Fiction » Thriller »

Heartless
Author:
dforduchess PM
Bisakah sebuah surat mengubah segalanya? Pritta mengikuti instruksi dari sebuah amplop dan dihadapkan pada dua pilihan, putus dengan pacarnya dan kerabatnya yang disandera akan selamat, atau dia bisa menyelamatkan hubungannya dan nyawa kerabatnya, dengan mempertaruhkan hidupnya sendiri ke dalam permainan maut sang penculik. -Baca Sinopsis penuh di dalam!-
Rated: Fiction T - Indonesian - Mystery/Romance - Chapters: 2 - Words: 7,173 - Reviews: 9 - Follows: 2 - Updated: 01-20-13 - Published: 01-18-13 - id: 3093100
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

Author Note (A/N): Halo semuanya, salam kenal. Nama saya Adelia dan saya sedang menulis buku kedua saya yang saya post disini bab demi bab dan rencananya akan dibuat menjadi trilogi, judulnya Heartless. Mohon feedbacknya ya.

Sinopsis: Takdir selalu bekerja dengan cara yang misterius dan tidak akan pernah bisa dimengerti oleh manusia. Bisakah sebuah surat mengubah semuanya? Pritta yang baru saja lulus kuliah akan menikah kurang dari 2 bulan lagi dengan pacarnya. Meskipun dia merasa ada sesuatu yang tidak beres, Pritta merasa dia tidak memiliki pilihan lain. The show must go on. Tapi sebuah amplop diterimanya pagi itu. Mengikuti instruksi dari isi amplop, Pritta dihadapkan pada dua pilihan, putus dengan pacarnya dan kerabatnya yang disandera akan selamat, atau dia bisa menyelamatkan hubungannya dan nyawa kerabatnya, dengan mempertaruhkan hidupnya sendiri ke dalam permainan maut sang penculik.

(c)Adelia Marlina, 19 Januari 2012

HEARTLESS

INTRO:

Aku mencoba untuk tetap berpikir jernih. Dimana aku dan sedang apa aku saat ini? Aku tak bisa mengingatnya. Perasaanku bercampur aduk, takut, panik, bahkan mual—campuran tidak bagus yang terakhir kali kurasakan saat temanku memaksaku naik jet coaster saat aku kelas 6 SD, dan akhirnya tidak bagus.

Aku menoleh berkeliling dengan gugup. Ruangan ini dipenuhi dengan banyak meja rias dan bola-bola lampu yang terang benderang, sampai mataku sakit. Kemudian aku melirik TV flat di pojok yang sedang menayangkan iklan susu formula, iklan itu dibintangi oleh seorang komposer musik terkenal di Indonesia, namanya Muhammad Alex Iskandar. Selain super terkenal semenjak memulai debutnya sekitar 6 tahun yang lalu, semua orang memuji si jenius bermusik itu sebagai super ganteng dan seorang gentleman.

Aku tersentak dikursiku ketika satu-satunya pintu di dressing room ini terbuka dan seseorang melangkah masuk. "Yang, kamu udah siap?" Alex, si komposer di iklan susu formula tadi berdiri di depanku. Dan ya, dialah pacarku dan untuk dialah aku ada disini.

"Mungkin," aku mendesah dan berdiri. Dengan tidak nyaman aku menarik dress pendekku dan berusaha membuatnya menutupi pahaku sampai ke lutut, kemudian menggaruk lenganku karena bahannya yang agak gatal.

"Masa sih, Pritta Maharani nggak siap?" Alex tersenyum lebar dan melangkah ke arahku. "Kamu cantik, pede dong," pujinya sambil melingkarkan kedua lengannya dipinggangku dengan mesra. Haruskah aku lebih percaya diri? Ibuku bilang kecantikanku alami, tanpa make up aku sudah cantik apalagi kalau pakai, begitu katanya. Tapi beliaukan ibuku, bukankah setiap orang tua yang baik selalu memuji anaknya?

"High heelsnya bikin kakiku sakit, dressnya bikin gatel, dan muka aku kerasa berat karena nggak biasa memakai make up sebanyak ini," keluhku sambil merapihkan kerah jasnya.

Dia tertawa kecil. "Denger, aku tau kamu nggak nyaman dan nggak mau ngelakuin ini. Tapi aku janji, ini akan jadi yang pertama dan terakhir kalinya kamu berurusan dengan infotainment," kemudian dia meyakinkanku. "Secara langsung," dan menambahkan.

