Fiction » Fantasy »

Aphrozeina
Author:
FlorenciaMelanie PM
San Tomori, seorang cewek yatim piatu, ketika melihat replika kalung yang dirumorkan milik seorang dewi, dipindahkan ke dunia lain oleh kalung tersebut. Disana dia diberi tugas oleh seseorang yang mengaku sebagai ayahnya untuk menjaga pangeran mahkota. Akankah dia berhasil? Lalu, memang siapa sih dia sampai-sampai diberi tugas itu? Lagipula siapa sang ayah itu?
Rated: Fiction T - Indonesian - Romance/Fantasy - Chapters: 5 - Words: 14,408 - Reviews: 3 - Follows: 1 - Updated: 03-08-13 - Published: 01-13-13 - id: 3091668
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

Bertemu Kembali

"Yang mulia Ilios? Kau darimana saja?" tanya Minav dengan wajah khawatir. Seperti biasa, kemanapun aku pergi pasti akan menjadi tempat berbahaya baginya.

Aku tersenyum dan berkata, "Dari tempat biasa," jawabku dengan tenang.

Wajah Minav yang tadi terlihat kesal berubah menjadi murung, "Sudah dua tahun, rasanya lama sekali." Dia menatap ke langit dan menghela nafas. "Masih belum ada kabar tentang keberadaannya," ujarnya dengan nada sedih.

"Tidak ada. Entah kenapa, aku tahu dia masih hidup di suatu tempat," ucapku sambil tertawa. Aku tidak akan menangis untuknya lagi. Janji dusta yang dia ucapkan waktu itu, dia bilang akan bersamaku, menjagaku sampai waktunya aku bisa berdiri sendiri dan menjadi Raja. Tapi dia pergi tanpa jejak. Aku melihatnya terakhir kali dengan wajah sedih, pucat, sebuah wajah yang entah kenapa dia berikan kepadaku untuk terakhir kalinya.

Ketika aku sedang mengenang kejadian itu, seorang pelayan berlari dan berlutut, "Lapor, Pangeran Mahkota, Shaman Shion sudah kembali!" lapornya membuat wajahku berubah cerah dan langsung berlari ke bait Hernes.

"Shion!" teriakku ketika melihatnya.

Shion langsung tersenyum, "Baru pergi beberapa hari saja kau sudah seperti ini. Bagaimana kalau misalnya aku pergi selamanya, ya?" tanyanya dengan nada mengejek.

Aku memukulnya di pundak, "Jangan sekali-sekali kau melakukan itu, kau tahu aku membutuhkanmu disini! Kalau tidak ada kau, siapa yang akan membantuku mengembangkan ramuan itu?"

Shion langsung berpura-pura kesal, "Hoo, jadi kau membutuhkanku hanya untuk mengembangkan ramuan itu?" tanyanya dengan nada marah.

"Hahaha, tentu saja tidak. Sudahlah! Apa yang kau temukan di dunia itu kali ini?" tanyaku tidak sabar.

Ah! Sebelum aku lupa, Shion adalah seorang pengguna sihir, dia dipanggil Shaman. Dia sudah seperti saudara, sama seperti Minav. Walau dia baru datang sekitar satu tahun yang lalu, tapi kami bertiga sudah sangat dekat. Baru-baru ini, Shion menemukan sebuah sihir dari perpustakaan tua dengan kegunaan untuk pergi ke dunia lain. Shion sudah sering pulang-pergi ke dunia itu dan berkata bahwa banyak hal dari dunia itu yang berguna bagi Eternalia. Disana ada sebuah alat berbentuk seperti ikan yang bisa terbang di angkasa. Ada juga kaleng dengan roda yang bisa berjalan dengan cepat tanpa kekuatan manusia. Karena itulah aku sangat tertarik dengan perjalanan Shion.

"Kali ini aku hampir mati," ucapnya dengan air muka yang biasa saja.

"Apa?!" tanyaku dan Minav bersamaan.

"Ada seorang yang mabuk menusukkan pisau ke perutku, tapi tentu saja hal itu bisa kusembuhkan dengan mudah. Tapi karena seharian aku belum makan, aku pingsan di jalan," lanjutnya sambil tertawa. Shion memang seperti ini, hal yang besar dia anggap kecil. Karena itu kami-aku dan Minav-tidak berkomentar lebih lanjut. "Lalu ada seorang gadis yang memberikanku sebuah sup. Dia seakan-akan bisa membaca pikiranku! Dia tahu aku lapar walau aku belum memberitahunya. Walau aku sedang pingsan, dia memaksaku meminum sebuah sup yang kuakui enak sekali." Shion terlalu polos. . . sangat polos. Apakah dia tidak tahu kalau orang pingsan yang dipaksa makan bisa saja mati? Untung saja Shion bukan orang biasa.

"Lalu, apakah kau sempat berbicara dengan wanita itu?" tanya Minav sambil tersenyum bersemangat. Entah kenapa sepertinya Minav sangat tertarik dengan cerita Shion kali ini.

Tiba-tiba, Shion tersenyum malu dan wajahnya memerah, "Aku sudah berbicara padanya, dialah penyebab aku seharian tidak makan. Dia membantuku menemukan buku ini." Shion meraih sebuah buku tebal dengan judul 'Dream Comes True' terukir di bagian depannya.

"Memang apa yang spesial dari buku ini?" tanyaku dengan bingung.

"Nanti aku beritahu. Aku ingin menggambar sesuatu dan menunjukkannya kepadamu. Wanita yang aku temui kali ini bukanlah wanita biasa." Minav dan aku bertukar pandang dan langsung tertawa. "Kenapa?" tanya Shion bingung. Kami berdua menggeleng. "Maksudku dia spesial karena perempuan ini memiliki kekuatan yang sangat mematikan. . ." lanjutnya membuat kami berhenti tertawa dan mulai memandangnya bingung. "Dia tidak berasal dari dunia sana. Dia, dia bukan manusia biasa. Bahkan dari wajahnya bisa dibilang sudah berbeda dari yang lain."

"Apa maksudmu dengan berbeda dari yang lain?" tanya Minav yang kembali tertarik dengan cerita Shion. "Apakah dia mengerikan?"

Shion menggeleng, "Dia cantik sekali!" teriaknya membuat aku dan Minav langsung menepuk dahi.

Hari ini aku tidak bisa berkonsentrasi di sekolah karena masalah orang asing yang menghilang di rumahku itu. Aku masih tidak bisa berhenti memikirkan orang itu. Dia benar-benar menghilang, poof! Seperti abu ditiup angin. Aku ngeri membayangkan bagaimana caranya dia menghilang seperti itu. Jangan-jangan di rumahku ada hantu yang menculik manusia!? Ah, tidak, tidak mungkin.

Ketika aku pulang ke rumah, aku mendapati kalau pintu kamarku tidak terkunci. Hal ini membuatku siaga, karena aku yakin sekali kalau aku sudah mengkunci pintu kamarku. Aku mempersiapkan sebuah pemukul baseball di pinggir ruangan, aku mengambilnya dan langsung berjalan dengan perlahan ke arah kamar.

Tiba-tiba pintu kamarku terbuka lebar, seseorang keluar, tanpa berpikir aku langsung memukulkan pemukul baseball ke arah orang yang baru saja keluar dari kamarku.

"Wow, kau harus hati-hati dengan pemukul ini, nona." Aku kaget mendengat suara ini. Ini adalah suara. . .

"KAU! Bagaimana kau bisa masuk ke rumahku!? Kau bukan manusia, ya?" tanyaku tanpa basa-basi lagi.

Orang asing itu tersenyum dan berkata, "Namaku Shion, aku adalah manusia utuh yang hidup."

"Shion? Baiklah. Apa maumu? Kenapa kau menghilang begitu saja dan membuatku berpikir aku ini sudah gila?" tanyaku lagi.

