
When the empire of Griffen pitted Dayak tribesmen against Orient merchants in order to monopolize trade in Borneo island, a boy started questioning the way the world works. English version coming soon.
Rated: Fiction K+ - Indonesian - Romance/Mystery - Chapters: 5 - Words: 11,503 - Updated: 03-01-13 - Published: 01-23-13 - id: 3094606
|
|
A+ A- |
Scarlet Snow
Chapter 5 (Rejoice, You Lolicons !)
Kuil Ceng Ho yang dituju Feng dan ibunya tidak terletak di dekat benteng Nassau seperti bangunan Orient lainnya, tetapi terletak jauh di dalam pegunungan Mulles. Nama Mulles diambil dari komandan perang Griffen yang tewas di jeram Bokang, sungai Bangan, masih di dekat pegunungan. Karena suku Dayak mendirikan perkampungan-perkampungan mereka di pegunungan ini, banyak pedagang Orient sudah lama mengusulkan kuil itu ditinggalkan. Tetapi ketua-ketua asosiasi pedagang Orient bersikeras bahwa kuil itu didirikan di atas tanah yang dihadiahkan suku Dayak pada kaum Orient pada awal perdagangan, dan karenanya kaum Orient berhak atas kuil itu.
Mempertimbangkan medan menuju pegunungan Mulles yang tak rata dan berbahaya, sarana mendaki yang populer adalah dengan sampan. Meski aneh, tetapi memang tanjakan aliran sungai Itobari lumayan landai karena tidak mengikuti topografi daratan, tapi memotongnya. Alhasil, kiri-kanan sungai Itobari umumnya tebing tinggi dan perahu hanya bisa berlabuh di beberapa titik.
Lin, ibu Feng duduk tegak di bagian depan sampan dan memandang lurus ke depan seperti anjing betina penjaga. Feng yang masih tidak puas dengan sikap ibunya yang agak dingin saat bertemu kembali di kota Bekantan menjadi segan dan memutuskan memandangi pendayung sampan, seorang Dayak berkulit hitam yang mengenakan sehelai besar kain compang-camping. Bilah bambu panjang di tangan sang pendayung menolak dasar sungai dengan ritme yang teratur. Ditambah dengan suasana yang gelap karena sinar bulan terhalang tebing-tebing, tak seorangpun berniat memecah kesunyian itu. Buaya-buaya yang mendiami sungai pun terlihat tak begitu tertarik untuk memangsa dan hanya lalu-lalang di sekeliling kapal. Sedikit demi sedikit sampan maju melawan arus tenang sungai Itobari yang lebar.
Sementara itu di ruangan utama kuil Ceng Ho, di depan patung kuningan laksamana Ceng Ho, jendral perang Orient yang pertama menemukan pulau Borneo, dua belas pria buncit paruh baya menyalakan dupa masing-masing di altar. Setelah mengucapkan doa masing-masing, diawasi patung Ceng Ho dan harimau lambangnya, dua orang duduk di dua kursi di tengah ruangan yang menghadap satu sama lain, sementara sepuluh sisanya duduk di kedua sisi ruangan, lima orang di setiap sisi. Dua orang tersebut akan berdiskusi dan berdebat, sementara sepuluh sisanya menjadi juri yang tak berhak mengajukan pertanyaan, tapi boleh ikut pemungutan suara.
Wai, adik ayah Feng, yang berjubah merah satin, memulai sidang. "Seperti yang kalian tahu, Zhun yang aneh itu sudah menghilang sejak 6 bulan lalu. Tujuanku memanggil kalian hari ini tidak lain untuk membicarakan lagi tentang hak kepemilikan aset-asetnya. Apalagi terakhir kudengar ia berniat menyeberangi samudera Atlantik mencari benua baru."
Saat itu samudera Atlantik adalah batas barat dari peta dunia. Belum pernah ada yang menyeberanginya, kecuali segelintir pelaut dengan modal besar. Wai berniat menjadikan niat gila Zhun sebagai bukti tak langsung kematiannya.
Lam, yang berjubah satin hijau, menyela. "Tunggu, Zhun punya satu anak kan ? Dengan statusnya sebagai pewaris, harusnya ia diundang sebagai penasihat sidang.."
"Jangan khawatir." Wai tertawa. "Ia tak perlu tahu, Feng masih terlalu muda untuk sidang ini. Karena itu kau sebagai teman baik Zhun mewakili Feng, kan ?"
Pancing sekali lagi, pikir Wai. Tunjukkan bahwa Wai adalah orang yang kotor pada juri.
"Zhun bukan seseorang yang mudah terkesan, karena itu siapapun yang ia pilih jadi istri tak mungkin orang yang bodoh. Lin pasti tahu semuda apapun sang pewaris, Feng tetap berhak ambil bagian dalam sidang ini."
"Jangan pusingkan hal itu. Sudah kupastikan si pewaris takkan tahu. Semua sudah kuatur." Wai terdiam. Lalu tersenyum karena sadar akan perangkap Lam.
Kena, apapun yang kau lakukan, juri sudah melihat sisi burukmu, pikir Lam. Sekarang mereka punya alasan untuk menolak pemindahan kepemilikan padamu, apalagi kalau kau mencoba mengklaim semuanya. Beberapa juri sudah mengerutkan dahi dan menunjukkan kebencian pada Wai.
Sial kau, kata Wai pada dirinya sendiri. Tak apa, asalkan aku bisa meyakinkan juri bahwa Zhun sudah mati, aku bisa merebut hak waris dengan alasan hubungan darah. Argumen itu masih cukup kuat.
"Lagipula sayang jika aset-aset Zhun dibiarkan berlumut di penyimpanan. Ia sudah mati di laut, tak peduli sekeras apapun kau dan Lin menyangkalnya, Lam. Tak mungkin ada yang bisa menyeberangi samudera Atlantik, biarpun ia bisa mencapai Griffen dengan kapal kecilnya."
"Bukankah pemikiran yang benar adalah 'karena ia bisa mencapai Griffen dengan kapal kecilnya, ia juga bisa menyeberangi samudera Atlantik' ? Zhun selalu aneh, lain dari yang lain, tapi kemampuannya bahkan diakui suku Bugis, pelaut-pelaut terbaik di dunia." kata Lam. Beberapa juri berdecak kagum, beberapa tampak tak percaya.
"...itu cuma harapan kosongmu kan ? Kau tak punya bukti ia masih hidup." serang Wai. Memang tak ada yang tahu tentang kabar kedatangan kapal Zhun, kecuali Wai sendiri. Ia telah menyuap kepala administrasi pelabuhan untuk tidak memberikan informasi itu pada siapapun. Dan Wai bertekad untuk menyelesaikan semuanya sebelum kapal Zhun merapat di pelabuhan.
Tak ada gunanya kita bicara seperti pedagang-pedagang terhormat di sini dan memberi kesempatan Lam menyerangku, pikir Wai. Lebih baik aku langsung masuk ke tujuan utamaku, yakni simpanan senapan Springfelt di gudang Zhun.
"Pikirkan, Lam." Wai berdiri dan berjalan ke arah patung Ceng Ho. "Zaman sudah mulai berganti. Semua bertambah modern dan praktis. Kau tahu kekuatan yang bisa diberikan oleh senjata api pada seseorang ? Kapan lagi kita bisa memutus nyawa dengan tarikan pelatuk semata ?" Wai membiarkan setengah menit berlalu, agar kata-katanya tertanam dalam benak hadirin dengan baik. Kemudian, ia berdiri tepat di depan patung harimau, simbol keberanian kaum Orient, agar semua teringat pada kegagahan Ceng Ho yang beratus-ratus tahun lalu menjadi orang pertama yang berani berlayar ke selatan dan menemukan pulau Borneo, bahkan mendapatkan rasa hormat suku Dayak, dulu masih terkenal sebagai pembunuh-pembunuh yang kejam dan sadis karena adat kayau mereka.
Wai kembali bicara. "Pikirkan apa yang bisa kita lakukan dengan seribu lima ratus senapan Springfelt. Suku Dayak tak mau menerima duta kita sejak kegagalan pertemuan di pulau Danan. Apalagi itu kalau bukan tanda-tanda perang ? Kepemilikan benda itu pada kerajaan Mojawa sudah mati bersama pedagang perantaranya, Zhun. Secara praktek senapan-senapan itu milik kita sekarang, dan bila tak mau terusir keluar dari Borneo, hanya ada satu hal yang baik dilakukan..."
Anggota juri yang lebih muda mengangguk setuju, sementara anggota juri yang tua kebanyakan diam tak merespon, karena tak bisa membantah meski tak suka.
Lam mau tak mau mengakui bahwa pandangan Wai benar dan realistis, meski licik. Tapi bagaimanapun hak kepemilikan tak boleh menjadi milik Wai. "Cara berpikir macam itulah yang membuat kita kaum Orient dibenci di mana-mana. Sudah cukup buruk kita terlihat kaya dari memperdagangkan hasil tanah penduduk-penduduk miskin, sekarang kau mau menghabisi harga diri kita dengan tindakanmu, Wai ?"
Anggota yang tadinya setuju dengan Wai mau tak mau berpikir ulang. Harga diri adalah topik sensitif untuk seorang Orient.
Lam memutuskan menimbulkan kerusakan lebih lanjut mumpung ada kesempatan ini. "Atau mungkin kau meragukan kemampuan tempur kita, Wai ? Sehina itukah kau ? Jika kita menggunakan senjata api, apakah kita, dibandingkan dengan para pejuang Dayak yang dengan berani – meski bodoh – melawan kung fu kaum kita ?"
Seluruh anggota juri, yang juga pedagang, paham bahwa jalur dagang dari Orient ke Borneo termasuk yang paling berbahaya di dunia karena banyak perompaknya. Pedagang yang berhasil mengelola jalur perdagangan Orient-Borneo dipastikan anak buahnya menguasai kung fu yang tak remeh, karena bawahan yang lemah dan tak berdaya pasti terbunuh pada dua-tiga pelayaran pertama. Setiap anggota juri kapalnya pernah ditenggelamkan paling tidak dua kali, dan pernah disandera paling tidak sekali. Wai dan Lam tahu, akhir sidang tak jauh lagi, dengan perkembangan secepat ini.
Lam berdiri untuk kata-kata penutup sidang. "Bukankah darah kita semerah darah suku Dayak ?" kata Lam dengan senyum kemenangan. "Pantaskah kita meremehkan diri dan tidak menghadapi mereka sebagai lawan yang seimbang dengan senjata yang seimbang pula, yakni pedang dan tombak, yang terbukti cukup untuk mempertahankan peradaban Orient sejak zaman leluhur kita ?"
Dengan geram Wai mencengkeram sandaran tangannya. Tiba-tiba setitik inspirasi muncul dan ia tersenyum sinis. "Sesungguhnya pandangan congkak demikian mudah dibantah. Tengoklah seekor babi atau seekor anjing. Bukankah darah mereka juga merah dan kotoran mereka juga bau ? Namun hal itu belum membuktikan apa-apa, bukan ?"
Kelihatannya sidang masih jauh dari selesai.
Pada saat yang sama, Feng dan ibunya baru turun dari sampan di dermaga Bokang. Dermaga itu penuh sampan lain yang mengantarkan kedua belas anggota sidang. Para pendayung lain sudah menyalakan api unggun dan mendirikan tenda.
"Turun di sini." kata si pendayung. "Sampan tak bisa lebih jauh lagi, arus jeram Bokang terlalu kencang." Feng teringat sekeping uang yang ibunya berikan sebagai bekal dan membayar si pendayung dengan itu. Anehnya, si pendayung menolak sambil tersenyum. "Tak perlu. Aku tak mau meminta bayaran setelah membawa ibumu." Bingung, Feng menyimpan sekeping itu, mengangguk terima kasih, dan menyusul ibunya yang sudah berjalan duluan.
Dari dermaga Bokang, Feng dan ibunya masih harus berjalan kaki kira-kira dua kilometer, beberapa ratus meter terakhir berupa beberapa ratus anak tangga batu. Pemandangan di kawasan dalam pegunungan Mulles yang belum tersentuh peradaban sangat menakjubkan – pohon raksasa setinggi ratusan meter, dengan pemandangan sungai bintang berkelap kelip berjuang menembus kanopi daun pohon-pohon raksasa, diiringi suara beragai macam binatang eksotis yang dengan angkuh mendiami lubang-lubang di tanah atau di pohon. Tak banyak tanaman yang tumbuh selain pohon-pohon raksasa tersebut karena sinar matahari terhalang kanopi daun, mengijinkan medan berlumpur yang lumayan ramah untuk pejalan kaki.
Sepanjang perjalanan, Lin tak bicara sepatah katapun. Mendaki bukit terjal, melompati batang pohon, dan menghadapi tanjakan maupun turunan berlumpur yang licin mereka lakukan dengan diam. Baru setelah mereka tiba di kaki anak tangga batu, Feng memberanikan diri bertanya.
"Ibu, kenapa pendayung tadi menolak bayaran ?"
Lin tetap diam dan mendaki tangga satu-persatu. Ia hanya menengok ke belakang sebentar menatap Feng, tersenyum singkat, dan kembali mendaki. Feng yang masih bingung pada pendayung yang menolak bayaran tambah pusing dengan respon ibunya. Saat itulah burung Enggang kiriman Leony tiba. Burung itu hinggap di punggung Feng, agak berat sehingga Feng terpaksa membungkuk. Dari paruhnya burung itu menjatuhkan gulungan kertas kecil.
"L-lihat ! Ibu ! Kata kak Leony, ayah mengirim pesan ke pelabuhan Bekantan bahwa kapalnya akan tiba besok !"
Lin berhenti dan menengok Feng, wajahnya datar tak menunjukkan emosi apapun, tapi nada bicaranya lembut dan manis. Nada yang biasa ibu kalian ucapkan dengan kata-kata 'Nak, bisa bicara sebentar ?' Ya, saking manisnya terasa menyeramkan. "Dengarkan aku. Itu bukan ayahmu."
"Kenapa ibu bisa bicara begitu ?" tanya Feng, burung Enggang masih di punggungnya.
Lin menghela napas panjang. "Ayahmu tersapu ombak dari kapal dan mati tenggelam ketika cuaca badai di samudera Atlantik bersama banyak anak buahnya. Surat itu ditulis wakil kapten kapal, yang setelah kematian ayahmu segera memutuskan untuk berbalik arah dan pulang ke Borneo."
"...bagaimana ibu tahu ?" Ekspresi Feng yang sinis dan tak mudah percaya adalah salah satu sifat yang Zhun wariskan pada anaknya, sifat yang Lin juga suka.
Dengan lembut, Lin menarik Feng ke pelukannya, dan membenamkan wajah Feng dalam dadanya sementara burung tersebut dengan kesal pindah ke tanah. Meski malu karena merasa sudah terlalu tua untuk ini, Feng tetap menurut dan membiarkan diri dipeluk. Feng menarik satu hirupan dalam, mencium aroma ibunya, dan tak terasa setitik air mata menetes setelah ia teringat betapa lamanya sejak Lin terakhir memeluknya seerat ini. Aromanya masih sama dengan ketika aku masih bayi, pikir Feng. Meski remeh, hal-hal kecil inilah yang mengingatkan Feng bahwa di samping tampak luar ibunya yang dingin, sebenarnya ia sangat disayangi.
"Dengar baik-baik yang akan kuucapkan ini, nak. Bericaralah dengan lantang dan percaya diri di sidang. Kelemahan tak diijinkan di sana. Jangan ingat-ingat ibu dan ayah, itu akan membuat hatimu lemah dan mudah goyah. Sebagai penerus keluarga, kau tak boleh menjadi anak biasa. Kau harus lebih keras dari yang terkuat, lebih pintar dari yang terlicik, dan lebih percaya diri dari yang paling berani. Ibu sudah tahu kau akan menjadi seorang yang hebat sejak hari kelahiranmu, bahkan melebihi seorang macam Ceng Ho sekalipun."
"Memangnya apa yang terjadi pada hari kelahiranku ?"
"Kau lahir ketika ibu berdarah-darah karena tertabrak kereta kuda, dan badai besar menunda kedatangan bidan serta dokter selama tiga jam."
"...mana pertanda baiknya ?"
"Melawan segala kemungkinan, kau lahir. Bukankah itu sesuatu ?" untuk pertama kalinya, Lin tersenyum lebar.
"...memang." Feng juga tersenyum.
"Tadi kau bertanya, bagaimana ibu tahu ayah telah mati ? Itu karena ibu telah bertemu dengan ayah."
Seketika Feng dapat memahami mengapa pendayung tadi menolak bayaran, dan mengapa ibunya seperti menjaga jarak sejak pertemuan kembali mereka di Bekantan. Ibunya telah mati dan yang ada di depannya sekarang adalah arwahnya. Tentang pendayung tadi, suku Dayak memang mempunyai kepekaan yang lebih tinggi untuk hal mistis. Tentang sikap ibunya, itu mengacu pada kata-kata favorit ibunya ketika mencemooh orang-orang yang memboroskan uang pada upacara-upacara penguburan dan ziarah makam yang mewah. Begitu seringnya diulang, Feng sudah hafal di luar kepala. 'Biarkan yang mati beristirahat dengan tenang, dan biarkan yang hidup melanjutkan dengan wajar.'
Perlahan, Lin membuka pelukannya dan mendorong Feng naik. Keduanya tak bicara lagi untuk sisa perjalanan. Tak ada air mata. Tak ada kata-kata perpisahan. Kelemahan tak diajarkan dalam klan Zhun. Dan Zhun Fengjing sudah harus paham ketika mereka sampai di puncak tangga.
Setengah jam kemudian, kedua pedagang gendut masih berdebat dengan panas. Sekali lagi, kubu Wai yang ingin menggunakan simpanan senapan tersebut untuk perang dengan suku Dayak unggul, sementara kubu Lam yang berniat mengantarkan senapan tersebut ke kerajaan Mojawa sesuai perjanjian dagang kalah bicara. Para juri pun terpecah antara yang memihak Lam dengan alasan menjaga kehormatan dan tradisi, dan yang memihak Wai dengan alasan kelangsungan hidup. Bukankah kita menjaga tradisi agar dapat hidup dengan tentram ? Jika tujuan akhir adalah untuk hidup, pantaslah kita melanggar tradisi dan estetika diri sekali ini saja kan ?
Tiba-tiba pintu ruang utama menjeblak terbuka. Angin malam seketika menyerbu masuk dan mematikan semua lilin, tapi ruangan tidak langsung menjadi gelap. Feng masuk, dengan sesosok wanita yang dirinya berpendar biru lemah. Perlahan mulai kaki lalu kepala, wanita itu terurai menjadi ratusan kunang-kunang, dan memenuhi ruang utama dengan pendar biru lemah.
Tanpa memperdulikan orang-orang lain, Feng berjalan langsung ke arah Wai dan mendorongnya jatuh dari kursi.
"Kau membunuh ibu agar tidak memberitahuku tentang sidang ini kan, paman ?!" teriak Feng. Wai hanya bisa tergagap, kunang-kunang tersebut lebih dari cukup bukti.
Seekor kunang-kunang hinggap di telinga Feng. Di dalam kepala, ia mendengar suara ibunya. "Kau telah melakukan tugas pertamamu sebagai pewaris klan dengan baik. Mulai sekarang sungai Itobari akan menjaga dan membesarkanmu."
Feng memandangi pamannya untuk terakhir kalinya, menyepak wajah gendutnya sebagai tanda perpisahan dan berbalik keluar kuil. Di depan gerbang kayu kuil yang berwarna merah dan bertembok putih, seorang gadis kecil, sedikit lebih tua dari Feng, sudah menunggu.
Gadis itu mengenakan kaus putih bermotif bunga, kain sarung ungu bermotif bunga, dan membungkus kepala dengan kain merah polos. Di tangannya ada tongkat kayu yang di ujungnya tergantung lilin menyala. Di tengah kegelapan seperti ini, lilin itu terasa sangat terang.
"Lin berpesan padaku untuk mengasuhmu mulai sekarang." kata gadis itu.
"...kau siapa ?" tanya Feng.
"Roh sungai."
"Sungai yang mana ?"
"...yang itu." jawab gadis itu dengan ketus.
"...oh."
"...Leony menunggu kabar darimu, ngomong-ngomong. Beritahu dia kita kembali ke kota Bekantan besok pagi." Seekor burung Enggang hinggap di tangan gadis itu. Feng mengangguk dan masuk kembali ke dalam kuil untuk mencari kertas, kuas, dan tinta.
Setelah melepas burung pembawa pesan tersebut dari pintu kuil, gadis itu menuntun Feng menembus hutan, tongkat yang tergantung lilin ia gunakan sebagai tongkat berjalan. Jalur yang mereka jalani sama sekali tak tampak pernah dilewati manusia, tanah tertutup rumput dan semak seluruhnya. Dari kejauhan terdengar gemericik air.
"Aku menonton sebagian sidang tadi, dan ada satu hal yang membuatku tertarik. Boleh kau jawab ini untukku ?"
"Tentu." angguk Feng.
"Mengapa adik ayahmu justru malah ingin mengambil untung dari kematian ayahmu, sementara si gendut yang satunya lagi yang cuma teman ayahmu malah melakukan yang seharusnya pamanmu lakukan ?"
"...Siapa yang membiayai pembelian senapan itu dari Griffen ?" pancing Feng.
"Ayahmu."
"Jika Lam mengantarkan senapan sesuai kontrak dagang, pada siapa kerajaan Mojawa akan membayar ?" pancing Feng.
"Lam."
"Anda mengerti sekarang ?"
Gadis itu mengangguk. "Oh, pantas saja. Dari mana kau bisa terpikir itu ?"
"...diberitahu ibu."
"Hm." gumam gadis itu sambil tersenyum. "Kau harus belajar berpikir sendiri, nak. Leony, ibumu, ataupun aku takkan bisa di sisimu sepanjang waktu."
Feng mengangguk. "...dari mana anda kenal ibuku ?"
"Bukan ibumu. Ayahmu. Ia teman baikku dulu." gadis itu tertawa.
"Bagaimana ayahku bisa berteman akrab dengan roh sungai ?"
"Ceritanya lumayan panjang."
"Aku banyak waktu."
"...beberapa tahun lalu, karena perdagangan laut kota Bekantan berkembang pesat, diputuskan akan ada pembangunan besar-besaran. Itu berarti pohon juga akan ditebang besar-besaran. Aku sudah meminta pada roh gunung berapi di pulau Danan untuk menyapu habis Bekantan jika penduduk kota tetap mengabaikan letusan-letusan peringatan dan bersikeras menebang hutan, tapi ayahmu mendatangi hutan dan bernegosiasi. Khas seorang pedagang." gadis itu tertawa lagi. "Gunung berapi takkan meletus, dan penduduk kota diperbolehkan menebang pohon-pohon yang besarnya melebihi pelukan mereka."
"...apa yang kalian roh-roh hutan dapat ?"
"...persahabatan." gadis itu tersenyum. "Sejak itu ayahmu dan beberapa penduduk sering membawakan makanan untuk hewan-hewan hutan, bahkan pupuk untuk pohon-pohon. Kita sudah tiba."
Mereka berdiri di pinggir sungai, beberapa meter dari permukaan air. Gadis itu menjulurkan tongkatnya untuk menerangi sesuatu di permukaan air. Sebuah sampan. Sampan itu sangat tua, hampir seluruh permukaan kayunya sudah ditumbuhi lumut. Meski arus sungai cukup deras, tetapi sampan itu hanya bisa bergoyang-goyang karena terjepit antara tebing dan akar pohon. Feng dan gadis itu memanjat turun dengan bantuan akar pohon yang mencuat dari tebing. Gadis itu membisikkan sesuatu pada akar yang menjepit sampan dan akar itu seketika tertarik ke dalam tanah, seakan-akan hidup. Sampan mulai bergerak mengikuti arus. Gadis itu duduk dan menaruh kepala Feng di pangkuannya. Awalnya Feng enggan dan menolak, tapi gadis itu memaksa.
"Mulai sekarang aku yang mengasuhmu, tak apa. Tolong pilihkan sebuah nama untukku."
Saat itu Feng teringat pada Ruby yang melambangkan Griffen dengan salju. Bagi Feng, Griffen dan gadis ini punya kesamaan, yakni terasa asing dan misterius.
"...'Xue'. Akan kupanggil anda dengan itu."
Gadis itu tersenyum dan membelai Feng. "Nama yang indah. Apa artinya ?"
Belum sempat menjawab, Feng sudah tertidur pulas di pangkuan Xue, diiringi gemericik air dan wangi tanah yang damai. Beberapa jam lagi matahari akan terbit di ufuk timur. Tiga minggu dan empat hari lagi menuju perayaan ultah sekolah.
~ Chapter 5 Finally Ends ~
|
||||||