
Bisakah sebuah surat mengubah segalanya? Pritta mengikuti instruksi dari sebuah amplop dan dihadapkan pada dua pilihan, putus dengan pacarnya dan kerabatnya yang disandera akan selamat, atau dia bisa menyelamatkan hubungannya dan nyawa kerabatnya, dengan mempertaruhkan hidupnya sendiri ke dalam permainan maut sang penculik. -Baca Sinopsis penuh di dalam!-
Rated: Fiction T - Indonesian - Mystery/Romance - Chapters: 2 - Words: 7,173 - Reviews: 9 - Follows: 2 - Updated: 01-20-13 - Published: 01-18-13 - id: 3093100
|
|
A+ A- |
(A/N) Terima kasih banyak untuk teman-teman yang sudah mereview, semua saran dan kritik kalian juga sudah saya catat. Ini adalah chapter dua dimana Pritta akhirnya harus menentukan pilihannya dan mengambil konsekuensi atas tindakannya.
Sekedar info, genre tulisan saya adalah psychological-thriller, dengan kata lain, jangan terlalu mengharapkan slash / gore atau sesuatu yang terlalu sadis karena saya akan fokus bermain di mental kamu dan Pritta. Enjoy!
(c)Adelia Marlina, 19 Januari 2013
I.
SENJA DIHARI ITU
Pikiranku rasanya beku. Aku mencoba untuk membaca kembali dan mencerna isi suraat ditanganku. Penjelasan yang paling masuk akal adalah, ini hanya sebuah lelucon konyol, sementara penjelasan yang tidak masuk akal adalah, Senja telah diculik. Ataukah terbalik? Aku tidak tahu. Dibagian bawa surat tercantum nomor yang harus aku hubungi, aku reflek mencarinya di phone bookku tetapi nomor tersebut tidak terdaftar.
Aku tahu benar bahwa pilihan yang paling tepat adalah melaporkan surat ini pada kantor polisi. Atau sebaiknya aku mencoba menelepon Senja dulu? Lagipula, surat ini berisi ancaman mengenai keselamatan Senja bukan? Bagaimana jika dia benar-benar diculik, dibunuh, dan akulah penyebab kematiannya?
"Pagi mbak," sapa seorang cleaning service yang baru saja keluar dari lift. Aku mengenalinya, namanya Eti, dan dia yang biasanya membersihkan lorongku.
"Hai…" aku mencoba menyadarkan diriku sendiri. Fokus Pritta, fokus! "Eti, kamu tadi liat seseorang didepan pintu saya nggak?" tanyaku.
Gadis itu melangkah ke arahku. "Nggak mbak, dari setengah jam yang lalu saya bersihin lorong dan ke bawah sebentar buat ngambil HP saya yang ketinggalan. Kenapa emang mbak?" dan menggelengkan kepalanya.
"Kamu nempelin surat ini di pintu saya?" kuacungkan amplop ditanganku.
"Iya mbak, tadi anak perempuan yang minta tolong ke security di bawah, katanya fans mas Alex. Berhubung saya juga lagi siap-siap disana, akhirnya security nitip ke saya, jadi saya tempel deh, takutnya kalau ditaruh di bawah ke tendang atau apa, dan kalau saya dan mbak nggak ketemu, mbak bisa tetep dapet suratnya," Eti menjelaskan dengan polos.
"Anak perempuan? Kayak gimana?" aku mengernyit.
"Pake seragam SD-" dia menyebutkan ciri seorang anak yang tidak kukenali, membuatku semakin bertanya-tanya.
"Kamu baca isinya?" tanyaku lagi setelah dia selesai.
"Oh, nggak mbak! Nggak!" ujarnya panik, seakan aku menuduhnya. Aku memperhatikan wajahnya, menilai dia sedang berbohong atau tidak, aku punya kemampuan dibidang ini, karena akupun dulu pembohong sejati. Sebelumnya aku biasa saling menyapa dan bahkan mengobrol ringan dengan Eti, dia adalah tipikal gadis lugu dan baik, yang nggak bisa bohong. Dan sekarangpun aku tahu, yang dia daritadi katakan jujur.
"Ya udah," aku mengangguk dan menenangkannya.
"Emang itu surat apa mbak?" tanyanya penasaran, akhirnya sadar juga dia kalau surat ini mencurigakan.
"Cinta," jawabku asal sambil kembali memasuki kamar sebelum dia bertanya lebih jauh lagi.
Oke, ada surat ancaman yang diantar oleh anak kecil pagi ini, dan dia tahu persis dimana aku tinggal. Mencoba untuk tetap tenang, aku menghempaskan diri ke sofa depan TV dan mencoba menghubungi nomor HP Senja. Sayangnya, nomornya tidak aktif meskipun aku mencoba meneleponnya berulang kali.
"Selamat pagi ada yang bisa dibantu?" seorang operator mengangkat teleponku saat aku menelepon asrama Senja. Aku mengenali suaranya sebagai Mas Wibi, penjaga asrama Senja.