Shion mengajakku duduk untuk menenangkan diri, kami sempat saling memperkenalkan diri terlebih dahulu tentu saja. Aku cukup bersyukur untuk mengetahui bahwa dia mengerti kekagetanku ini. Dia menceritakan kepadaku semuanya, bahwa dia adalah orang dari dunia lain yang datang ke duniaku untuk mencari cara untuk mengembangkan dunianya yang terlalu ketinggalan jaman.

Aku tertawa tentu saja. . . APAKAH DIA PIKIR AKU BODOH!? Tapi dia menjelaskan dan memberikanku bukti, dan hal itu membuatku mempercayainya. Dia memang terlihat sama dengan manusia dari duniaku, tapi dari segi kekuatan, dia punya apa yang kami tidak punya.

"Jadi? Untuk apa kau datang kepadaku?" tanyaku pada akhirnya. Aku bisa berbicara kepadanya seperti berbicara kepada orang lainnya karena aku sudah bisa mengendalikan diri sekarang. Mungkin penjelasannya kurang realistis atau bahkan tidak realistis sama sekali, tapi apa yang bisa kuperbuat? Percaya tidak percaya beberapa hal itu memang terjadi di depan mataku.

Shion berdiri dan langsung menggenggam tanganku, "Kau harus ikut denganku."

Wajahku memerah tentu saja, aku marah! "Apa maksudmu aku harus ikut denganmu? Aku tidak ada kewajiban untuk ikut denganmu!" omelku dengan nada kesal.

Dia menggeleng, "Kau bukan dari sini, San," jawabnya dengan nada serius. Aku memandangnya bingung. "Kau tidak bisa terus berada di dunia ini. Kau harus kembali ke duniamu. Aku tahu kau bukan manusia biasa," ujarnya membuatku speechless.

Aku tertawa sangat kencang membuatnya bingung, "Apa maksudmu aku bukan dari dunia ini? Aku sudah tinggal selama tujuh belas tahun di dunia ini."

Wajahnya berubah menjadi sangat serius, "Apakah kau tidak merasa aneh?" tanyanya secara tiba-tiba.

"Apa kau ingat bagaimana kau bisa mendapatkan rumah ini? Bagaimana bisa kau hidup di dunia ini? Apakah kau pernah ingat siapa ayah dan ibumu?" tanyanya secara berturut-turut membuatku tersadar.

'Benar juga. . . aku bahkan tidak ingat kapan pertama kali aku sampai di rumah ini. Aku tidak merasa pernah memiliki kenangan masa kecil disini. Aku tidak pernah memikirkan hal itu. Siapa orang tuaku aku juga tidak tahu. . . yang aku tahu aku sudah mulai sekolah dan hidup di tempat ini, karena itulah aku hanya meneruskan hidup tanpa tahu arah.' Aku terus berpikir dan kemudian kepalaku malah menjadi pening.

"Apa kau ingin terus berada di dunia ini? Apakah kau pikir kau ada tujuan bila hidup disini?" Shion terus-terusan bertanya membuatku tambah bingung.

Kemudian aku langsung menatapnya, "Aku rasa. . . aku tidak ada tujuan bila hidup disini. . . tapi aku juga tidak yakin di duniamu aku memiliki tujuan."

Shion tersenyum, "Mungkin kau bisa memulai hidup baru di duniaku."

Ketika melihat Shion tersenyum seperti itu, aku merasa aneh, "Kenapa kau ingin aku pindah ke duniamu?" tanyaku dengan hati yang diliputi kecurigaan.

". . . entahlah, tapi mungkin kau bisa membantuku mencari tahu kenapa," jawabnya membuatku kembali dipenuhi pertanyaan.

"Bagaimana caranya aku kesana?" tanyaku ketika sudah menyerah mencari jawaban dari pertanyaan yang sulit dijawab.

"Dengan ini!" jawabnya sambil mengeluarkan sebuah buku dari tasnya.

" Dream Comes True? Ini adalah buku yang kupinjamkan bukan?"

Dia mengangguk lalu menatapku dengan serius, "Jujur, aku masih curiga kenapa kau memiliki buku ini, tapi sepertinya kau tidak mengetahuinya. Kau tahu? Buku ini bukan buku biasa. Ini adalah buku yang berisi mantra yang sangat kuat dan sangat berguna, tapi bila jatuh ditangan yang salah, buku ini bisa menjadi malapetaka," ucapnya membuatku ngeri membayangkannya. Dia membuka buku itu dan menunjukkanku sebuah halaman, "Kau lihat ini?" tanyanya sambil menunjukkan sebuah tulisan yang sangat kecil namun masih bisa terbaca olehku, "Bila kita membacanya, kita bisa pindah ke dunia yang kita inginkan. Kau harus membaca yang ini," lanjutnya sambil menunjukkan sebuah kalimat.

"Hmm? Svonce eternal , Svonca Eternalia?" Aku mengucapkan kalimat itu dengan ragu, tapi kemudian sekelilingku langsung bersinar, aku menengok ke arah Shion, tapi dia sudah tidak ada! Tunggu, aku bahkan tidak di ruang tamu lagi! A-apa yang sedang terjadi?

Aku menghela nafas, 'Hari yang sama dengan hari aku bertemu denganmu, Zeina. Tidak ada yang berubah di Eternalia, hanya semangat hidup yang dari dulu aku punya sudah dicuri olehmu. Kau sudah mencuri semangat hidupku, tidak cukup dengan itu kau mencuri hatiku juga.'

Sementara aku mengingat dan terus mengenang dirinya, aku berjalan ke arah padang rumput tempat terakhir kali aku bertemu dengannya. Aku bisa mengingat dengan jelas bagaimana dia terjatuh dengan lemas. Beruntung aku sempat menangkapnya. Wajahnya yang pucat seakan-akan dia akan segera menghilang dari hadapanku saat itu juga. Aku hanya pergi untuk beberapa saat, tapi ketika aku kembali dengan dokter kerajaan, dia sudah tidak ada, hanya cincin yang dia tinggalkan. Cincin perak, hadiah dariku karena dia memutuskan untuk tetap tinggal di Eternalia. Tapi, keputusannya itu hanya bertahan untuk kurang lebih satu bulan, setelah itu dia pergi.

Ketika aku sedang berjalan di padang rumput itu, aku melihat seseorang berpakaian sama seperti pakaian yang pertama kali dipakai oleh Zeina. Zeina pernah berkata itu adalah seragam sekolah, aku bahkan tidak tahu kalau sekolah punya seragam yang harus dikenakan.

Perlahan-lahan aku mendekati orang tersebut, ketika tambah dekat, aku menyadari kalau dia seorang perempuan, terlihat dari roknya yang kata Zeina hanya dipakai oleh perempuan.

Aku mendengar perempuan tersebut terisak-isak seperti menangis, aku menepuk pundaknya dan ketika perempuan itu menengok, aku kaget sampai-sampai lututku terasa lemas tak bertenaga, "Shion?" tanya perempuan itu sambil mengusap mata, tapi kemudian dia kembali menangis lagi, "Kau bukan Shion! Hiks, hiks, jahat sekali. Katanya pergi sama-sama, ternyata aku malah datang sendiri."

"Z-Zeina?" tanyaku kepadanya.

Perempuan itu menatapku dengan bingung, "Zeina? Namaku bukan Zeina, namaku S-" Tiba-tiba dia berhenti. "Aphro! Yap, namaku itu. . ., mungkin. . ." ucapnya terlihat ragu. "Jelek sekali," bisiknya tiba-tiba.

"Kau bukan Zeina?" tanyaku sekali lagi.

Dia menggeleng sekencang mungkin dan berkata, "Kalau aku bilang bukan berarti bukan. Namaku Aphro." Tiba-tiba wajahnya terlihat ceria seakan-akan habis mendapatkan ide, "Ah! Apakah kau mengenal Shion?" tanyanya kepadaku.

Aku mengangguk, "Aku kenal satu Shion, tapi aku tidak tahu apakah dia Shion yang kau cari."

Aphro tersenyum lebar, mirip sekali dengan Zeina, kemudian mengangguk, "Tak apa! Antarkan aku bertemu dengannya."

Kami bercerita sambil berjalan menyusuri padang rumput itu. Dia mungkin mirip dengan Zeina, tapi sikapnya yang sangat energetic melebihi Zeina dan dia juga sangat senang berbicara. Kami berdua bercerita, lebih tepatnya dia yang banyak bercerita tentang dunianya.

"San!" Sebuah suara memotong percakapan kami. Aphro terlihat senang mendengar suara itu.

Dia tersenyum kemudian berlari ke arah pemilik suara itu, "Shion! Kau kemana saja?" saat-saat yang aku pikir bahwa Aphro akan memeluknya, ternyata berubah menjadi adegan dimana Aphro malah memukulinya, "Kau jahat! Kau meninggalkanku sendiri! Kejam sekali! Rasakan ini!"

"S-San, hentikan. Sakit," gerutu Shion seraya berusaha menghindar.

Aku bingung mendengar mereka berdua, kenapa Shion memanggilnya dengan panggilan San? Sepertinya aku harus menanyakan hal ini, "Shion?"

Shion dan Aphro berhenti bertengkar. Kemudian Shion tersenyum ke arahku, "Ada apa? Oh, aku berterimakasih kepadamu sudah menemaninya selama aku tidak ada."

"Kenapa kau memanggilnya San?" tanyaku langsung to-the-point.

Shion terlihat kebingungan menjawab pertanyaanku itu, "Tapi namanya memang-"

"Shion!" Aphro kemudian memotong kalimatnya, lalu membisikkan sesuatu kepadanya.

Wajah Shion yang tadinya terlihat kebingungan langsung berubah cerah dan dia kembali melanjutkan perkataannya, "Ya, di dunianya dia dipanggil San, disini namanya Aphro. Tapi sepertinya San lebih bagus."

Aphro terlihat ragu, kemudian melotot ke Shion, "Tidak boleh! Harus Aphro, Aphro! Walaupun aku bahkan merasa nama ini jelek."

Mereka berdua tertawa. Kenapa aku merasa kesepian disini? Apakah karena wajahnya yang mirip dengan Zeina? Dan dia tertawa dan terlihat dekat dengan lelaki lain? Aku merasa aneh.

"Apa?! Wanita itu kembali?" seorang wanita berparas cantik berteriak dengan suara mengerikan. Dia memegang sebuah tongkat berwarna hitam dengan sebuah batu permata berwarna merah kekuningan dengan bentuk seperti api yang menyala.

Seorang lelaki berpakaian serba hitam berlutut di hadapannya, "Ya, yang mulia. Tapi hamba kurang yakin. Wanita ini. . . sedikit berbeda. Dia, seperti baru pernah datang ke Eternalia."

Wanita itu tertawa, "Jangan tertipu, Realf. Mungkin saja ini hanya tipu dayanya. Mari kita lihat saja ekspresinya ketika bertemu denganku nanti."

Hari pertama aku di Kerajaan Eternalia, aku merasa tidak ada yang berbeda dari dunia ini dengan duniaku. Yah, mungkin hanya beberapa orang yang memiliki kekuatan lebih seperti Shion, tapi semua orang mengetahuinya dan menganggapnya hal biasa. Walau memang ada sedikit perbedaan sikap terhadapnya. Orang-orang lebih menghormati Shion.

Selain keberadaan orang-orang seperti Shion, yang berbeda dari dunia ini adalah betapa damai dan makmurnya dunia ini. Semua orang hidup tercukupi, tidak ada pengemis yang mengemis di jalanan.

Walaupun begitu damai, entah kenapa aku merasakan ada energi jahat di negara ini. Sangat jahat sampai-sampai selalu membuatku sesak bila memikirkannya. Sepertinya di balik kedamaian negara ini, ada orang yang ingin menghancurkannya.

"Aphro! Kau sedang apa?" tanya seseorang ketika aku sedang santai di padang rumput dekat dengan rumah Shion.

Aku lupa menyampaikan kalau Eternalia itu sangat indah namun aman. Dengan di kelilingi tembok tinggi memberikan keamanan bagi rakyat. Istana berada di ujung dari letak gerbang utama kerajaan Eternalia dengan dikelilingi tembok lagi, sedangkan rumah dan tempat tinggal serta perdagangan terletak dari depan gerbang istana sampai gerbang utama kerajaan Eternalia. Sungguh tertata dan rapi. Setiap keluar dari rumah pasti sudah berada di jalanan utama, tapi di belakang rumah bisa langsung ke padang rumput yang luas, walau tidakdi belakang semua rumah bisa langsung ke padang rumput, tapi secara umum bisa saja.

Dengan santai aku membuka mata dan langsung terduduk, "Aku sedang tiduran saja. Habisnya aku tidak ada kerjaan. Mungkin biasanya aku ke sekolah, tapi secara disini aku tidak bersekolah, aku bisa santai."

Mendengar aku menjawab seperti itu, Shion tertawa, "Kau ini, dasar! Kau tidak bisa selamanya bergantung padaku, loh."

Ketika dia mengucapkan hal seperti itu, aku tidak kaget sama sekali. Aku sebenarnya bohong sewaktu bilang aku sedang bersantai, aku sebenarnya sedang memikirkan tentang kerjaan apa yang bisa kulakukan dan menghasilkan uang yang cukup untuk menghidupi diriku sendiri. Aku tidak mungkin tinggal bersama Shion selamanya, aku tidak ingin merepotkannya.

"Kau ini, kok malah bengong, sih?" tanya Shion sambil mengetuk kepalaku pelan.

Aku tertawa dan berkata, "Apa yang bisa kulakukan, ya?" Tiba-tiba suatu ide datang ke dalam otakku, "Shion! Apakah kau bisa mengajariku mantra?" tanyaku kepadanya dengan bersemangat.

Shion kaget mendengar aku menanyakan hal itu, tapi aku tetap menunggu jawabannya, "Bisa. Tapi aku tidak bisa sembarang mengajarkan orang. Kau perlu bersumpah terlebih dahulu, kau harus memberikan sesuatu untuk belajar sihir. Seperti aku, aku merelakan ingatan tentang masa kecilku untuk belajar sihir," ucapnya dengan santai.

Sebelum menjawab, aku terkaget dan bengong untuk beberapa detik. "Apa, yah?" ucapku ketika sadar dari kekagetan. 'Sebaiknya aku tidak mengungkit kenapa dia merelakan ingatannya' pikirku sambil berpura-pura berpikir keras. "Shion. . . kenapa kita harus merelakan sesuatu? Siapa yang menerimanya?" tanyaku.

Shion tersenyum, "Entahlah, tapi seingatku, guru sihirku pernah berkata, Eternalia memuja satu dewi, Zeina, dia adalah dewi mimpi. Zeina bisa mengabulkan segala permintaan dengan kekuatannya, tapi kita harus memberikan dia sesuatu yang pantas untuk diberikan kepadanya. Hal yang paling berharga dalam hidupmu, sepertinya itu," jelasnya panjang lebar.

Selama beberapa menit aku terdiam, 'Yang berharga? Apakah aku punya hal yang berharga dalam hidupku?'

"Bagaimana?" tanya Shion dengan sabar.

Aku menggeleng, "Aku tidak punya hal yang berharga dalam hidupku Shion. . ." jawabku dengan pasrah.

Mintalah buku mantra, pelajari sendiri. Kau bisa. Kau segalanya.

