
Tiga bulan lalu, perang sipil antara manusia dengan Android pecah di Dunia Barat. Perang tersebut berhenti dengan sangat mendadak, bersamaan dengan lenyapnya banyak Android dan para pemimpinnya. Di sebuah kota, ribuan kilometer dari Dunia Barat, seorang anak perempuan terbangun dengan nasib milyaran jiwa di kedua tangannya.
Rated: Fiction T - Indonesian - Sci-Fi - Chapters: 14 - Words: 65,460 - Reviews: 8 - Favs: 1 - Follows: 2 - Updated: 05-22-13 - Published: 01-10-13 - id: 3091049
|
|
A+ A- |
A/N: terima kasih buat markistiandi atas reviewnya. Buat Bab 9, kalau masih bingung, kita PM-an aja yaa. Begitu juga dengan semua pembaca, kalau ada yang bingung, tanyakan saja, Insya Allah saya jawab via PM atau via review reply.
Selamat membaca, feedback welcome~
BAB 12
Setelah melalui beberapa gua, beberapa koridor, dan banyak Android yang sedang bekerja, mereka sampai di sebuah pintu kayu tua dengan beberapa goresan di permukaannya. Tak ada hiasan, lapisan baja maupun peralatan serta penjaga di kanan-kirinya. Pintu tersebut tampak begitu biasa, begitu sederhana, hingga Andri berpikir pintu tersebut pasti akan lumrah dilihat di rumah-rumah bongkar pasang.
Andri tidak mengerti kenapa dia dibawa ke depan pintu tersebut. Dia melihat ke Watson dan Irena, menunggu penjelasan dari mereka. Watson dan Irena, menyadari bahwa Andri tak mengerti apa yang harus dilakukan, bertukar pandang tidak yakin.
"Pintu apa ini?" tanya Andri, akhirnya.
"Ini," kata Irena, maju selangkah, "adalah pintu ruanganmu."
"Ruanganku?"
"Ya, ruanganmu, sekaligus ruang komando yang lama," kata Irena, mengangguk. Dia mengulurkan tangannya ke gagang pintu yang berbentuk seperti bola, memutarnya, dan mendorongnya. Tidak ada yang terjadi. Kemudian, dia menambah tenaganya hingga tangannya menegang, namun pintu tersebut tetap tidak mau terbuka. Akhirnya, Irena melangkah mundur, menoleh kepada Andri.
"Pintu ini tak pernah bisa dibuka," katanya.
"Tidak bisa dibuka?"
"Ya. Tidak hanya aku, hampir seluruh Android yang ada di sini sudah pernah mencobanya. Saat aku mencoba membukanya untuk pertama kalinya dan mendapati kalau pintu ini tak bisa dibuka, kami berpikir ini semacam lelucon. Kami tahu kalau kamu tak pernah begitu suka denganku, dan kami pikir kamu sengaja mengatur pintu ini agar tak bisa dibuka olehku. Namun Watson mencobanya, Faishal mencobanya, Sherry juga, dan banyak lagi, tapi tetap tak bisa," kata Irena.
"Saat kamu masih di sini, pintu ini bisa dibuka dan ditutup oleh siapa pun," kata Watson. "Kita melakukan rapat-rapat di sini, kita melakukan perencanaan aksi kita di sini, dan banyak lagi."
Andri maju mendekati pintu tersebut, meraba permukaannya. Ingatan demi ingatan mulai mengalir seiring dengan rasa kayu tersebut di ujung jarinya, namun tidak ada yang cukup jelas untuk bisa dia mengerti. Dia mencoba menekan permukaan kayu pintu tersebut, yang - secara mengejutkan - terasa jauh lebih keras dibanding tampilannya. Dia juga memandangi bekas-bekas goresan besar di permukaan pintu tersebut, merabanya.
"Ah ya, Faishal mencoba membukanya dengan cara paksa," kata Watson, merasa bersalah. "Kamu tahu dia, selalu emosian."
"Beberapa bom dia ledakkan tepat di permukaan pintu ini, namun pintu ini tak bergeming. Faishal ingin menambah jumlah dinamitnya, tapi kami melarangnya karena bahaya. Kita 'kan berada di dalam gua, dan juga ledakannya bisa merusak bagian dalam ruangannya," sambung Irena. Dia masih berdiri di sebelah Andri, dan bertanya, "Kamu masih ingat apa yang ada di dalam ruangan ini? Bagaimana cara membukanya?"
"Cara membukanya…?" Andri ingin mengakui kalau dia tidak ingat, namun begitu dia memutar gagang pintu, dia merasakan gagangnya memanas. Menunduk, dia melihat bola logam yang menjadi gagang pintu menyala dengan pendar putih redup, kemudian padam. Dia merasakan sesuatu, seperti air, mengalir melalui jari-jemarinya, telapak tangannya, mengalir ke dalam dirinya dan kembali ke gagang tersebut. Dia merasakan aliran air tersebut, mengenalinya sebagai data yang bergerak, menyebar ke dalam dirinya seperti ingatannya yang memulih.