"Pagi mas, saya Pritta, sepupunya Senja di kamar 39. Boleh tolong di cek dia ada atau nggak mas? Saya coba telepon dia ke HP tapi nomornya nggak aktif," jelasku sambil duduk tegak, mengantisipasi.
"Oh, kalau Senja dari gerbang dibuka jam 6 sudah keluar mbak. Katanya udah ada yang jemput. Saya kira mbak Pritta, makanya saya sempet heran kok tumben mbak nggak masuk sampai lobi," Mas Wibi memberitahuku, logat jawanya yang khas keluar.
Celaka. Apa Senja benar-benar diculik? Dia tidak akan pernah keluar sebelum aku menjemputnya, aku sendiri yang mewanti-mewantinya untuk tidak keluar dengan orang asing meskipun orang itu mengatas namakan aku dan adikku, dan kami tidak memiliki kerabat dekat lagi-dengan kata lain dia tidak mengenal orang dewasa manapun di luar sekolahnya, jadi kenapa dia keluar saat gerbang dibuka?
"Oke, makasih ya mas Wibi. Kalau dia tau-tau balik tolong hubungi saya ya mas," aku mendesah, dan setelah dia menjawab aku mematikan teleponnya.
Bagus, sekarang aku tidak punya pilihan kecuali menghubungi nomor di surat itu. Aku menghela nafas panjang-panjang, menstabilkan keadaanku, dan setelah kupastikan aku bisa mengontrol diriku sendiri, aku menghubungi nomor terkutuk itu.
Panggilanku tersambung. "Aku kira kau tidak akan menelepon," tapi aku sama sekali tidak menyangka bahwa seseorang akan benar-benar mengangkatnya. Suaranya bernada tinggi dan tidak dapat aku kenali, seperti mainan rusak, aku yakin dia memakai suatu alat untuk menyamarkan suaranya.
"Siapa ini?" tanyaku dingin.
"Penculik, dan mungkin nanti bisa jadi pembunuh," jawabnya santai. "Tenang , Senja saat ini masih baik-baik saja," kemudian dia menambahkan.
"Mau lo apa sih?" tanpa sadar aku terprovokasi setelah dia menyebutkan nama Senja.
"Apa ya?" dia mengulur-ulur nada bicaranya.
"Ini bohongan, kan? Lo dan entah siapa lagi cuma ngerjain gue, kan? Sumpah, ini nggak lucu!"
"Oke!" mendadak dia menghardikku, mungkin marah. "Saya kasih kamu waktu kurang dari dua hari untuk mencari tahu apakah Senja benar-benar diculik atau tidak. Kamu boleh mencari informasi tapi tanpa membeberkan bahwa Senja sedang saya culik dan tentang surat peringatan itu pada siapapun," tapi dengan segera suaranya kembali tenang. "Dan saat kamu yakin dia memang diculik, silahkan pikirkan dua pilihan ini; kamu putus dengan Alex, tapi Senja selamat, atau, kamu selamatkan hubunganmu dengan Alex beserta nyawa Senja, tapi kamu ikuti permainan saya?"
Aku nyaris tidak mempercayai pendengaranku. "Apa?"
"Yah, saya sudah bicara terlalu banyak. Jadi saya akan mematikan telepon sekarang dan setelah mati nomor ini akan hangus jadi tidak perlu repot-repot menghubunginya, plus jangan coba-coba melacaknya! Ingat, jangan nakal, atau sepupumu ini akan langsung, yah, taulah," dia malah tertawa senang dan dengan editannya, suaranya malah terdengar mengerikan di telingaku.
"Tunggu! Kalau gitu gimana cara gue ngehubungin lo?" aku tersentak dan bertanya cepat-cepat.
"Lusa, jam 8, saya telepon ya. Soalnya saya paling pagi bangunnya jam segitu. Dah!" dan dengan itu, terputuslah kontakku dengan sang pelaku. Aku mencoba menghubunginya lagi tapi seperti yang dia bilang, nomornya berada diluar jangkauan.
Kalau aku tidak salah dengar, dia memintaku untuk putus dengan Alex sebagai tebusan nyawa Senja, bukan? Atau aku bisa menyelamatkan hubunganku, juga Senja, dengan mengikuti permainannya? Kalau ini beneran, banyak sekali yang harus dipertaruhkan disini, belum lagi dia melarangku melakukan banyak hal dengan satu ancaman fatal.
Yah, kurasa terus duduk dan termenung disini tidak akan ada gunanya. Aku harus memeriksa apakah Senja benar-benar diculik atau tidak.
X
Kamar Senja rapi seperti biasanya, dan aku telah memeriksa semuanya-kurasa. Tidak ada bekas dibobol masuk atau apapun yang signifikan. Aku bahkan memeriksa buku-bukunya hanya untuk memastikan apakah ada kode rahasia yang dituliskannya. Tapi nihil, kurasa dia bukan tipikal orang yang seperti itu, apalagi kalau dia diancam, sementara kalau aku, mungkin aku akan tetap melakukannya.
Sebelum kesini aku mencoba mengecek tempat nongkrong atau umum disekitar asrama. Aku bahkan mencari ke gang-gang kecil tertentu. Semua proses itu menghabiskan waktu seharian, belum algi hujan membuat segalanya lebih sulit, dan sekarang sudah jam 5 dan aku masih belum menemukan apapun. Sial.
"Ketemu mbak barangnya?" mas Wibi mengecekku.
"Nggak ada mas, mungkin dibawa Senja," aku berbohong dan duduk dimeja belajar Senja.
"Hari ini pada mau jalan kemana mbak?" tanyanya lagi, dia masih berpikir aku akan bertemu dengan Senja diluar.
"Belum tahu," aku angkat bahu dan mengambil satu-satunya bingkai foto dimeja dan di kamar ini. Aku tersenyum sendiri saat melihat wajahku, Tika, dan Senja terpampang diatasnya, kami tampak sedang tertawa dengan bahagia. "Mas," aku menatap mas Wibi. "Kemarin Senja sempat keluar nggak?"
"Umm," laki-laki itu tampak ragu, gerak-gerikku pasti mulai terlihat aneh baginya.
"Senja bilang dia mau saya ketemu sama seseorang malam ini. Orang yang jemput dia. Masalahnya banyak orang yang bermasalah sama saya dan saya sebisa mungkin nggak mau ketemu sama mereka, takutnya orang yang mau Senja pertemukan dengan saya tuh salah satu dari itu, tapi dia nggak tau," aku berargumen.
Dia mengangguk mengerti. "Senja mah jarang keluar mbak, dan kemarin juga dia nggak keluar," dan menjawab.
"Nggak ada kiriman atau semacamnya?" aku mulai putus asa.
"Nggak mbak," dia menggeleng.
"Yakin mas? Coba diinget lagi," kupicingkan mataku.
"Sumpah mbak, nggak ada. Saya pasti inget kalau ada," respon mas Wibi, tersinggung. Mas Wibi adalah seseorang yang baik, sederhana, dan mungkin bisa dibilang bersahaja. Sama seperti saat aku menilai Eti pagi ini, aku tahu kalau dia tidak berbohong.
Jadi aku rasa sudah waktunya aku pergi dari sini dan menerima kekalahanku. Menerima fakta bahwa Senja memang diculik. Pilihan apalagi yang kupunya? Mau lapor polisi juga takut salah langkah. "Makasih mas," aku menyunggingkan senyum pada lelaki simpel yang sedari tadi berdiri dipintu kamar sepupuku yang resmi hilang. Dia juga berusaha tersenyum dan setelah mengingatkanku untuk jangan lupa mengunci pintu, dia mengundurkan diri.
"Bebeb! Akhirnya kamu nelepon juga! Kok sms aku nggak dibales-bales?" Alex mengangkat teleponnya dengan gembira saat aku akhirnya menghubunginya untuk yang pertama kali dalam hari itu.
"Aku sibuk main sama Senja hari ini," aku menggigit bibirku. "Kok kayaknya kamu seneng banget?"
"Ia sayang, aku dapet tawaran tur lagi, kali ini ke Eropa!" jelasnya antusias. Aku bisa mendengar teman-temannya yang lain ikut berteriak-teriak heboh di belakangnya.
"Wow, kapan?" aku mencoba terdengar suportif tetapi malah kebalikannya.
"Tenang aja, abis pernikahan kita kok," dan dia menganggapnya sebagai sindiran.
"Besok kita ketemu jam berapa?" tanyaku, berusaha mengalihkan topik.
"Aku mau ngerayain ini bareng kamu, kita makan diluar ya? Aku jemput abis ashar," jawabnya lembut.
"Oke, terserah kamu aja," aku tertawa kecil. "Nanti kabarin aja lagi ya, take care," tambahku.
"Sip. Kamu juga ya. Aku sayang kamu cantik," ujarnya genit.
"Nama aku bukan cantik. Aku juga sayang kamu ganteng," aku ikut bercanda.
Aku kira mengobrol dengan Alex akan membuatku, entahlah, lebih ringan. Tetapi ternyata tidak ada efeknya. Saudaraku menghilang, diculik, lebih tepatnya, dan ini berkat Alex yang luar biasa terkenal. Salah satu fans fanatiknya pasti pelakunya, dia melacakku dan hal-hal paling pribadi dariku, dan menggunakannya supaya kami putus. Gila. Aku bahkan tidak bisa meminta saran pada siapapun. Sendainya aku bisa memberi tahu Alex, semuanya pasti akan jauh lebih mudah. Tapi aku tidak ingin mengganggunya, terutama karena dia mendapatkan tawaran lagi, dan nyawa Senja juga dipertaruhkan disini.
-XoXoXo- XoXoXo- XoXoXo-
HPku berdering tepat jam delapan keesokan paginya, dengan nomor asing terpampang dilayarnya, suaranya yang nyaring bergema di apartemenku yang sepi dan kecil ini. Kelihatannya sang penculik adalah orang yang on time. Tanpa membuang waktu, aku mengangkatnya dengan sigap.
"Halo?"
"Selamat pagi. Apa kamu menunggu telepon saya dari tadi?" suara yang menganggu seperti kemarin kembali menyapa telingaku.
"Sebenarnya dari semalam, gue sampe nggak tidur. Puas?" candaku sarkatis.
"Itu berita yang menyenangkan. Tapi setidakny saya menepati janji bukan? Sekarang waktunya kamu menepati janji kamu," dia tertawa. Aku tidak pernah berjanji padanya tapi aku tahu apa maksudnya, keputusan dari pilihan yang dia tawarkan.
"Gue mau ngomong sama Senja dulu," aku bernegosiasi, dan, sangat berharap ini akan berhasil.
"Saya kira kamu sudah paham kalau Senja sudah saya culik?" dia terdiam cukup lama sebelum akhirnya bicara lagi.
"Supaya gue lebih yakin," aku berdiri dari tempat tidurku dan berjalan ke arah jendela. "Tolong," lalu menyibak tirainya, mengamati arus lalu lintas yang mulai padat di luar.
Dia tidak menjawab, tetapi aku mendengar suara kasak-kusuk. "Kak Pritta?" dan detik berikutnya, suara yang sangat kukenali terdengar.
"Senja?" aku menghela nafas lega, nyaris berseru. "Ini bener-bener kamu?" seperti balon kempis.
"Iya kak," jawabnya dengan nada menyayangkan.
"Kamu nggak apa-apa? Kamu sakit gak? Luka?" berondongku sambil menjambak-jambak rambutku sendiri, campuran frustasi dan senang karena kembali mendengar suaranya. Sekarang aku yakin ini bukan lelucon, karena Senja nggak akan pernah menakut-nakuti dengan sejahat ini padaku.
"Aku agak mabok, tapi nggak apa-apa," dari suaranya yang lebih ringan aku tahu dia sedang tersenyum.
"Kamu jangan takut ya, semua akan baik-baik aja. Kakak akan nolong kamu, kamu harus jaga diri sampai saat itu tiba," ujarku cepat-cepat. Ya Tuhan, dia pasti luar biasa ketakutan sekarang!
"Iya, aku tahu," gumamnya yakin. Hatiku lirih dibuatnya.
"Oke, kalian sudah cukup bicara," mendadak aku mendengar suara telepon dipindahkan dan penculik itu kembali.
"Uang," seruku langsung. "Gue rela ngebayar dalam jumlah besar supaya lo mau ngebebasin sepupu gue, sebutin aja nominalnya," dan menjelaskan dengan terburu-buru, putus asa sebenarnya.
"Saya nggak mau uang. Udah saya bilangkan?" dia menghela nafas lelah. "Sekarang cepat putuskan kamu mau ambil jalan yang mana, dan ingat, jangan coba-coba bohong," kemudian kembali mengingatkanku pada urusan kami sebelumnya.
"Gue nggak tau," jawabku ragu.
"Bukankah saya sudah memberikan cukup waktu?" suaranya terdengar lebih pelan dan berbahaya.
Sebenarnya, kalau boleh jujur, opsi yang pertama lebih aman. Jelas keluarga lebih penting daripada yang lain. Tapi Alex selalu ada untukku, kami akan menikah, dan dia sebentar lagi akan tur, rasanya dunianya akan jungkir balik kalau aku memilih yang pertama. Terpaksa, aku memilih yang kedua, dan itu berarti aku akan membutuhkan perencanaan.
"Gue dan Alex bakal ketemuan hari ini. Gue Cuma butuh waktu sedikit lagi untuk mempertimbangkan, sehari aja," aku beralasan. "Please," dan menambahkan.
"Baik," akhirnya dia menyetujjui dan aku memejamkan mataku dalam ketenangan. "Setelah ini kamu tidak akan bisa menghubungi saya lagi kecuali kamu sudah membuat keputusan, jadi ingat ini baik-baik, kalau kamu pilih yang pertama, pastikan saya tahu, kalau yang kedua, besok kamu harus berangkat ke Bandung," si penculik kembali berkata panjang lebar.
"Bandung?" tanyaku.
"Catat ini," suruhnya. "Hotel Geulis, cari di internet, lokasinya cuma ada satu, kamu nggak akan salah tempat, dan menginaplah di kamar 45, tenang saja, saya sudah reservasi di sana buat kamu," sukses membuatku kalang kabut berlari ke laptopku dan mencatatnya di notes.
"Berapa lama permainan ini akan berlangsung?" aku memberanikan diri untuk mengorek informasi lebih jauh dan membuka internet untuk mencari peta alamat yang dia sebutkan tadi.
"Kalau kamu gesit, kamu akan tiba di pernikahanmu tepat pada saatnya, jadi bawa semua yang kamu butuhkan," diluar dugaan, dia langsung memberitahuku. "Mengerti?"
"Ya," gumamku gugup.
"Oke, tha, tha," kemudian dia menutup teleponku dengan sok imut.
