Reviews for 慾望和激情 desires and passion
tomo chapter 32 . 7h
Aku suka perkembangan karakternya Aling sampai ke titik ini, usianya masih tergolong muda juga sih kalau misalnya berdasarkan jalan cerita ini. Dia berhasil menerbitkan buku dan itu bukan sembarang buku. Justru jadi penulis itu bisa membebaskan dia untuk merefleksikan kehidupannya yang lama dan berdamai dengan masa lalunya, melalui tulisan-tulisannya. Bahkan sekarang dia udah menyampaikan apa yang dia rasakan melalui tulisan, secara lisan didepan umum juga. Ya, pada dasarnya sih dia percaya kalau misalnya semua orang pada dasarnya dikaruniai kesempatan yang sama dan kemampuan yang sama baiknya. Cuma, ya masyarakat kita aja yang kayak mengkotak-kotakkan makanya jadi ada ricuh dan saling benci, plus bisa judgemental kayak gitu.

Ya ampun, itu si anak metal nanyanya. Tapi kurasa ini anak juga masih ABG dan kepengaruh baca cerita gituan yang lagi ngetren. Ya adalah semacam fase-fase gitu, tapi sih untungnya Aling paham kok sama dia. Dan aku bayangin itu lucu banget si Aling lagi di depan ngomong sama Silje si mbak hostnya, tapi nggak sadar ada satu keluarganya nonton itu juga. Nah bener tuh kata Aling, mungkin di satu tempat kita ditolak tapi di tempat lain kita bisa diterima - tergantung bagaimana mereka menyikapi kita dan kita menyikapi mereka sih. Kita punya cara kita masing-masing dalam menghadapi orang dan kita nggak bisa kan bikin semua orang benci kita atau suka kita? Kan kayak Aling bilang, gak boleh maksain maunya kita sendiri ke orang lain dan sebaliknya juga jangan mau dipaksa buat nerima seseorang kalau dalam hati masih sulit nerima.

Kutunggu lanjutannya ya :)
tomo chapter 31 . 16h
Verena di sini jadi istri diplomat, kan? Jadi wajar aja sih dia kayak bener-bener berjuang untuk menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitarnya. Selain itu dia juga udah memilih nikah sama Antonio yang duta besar kan, makanya ya dia harus tinggalkan gaya hidupnya yang dulu bisa seenaknya dan manja. Susah sih memang untuk mengubah sifat dan gaya hidup, tapi ya nggak ada salahnya dan nggak ada kata terlambat untuk berubah. Ya, sekalipun kita berubah karena tuntutan gaya hidup tapinya adalah satu dari diri kita yang susah buat diubah - yaitu bagaimana kita dibesarkan pasti bakalan melekat ke kita. Salah satu contohnya ya Verena ini. Si Verena ini tetap aja kan merasa sebagai perempuan Italia walau katanya suaminya orang Jerman sama dia udah ke berbagai negara.

Aku suka Verena di sini yang jadi teman yang baik buat si Aling. Dia itu kayak bisa berbagi soal masa lalunya ke Aling, dan Aling paham - plus menjadikan itu sebagai pelajaran ke depannya. Aling ini kurasa juga pernah memiliki krisis kepercayaan diri kayak Verena dulu karena lihat orang lain kok bisa gini bisa gitu. Padahal sebenarnya kita lebih besar dibanding yang kita kira selama ini, kayak kata Verena soal Aling yang bisa jadi orang hebat despite masa lalunya dia. Dan benernya kita semua sejatinya adalah juara, kayak apa yang motivator suka bilang - tapi ya, itu orang-orang yang benci plus iri hati pada kita nganggep kita nggak lebih dari pecundang.

Aku lanjut baca ya...
tomo chapter 30 . 1/15
Chapter ini entah mengapa ada sisi menyentuh, romantis sekaligus lucunya. Romantis karena kan aku lihat gimana caranya si Aling sama Sverre itu kayak menumpahkan emosi satu sama lain. Aku suka gimana bahasanya Cece yang bisa menjelaskan adegan seks itu, tanpa orang awam tahu kalau misalnya mereka lagi ngapain. Seandainya aku nggak pernah baca kisah seks, aku juga sekali lagi gak akan sadar kalau ada adegan anuan. Dan apa yang jadi kejadian selanjutnya bikin aku syok aja. Tiba-tiba. Ada anak mereka masuk ke kamar ortunya pas lagi anuan, pasti ya seperti yang aku tahu sebelumnya si Gustav sama Fenja bakalan diusir atau dimarah2in. Apalagi pakai nanya-nanya hal yang nggak-nggak soal apa yang orang tuanya lakuin.

Mungkin bagi beberapa orang ya. Pendidikan seks itu bisa dikatakan suatu hal yang tabu bagi anak-anak seumuran mereka. Tapi nggak ada salahnya kan mereka dikasih tahu lebih awal. Supaya buat jaga-jaga plus biar mereka tahu kalau seks itu harus didasarkan dengan cinta. Seenggaknya Gustav dan Fenja paham lah kalau misalnya mereka itu nanti kalau udah dewasa harus melakukan hal sama dengan orang yang mereka cintai. Aku juga seneng Aling nggak marah sama mereka berdua, mereka juga nanti kalau udah gede takutnya berubah kayak Aling dulu makanya mau si Aling ada niatan memperbaiki itu. Walaupun dia pernah disesatkan sama sumber yang gak terpercaya, setidaknya anaknya gak ngulang kesalahan sama. Kayak kata Verena di chapter sebelumnya - penderitaan kita jangan dibawa ke anak-anak.

Kutunggu lanjutannya ya!
tomo chapter 29 . 1/15
Akhirnya Zhang Wei sama Solveig jadian juga. Aku udah ada feeling sih kalau si kembar ini juga salah satu atau mungkin dua-duanya dapat pasangan juga pas nyampe Norwegia. Kali aja si Zhang Wei udah berubah, udah insaf liat kakak ceweknya yang gitu - makanya Solveig bisa suka sama dia. Who knows, ya? Dan ya ampun, ini kayaknya sekeluarga Chiu pada anak socmed banget ya. Apa-apa harus diaplot di Instagram. Mungkin bagi sebagian orang yang kayak gitu pamer, cuma kan ya ini aku tahu mereka maksudnya buat share momentum aja. Jarang-jarang kan bisa ke museum Vigeland.

Ah! Setelah sekian lama, dan dengan bacaan ini aku baru ngeh soal kenapa kok di negara-negara Barat jarang terjadi perkosaan atau pelecehan seks sementara hal-hal kayak gitu di mana-mana ada. Justru dengan dibebaskannya hal-hal yang berbau seks malahan mengurangi terjadinya hal yang nggak diinginkan. Orang punya media buat membebaskan ekspresinya mengenai seks dan segala macam. Mungkin ada sih beberapa orang yang emang kayak semacam mesum gitu, tapi kan pasti dia tahu cara ngontrolnya gimana. Dan pas aku baca puisinya Aling itu beneran menyentuh perasaan banget - ini kayak berkaitan dengan gimana masa lalunya Aling yang terjerat sama kisah-kisah pembodohan semacam itu. Wajar sih kenapa Cece bilang kalau Aling ini beneran nulis dengan hati. Nggak asal-asalan dan aku bisa liat perasaan karakternya tercurah di situ.

Aku lanjut lagi ya...
tomo chapter 28 . 1/15
Tuh, kan aku bilang juga apa. Aling sama Sverre bakalan jadi orang tua yang baik di masa depan. Terutama si Aling. Si Aling ini kayak kan dia mau cari kerja dan jadi sukses, kasih contoh yang baik buat anaknya. Kayak apa yang mereka bilang - buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Ya, artinya namanya anak walaupun dia berusaha menemukan dirinya sendiri di masa depan pasti juga secara sifat nggak bakalan jauh dari orang tuanya lah. Tapi ya kalau ortunya punya sifat jelek, sebisa mungkin jangan diturunin - karena pada dasarnya anak itu harus lebih baik dari ortunya kan? Bener kata Verena, kalau kita punya masalah jangan sampai anak jadi korban. Kasihan, nah emak2 yang rusuh ini kan udah gak bisa jadi contoh baik, anaknya jadi korban pula.

Dan anyway yang pas ada emak-emak main Mahjong itu ada yang salah tuh. Bukannya Aling yang harusnya bilang mereka musti minta maaf? Masak Fenja sekecil itu bisa ngomong jelas. Dan Fenja harusnya yang dianggap kurang ajar. Wajar juga kalau misalnya Gustav sama Fenja nanya banyak hal ke orang tuanya, kan ya biar mereka tahu dan bisa jadi pintar dengan cara mereka sendiri. Bukan dipaksa orang tua supaya bisa jadi pinter. Kalau mau ngajarin juga enaknya pas usia agak besaran, anak harusnya dikasih waktu main dulu dan mengeksplor dunianya. Walaupun harus kotor dan berantakan kan harus diajarin tanggung jawab juga ke depannya. Tapi ya baik2 ajarinnya, jangan pakai violence supaya anak takut dan nurut. Bisa2 remajanya jadi kacau kan?

Aku lanjut baca ya...
tomo chapter 27 . 1/15
Wah! Selamat, ya Aling sudah lahiran. Anaknya sehat lagi. Dapat jackpot tuh dia. Laki-laki sama perempuan. Kayak apa yang semua orang harapkan sih. Soalnya kan mungkin dia punya harapan kalau nanti si Gustav itu juga bakalan bisa jaga si Fenja, nggak hanya dari bahaya aja tapi supaya dia nggak terjerumus ke pergaulan yang salah. Sebelumnya si Sverre juga gagal kan buat menarik si Sonja dari pergaulan yang sama sekali nggak sehat dan nggak ada gunanya? Nah, dia kurasa nggak mau hal kayak gitu kejadian lagi buat yang kedua kalinya di kehidupan dia.

Ya, tapi kan bayi juga ada rasa nyaman atau nggak nyaman sih ya. Kadang kalau nyanyi bukannya bikin tenang malah tambah nangis. Dan Aling ini beruntung banget ya. Jadi ngiri entah mengapa sama doski. Dia punya Verena yang juga ada anak kembar beda jenis kelamin, rasa-rasanya pengen kuketemuin mereka, supaya ngobrol dan sharing gimana ngurus anak. Dan anyway, aku awalnya kayak kurang bisa lihat benang merah antara Aling sama Verena. Kalau sama Flavia sih I get it a bit. Mereka punya pengalaman buruk sama perempuan. But Verena? Lama-lama kayak ada satu hal. Ya itu, mereka itu sama-sama punya luka dan berusaha menjadi kuat supaya tetap bertahan.

Kurasa Aling sama Sverre bahkan sebelum punya Gustav dan Fenja pun, udah ada kayak hawa-hawa mereka bakalan jadi orang tua yang baik - dan aku penasaran sih anak-anaknya di chapter berikutnya bakalan jadi gimana. Aku lanjut baca ya.
Tomomi Tamamori chapter 26 . 1/15
Yah, wajar sih bumil itu sensian. Mana ngidam yang aneh-aneh dan mustahil lagi. Demen marah-marah. Tapi seenggaknya ya emang kondisi orang hamil gitu kok. Emosinya labil. Tapi untungnya sih ada Sverre dan keluarga dia yang selalu di sisinya. Terutama Sverre tuh, dia harusnya bersyukur kalau misalnya suaminya dapat cuti buat ngurus dia. Hubungan mereka juga emang dari awal didasari cinta sih, jadi ya mau si Aling hamil atau kenapa-napa si Sverre juga santai ajalah. Kan Aling itu juga yang mau sendiri kan, namanya suami harus support dong.

Heeh? Aling sempet follow akun-akun illuminatong sama cocoklogi? Dan hosip2 nggak jelas. Tapi kalau follow akun2 gitu apalagi pas udah nikah malah bikin kita stress setengah mampus sih kalau aku bilang. Apalagi sekarang dia lagi hamil anaknya kan ya? Nanti kan ya malah bawaannya ngaco mulu. Ngegosip mulu, ngerusuh mulu daripada ngurusin anak sama keluarga. Kalau sampai nggak fokus kan anaknya juga keteteran. Ya jadi berabe deh lama kelamaan kalau itu lebih kebawa pikiran. Dan ya ampun pamer perut, itu kan sebenarnya udah tren dari lama kali Sverre - cuma mungkin dia wartawan kan? Saking lamanya itu tren dia nggak ingat sama sekali soal itu. Lagian apa gunanya juga pamer perut sih? Sumpah pas tiba-tiba ada pamer perut itu kayak beneran geli juga bacanya.

Selain itu aku juga suka Aling yang masih nyempetin diri buat produktif walau katanya lagi hamil atau apalah. Tapi ya yang bikin aku tambah suka di sini, dia berteman sama Verena yang juga bisa support dia plus orangnya juga baik buat perkembangan dia. Kadang kan kenapa ibu2 rusuh juga pengaruh peer group juga sih ya. Kalau temennya rusuh pasti ikutan padahal cuma kebawa emosi aja. Jadi kalau jadi ibu nanti ada satu hal yang harus dicatat, carilah teman yang bisa support.

Aku lanjut baca ya...
Tomomi Tamamori chapter 25 . 1/15
Sebenarnya mukul anak pakai sapu atau apapun itu emang udah jadi semacam tradisi dalam tanda kutip semua keluarga Asia di seluruh dunia sih ya. Kayak nggak cuma di Taiwan aja, jaman dulu di sini juga kalau denger2 cerita ortu kita atau temen sebaya kita banyak yang cerita hal kayak gitu. Tapi entah gara-gara ada kasus apa atau gimana, semua stop. Atau emang perkembangan ilmu juga kali ya. Aku tahu sih kalau itu benernya bukan kekerasan kalau anaknya memang salah, wajar dipukul lah. Dan wajar lah kalau misalnya anak remaja atau bahkan anak kecil udah mulai mengeksplorasi dirinya sendiri. Bahkan sebenarnya kata temen aku nih ya, sejak bayi kita udah dikenalkan dengan kontak seksual lho. Pertama dari nyusu ibu kita, terus kan anak kecil suka megang2 kelaminnya sendiri juga. Jadi kalau misalnya kayak Aling yang nonton film porno atau baca komik semacam itu, ya wajar juga sih. Cuma ya balik lagi ke peran orang tua buat mendidik dan mengendalikan si anak itu.

Anyway ada kesalahan nih. Kan dia sempet ngomong di yang soal manhua dari Jepang, itu manga kali maksudnya. Manhua itu dari Tiongkok. Tapi kalau dia memang mau menyebutnya dengan cara Tiongkok ya aku nggak apa sih.

Dan aku merasa ada perubahan lain yang ada dalam diri Aling. Ini sih kayak apa kata pepatah luar, get some lose some. Kayak ada satu hal yang harus dikorbankan kalau dia mau berubah ke arah yang lebih baik. And unexpectedly - it is the one thing she used to like and enjoy in her life gitu. Sampai-sampai dia lupa gimana caranya ngomong atau baca bahasa Jepang karena saking lamanya di Norwegia. Tapi untung Sverre-nya bisa sih nyemangatin dia supaya tetap bisa gain lagi skill yang ilang. Dan dia punya harapan kalau Aling itu bisa tetap berkembang.

Aling hamil? Uwah! Selamat. Semoga anaknya lahir sehat ya. Dan selama kehamilan berlangsung Sverre bisa tetap temanin Aling. Ya namanya nikah itu kerjasama kan antara pasutri, aku lihat di sini Sverre pas bilang mau anak juga sama kayak Aling - udah mulai kayak ada ikatan lainnya di antara mereka berdua. Bahkan lebih kuat dari yang sebelumnya.

Aku jalan ke chapter selanjutnya ya...
Tomomi Tamamori chapter 24 . 1/15
Aku suka lihat pandangannya Aling soal seksualitas dan pernikahan yang berubah dari bab-bab sebelumnya. Bahkan dari masa lalunya. Dia lama kelamaan menyadari kalau apapun yang terkesan gampang itu pasti ada tanggung jawab besar di balik hal itu. Yah, walaupun dia udah sama-sama menjalani hidup sama orang yang dia cintai tetap aja. Aku suka gimana Cece bayangin adegan seks antara mereka berdua, itu kesannya bahkan aku sama sekali nggak tahu kalau misalnya nih ya ada adegan yang intim antara si Sverre dan Aling di awal. Soalnya gimana, ya. Lebih nyeritain soal kedekatan emosinya mereka berdua selama pernikahannya berlangsung.

Dan ini Sverre walaupun dia malu-malu gitu ternyata oh ternyata. Ada sisi mesumnya juga, ya Ce. Soalnya kaget aja gitu tiba-tiba dia agresif meluk Aling dari belakang dan godain dia. Ah, biasanya juga Aling juga yang sok pengalaman godain cowok. Untung cinta ya, jadi mau coba digodain selame apapun sama entah dari Aling ke Sverre atau Sverre ke Aling - ya tetep aja bakalan bersemu merah mukanya. Mana gangguinnya pas lagi masak makanan lagi, tapi moga-moga aja nih ya. Aling gak lupa matiin kompornya atau ninggalin masakan gitu aja. Kalau sampai bisa berabe deh rumah kebakaran gegara asyik masyuk.

Aku lanjut baca ya...
Tomomi Tamamori chapter 23 . 1/12
Aku merasa tiga perempuan ini bakalan cocok bersahabat, walau beda usia plus budaya dan kalaupun mereka memang ya pada akhirnya bersahabat baik ya menurutku itu bakalan jadi persahabatan yang sehat dan membangun. Nggak toxic gitu lho kayak persahabatan antar perempuan yang katanya sih nusuk dari belakang atau segala macamnya lah ya. Aku suka lihat interaksi mereka bertiga yang bisa sampai level berbagi pengalaman dan segala macamnya. Bayanginnya adem aja gitu entah kenapa. Aku rasa Aling ini meminta saran pada orang-orang yang tepat juga, yang punya pengalaman dulunya merasa kurang percaya diri gimana gitu pas tahu dirinya bakalan jadi ibu. Padahal ya, yang penting jadi ibu atau orang tua in general ya harus bisa kasih contoh yang baik buat anaknya.

Aku ingat ada siapa lupa. Salah satu kenalan aku ngomong, "Memangnya salah kalau aku gak mau punya anak? Karena aku cuma mau ada satu aku di dunia ini. Nggak usah lahir aku yang lain, cukup aku yang hancur,". Dia seenggaknya jujur soal kenggak siapan dia jadi seorang ibu nantinya. Dan aku rasa sih Verena sama Flavia ini awalnya berat lah jadi ibu tapi lama kelamaan mereka bisa paham juga gimana rasa sedih dan menyenangkannya jadi ibu. Semoga aja Aling bisa mulai yakin sama dirinya sendiri ya di chapter berikutnya.

Aku lanjut baca ya...
Tomomi Tamamori chapter 22 . 1/12
Keluarganya Aling ini lucu juga, agak mengingatkan aku sedikit sama ceritanya Wolfgang-Mei Ling yang kayak diinterogasi jutaan kali pas malam pertama. Dan ibunya Aling kurasa itu ibu yang baik juga, mau kasih saran ke anaknya soal seksualitas plus mungkin how to keep your sexual thingy healthy ya, Ce. Waduh, ada Flavia juga di sini. Aku sempet kaget, tapi ya judul chapternya juga unexpected guest kan? Wajar dong kalau misalnya aku kaget? Hahaha...

Aku juga heran sih kenapa si Flavia bisa kesasar sampai sini. Tapi setelah dibaca aku sedikit paham juga. Mungkin Flavia juga udah tertarik sih sama si Aling dalam hal pasti ada sesuatu yang sama. Yah aku juga kayak merasa ini bukan hal yang disangka-sangka sebelumnya, aku rasa banyak kesamaan antara karakter Flavia sama si Aling. Cuma perbedaannya kan Flavia sama Aling ini dibesarkan dengan budaya dan adat yang berbeda, makanya way of survival mereka juga pastinya. Makanya aku merasa Aling sama Flavia ini dua karakter yang emang beda banget dari awal cerita. Tapi di sini aku bisa menemukan kesamaan antara mereka, ya namanya juga manusia pasti adalah keinginan untuk menemukan posisi dirinya di mana dan buat siapa.

Aku lanjut baca ya...
Tomomi Tamamori chapter 21 . 1/12
Kurasa Aling di sini juga udah mulai meragukan mengenai teori yang dia pelajari soal seks, cuma karena mau keliatan gaul aja dulu. Dia itu merasa aneh soal seks karena kan selama ini dia mungkin cuma bayangin kalau misalnya ya seks ya seks aja. Udah terlalu menganggap seks itu biasa padahal ya gitulah, tapi kali ini kan dia merasa aneh karena itu sama orang yang dia cintai. Aling di sini tuh sebenarnya mau mengumbar hasrat dia yang udah ketahan sejak lama sama si Sverre ini. Makanya aku nggak heran sama sekali kenapa di akhir dia bisa ngomong, aku nggak nyangka bisa melakukannya denganmu ke Sverre. Dia punya rasa cinta sih dari awal dan itu udah kerasa banget.

Dan lagi-lagi aku suka sama Sverre di cerita ini. Kurasa Sverre ini mengingatkan aku sama Heribert di yang kisahnya Heribert sama Caterina itu. Cuma ya bedanya Heribert kan emang beneran kaku dan sifatnya juga ya gitu. Kalau Sverre itu nggak ketebak. Kadang malu-malu, tapi kadang bisa kasih kejutan yang gak kita paham atau mungkin bahkan jadi vokal dan tegas gitu. Makanya jadi penasaran gitu mau baca mulu sampai cerita ini selesai. Hahaha

Lanjut baca ya...
Tomomi Tamamori chapter 20 . 1/12
Keluarganya Aling kayaknya beneran sayang banget deh sama si Aling sampai-sampai dibela-belain nikahan aja harus yang terbaik. Walaupun Alingnya juga merasa nggak nyaman sih dengan perayaan yang macam begitu. Mana tamunya banyak banget dan mungkin gak semuanya si Aling ini kenal baik lagi. Untung aja si Sverre juga ya karena pada dasarnya memang cinta sama Aling makanya bela-belain keluarin banyak mahar buat dia segala. Padahal yang namanya ngasih mahar ya. Dimana-mana itu mahal, jenderal! Tapi ya namanya udah sayang mungkin minta beliin gajah aja sampai dibelain kali ya. Hahahaa...

Kurasa ke depannya si Aling ini bakalan bahagia nih sama pernikahan dia. Orang dia udah nggak mikirin lagi mau orang ngomong apa. Ya apa peduli lah. Yang penting rumah tangganya keurus aja, toh untuk membina rumah tangga sama Sverre juga udah jadi pilihan hidup dia yang udah nggak bisa diganggu gugat lagi. Dan si kembar tetep aja iseng kayak biasanya. Ini kakaknya nikah bukannya dikasih selamat, ya malah diisengin. Kurang puas apa sih mereka? Jadi gemes deh kalau liatin kelakuan mereka sepanjang jalan cerita. Ganggu sih, tapi kalau nggak ada mereka ceritanya jadi biasa aja.

Aku lanjut baca ya...
Tomomi Tamamori chapter 19 . 1/12
Walaupun nggak dibuat flashback secara gamblang, tapi aku entah mengapa bisa meraba-raba soal masa lalunya si Aling di chapter ini kayak gimana. Dia itu sempet jadi korban kekerasan oleh sesama perempuan, dan ini cuma sekedar spekulasi aku ya. Maafkan kalau salah. Gara-gara nggak punya pacar dia kayak dianggap remeh gitu sama teman-temannya dulu. Dan dia sadar juga kalau selama ini apa yang dilakukan selama hidupnya itu sia-sia. Wajarlah Aling juga waktu itu masih remaja dan belum bisa menemukan tujuan hidupnya apa. Namanya juga anak remaja, ya pasti pengen kelihatan keren gimanapun caranya. Akhirnya kena karma juga dia dikasih laki-laki yang memang baik dan mau perhatiin dia, dia juga nggak nyangka sih. Tapi dia jalanin aja semuanya nanti juga akan berakhir bahagia, kan.

Sama kayak Flavia dan Mei Ling, Aling juga udah lari. No, bukan cuma lari ke negara asing. Tapi meninggalkan hal-hal yang bikin dia nyaman di masa lalu. Demi masa depan yang jauh lebih baik, kita harus berkorban. Itu sebagian pelajaran yang bisa kita dapat dari cerita Aling dan cerita yang udah Cece tulis secara keseluruhannya. Ya ampun, itu si Solveig baik banget sebagai teman. Walaupun udah kepisah jauh nanti, tetap aja bakalan kontak-kontakan. Seperti biasa, karakter teman di sini nggak asal lewat. Ada gunanya juga di kemudian nanti.

Aku lanjut baca lagi ya...
Tomomi Tamamori chapter 18 . 1/12
Aku nggak bisa komentar banyak, ya Ce kalau soal chapter yang berkaitan dengan hal-hal yang smutty. Maafkan aku dengan sangat :(. Cuma ini tuh sebenarnya ya kalau aku lihat dari karakternya Sverre sama Aling gimana, ini tuh bukan adegan yang kasar atau hot kok. Walaupun Alingnya juga agresif banget tapi ya aku membayangkannya dia itu tetep masih polos, dan nggak sok punya pengalaman kayak karakter-karakter lain. Dia itu cuma yeah sekedar baca tapi ya aku bisa bayangin kalau si Aling ini tuh kayak ragu-ragu apa yang dilakukannya itu bener apa enggak.

Nah, kalau dari yang aku baca di sini si Sverre itu biasa aja. Kayak udah mencoba memperlakukan Aling selembut mungkin tapi ya karena baru pertama kali makanya Aling wajar aja sih kalau reaksinya kayak gitu selama melakukan hal yang seperti itu. Dan Sverrenya untung aja paham jadinya ujung-ujungnya Aling juga nggak merasa terpaksa melakukan hal itu. Aku suka Sverre di chapter ini. Kesannya dia kayak menghargai Aling banget sebagai perempuan.

Lanjut baca ya...
34 | Page 1 .. Last Next »