila merasa ada cairan dingin menempel di dahinya.
Darah anak kecil itu….
Si anak kecil terkekeh. Shila menutup matanya rapat-rapat, begitu juga kedua telinganya. Tawa anak itu makin terdengar… makin jelas di telinga Shila.
"MAMAAAAAA!" Teriaknya. Shila ngos-ngosan, terbangun dari tidurnya.
Shila mengatur napas. Satu-dua-satu-dua, "Tadi…. Mimpi itu… terasa nyata banget!" Desisnya.
Tok.. tok.. tok..
"Shila! Kamu baik-baik?" Mama mengetuk pintu kamar Shila.
"Iya, Ma," Ujar Shila tak bertenaga.
Mamapun masuk ke kamar anak sulungnya itu. Ia agak terkejut melihat penampilan anaknya. Rambut awut-awutan, wajah pucat, mata sembab habis menangis, dan….. darah?
"Kamu kenapa, sih Shil? Kok berdarah gitu dahi kamu?" Mama duduk di sebelah Shila dan menyeka darah di dahinya.
"Da… darah?" Tanya Shila dengan suara bergetar.
"Iya. Nih," Mama menunjukkan telunjuknya yang tadi ia gunakan untuk menghapus darah.
Shila menutup mulut dengan kedua tangannya. Berati tadi… mimpi itu–?
Shila langsung pingsan di tempat.
.
.
.
Pagi telah datang.
Gorden di kamar telah disibakkan, tanda si empu yang punya kamar sudah bangun. Setelah seharian pingsan, Shila merasakan tubuhnya sangat pegal. Pikirannya juga kusut. Shila berharap, setelah mandi pagi ia bisa memulai harinya di hari Sabtu yang cukup cerah ini.
Setelah selesai mandi, Shila memandang lukisan di atas tempat tidurnya sejenak. Ia langsung membuang muka, tak mau mengingat apa yang sudah terjadi kemarin. Tiba-tiba interkom di kamar Shila berbunyi.
"Kak, ada kak Rian nih di bawah! Turun ya," Itu suara Ayu. Suara merdunya memang khas sekali.
Shila memencet suatu tombol sambil berkata, "Iya, suruh dia tunggu di bawah, ya Yu,"
Setelah itu, dengan gerakan cepat Shila mengambil lukisan anak kecil serta kertas kecil di belakanganya. Tangannya terasa agak gemetar.
"Hai, Yan!" Sapa Shila ketika sudah sampai di ruang tamu. Di sofa ada Rian yang sedang duduk sambil membaca koran hari itu.
"Hai, Shil. Tumben pagi-pagi udah mandi," Candanya di balik koran.
"Mau ngapain ke sini? Gue mau berunding nih sama lo," Shila tak menggubris candaan Rian.
Rian menurunkan korannya, "Hah? Mau berunding tentang apa? Tentang…. Itu?"
Shila mengangguk, "Iya. Dan semalem semuanya terasa banget, Yan! Rasanya tuh beenr-bener terjadi di depan muka gue! Ga ada yang tau loh. Soalnya gue takut keluarga gue khawatir,"
"Khawatir apa, sih Shil?" Tiba-tiba mama datang dari dapur membawa nampan makanan dan minuman. Ternyata ia mendengar kata terakhir yang diucapkan oleh anaknya itu.
Shila gelagapan. Rian langsung mengalihkan pembicaraan, "Kabar tante gimana, tan?"
Mamanya Shila menaruh kotak kue, lalu menjawab, "Baik, kok. Gimana kabar mama kamu?"
"Baik juga, tante hehehe. Ohya, tan, aku mau ngajak Shila keluar sebentar, boleh?"
Mamanya Shila menatap sebentar ke arah anaknya. Shila langsung buang muka. Ia tak mau mama 'menangkap basah' sorot matanya yang takut ketauan.
"Boleh. Tapi jangan lama-lama, ya. Shila belom sarapan. Kasian kan, nanti lemes,"
Setelah mendengar itu, Shila langsung berlari kea rah pintu dan berteriak, "Aku berangkat ya ma!"
Sementara itu Rian langsung berdiri dan salim ke mamanya Shila, "Berangkat ya tan," Katanya.
Mamanya Shila hanya geleng-geleng kepala melihat perbedaan yang cukup tajam dari kedua anak itu. Yang satu cablak, yang satu sopan banget…
.
.
.
"Jadi gitu loh, Yan ceritanya. Gimana gue ga stress, coba?" Tanya Shila di taman komplek ketika sudah selesai bercerita tentang kejadian semalam.
Rian tampak berpikir, "Aneh banget ya, Shil. Itu kan kejadian di mimpi, tapi ada bukti beneran di dunia nyata. Ckckck, kayanya kita emang harus nyari tau deh, apa teka-teki yang tersirat," Jawabnya.
Shila meneliti kembali tulisan di selembar kertas yang ada di tangannya, "Semuanya terletak di sana. Di kertas ini dibilang semuanya ada di sana. Maksudnya apa ya?"
"Jangan-jangan rumah lama lo?" Tebak Rian.
"Hah? Masa, sih? Kayaknya di rumah lama gue ga ada apa-apa, deh,"
"Itukan menurut lo. Kalo ga ada apa-apa, kenapa setiap malem lo denger suara itu? Kenapa keanehan selalu lo alami? Kenapa lo gabisa sekalipun merasa tenang?" Tanya Rian tajam. Pertanyaan itu bener-bener 'ngena' di hati Shila.
Hening.
Pertanyaan Rian tadi memang ada benarnya, sih.
"Oke, maaf kalo pertanyaan gue terlalu gamblang. Tapi daripada lo kayak gini terus, mending kita cari tau. Lama-lama gue sedih juga lo selalu tertekan kayak gini. Lo udah nanya ke ortu?"
Shila hanya menggeleng lemah, "Kejadian semalem bener-bener bikin gue kaget. Gue ga sanggup cerita ke ortu. Belom,"
"Yaudah, lo sabar ya Shil. Kita akan cari tau soal ini," Rian mengusap lembut tangan sahabatnya ini, untuk menenangkannya.
"Thank's, Yan. Terus, sekarang apa yang kita lakuin untuk cari tau teka-teki ini?"
Tiba-tiba saja Rian mengeluarkan secarik kertas dari kantong celananya dan menyodorkan ke Shila, "Nih. Baca aja,"
Shila menerimanya, lalu mulai membaca.
Cara Mencari Tahu Tentang Teka-teki:
Tanya ke ortu Shila
Tanya ke neneknya Shila
Tanya ke bokap-nyokap gue
Tanya ke pemilik terakhir sebelum keluarga Shila menempati rumah lama tersebut
(Ini kalo udah emergency dan gak ada jalan lain) Tanya ke orang pintar
"Keren juga, Yan. Gue bahkan belom kepikiran, apa yang mesti gue lakuin buat first step," Puji Shila.
"Iyalah. Bayangin aja, kalo lagi ada tanding futsal, terus rencananya gak berhasil, Sang Kapten harus cari cara lain biar timnya menang," Rian menepuk-nepuk dadanya, bangga.
"Iiihh pede banget sih jadi oraaaang," Shila mendorong bahu Rian pelan.
"Eh, Shil mending kita sekarang ke rumah lo. Ngomong baik-baik sama ortu lo. Siapa tau clue pertama bisa kita dapet,"
"Yaudah, ayok. Tapi nanti kalo gue kehilangan kata-kata buat jelasin ke mama-papa, lo bantuin gue, lho ya,"
"Iyaa, tenang aja. Yuk!" Rian menyodorkan tangannya ke Shila. Dengan senyum, Shila menerima sodoran tangan sahabatnya itu.
Di rumah Shila, mama serta papanya sedang sarapan. Begitu mereka sampai –Shila dan Rian–, mama langsung menyuruh mereka sarapan. Rian menerimanya dengan antusias, karena di rumah, orang tua Rian sedang ke luar kota.
Rian duduk di sebelah Shila. Rian memberikan 'tatapan kode' ke Shila supaya ia mulai mengorek informasi dari orang tuanya.
"Mah," Panggil Shila.
Mamanya yang sedang menyendoki nasi goreng dengan centong menoleh, "Apa, Shil?"
"Masa semalem aku ngerasain hal yang aneeeeh banget mah. Itu loh, yang pas aku teriak panggil nama mama,"
Seketika, centong yang akan segera dikembalikkan ke tempat awal berhenti di udara, "Maksud kamu?"
Papanya mulai berhenti makan, menatap Shila dengan tatapan serius.
Dengan sedikit terbata-bata, Shila memulai ceritanya dari tulisan di belakang lukisan, serta secarik kertas yang tersirat. Ia langsung menunjukkan tulisan-tulisan tersebut ke hadapan kedua orang tuanya. Tak lupa, ia juga menceritakan kejadian tentang mimpinya. Kalau tentang mimpi ini, Shila menceritakannya dengan jelas dan tidak terbata-bata, seakan Shila sudah terbiasa. Shila bahkan tak tahu mengapa ia bisa setenang ini bercerita 'masalah'nya pada orang lain.
"Sepertinya kita sudah harus memberi tau tentang sesuatu ke kamu, Shila," Ujar papanya setelah Shila selesai bercerita.
Mamanya hanya mengangguk perlahan, "Di kertas ini….. tertulis nama Rose. Rose itu… Rose itu adalah…." Kedua mata mamanya mulai berkaca-kaca. Shila makin penasaran, sebenernya ada apa?
"Rose adalah mama kamu, Shila," Sambung papanya.
Perkataan papa barusan seperti menohok Shila, "Tapi… mama aku kan mama, pa!" Protesnya.
"Rosemarie adalah mama kandungmu, Shil," Papa mulai bangkit dari duduknya, berjalan kea rah jendela. Sambil menatap ke arah jendela, papa mulai bercerita, "Waktu itu papa menikah dengan Rose. Ia adalah orang Amerika, sehingga nenekmu tidak mengijinkan papa pada waktu itu. Lagipula dulu umur papa masih 19 tahun. Maka makin besarlah alasan mengapa nenekmu tak mengijinkan,"
Dari cerita papanya, Shila merasa papanya itu agak sedih.
"Papa pun mulai mencari kerja yang layak, karena nenekmu berjanji pada papa kalau papa sudah punya uang yang banyak, papa boleh menikah dengan Rose. 3 tahun kemudian papa sukses. Tapi Rose mulai mengandung 2 bulan sebelum kami menikah. Nenekmu tidak tahu soal ini. Pada saat itu yang ia katakan adalah 'cepat sekali ya istrimu hamil,'"
Papa berhenti bercerita. Kemudian mamalah yang melanjutkan cerita, "Pada saat kamu lahir, Rose terlihat sangat pucat dan sangat lemah. Hari itu papamu baru tahu kalau Rose punya penyakit leukemia. Dengan pintarnya Rose merahasiakan itu dari papa," Kali ini mama yang berhenti bercerita. Lalu papa menyambungnya.
"Sebulan kemudian Rose meninggal. Di surat terakhirnya, Rose menulis bahwa suatu saat ia akan mengunjungimu, nak," Papa membalikkan badannya. Sekarang Shila bisa melihat mata papa berkaca-kaca.
"Berati, selama ini…. Semua keanehan itu…. Adalah-?" Shila tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Ya, waktu masih di rumah lama mama sempat 'bertemu' Rose di mimpi mama. Rose bilang, ia belum tenang sebelum kamu menemuinya,"
"Ap –apa?!" Tanya Shila. Gue harus ketemu dia? Dia kan… hantu? Batin Shila pahit.
"Papa ke kamar dulu," Tiba-tiba papa berjalan cepat ke arah kamarnya.
Daritadi Rian diam menyimak, seakan ia tak ada di sana.
"Tapi, ma, mama pernah bilang ke aku 'Mama harap kamu akan punya kehidupan normal ya di rumah baru. Mama tau kok rasanya jadi kamu' sebelum kita pindah," Bisik Shila agak takut.
"Ya, itu benar. Rumah yang dulu kita tempati juga bagian dari masa kecil mama. Ketika mama seusia kamu, mama merasakan 'diganggu'. Bahkan mama sampai harus ke sikiater berkali-kali supaya mama gak stress. Tapi lama-lama mama mulai terbiasa dengan semuanya," Jelas mama.
"Lalu….. apa ma maksud tulisan ini? Apa yang musti aku lakuin?"
"Di lukisan itu tertulis 'Semarang, 28 september 1999'. Itu adalah sehari sebelum Rose meninggal. Dan lukisan itu… lukisan itu… dia melukismu, Shila. Lalu tentang apa yang mesti kamu lakuin, mama juga gak tau. Yang mama tau hanya kamu harus bertemu dengannya,"
Kata-kata mama barusan membuat Shila sulit bernapas.
.
.
.
Kalo bikin cerita horror emang gak terlalu kuat bikin panjang-panjang, atau gimana? Ohya, di chapter 4 nanti, Rian dan Shila sudah memulai mencari clue untuk teka-teki! Kira-kira clue apa ya, yang berhasil mereka dapatkan? Apa kejadian aneh yang akan terjadi lagi?
Tunggu chapter berikutnya! XD
|
||||||