Apakah semua penculik seperti ini? Senang bermain-main dengan mangsanya sebelum mendapatkan hadiahnya? Dari penilaianku, cara dia berbicara sopan tapi bukan berarti dia akan segan melakukan apapun pada Senja, dia juga cerdas dan percaya diri akan menang, ini terlihat jelas dengan betapa tenangnya dia, dan dia masih memperbbolehkanku menggunakan gaya bahasa informal tanpa tersinggung, itu artinya dia meremehkanku.
Aku sudah mendapatkan peta hotelnya, yang seperti dia bilang hanya ada satu. "Kurang lebih satu bulan," gumamku saat menyadari durasi yang dia berikan padaku. Oke, aku bisa menutupi kepergianku, kalau hanya satu bulan.
Yang jadi masalah adalah apakah aku bisa membohongi Alex?
X
Dia memang menawan. Wajahnya tirus dengan rahang yang kuat dan tulang pipi yang tinggi. Matanya dalam dan tajam. Hidungnya mancung dan dalam ukuran yang sempurna. Bibirnya sensual dan penuh. Keseluruhan tubuhnya bagaikan pahatan dan yang pasti, salah satu maha karya terbaik dari yang di atas. Jemarinya mampu menciptakan melodi-melodi yang indah, dan kepribadiannya mampu melelehkan siapapun. Tidak mengherankan semua perempuan di Indonesia mendambakannya, tidak heran aku bisa jadi miliknya.
"Oke. Jadi kamu ngebatalin acara kita jalan hari ini dengan makan malam di apartemen kamu. Dari tadi kamu diem, mengatup-atupkan bibir, dan sekalinya kamu ngomong, komentar kamu lebih tajam dari biasanya," Alex yang duduk diseberangku menaruh kembali gelasnya dimeja. "Kamu kenapa sayang? Sekarang ini entah kamu lagi nggak enak badan atau lagi bete banger," kemudian dia menatapku dengan sungguh-sungguh. Aku rasa karena sekarang makan malam sudah berakhir, dia akhirnya mengambil kesempatan untuk menanyai tingkahku yang aneh.
Senja diculik, aku reflek hampir mengatakan itu. "Enak nggak?" tapi malah itu yang keluar dari mulutku.
"Lumayan, peningkatan dari sebelumnyalah," dia tersenyum sambil memperhatikanku yang sedang mengelap mulut dengan serbet.
"Kamu bisa nginep nggak?" aku berdiri dan mulai membereskan bekas peralatan makan kami.
"Besok aku ada kerja jam tujuh," dia mengernyit ragu dan ikut bangkit untuk membantuku.
"Aku punya setumpuk DVD bagus yang kamu wajib tonton," aku membujuknya sambil berjalan ke wastafel di dapur.
"Harus malem ini?" dia mengikutiku dan bertanya dengan hati-hati.
Aku menghela nafas, memutuskan bahwa sudah waktunya aku beraksi. "Sini," aku berbalik, menggandeng tangannya, dan menariknya ke sofa. "Aku mau keluar kota, jalan sama anak-anak untuk satu bulan," kataku setelah kami akhirnya duduk.
"Hah?" dia reflek memekik dan ekspresinya tampak terkejut. "Kok dadakan?"
"Ini idenya si Sassy, biasalah," aku sudah mengarang cerita ini dari berjam-jam yang lalu.
"Gini, kamu taukan kawinan kita kurang dari dua bulan lagi?" Alex menjelaskan dengan hati-hati.
"Ya sayang, aku nggak pikun. Tapi ini juga mungkin kesempatan terakhirku dan mereka untuk seneng-seneng bareng. Kamu taukan kalau udah nikah dan kerja bakal gimana?" aku beralasan.
"Ouch. Biar udah nikah juga aku nggak bakal ngekang kamu kok," dia menaikkan sebelah alisnya, tampak sedikit terganggu dengan kalimatku sebelumnya.
"Ia, aku percaya," aku tersenyum manis, untuk meluluhkannya. "Yang jelas aku pengen banget ikut, aku mohon," kemudian aku memasang wajah memelas, merengek, dan mengatupkan kedua tanganku didepan dada.
"Menurut kamu pendapat keluarga aku bakal gimana?" Alex mencibir dan menurukan kedua tanganku.
"yang lain mungkin bakal berpikir aku nggak bertanggung jawab, tapi ayah kamu nggak akan peduli and ibu kamu bakal ngerti," jawabku jujur, membuatnya terperanggah. "Lagian, penganten'kan tinggal nikah doang, panitia yang pusing," tambahku jahil.
"Kamu tuh ya," dia menggeleng-gelengkan kepalanya, ekspresinya campuran antara sebal dan terkesima.
"Dan kamu bisa'kan ngeyakinin mereka semua?" aku bergeser ke arahnya dan menggandeng tangannya manja.
"Ada aja alesan," dia menatapku dan terbatuk kecil.
"Ya, ya, ya?" aku menggoyang-goyangkan tangannya, menggemaskan.
Dia terdiam untuk beberapa saat. "Ya udah," sebelum akhirnya mengangguk menyerah. "Tapi jangan minta macem-macem kayak perpanjangan waktu atau semacamnya! Kamu tega apa ninggalin aku ngurus semuanya disini?" kemudian dia menambahkan dengan kesal dan menarik tangannya dariku.
"Nggaklah yang, dan kalau ada apa-apa kamu bisa telepon aku'kan?" aku nyengir, seneng.
"Bener ya?" dia mendelik padaku.
Nah, sekarang tentang telepon. Aku nggak mau dia menelepon disaat yang salah atau penasaran dan reflek mencari tahu keadaaanku jika saja nanti aku tidak bisa mengangkat telepon. "Omong-omong kalau aku nanti nggak ngangkat telepon kamu maklum aja ya, kita cuma cewek-cewek dan kita sepakat nggak mau ada gangguan dari manapun, terutama cowok," bohongku.
"Aku? Gangguan?" dia menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi tidak percaya.
"Sassy yang bikin aturan, kamu taukan aku pasti ngajak kamu kalau nggak ada aturan ini dan kamu nggak sibuk?" kembali aku menjadikan temanku yang hiperaktif itu alasan. "Jadi kamu sms, ntar kubales, dan kalau telepon kamu nggak aku angkat, aku paling lambat telepon kamu jam 11 malem, oke?" kemudian menjelaskan dengan perlahan, supaya pacarku nggak lupa.
"Iya, non," dia menunduk lelah.
Aku memekik senang, melompat ke arahnya, dan mengecup pipinya keras-keras.
X
Seorang anak perempuan sedang bermain dengan anak perempuan yang lebih kecil darinya, di dalam sebuah taman di pekarangan rumah. Langit yang memayungi mereka tampak begitu biru, rumput yang mereka injak subur dan hijau, dengan gemerlapan sinar keemasan dari matahari yang masih cerah. Semuanya sempurna.
Sampai tiba-tiba seorang laki-laki keluar dari pintu belakang rumah, berjalan dengan langkah tegap ke arah mereka. Kedua gadis itu berhenti berkejaran, gadis yang lebih tua reflek menarik yang lebih muda untuk bersembunyi dibelakangnya, keduanya mematung, dan untuk sekilas mereka bisa melihat sosok anak laki-laki yang masih lebih kecil dari mereka, menatap dengan kebingungan dari balik pintu yang masih terbuka.
Laki-laki itu berhenti didepan mereka, tubuhnya jauh lebih tinggi, dan seringgai mengerikan menghiasi wajahnya, tapi matanya tak bernyawa. "Kenapa matahari berwarna kuning?" tanyanya datar.
"Aku tidak tahu," jawab anak yang paling tua dengan gugup sambil mendongak ke arahnya. Detik berikutnya, sebuah tamparan mendarat di pipi kanannya, membuat tubuhnya ikut terhuyung tapi kakinya tetap terpancang tegak ditanah.
"Kenapa langit berwarna biru?" tanya laki-laki itu lagi.
Anak perempuan itu kini tidak berani menatap ke atas, padanya. "Aku tidak tahu," ujarnya pelan. Kali ini tamparan itu mendarat di pipi kirinya.
Laki-laki tersebut terus menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang aneh yang tidak pernah bisa anak perempuan itu jawab, dia menerima tamparan demi tamparan sementara anak yang lebih kecil hanya bisa menangis ketakutan dibelakangnya.
"Kenapa kamu bodoh sekali? Di sekolah tidur aja ya?" laki-laki itu menunduk sedikit untuk mengintimidasinya dan bicara dengan nada yang berbahaya.
Anak perempuan itu tidak berani menjawab.
Si lelaki tersenyum, mengulurkan tangan kanannya untuk menarik lengan anak yang lebih kecil dibelakang, dan menariknya dengan paksa sampai anak itu jatuh tersungkur dan berteriak.
"Kak! KAKAK!" jerit si anak yang lebih kecil sambil menangis sementara laki-laki itu menyeretnya ke dalam rumah.
"Jangan! Jangan!" si anak yang lebih tua memohon memelas dan menarik tangan si anak yang lebih kecil dengan seluruh tenaganya.
Tapi percuma, dibandingkan lelaki dewasa itu, dia bukanlah apapun, tarikannya hanyalah sebuah gelitikan ringan, dan jeritan mereka adalah musik di telinganya.
X
Aku merasakan sebuah tangan yang kasar menggoyang-goyang tubuhku, dan wangi parfum musk menyerbu hidungku. "Hei, hei, kamu kenapa?" aku membuka mata dan Alex sudah duduk dihadapanku. Raut wajahnya luar biasa khawatir dan dia sudah berpakaian rapi untuk kerja.
Aku menelan ludah denngan sulit, menghapus air mataku yang entah dari kapan sudah mengalir, dan membetulkan posisi berbaringku. "Mimpi…" gumamku.
"Kamu jejeritan, kayak anak kecil aja, lucu," Alex mengelus keningku dan tersenyum kecil.
"Mimpiku nggak lucu," sambarku sensi.
"Iya, iya, kamu ngimpi apa tadi?" pacarku menyibak rambut yang menutupi wajahku dengan sabar.
"Aku lupa."
Dia mencibir. "Aku pergi sekarang ya. Kamu hari ini berangkat jam berapa?" kemudian melihat jam tangannya dan bertanya.
"Abis ini kayaknya," jawabku sambil mencoba duduk.
"Ya udah, pokoknya kabarin aku dan kalau kamu butuh apa-apa kasih tau ya, kalau ada celah buat aku nyusul-" Alex membantuku.
"Pasti aku kasih tau," aku mengangguk sambil mengayunkan rambut hitam panjangku ke belakang.
Dia tersenyum dan menyelimutiku. "Aku cinta kamu," kemudian menunduk dan menatap sungguh-sungguh ke dalam mataku.
"Aku sayang, sayang, sayang banget sama kamu," candaku dengan nada diulur-ulur.
"Aku bilang cinta dan menurut kamu itu Cuma tiga kali lipatnya sayang?" dia tertawa.
"Mungkin," aku ikut tertawa. Kemudian aku meraih kepalanya dengan halus dan mencium bibirnya, lama dan dengan penuh kasih sayang. Siapa yang tahu kapan kami akan bertemu lagi? Dan bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk ditengah-tengah perjalananku untuk menyelamatkan Senja?
Beberapa saat kemudian dia mencium pipiku dan mendekapku erat ke dalam pelukannya yang kubalas dengan lebih erat. "Nanti aku telat kerja sayang," bisiknya menggoda.
"Iya," gumamku sambil memejamkan mata dan menikmati waktuku memeluknya, kalau bisa aku ingin tetap seperti ini. Seandainya saja dia bisa tahu.
X
Sekitar dua jam kemudian aku sudah siap dengan semua barang-barangku di terminal yang berada di jantung kota. Untungnya, bus yang akan membawaku ke Bandung akan berangkat sekitar 15 menit lagi, jadi aku tidak perlu menunggu lama.
"Mbak Prittak'an ya?" seorang ibu-ibu yang mengamatiku semenjak aku naik bus, akhirnya memberanikan diri untuk menyapaku. Sementara penumpang yang lain hanya mengamatiku dengan tertarik.
"Iya," aku tersenyum padanya.
"Selamat atas pernikahannya ya mbak," dia menyelamatiku.
"Makasih bu," aku mengangguk dengan rendah hati.
"Omong-omong, boleh minta foto bareng dan tanda tangan nggak, mbak?" kemudian dia bertanya dengan malu-malu.
Aku tercenggang. "Sayakan bukan selebriti-"
"Nggak apa-apa mbak, nggak masalah," dia tertawa.
Ya udah deh, akhirnya aku foto bareng bersama ibu itu dan memberikan tanda tanganku. Kejadian itu sukses memancing para penumpang lain melakukan hal yang sama dan membuatku khawatir. Aku tidak seharusnya terlihat, mungkin aku harus mengubah penampilanku nanti. Untungnya setelah bus berangkat dan memasuki tol, aku langsung jatuh tertidur (atau pura-pura tidur) karena kurang istirahat dari kemarin, dan lelah mental.
Saat aku terbangun aku sudah ada di dekat terminal Bandung, dan hal pertama yang kulakukan setelah busku tiba adalah, pergi ke kamar mandi, menyembunyikan mataku dibalik kacamata dan rambutku dibawah topi baseball yang dibelikan Alex setahun yang lalu, oleh-olehnya dari US.
"Pritta?" tapi tetep aja, saat aku sampai di depan terminal untuk mencegat angkot, seseorang kembali memanggilku.
Aku menoleh ke sumber suara dan ternyata, seseorang itu bukan seseorang biasa. "Fajar?" dia orang yang kukenal, sangat kukenal. Dari semua orang kenapa dia harus jadi orang pertama yang kutemui disini?
"Waduh! Lo lagi di Bandung? Kok nggak ngabarin?" laki-laki muda itu tertawa senang dan menghampiriku.
"Gue lagi mau nengok kosan," aku beralasan. "Lo ngapain disini?" dan mengalihkan pembicaraan.
"Gue lagi makan, restoran favorit gue tuh, ada disana," dia menunjuk ke bangunan di sebelah kiri jalan. Aku mengangguk dan berdoa dalam hati semoga angkotku cepat datang. "Maen yuk! Udah lamakan kita nggak ketemu!" ajaknya antusias. "Tapi itupun sih, kalau Alex ngijinin," kemudian dia menambahkan.
Jujur Jar, sebenernya gue mau banget. Kalau aja situasi gue nggak begini gue mungkin udah bikin-bikin alasan ke Alex. "Gue Cuma bentar disini, dan Alex pasti nggak ngijinin. Maybe next time," aku angkat bahu.
