Fiction » Manga »

Nemesis
Author:
Glace Aquarii PM
Setelah mereka mendapatkan Prince mereka masing-masing, mereka di perhadapkan dengan sebuah masalah yang berasal dari seorang gadis pindahan dari sekolah elit. Hubungan Riri dan Seita di uji, membuat sahabat-sahabat mereka panik dan ingin membantu mereka berdua dari ancaman itu. Apa Riri dan Seita bisa menghadapinya? / Complete!
Rated: Fiction K+ - Indonesian - Romance/Friendship - Chapters: 6 - Words: 7,471 - Reviews: 1 - Updated: 03-17-13 - Published: 02-21-13 - id: 3102810
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

A/N : Chapter 3! Dibuat oleh Miku Hatsune

.

Chapter 3 : Kara, The Liar

.


"Aramaki-senpai.." Mata Riri membesar saat melihat sosok pemuda itu dari dekat. Ternyata dia adalah Takumi Aramaki, pacar Lemonade. Riri berjalan mendekat tepat saat Shana memutuskan untuk pergi. "Sei, sini."

"Bukannya kamu mau membantu Hyoga?" Tanya Seita bingung. Entah kenapa dia merasa sikap Riri agak aneh akhir-akhir ini dan pendiriannya berubah-ubah.

"Ah, tapi ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Aku harus mencari tahu apa yang ia lakukan dengan Aramaki-senpai," kata Riri serius tanpa menatap Seita.

"Aku tidak mau ikut. Kara adalah temanku, mana mungkin dia melakukan sesuatu yang tidak-tidak. Aku tidak mau hubungan pertemananku putus," tolak Seita tegas.

"Baiklah kalau itu maumu." Riri melihat kedua orang itu dengan tatapan menyelidik. Dia tidak menemukan sesuatu yang aneh, tapi percakapan selanjutnya membuatnya tertawa.

"Kamu mau minta aku buat bantuin kamu bersihin rumah? Pembantu kamu itu banyak! Aku harus buru-buru pergi nih," ucap Takumi malas. Dia melihat jam tangan hitam yang melingkar di tangan kirinya.

"Bukan, aku mau minta bantuan Senpai untuk merebut hatinya Seita dari Hikari. Aku sudah menyukainya sejak lama," ucap Kara memelas. Riri menghentikan tawanya dan kembali memasang telinganya untuk mendengar jawaban Takumi.

"Tidak, aku tidak mau membantumu. Hikari itu adik kelasku dan sahabat dari Nade. Kalau aku membantumu, itu sama saja dengan mengkhianati persahabatan yang sudah kubangun dengan Nonename dan Nade. Aku tidak mungkin melakukan itu!" Tolak Takumi serius. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan Glace lakukan padanya kalau gadis itu tahu dia membantu Kara untuk merebut Seita dari sahabatnya.

"Ayolah Senpai, sekali ini aja," pinta Kara yang lagi-lagi memelas. Dia bahkan menarik-narik lengan Takumi, tapi pemuda itu langsung menarik lengannya dan pergi dari sana setelah mengatakan 'tidak'.

Riri tercekat mendengar perkataan Kara itu. Dia langsung berbalik dan merapat pada tempok yang menjadi tempatnya bersembunyi tadi. Matanya mencari Seita, tapi dia tidak menemukannya.

"Seita kemana? Aku 'kan ingin memberitahu hal penting padanya!" Riri mengambil telepon genggamnya dan hendak menghubungi Glace, tapi sesaat kemudian dia mengurungkan niatnya karena teringat akan hari annive-nya. Dia pun mencari nomor lain. "Halo, Nade."

"Kamu kemana sih? Kita cariin kamu tahu!" Teriak Nade kesal dari seberang sana. Riri langsung menjauhkan hp-nya sejauh 30 cm agar gendang telinganya terhindar dari bahaya. Setelah Nade tenang, dia pun mendekatkannya lagi.

"Kalian masih di sekolah? Aku ingin membicarakan sesuatu dengan kalian," kata Riri. Di seberang terdengar suara Nade yang bertanya pada kedua sahabatnya.

"Ya sudah, cepat!"

Riri pun memutus hubungan telepon dan langsung berlari kembali menuju sekolah. Dia langsung memasuki kelasnya dan duduk di dekat teman-temannya.

"Tadi aku lihat Kizawa, Shana, dan Aramaki-senpai di jalan," jelas Riri dengan nafas yang terengah-engah karena berlari. "Setelah Shana pergi, aku mendekati mereka untuk mendengar apa yang mereka bicarakan. Kizawa meminta Aramaki-senpai membantunya, tapi dia tidak mau."

Ketiga orang di hadapannya itu terdiam. Menatap Riri tidak percaya. Gadis itu baru datang, duduk, lalu menceritakan sesuatu yang hebat.

"Dia meminta bantuan Aramaki-senpai untuk merebut Seita dariku," lanjutnya.

Lagi-lagi tidak ada balasan. Hanya tatapan tidak percaya semakin terlihat jelas dan akhirnya Himeka bisa berbicara.

"Coba beritahu si Seita," sarannya setelah diam sekitar 10 menit.

Riri menggeleng. "Dia tidak mungkin percaya padaku. Dia lebih percaya pada orang yang sudah lama tidak ia temui."

"Bagaimana pun juga kamu ini pacarnya. Dia pasti akan mendengarkan kamu," kata Miku mencoba meyakinkan. Setelah menimbang-nimbang, Riri pun mengangguk.

"Baiklah, akan kucoba."

Akhirnya Riri menelepon Seita dan memintanya untuk ke sekolah. Seita datang. Dia tahu apa yang akan Riri bicarakan, tapi bagaimana pun juga dia harus mendengarkan pacarnya, 'kan? Sepuluh menit kemudian pemuda coklat itu sampai karena rumahnya tidak jauh. Dia memasuki ruang kelasnya dan melihat Riri duduk sendirian disana.

"Ada apa, Ri?" Tanya Seita lalu duduk di depan Riri. Mereka pun saling bertatapan saat itu.

"Sei, tadi aku mendengar kalau Kizawa ingin merebutmu dariku," kata Riri. Dia tahu Seita tidak akan percaya padanya, tapi dia harus mencobanya, 'kan?

"Tidak mungkin, kamu pasti salah dengar tadi. Kami ini hanya teman masa kecil. Aku juga tidak menyukainya," kata Seita enteng. Dia menganggap ucapan Riri itu hanya sebuah candaan dan tentu saja hal itu membuat Riri kesal.

"Aku tidak bohong, Sei! Aku benar-benar mendengar dia bilang seperti itu. Kalau kamu tidak percaya padaku kamu bisa tanya pa-"

"Cukup, Ri. Ini keterlaluan! Kenapa sih kamu ingin menghancurkan pertemananku dengan Kara?" Tanya Seita cukup kesal. "Aku dan Kara hanya berteman."

"Sebenarnya kamu lebih percaya sama siapa sih? Aku yang pacar kamu atau Kizawa yang teman lama kamu?" Tanya Riri, matanya memanas.

Seita terdiam. Dia tidak tahu apa yang harus ia katakan pada Riri. Dia tidak mungkin bilang kalau dia tidak percaya pada Riri karena hal itu pasti akan langsung mengakhiri hubungan mereka. Dia memutuskan untuk berdiri dan pergi dari sana. Meninggalkan Riri yang mulai menangis dalam diam.

Seita berjalan pulang, tapi dia terhenti saat melewati taman yang sering menjadi tempat kencannya bersama Riri. Dia duduk di kursi yang selalu ia duduki bersama Riri. Seita menutup matanya, merasakan angin lembut yang membelai rambut coklatnya.

"Seita, kenapa kamu ada disini?" Tanya sebuah suara familiar. Si pemilik suara pun duduk di sebelah Seita.

"Ah, tidak."