Lalu, dia mendorong pintu tersebut. Dengan suara krak pelan, pintu tersebut membuka.
Dia mendorong pintu tersebut hingga terbuka sepenuhnya. Ingatan-ingatannya mulai membentuk kembali, tentang mekanisme pertahanan yang dia pasang di pintu ini, tentang bagaimana cara membukanya, dan dia menerima ingatan tersebut seluruhnya. Dia merasakan pemahaman mengenai apa yang baru saja terjadi.
Menoleh kepada Watson dan Irena, dia tidak kaget saat melihat ekspresi mereka yang tak percaya, menatap balik kepadanya. Dia melangkah masuk lebih dulu, melihat-lihat bagian dalam ruangan tersebut.
Ruangannya jelas tidak sebesar milik Irena, mungkin hanya separuhnya, kemungkinan besar malah lebih kecil lagi. Isinya sangat sederhana, hanya terdiri atas satu rak berisi sebaris Plat, beberapa kursi, dan sebuah tempat tidur. Dindingnya dilapisi batu bata merah, langit-langitnya ditutup dengan plafon sehingga tak memperlihatkan stalaktit-stalaktit sedikit pun. Secara keseluruhan, ruang tersebut sangat mirip dengan kamarnya yang ada di Bogor, sampai-sampai seandainya ada jendela-jendela, bisa dibilang sama persis.
Namun, di luar semua kesamaan tersebut, ada satu benda unik yang membuat Andri sangat tertarik. Benda yang bahkan masih diingatnya, walau dalam bayang-bayang buram pada ingatan yang belum terbentuk seluruhnya. Benda tersebut berada di tengah-tengah ruangan, disinari oleh lampu neon gantung yang menjadi satu-satunya sumber cahaya di ruangannya.
"Eh… ya," kata Watson, masih tidak percaya, bingung, dan kaget. "Aku… tak menyangka akan semudah itu."
"Aku sudah mengiranya, sebenarnya," kata Irena, memandang seisi ruangan tersebut. "Kamu bukan tipe yang sulit, Andri. Selalu praktis… dan teknis. Begitu berbeda dengan sebagian besar dari kita."
Andri tidak begitu mendengarkan mereka. Jari-jarinya sedang menyentuh permukaan benda yang berada di tengah ruangan, benda yang menurut ingatannya merupakan salah satu benda paling penting semasa perlawanan mereka beberapa bulan sebelumnya.
Benda tersebut adalah Mejanya.
Berbentuk persegi panjang, berkontur kayu seperti pintu ruangannya, permukaan meja tersebut sangat halus, tak bercela. Ukurannya mungkin hanya sepertiga ukuran Meja besar di ruangan milik Irena, namun Andri ingat, sedikit demi sedikit, kegunaannya dan apa saja yang bisa dia lakukan dengannya.
Irena maju mendekatinya dan berkata, "Meja ini adalah salah satu alasan utama kami mencoba masuk ke ruangan ini berkali-kali. Kamu tahu, Mejamu adalah satu-satunya Meja di sini yang dapat berkoneksi langsung dengan jaringan ESR, AVI, ADI, dan seluruh jaringan Gate Science lainnya. Kamu membawa Meja ini ke sini begitu perlawanan dimulai, beberapa bulan yang lalu. Tadinya, ini adalah Meja milik -"
"-ayahku," kata Andri pelan, kedua telapak tangannya menyentuh permukaan Meja tersebut.
"Ya, milik El-Qodr," kata Irena, menurunkan suaranya. "Kamu dan Ali mewarisi banyak hal darinya."
Andri mengangguk pelan, menatap meja tersebut seluruhnya. Kemudian, sebuah pertanyaan muncul di kepalanya, dan dia menoleh kembali kepada Irena dan Watson.
"Kenapa kalian ingin menggunakan Meja ini?" tanyanya.
Irena langsung menjawab, "Karena kami ingin menemukan Ali dan menyelamatkannya."
Mengerjap kaget, Andri berkata pelan, "Apa?"
"Setelah kamu pergi, perlawanan kita dipatahkan di banyak tempat," kata Irena. "Kami kalah dalam senjata, kami kalah dalam jumlah, dan yang paling utama, kami kalah dalam penguasaan Net. Setiap kali kami masuk untuk mengakses Net, militer akan menemukan lokasi kami dengan mudah lalu memburu kami dalam sekejap. Puluhan kali kami telah mencoba, puluhan kali pula kami diserang oleh para drone. Kamu ingat Meja di ruanganku? Kami mengorbankan banyak sekali orang agar bisa mendapatkannya, sebuah Meja yang dapat mengakses Net dengan lebih 'aman'. Bahkan, Meja tersebut pun memiliki banyak keterbatasan dalam mengakses Net - kami tidak bisa melakukan hal-hal strategis selain mengakses radar, peta, dan semacamnya. Kami tidak bisa mengakses lokasi, server cloud penting, dan lain-lainnya.
"Satu-satunya harapan kami adalah Ali. Sama sepertimu, Ali dapat mengakses jaringan Net Gate Science dalam sekejap melalui bot-eye atau backdoor, dan bahkan dalam beberapa hal dia lebih ahli dibandingkan denganmu. Dengan memiliki dia di sisi kami, kami dapat melanjutkan perlawanan kami, bahkan dapat menyerang balik - sama seperti yang kami minta kepadamu barusan." Irena menjelaskan.
Penjelasan Irena membuat Andri mendongak dan menatapnya. Dia berkata pelan, "Kalian membutuhkan Meja ini untuk mencari Ali?"
"Ya. Kami tidak tahu di mana Ali berada, kami harus mencarinya lebih dulu, dan pencarian di atas permukaan - tak peduli sebaik apa pun mata-mata yang kami miliki - akan sangat amat berbahaya. Kami tidak bisa mengakses jaringan Net yang diperlukan untuk mencari Ali, kecuali kami berhasil masuk ke dalam sini dan menggunakan Mejamu untuk mengakses Net, mencoba mencarinya.
"Meskipun, tentu saja, belum tentu kami bisa menggunakan Meja tersebut," kata Irena, tertawa kecil. "Karena setahu kami, hanya kamu dan Ali yang dapat mengakses seluruh Net Gate Science dengan aman."
Andri menatap Irena, kemudian ke Watson. Dia berkata, "Jadi… untuk mencari Ali, aku harus menggunakan Meja ini?"
Irena membuka mulutnya, hendak menjawab, namun Watson mendahuluinya dengan berkata, "Tidak juga. Dengan kemampuanmu, seharusnya kamu bisa masuk ke Net mereka dengan mudah melalui Meja atau bot-eye mana pun."
"Watson!" kata Irena marah.
Watson tak bergeming. Andri kembali menunduk memandang Meja di hadapannya. Dia mengusapkan telunjuk tangan kanannya dari atas ke bawah di permukaannya, dan dua buah lingkaran bercahaya muncul di bawah kedua telapak tangannya. Dia meletakkan tangannya di atasnya, merasakan sesuatu seperti aliran listrik mengalir dari meja ke tangannya.
"Tentu saja, akan bodoh untuk keluar dan berjalan-jalan di megapolis, atau kota manusia mana pun tanpa persiapan," kata Irena keras. "Apalagi menggunakan Meja mereka - sebagian besar Meja sudah dilengkapi fitur pelacakan - tracking - sehingga memungkinkan siapa pun yang mengakses Net langsung diketahui alamatnya. Apalagi mengakses informasi mengenai Ali, apalagi mencari-carinya di seluruh jaringan. Mencari satu robot untuk ditatap matanya, mengakses Net melalui bot-eye milik mereka, juga akan berbahaya! Akses mereka dikontrol ketat, orang-orang pemerintah pasti akan langsung menyadari jika ada robot yang mencoba mengakses data-data mengenai Ali dalam bentuk apa pun! Karena itu -"
"Aku ingat Meja ini," kata Andri, memotong Irena. Dia memutar telapak tangan kanannya di atas meja, dan sebuah layar hologram muncul di hadapannya. "Ayahku memilih Meja ini sebagai Meja pribadinya karena beberapa alasan. Pertama, karena ketahanannya: Meja ini tahan hantaman, benturan, dan bahkan ledakan, sama seperti pintu ruangan ini.
"Kemudian, alasan yang kedua adalah karena kecepatannya."
Andri memutar tangan kirinya, dan sebuah kotak dialog kosong muncul. Andri mengetikkan satu kata yang sudah pernah dia gunakan, satu kata kunci universal, sebuah kunci untuk mengakses seluruh backdoor mana pun di Meja mana pun yang pernah dibuat oleh ESR. Satu kata yang merupakan nama seorang pria dari Dunia Tengah, seorang anggota keluarga dari masa lalu El-Qodr: alwi.
Sebuah peta muncul di layar hologram, namun Andri tidak melihatnya. Aliran data dari kedua lingkaran di permukaan meja mengalir deras ke dalam dirinya, dan dia kini melihat, menyaksikan, seluruh data-data mengalir di dalam jaringan Net.
.
Dia merasa seperti melayang, dengan data-data yang berupa bola-bola cahaya mengalir ke segala arah, bertubrukan dan memecah, menyatu, mengalir, melaju, berbelok, dan banyak lagi. Dia mencoba berkonsentrasi pada seluruh data tersebut, memfokuskan persepsinya menjadi sesuatu yang lebih teratur, lebih terorganisir.
Semuanya berubah. Kini, dia merasa seolah sedang melayang dalam ruang vakum, dikelilingi kegelapan, meluncur masuk ke dalam sebuah galaksi yang berputar perlahan. Hanya saja, itu bukan galaksi melainkan kumpulan data. Dan bola-bola cahaya tersebut, yang seolah tampak seperti bintang, bukanlah bintang melainkan data. Cahaya yang paling terang di tengah-tengah galaksi adalah pusat data, atau server utama tempat seluruh data berpusar dan mengalir.
Data-data tersebut, yang berputar perlahan mengelilingi pusat data, mengalir dengan deras di kanan-kirinya. Sebagian besar dari mereka adalah data-data berwarna putih, namun ada juga data berwarna hijau, biru, dan kuning. Yang paling menarik perhatian Andri adalah beberapa dari mereka, yang berupa bola cahaya berwarna merah.
Andri ingat mereka. Bola-bola cahaya merah tersebut adalah 'mata' para pengawas Net. Mereka adalah gabungan kekuatan operator manusia, robot, maupun piranti lunak yang memiliki fungsi utama menjaga Net. Andri menyaksikan beberapa dari bola merah tersebut melahap beberapa bola kuning yang merupakan data virus-virus. Beberapa lagi bahkan mengeluarkan semacam lengan-lengan untuk menangkap beberapa bola putih, melahapnya, sebelum kemudian mengeluarkannya kembali sebagai bagian dari pengawasan data.
Menjauh dari bola-bola merah tersebut, Andri melayang menelusuri galaksi data, mencari-cari dan mengamati data-data di kanan-kirinya. Begitu banyak informasi, begitu banyak data yang bisa dilihat. Namun, dia tahu apa yang dia cari. Dia memejamkan matanya sejenak, memfokuskan pada pencariannya, pada Ali.
Tidak memakan waktu lama. Begitu dia membuka matanya lagi, dia ditarik ke atas oleh suatu kekuatan yang tak terlihat, atau bisa dibilang galaksi tersebut jatuh di bawahnya. Dia melihat, dari atas, suatu kumpulan bola data berwarna putih yang bersama-sama berubah menjadi hijau di satu tempat di galaksi. Dia terbang turun, mendekati kumpulan data hijau tersebut, dan dalam sekejap berada di antaranya.
Bola-bola hijau di sekelingnya sangat banyak, dan Andri tahu bahwa dia berada di tempat yang tepat. Seluruh bola-bola hijau tersebut adalah data mengenai Ali, dan lokasinya yang begitu berdekatan mengindikasikan bahwa, di dunia nyata, data-data tersebut disimpan dan berasal dari tempat yang juga berdekatan.
Andri membuka kedua telapak tangannya, mengangkatnya ke depannya, namun yang ada di hadapannya adalah sepasang tangan putih yang sangat besar. Seluruh data hijau tersebut mengulurkan lengan-lengan mereka menuju telapak tangannya, menyalurkan seluruh isi data mereka kepadanya.
Hantaman data-data tersebut begitu banyak, masif, hingga sejenak dia merasa beban otaknya terlalu berlebih. Namun, dia sudah mulai terlatih untuk membendung dan mengatur aliran data ke dalam otaknya. Dia bersabar, dia menunggu dengan tenang. Dia membiarkan seluruh data tersebut masuk perlahan-lahan, dan dia artikan seluruhnya satu per satu.
Dia melihat banyak hal. Dimulai dari foto Ali yang paling pertama muncul ke publik, foto yang sama yang ada di buku Sejarah miliknya, foto potret wajah Ali, foto Ali di berbagai kegiatan, publisitas, majalah, dan bahkan bersama beberapa selebriti terkenal.
Kemudian, foto-foto berikutnya bermunculan, bersama informasi-informasi yang menyertainya. Foto Ali bersamanya untuk pertama kali saat mereka muncul di koran (lengkap dengan kolom gosip yang banyak sekali, seluruhnya, terarsipkan dengan baik), foto-foto Ali bersamanya saat mereka berpose di depan pabrik Android terbaru, foto-foto mereka sedang bercanda, semua foto yang pernah mereka masukkan ke akun Net mereka, hingga foto-foto mereka bersama ayah mereka, Profesor El-Qodr.
Dan, akhirnya, Andri mendapatkan informasi-informasi mengenai penangkapan Ali, pengurungannya, hingga pemindahan Ali dari penjara biasa ke fasilitas kurungan khusus di gedung pusat penelitian Android. Lalu, tak ada informasi lagi.
Andri menarik dirinya dari data-data tersebut, dan kembali ke tengah-tengah galaksi. Dia menatap sekelilingnya, ke ribuan, atau mungkin jutaan bahkan milyaran data yang berputar mengelilinginya. Dia membutuhkan data, informasi, mengenai gedung pusat penelitian Android - yang, jika ingatannya benar, adalah tempat di mana dia terakhir kali melihat Ali, jauh di lantai atas di gedung tersebut.
Sebuah kumpulan bola putih berubah menjadi hijau. Lokasi kumpulan bola hijau yang baru ini tidak jauh dari lokasi kumpulan data Ali. Andri melihat beberapa data-data Ali termasuk dalam kumpulan bola hijau yang baru, yang mengindikasikan bahwa dia menemukan data-data yang benar.
Dia ingin memastikan. Dia mengulurkan kedua telapak tangannya lagi, menerima seluruh lengan dari bola-bola cahaya hijau di sekelilingnya. Dia memejamkan mata, membiarkan informasi merasuk ke dalam dirinya, kali ini jauh lebih cepat dibanding sebelumnya. Dia mengakses seluruhnya - seluruh bot-eye yang ada di gedung tersebut, seluruh Meja yang ada di sana, hingga seluruh kamera keamanannya.
Dan akhirnya, dia menarik dirinya.
.
Menarik dirinya dari galaksi data, dari dunia virtual tersebut, Andri mendapati dirinya kembali berada di ruangannya. Layar hologram di depannya masih menyala, memperlihatkan baris demi baris komando yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi. Dia menoleh ke Watson dan Irena, yang memandangnya dalam diam, ekspresi mereka tak terbaca.
"Jadi?" tanya Irena setelah beberapa saat.
"Aku menemukan Ali," jawab Andri.
"Kamu menemukannya?"
"Bagaimana…"
Andri mendongak, mengangkat alisnya kepada Watson yang menanyakan pertanyaan terakhir tersebut. Watson buru-buru menutup mulutnya, dan bahkan Irena menatapnya dengan pandangan 'kau-ini-bodoh?' Andri sendiri memutar lingkaran di permukaan meja dengan tangan kanannya dua kali, menghilangkan display hologram dan menggantikannya dengan peta tiga dimensi, nyaris sama dengan peta yang ada di Meja Irena.
"Manhattan?" tanya Irena, bingung.
"Ya. Selama ini, Ali ternyata tak pernah dipindahkan," kata Andri, menggeser peta dengan kecepatan tinggi.
"Dia tak pernah dipindahkan…" Irena mengernyit sementara kata-kata tersebut merasuk ke dalam kepalanya. Kemudian, dia membelalak dan berkata, "Maksudmu -"
"Ya," kata Andri singkat. Dia terus menggeser peta, mencari sepanjang pesisir Timur Amerika, pantai Megapolis Manhattan. Tidak lama kemudian, dia berhenti di sebuah tempat.
Tempat yang kini ditampilkan di peta adalah sebuah wilayah pantai, kurang lebih berukuran 10 hektar berdasarkan skala. Lokasinya bertempat di pinggir wilayah Megapolis Manhattan, sudah cukup jauh dari distrik-distrik perkotaannya yang penuh akan bangunan. Pohon-pohon memenuhi wilayah tersebut, terutama tegakan pantai dengan pohon-pohon menyerupai cemara laut yang familiar bagi Andri. Tepi pantainya berdebur akan ombak, dan sekilas tidak ada apa-apa di sana.
Namun, di satu tempat, sebuah bangunan berdiri. Dari atas, bangunan tersebut tampak seperti huruf 'U', dengan bagian yang terbuka menghadap ke arah pantai. Bangunan tersebut berwarna hitam, seluruh dindingnya terdiri atas banyak kaca, dan tingginya… sangat tinggi. Tidak setinggi bangunan-bangunan yang ada di distrik-distrik perkotaan, tapi tetap saja cukup tinggi untuk ukuran sebuah bangunan yang terdapat di tengah-tengah wilayah kosong.
"Astaga," kata Irena pelan.
"Yap. Gedung riset Android milik divisi ESR, yaitu ARDI," jawab Andri.
Bagi Andri, Watson, dan Irena, gedung tersebut bukanlah sesuatu yang asing. ARDI, singkatan dari Android Research and Development Initiative - Prakarsa Riset dan Pengembangan Android - adalah fasilitas utama riset yang diadakan oleh divisi ESR dalam pembuatan dan penelitian Android. Tempat tersebut memiliki sejarah yang panjang, namun bagian sejarah yang paling berkesan bagi mereka bertiga adalah fakta bahwa di situlah El-Qodr dan tim risetnya melaksanakan pengembangan Cynism pertama, yang mengarah pada pembuatan Android pertama.
Dengan kata lain, tempat itu adalah tempat mereka diciptakan.
Ada banyak pabrik-pabrik Android lainnya di seluruh dunia, namun ARDI, bagi mereka, adalah tempat kelahiran mereka. Lima Android pertama, yaitu Ali (dan Andri), Irena, Sherry, Watson, serta Faishal diciptakan di sana, sebagai generasi paling pertama dalam produksi Android di dunia. ARDI memiliki sarana dan prasarana yang sangat memadai, keamanan yang sangat tinggi, dan bangunannya dirancang sedemikian rupa sehingga sanggup menahan bahkan rudal-rudal mistral sekali pun karena harus siap untuk menghadapi insiden-insiden berbahaya dari dalamnya sendiri. Menciptakan Android bukanlah perkara mudah, melibatkan banyak bahan berbahaya dan sumber energi yang juga berbahaya. Sudah sewajarnya gedung tersebut memiliki ketahanan sangat tinggi seperti itu.
Oleh karena ketahanan dan kelengkapan fasilitasnya, tempat tersebut dijadikan tempat 'negosiasi' antara Android dan tentara manusia beberapa bulan yang lalu. Tempat yang sama yang menjadi tempat terakhir mereka melihat Ali, dan bagi Andri, adalah tempatnya gagal memenuhi janjinya.
"Aku akan ke sana," kata Andri.
Irena buru-buru berkata, "Jangan bodoh, kita akan ke sana. Akan kukumpulkan seluruh Android yang ada-"
"Aku akan ke sana." Andri menggertakkan giginya, mematikan Mejanya.
Irena, kehilangan kesabaran, mencengkeram bagian depan baju Andri dan berkata keras, "Kamu egois! Kamu tidak sadar apa yang akan terjadi kalau kamu datang ke sana sendirian? Tidak-tidak ingatkah kamu akan apa yang kita alami terakhir kali kita ke sana? Kamu pikir kamu bisa menyelamatkan Ali sendirian, padahal ratusan Android telah mencobanya dengan maju ke sana bersamaan?"
Watson berkata cepat, "Irena benar, Andri. Setidaknya, biarkan kami mencoba membantu. Ini - ini sudah bukan sekedar misimu, ini sudah menjadi misi untuk kita semua."
Andri memandangi mereka berdua bergantian. Kemudian, dia menggeleng-geleng pelan, menghela napasnya panjang-panjang. Dia berkata, "Lepaskan aku."
Menatapnya dengan tajam, Irena akhirnya melepaskan cengkeramannya dari baju Andri. Dia tampak siap untuk meledak lagi, dan Watson tampak makin khawatir. Dia tahu kalau Andri dan Irena mulai beradu fisik, dia takkan bisa melerai mereka sebelum salah satu terluka.
Namun, Andri tetap tenang. Dia menatap Irena balik, dan berkata, "Harusnya kamu paham, Irena. Kamu adalah yang paling pintar di sini. Dengan berangkat sendirian membebaskan Ali, kesempatanku untuk menyelamatkannya justru jauh lebih besar daripada datang ke sana membawa ratusan, atau bahkan ribuan, Android. Dengan datang sendiri, aku bisa masuk dengan sembunyi-sembunyi, tanpa ketahuan sedikit pun. Tak perlu ada kontak senjata jika aku berhasil. Tak perlu ada korban. Masuk, selamatkan Ali, dan keluar.
"Lalu, dengan kemampuanku, aku bisa melumpuhkan seluruh sistem keamanan di sana, bahkan mungkin mendapatkan bantuan dari para robot, seperti yang kulakukan di Nusa Kambangan. Keselamatanku juga akan lebih terjamin, dan tak perlu lagi ada Android yang perlu kita korbankan. Sudah… terlalu banyak teman kita yang tewas, 'kan?"
Setelah penjelasannya tersebut, Irena tampak jauh lebih tenang. Dia berkata pelan, "Berarti… yang mau kamu utamakan adalah poin penyusupannya?"
"Ya. Aku akan menyusup masuk, alih-alih menyerbu," jawab Andri.
"Tapi… tapi…" Irena menarik napas dalam, berkata, "bagaimana kalau kamu gagal dan kalian berdua ditangkap? Atau lebih buruk lagi, tewas?"
"Mungkin kamu bisa melancarkan rencanamu menghancurkan Manhattan tanpa ada yang protes, meski jadi lebih sulit," kata Andri, mencoba bercanda.
Irena mengernyit, meringis kecil. "Itu tidak lucu."
"Aku tahu."
"Kami tetap tidak bisa membiarkanmu pergi sendiri."
Menghela napas panjang-panjang, Andri menatap Irena, dan setelah berpikir sejenak, menjawab, "Jadi, ikutlah."
Irena dan Watson membelalak mendengar tawaran tak terduga tersebut. Mereka saling pandang, memikirkan kemungkinan-kemungkinannya. Mereka berdua, sebagai lima Android pertama, adalah para Android yang diciptakan langsung oleh El-Qodr dan timnya, bukan oleh tim lain maupun mesin-mesin pabrik. Mereka memiliki kualitas bangun yang sangat tinggi, kekuatan yang besar, dan pribadi yang sangat manusiawi. Dilihat dari faktor-faktor tersebut, secara teori saja, memiliki mereka berdua sebagai rekan untuk menyusup ke dalam ARDI dan membebaskan Ali adalah sebuah gagasan yang sangat bagus. Dan Andri tahu itulah yang mereka berdua sedang pikirkan.
Sesuai dugaannya, yang memberinya jawaban lebih dulu bukanlah Irena.
"Aku ikut," kata Watson.
Irena menoleh tajam kepadanya, namun Watson tak peduli. Dia melangkah maju kepada Andri, berkata, "Kalau dengan kehadiranku kemungkinan kita untuk menyelamatkan Ali menjadi lebih tinggi, aku akan ikut."
"Terima kasih," kata Andri sungguh-sungguh, menatap Watson. Dia menoleh kepada Irena, yang tampak masih berkutat di dalam pikirannya.
"Bagaimana denganmu?" tanya Andri.
"Aku - aku jelas ingin ikut," kata Irena, sedikit tergagap. "Tapi - tapi bagaimana kalau kita gagal? Siapa yang akan memimpin di sini, siapa yang akan melanjutkan pergerakan seluruh saudara kita?"
"Ada cukup banyak Android di sini," kata Andri. "Kamu tidak bisa memilih salah satu dari mereka?"
"Ya, bisa, tentu saja, tapi…"
"Ayolah, Irena," kata Watson, memohon. "Untuk sekali ini, jangan terlalu banyak berkalkulasi. Ayo kita beraksi."
Irena menoleh kepadanya, alisnya terangkat. Dia berkata pelan, "Kamu sudah terlalu banyak ikut aksi, padahal sudah kuberitahu untuk tidak -"
"Kalau begitu, aku minta maaf," kata Watson cepat. "Tapi kita harus ikut untuk yang ini, dan aku yakin kamu setuju."
Menatap Andri lagi, Irena menggigit bibirnya. Dia berkata pelan, "Aku… akan ikut."
Watson tampak lega dan senang. Irena buru-buru menambahkan, "Tapi - tapi kita harus menyusun strategi dulu! Jangan mendadak datang ke sana begitu saja! Itu sama saja bunuh diri!"
"Memangnya kamu kira sekarang kita mau apa?" tanya Andri, memunculkan kembali peta tiga-dimensi yang memperlihatkan ARDI. Dia melakukan zoom-in, dan berkata, "Kita akan menyusun rencana."
.
"…dan jika tidak ada dari kami yang kembali setelah satu minggu…"
"Akan kulanjutkan rencana kita."
"Tepat, Rob," kata Irena, menepuk bahu Android di hadapannya, yang bernama Rob. Dia ragu-ragu sejenak, sebelum akhirnya berkata, "Semoga kalian berhasil."
"Semoga kalian juga berhasil," kata Rob, menyalami Irena. Dia mengangguk ke Watson, tersenyum, kemudian menoleh ke Andri, mengangguk kepadanya juga.
Rob adalah Android yang ditunjuk oleh Irena untuk memimpin kelompok perlawanan di saat absennya. Berpenampilan layaknya remaja pemain bola, dengan tubuh atletis, tinggi, dan tegap, serta wajah dan suara yang dewasa, Rob dipilih oleh Irena karena kekuatannya, ketangguhannya, dan kepemimpinannya yang selalu dia tunjukkan pada setiap misi dan aksi mereka. Dia termasuk dalam Generasi ke-2 Android yang diproduksi, tepat setelah generasi lima Android pertama. Dia berpengalaman dalam pertempuran, meskipun dia tidak ikut dalam pertempuran The Purge.
Singkat kata, Rob adalah Android yang paling pantas untuk menggantikan Irena untuk memimpin kelompok mereka.
Andri mengerti bahwa dengan membawa Irena dan Watson akan membuat tujuan aslinya, yaitu membawa Ali kabur dan hidup di satu tempat bersama, berisiko gagal karena kemungkinan besar Ali akan diajak bergabung dengan kelompok perlawanan. Tapi baginya ini adalah satu-satunya cara untuk bisa keluar dari tempat tersebut tanpa menghadapi perlawanan dan penentangan.
Serta, meski dia masih belum begitu mau mengakuinya, dia merasa dia akan membutuhkan Irena dan Watson nantinya. Dia merasa tidak ingin berpisah dengan mereka berdua lagi. Ingatan-ingatannya dari masa lalu terus mengalir, termasuk ingatan persaudaraan mereka, lima Android pertama, yang dulu mereka miliki satu sama lain.
Jalur utama menuju ke luar adalah melalui lift besar yang bergerak ke atas, ke permukaan gurun. Lift tersebut akan membuka di kaki pegunungan, pada sebuah gua yang tersembunyi. Melalui jalur itulah para Android dapat keluar-masuk untuk menyerang truk kargo ESR, merampok muatannya, dan membawanya ke dalam markas mereka. Itu adalah semacam rutinitas yang telah mereka lakukan berkali-kali. Selalu bergerak di malam hari, kadang mereka merampok wilayah perumahan di lereng bukit, kadang merampok truk-truk di jalan raya yang berjarak puluhan kilometer, dan kadang bahkan merangsek ke megapolis. Hanya aksi kecil-kecilan, tapi seperti yang mereka katakan, 'minimal ada aksi'.
"Terima kasih semuanya," kata Watson, melambai.
"Yo, Watson!"
"Jangan macam-macam di atas sana, bos!"
"Jaga Irena!"
Watson membalasnya dengan cengiran dan senyuman. Itulah Watson, berlawanan dengan Irena yang merupakan ahli strategi dan kalkulasi, tenggelam setiap harinya dalam buku-buku dan strategi-strategi, rencana-rencana terbaru untuk perlawanan mereka, Watson lebih banyak menghabiskan waktunya di tengah-tengah Android lainnya. Dia membangun mereka, mengajarkan mereka kemampuan-kemampuan yang mereka tak tahu mereka miliki, dan kadang bahkan bertukar candaan. Jika ada Android yang tidak mengerti leluconnya, dia menjelaskan hingga mereka bisa tertawa bersama juga.
