Reviews for Asa Rembulan di Penghujung Pagi
AshaD chapter 1 . 4/26/2014
aku suka banget ceritanya kak, gak nyangka bisa ada cerita menarik dengan setting dunia pencak silat. daaan... mas Jay itu ngingetin aku sama guruku yang galak banget buahahaha XD mana karakteristik fisiknya mirip. tapi bedanya guruku itu lebih jahat dan pilih kasih :') #kokjadicurcol aku tertarik banget sama ceritaya, pingin banget baca penasarannya. udah ku follow ya kak :D
Keavy82 chapter 1 . 4/25/2014
Hi, aku datang untuk mencoba mereview. Akun baru di sini karena akun lama entah aku lupa bagaimana masuknya. Nama pen name dan password hilang di kepalaku hehehe

Ok skip preambule nya hehehe

Pertama membaca karyamu, sedikit seperti membaca milikku. Bukan dalam plot cerita tapi dalam penulisannya.

Dimulai dengan kutipan pengantar kalimat yg puitis berisikan curahan hati dan sedikit menggambarkan alu cerita cukup menarik dibuat, meski yaaa terkadanf justru bisa menjadi spoiler pembaca yg membuat mereka bisa menebak dahulu alur ceritanya.

Lalu scene langsung dibuka dengan aktifitas yang langsung terbuka lebar siapa para tokoh utamanya dan latar belakang ceritanya.

Deskripsi siapa sheila dan jay langsunf terjabarkan. Bagiku tak masalh jika di bab pertama sudah terjabarkan siapa jay dalam 3/4 paragraf penuh, karena untuk mengenalkan sang tokoh kedua pada pembaca.
Hanya untuk pengenalan tokoh si sheila kurang seimbang dgn tokoh jay. Sheila kurang sedikit dalam penggambaran siapa dia. Hanya sebatas di permukaan dgn scene latihan fisik saja. Ya mungkin akan kau gambarkan di bab slanjutnya , tidak masalah hehehe hanya menurutku kurang tersodorkan siapa sheila ini kepada pembaca.

Dan kemunculab tokoh ketiga yg mngkin menjadi orang ketiga dalam cerita, sudah cukup pas menurutku. Karena menurutku bab pertama yang sudah cukup memunculkan pengenalan tokoh lalu diakhiri dengan munculnya awal konflik sudag memberi teaser dan hooked pada pembaca untuk ingin membaca bab selanjutnya. Jadi menurutku sudah pas.

Soo untuk bab satu, sudah cukup pas dengan teaser dunia atlit yg munglin tak banyak oranf tahu, jg pengenalan tokoh dan konflik yg sudah pas juga hehehe

Untuk typo memang ada beberapa yg missed, tpi tak apa akupun suka bgitu.

Sooooo ditunggu lanjutannya yaaaa hehehe
Hime Hoshina chapter 1 . 4/25/2014
Sudah coba review 3 kali, semoga yang ke-4 ini nggak gagal...

Untuk bagian awal, aku suka pembukaannya, puisinya bagus dan cukup menarik perhatian. Hanya saja... ditinjau dari beberapa sisi, puisi itu sepertinya sudah membongkar alur cerita secara garis besar, pembaca jadi kurang greget saat membaca kisah ini karena ada pikiran 'Ah, paling nantinya juga kaya gitu.'

Masalah typo sih, aku nggak akan komentar, namanya juga manusia. Aku sendiri lebih sering bikin typo dibandingkan kakak. Istilah-istilah olahraganya mantab, jadi bikin bernostalgia kembali ke zaman SD SMP saat aku masih aktif ikut tae kwon do.

Untuk bagian awalnya, aku merasa kalau penggambaran Mas Jay rasanya ditibankan di satu tempat, menurut salah seorang seniorku yang sudah sering menerbitkan novel, hal itu justru menjadi titik mati dalam penceritaan karena memuat jenuh pembaca. Ada baiknya deskripsinya diurai menjadi beberapa bagian kecil yang terselip dalam cerita.

Mungkin itu aja yang bisa aku sampaikan, sebenarnya tadi sempat kepikiran beberapa hal lain sih, tapi udah telanjur frustasi karena reviewnya nggak kekirim dari tadi.

Semangat kak, semoga novel aslinya cerita ini bisa diterbitkan :)
Yuu Sasih chapter 1 . 4/24/2014
Halo, Kai-san, saya dateng lagi. hehe.

Pertama, weeei cerita sport! Saya biasanya menghindari cerita sport, terutama manga, karena beberapa alasan, tapi nggak masalah lah. Untuk chapter pertama, hmm... menurut saya masih fell flat... saya masih nggak bisa ngeraba apa pun dari chapter pertama kecuali tentang "cerita cinta di kalangan atlet" yang saya tangkap dari summary. Pembukaannya kurang greget, karena scene latihan yang sepertinya latihan sehari-hari. Kalau misalkan dijelaskan kalau mereka latihan di saat mendekati turnamen apa gitu, atau kalau misalkan latihan hari itu si Jay sedikit lebih stern dari hari biasanya, mungkin pembaca bakal bisa lebih stay tune karena penasaran. Nggak mutlak, sih, apalagi kalau beli novel bukuan biasanya ya beli udah jadi sepaket, tapi konon menurut para pro dunia tulis-menulis itu (dalam buku-buku panduan menulis mereka. mwehehehe) pembuka cerita itu baiknya dimulai dengan "Bang!" alias ledakan, atau sesuatu yang bisa men-trigger rasa penasaran pembaca untuk lanjut. Dan dari pembuka cerita ini, saya agak kurang dapet "Bang!"-nya.

Kedua, pace pemunculan karakter penting kayaknya cepet banget? Paruh chapter satu tiba-tiba bam! possible love-interest (Jay, if I'm not mistaken?) keluar, dan ending chapter bam! calon saingan(?) keluar. Rasanya baru bab pertama, potensi konflik sudah keluar semua. Mungkin dipercepat karena ini cuma side-story, jadi mungkin yang lainnya ikut nyaru sama plot novelnya, tapi menurut saya, kalau bicara multichapter, chapter satu itu enaknya santai-santai dulu, pemanasan dulu, kasih hints sana-sini kira-kira konflik akan berkisar di mana, perdalam setting, perkenalan karakter dan hubungannya dengan tokoh utama, dll. Kalau tiba-tiba di chapter pertama Sheila langsung sebel-cemburu, rasanya kayak disuruh langsung latihan tanpa pemanasan, bikin kram. Walau mungkin misalnya masalah Jay-Slamet ini bukan konflik utama di cerita, ya. :')

Ketiga, masalah penulisan, saya suka banget dengan selipan term-termnya, asik dan lincah gitu kayaknya di antara deretan bahasa Indonesia. Ada beberapa typo, nggak masalah, sih, dan penulisan kalimat langsungnya untuk yang solitary masih agak salah sepertinya.

Untuk kalimat langsung yang ada di paragraf baru dan tanpa kata penjelas semacam "ucap x", "tegur y", atau "jelas Z", penulisannya bukan,

"Seperti ini,"

tapi,

"Seperti ini."

Dan yang terakhir ini masalah selera pribadi saya. Saya cenderung tidak menyukai kalimat langsung dari suatu efek bunyi, seperti "PRIIIT!" atau yang semacamnya. Saya biasanya lebih suka ketika dituliskan saja "Pelatih meniup peluitnya hingga terasa memekakkan telinga", tapi yang itu selera saya pribadi.

Maaf cuma bisa segini. Kalau sempat saya kasih review mendalam. Semangat buat novelnya, Kai-san! :D

Yuu