"Coba ingetin aku lagi, alasan kenapa kita harus ngelakuin ini, berdua?" aku cemberut.

"Karena kita mau nikah?" dia balas mengernyit.

"Oh, ia," aku mengangguk dan menggodanya dengan berpura-pura bodoh.

Dia kembali tersenyum lebar. "Make up artist dan stylist kamu pada kemana?" kemudian menoleh berkeliling, penasaran dengan ruangan yang sepi ini.

"Aku usir mereka karena aku butuh waktu untuk menenangkan diri sendiri," cibirku.

"Kamu tuh ya," dia tertawa dan menunduk untuk mencium bibirku. Sumpah, dia lebih tinggi setidaknya 20 cm dariku dan kadang itu membuatku minder.

"Yang," aku menghentikannya dengan menempelkan jemariku dibibirnya. "Nanti lipstickku berantakan."

"Mas Alex," pintu kembali terbuka dan staf dari acara yang akan kami hadiri melongok ke dalam. "Ah, maaf," dia tersenyum malu-malu saat melihat posisi kami yang sedang berdekatan. "10 menit lagi mas, lebih baik siap-siap sekarang," ujarnya. Alex mengangguk dan orang tersebut kembali meninggalkan kami.

"Kita lanjut nanti ya," bisiknya nakal sambil mengecup keningku. "Yuk," kemudian dia menawarkan lengannya.

Aku menghela nafas dan menggamit sikunya, membiarkannya menuntunku keluar dari ruangan yang sepi ini ke lorong yang ramai dan pada akhirnya, ke conference room. Yap, kami akan mengadakan konfrensi pers mengenai pernikahan kami kurang dari 10 menit lagi. Aku tidak pernah menyukai kamera dari aku kecil, blitznya membuat mataku sakit dan entah mengapa senyumku selalu terlihat setengah-setengah meskipun aku sudah tersenyum sepenuh hati. Aku tidak pernah menonton acara gosip manapun dan saat Alex diwawancara saat kami sedang kencan di luar, aku tidak pernah ikut campur dan memilih kabur ke belakang. Aku takut dengan cerita yang akan dibuat oleh para wartawan infotainment.

Tapi ternyata, meski tidak pernah diwawancara ada saja berita tidak enak tentang diriku. Akhir-akhir ini aku dan Alex dituduh menyelingkuhi satu sama lain, dan karena itulah kami mengadakan konfrensi ini. Sebenarnya kami memang sudah berniat akan menikah segera setelah aku lulus kuliah, idenya Alex saat kami baru berpacaran setahun dulu. Tapi aku tidak menyangka dia akan benar-benar melamarku di hari wisudaku di depan semua orang yang sedang lulus waktu itu beserta kerabat mereka, dengan menggunakan piano mini dan sedikit taburan bunga.

Jadi, aku nggak bisa menolakkan setelah dia jadi semanis itu?

"Oke," suara Alex menyadarkanku dari lamunan dan aku baru sadar bahwa kami akan memasuki conference room.

Aku mengangguk dan mencoba tersenyum untuk memberikan persetujuan. Dia balas tersenyum untuk membesarkan hatiku dan akhirnya menarikku memasuki lautan blitz dan tepuk tangan. Aku mencoba tersenyum sebisa mungkin, berpegang erat pada tangannya supaya tidak jatuh, dan akhirnya menemukan tempat dudukku. Konfrensi dimulai dan yang kulakukan hanyalah mengkonsentrasikan tatapanku pada lukisan jauh didepan-dekat pintu keluar, minum, dan mengagguk-angguk sekali atau dua kali.

"Selama ini image playboy melekat pada diri anda dan bahkan, sebelum ini anda digosipkan sedang dekat dengan Anggun Kemala, penyanyi dan rekan kerja anda. Bagaimana pendapat mas mengenai ini, akankah image ini diteruskan bahkan setelah menikah?" mendadak, sebuah pertanyaan entah dari reporter yang mana, menarik perhatianku.

"Umm, saya tidak tahu apakah itu bisa disebut playboy atau tidak. Memang benar saya selalu memperlakukan seorang perempuan dengan sebaik mungkin, dan dulu diawal debut bahkan sebelum debut saya memang sering berganti pacar," Alex tertawa disebelahku. "Tapi sekarang saya sudah tidak seperti itu lagi, dan cuma ada Pritta buat saya. Biar saja orang ngomongin hal-hal yang aneh-aneh dan nggak bener, yang penting saya sayang sama Pritta dan dia tahu itu," kemudian dia beralih padaku dan tersenyum tulus.

Aku balas tersenyum.

"Apa sih yang bikin mas Alex suka sama mbak Pritta?" sebuah pertanyaan terlontar kembali.

"Dia cerdas, lucu, dan berterus terang sampai kadang rasanya menyakitkan saat ngedenger dia ngomong, tapi itu yang saya suka. Dia juga nggak pernah setengah-setengah dalam mengerjakan sesuatu, dan baik sama orang-orang disekitar dia," jawab Alex santai.

"Kalau mbak Pritta sendiri, apa yang bikin mbak naksir sama Mas Alex?" Aku nyaris terjatuh dari tempat dudukku dan membeku saat semua kamera dan voice recorder tertuju padaku.

"Saya nggak suka dia saat kita pertama ketemu dulu, ya karena image playboynya itu. Tapi saya suka musiknya, terus dia mati-matian ngejar saya, dan lama-lama saya luluh deh," aku mencoba menjawab sesingkat mungkin.

Benar, aku tidak pernah menyangka sebelumnya kalau aku akan jatuh cinta pada pemusik ini. Aku membenci image getleman slash playboynya, aku membenci wajah ganteng dan tinggi badannya yang menyihir semua perempuan, tapi aku suka sekali pada musik dan aransemen-ransemen lagunya, telingaku nggak bisa bohong. Kami bertemu disebuah festival dan tepat saat aku melihatnya secara langsung dia sedang menggoda fans-fansnya, atau itu fans service, aku tidak tahu. Pokoknya aku mengikuti temanku yang ternyata adalah staf orkestranya, kami jalan-jalan bersama dengan segerombol orang lainnya dan aku mulai berceloteh tentang musik dan sebagainya.

Entahlah, mungkin dia tertarik dan tergoda untuk ikut berdiskusi. Jadilah dia ikut mengobrol dan saat aku sadar kami sudah berdebat sepanjang malam mengenai segalanya. Dia bahkan mengantarku sampai ke taksi dan meminta nomorku. Seminggu kemudian dia bilang dia sedang ada di lingkungan dekat kosanku dan mengajakku makan dengan alasan ingin berdiskusi. Setelah itu kami berteman selama tiga bulan dan tahu-tahu dia menembakku dan aku menerimanya.

Kenapa? Karena dia tidak begitu menyebalkan lagi, dan siapa yang bisa menolak karisma dan lagu-lagunya? Pada awalnya aku kira aku hanya menyukainya karena tampilan luarnya, aku pernah begitu jahat padanya dengan semua komentarku dan sikap keras kepalaku. Tapi ternyata dia bisa memahamiku dengan baik dan bahkan menuntunku, semenjak kami pacaran dia memang masih sering digosipkan dengan artis lain, tapi dia tidak pernah mengambil kesempatan bahkan saat kami sedang putus (kemudian nyambung lagi). Dan akhirnya aku sadar bahwa aku benar-benar sayang padanya. Tahun ini kami genap pacaran 4 tahun.

"Sekarang lagi sibuk apa mbak?" Pertanyaan lagi.

"Saya baru saja lulus kuliah dan pekerjaan sampingan saya adalah menerjemahkan tulisan atau materi apapun dari bahasa Indonesia ke Jerman, atau sebaliknya," jawabku.

"Bagaimana pendapat anda mengenai hubungan mas Alex dengan mbak Anggun?" Wow.

"Anggun adalah partner baik Alex, dan saya rasa saya baik-baik saja dengan hubungan mereka. Mereka hanya rekan kerja dan saya percaya Alex," aku mengepalkan tanganku secara sembunyi-sembunyi, mulai gugup dengan serangan pertanyaan dari berbagai pihak.

Alex menyadarinya dan menggenggam tanganku dibawah meja. Kemudian, dia mengambil alih semuanya dan menyelamatkanku, lagi.

"Aku masih ngerasa aneh tiap ngebaca nama aku sendiri," ujar Alex yang sedang melihat-lihat sebuah artikel di laptopku. Konfrensi pers sudah selesai. Dia mengantarku pulang ke apartemen dan beristirahat sejenak sebelum akhirnya harus pergi ke konsernya malam ini di Senayan.

Nama Alex memang agak aneh, Alexander dan Iskandar sebenarnya bermakna sama dalam versi yang berbeda. Aku dengar, itu karena ayahnya terobsesi dengan Alexander the Great dan berharap anaknya bisa sehebat kaisar tersebut dan memperluas kekaisaran bisnis yang dimilikinya. Sayangnya Alex memilih untuk memperluas daerah kekaisarannya dibidang musik, dan ini sukses membuat ayahnya frustasi.

"Senyum Pritta Maharani terlihat terpaksa sepanjang waktu. Apakah jangan-jangan pernikahan ini dibuat semata untuk menutupi skandal sebenarnya? Beberapa pernyataan Pritta tentang Alex siang tadi bahkan bisa dibilang kasar. Benarkah itu hanya caranya berbicara, atau sebenarnya itu sindiran? Mari kita lihat rekaman…"

Aku mematikan TV dengan kesal dan bergerak ke lemari es. "Kamu denger itu?" membukanya dan menarik keluar sebotol kecil jus jeruk lalu meneguk isinya cepat-cepat.

"Nggak seburuk itu kok sayang," timpalnya santai.

"Bukan berarti karena kamu terbiasa digosipin aku bakal terbiasa juga," ujarku tajam.

"Ini aku lagi baca artikel positif tentang kamu. Disini disebutkan bahwa senyum Pritta Maharani terlihat misterius dan menggoda, gaun gemerlapan dan tatanan rambutnya membuatnya luar biasa cantik hari ini, tidak mengherankan Alexander bisa jatuh cinta padanya," Alex memutar kursinya menghadapku dan menjelaskan pelan-pelan.

Aku menaruh botolku. "Kamu bohong," dan mencoba menyembunyikan rasa penasaranku.

"Baca aja sendiri," dia mengedikkan kepalanya ke laptop di meja di belakangnya.

Aku melangkah dan memberinya pandangan memperingatkan. "Oh," kemudian berusaha menyembunyikan kesenanganku saat selesai membaca dan ternyata apa yang dikatakannya tadi benar.

"Cuma oh?" dia menggodaku dan menarikku ke pangkuannya.

"Terus apa dong?" aku tertawa dan memutar posisi dudukku sehingga sekarang aku bisa menaruh kedua tanganku dibahunya dan kami berhadapan.

"Apa kek," dia tersenyum nakal dan mencium bibirku dengan lembut. Aku balas menciumnya dan memeluk lehernya sementara dia mengelus-elus punggungku. Dengan segera, intensitas ciuman naik menjadi lebih intim dan lebih cepat.

"Udah ah, ntar kamu telat," setelah beberapa menit aku menarik tubuhku dan mengingatkannya.

"Wah, udah jam segini!" pekiknya saat memeriksa jam dinding di dekat kami.

"Jangan ngebut-ngebut ya, dan kabarin terus," aku berdiri dan melangkah ke arah pintu untuk membukanya.

"Oke, kita ketemu lagi lusa ya. Kamu mau kemana besok?" dengan cepat dia berdiri dan meraih tasnya di sofa.

"Aku mau nengok Senja," jawabku saat dia sudah berdiri didepanku.

"Maaf aku nggak bisa nemenin ya," dia terlihat menyesal.

"Nggak apa-apa, lain kalikan bisa," aku memegang tangannya dan tersenyum menenangkan.

"Oke," dia tersenyum lebar dan menciumku dibibir sekilas. "Kelitikin dulu ah," kemudian dia menunduk untuk mencium leherku dan mengelitiki perutku, membuatku reflek tertawa terbahak-bahak.

Setelah Alex pergi aku mengunci semua pintu dan jendelaku, mengganti jins dan kausku dengan baju tidur, menggosok gigi, dan masuk ke kamar. Sulit dipercaya, aku akan menikah dengan Alex kurang dari 2 bulan lagi. Aku bahagia, tidak perlu diragukan lagi. Tapi kenapa ya? Rasanya masih ada yang mengganjal. Mungkinkah karena aku meerasa bahwa ini terlalu dini, dan aku juga tidak bisa berbagi atau meminta saran pada orang tuaku?

Keduanya meninggal saat aku berumur 20 tahun, dalam kecelakaan pesawat yang mengerikan. Aku bahkan tidak mau mengingatnya. Untungnya mereka meninggalkan wasiat yang cukup besar dan aku sudah cukup umur sehingga bisa mengelolanya sendiri. Uangnya aku gunakan untuk biaya kuliahku dan adikku, dan membuat kos-kosan dekat sebuah universitas di Bandung.

Aku berbaring diatas tempat tidur dan menarik selimut sampai ke dagu, mencoba untuk menghilangkan semua beban pikiran karena besok aku harus pergi pagi-pagi ke kota di daerah selatan. Kurang lebih setengah jam kemudian baru aku bisa terlelap.

-XoXoXo- -XoXoXo- -XoXoXo- -XoXoXo- -XoXoXo- -XoXoXo- -XoXoXo-

Senja adalah sepupuku satu-satunya. Umurnya masih 15 tahun, dan dari namanya siapapun pasti akan mengira dia perempuan walaupun sebenarnya dia laki-laki. Anaknya baik, nggak macem-macem, dan sangat menurutiku, Prestasinya di sekolah juga stabil.

Orang tua Senja meninggal saat dia berumur 10 tahun, semenjak itu orang tuaku merawatnya dan saat orang tuaku meninggal akulah yang mengambil alih. Bisa dibilang dia sudah seperti adik kandungku meskipun pada awalnya aku sama sekali tidak ingin berurusan dengannya sama sekali karena aku dengan orang tuanya, terutama ayahnya, pamanku, memiliki kenangan yang tidak menyenangkan bersama. Tapi segera setelah aku mencoba memaksa diriku untuk mengerti, aku sadar bahwa sesakit apapun aku, Senja pasti lebih menderita dariku dan dia akan membutuhkan bantuan dari keluarganya yang tersisa, begitu juga aku.

Untungnya adik kandungku, Cantika, yang saat ini masih bersekolah di Singapura bisa menerimanya dengan baik sehingga keluarga kecil kami bisa bertahan. Nah, aku menyekolahkan Senja di kota di daerah Jakarta Selatan, supaya dia bisa lebih fokus belajar dan tidak terganggu oleh keriuhan ibu kota. Aku bertemu dengannya dua minggu sekali dan biasanya dia akan menginap di apartemenku. Kebetulan, hari ini adalah harinya.

"Hari ini diperkirakan hujan akan turun di Jakarta dan sekitarnya…"

Aku mendengarkan laporan cuaca dengan seksama dan memasukkan payung ke dalam tasku. Kemudian aku memastikan semua benda elektronik mati dan melangkah meninggalkan apartemenku.

Aku baru saja menutup pintu dari luar saat aku menyadari ada sesuatu yang menempel dibagian atasnya. Sebuah amplop cokelat yang direkatkan dengan selotip. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, berusaha melihat apakah pengirimnya masih ada disekitar sini. Yang jelas amplop itu memang dialamtkan padaku karena namaku ada diatasnya.

Dengan hati-hati aku mengambilnya, merogoh isinya dan mengeluarkan kertas didalamnya. Sebuah kertas, sebuah surat, kini terbuka ditanganku, dan aku masih mencoba untuk membacanya. Memahaminya.

Sampai saat ini aku masih belum bisa mengerti bagaimana hidup ini bekerja, bahkan takdir yang dimiliki tiap-tiap orang. Aku tidak pernah mengerti kenapa seseorang yang menyedihkan seperti aku bisa mendapatkan pacar seorang bintang, atau kenapa orang tuaku harus meninggal saat aku dan adikku masih membutuhkan mereka. Dan mengapa, seakan hidupku belum cukup rumit, kenapa hari ini, aku harus menerima surat yang isinya akan mengacaukan kembali hidupku, bahkan keluargaku?

HUBUNGI NO INI JIKA KAMU INGIN SENJA HIDUP. BUANG / ACUHKAN / LAPORKAN SURAT INI JIKA SENJA BERHAK MATI.

(A/N)Meskipun baru sedikit tapi saya mohon review dan feedbacknya ya. Caranya gampang, tinggal ketik di kotak di bawah ini. Terimakasih :D

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .