
Sarah menerima perjodohan yang diusulkan ayahnya dan berusaha menemukan kebahagiaannya sendiri. Namun kehidupan pernikahan tidak seindah yang ia bayangkan...*COMPLETED* PLUS *BONUS CHAPTER*
Rated: Fiction T - Indonesian - Hurt/Comfort/Family - Chapters: 10 - Words: 22,816 - Reviews: 34 - Favs: 5 - Follows: 3 - Updated: 03-09-13 - Published: 01-15-13 - Status: Complete - id: 3092317
|
|
A+ A- |
thx for waiting
enjoy the chapter :)
CHAPTER 4
Pernikahan mereka dibuat dengan gaya barat. Sarah dan Bernard sedang bersiap-siap di pintu gereja. Aditya membantu merapikan gaun Sarah yang panjangnya hanya sedikit melebihi lutut. Gaun Sarah berwarna putih cerah dengan rangkaian pita, bunga, dan renda berwarna senada di seluruh bagian gaunnya sementaraa Bernard mengenakan setelah berwarna putih yang dipadu dengan kemeja hitam di bagian dalamnya. Sebelum mereka masuk, Aditya menutup wajah Sarah dengan kerudung putih yang terkait di sanggul rambutnya, berhati-hati agar tidak menyentuh tiara cantik yang menghiasi rambut Sarah.
"There…" Aditya menepuk bahu putrinya, "Beautiful as always…"
Sarah tersenyum mendengar pujian papanya. Sampai kapanpun, Sarah akan tetap menjadi her father's daughter. Bernard mendekat ke arah mereka dan Aditya menggenggam tangan Sarah dengan erat, sebelum menyelipkannya di lekukan lengan Bernard. Aditya tidak mengeluarkan sepatah kata pun, ia akan menyimpannya untuk momen 'sungkeman' nanti. Ia hanya menepuk lengan Bernard dengan tepukan mantap, isyarat bahwa ia sudah rela menyerahkan putrinya.
Kathlyn, kakak kandung Bernard, menyerahkan buket bunga mawar pinknya tepat sebelum pastur menjemput mereka dan memulai misa pernikahan tersebut. Sarah berjalan berdampingan dengan Bernard memasuki gereja diikuti seluruh anggota keluarga. Misa berlangsung dengan khidmat. Paduan suaranya dimeriahkan oleh dua penyanyi terkenal dari grup "Fidas Quae" yang merupakan salah satu artis di bawah agency yang dipimpin Bernard. Mereka juga nanti akan memeriahkan acara resepsi.
Selama upacara berlangsung, untuk sejenak Sarah melupakan motif awal dari pernikahan ini, dan saat mereka mengucapkan janji setia, Bernard tidak terlihat berpura-pura. Sama sekali. Entah bagaimana, Sarah punya firasat kalau ia akan baik-baik saja bersama Bernard.
"Dengan ini, misa pernikahan sudah selesai," kata sang pastur di akhir misa.
"Amin."
"Semoga kalian berbahagia," pesan pastur pada pasangan baru itu.
Ketika semua sesi formal perayaan sudah selesai, ucapan selamat, pelukan, ciuman, serta sorakan-sorakan mulai terdengar di seantero gereja.
"Cium! Cium! Cium! Cium!" teriak kerabat dan teman-teman pasangan baru itu.
Sarah tersenyum malu, berusaha sebisa mungkin untuk tidak memenuhi keinginan para undangan. Sebelah tangannya masih memegang buket sementara sebelah tangannya lagi masih berada dalam genggaman tangan Bernard. Hanya seperti itu dan jantung Sarah sudah berdebar begitu cepat. Mereka memang sudah resmi sebagai suami istri sekarang, tapi jika Bernard sampai menciumnya seperti waktu itu, Sarah yakin ia tidak tahu harus berekasi seperti apa.
"Cium! Cium! Cium! Cium!"
Para undangan terus berteriak walaupun Sarah mencoba mengabaikannya. Sarah bahkan ingin segera mengajak Bernard pergi dari sana supaya mereka bisa segera pindah ke tempat resepsi. Belum sempat ia melaksanakan misinya, Bernard sudah bertindak duluan. Dengan mudahnya Bernard memutar badan Sarah, mengalihkan pandangannya. Jarinya yang kokoh mengangkat dagu Sarah, menguncinya dengan lembut, dan dalam sekejab, Sarah sudah terbuai dengan ciuman manis itu.
Oh Tuhan…
Sebelah tangan Bernard mengunci pinggang Sarah, sementara ia memperdalam ciumannya di mulut Sarah. Bernard mencium Sarah dengan lembut, sengaja berlama-lama, seakan-akan ingin menegaskan bahwa Sarah memang sudah menjadi miliknya. Sudah tidak ada lagi kesempatan untuk terkejut, sebab Sarah pun membalas ciuman itu dengan kelembutan yang sama.
"Hanya itu cara tercepat untuk membuat mereka diam," bisik Bernard di sudut bibir Sarah.
Para undangan bersorak dan bertepuk tangan. Puas keinginan mereka terpenuhi.
"Benar kan?"
Sarah merasa ditipu lagi. Betapa mudahnya ia terbuai dalam rayuan Bernard. Betapa mudahnya ia ditaklukan oleh kelembutan sikap Bernard. Ia merasa ia harus segera memperbaiki pertahanan dirinya. Kalau seperti ini terus, bisa-bisa Bernard akan memanfaatkan kelemahannya.
"Sarah, Bernard," panggil Annabel yang datang mendekati mereka diikuti Angela.
Melihat mamanya datang, Sarah bisa merasakan kalau pelupuk matanya mulai berair lagi. Tadi ia hampir merusak make up yang sudah dibuat dengan susah payah pada saat 'sungkeman'. Sarah memang lemah jika berhubungan dengan orang tuanya.
Sarah merasakan tangan Bernard meremas bahunya yang terekspos karena gaun off shouldernya. "Tahan air matamu, Sarah. Kau tidak pergi selamanya dari mamamu. Hanya pindah ke apartemen yang jaraknya hanya 2 jam dari rumahmu," bisik Bernard.
Sarah mendelik ke arah Bernard. Rasa haru tadi dalam sekejap menghilang mendengar kata-kata Bernard. Bernard balas tesenyum menatapnya dan protes Sarah langsung terhenti karena Annabel sudah ada di belakang mereka.
"Mama!" Sarah spontan memeluk Annabel dan Angela sekaligus.
"Sarah! Kau merusak gaunnya!" seru Angela. Gaun yang dipakai Sarah sekarang memang hasil pilihan Angela setelah berjam-jam mereka mengepas gaun di seluruh butik yang ada.
Sarah melepaskan pelukannya lalu merengut ke arah adiknya. Angela memang bisa sangat menyebalkan kalau sudah menyangkut soal baju. Setelah lepas dari putrinya, Annabel beralih untuk memeluk Bernard, meninggalkan kedua putrinya dengan perdebatan mereka.
"Sudah lama aku ingin punya anak laki-laki," kata Annabel saat memeluk Bernard.
"Dan sebagai gantinya aku mendapatkan orang tua kembali," jawab Bernard lembut. Kedua orang tua Bernard memang sudah lama meninggal karena kecelakaan sewaktu Bernard kecil dulu. Hari ini, Kathlyn dan suaminya yang mengambil peran sebagai orangtua Bernard.
Annabel tersenyum mendengar tanggapan Bernard lalu kembali memeluk Bernard. Ia memanggil Sarah supaya ia berdiri di sebelah Bernard dan menatap mereka berdua. "Aku tau masa perkenalan kalian sangat singkat. Tapi percayalah intuisi seorang ibu." Annabel menggenggam erat tangan Sarah dan Bernard. "Kalian adalah pasangan yang serasi." Annabel kembali tersenyum ke arah mereka. "Pelan-pelan saja berjalan. Kehidupan kalian masih panjang."
"Mama…" ucap Sarah penuh haru, membalas genggaman tangan mamanya dengan lebih erat.
"Tapi sayang sekali sebenarnya kalian tidak bisa pergi bulan madu setelah pernikahan kalian," sahut Angela yang berdiri di sebelah Sarah.
"Iya ya. Memangnya kalian tidak bisa meminta ijin libur dari kantor untuk bulan madu kalian? Kalian kan pasangan baru."
"Ma… kita sudah membicarakan hal ini kan? Bernard dan aku sama-sama tidak bisa meninggalkan pekerjaan kami. Apalagi dengan proyek yang sedang kupegang dan kontrak kerja yang sedang diurus Bernard."
"Mama tenang saja," sahut Bernard. Annabel memang meminta Bernard memanggilnya dengan sebutan 'mama' sejak persiapan pernikahan ini dimulai. "Setelah aku dan Sarah lepas dari proyek, kami akan segera menyelesaikan prosesi bulan madu ini."
Wajah Sarah memerah mendengar jawaban Bernard. Meski Sarah tau, Bernard mengatakan itu karena hanya ingin segera mengalihkan topik ini. "Sarah," Angela berbisik di telinganya. "Seduce him with your body. I'm sure he will take you anywhere for your honeymoon!"
Muka Sarah spontan memerah setelah mendengar komentar adiknya, dan sebelum Angela sempat menghindar, Sarah berhasil mencubit lengannya. Mencoba menyembunyikan rasa panas di wajahnya.
"You pinch me!" seru Angela kesakitan.
"Shut your mouth, Angela," desis Sarah.
Resepsi pernikahan mereka diadakan di ballroom salah satu hotel bintang 5. Acara resepsi dimulai dengan ritual pemotongan kue pengantin dilanjutkan dengan berbagai macam acara lain seperti dansa pertama mereka sebagai suami dan istri. Sarah tahu kalau hatinya selalu berdesir dengan cepat setiap kali Bernard berada di dekatnya. Bahkan saat bagian tubuh Bernard menyentuh tubuhnya, baik sengaja ataupun tidak, Sarah merasakan wajahnya merona. Ia memang tidak biasa berdekatan dengan lelaki, tapi saat Bernard ada di dekatnya, yang Sarah ingin lakukan hanya mempertahankan posisi itu lebih lama. Ia tidak tahu apakah Bernard merasakan hal yang sama.
Lalu Sarah pun sadar, saat pesta ini berakhir, ia akan kembali kepada kenyataan. Bagaimana jika aku tidak bisa menyembunyikan keinginan ini dari Bernard? Bagaimana jika Bernard menolak berdekatan denganku? Bagaimana jika aku… Sarah menelan ludah, jatuh cinta padanya?
Sarah menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia tidak ingin memikirkan semua prasangka buruk itu sekarang. Tidak.
"Sarah," panggil Bernard, "Kau mulai bertingkah seperti boneka anjing dalam mobilku."
"Hah?" Sarah menatap Bernard kebingungan. Entah kapan mereka sedang berjalan keluar dari lift mengikuti orangtua Sarah dan Angela.
"Kau baru saja menggeleng-gelengkan kepalamu. Kau yakin tadi kau tidak terbentur apapun selama pesta tadi?"
Saat menyadari kalau Bernard sedang menyamakannya dengan boneka anjing di dashboard mobilnya, Sarah pun mencubit lengan Bernard yang terdekat dengannya. "Hey!" sahut Bernard kesakitan setelah merasakan cubitan Sarah.
"Aku bukan boneka anjingmu dan aku tidak terbentur apapun. Terimakasih," kata Sarah sambil melenggang mendahului Bernard, merasa puas sudah berhasil membalas keisengan Bernard.
Masih sambil mengelus lengannya yang baru saja dicubit Sarah, Bernard menyusul Sarah ke mobil yang akan membawa mereka pulang. Kedua orangtua Sarah, Angela, Kathlyn dan suaminya, Daniel sudah berdiri di dekat mobil. Siap mengucapkan perpisahan.
"Sarah, Bernard, kami berharap kalian hidup bahagia," pesan kedua orangtua Sarah setelah sebelumnya memeluk mereka.
"Kalian harus hidup rukun," pesan Aditya.
"Kalau ada masalah dibicarakan dengan baik-baik."
"Sarah," panggil Kathlyn, kakak perempuan Bernard, "Aku titip adikku ya."
"Bernard, jangan membuatnya menangis," sahut Daniel, "Atau Vincent akan merebut Sarah darimu."
Sarah tersenyum mendengar pesan Daniel, lalu ia baru sadar bahwa sosok mungil itu tidak ada di sekitar mereka. "Mana Vincent?"
"Sudah tertidur di dalam mobil. Ia terlihat sangat bersemangat karena akhirnya om favoritnya menikah juga, tapi merasa cemburu karna kau kebih memilih tinggal dengan Bernard dan bukan dengannya," jelas Daniel sambil menunjuk mobil di sebelah mobil Bernard.
"Hei, bukankah aku om favoritnya?" protes Bernard mendengar penjelasan kakak iparnya.
Sarah kembali tertawa menanggapi protes Bernard. "Aku akan sangat senang kalau bisa bermain bersama dengannya lagi."
"Akan kusampaikan padanya," janji Kathlyn.
"Pak Bernard, tolong jaga kakak saya. Kalau bapak memenuhi permintaan saya, saya akan bekerja dengan baik! Kalau perlu semua pekerjaan modeling saya ambil Pak!"
"Angela!" tegur Aditya.
Bernard tertawa mendengar ocehan Angela. Dengan gerakan yang luwes, Bernard merangkul Sarah ke dalam pelukannya dan berkata, "Kami pasti bahagia." Semua orang memandang setuju ke arah Bernard. Bahkan Sarah pun merasakan jantungnya berdebar dua kali lebih cepat. Betapa mengerikan reaksi dirinya pada semua tindakan Bernard.
Setelah mengucapkan beberapa pesan terakhir, Sarah dan Bernard pun pamit. Pergi ke rumah baru mereka, sebuah apartemen mewah di tengah kota. Perjalanan bisa dibilang cukup tenang, tanpa pembicaraan. Bernard sudah menyandarkan kepalanya, matanya terpejam. Jas putihnya sudah dilepas dan dua kancing atas kemejanya sudah dibuka. Ia terlihat kelelahan, begitu juga dengan Sarah.
Sarah mencoba melepas kerudung di kepalanya, namun kain itu tersangkut di sanggul dan tiaranya. Sarah mencoba menariknya sedikit lebih kencang, tapi kepalanya terasa sakit. Akhirnya ia menyerah dan mencoba mencari posisi duduk yang nyaman.
"Berputarlah," kata Bernard tiba-tiba.
"Apa?"
Bernard tidak menjawab pertanyaan Sarah dan langsung memutar tubuh Sarah. Sedetik kemudian, Sarah bisa merasakan tangan Bernard berada di rambutnya, mencoba menarik kain yang tersangkut. Sarah mematung. Dengan mata terpejam, Sarah bisa merasakan Bernard melepaskan satu demi satu jepit yang menahan sanggul dan kerudung putihnya. Rambutnya terlepas dari tatanannya dan tergerai menutupi bahu.
"Ini." Bernard menyerahkan selusin jepit, tiara, dan kerudung yang berhasil dilepaskan dari rambut Sarah.
Sarah memutar badannya kembali, sedikit mengarahkan badannya pada Bernard yang duduk di sebelahnya. "Terimakasih, Bern…"
Lagi-lagi Bernard tidak menyahuti ucapan terima kasih Sarah. Ia bahkan sudah memejamkan matanya lagi. Melihat itu, Sarah hanya bisa tersenyum kecil. Merasa bersyukur suasana dalam mobil cukup gelap sehingga ia bisa menyembunyikan senyum bodoh yang mampir di bibirnya. Sarah mengakui kalau ia senang dengan tindakan-tindakan Bernard yang sederhana.
Saat mereka tiba di sana, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Suasana apartemen masih semarak dengan rangkaian bunga, pita, dan hiasan-hiasan yang dibuat oleh Angela dan Kathlyn. Bahkan kamar tidur utama tidak luput dihias dengan berbagai macam bunga. Namun Sarah tau, tidak akan terjadi apa-apa malam ini. Bernard sudah mengatakan dari awal kalau pernikahan ini murni hanya pernikahan politik. Bernard akan memenuhi kebutuhan hidupnya tapi selain itu, sebenarnya mereka hanyalah orang asing yang tinggal di bawah atap yang sama.
"Selamat malam, Sarah. Tidurlah yang nyenyak," pesan Bernard sebelum ia pergi ke arah kamar tamu.
Sarah mengangguk pelan sembari mengamati punggung Bernard.
"Bernard?" Sarah spontan memanggil suaminya sesaat sebelum Bernard menutup pintu kamar.
Bernard mengintip di balik bahunya. Sarah merasakan wajahnya memerah kembali. Merasa bodoh karena tiba-tiba ia tidak tahu apa yang harus ia katakan pada Bernard.
"Sarah?"
"Tidak jadi deh." Sarah memijat lehernya, mencoba menutupi rasa gugup yang tiba-tiba melandanya. "Aku lupa aku mau bilang apa. Kurasa aku cukup kelelahan."
"Kalau begitu, segeralah tidur. Kita hanya mendapatkan libur sehari saja sebelum kembali ke kantor masing-masing."
Sarah kembali mengangguk. Bernard sudah menutup pintu kamar sebelum Sarah memberikan tanggapan apa-apa. Sarah menghela nafas. Merasa malu dan kecewa sekaligus. Dalam perjanjian awal mereka, Bernard memberikan kamar utama untuk Sarah, sedangkan ia sendiri akan tidur di kamar tamu, meskipun barang-barang Bernard tetap diletakkan di kamar utama. Sarah sudah mempersiapkan diri menghadapi hal ini. Ia tahu bahwa pernikahan ini tidak seindah yang ia bayangkan selama misa dan resepsi tadi. Sarah sudah tahu itu tapi tetap saja rasa kecewa menyusup ke dalam hatinya.
Sarah memutuskan untuk tidak memikirkan mengenai hal itu sekarang. Badannya sudah cukup lelah dengan kondisi pesta hari ini. Ia tidak mau merusak momen istimewanya hari ini dengan kekecewaan dan prasangka buruk mengenai masa depan. Mana ada pengantin yang bersedih di hari pernikahannya, pikir Sarah. Iya kan?
Sarah menatap kamar tamu itu sekali lagi, mengucapkan selamat malam, lalu berbalik dan masuk ke dalam kamar tidur utama.
ini chapter terpanjang minggu ini. hehehe
feel free to review :)
|
||||||