Category: general

Genre: general

Summary: Nyanyian dan jiwa kami saat melantunkan simfoni-simfoni adalah satu. Walau hanya bersifat mengiringi, kami sudah mengerti bahwa sesungguhnya ialah yang harus dijunjung selamanya.

Slight inspired by: Indonesia Raya © 1928 by W.R. Supratman

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Awan yang tak seputih biasa mulai membangkitkan kenangan akan suara derap langkah di antara tembakan-tembakan peluru baja yang memang tak memiliki layar kaca.

Enam puluh empat tajuk telah tersingkap bersama lantunan-lantunan puisi hiperbola yang sengaja menyembunyikan makna di balik metafora-metaforanya.

Deretan-deretan wajah penuh kerut disertai udara tipis yang beberapa detik sekali melepaskan diri dari tubuh yang tengah berdehidrasi adalah panorama yang terbilang cukup biasa dalam era globalisasi ini.

Di cuaca terik ini, orang-orang yang tengah berbaris itu melepaskan kelima jemari yang seharusnya menempel pada dahi mereka sementara yang lainnya menggeser posisi agar sinar mentari yang mereka rasakan tak terlalu menyakiti mata.

Perlahan-lahan, kedua kaki yang harusnya tak diletakkan berjauhan mulai menyengkat tiang-tiang pijakan lain yang ada di sebelahnya lalu menghentak-hentakan tubuh mereka sendiri.

Walau tak terdengar begitu jelas, muncul beberapa gelak tawa yang mampu mengibaskan suasana hening hanya dalam beberapa detik saja, memunculkan kerut di persimpangan alis-alis mata, dan tak lupa membiarkan harapan melodi yang tengah mengalun buyar tanpa tersisa.

Tak ada seorang pun yang dapat mendefinisikan seberapa membosankan deretan kalimat panjang yang mereka anggap tak bermakna itu.

Segala hal yang mereka dengar saat itu hanya keluar tanpa menyisakan sedikit percikan asa dan semua yang mereka ucapkan merupakan janji-janji palsu sebatas kebohongan biasa.

Di hari yang terbilang cukup penting, negara kecil ini memang tak pernah bisa terlepas dari lukisan wajah yang seakan mencemooh dan merasa iba walau akhirnya berujung pada ketidakpedulian juga.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tak kenal maka tak sayang, suatu relasi dimulai dari pengetahuan secara basis sampai berlanjut menjadi lebih detil, yang pertama kali ia sambut adalah induk yang setia menjaga dan memberikan kasih selama kurungan oval itu membekuknya.

Tanpa nafas, seseorang hanyalah mayat yang tak mampu menceritakan lembaran-lembaran hidupnya baik melalui kata-kata, gerakan, maupun pancaran bola mata, badannya yang besar justru terkalahkan oleh ciap-ciap kecil yang menggigit ekor bening kebanggaannya.

Tak ada tempat yang lebih baik untuk mati selain tempat di mana orang itu merasa ada dan berguna, burung yang terbang bebas itu kembali hinggap di pagar kayu yang sama.

Sangatlah pantas bagi seorang pemimpin untuk merasakan perih yang lebih berat dibanding anak-anak buahnya, burung yang memiliki beragam bentuk dan warna itu berkumpul dan meniru bentuk awan yang menaungi mereka.

Membuat sebuah prinsip adalah keharusan dan menjalankannya adalah perwujudan dari tanggung jawab, ia yang memiliki sayap mulai mengarahkan pandangan ke atas dan menembus awan-awan yang menghalanginya.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sepuluh jemari tengah mengayun pelan namun terlihat cepat karena diselingi nuansa yang benar-benar berbeda dari semula.

Di seberang mereka, beberapa anak yang biasanya tidak menonjol dan kerap kali mendiamkan ejekan-ejekan sekumpulan temannya mulai menggerakan bibir mereka dan mengikuti alunan irama.

Senandung merdu nan serentak itu menggetarkan setiap sudut lapangan serta menebarkan benih-benih semangat bagi setiap orang yang telinganya mereka singgahi.

Entah karena rasa malu atau keberanian yang muncul di pertengahan lagu, semua orang kini lepas dari tingkah pura-pura bisu dan berganti menghargai sesuatu yang mereka anggap remeh itu.

Mengiringi lambang perjuangan menapaki jalur panjangnya sampai ke puncak yang nampak silau karena cahaya, tanganku tak pernah berhenti mengayun.

Tapi, aku yakin, sejak awal kami memang berjuang bersama sebagai satu kesatuan.

Dan mulai sekarang kami akan terus melanjutkan kerja keras itu.

Nyanyian dan jiwa kami saat melantunkan simfoni-simfoni adalah satu.

Walau hanya bersifat mengiringi, kami sudah mengerti bahwa sesungguhnya ialah yang harus dijunjung selamanya.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Keabadian hanyalah hal mustahil.

Menjerit dalam perih yang begitu nihil.

Di kehampaan itu, kami tak berharap menemukan batu-batu kerikil.

Melainkan curah tangis gadis kecil.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Fic pertama gue di FictionPress ini… Oh, biar gue tebak, GAJEEE!! Iya, kan? O.o pendek dan pointless… gue kurang ngerti apa yang mau gue sampaikan! -bukan nggak ngerti tapi lupa, kan!?-

Eh, maka itu, gue sendiri agak bingung sama urutan-urutan kalimatnya… Maafkan kebodohan gue ini… -digantung di tiang bendera- Dan, kayaknya, yang di bagian tengah itu cuma beberapa poin yang gue ambil dari lagu Indonesia Raya…

Gimanapun, selamat hari kemerdekaan, INDONESIA!! XD (Ya, fic ini gue upload pas sekitar jam 10 pagi… Lewat sepuluh menitan, lah, :P…)

Nah, walau gaje, minta reviewnya dikit, dong… -digiles mop-