
Ketika suatu rasa mulai tumbuh, namun saling menunggu dengan tetap percaya, bahwa cinta tidak akan tersesat dan akan menemukan jalan yang indah. Fict pertama, gaje, dll
Rated: Fiction T - Indonesian - Romance - Words: 1,517 - Reviews: 3 - Favs: 1 - Published: 01-21-13 - Status: Complete - id: 3094190
|
|
A+ A- |
Baiklah, baiklah...
Hh, fict pertama sayaaaaa *gampared* gak yakin juga ini pantes disebut fict apa nggak :'( *pundung*
Hiks.. Baiklah, daripada banyak omong, mending langsung aja disimak fict gaje bin nista ini *tendang-injek-buang ke laut*
Love Will Find a Way
Sang mentari kini tengah menyalurkan energinya secara maksimal untuk menyinari bumi. Teriknya sangat menyengat, tapi aku yang menyadari hal ini masih tetap terdiam. Tak berniat meninggalkan posisi nyamanku di atap sekolah ini, walaupun aku tahu, mungkin aku satu-satunya siswa yang masih menetap di sekolah ini. Entah kenapa, aku juga sama sekali belum berniat untuk meninggalkan atap sekolah ini menuju rumahku. Tidak ingin meninggalkan rasa nyaman yang kini menyelimutiku.
Ya, aku memang lebih suka menyendiri seperti ini. Saat-saat seperti ini justru membuat hatiku tenang. Dan di tempat inilah aku selalu menghabiskan waktu. Entah hanya untuk sekedar istirahat atau menenangkan perasaanku, seperti saat ini.
Pikiranku melayang di saat-saat yang telah lalu. Dan parahnya, yang terlintas dipikiranku hanya dia. Seorang pemuda konglomerat yang cerdas dengan IQ di atas rata-rata dan dingin. Pemuda berkulit putih dan memiliki bola mata berwarna abu-abu. Wajah aristokrat yang, kuakui, sangat tampan membuat tidak ada seorang pun yang tak mengenalnya. Walaupun memang sifatnya yang begitu dingin itu kadang sedikit menyebalkan untukku. Tak heran, dia diberi julukan 'Pangeran Es' di sekolah ini. Singkat kata, dia begitu sempurna.
\(^.^)/ \(^.^)/ \(^.^)/
Kualihkan perhatianku dari buku yang kubaca. Kulihat matahari kini menampakkan kehebatannya. Hei, rupanya hari sudah sangat siang. Sebegitu lamanya kah aku menghabiskan waktu di tempat ini? Huh, biarlah, aku tidak peduli. Setidaknya menghabiskan waktu seharian di taman belakang sekolah ini pun aku rela agar bisa terbebas dari gadis-gadis dengan teriakan anehnya. Terserah saja, mau memanggilku 'Pangeran Es' atau apalah, bukan urusanku. Lagipula otakku juga cukup cerdas, membolos sehari bukan masalah untukku.
Akupun kembali melihat buku yang kubaca, dan setelah itu, aku hanya bisa sedikit membelalakkan mata. Bagaimana aku tidak kaget, aku yang biasanya bisa menghabiskan beberapa buku bacaan ringan dalam waktu tiga jam, dan sekarang justru aku menghabiskan waktu berjam-jam dengan hanya menghabiskan sekitar dua puluh halaman! Ini benar-benar di luar kebiasaanku. Baiklah, sepertinya aku tidak sepenuhnya menggunakan berjam-jam waktuku di sini untuk membaca buku ini. Rasanya aku seperti mengerjakan dua pekerjaan sekaligus, membaca buku dan... Memikirkannya.
Bibirku menarik senyum tipis, yang tak pernah kuperlihatkan pada siapapun. Dan aku yakin, kalau gadis-gadis bodoh yang selalu mengejar-ngejarku itu melihatku tersenyum seperti ini, mungkin aku akan melihat pemandangan gadis-gadis terkapar di hadapanku. Tsk, aku tidak peduli pada mereka, yang kupikirkan saat ini hanya dia. Sangat berbeda dengan gadis-gadis yang lain. Tak pernah dia merecokiku dengan teriakan-teriakan bodoh atau mengejar-ngejarku, seolah aku ini permen lolipop gratis yang dikejar anak kecil. Seorang gadis dengan bola mata sehitam malam dan wajah yang begitu manis. Sebenarnya aku sangat bersyukur sebab dia sekelas denganku. Dengan begitu, aku bisa lebih mudah memperhatikannya.
\(^.^)/ \(^.^)/ \(^.^)/
Kedatangannya selalu menjadi harapan tersendiri bagi para gadis. Bahkan kalau perlu, gadis-gadis itu rela beralih profesi menjadi penguntit untuk pemuda ini agar bisa dekat dengannya. Di hari Valentine maupun di hari ulang tahunnya, sudah dapat dipastikan dia tidak masuk sekolah. Aku yakin, salah satu alasannya adalah untuk menghindar dari serbuan gadis-gadis yang membawa berbagai macam coklat maupun kado-kado lainnya. Hah, kadang aku juga kasihan pada mereka, usaha mereka untuk mendekati pemuda itu sungguh sangat sia-sia. Pemuda itu selalu tampak mengisolasi diri dari gadis-gadis yang mengejarnya.
Aku sendiri, sebagai teman sekelasnya, rasanya hampir tidak pernah berkomunikasi dengannya. Entah karena dia yang menjaga jarak denganku, sama seperti dia menjaga jarak dengan gadis-gadis lain, atau karena memang tidak ada suatu hal yang bisa dijadikan alasan untuk berkomunikasi. Walau begitu, diam-diam aku selalu memperhatikan kebiasaannya. Di pagi hari, dia masuk ke kelas dan segera duduk di bangku tetapnya, bangku deretan kedua dari belakang dekat jendela yang menghadap ke arah taman belakang sekolah. Dan saat pelajaran mulai, dia lebih suka memperhatikan suasana di luar jendela daripada harus memperhatikan penjelasan guru. Yah, walaupun begitu, nilainya pada setiap mata pelajaran selalu mengundang decak kagum para guru dan desah kecewa para murid yang tak pernah bisa mengunggulinya. Dia sungguh pemuda yang penuh kejutan untukku.
\(^.^)/ \(^.^)/ \(^.^)/
Sayangnya, meskipun dia sekelas denganku, aku hampir tidak pernah berkomunikasi dengannya. Bukannya aku mau jaga jarak dengannya, malah justru aku bingung sendiri, alasan apa yang bisa kugunakan agar aku bisa bicara dengannya, walau hanya obrolan singkat. Hah, inilah resikonya kalau menjadi orang yang lebih suka menyendiri dan tidak suka mengeluarkan perasaannya di hadapan orang lain.
Di kelas, aku menetapkan bangku deretan kedua dari belakang menjadi tempat duduk tetapku. Ada beberapa alasan untuk itu. Pertama, karena di tempat itu aku bisa menikmati pemandangan di luar jendela, dan itu lumayan berhasil menenangkanku saat moodku memburuk. Dan kedua, tentu saja, aku bisa dengan mudah memperhatikan gadis itu dari tempat dudukku dengan tidak mencolok. Sungguh, aku sangat bersyukur, sebab dari tempatku itu, aku bisa melihat apa saja kebiasaannya saat pelajaran dimulai. Mulai dari memperhatikan penjelasan guru dengan serius, lalu mencatatnya, dan kalau dia bosan, dia memilih untuk keluar dari kelas. Untuk mencari ketenangan, kurasa.
\(^.^)/ \(^.^)/ \(^.^)/
Aku punya kebiasaan tertentu saat di kelas. Salah satunya, kalau aku bosan dengan pelajaran di kelas, maka dengan suka rela aku keluar dari kelas ke tempat favoritku. Atap sekolah. Yeah, kupikir itu lebih baik daripada aku harus memaksakan diri untuk ikut pelajaran, sementara otakku tidak mau diajak kerjasama. Tapi tentu saja, aku hanya beralasan untuk izin sebentar ke toilet pada guru yang sedang di kelas. Kalian tidak berpikir kalau aku benar-benar mengatakan alasan yang sebenarnya, kan?
Aku tidak pernah melupakan hari itu. Hari di mana aku keluar dari kelas untuk ke sekian kalinya menuju atap sekolah karena pelajaran Sejarah yang siap membuatku melayang ke alam mimpi jika aku tetap di kelas. Dan saat aku sampai di tempa tujuanku, aku pun terdiam. Tak percaya dengan penglihatanku sendiri. Bagaimana tidak, atap sekolah yang tidak pernah ada pengunjungnya (kecuali aku, tentunya), kini justru kedatangan seseorang yang selalu membuat jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Seseorang yang kuperhatikan diam-diam sejak aku menjadi siswi di sekolah ini. Seseorang yang membuatku mengerti arti suatu perasaan yang abstrak, cinta.
\(^.^)/ \(^.^)/ \(^.^)/
Ah, tiba-tiba pikiranku melayang ke saat itu. Saat di mana aku sedang ingin membolos di pelajaran Sejarah dan memutuskan untuk menghabiskan waktu di atap sekolah. Saat itu firasatku mengatakan bahwa hari itu adalah hari keberuntunganku. Dan ternyata... Memang benar. Aku bertemu dengannya! Gadis yang selalu memenuhi pikiranku. Gadis yang selalu menyita perhatianku walau dia tak pernah meminta perhatianku. Dan gadis yang akan selalu ada dihatiku.
Masih hangat rasanya ingatan itu diotakku. Ketika dia terdiam menatapku di depan pintu atap sekolah. Mungkin heran karena keberadaanku. Jarang-jarang aku ke tempat itu untuk menghabiskan waktu, sebab biasanya aku lebih suka ke taman belakang sekolah. Aku yang menyadari kedatangannya hanya bisa terkejut, dan tentu saja, kusembunyikan keterkejutanku darinya. Setelah aku sepenuhnya menguasai keterkejutanku, aku pun berjalan ke arahnya, mencoba menyapanya singkat.
''Maaf, sepertinya aku mengganggu waktumu,'' kata gadis itu.
Baiklah, sepertinya aku keduluan. Refleks, aku menahan tangannya yang akan membuka pintu. Kalau aku tak salah menafsirkan, sepertinya dia mencoba menghindar dariku. Tapi sungguh, aku tidak ingin dia pergi dari tempat itu. Karena itu, aku mencoba menahannya agar dia tidak kembali ke kelas atau pergi ke tempat lain.
''Tunggu!'' kataku. '' Kau sama sekali tidak menggangguku,'' lanjutku.
Kulihat sirat keheranan tampak di matanya. Dua bola mata terindah yang pernah kulihat.
\(^.^)/ \(^.^)/ \(^.^)/
Aku hanya bisa terbelalak kaget. Pendengaranku masih normal, kan? Bagaimana tidak, pemuda dihadapanku ini sepertinya ingin menahanku agar aku tidak pergi dari tempat itu. Aku menyadarinya dari kata-katanya.
''Kalau kau mau, kau bisa menghabiskan waktu di sini,'' katanya pelan dan datar.
Hei, apa ini ajakan? Kalau ya, aku tidak akan menolaknya. Dalam diam, aku pun mendudukkan diri di sampingnya. Sekilas, kulirik pemuda di sampingku. Dia tampak sedang berbaring sambil mengatupkan kedua matanya. Semilir angin pun membelai rambut hitamnya. Sungguh, pemandangan terindah yang pernah kulihat. Aku pun ikut mengatupkan kedua mataku, tentu saja dalam posisi duduk. Kurasakan angin menerpa wajahku pelan. Hari itu tak akan pernah kulupakan.
\(^.^)/ \(^.^)/ \(^.^)/
Kembali kuperhatikan langit yang terhampar luas di atasku. Langit yang memerah tertangkap jelas olehku. Rupanya hari sudah berganti senja, eh? Aku pun memasukkan bukuku ke dalam tasku, bersiap untuk pulang. Senyum tipis masih terukir di wajahku. Ternyata, aku sangat mencintai gadis itu sampai-sampai memikirkannya seharian membuat hatiku semakin tenang. Mungkin ini belum saatnya aku mengutarakan perasaanku padanya. Tapi suatu saat nanti, pasti, aku akan menyatakan semua perasaanku padanya. Pada seorang gadis yang akan selalu dihatiku.
\(^.^)/ \(^.^)/ \(^.^)/
Tampak seorang gadis di atap sebuah sekolah sedang bersiap-siap untuk pulang. Sepertinya ia sudah sadar bahwa hari telah berganti senja. Dengan menenteng tas, senyum di wajahnya seakan belum pudar. Mengingat segala yang berhubungan dengan pemuda itu adalah kegiatan yang menyenangkan dan tak pernah melelahkan walau selalu banyak menyita waktu. Dalam hatinya, gadis itu percaya, bahwa suatu saat nanti cintanya pasti akan menemukan jalannya.
Gimana? Gimana? Gima *disumpel kaos kaki busuk*
Reader: fict apaan ini? O.o
Hiks.. saya tahu pasti ini ancur banget *pundung*
Reader: bagus deh kalo sadar diri!
Jahaaaaatt :(( huweeeeeeee T.T *kicked*
Saya akan sangat berterima kasih kalo masih ada yang mau me-review fict gaje ini :'(
Merci, merci, merci...
|
||||||