"Apa? Kau bilang apa Shion?" tanyaku ketika mendengar seseorang berbicara kepadaku.

Shion memandangku dengan air muka bingung, "Aku tidak mengatakan apa-apa."

"Hmm? Tapi aku dengar dengan jelas seseorang mengajakku berbicara. . ."

Dengan tersenyum seperti biasa Shion berkata, "Kau hanya berhalusinasi. Jangan-jangan karena masuk angin!" ucapnya panik. "Ayo! Kita harus kembali, sudah mulai sore."

Ketika sudah sampai di rumah dan sedang duduk di ruang makan, aku masih terpikir akan suara yang berbicara kepadaku tadi, 'Buku mantra? Pelajari sendiri? Aku segalanya? Apa maksud dari perkataan itu?' Semua pertanyaan terus berputar-putar dalam kepalaku. "Shion," panggilku kepadanya.

"Ya?" Shion langsung menatapku.

Dengan gugup aku mengalihkan pandanganku dan berkata, "Aku pinjam buku mantramu, boleh tidak?" tanyaku kepadanya sambil menunduk.

Shion diam saja untuk beberapa detik, entah apa yang dia pikirkan, tapi kemudian dia tertawa dan berkata, "Boleh saja, tinggal kau ambil di lemari itu." pandanganku mengikuti jari telunjuknya yang menunjuk ke arah sebuah lemari tua.

Aku berlari kecil menuju lemari tersebut kemudian membukanya. Ternyata satu lemari tersebut dipenuhi banyak sekali buku mantra. Aku melihat yang paling tipis dan langsung berpikir kalau ini pasti yang masih level dasar.

Sebelum aku membuka buku tersebut, aku memandang Shion yang sedang makan. "Terimakasih, Shion," ucapku yang kemudian berlari ke lantai atas untuk membaca buku tersebut di dalam kamar, tapi kemudian sebelum masuk aku berteriak, "Tinggalkan saja piringnya, nanti aku yang cuci!" kemudian aku masuk dan mempelajari satu persatu mantra yang ada dalam buku itu.

Entah apa yang membawaku ke tempat ini. Aku hanya bisa berdiri dan terbengong-bengong di depan pintu rumah Shion tanpa berani mengetuk. Kenapa? Aku juga ingin tahu kenapa aku gugup seperti ini.

Aku mengumpulkan keberanian dan mengetuk pintu tersebut. "Hmm? Ah! Shion! Ada Ilios datang berkunjung," teriak seorang Aphro yang baru saja membuka pintu. "Ayo masuk, Ilios." Setelah itu aku hanya bisa terdiam melihatnya yang dengan lincah berlari ke sana kemari.

"Sepertinya kau kesini bukan untuk mengunjungiku, Ilios," ujar Shion sambil tertawa kecil. Sebelum aku sempat membela diriku sendiri, Shion melanjutkan kalimatnya, "Gadis ini menarik bukan? Berbeda dari yang lain. Aku tidak membiarkannya keluar dengan rambutnya yang berwarna pirang itu. Kau yang paling tahu kalau Putri Reina paling tidak suka perempuan berambut pirang, aku takut dia akan menjadikan gadis ini pelayannya, sama seperti gadis-gadis yang lain." Shion memandang gadis ini dengan tatapan lembut yang belum pernah aku lihat dia berikan kepada orang lain sebelumnya.

"Uhh. . . ya, mungkin kau harus mengecat rambutnya," celetukku sembarangan. Aku sedang tidak berpikir dan fokus ke dalam pembicaraan ini sejujurnya.

Shion bingung dengan jawabanku yang terlihat asal dan langsung menatapku curiga, "Kau. . . kenapa?" tanyanya seraya menyipitkan mata.

Untuk menghilangkan kecurigaan aku berpura-pura tertawa, " Kau tahu, kan? Kalau kau ingin melindungi gadis ini dari Reina, kau bisa melakukan dengan cara mengecat rambutnya terlebih dahulu."

Shion mengangguk pelan tapi dengan ragu. Dia terus memandangi Aphro yang sekarang sedang membaca sebuah buku. Dia terlihat sedang mengulang sebuah ucapan, "Terra nova?"

Ketika dia mengucapkan itu, kayu yang berada di perapian tiba-tiba saja terbakar dengan . Shion berdiri dengan kaget, sama sepertiku, "T-tadi itu apa?" ucapku dengan gugup.

Dengan wajah panik, Shion langsung berlari ke arah Aphro yang masih shok dengan apa yang baru saja terjadi, "K-kau, apakah kau sudah membuat sumpah?" tanya Shion.

"B-belum . . . kenapa? Apakah aku berbuat salah?" tanya Aphro kembali dengan tatapan bingung dan ketakutan.

Shion hanya bisa menatapku dengan takjub. Aku yang sudah tersadar dari kekagetan langsung berkata, "D-dia belum bersumpah? Belum?! Lalu kenapa dia bisa melakukan sihir?". Untuk beberapa semuanya terdiam kembali. Pikiran kami diliputi banyak pertanyaan. Tapi kemudian sebuah jawaban langsung melekat di otakku, 'Zeina. . .' Zeina bisa melakukan mantra tanpa melakukan sumpah, mungkin Aphro juga sama seperti Zeina! Mungkin saja Aphro dan Zeina berasal dari tempat yang sama.

Ketika melihat wajahku berubah cerah, Aphro langsung bertanya, "Kau kenapa, Ilios?" sepertinya dia bisa membaca pikiran karena dia tahu aku sudah mendapatkan sebuah jawaban.

"Tidak apa-apa. Aku mendapatkan sebuah jawaban, tapi aku tidak yakin dengan jawaban yang kudapatkan sekarang." Shion dan Aphro langsung bertukar pandangan dan memandangku dengan wajah kebingungan.

Setelah beberapa jam aku berunding dengan Shion, Shion tidak bisa menjawab dengan pasti. Tapi aku yakin sekali Aphro dan Zeina berasal dari tempat yang sama. Zeina selalu menceritakan tentang dunianya yang sama seperti dunia yang digambarkan Shion, dunia asal Aphro.

"Lebih baik kalau kau mengajarinya beberapa mantra menyerang dan mantra penyembuh. Bila hal ini diketahui oleh Mirva, aku tidak bisa menjamin dengan kekuasaanku sebagai pangeran mahkota bisa melindunginya," ucapku kepada Shion yang hanya bisa mengangguk. Aku menghampiri Aphro yang sedang duduk dan membaca beberapa buku lagi, "Aphro," panggilku. Dia menengok ke arahku dengan bingung, "Kau baik-baik, ya. Jangan merepotkan Shion, belajarlah dengan benar. Aku akan kembali dengan membawa kabar gembira."

Aphro hanya mengangguk dan kemudian menunduk. Reaksi tersebut tidak terlalu bisa kuterima, mengingat wajahnya yang mirip dengan Zeina. Namun ketika aku sudah sampai di luar, Aphro berteriak, "Janji, ya! Kau harus kembali berkunjung dengan membawa kabar gembira!"

Entah kenapa, di saat aku berjalan menjauhi rumah Shion, aku merasa takut, aku takut kalau aku tidak akan bisa kembali dengan membawa kabar gembira. Satu hal yang aku tahu, aku senang bisa bertemu dengannya lagi setelah dua tahun, walau mungkin dia memang orang yang berbeda.

(A/N: Ah! So, San yang satu ini harus mengubah namanya menjadi Aphro? What the-? siapa sih suara yang suka ngatur'' San? Terus, Apa yang akan Ilios lakukan untuk Aphro sehingga dia bisa kembali sambil membawa kabar gembira? atau mungkin lebih tepatnya, apakah dia akan membawa kabar bahagia? Wait for a week, I'm currently working on it!)

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .