1987-1997

Claimer: All belongs to SIGMA and fitha. ENJOY!

---

1987. Pertama kali aku bertemu dengannya adalah saat kumbang kemarau berdesing, sewaktu matahari terik menyengat. Aku sedang berbincang tentang kepanitiaan suatu acara di sekolah dengan seorang guru tepat di depan tangga besi kelabu berkarat. Ia sedang meluncur di pegangan tangga yang bergetar hebat itu dengan riangnya, menyebarkan aura riang gembira, meneriakkan seruan-seruan puas. Dengan susah payah aku menahan pekikan ketakutan yang sudah ada di ujung lidahku: bagaimana kalau ia jatuh?

Tapi ia tidak tergelincir seperti yang kukira, ia bahkan melakukan pendaratan mantap di salah satu kakinya. Kulihat teman-temannya muncul dari lantai dua, tertawa terbahak bersamanya. Pak Bambang menyodokkan map yang beliau pegang padaku, dan dengan tangkas beliau menendang bokongnya, sehingga tawa teman-temannya mengeras. Ia sendiri merengek ampun pada Pak Bambang, namun beliau malah menendang bokongnya sekali lagi.

Aku tertawa kecil, terhibur dan penasaran akan dia. Lelaki di hadapanku ini bukan dari angkatanku (aku kebetulan hapal semua wajah seangkatan), dan aku tak pernah melihat wajahnya di sekolah. Yang jelas, ia cukup terkenal di kalangan guru-guru, mengingat para pengajar yang lewat menyebutkan namanya sambil mengangguk-anggukkan kepala maklum, "Oh, Ade lagi ya?"

Ade. Aku mengulangi tiga huruf itu dalam hati. "Ade," tak sengaja aku membisikkannya, dan kalau aku bisa bersemu, wajahku akan memerah karena malu akan ketahuan memperhatikan dirinya. Aku yakin dia mendengarnya, namun ia tidak melirik ke arahku sedikit pun. Ia berakhir di ruang BK dengan diantar Pak Bambang.

-

Tahun berikutnya, masih dengan bau keringat di udara, pendaran gerah kulit yang menyiksa. Aku sekelas dengan Ade. Pertemuan pertamaku dengannya tidak bisa dibilang menyenangkan, dan aku tidak menganggapnya sebagai sebuah kenangan. Peristiwa itu... hanyalah sebuah peristiwa. Tak ada spesialnya, tak ada getarnya. Namun saat aku mengetahui aku satu kelas dengannya; akan bertemu dengannya setiap hari, akan sering bekerja sama... Aku merasa ada greget gembira, perut yang mual, dan jantung yang sesak.

Di hari pertama itu, dia sudah membuat keonaran. Aku sudah tidak terkejut lagi. Dalam setahun terakhir, namanya sering disebutkan di pengeras suara untuk dipanggil ke BK. Bandel, siswi-siswi bilang, tapi asyik kok, para siswa menyahut. Dia kooperatif, begitu kata OSIS dan MPK, pinter ngomong mung ngelesan, nakal, guru berbicara. Aku tak tahu mana yang benar. Aku hanya bisa memandangnya dari jauh saat ia mempresentasikan eksplanasi suatu acara, dan menunduk atau melihat lurus ke depan saat berpapasan.

"Dengar ya!" dia berteriak, suaranya yang ringan dan khas bergema dalam ruangan. "Siapa yang dapet pesawat ini, dapet kesempatan langka untuk kenalan denganku!"

Tangan kanannya memegang sebuah pesawat-pesawatan dari kertas, yang segera kukenali sebagai edaran untuk orang tua yang baru saja diedarkan oleh guru bahasa Inggris. Beliau sendiri sedang keluar.

"Huuuuu...." sontak cemoohan terdengar dari penjuru kelas, dan aku tersenyum, menggelengkan kepala dan kembali berkosentrasi pada tugas yang diberikan guru.

Tidak sampai lima detik kemudian, sebuah benda tumpul menusuk kepalaku dari belakang. Aku menengok dan melihat pesawat kertas itu teronggok dalam diam di kolong kursiku. Sekarang terdengar riuh-rendah 'ciee' dari sekitarku. Allahu Akbar, aku menggertakkan gigiku, dari banyak orang di kelas ini, kenapa harus aku?

"Kenalan! Kenalan!" Siswa laki-laki menyemangati, sementara aku bergerak mengambil pesawat terkutuk itu. Teman sebangkuku menunjukkan cengiran menyebalkan, menyodokku main-main dengan sikunya. "Buka! Buka!"

Aku membuka lipatan kertas itu, dan disana tertulis berantakan dengan tinta biru luber: Hai. Kenalan yoook.... Kalau kamu cowok, kujadiin temen, kalau kamu cewek, kujadiin asisten pribadi... eh, temen juga deng...

Aku menahan tawaku.

"Would you mind sharing your notes with us?"

Ooh, sial. Aku tak menyadari murid yang sunyi tiba-tiba.

"Eh, um..." aku tergagap.

Guru bahasa Inggris yang sedang bertugas ternyata sudah berdiri di hadapanku, tangannya terbuka dengan sikap meminta. Karena aku tak kunjung menyerahkan notes itu pada sang guru, beliau akhirnya merebut catatan itu dari tanganku sendiri.

Reaksinya mudah ditebak. Awalnya beliau tersenyum lembut; perasaan lega dan gembira memenuhi benakku, namun tiba-tiba ujung mulutnya melekuk ke bawah.

"Who sent you this?" beliau bertanya.

Teman-teman mengambil kesempatanku untuk menjawab.

"ADEEE!!!" kata mereka dalam sebuah chorus.

Dengan satu gerakan cepat, mata beliau menemukan Ade yang duduk dengan santai, dihiasi dengan cengiran polos di wajahnya. Beliau melotot.

"Kenapa kamu pakai kertas ini buat mainan, heh? Terus kamu mau nggak ngasih tahu orangtuamu tentang edaran ini?" beliau menuntut.

"Yang kayak gitu bukan saya saja kok Bu," Ade menyahut lepas.

Aku melihat uap imajiner keluar dari telinga Bu Ndari.

"Yang memakai edaran orangtua untuk membuat pesawat, tunjuk tangan!"

Separuh dari populasi laki-laki di kelas menunjuk tangan dengan bangga, tersenyum lebar hingga gigi mereka kering.

"Ikut saya keluar, sekarang!"

-

Aku mengetuk-ngetukkan satu bundel kertas buram di tanganku untuk membuatnya rapi. Suara tuk yang diikuti dengan tuk yang lain memenuhi ruangan yang sunyi. Huuh. Kenapa sih harus aku yang bolak-balik ke ruang guru? Masih ada banyak murid lain di kelas... Aku kan-

"Wening, Wening!"

Aku menengok ke arah suara yang memanggilku, dan aku menemukan Ade dan anak buahnya gelisah di tempat duduknya sambil melambaikan tangan. Apa yang mereka lakukan di ruang guru? Antri sidang BK?

"Kalian sedang apa?" aku bertanya, mendekati mereka dengan langkah pelan.

"Dihukum," Ade menjawab sambil menyeringai. "Karena kejadian tadi, kami disuruh membuat amplop dari kertas-kertas bekas."

Oh. Perkataannya menjelaskan amplop dan kertas yang berceceran di meja. Aku mengambil salah satu amplop dan memperhatikannya.

"Ini kurang rapi," aku berkata, membuka lipatan amplop. "Nih, mumpung lemnya masih belum kering," tambahku, menjatuhkan kertas itu asal-asalan ke atas meja.

Ia menjerit kesal. "Malah ra bantu koe! Huu!"

Logat bahasa jawanya aneh. Seakan-akan ia tak pernah berbahasa jawa sebelumnya.

"Salahmu nggak menghargai jerih payah petugas TU."

Ade mendengus. "Aku sekolah bayar, nggak gratis. Lagian guru bahasa Inggris tadi nggak genah! Wud yu main syering yor noutes wit as?"

Aku tertawa saat ia menirukan gerak gerik Bu Ndari.

"Biasalah Ning, cah Kalimantan, liar."

Aku mengangkat kedua alisku. "Kamu dari Kalimantan?" aku bertanya.

"Yep," ia menjawab, mengedipkan mata. "Kenapa?"

"Nggak," aku menyahut singkat karena kesulitan mencari kata yang tepat. "Itu... unik."

Ade terkekeh. "Kukira kamu bakal bilang aku keturunan suku Dayak kayak yang lain," ia cepat-cepat menjelaskan. "Makasih. Walaupun mungkin unikmu beda dengan unikku."

Aku suka lesung pipitnya. Bolehkah?

-

"Kamu dapet 90? Matematika Bu Karsini? Wow."

Aku mengerling padanya, lalu kembali menatap kertas hasil kerjaku. "Memang nilaimu berapa?"

"60," jawabnya singkat sambil tertawa acuh. Aku menyangka ia akan terus mengoceh seperti biasa, namun kali ini ia terdiam.

"Kamu kenapa sih?" Aku bertanya, kali ini menengok padanya.

"Nggak, nggak,"

Oke, jadi dia sedang nggak mood untuk bicara. Aku berpaling dan kembali melakukan pekerjaan yang kutinggalkan sebelumnya: menatap nanar pada kertas ulanganku.

"Ning," tiba-tiba dia memanggil.

"Hmm," aku menggumam asal.

"Ajarin aku dong, aku ke rumahmu, atau kita belajar bareng di Planet, di mana gitu..."

Aku tak bisa bilang 'tidak', karena kalimat yang ia ucapkan tidak memberikanku ruang untuk menolak.

Sejak saat itu, aku dan dia semakin dekat.

-

Ade pintar. Mungkin lebih pintar dari aku. Yang jelas, dalam bidang geografi dan fisika, nilainya tinggi.

Tapi kenapa dia terus menerus melemparkan kertas minta contekan?! Ini sudah yang kelima kalinya--kayak nggak ada orang lain yang bisa dimintai jawaban saja. Apa dia nggak sadar dengan pelototan pengawas?

"Ssst," teman sekelasku yang duduk tepat di belakangku berdesis memanggilku, menendang pelan kaki kursi yang kududuki. "Ade bilang, cepat jawab,"

Aku menggertakkan gigiku. Kenapa aku sih? Aku bahkan berjarak tiga meja jauhnya dari dia!

Berusaha semaksimal mungkin untuk memasang tampang polos, aku membuka lipatan kertas dengan hati-hati dan berusaha cepat, namun reaksiku setelah membaca apa isi kertas itu berhasi menarik guru pengawas untuk berdeham.

Ade baru saja menembakku di tengah ujian semester.

-

1997. Sepuluh tahun berlalu setelah hari yang menyengat itu. Udara saat ini masih tetap sama--gerah, jauh lebih panas dari biasa, lengket dan kering pada saat yang bersamaan. Aku berjalan menyusuri lorong sekolah yang bersih, kini sebagai alumni, bukan murid SMA polos seperti dulu. Aku melarikan tanganku di dinding yang dilapisi keramik; dingin, dan memori-memori yang tak pernah dibuka kini terkuak dan menampakkan diri: soal teman-teman yang suka memeluk dinding saat udara tidak mengenakkan, soal teman-teman yang usil mencoret "aku pernah di sini" di bagian pojok bawahnya.

Seseorang menarik lenganku dari belakang.

"Wening, pulang yuk. Ketemu Pak Bambang dulu tapi kalau kamu mau. Kasian Naila di rumah."

Aku tersenyum pada Ade.

Hanya satu hal yang tetap sama: Ade ada di sampingku.

---

Page 4 of 4

-

A.N..: Maafkan atas pendeknya cerita dan loncat-loncatnya... First fictionpress ever nih :p Aku biasanya nulis di fanfiction . net soalnya, nulis Gakuen Alice dan La Corda d'Oro , itu juga bahasa Inggris :)

Thanks for reading. Flames are appreciated, and criticism, suggestion, are highly recommended :)