Kara menunduk, membuat wajahnya tertutup oleh rambut pink tuanya. Seita yang melihat hal itu menjadi bingung.

"Ada apa, Kara?" Tanyanya lembut.

Kara terisak. "Seita, kenapa Hikari menjauhiku? Aku 'kan ingin berteman dengannya."

Seita terdiam, dia tidak tahu apa yang harus ia katakan sekarang. Dia tahu alasan Riri tidak mau berteman dengan Kara, tapi dia merasa akan membuat Kara semakin sedih kalau ia memberitahunya.

"Aku 'kan murid baru disini dan aku hanya mengenal kamu. Hikari dan yang lainnya bahkan mengacuhkanku di kelas. Apa yang harus aku lakukan?" Kali ini suaranya terdengar seperti sedang menangis.

Hati Seita pun tergerak karena tangisan itu. Dia mengusap kepala Kara pelan untuk menenangkannya.

"Sei..ta..?" Suara itu membuat Seita melihat kebelakang dan menemukan Riri berdiri dengan tatapan terkejut.

"Riri!" Seita langsung menurunkan tangannya dan berdiri. Riri berbalik dan berlari pergi dari sana. Pemandangan ini sangat menyakitkan untuknya, dia tidak ingin pacarnya di rebut, tapi dia tidak bisa melakukan hal lain selain melarikan diri.

"Tidak usah mengejarku! Temani saja teman kamu itu!" Riri berteriak. Seita semakin bingung dengan apa yang harus ia lakukan sekarang. Dia tetap mengejar Riri dan Kara mengikutinya dari belakang.

"Riri, ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku hanya.. Hanya mencoba membuat Kara tenang, tadi dia menangis," jelas Seita dan sesaat kemudian dia bisa menangkap tangan kanan Riri. "Dia merasa sedih karena kamu tidak mau menerimanya sebagai teman."

"Bohong.. Dia bohong!" Teriak Riri pada Seita. Dia sama sekali tidak ingin melihat dan mendengar nama gadis yang ingin merebut Seita darinya.

"Sungguh.. Aku hanya ingin berteman denganmu dan yang lainnya, Hikari," kata Kara dengan wajah serius dan mata yang sedikit merah.

"Sudahlah! Aku tidak percaya padamu! Aku tahu apa yang kamu inginkan, pembohong!" Teriakkan Riri membuat Kara kembali menangis.

"Percayalah padaku, Hikari. Aku tidak mempunyai maksud jahat pada kalian," kata Kara lagi.

"Walaupun kamu memintanya puluhan bahkan ribuan kali, aku tidak akan pernah mempercayai pembohong, penipu seperti kamu!" Teriak Riri. Karena perkataan itu Kara pun pergi dari sana. Riri menjadi sedikit lebih tenang, tapi dia tidak tahu kalau Seita akan sangat marah padanya.

"Kamu kenapa sih? Dia 'kan hanya ingin berteman denganmu! Tapi kamu sama sekali tidak memberinya kesempatan dan malah menghinanya!" Seita tidak percaya pacarnya yang sangat ceria, semangat, dan selalu bersikap ramah pada orang yang baru ia temui bisa menjadi seperti ini, menjadi Riri yang suka menuduh orang tanpa bukti.

"Kamu sayang 'kan sama aku?" Tanya Riri masih dengan suaranya yang gemetar.

"Iya, tapi kamu tidak perlu cemburu. Aku dan dia hanya teman," jawab Seita mencoba menahan amarahnya.

"Kamu memang menganggapnya hanya sebagai teman, tapi dia tidak begitu. Dia menyukaimu dan aku mendengarnya sendiri, Seita. Kenapa sih kamu tidak bisa percaya sama aku? Aku tidak pernah membohongimu dan aku tidak berniat menghancurkan pertemanan kalian."

"Riri, dia hanya menganggap aku sebagai teman kecilnya dan dia ingin berteman denganmu dan juga yang lainnya."

"Sebenarnya siapa yang kamu percaya, Seita? Aku.. atau dia?"

To be continue..

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .