Fiction » Mystery »

Putri Tidur
Author:
Franbergh PM
Di suatu tempat ada sebuah rumah. Terkadang rumah itu menghilang tertutup kabut, tidak bisa ditemukan dalam kegelapan malam, atau tampak begitu jauh hingga tidak bisa dicapai sejauh apapun kalau berjalan ke arahnya.
Rated: Fiction K+ - Indonesian - Mystery/Tragedy - Words: 1,071 - Reviews: 1 - Published: 01-23-13 - Status: Complete - id: 3094717
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

Putri Tidur

Seorang pria menyeret kakinya di dalam kegelapan dan dinginnya malam. Ia harus segera menemukan sebuah tempat untuk bersembunyi dan beristirahat sebelum musuhnya mengetahui ia kabur atau serigala dari dalam hutan mencium bau darahnya.

Ia melarikan diri dari 'pembersihan' di desanya. Tiba-tiba puluhan prajurit menyerbu desa dan mengumpulkan seluruh penduduk desa. Mereka memisahkan wanita dan anak-anak sendiri, dan mengurung para laki-laki di dalam sebuah gedung terpisah. Dengungan khawatir para laki-laki langsung tergantikan oleh teriakan kesakitan saat para prajurit mulai melepaskan rentetan tembakan ke kaki mereka.

Pria itu hidup sendirian setelah satu-satunya keluarga yang dimilikinya, neneknya meninggal. Ia seharusnya menikah, tetapi dengan setengah bagian tubuh yang terbakar setelah lolos dari kebakaran besar saat ia masih kecil membuatnya tidak diinginkan oleh gadis-gadis di desa. Dan ia pun pasrah.

Sejak kecil, ia mengingat neneknya sangat suka bercerita, dan satu kisah yang tiba-tiba diingatnya adalah kisah tentang seseorang.

Di suatu tempat ada sebuah rumah. Rumah itu terpisah jauh dari desa-desa di sekitarnya. Sebuah rumah megah dengan pagar dan tembok tinggi mengelilinginya. Terkadang rumah itu bagaikan menghilang tertutup kabut, terkadang menghilang tidak bisa ditemukan dalam kegelapan malam, terkadang tampak begitu jauh hingga tidak bisa dicapai sejauh apapun kalau berjalan ke arahnya.

Penghuninya tidak pernah diketahui jumlahnya, pemiliknya pun tidak pernah diketahui namanya, hanya saja seorang wanita berambut pirang keemasan diantar seorang sais pucat bermantel hitam terkadang muncul di desa-desa di sekitar rumah tersebut. Tidak banyak yang pernah melihatnya tetapi tersiar kabar bahwa wanita tersebut masih muda dan sangat cantik. Dan bertahun-tahun kemudian muncul lagi kabar bahwa wanita yang sama terkadang masih muncul di desa-desa dengan wajah yang sama. Tidak sedikit pun tampak menua.

Pertama kali mendengar kisah itu, ia tidak bisa tidur. Entah mengapa sosok wanita cantik itu justru membuatnya takut. Saat remaja, neneknya menceritakan kisah itu lagi. Kali ini ia penasaran ingin melihat sendiri si cantik tokoh desas-desus tersebut. Tetapi setelah beranjak dewasa ia tahu, kisah itu hanyalah cerita bohong yang turun-temurun diceritakan oleh orang-orang tua dari jaman dulu. Neneknya juga hanya korban dari nenek-neneknya saat masih kecil.

Dengan langkah gontai dan kaki terseret, ia terus berjalan sambil memasang telinga. Tiba-tiba ia menyadari kalau kesunyian sudah menyergapnya. Ia hanya mendengar suara langkah kakinya yang terseret dan nafasnya yang terengah. Tidak ada suara serangga malam, binatang malam yang menghuni hutan pun meninggalkannya sendirian, mereka sepertinya memilih untuk tidur malam ini.

Ia menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon dan duduk beristirahat sambil meraba kakinya yang basah dan lengket dengan darahnya dan embun yang sudah mulai membasahi dedaunan di lantai hutan. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Setelah keluar dari desa, setelah lolos dari pembantaian di desanya lalu apa? Apa dia malah memilih kematian yang melelahkan?

Pria itu menghela nafas dan memandang sekelilingnya yang pekat dan sunyi. Kemudian diantara celah pepohonan, ia melihatnya. Sebuah rumah besar di tanah terbuka. Cahaya keperakan bulan terpantul di atap dan pagarnya yang tinggi. Mungkin ia sedang berhalusinasi atau hanya bermimpi. Apakah ia sudah berjalan begitu jauh hingga tidak mengenali sekelilingnya lagi? Ia tidak pernah tahu ada rumah sebesar ini di dekat desanya atau diantara desanya dan desa tetangganya.

Ia berdiri dan mulai berjalan mendekati rumah itu, setidaknya ia harus mencoba keberuntungannya.

Rumah itu begitu sunyi. Pagarnya berat dan berderit saat ia membukanya. Ilalang tumbuh di halamannya. Tanaman merambat naik ke dinding pagar dan menutupi jendela-jendelanya yang rendah. Patung di kolam pancuran di depan rumah tidak lagi berkepala, kepalanya terendam di dalam kolam yang sudah ditumbuhi tanaman air hingga tinggi. Rumah itu jelas sudah sangat lama ditinggalkan.

Pria itu dengan ragu masuk ke dalam rumah dan mulutnya ternganga. Dalam kegelapan pun dia bisa melihat, dibandingkan kondisi luarnya yang tidak terurus, bagian dalam rumah itu tampak berpenghuni. Langkahnya terdengar nyaring, menggema di dalam ruangan yang kosong. Ia mendengarkan, tetapi tidak ada suara apapun selain miliknya sendiri.

Pria itu mencari sesuatu yang bisa digunakannya untuk memeriksa lukanya. Ia berjalan semakin ke dalam rumah dan menemukan sebuah ruangan dengan atap kaca. Ruangan itu disinari cahaya bulan, sangat terang dibandingkan sekelilingnya yang gelap. Ia pun berjalan ke tengah ruangan dan berdiri di bawah cahaya bulan, di atas gambar bulan berwajah di lantai marmernya.

Kemudian di tengah kesunyian saat ia sedang memeriksa lukanya, suara berdentang jam terdengar menggema di seluruh rumah dan lantai yang dipijaknya bergerak miring membuatnya jatuh tengkurap. Lantai itu terus bergeser dan ia semakin ketakutan mengira rumah itu akan runtuh. Ia mencoba bertahan berharap getaran di bawahnya akan berhenti, tetapi lantai di bawahnya terus bergerak dan akhirnya ia pun terjatuh dalam kegelapan.

Ia merasakan lukanya kembali mengalirkan darah dan pandangannya mulai berkunang-kunang. Kegelapan di sekitarnya mulai terlihat lebih jelas. Dan ia memegang kakinya yang mulai terasa kebas. Tangannya yang gemetar berusaha menghentikan darahnya yang mengalir, matanya dengan putus asa menatap sekitarnya.

Ia melihat sebuah podium pendek beberapa meter di depannya dan mendekatinya. Ada kain membentang di atasnya, setidaknya ia bisa lebih hangat. Tubuhnya kesakitan, dan dengan terhuyung ia mencoba menarik kain tebal di hadapannya.

Sang pria terhuyung saat menarik kain itu dan mencoba menahan tubuhnya dengan menyandarkan tubuhnya di podium. Tangannya menyangga tubuhnya pada permukaan podium dan ia tersentak. Ia memegang sebentuk wajah. Bukan patung yang keras, tetapi wajah lembut yang dingin. Di bawah cahaya temaram ia bisa melihat sosok itu ternyata tidur di bawah selimut. Ia bisa melihat darahnya yang menempel di tangannya sekarang mewarnai wajah sosok yang terbaring di podium.

Jantungnya berdentum keras ketakutan, sosok itu bergerak. Matanya terbuka dan ia bangun menatapnya dengan sorot mata keperakan sewarna bulan. Bibirnya yang berwarna merah darah tertarik membentuk seringai.

"Terima kasih sudah membangunkanku," suara sosok itu mengalun jernih di tengah kesunyian. Sang pria merasakan seluruh tubuhnya mati rasa dan ketakutan menyergapnya. Sosok itu berdiri, rambut panjang pirang keemasannya yang tergerai menyapu lantai di atas gaun merahnya saat ia berjalan menghampiri sang pria. Tangannya terulur menyentuh setengah wajah sang pria yang terbakar dan pria itu bisa melihat raut wajah cantik sosok di hadapannya.

Wanita dalam cerita neneknya, ia nyata.

=========== ... ===========

Seorang bocah duduk di depan perapian dan menatap seorang wanita tua yang duduk di atas kursi di hadapannya dengan serius. Ia memeluk boneka beruang coklat di dadanya dengan erat menunggu neneknya berbicara. Saat neneknya membuka mulutnya, si bocah menahan nafasnya.

"Lalu, sebuah kereta kuda muncul di sebuah desa kecil dan wanita cantik berambut pirang itu keluar dari dalamnya. Ia wanita yang persis sama dengan wanita yang muncul di desa bertahun-tahun lalu, wajahnya sama persis. Tidak sedikitpun berubah. Ia masih diantar seorang sais bermantel hitam. Kulitnya pucat dan setengah wajahnya mengkerut bekas terbakar.."

=========== Tamat ===========

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .