
When the empire of Griffen pitted Dayak tribesmen against Orient merchants in order to monopolize trade in Borneo island, a boy started questioning the way the world works. English version coming soon.
Rated: Fiction K+ - Indonesian - Romance/Mystery - Chapters: 5 - Words: 11,503 - Updated: 03-01-13 - Published: 01-23-13 - id: 3094606
|
|
A+ A- |
Scarlet Snow
Chapter 4 (Meet The Future Assassin Princess)
Sepulang dari Inlandsche School, matahari telah mencapai titik tertingginya dalam sehari. Meski begitu, Leony dan Feng mau tak mau harus rela berdesak-desakan di pasar Palak, tepat di sisi selatan lapangan tengah kota untuk membeli belanja harian.
"Katanya setelah ini kita ke istana, kak Leony ?"
Istana yang Feng maksud adalah tempat tinggal raja Majalengka, gubernur yang ditunjuk pemerintahan Mojawa pusat untuk mengatur dan menjajah pulau Borneo ini. Bahkan dari tengah keramaian pasar, tembok bata merah istana tersebut menjulang tinggi di sisi barat lapangan. Tembok hitam benteng Nassau milik Griffen berdiri di sisi utara lapangan dengan gerbang utamanya menghadap pasar, sementara sungai Itobari mengalir di sebelah timur.
"...Cuacanya terlalu panas, kurasa itu pertanda dari para leluhur kalau ini bukan hari yang baik." jawab Leony sambil mengipas-ngipas dengan tangan.
"Bohong... Sebenarnya cuma malas kan ?" Feng memicingkan mata.
Leony tersenyum geli. "Kita ke sebelah sana beli ikan dan santan, gandeng tanganku supaya tidak terpisah."
Lima menit kemudian, Leony tiba di depan lapak yang dimaksud, tanpa Feng.
"Sudah kubilang... Sekarang aku harus mencarinya deh."
Sementara itu, Feng sendiri tak tahu berbuat apa. Ia menatapi orang-orang dewasa yang melewatinya. Kebanyakan acuh tak acuh, beberapa kesal karena Feng berdiri di tengah jalan. Tiba-tiba dari arah lapangan terdengar suara anak-anak bermain. Feng keluar dari pasar dan menemukan sembilan orang anak Dayak, salah satu membawa bongkahan sabuk kelapa di tangannya.
"Hoi ! Kau ! Ori !" panggil salah satu anak. Ori, kependekan dari Orient. "Kami masih kurang satu orang lagi untuk main sepak sawut, mau ikut ?"
Sepak sawut tak jauh berbeda dengan futsal. 5 orang di satu tim, tujuannya memasukkan bola ke gawang lawan tanpan menggunakan tangan. Perbedaannya adalah, bola yang digunakan terbuat dari bongkahan sabuk kepala yang sudah direndam minyak. Bola berapi.
Sampai sekarang Feng masih penasaran apakah para pemainnya tak terbakar ataupun sakit meskipun mereka selalu bermain dengan kaki telanjang. Keingintahuan itulah yang mendorong Feng untuk ikut bermain. Kenapa tidak ? Kak Leony juga lebih mudah menemukanku di sini daripada dalam pasar, pikir Feng.
Kira-kira setengah jam kemudian, Leony menyerah mencari di pasar dan memutuskan untuk mencoba melihat di lapangan. Dengan cepat ia menemukan Feng, sedang berkelahi dengan 9 orang anak. Di dekat mereka tergeletak bola sawut yang masih menyala.
"Perkelahian karena permainan... Haruskah aku melerai ? Tidak, ini perkelahian anak-anak. Tapi itu tidak adil, 9 lawan 1 ?" Leony bimbang, ia tak tega melihat Feng dikeroyok sebegitu rupa. "Tidak. Itu masalahnya sendiri. Salahnya." kata Leony pada diri sendiri, mencoba meyakinkan hati kecilnya. Iapun duduk berteduh di bawah sebuah pohon, agak jauh supaya tak terlihat Feng, tapi cukup untuk bisa menyaksikan.