"Gue nggak ngerti, hanya karena dia pertemenan kita kok harus terhambat?" dia memasukkan tangannya ke kantung celananya dan mengeluh. Ya, Alex nggak pernah suka sama Fajar, junior dua tingkat dibawahku ini, menurutnya aku dan Fajar terlalu dekat dengan tidak wajar. "Kalau aja dia mau mengenal gue sedikit, guekan udah ngejelasin gue nggak ada apa-apa sama lo dan gue udah sering ngajak dia jalan bareng-"
"Sori Jar, angkot gue tuh, gue lagi buru-buru," potongku lega saat angkotku akhirnya terlihat. "Ntar gue sms ya," kemudian aku menambahkan sambil melompat masuk.
Dia terlihat kecewa (dan mungkin agak kesal) saat aku melihat keluar jendela, tapi toh saat aku melambai dia ikut melambai. Mungkin dia akan menganggapku sombong atau semacamnya, tapi untuk saat ini aku tidak peduli. Kalau semuanya sudah selesai aku bisa menjelaskannya nanti, dan kalau dia memang temanku, dia akan mengerti.
"Kamar 45, saya sudah reservasi sebelumnya," ujarku pada resepsionis di lobi hotel.
"Atas nama Senja?" dia memeriksa komputernya dan mengkonfirmasi. Aku mengangguk lesu, sungguh lelucon nama yang bikin ngedown. "Ini kunci kamarnya, silahkan ke lantai empat," dia tersenyum dan memberikan card keyku.
Aku menerimanya tetapi tidak langsung pergi. "Mas, yang sewain kamar ini siapa ya?" dan malah mencoba menyelidiki siapa yang memesan kamarku meskipun kecil kemungkinan berhasilnya.
"Ada pemesanan lewat internet sekitar 3 hari yang lalu mbak," jawabnya setelah dia selesai mengecek komputernya.
"Dari mana ya?" tanyaku lebih lanjut.
"Maaf, kami merahasiakan alamat pengunjung dan pemesan, itu sudah kebijakan perusahaan. Lagipula, mbak harusnya tahukan?" dia terlihat tidak enak dan menolakku dengan sopan.
"Makasih," dan berjalan pergi adalah satu-satunya responku setelah itu.
Kamarku adalah suite biasa dengan satu tempat tidur double, satu TV, meja rias, dan kamar mandi. Tidak buruk, tapi juga tidak wah, biasa-biasa saja. Dan pertanyaan selanjutnya adalah, apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah dia menyembunyikan kamera di dalam sini dan memantauku secara rahasia?
"Oi, gue udah nyampe," seruku sambil melepas sepatuku dan melangkah lebih jauh ke dalam. "Mungkin sekarang waktu yang tepat untuk… sesuatu…" tambahku sambil menaruh tas dan barang-barangku diatas meja. Tidak ada respon. Aku menoleh berkeliling mencari sesuatu yang mencurigakan. Mungkin dia tidak akan memberikan petunjuk padaku, tetapi meninggalkan petunjuk. Jadi aku mulai mencari apapun, di manapun, di setiap sudut kamar ini. Bahkan sekali-sekali aku mengintip keluar kalau saja ada yang menempel sesuatu di pintuku.
Lelah Karena pencarian dan perjalanan dalam kota, akhirnya aku memutuskan untuk berbaring diatas tempat idur, setengah jam kemudian. Aku menunggu sampai akhirnya aku jatuh tertidur lagi, dan pada akhirnya, terbangun karena suara HPku yang sukses membuatku langsung terjaga. Nomor asing lagi
"Halo?" aku mengangkatnya sambil duduk perlahan.
"Gimana perjalanannya, menyenangkan?" sapa si penculik sok perhatian. Jadi entah bagaimana caranya dia tahu kalau aku memilih yang kedua.
"Lumayan. Cikampek macet, tapi itu udah biasa," aku merespon dengan sarkastis dan menutupi suara kuapku setelah itu.
Aku mendengar suara tepuk tangan riuh, seakan-akan ada penonton disana. "Bagus, karena kamu akan membutuhkan banyak stamina untuk game pertama kamu," dan suaranya mendadak terdengar bersemangat.
Akhirnya, inilah saatnya. "Apa gamenya?"
"kamu tau Trans Studio?"
"Ya."
"Disana ada salah satu wahana tercepat di dunia. Kamu tahu apa?" tanyanya dengan menyebalkan.
Aku terdiam untuk beberapa saat. "Roller Coaster," jawabku pelan. Please, please jangan nyuruh aku melakukan sesuatu yang mustahil!
"Tepat," aku mendengar suara tepuk tangan lagi, sama persis seperti yang sebelumnya. Rekaman. "Yang harus kamu lakukan hanyalah menemukan nomor HP yang tercantum di salah satu bangkunya. Sebelah mana ya kamu cari sendiri, dan ingat, batas waktu kamu 5 hari," jelas si penculik senang. "Jika dalam 5 hari kamu belum menghubungi saya dengan nomor maka saya pastikan, Senja akan ikut menaiki roller coaster," kemudian, dengan segera nadanya berubah menjadi tenang berbahaya. "Tanpa sabuk pengaman."
(A/N)Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca tulisan, silahkan tinggalkan review atau masukan kamu di kotak dibawah ini and I'll see you at the next chapter. Cheers!
|
||||||