Namun, semua itu bukan hanya untuk iseng-iseng. Andri menyadari bahwa semua tindakan Watson tersebut adalah usaha Watson untuk mendorong tumbuhnya 'kepribadian' pada semua Android. Dia ingin seluruh Android memiliki kepribadian, terutama untuk para Android generasi terakhir, generasi paling muda, yang notabene tidak dibubuhi cukup data di dalam diri mereka untuk dapat memiliki kepribadian sedari keluarnya mereka dari pabrik mereka diciptakan, tidak seperti generasi-generasi Android yang sebelumnya, yang diproduksi sebelum pemberontakan Android dimulai.
Singkat kata, Watson mendorong para Android untuk makin mirip manusia bukan hanya dari segi biologis, melainkan juga psikologis.
Itulah sebabnya, pikir Andri, kenapa Rob berkali-kali mencuri pandang kepadanya. Itulah sebabnya kenapa para Android lainnya, sejak dua hari lalu, sangat penasaran dengan Andri. Dirinya sudah menjadi seperti legenda bagi kaum Android, bahkan bagi beberapa, mereka menganggapnya sebagai sang penyelamat.
Yang menarik, Andri menyadari bahwa mereka - terutama para Android yang paling muda - tidak begitu mengerti mengenai makna kata-kata tersebut. Sebagian besar dari mereka hanya meniru-niru dari buku yang mereka baca, pengetahuan tentang manusia yang mereka miliki. Namun, ambang kecerdasan mereka kian menembus batas tiap harinya. Akan ada masa di mana para Android seluruhnya memiliki kepribadian nyata, bukan hanya bawaan dari pabrik mereka. Mereka akan bermimpi, berkhayal, dan bahkan mencoba meramalkan masa depan mereka, namun tidak sekarang. Dan hal-hal tersebut tak akan pernah tercapai jika perlawanan mereka gagal.
Andri paham hal tersebut, begitu juga Irena dan Watson. Mereka mengerti apa yang akan terjadi jika mereka tidak berhasil dalam misi mereka ini. Bukan hanya Ali takkan bisa diselamatkan, perlawanan ini akan kehilangan pemimpin utama mereka. Namun Andri, meskipun dia benci untuk mengakuinya, sadar bahwa jauh di dalam pikirannya dia ingin perlawanan mereka berakhir. Dia ingin mereka berhenti bertempur. Dia ingin mereka mencoba melanjutkan hidup di tempat-tempat yang jauh daripada harus membunuh ribuan, atau ratusan ribu, manusia.
Lift mengangkat mereka ke atas dengan cepat. Watson melambai dan berteriak kepada beberapa teman-temannya, sementara Irena berdiri di pojokan lift dalam diam. Andri sendiri berdiri di tengah, memandang ke para Android di bawah mereka, yang semakin lama semakin jauh. Langit-langit gua di atas mereka membuka, memberikan jalur keluar untuk lift.
Mereka kini berada di sebuah gua. Berjalan cepat keluar dari sana dengan dipimpin oleh Watson, mereka berhenti sebentar di bibir gua untuk melihat situasi. Andri bisa menyaksikan jalan raya tempat truk yang ditumpanginya dirudal beberapa hari sebelumnya, dan bahkan bekas ledakannya masih menyisakan lingkaran hitam besar di jalanan. Mereka memandang ke langit, ke gurun, memanfaatkan mata dan telinga mereka yang kuat untuk mendeteksi pergerakan sekecil apa pun.
Kondisi aman. Tidak ada drone, tidak ada truk, dan tidak ada manusia yang bergerak dalam radius berkilo-kilometer.
Mereka berlari lagi, kali ini menyusuri sebuah jalur pendakian menuju sisi puncak perbukitan. Mereka berlari kencang dengan hanya menimbulkan sedikit mungkin gangguan pada tanah. Tidak ada debu atau batu-batu yang berjatuhan karena mereka memijak dengan keras pada tanah. Bagi Watson dan Irena, berlari seperti itu adalah hal yang lumrah, dan Andri bersyukur ingatannya sudah hampir pulih sepenuhnya. Dia bisa mengatur tenaganya, langkah kakinya, dan dia bisa menyadari bahwa dia bukanlah manusia. Dia adalah Android, dan Android, sama seperti robot penjaga besar yang menggendongnya di Nusa Kambangan, tidak merasakan lelah.
Tidak memerlukan waktu lama, mereka telah sampai di puncak bukit. Membentang di hadapan mereka adalah sebuah kota raksasa, calon Megapolis Nevada yang masih dalam pembangunan. Menara-menara raksasa sedang didirikan, jalan-jalan layang sedang ditambah, dan aktivitas penduduknya sangat tinggi. Andri teringat akan Padang, akan Indonesia, akan Bogor, akan sekolahnya, Tim, Risa, Rho, dan Diki.
Kemudian, dia teringat Ali, ratusan kilometer dari tempatnya sekarang. Beberapa negara bagian, tiga megapolis, dan banyak kota-kota kecil serta rintangan alam masih memisahkan dirinya dengan Ali, namun dia makin merasa yakin bahwa jarak di antara mereka semakin sempit.
"Ayo," kata Watson, berlari turun.
Andri mengikutinya, dengan Irena di paling belakang. Mereka berlari langsung menuju Megapolis Nevada.
|
||||||