Mengesampingkan fakta tidak seimbangnya perkelahian itu, kedua belah pihak sama geramnya. Feng mau tidak mau menjadi lebih liar agar dapat mengimbangi jumlah lawannya. Pada satu saat, meski ditindih dan ditendangi ramai-ramai, Feng masih cukup liar untuk meremas selangkangan penindihnya dan menjewer telinganya. Pada saat lain, Feng bahkan melemparkan bola api tersebut saat akan diterjang. Meskipun gelisah, Leony menikmati tontonan itu, menikmati kegarangan yang Feng tunjukkan, teriakan-teriakan dan erangan kesakitan anak-anak, olokan serta ejekan yang saling dilontarkan. Secara tak sengaja ia membandingkannya dengan perang yang akan terjadi, dan dengan sedikit geli menyebut pertengkaran itu 'perang tanpa darah, tanpa nafsu membunuh, dan dapat dinikmati'.
"Berhenti !" seru seorang gadis kecil dari arah barat lapangan. "Kenapa kalian berkelahi ?" tanyanya sambil menghampiri. Gadis itu berkerudung dan berjubah ungu, wajahnya tak terlihat, tapi kurang lebih seumuran Feng.
"Dia curang ! Dia sengaja menendang bola ke mukaku !" seru seorang anak Dayak.
"Aku tak sengaja ! Maaf, oke ?!" teriak Feng yang terbaring di tanah setelah dijegal.
'Bola api itu ?' pikir sang gadis sambil melirik bola tersebut. Pasti sakit.
"Ia sudah minta maaf, tak apa kan ? Berbaikanlah."
"Aku belum puas dengan permintaan maafnya !"
"Hei, kalian tak tahu ini siapa ?" kata Leony dengan nada bermain-main sambil menarik kerudung gadis itu dari belakang, memperlihatkan wajahnya.
"T-tuan putri Ruby !" semua yang ada di sekitar sana seketika jatuh menyembah, bahkan Feng.
"Cukup. Kalian berdirilah." perintah gadis itu dengan tegas sambil menyibak rambut coklat gelapnya yang ia ikat kuncir kuda. "Dan kalian, hentikan pertengkaran ini. Ayo, Leony." Gadis itu mengangguk memberi salam pada semua yang menyaksikan dan menarik tangan Leony pergi.
"Ayo Feng, cepat." panggil Leony.
"T-tunggu sebentar ! Hei, Ori !" panggil anak Dayak tadi ke Feng.
"Ya ! A-Aku takkan lama, kak Leony."
"Cepatlah."
Interior rumah Leony cukup gelap dan sejuk untuk siang sepanas itu. Angin sepoi-sepoi senantiasa bertiup dari pintu depan ke pintu belakang.
"Kak Leony, dia siapa ?" tanya Ruby setelah Leony selesai membalut luka-luka Feng.
"Tanya sendiri... aku mau mandi dulu, panaas !" seru Leony sambil merangkak ke arah pintu belakang.
Ruby mengambil posisi duduk bersimpuh agar terlihat seperti selayaknya seorang anggota keluarga kerajaan pada Feng. "Siapa namamu ?"
"...Feng." jawabnya dengan kepala tertunduk.
"Dari mana asalmu ?"
"Lahir di sini, ayah ibu kaum Orient."
"Apa urusanmu dengan kak Leony ?"
"...cerita hamba panjang, hamba tak mau membuat tuan putri bosan."
"Aku." Ruby berdiri, Feng merasa makin tertekan. "Yang akan menentukan apa yang membuatku tertarik ataupun bosan. Apa ceritamu ?"
"...hamba tak bisa berkata-kata dengan lancar di hadapan seorang putri."
"Kau kaum Orient kan ? Kaum pedagang ? Aku yakin pendidikanmu lebih baik daripada anak-anak suku Dayak primitif itu. Ceritakan kisahmu." Ruby duduk kembali.
Seketika segala rasa hormat yang Feng punya pada Ruby lenyap, tergantikan oleh rasa geram yang dingin. Tidak, pasti ada alasannya ia dihormati semua orang, bahkan anak-anak tadi ikut menyembah, aku tak boleh menghakiminya terlalu cepat, kata Feng pada dirinya sendiri. "Tolong jangan mengolok mereka, bahkan suku primitif punya kelebihan sendiri." usulnya dengan nada suara rendah.
Ruby tertawa. "Kau mungkin benar, begitu juga dengan gagasan bahwa setiap orang punya peran masing-masing dalam hidupnya. Itulah peran mereka, bekerja demi kemakmuran kerajaan Mojawa, seperti air menopang kapal; air itu bisa membawanya, bisa juga menenggelamkannya."
Diam-diam Feng setuju, meski ia masih menyimpan rasa geram pada Ruby yang seperti merendahkan kelompok masyarakat tertentu; tak peduli yang dibicarakan adalah kaum Dayak yang seharusnya Feng benci. Ia memutuskan menguji tuan putri ini. "Daripada untuk kemakmuran kerajaan Mojawa, tidakkah lebih cocok dikatakan mereka tunduk pada tuan raja agar dapat tetap tinggal di tanah mereka dan hidup sesuai tradisi yang telah berumur beribu tahun ? Apa yang tuan putri pikir tentang itu ?"
Untuk pertama kalinya, Ruby terlihat serius. Ia menatap mata Feng dengan tegas, dan menjawab dengan pelan dan jelas, kata demi kata. "Keegoisan seperti itu harus dihapuskan pada zaman ini. Peradaban kita sedang diserang oleh pelaut-pelaut dari barat, Griffen terutama. Ini bukan waktunya kita berperang satu sama lain dan memberi Griffen kesempatan memecah belah. Ini saatnya bersatu, tak ada ruang untuk perbedaan, semua harus bersatu di bawah kerajaan Mojawa jika masih mau mempertahankan cara hidup masing-masing."
"Tetapi pemikiran seperti itulah yang biasanya menyebabkan pemberontakan." Feng tersenyum dan menunggu. Ketika jelas Ruby tak merespon, Feng lanjut bicara. "Dulu di utara Imperium Griffen ada sebuah kekaisaran bernama Kekaisaran Slav. Karena ideologi 'tanpa perbedaan, tanpa identitas individual' itulah terjadi konflik internal. Griffen tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Hari ini, Slav tinggal sebuah nama di gulungan-gulungan sejarah."
Ruby menangkap pesan Feng. Ia berhenti menekan dan mulai bicara dengan lebih hormat. "Jadi, gagasanmu ?"
"...hamba pernah membaca kata-kata seorang petinggi agama Griffen yang mendukung penghapusan diskriminasi ras. Katanya, 'Griffen bukan sebuah pot peleburan yang besar, tapi sebuah mosaik yang bersinar dalam berbagai warna.' Meskipun dia orang Griffen, kurasa kata-katanya berlaku untuk semua peradaban dan pemimpin di bawah langit, tuan putri." Feng tersenyum, puas telah mengeluarkan geram di hatinya. Sebaliknya, ia mulai bersimpati dengan Ruby, menghormatinya sebagai calon ratu, tapi juga menerima bahwa masih banyak yang perlu Ruby pelajari, dan juga dapat Ruby ajari, pada dan dari Feng.
Tiba-tiba Ruby teringat pada sesuatu. "Sebentar. Sebelum meninggalkan pasar, anak-anak itu memanggilmu kan ? Apa yang kalian bicarakan ?"
"Kami berjanji bertemu lagi besok malam untuk main sepak sawut lagi. Suasana lapangan yang gelap dan hanya diterangi bola sawut sangat menyenangkan, katanya. Kenapa, tuan putri ?" jawab Feng polos.
Ruby mengangguk-angguk dan tersenyum. "Lucu, suku Dayak dan kaum Orient sedang di ambang perang, tapi kau masih bisa bermain dengan mereka."
"Mungkin... karena sejak awal tak ada alasan bagus untuk membenci satu sama lain. Kebencian, diskriminasi, dan kejahatan tak lebih dari keegoisan orang dewasa ?" guraunya.
"Dan kita diajari untuk tumbuh seperti mereka ? Aku tak suka itu, tapi siapa lagi yang dapat mengajari kita apa yang baik dan apa yang salah ? Aku tak berani mengikuti suara hatiku sendiri. Darimana kita tahu itu takkan berujung pada hal yang salah, dengan segala ketidakdewasaan kita ?"
"Yah, kenapa tidak ?" Feng tertawa. "Kita sedang membicarakan manusia. Tinggalkan semua logika."
Belum Feng ketahui, ucapannya barusan akan menjadi pedoman hidupnya dan membawanya mengguncang dunia.
"Kau lucu." komentar Ruby dengan senyum lebar. Ia benar-benar terlihat seperti anak kecil sekarang.
"Ayahku yang mengajariku, ia suka membaca di atas kapal. Aku belum mendapat nama lengkapmu, tuan putri..."
"Ruby Majalengka."
"Nama yang... unik." Ruby menyadari jeda pada kata-kata Feng dan mengangkat satu alis. "Boleh aku tanya mengapa seorang tuan putri Mojawa mempunyai nama yang terkesan sangat... Griffen ?" Feng sedikit ragu bagaimana cara menyampaikan pertanyaannya tanpa menyinggung, tapi karena ia tak dapat memikirkan cara lain, ia memutuskan supel.
Ruby memutuskan membiarkan ketidaksopanan Feng karena alasannya juga memang konyol. "Barang pertama yang ibuku lihat setelah aku keluar dari rahimnya adalah kalung batu rubi pemberian duta besar Griffen, makanya aku dinamai demikian."
Feng terdiam sejenak, mencerna cerita tersebut, lalu tertawa lepas. Awalnya Ruby mengerutkan dahi kesal, tetapi tak terasa dirinya tergelitik tawa teman barunya itu sampai ia sendiri tak kuat menahan tawanya sendiri.
"Hei, aku akan menunjukkanmu sesuatu. Kau bisa membaca huruf latin ?" Ruby mengeluarkan sebuah amplop putih dari dalam jubah ungunya. Ia membukanya dengan rapi dan lembut – tanpa merobek amplopnya seperti yang biasa kau lakukan – dan menunjukkan secarik surat yang ditulis dalam bahasa Griffen.
"Maaf, aku tak bisa membaca..." Feng tersenyum malu-malu.
Ruby menghela napas kecewa, tapi menerjemahkan juga. "Temanku Ruby, terima kasih untuk sepeti rempah-rempah yang menyertai surat terakhirmu, kami benar-benar terbantu karena di sini rempah-rempah tak murah, apalagi dengan mendekatnya musim dingin. Seperti tahun-tahun sebelumnya, menjelang natal kami sibuk dengan persiapan natal ! Pohon cemara yang digantungi bola warna-warni yang mengkilap, dan-"
"Natal ?" potong Feng.
"Ulang tahun dewa mereka."
"Oh."
"-dan dekorasi-dekorasi merah dan hijau di seluruh rumah sangat indah, kuharap kau bisa melihatnya. Tapi yang terpenting dari musim dingin ada salju ! Ah, kurasa kau tinggal di iklim tropis, dan aku belum pernah menceritakan tentang salju. Dalam bahasa Griffen,kami menyebutnya 'snow'. Ada yang bilang wangi salju pertama itu seperti bau manis semangka yang samar-samar, tapi sayangnya sehari-hari aku jarang keluar. Salju itu seperti hujan, tapi turun dalam bentuk bulir-bulir es yang putih dan langsung meleleh ketika menyentuh kulitmu. Meski kecil, tapi setelah satu malam hujan salju, pemandangan kota berubah drastis, blok-blok bangunan abu-abu dan coklat seperti dicat putih dalam sekejap. Jika dipegang, rasanya lembut dan sejuk, seperti tepung, kecuali yang ini tak pahit jika dijilat ! Kudengar di tempatmu banyak gunung berapi. Apa kau tak takut tinggal begitu dekat dengan bom raksasa seperti itu ? Ceritakan padaku kapan-kapan ya ! Tertanda, Clar-"
"Wow, aku baru tahu ada hujan yang bukan air." komentar Feng.
"Aku tahu, hebat kan ?! Ini juga mau kutunjukkan pada kak Leony ketika dia kembali. Dia pasti kaget ! Hei, ayahmu pedagang kan ?Apa kau pernah ke Griffen ?"
"Tentu saja tidak, yang biasa naik kapal hanyalah orang dewasa, aku tak boleh ikut, padahal aku juga ingin melihat sendiri seperti apa Griffen !"
"Ah, baguslah. Aku jadi punya teman." Ruby tertawa, Feng menggerutu. "Di sini cuma ada hujan... aah, aku ingin melihat salju ! Sangat ingin, sampai-sampai belakangan aku melambangkan Griffen dengan salju !" seru Ruby dengan bersemangat, bahkan sampai berdiri. Feng tak menjawab, hanya tersenyum dan menatapi Ruby. "...aku baru saja mengatakan sesuatu yang memalukan ya ?" Feng mengangguk. Seketika telinga dan leher Ruby memerah jingga dan ia menundukkan kepala, malu setengah mati.
Leony pun, yang sedari tadi menguping dari bawah rumah, berusaha menahan tawa.
Kesunyian malam kembali menyelimuti kota Bekantan. Anjing-anjing liar menguasai jalan raya sekarang; pesta minum para pemabuk Rue de Colon sudah bubar berjam-jam lalu. Malam itu tak berawan, sehingga suasana cukup remang dan damai, bahkan patroli tiga tentara Mojawa yang baru lewat hari ini cukup murah hati untuk membalas sapaan Feng.
"Belum tidur, Feng ?" tanya Ruby, menunjuk tiga tikar yang Leony gelar untuk mereka semua tidur. Leony sendiri tertidur pulas, lelah setelah seharian di bawah matahari. "Tampaknya kau sedang memikirkan sesuatu."
"Tidak apa, tuan putri. Bukan sesuatu yang pantas mendapat perhatian anda."
"Hmm... ngomong-ngomong bagaimana kau bertemu dengan kak Leony dan bagaimana kau sampai tinggal bersama seperti ini ? Aku bertanya padanya berkali-kali, tapi ia tak mau menjawab."
"...singkatnya, kapal yang kutumpangi karam. Kak Leony menemukan dan merawatku, jadi kuputuskan aku akan membantunya mengurus rumah sebagai balas budi." jawab Feng. Sempurna, ia takkan tahu aku berbohong, pikir Feng.
"Tunggu, tadi siang kau bilang yang naik ke kapal biasanya cuma orang dewasa ?"
Pertanyaan Ruby secara tak sengaja mengingatkan Feng pada tingkah laku ibunya yang aneh sebelum naik ke kapal. "...Entah, ibuku yang menyuruhku ikut."
"...ayahmu bagaimana ?"
"Berdagang ke seberang lautan. Pulang setiap tiga bulan sekali. Tapi sekarang sudah bulan ke 6. Aku sih tak khawatir, mungkin saja dia menemukan ladang bisnis bagus di suatu tempat. Yah, selama dia tidak bawa pulang istri baru..."
"...hei, kelihatannya ada yang memanggil kita." Ruby menunjuk ke ujung gang, sesosok wanita sedang melambai-lambai.
"Itu- ibu !" Seketika Feng melompat turun tangga dan berlari menemui ibunya.
Feng tak dapat melihat wajah ibunya karena gelap, tapi ia mengenali konde itu, dan pelukan hangatnya.
"Waktu kita pendek, aku akan menjelaskan dengan singkat, anakku." kata ibu Feng. Suaranya lembut,tapi tegas. "Saudara-saudara ayahmu sedang berkumpul di kuil Ceng Ho sekarang, untuk membicarakan ayahmu."
"Memangnya ayah kenapa, bu ?"
"Karena ayahmu sudah lama tak pulang, ia diperkirakan mati di laut. Paman-pamanmu sedang membicarakan rencana mengambil alih aset-aset ayahmu yang masih ada. Kau sebagai pewaris keluarga harus mewakili keluarga dan mempertahankan hakmu atas harta benda ayahmu."
Berita itu menghantam dada Feng seperti godam. Ruby, yang kantuknya juga seketika lenyap, berlari menjemput Leony sementara Feng hanya bisa melongo kebingungan. Ketika kembali, Leony mencium tangan ibu Feng sebagai salam dan mulai bicara tanpa basa-basi.
"Ruby sudah menerangkan garis besarnya padaku, bu. Rasanya aneh, mereka membicarakan ini setelah lewat tiga bulan dari waktu perkiraan kepulangan suami anda. Kelihatannya baru ada sesuatu yang terjadi di pelabuhan, aku dan Ruby akan menengok ke sana. Kukabari lewat burung nanti."
Ibu Feng mengangguk kecil. "Terima kasih."
Setelah Leony memberi Feng beberapa nasihat menghadapi paman-pamannya – adegan yang ibu Feng saksikan dengan sedikit geli karena perannya diambil – dan Leony diberi beberapa informasi mendetail tentang kapal ayah Feng, mereka semua menjalankan bagian masing-masing.
Leony memacu kudanya secepat mungkin, derap kaki kudanya memenuhi gang-gang pelabuhan yang sepi, dan melompat turun dengan kasar tepat di depan pintu mercusuar Bekantan, menara batu bata dengan api unggun raksasa di puncaknya yang Griffen bangun ketika mereka pertama datang beberapa puluh tahun lalu. Tanpa memperdulikan penjaga yang bangun dari kursinya untuk mencegat, Leony berjalan masuk ke kantor di dasar mercusuar, tempat seluruh aktivitas pelabuhan dicatat dan disimpan. Dengan kedudukannya, tak butuh waktu lama bagi Leony untuk meminta petugas jaga mencarikan apa yang Leony ingin tahu. Setelah beberapa menit mencari di arsip-arsip, petugas tersebut menemukannya.
"Ini tiba pagi ini."
Leony merebut kertas kecil yang petugas itu tunjukkan dan mulai membaca. Tulisannya, 'Tiba dalam satu hari, siapkan dermaga. Kabari secepatnya.' Di ujung kanan bawah ada meterai lilin bermotif burung phoenix; lambang kapal ayah Feng.
"Ia akan mendarat di dermaga B beberapa jam lagi-"
Leony memotong kata-kata petugas itu. "Kau ada burung yang sedang kosong ? Aku harus mengirimkan pesan penting."
Beberapa menit kemudian, setelah melepas burung Enggang yang terbang membawa pesannya pada Feng, Leony buru-buru mencari dokumen lain. Setelah membaca tiga lembar dokumen di tangannya, wajah Leony sepucat kertas.
"Ada apa kak ? Itu apa ?" tanya Ruby.
"Laporan tentang isi gudang milik ayah Feng." Leony menyerahkannya pada Ruby. Setelah membaca, Ruby hampir sepucat Leony. Laporan itu menunjukkan ada seribu lima ratus pucuk senapan Springfelt beserta amunisinya di gudang tersebut, barang yang kerajaan Mojawa pusat beli dari Griffen dengan perantara ayah Feng untuk memperkuat angkatan militernya, tapi belum diantarkan.
Jam di dinding menunjukkan pukul dua belas lewat lima. Tiga minggu dan lima hari lagi menuju perayaan ultah sekolah.
~ End of Part 4 ~
|
||||||